(CHAPTER 1) – Dream High 3

LINTANGWOON STORY :

[CHAPTER 1 – Awal Pengharapan]

tumblr_n8r7a6nPfg1rpvyxgo1_500

***

Fanfiction : Dream High 3

Author : Lintangwoon

Main Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Mark Tuan, Bambam

Additional Cast : Bang Minah, Lee Jieun, Yunho, Sungjong, Lee Minho, etc

Genre : Romance, Life, Comedy and School Life

Rating : PG – 13

Lenght : Chapter

Disclaimer : Fanfiction ini murni pemikiran Author tanpa memplagiat cerita manapun.

***

POSTER BY MYSELF

***

readers hallo! im back back back back back.. back back back back back! *candu lagu Infinite*

first of all. im sorry kalau comments kemarin belum sempet aku balas. tapi aku udah baca kok semua!

dan thanks god! kayaknya kalian excited sama FF Myungyeonku.

jujur, aku penggemar berat dream high. jadi, aku update lama..

karena jujur, takut aja kalau ceritanya kurang bagus atau kurang kerasa feelnya.

that’s why updateku lama sekali T-T

sudahlah, yang jelas. silahkan dibaca chapter ini.

jangan lupa jejak kalian ya di kolom komentar!

Always back back back back back to see my updates!

LOVE READERS!

***

AUTHOR’S POV :

 ‘’Buku sudah?’’

‘’Ige Noona..’’

‘’Kaset dan Recordermu?’’

’Igoyo..’’

‘’Uang dan keperluan yang aku bilang?’’

Bambam memandang Jiyeon yang sama sekali tak berhenti mengingatkannya tentang beberapa perlengkapan yang akan ia bawa di Hari Pertama Ujian-nya di Kirin Art School. Sekolah yang begitu Bambam idolakan sejak dulu. Meski.. awalnya Jiyeon melarang Bambam masuk ke Sekolah ini. Pada akhirnya, Noona-nya tersayang itu luluh dan mengizinkan-nya untuk mendaftar kesana.

Dengan tergesa, Jiyeon yang sedang mencoba memasukan kaki panjang ke high heels hitamnya yang sedikit kekecilan, menghampiri Bambam dan merapikan rambut Adik tersayangnya itu. Ia tersenyum memandang Bambam yang tampak kesal dengan sifat over nya yang mungkin memang kelewat parah. Lalu Jiyeon menepuk pipi Bambam gemas.

‘’Mwoya! Pandangan macam apa itu!’’ teriak Jiyeon pura-pura kesal.

Bambam menghela nafas, ‘’Noona-yaa. Aku bukan anak kecil lagi, Araso? Lagi pula, ada Mark Hyung juga mendaftar kesana. Noona jangan terlalu khawatir!’’ kata Bambam yang sekarang duduk di meja makan sambil menikmati sarapan pagi yang seperti biasa. Hancur karena Jiyeon yang memang tak bisa memasak. Bambam menggelengkan kepala,

‘Sejak kapan Telur menjadi putih ditengah dan kuning disekitar begini?’ batin-nya sedikit kesal.

‘’Ey! Aku tak bisa percaya dengan Mark! Apalagi, ia kan dua tahun lebih tua darimu. Kenapa ia bisa mendaftar bersamamu? Maksudku.. memangnya Ia tak sekolah dulu? Bukankah itu aneh, eoh?’’ ucap Jiyeon sambil mengamati handphone-nya yang tampak berkedip sejak tadi.

Tak lama kemudian Bambam berdiri dan merapikan kemeja putih yang ia pakai. Setelah itu, ia mengambil tas yang berada disebelahnya dan tersenyum ke arah Jiyeon. Ia malas menyinggung masalah Mark yang ia tak bisa ceritakan kepada Jiyeon.

‘’Noona. Aku pergi dulu, Ne? Doakan aku ya!’’ ujar Bambam yang telah beberapa langkah menjauh dari pandangan Jiyeon.

Jiyeon segera berteriak, ‘’YAA! Bambam!’’

’Mwoya jigeum? Apalagi sekarang?’’ tanya Bambam sedikit kesal karena teriakan Jiyeon.

‘’Popo! Yeogi.’’ jawab Jiyeon sambil menyentuh pipi kanan-nya sendiri.

Dengan langkah lucu. Bambam segera mendekat dan mencium pipi Jiyeon hingga berbunyi ‘cup’ berkali-kali dengan sayang. Kemudian ia memeluk Jiyeon dengan hangat. Rutinitas yang telah mereka jalani lebih dari 5 tahun belakangan ini.

Bambam melepaskan pelukan-nya, ‘’Jangan pulang terlalu malam, Eoh? Noona kan sedang sakit. Hakkae Noona! Akan kukabari lagi nanti!’’

Jiyeon hanya mengangguk dan tersenyum meyakinkan. Ia memandang Bambam yang menjauh dan perlahan menutup pintu rumah dengan perlahan. Jiyeon menghela nafas. Sebagian dirinya merasa tak rela. Diam-diam, ia berdoa agar Bambam tak diterima di Sekolah yang dulu ia tempati. Sekolah yang membuatnya bermimpi tanpa berpikir realistis sama sekali. Sekolah dimana ia pernah tertawa dan terluka hingga membekas sampai saat ini.

***

Hyeri menatap Jiyeon dengan pandangan membunuhnya. Yang kemudian hanya dibalas dengan cengiran yang pasti terlihat sangat memaksa. Jiyeon bingung harus berkata apa padanya.

‘’Yaa! Kau benar-benar memutuskan Lee Joon? Yaa! Park Jiyeon, sudah berapa kali kau berganti Namja chingu satu bulan ini? Woah!’’ sindir Hyeri yang tak membuatnya tersingung sama sekali. Toh, apa yang ia katakan memang benar. Mungkin kali ini Jiyeon keterlaluan.

Ia berusaha menghitung, ‘’Umm. Jakkaman, Lee Joon, Minwoo, Tao, Soo Hyun-ssi? Ah. Aku tak yakin, tapi sepertinya hanya itu saja.’’ jawabnya sedikit tak peduli dan tetap melanjutkan design yang sebentar lagi harus  Ia serahkan kepada Boa-ssi.  Ia tak mau dipecat kali ini. Bagaimana-pun, demi Bambam, Jiyeon harus mendapat jatah lembur untuk menutup biaya Sekolahnya nanti.

