[Chapter] Daughter of Poseidon Story Four

nyimasRDA - daughter of poseidon 6

intro 123

Daughters of Poseidon – Story Four

Author: nyimasRDA

Rating: G

Genre: fantasi

Length: chapter

Cast:

Park Jiyeon – Cherise

Kim Myungsoo – Arion

Kim Hyuna – Chaera

Cho Kyuhyun – Demon

Lee Jieun – Adara

Other

Note: FF ini real hasil pemikiranku. Don’t be a silent readers and don’t bashing! Maaf untuk persamaan karakter atau cerita, sungguh itu tidak disengaja. FF ini terlahir karena ketertarikan ku dengan Mitologi Yunani juga novel Percy Jackson.

 

Hallo semua readers setia FF-ku! Aku balik lagi dengan part yang (semoga) lebih menegangkan.

Sebelumnya aku mau minta maaf, karena penggunaan bahasa yang sedikit kasar disini.

Tapi, semoga itu semua yang mengurangi keinginan kalian untuk baca FF DOP ya!

Semoga kalian semua suka dan jangan lupa tinggalkan jejak. *bow*

-oOo-

Poseidon? Penguasa lautan? Tiga diantara dewa tertua? Apa kau fikir mereka ada? Jangan bodoh! – Park Jiyeon.

Seharusnya aku tidak pernah terlahir ke dunia ini. Aku sungguh ingin mati, sungguh! – Kim Hyuna.

-oOo-

 

Badai hebat terjadi sepanjang malam setelah insiden penyerangan yang dilakukan Hyuna terhadap adiknya, Jiyeon. Guntur-guntur meraung hebat dan saling bersahutan serta ratusan cahaya kilat menghiasi Langit malam. Sementara itu Myungsoo dan Jieun sedang duduk bersisihan, menatap Langit malam yang gelap mencekam.

“Menyeramkan sekali.”lirih Jieun memeluk lututnya sendiri.

“Aku rasa Zeus benar-benar marah. Kau tahu, menurutku mereka merasakan penyerangan yang dilakukan Hyuna.”ujar Myungsoo.

Keduanya kini menatap Langit malam dari atap rumah Myungsoo. Chaerin memutuskan untuk mengantar Jiyeon pulang ke rumahnya bersama Jiyong, sementara anak-anak diminta untuk tetap dirumah. Wanita bermata elang sengaja mengambil langkah ini untuk menghindarkan kedua dari mereka dari marabahaya yang mungkin saja mengintai.

Sejak insiden penyerangan itu terjadi, Myungsoo juga Jieun mulai sering merasakan mahluk asing disekitar mereka, karena itulah Chaerin khawatir dengan keadaan keduanya. Ia memutuskan untuk mengantar Jiyeon dengan pengamanan dari jubah hitam pemberian Apollo, atau yang Chaerin kenal sebagai G-Dragon.

“Kalian tunggu disini, biar Eomma yang mengantar Jiyeon pulang.”ujar Chaerin saat mereka bersiap untuk keluar.

“Tapi..”

“Tenanglah, Eomma ada jubah pemberian Appa, kami pasti akan baik-baik saja.”Chaerin berusaha keras meyakinkan anak laki-lakinya yang sangat keras kepala itu.

Chaerin sangat paham dengan apa yang akan menimpa keduanya jika mereka tetap pergi mengantar Jiyeon. Para perusak yang ingin memanfaatkan kekuatan Hyuna akan datang dan menyerang mereka. Setidaknya, jika tetap dirumah, keduanya akan tetap aman.

“Apa tidak masalah pergi dengan Jiyong?”

“Tidak, dia tidak akan bertanya yang macam-macam. Dia hanya tahu kalau Jiyeon sedang sakit, jaga dirimu selama Eomma pergi, ya.”

“Berhati-hatilah.”Myungsoo mengingatkan Chaerin.

Sementara keduanya sedang menatap Langit, kini di gunung Olympus justru sedang terjadi perdebatan sengit antara tiga dewa tertua juga dewa-dewi lainnya. Mereka sibuk dan saling menyalahkan.

“Ini sebuah kesalahan! Kau tidak seharusnya memiliki anak dari seorang manusia.”hardik Hades sambil menunjuk Poseidon tepat dihidungnya.

“Oh, jadi aku berbuat kesalahan? Lalu bagaimana denganmu, saudaraku Hades? Kau memiliki anak dengan seorang jalang!”sanggah Poseidon cepat, membuat para dewa terkejut dengan apa yang Poseidon katakan.

“Itu terjadi karena tidak disengaja.”Hades berusaha membela dirinya.