Dengan sedikit lirikan Ia kembali memandang Hyeri, sepertinya jawabannya sama sekali tak membuat Hyeri puas. Yeoja itu masih menatap aneh seperti Jiyeon adalah seorang Alien bodoh atau apalah. Menyebalkan sekali.

‘’Apa lagi?’’ tanyanya. Ia kemudian mendekatkan dirinya kearah Jiyeon.

‘’Kau? Jangan bilang kau ini sebenarnya..’’ ia makin mendekat dan berbisik, ‘’Lesbian?’’

Jiyeon segera menjauhkan diri dan memberinya tatapan –kau mau mati?-

‘’Yaa. Jiyeon-ah, aku bercanda! Hahaha! Meski jujur, aku tak tahu kau ini benar-benar menyukai Namja-namja itu, atau hanya bermain saja. Aigoo!’’ kata Hyeri yang membuat Jiyeon mengedikan bahu tak peduli. Ya, Ia tak peduli. Memangnya kenapa jika Ia hanya bermain-main dengan mereka?

Hyeri tampak kesal sekarang, Jiyeon bisa merasakan hawa buruk yang akan segera menghampiri. Tapi, kemudian Hyeri duduk di kubikelnya sendiri dan tak berapa lama ia segera mendekat ke arah Jiyeon. Wajahnya tampak sedikit ragu.

‘’Kau mau Karaoke tidak? Hari ini bersama staff sebelah? Karaoke baru disebelah Kedai Soju yang biasa kita kunjungi?’’ tanya Hyeri.

‘’A-aku tak bisa bernyanyi.’’ Jawab Jiyeon sambil berusaha mengontrol nada suaranya agar tak terdengar terlalu putus asa. Meski sebenarnya..

‘’Ah, keu..keurom, baiklah. Aku saja yang pergi. Tak apa.’’ ujar Hyeri dengan nada bersalah. Membuat suasana diantara mereka terasa dingin dan asing.

Dan entah mengapa justru Jiyeon yang merasa bersalah sekarang. Berkali-kali ia akan mengajak Jiyeon ke Konser maupun ke Karaoke, dan Jiyeon akan selalu menjawab dengan jawaban yang sama.

‘Aku.. bukan Jiyeon yang dulu lagi. Mianhae, Hyeri-ah.’

Perlahan, Jiyeon merasakan suara getar handphone yang berada dalam sakunya. Ia segera mengambilnya dan menghela nafas.

‘Noona! Aku lolos! Noona pasti senang kan? Woah! Aku akan pulang lebih awal. Jadi Noona harus membeli makanan untuk-ku ne? Mark Hyung juga datang! Aa! Noona! Na jinjja haengbokkaeyo! Jeongmal! ^^~

***

Bambam tersenyum puas dan membungkuk sekali lagi kepada calon-calon gurunya. Ia tak henti-hentinya tersenyum. Sementara Mark yang berdiri disampingnya ikut menepuk pundak Bambam, memberi dukungan kepada sahabatnya itu. Beberapa saat lagi, giliran-nya akan segera tiba.

’Hyung, gwenchana. Kau pasti diterima. Apalagi kau ini tampan. Modalmu menjadi aktor lebih besar daripada aku.’’ ujar Bambam yang membuat Mark sedikit tersenyum lega.

Ia menatap balik Bambam, ‘’Sudah kau katakan kepada Jiyeon jika kau lolos?’’ tanya Mark ingin tahu. Ia tak berusaha menutupi rasa ingin tahunya sama sekali.

’Eoh! Tapi, aku tak yakin Noona akan senang mendengar ini. Jujur saja, aku malah khawatir ia akan berubah pikiran..’’ jawab Bambam sambil tertunduk lesu. Membuat wajah Imutnya menekuk beberapa lapis.

‘’Yaa. Kata siapa? Kenapa kau senang sekali mengira-ira? Belum tentu apa yang kau pikirkan itu benar.’’ hibur Mark.

Entah keberapa kalinya, Bambam menghela nafas, ‘’Neo Mollaso, Hyung. Noona punya kenangan buruk bersama Kirin. Kau tahukan? Noona adalah murid Kirin dulunya?’’ dengan lugas, Bambam berniat membuka sedikit rahasia Kakaknya.

Mark mengangguk dan memilih diam mendengarkan apa yang Bambam akan ceritakan.

‘’Noona adalah salah satu murid berbakat, ia cantik, bersuara bagus dan.. ia begitu hebat dalam menari. Bahkan, sebelum ia lulus, telah banyak sekali Produser yang bersiap mendebutkan atau menjadikan Noona menjadi trainee mereka.’’ kata Bambam dengan wajah murung.

‘’Sudahlah, jika kau sedih. Jangan ceritakan lagi.’’ kata Mark tak tega.

Namun, Bambam hanya tersenyum, ‘’Tapi, aku tak tahu. Ketika ia hampir lulus, sepertinya, ia mengalami trauma atau apalah, yang aku sendiri tak tahu kenapa. Beberapa kali aku bertanya kepada Noona apa yang terjadi, namun yang ada ia diam dan menangis didalam kamarnya. Sejak itu, ia benar-benar tak mau bernyanyi. Ia tak mau mendengarkan lagu-lagu sama sekali. Ia sama sekali bukan Noona yang 5 tahun lalu kukenal. Ia bukan Noona yang aku tahu.’’ terang Bambam sambil mengingat saat-saat sulit mereka.

Tanpa sadar, Mark ikut menghembuskan nafas bingung. Ia sungguh tak menyangka, Jiyeon yang gemar berteriak pada Bambam. Jiyeon yang dengan mudahnya malu jika Ia goda. Jiyeon yang begitu kuat. Ternyata menyimpan banyak sekali masalah dihidupnya.

‘’Ah, Ponselmu bunyi Hyung.’’ kata Bambam sambil menunjuk Ponsel Mark yang ada disebelah Namja itu.

Dengan segera Mark mengangkatnya dan raut wajahnya menyeritkan hal yang buruk. Bahkan, Bambam bisa membacanya.

’What you talking about! Stop do something like this! Im not your toy!’’ teriak Mark yang kemudian sadar jika suaranya membuat setiap orang menatap Namja tampan itu dengan bingung.

Bambam yang sadar kemudian mengenggam tangan Mark agar lebih tenang.

’FINE! What tha! I will! I will! You such an evil! And i cant deal with you! You got me!’’ meski dengan suara yang lebih rendah, Mark segera mematikan sambungan telepon itu dan mengacak rambutnya marah.

Dengan cepat ia mengambil ransel dan skateboardnya. Pada saat itu juga, namanya dipanggil oleh Kepala Sekolah yang menguji setiap muridnya, Lee Minho-sam. Namun, Mark mengabaikan panggilan itu dan hanya memberikan tatapan sedingin es.

‘’Aku tak jadi mendaftar disini.’’ katanya dingin. Wajahnya mengeras menahan amarah yang siap kapan saja meledak.

Entah mengapa, Minho hanya tersenyum menatap perginya Anak Muda itu.

Mark kemudian segera pergi dengan skateboardnya dan meninggalkan Bambam yang tercengang dengan apa yang ia lihat. Meski Mark adalah orang pendiam, namun, ia sama sekali tak pernah marah seperti itu. Bambam benar-benar terkejut dengan apa yang ia lihat. Wajah imut-nya mulai digenangi airmata.

‘’Huaaa! Hyung! Hyung!’’ rengek Bambam dengan airmata yang telah turun kepipi lucunya.

Semua wanita dan murid di Kirin segera mengerubunginya dan memandangnya iba. Mereka semua segera menepuk kepala Bambam dan mengelus rambutnya. Tak tahan dengan tampang imut Bambam. Kemudian Bambam tersenyum canggung meski matanya masih basah.

‘’Gwenchana… Noona..’’ ujarnya yang lebih terasa seperti bisikan.

Dengan cepat, semua wanita disana terkejut dan berteriak secara bersamaan.

‘’KYEOPTA!’’

Kemudian, dengan cepat, Bambam menjadi boneka favorit para Noona yang tak tahan dengan wajah lucu dan imutnya. Membuatnya melupakan sikap Mark yang benar-benar tak biasa.

***

Seorang Pramugari tersenyum kearah lelaki yang begitu tampan dan sedang fokus dengan kamera yang ia bawa. Kemudian, lelaki yang sadar telah menjadi objek pemandangan dipesawat itu, membuka kacamata hitamnya dan tersenyum kearah Pramugari itu. Senyum yang sebenarnya begitu tipis, namun bisa merobek hati siapapun yang menatapnya. Seketika, wajah Pramugari itu merona akibat senyuman singkat itu.

Lelaki itu kemudian kembali menutup wajahnya dengan kacamata hitam. Seketika, wajahnya kembali menggelap. Membuat siapapun pasti takut untuk menatapnya. Dan kemudian, ia merasakan sebuah jari tangan yang ramping dan panjang membelai bahunya.

Ia mendongak, ingin melihat siapa yang berani menyentuhnya seperti ini.

‘’Halo, Myungsoo..’’ sapa Wanita yang berdiri disampingnya. Sapaan yang lebih terasa seperti bisikan mesra.

Dengan senyum tipis, Myungsoo mengangguk, ‘’Oh, Son Naeun?’’ kata Myungsoo pura-pura terkejut. Padahal, didalam hatinya ia menginginkan Wanita ini segera pergi dari hadapan-nya.

Naeun menundukan wajahnya yang begitu manis dengan make up yang membuatnya begitu bersinar. Sebagai salah satu anggota Girlband yang sedang terkenal saat ini. Ia memang pintar menjaga penampilan-nya.

‘’Kau kembali?’’ tanyanya dengan suara sedikit serak.

Myungsoo sengaja memiringkan wajahnya, membuat pipinya bersentuhan dengan bibir Naeun. Membuat Wanita itu sedikit terkejut namun menyukai tindakan Myungsoo. Myungsoo mengangguk dengan lambat.

‘’Aku merindukanmu..’’ bisik Naeun lagi. ‘’Mau melakukan sesuatu yang menarik?’’ tanya Naeun yang kemudian mengerling kearah Myungsoo dan kemudian berjalan mundur kearah toilet pesawat.

Dengan helaan nafas, Myungsoo segera berdiri dan menyusul Naeun dengan cepat. Ia ingin segera mengenyahkan Wanita itu. 15 menit kemudian, Myungsoo keluar dari toilet dengan membersihkan bibirnya dengan tissue toilet dengan perlahan namun kasar. Tak lama kemudian, Naeun menyusul dan tersenyum kepadanya. Myungsoo hanya menatapnya singkat.

‘Semoga ia tak mengangguku lagi.’ batin-nya sambil menutup matanya lelah.

Sekarang, ia mencoba agar matanya mampu menutup dan ketika ia bangun nanti. Ia telah berada di Korea dengan segar kembali. Namun, ketika kesadaran-nya mulai menurun. Bayangan seseorang seakan menghampirinya.

‘’Shireo! Aku tak mau. Enak saja, aku juga lelah, Myungsoo-ah..’’ rengeknya membuatku gemas. Tapi, kemudian aku tetap memaksa membaringkan kepalaku di pahanya yang begitu nyaman.

Aku menguap dengan berlebihan, ‘’Sebentar saja. Jebal. Jebal.’’ kataku sambil membentuk wajah cemberut. Biasanya, siapapun akan luluh dengan wajahku yang seperti ini. Namun, tidak dengan dirinya.

Ia membuang nafas dengan keras, ‘’Yaa! Kau bangkit atau kupukul kakimu agar kau tak bisa berlatih lagi.’’ ancamnya padaku.

‘’AISH! Kau ini teman macam apa? Huh!’’ bentak-ku kesal. Ia benar-benar Yeoja yang tak terduga.

Ia tersenyum, senyum tulus yang sering kali ia berikan kepada siapapun. Senyum yang rasanya ingin kusimpan untuk-ku sendiri dan menyembunyikan-nya dari Namja-namja Kirin yang selalu berusaha mendekatinya. Tanpa sadar, aku mencubit kedua pipinya gemas.

‘’Yaa! Boa! Apo!’’ teriaknya sambil mengelus pipinya.

Kemudian, aku mendekatkan wajahku padanya, ‘’Itu hukuman.’’ kataku padanya.

‘’Memangnya aku salah apa, eoh? Kau selalu saja se-enaknya.’’ Ia menyerit dengan bingung. Membuat wajahnya terlihat semakin cantik dibawah sinar lampu yang sedikit meredup.

Aku hanya diam dan menghedikan bahu.

‘Karena kau punya senyum yang manis. Kau harus dihukum.’ batinku sambil diam-diam tetap memandanginya.

‘’Kenapa aku tak bosan memandangimu seperti ini?’’ bisik-ku tanpa sadar. Dengan cepat aku mengalihkan pandanganku darinya.

Tanpa bisa kulihatpun, pipinya merona dengan cepat. Tiba-tiba ia menjatuhkanku dan kemudian memberikan pahanya untuk menjadi bantalku yang nyaman. Namun, ia tetap tak menatapku. Ketika aku memandangnya. Ia malah makin mengalihkan wajahnya.

‘’Begini. Sebentar saja ya.’’ katanya dengan gugup.

Aku tersenyum, ‘’Eoh. Gumawo, Park Jiyeon.’’

Dan kemudian aku merasakan tangannya yang panjang menyentuh rambutku dan mengelusnya dengan lembut sekali.

‘’Aku tak tahu, bagaimana jadinya jika kau akan debut lebih dulu. Aku mungkin tak bisa bertahan disini sendiri.’’ kataku sedikit merasa kecewa entah mengapa.

‘’Aku akan tetap disini. Yang justru akan pergi itu justru kau.’’ balasnya sambil menerawang jauh.

Aku menatapnya dengan serius, kutarik tangannya hingga ia menunduk menatapku.

‘’Meski diantara kita nanti. Akan ada salah satu yang pergi ataupun menghilang. Tetaplah berjanji untuk bermimpi bersama. Jika aku yang pergi, aku pasti kembali bagaimanapun caranya. Pasti akan aku lakukan. Dan ketika saat itu tiba, tetaplah seperti ini. Tetaplah tersenyum dan menerima genggaman tanganku nanti, Jiyeon-ah.’’

‘’Tuan. Tuan, silahkan bangun. Pesawat akan segera landing.’’ bisik seorang Pramugari yang awalnya menggoda Myungsoo sejak awal.

Myungsoo mengerjab-erjabkan matanya, berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya yang begitu terang. Ia kemudian bangun dan menatap Pramugari itu dan tersenyum berterima kasih.

Pramugari itu tampak sedikit ragu, ‘’Eum, Tuan. Ah.. di sudut mata anda. Sepertinya ada sesuatu disana.’’

Meski masih bingung. Myungsoo menyentuh sudut matanya yang basah. Rahangnya mengeras dan ia diam sambil menyentuh bekas airmata yang turun. Dengan cepat, Pramugari yang ada disampingnya segera menjauh dari Myungsoo. Tahu jika suasana hati Myungsoo sangat tak baik sekarang.

***

Jiyeon berusaha menghindari tatapan Lee Joon yang tiba-tiba datang ke kantornya dan mengacaukan semuanya. Ia benar-benar marah dengan Jiyeon sambil tetap mencengkeram pergelangan tangan Jiyeon yang terasa seperti akan remuk karena ulahnya.

‘’Kau benar-benar wanita Jalang! Hahaha!’’ teriak Joon frustasi. Wajah tampan-nya tampak benar-benar menakutkan saat ini.

Sedikit menyerit bingung, Jiyeon balik menatapnya, ‘’Kau tahu aku adalah Wanita Jalang. Kenapa kau masih saja mengejarku seperti kesetanan? Kau ini sangat murah, Lee Joon-ssi. Membuatku muak.’’ serang Jiyeon sambil memberikan tatapan jijik.

‘’KAU!’’

‘’APA! KAU MAU MENAMPARKU! JANGAN MIMPI!’’ teriak Jiyeon sambil menghempaskan tubuh Joon dengan cepat. Ia merasa beruntung Appanya mengajarai tekhik taekwondo sejak ia masih berumur 10 tahun. Baginya, lelaki pemarah seperti Joon bukanlah tandingannya.

Lee Joon menatap kaki Jiyeon yang menginjak tepat didadanya. Membuat Pria itu menjadi bergidik ketakutan.

‘’Dengarkan aku! Jangan ganggu hidupku lagi! Aku tak akan segan-segan membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri, Araso! Ingat itu Lee Joon-ssi!’’ bentak Jiyeon yang kemudian dengan cepat meninggalkan Lelaki itu yang begitu ketakutan dengan sikap Jiyeon yang tak pernah ia bayangkan.

Sejak awal, memang Jiyeon begitu dingin. Justru sikap itulah yang menarik untuk Joon. Tetapi, ia tak menyangka jika Jiyeon bisa bersikap sangat brutal. Ia menghela nafas. Ia mencintai Jiyeon. Dengan tulus sepenuh hatinya. Namun ia berusaha berdiri. Ia sadar, hati Jiyeon yang sekeras batu memang sulit untuk dipecahkan.

‘’Mianhae.’’ kata Jiyeon yang ternyata masih ada dibelakangnya.

Lee Joon mengamati Jiyeon tak percaya. Dengan sedikit tertatih ia mendekati Jiyeon.

‘’Mianhae, Joon-ah. Seharusnya kau tak pernah mengenalku.’’ kata Jiyeon lagi. Ia memandang sedih ke wajah Joon. Membuat Lelaki itu tak tahan dan memeluknya lembut.

Ia tersenyum dalam kesedihannya, ‘’Aku pikir aku bisa melunakan hatimu. Ternyata, aku tak bisa ya? Hehe.’’ balasnya dengan lembut. Ia menepuk kepala Jiyeon secara perlahan.

‘’Gumawo. Joon-ah, untuk semuanya. Dan maafkan aku.’’

Ia memeluk Joon balik. Ia sendiri hanya menganggap Joon sebagai Oppa-nya. Ia tersenyum meminta maaf dengan ulahnya tadi.

Joon tertawa, ‘’HAHAHA! Ini pertama kalinya seseorang melakukan seperti ini padaku! Ya ampun Jiyeon. Kau ini benar-benar menarik!’’ kata Joon sambil mengelus rambut Jiyeon.

Tindakan yang membuat Jiyeon makin tak enak, ia memandang Joon dengan tatapan sungguh bersalah. Kemudian Joon segera berbalik dengan tak lupa tersenyum kepadanya. Membuat perasaanya entah mengapa benar-benar kacau. Hari semakin larut, Jiyeon memandang jam tangannya dan menemukan angka 8 terletak disana.

Ia kemudian menyetop bus dan segera naik sambil mengamati langit malam yang bersih tanpa satupun bintang. Jiyeon tersenyum miris. Ia tak apa. Karena sejak dulu ia membenci bintang. Ia membenci sinarnya, ia  membenci terangnya yang sama sekali tak nyata. Begitu jauh seakan membuat setiap orang yang melihatnya hanya bisa berharap saja.

Dengan langkah pelan, ia turun dari Bus dan menatap sekelilingnya yang begitu sepi. Cuaca lebih dingin dari sebelumnya. Dan.. membuatnya merapatkan blazer yang ia kenakan. Ketika hampir sampai dirumahnya, ia menatap sosok yang berjongkok didepan pagar rumahnya dengan skateboard dan tas sekolah tergeletak disampingnya. Meski sedikit ragu, ia segera menghampiri sosok itu.

‘’Marke?’’ ucapnya sambil menautkan alisnya karena bingung.

Sosok itu berdiri dan menatap Jiyeon yang datang, ia juga tampak terkejut, ‘’Ah, Noona?’’ jawab Mark sedikit linglung. Ia kemudian tersenyum kaku. Ia tak menyangka Jiyeon baru saja kembali. Ia kira Jiyeon sudah ada didalam rumah sekarang.

‘’Apa yang kau lakukan disini?’’ tanya Jiyeon yang kemudian memandang lengan Mark yang tampak karena ia hanya mengenakan kaos putih tanpa lengan yang tipis. Ia yakin Namja itu sedang tak baik, karena Mark tak akan memanggilnya Noona jika ia memang sedang normal.

Mark menggeleng pelan dan hendak berpamitan sebelum kemudian tangan Jiyeon menariknya.

‘’Ya Tuhan! Aigoo! Kau ini memang bodoh atau.. Kenapa kau hanya memakai kaos tipis seperti itu. Ayo masuk!’’ suruh Jiyeon yang sadar jika Namja itu akan segera pergi. Ia kemudian menarik tangan Mark yang begitu dingin dengan gerakan cepat, tetapi Mark hanya diam saja dan tak bergerak sama sekali.

‘’Noona..’’

Jiyeon kembali menatap Mark, ‘’Ani! Kau harus masuk Mark. Aku tak ingin kau kedinginan diluar. Ayo! Ppali!’’ kata Jiyeon lagi yang kemudian mau tak mau menyeret tangan-nya membuat Mark masuk kedalam Rumahnya. Dan akhirnya Mark hanya menurut saja.

Tatapan Mark yang kosong sejak tadi begitu membuatnya ingin tahu. Ada apa dengan Namja itu. Namun, Mark tampaknya begitu tertutup, seakan ia sengaja membuat sebuah benteng yang membatasinya. Jiyeon memanggil Bambam berulang-ulang, kemudian ia membuka Kamar Bambam dan tak menemukan Adiknya disana.

‘’Kau tak bersama, Bambam? Kenapa ia belum kembali?’’ tanya Jiyeon heran.

Namun, sama dengan tadi, Mark hanya diam dan mengedikan bahu tak peduli.

Jiyeon mendegus kesal, ‘’Yaa! Jaga dia! Aku yakin dia pasti digoda oleh Noona-noona genit dijalanan! Kau ini. Hash! Duduklah. Aku akan mandi sebentar dan berganti pakaian. Jangan kemana-mana ya! Awas kau berani pergi dari sini.’’ ancam Jiyeon yang hanya disambut anggukan singkat Mark.

‘Aku sendiri tak tahu, apa yang kulakukan disini.’ batin Mark sedih.

***

Bambam menyerahkan data keluarganya kepada Yunho-sam yang kemudian menatapnya seolah-olah ia sedang melihat hantu. Guru barunya itu kembali menatap lembar itu dan Bambam berulang-ulang. Bambam menatap Yunho bingung sambil se-sekali menguap. Ia tak menyangka jika akan selama ini pendaftaran-nya.

‘’Walimu, Park Jiyeon?’’ tanya Yunho memastikan.

Kepala Sekolah, Minho-sam yang mendengarkan ucapan Yunho, ikut tertarik dan memandang Bambam yang kembali menatap dengan tak mengerti.

‘’Ne.. Kakak perempuan saya, Park Jiyeon.’’ jawab Bambam tanpa ragu.

Minho tersenyum penuh misteri dan membisikan sebuah kata-kata yang benar-benar ia tunggu untuk ia ucapkan selama ini. Ia membisikan-nya kepada Yunho.

‘’Park Jiyeon. Kita menemukan-nya..’’

‘’Tapi, untuk apa Kepala Sekolah? Ia bukan murid Kirin. Dan.. kurasa, ia begitu membenci sekolah ini.’’ balas Yunho sambil tetap mengamati lembar profil Bambam.

Minho tak menjawab dan hanya berlalu begitu saja. Ia menyimpan semua rencana yang telah ia rencanakan sejak lama sekali. Wajahnya tampak puas dan diliputi rasa lega luar biasa. Ia seakan menemukan sebuah keping masa lalu yang telah hilang sejak lama.

Bambam yang mengamati kedua orang tadi merasa jengah. Ia hanya ingin segera pulang sekarang. Tetapi, calon Gurunya itu malah bersikap aneh.

‘’Jadi Bimbim.. kau..’’

‘’Aish! Nan Bambam-ie! Bukan Bimbim!’’ bentak Bambam sebal.

Yunho tampak merasa bersalah dan tersenyum kikuk, ‘’Baiklah Bambam. Selamat kau telah lolos seleksi Kirin. Selanjutnya kami akan mengundang walimu untuk datang dan memberi mereka pengarahan tentang kelanjutan hari ini. Dan, aku harap, Kakakmu benar-benar akan datang.’’ ucap Yunho panjang lebar.

Namja itu mengangguk mengerti.

’Ne, Songsangnim. Saya usahakan Noona bisa datang nanti.’’ jawab Bambam dengan senyum lelah.

Yunho kemudian mengangguk dan mempersilahkan Bambam untuk pergi. Diam-diam Anak itu penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Kepala Sekolah ingin menemui Kakaknya. Dan.. apa yang dulu pernah terjadi, itu yang ingin Bambam ketahui.

***

Myungsoo menyesap vodkanya dengan perlahan. Mengalirkan cairan keras itu kedalam tenggorokan-nya yang terasa sangat kering. Pandangannya jauh memandang keramaian Club yang menyilaukan pengelihatan-nya.

‘’Kau disini rupanya! Omo! Aku mencarimu sejak tadi!’’

Seorang Lelaki berwajah cantik mendatangi Myungsoo dan dengan cepat duduk disampingnya. Wajahnya memperlihatkan ke-khawatiran yang tampak sekali. Namun Myungsoo memilih kembali menyesap vodkanya.

‘’Yaa! Hyung-ah! Hajima.. hajima..’’ kata Sungjong sambil menarik Vodka Myungsoo dengan gerakan cepat..

Tak mau ambil pusing, sekarang Myungsoo justru mengambil Bir dan meminumnya dengan cepat.

‘’HYUNG!’’

Sungjong berteriak kesal. Ia segera menjauhkan hal-hal yang bisa memperburuk kesadaran Myungsoo. Tanpa wajah kesal, Myungsoo kemudian memangku wajah tampan-nya dengan kedua tangannya. Menatap Sungjong sambil tersenyum tipis.

‘’Ah. Neo yeogieyo..’’ sapa Myungsoo sambil menepuk pundak Sungjong lambat.

Melihat tingkah Myungsoo hanya bisa membuat Sungjong menggelengkan kepala tak habis pikir. Myungsoo yang merupakan teman SMA nya dulu berubah seperti ini. Padahal, Myungsoo punya segalanya, ia merupakan penulis lagu dan komposer terkenal, semua karyanya kebanyakan dinikmati oleh kalangan barat. Ia justru tak ingin memberikan karyanya kepada Penyanyi Korea. Hidupnya jauh dari cukup. Tanpa melakukan apapun, uang akan selalu datang padanya. Lagi-lagi Sungjong tak mengerti jalan pikiran Myungsoo.

Ia menghela nafas, ‘’Ayo pulang..’’ ajak Sungjong sambil menarik tangan Myungsoo.

Membuat Namja itu sukses berdiri. Bahkan 10 Vodka tak bisa menghilangkan kesadaran-nya. Padahal, itu yang Myungsoo cari. Agar ia bisa kehilangan kesadaran-nya. Tanpa dipaksa, Myungsoo segera meninggalkan bar itu dengan langkah cepat. Ia kemudian menunggu Sungjong yang mengurus bill nya didepan bar itu.

Ia memandang langit yang kelam tanpa satu bintangpun diatasnya. Myungsoo tersenyum sedih, padahal ia begitu suka bintang. Ia menyukai betapa indahnya cahayanya yang selalu mempercantik langit malam. Meski jauh, namun.. keindahannya tak membuat siapapun menyesal jika hanya bisa menatapnya dari jauh.

‘’Hyung. Kita ke Caffe ku dulu ya?’’ kata Sungjong sambil melangkah terlebih dahulu ke dalam mobil sedan silvernya.

Myungsoo melirik Sungjong yang sedang menyetir dengan tenang, ‘’Sungjong-ah. Kenapa wajahmu bertambah cantik? Aish! Kau ini  kan Lelaki.’’ kata Myungsoo membuka percakapan.

‘’YAA! Memangnya aku mau terus cantik seperti ini Hyung. Melelahkan sekali kau tahu! Dan lagi, kau ini, sampai kapan kau suka minum-minum dan bermain Wanita.’’ balas Sungjong.

‘’Hahaha. Aku tak tahu. Untuk minum-minum, anggap saja itu sudah seperti caraku menghibur diri. Untuk Wanita. Mereka saja yang menyerahkan dirinya begitu saja. Dan.. cara terbaik membuat mereka pergi adalah melayani permainan mereka secepat mungkin.’’ terang Myungsoo dengan senyum tipisnya.

Sungjong melirik Myungsoo sebentar, ‘’Kau ini sudah 24 tahun Hyung! Sampai kapan kau mau bermain terus.’’ kata Sungjong serius.

‘’Ah. Sudahlah, jangan mengurusiku. Hidupku ini sangat rumit. Oiya, ku dengar Kirin mengadakan seleksi masuk. Bagaimana? Kau lihat tidak?’’ tanya Myungsoo tertarik dengan perkembangan sekolahnya itu.

Sungjong menggeleng.

‘’Aku tak ada waktu Hyung. Yang jelas, sejak Jinyoung-nim pergi, Kirin menjadi sekolah yang benar-benar bersinar. Kau ingat seperti jaman ketika Samdong Hyung dan Hyemi Noona dulu. Kau tahu, Rookies ST Entertaiment? Sebagian mereka adalah lulusan Kirin tahun lalu.’’ jelas Sungjong sambil menggelengkan kepala takjub.

Myungsoo tampak tertarik, ‘’Benarkah? Yaa! Enak sekali ya! Padahal ketika zaman kita dulu. Susah sekali ketika ingin debut atau menjadi trainee. Karena disaat dulu, semua murid itu sama, tak ada kasta sama sekali. Namun, justru itu yang membuat kita semua dekat.’’

Sungjong memanggut-manggut kan bibirnya. Setuju dengan perkataan Myungsoo, ia tersenyum mengingat kenangan-kenangan mereka diwaktu dulu.

‘’Kau benar Hyung. Hahaha. Masih ingat tidak? Kita harus berlatih setiap hari tanpa lelah. Padahal, belum tentu kita bisa dilirik Produser atau Perusahaan Entertaiment. Aku, Kau, Jiyeon dan Jieun yang diam-diam berlatih di ruang tari lewat jendela belakang. Belum lagi, Kau dan Jiyeon juga yang paling sering berlatih. Woah! Aku masih tak menyangka kau meninggalkan bakat tari dan nyanyi mu untuk musik composer Hyung. Apalagi Jiyeon yang..’’

Sungjong menghentikan ucapannya ketika ia melihat Myungsoo yang memejamkan matanya seolah tak mendengarkan semua ucapan-nya tadi. Ia menghela nafas. Ia tahu jika Myungsoo hanya pura-pura saja. Ia hanya tak mau mendengarkan sesuatu tentang Jiyeon.

‘’Hyung, berhentilah bersikap aneh.’’ kata Sungjong tak tahan. ‘’Kau dan Jiyeon kan bersahabat, kenapa kalian malah terpisah hanya karena sesuatu yang bahkan sangat tak jelas. Kalian benar-benar mirip anak kecil.’’

Myungsoo mendengarkan setiap ucapan Sungjong tanpa ada sedikitpun bantahan. Apa yang Sungjong ucapkan memang benar. Semuanya benar.

‘’Temuilah Jiyeon, Hyung. Kudengar ia sekarang bekerja sebagai designer. Ia pasti senang jika tahu kau kembali setelah sekian lama..’’ ucap Sungjong lagi sedikit memohon.

Perlahan, Myungsoo menggerakan bulu matanya dan membuka kelopak matanya. Ia tersenyum miris.

‘’Shireo. Aku.. tak akan mau, berteman dengan seseorang yang tak mau memperjuangkan mimpinya. Hanya membuang waktuku saja.’’ jawab Myungsoo dengan nada getir didalamnya.

***

Jiyeon merasa risih dipandang begitu intens oleh Mark yang duduk di kursi belakangnya. Jiyeon khawatir jika masakan-nya hangus atau keasinan. Ia tak mau Anak kecil didepan-nya akan menertawakan-nya nanti.

‘’Bagaimana tesmu hari ini? Kau lolos kan?’’ tanya Jiyeon memecah keheningan antara dirinya dan Mark. Sambil tangan kanannya memasukan beberapa potongan daging dan kaldu.

‘’Aku tak ikut.’’ jawab Mark singkat.

‘’MWO! MWOYA! KAU?!’’ teriak Jiyeon tanpa bisa dicegah begitu saja.

Namun, Mark tetap saja bergeming dan malah meringis. Memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.

‘’Aku serius Marke! Kenapa kau sampai tak ikut? Ya ampun, kau ini benar-benar tak terduga. Ckck.’’ ucap Jiyeon yang benar-benar terkejut dengan sikap Mark yang benar-benar tak bisa dipercaya.

Mark kemudian bangkit dan mendekat ke arah Jiyeon dengan perlahan. Membuat Wanita itu tanpa sadar mennghentikan nafasnya sejenak. Mark tampak tersenyum menggoda. Perlahan, tangan kanan Mark mendekat dan..

‘’Lihat, supmu berwarna coklat.’’ kata Mark sambil kemudian mengambil manci yang Jiyeon panaskan dan mengambil bahan-bahan yang Jiyeon masukan.

Sejenak, Jiyeon butuh beberapa saat untuk menetralkan degub jantungnya. Bukan-nya Jiyeon ada perasaan atau bagaimana. Namun, siapa yang tak akan berdetak jantungnya jika Seorang Mark Tuan, Namja keturunan Chinise Amerika yang mempunyai senyum mematikan mendekati seorang Yeoja secara tiba-tiba.

‘’Mesum.’’

Jiyeon menatap Mark yang sekarang tersenyum licik kearahnya. Ia mendegus.

‘’Yaa! Kau berani sekali eoh! Dasar Anak Kecil! Kenapa kau hobby sekali menggoda ku sih!’’ ucap Jiyeon.

Mark mash saja tersenyum dan entah kenapa, justru sekarang ia yang malah memasak makanan untuk Jiyeon. Jiyeon dengan senang hati, hanya duduk dan memandang punggung Mark yang tak cukup lebar. Namun, ia yakin, suatu saat nanti, punggungnya itu akan berubah menjadi punggung pujaan setiap Wanita. Membayangkannya membuat Jiyeon tersenyum.

‘’Mesum.. mesum..’’ gumam Mark sekali lagi.

Jiyeon tak menghiraukan-nya dan berdiri, ‘’Kalau sudah matang. Kau panggil aku, ya? Aku mau menonton tv sambil menunggu Adik Manis ini memasak. Woah! Inilah hidup! Halelujah!’’ teriak Jiyeon senang. Sebelum Mark memberikan pandangan kesal, Jiyeon segera berlari menuju ruang tamu. Meninggalkan Mark yang fokus dengan makanan didepan-nya.

Mark tak terlalu peduli. Entah kenapa, ia senang-senang saja melakukan setiap hal yang Jiyeon tugaskan padanya. Bersama Jiyeon dan Bambam, ia merasa hidup. Paling tidak saat ini. Jiyeon dengan sikapnya yang meggebu-gebu justru membuat Mark merasa senang. Ia masih ingat saat pertama kali berjumpa Jiyeon 1 tahun yang lalu. Jiyeon bahkan tak mau repot-repot memandangi wajahnya dan berlalu didepannya. Padahal, Bambam bilang Jiyeon dulu adalah sosok manis dan hangat.

Tanpa sadar, Sup daging yang Mark masak sudah mengepul dan mengeluarkan bau yang begitu mengugah selera. Ia tersenyum dengan hasil karyanya hari ini. Ia kemudian mengambil serbet dan mengangkat manci tersebut di meja makan dan menata-nya. Setelah ia rasa sempurna, ia segera berjalan mendekati Jiyeon yang ternyata tertidur didepan tv.

‘’Jiyeon.. bangun..’’ ujar Mark sambil menepuk pipi Kanan Jiyeon.

Yeoja itu hanya memutar kepalanya, ‘’Hmmmh, jakkaman. Sebentar lagi, Boa-ssi. Aku akan menyelesaikan-nya.’’ gumam Jiyeon yang sedang mengigau.

‘’Jiyeon-ah. Ppali.’’ panggil Mark lagi.

Perlahan, Jiyeon-pun bangun dan melihat Mark yang menatapnya. Ia menguap sebentar sebelum mengikuti Mark yang berjalan menuju ruang makan. Ia duduk dihadapan Mark. Menatap makanan yang dibuat Namja itu.

‘’WOAH! Kau yang membuatnya?’’ tanya Jiyeon tak percaya.

Mark tetap diam dan mengambilkan nasi untuk Jiyeon. ‘’Makanlah baru tidur.’’ ujar Mark singkat.

Jiyeon mendegus dan mengambil sup yang dibuat Mark. Ia berniat akan meneriaki dan mengejek Namja itu habis-habisan jika masakan-nya..

‘’Ya Tuhan… ini enak sekali.’’ gumam Jiyeon sambil mengigit bibirnya. Ia mengadakan wajahnya merasakan rasa masakan Mark yang begitu.. enak.

Ia kemudian mengambil banyak sup dan memakan-nya dengan rakus. Tak peduli tatapan mengejek yang Mark berikan padanya sekarang. Untuk urusan makanan, ia sama sekali tak bisa menolerir.

‘’Mark Min Joon! Mark Min Joon.’’ panggil Jiyeon lucu sambil menggerakan tangan-nya dengan gerakan lucu.

‘’Apa? Kau ini suka sekali mengganti nama orang.’’ jawab Mark yang justru malu dengan sikap aneh Jiyeon.

Jiyeon tersenyum dan menatap wajah Mark, ‘’Kau ini. Tampan, Pintar menari, Pintar menyanyi, Pintar memasak. Kudengar kau juga bersekolah di Amerika dulunya. Kau ini Alien kah? Atau apa?’’ tanya Jiyeon konyol. Ia tersenyum cerah, memperlihatkan giginya yang kecil dan tersusun rapi. Senyum yang begitu lebar, Jiyeon merasa baru pertama kalinya ia tersenyum seperti ini.

‘’Baru pertama kali aku melihatmu tesenyum dengan lebar seperti itu.’’ kata Mark jujur. Ia sangat terkejut dengan senyuman Jiyeon yang benar-benar baru ia lihat selama ini.

Dengan masih memasang senyuman-nya Jiyeon menyipitkan mata, ‘’Jinjja? Hehehe. Mungkin karena aku terlalu bahagia ketika seseorang memasakan makanan rumah seperti ini. Meski aku tinggal bersama Bambam, aku merasa kami tidak begitu dekat. Aku menyayanginya, namun.. terlalu takut untuk bermanja padanya. Gumawo, Marke. Aku bahagia sekali. Masakan ini adalah yang terbaik.’’ kata Jiyeon sambil mengacungkan dua jempol kepada Mark.

Dan.. tanpa Jiyeon sadar, ia terpaku menatap Mark yang tersenyum ke arahnya. Bukan senyum jahil, mengejek dan senyum pura-pura. Senyuman ini terasa berbeda sekali. Ini senyum paling tulus yang pernah ia lakukan untuk Jiyeon.

‘’Apa yang kalian lakukan dirumahku! DASAR MESUM!’’

Mereka berdua menatap Bambam yang terlihat lelah sambil membawa bungkusan coklat ditangan-nya. Ia memandang Mark dan Jiyeon yang tersenyum satu sama lain sebelumnya dengan ngeri. Mark yang jarang tersenyum ditambah Jiyeon yang begitu dingin saling bertatapan dan tersenyum justru membuat Bambam curiga.

‘’Kenapa kau baru kembali?’’ tanya Jiyeon setelah mengatasi detak jantungnya karena terkejut dengan teriakan Bambam.

Bambam merengut kesal, ‘’Lama sekali memang Noona. Aku sampai tak tahu kenapa bisa selama ini. Oya, seseorang menitipkan ini padaku didepan.’’ kata Bambam sambil menyerahkan bungkusan yang berisi coklat kesukaan Jiyeon. Coklat yang Jiyeon suka bahkan sejak ia masuk SMA Kirin.

‘’Siapa yang memberimu ini?’’

‘’Aku tak tahu..’’ ia nampak sedikit berpikir, ‘’Yang jelas ditopinya tertulis huruf L. Aku tak tahu siapa. Ia memakai masker, jadi aku tak mengenalnya..’’

Tanpa banyak pikir. Jiyeon segera berlari tanpa memikirkan dirinya yang hanya mengenakan tanktop dan celana pendek saja. Ia membuka pagarnya yang besar dengan cepat. Ia berlari kebarat, mencoba mencari siapa yang mengirim coklat itu. Seseorang yang menurut Jiyeon tak mungkin datang. Seseorang yang telah bersinar jauh didepan-nya.

‘’Nuguya? Jinjja Nuguseyo?’’ tanya Jiyeon sedih, ia memandang kesegala arah.

Namun, ia tak menemukan apapun. Ia menutup matanya yang terasa berat, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Jiyeon tersenyum miris. Senyum bahagianya telah berganti lagi menjadi senyum terpaksa.

‘’Memang tak mungkin jika itu dirimu..’’ gumam Jiyeon.

‘’Mengapa tak mungkin?’’

Jiyeon berbalik mendengar suara itu. Dan ia kemudian menemukan seseorang yang paling tak ingin ia temui, berdiri menjulang didepan wajahnya. Seketika, ia merasa jika jantungnya tak berdetak beberapa saat..

-to be continued-

 

 

 

 

 

 

 

229 responses to “(CHAPTER 1) – Dream High 3

  1. Knp yah aku lbh suka saat moment2 nya jiyeon sma mark… Mungkin krn saat ini aku lg menggemari si tampan bersuara seksi (mark) itu kli yah, hahahahha….😀
    Tpi cerita’y te2p seru kok, krn aku jga suka sma myungsoo…^^ *ya ampun dsr rakus nich readers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s