“Tidak disangaja? Menurutku itu lebih dari sekedar kebodohan, Hades. Kau yang tidak biasa minum minuman beralkohol, justru menghabiskan berkendi-kendi sake, sehingga melakukan hal bodoh itu.”

“Ah, jadi kau memiliki anak karen itu? Jangan katakan kalau kau iri padaku karena aku bercinta dengan wanita China itu, Poseidon.”

“Iri terhadap sesuatu yang menjijikan seperti itu, kau memiliki anak diluar nikah, Hades. Kau fikir aku pantas merasa iri dengan hal kotor seperti itu?”

“Kau juga sama saja! Kau juga memiliki Chaera karena hubungan diluar nikah yang kau jalin dengan si artis sombong itu.”

“Itu karena aku mencintainya. Dia yang tidak ingin aku nikahi..”

“Lalu bagaimana dengan si perancang terkenal Ha Neul? Kau juga mencintainya? Baru satu tahun setelah Kim Tae-Hee memiliki anak, Ha Neul juga melahirkan seorang putri. Kau mencintai dua wanita sekaligus? Oh, kau memang seorang playboy.”singgung Hera, ratu dewi sekaligus istri Zeus. “Apa kau sudah meniru kelakuan suamiku?”

“Hentikan Hera, kita berkumpul tidak untuk membahas masalah yang lalu.”kini Zeus mulai angkat bicara, ia memandang istrinya dengan tatapan tajam.

“Poseidon, kita semua tahu ini sebuah kesalahan. Kesalahan karena kau memiliki dua putri dari bangsa manusia, bangsa yang seharusnya kita lindungi. Kau melanggar perjanjian yang telah kita buat.”

“Yah Yah Yah, Poseidon memang salah!”ejek Hades kemudian.

“Diam kau tuan Neraka! Kau sama saja denganku! Kau, Aphrodite, Apollo, kalian semua sama!”

“Oh, jangan sama kan aku dengan kalian, setidaknya aku merawat anakku dengan baik.”ujar Hades dengan bangga.

“Kau mengambilnya secara paksa dari tangan Sandara, Hades. Kau tidak merawatnya, kau justru melatih dia untuk menjadi seorang pembunuh.”Aphrodite yang merasa sedikit tersinggung dengan apa yang dikatakan Hades kini mulai bicara.

“Jaga ucapanmu dewi tebar pesona!”umpat Hades.

“Cukup! Aku bilang cukup!”bentak Zeus bersamaan dengan petir menggelegar disetiap penjuru dunia.

Bentakkan dari Zeus lantas membuat para dewa dan dewi yang sejak tadi sibuk berdebat berhenti seketika.

“Sekarang, apa yang akan kau perbuat untuk menebus kesalahanmu, Poseidon?”tanya Zeus menatap tajam Poseidon.

“Kau ingin melimpahkan semua kesalahan ini padaku?”tanya Poseidon yang sejak tadi selalu dipojokkan.

“Tentu! Kau fikir siapa lagi yang patut dipersalahkan? Para wanita yang tergila padamu itu? bercanda!”kekeh Hades.

“Lalu bagaimana dengan kutukan yang dewa tertinggi kita lakukan?”tanya Poseidon mencoba mengingatkan.

Para dewa dan dewi yang mendatangi perdebatan itu langsung berbisik dan berseru pelan, mereka semua terkejut dengan apa yang Poseidon katakan, kemudian mengingat apa yang Zeus lakukan tujuh belas tahun lalu.

“Jika kau tidak mengutuknya, ia tidak mungkin punya kekuatan sebesar itu. Tidak mungkin putri kecilku menjadi seorang yang akan menghancurkan dunia. Ingat, kau turut andil dalam masalah ini, Zeus.”

Zeus terdiam, ia kembali teringat dengan berita kelahiran seorang anak setengah dewa di salah Satu kota di dunia. Malam itu Zeus mendapat kabar dari saudaranya, Hermes, bahwa seorang putri kecil keturunan dewa tertua telah lahir. Zeus marah besar dengan apa yang ia dengar, dan dengan emosi yang membuncah lantaran kakaknya, Poseidon melanggar janji yang telah mereka buat, ia langsung turun ke bumi dan melihat bagaimana rupa keponakannya. Ia berniat membunuh keturunan Poseidon saat itu juga, namun keinginannya terhenti saat melihat bagaimana rupa si gadis yang baru lahir tersebut. Ia tak bisa menghabisi nyawa Hyuna kecil, karena itu ia justru mengutuk Hyuna. Itulah alasan kenapa Hyuna memiliki sedikit kekuatannya. Zeus tak mengutuk Hyuna dengan sungguh-sungguh, hal itu justru membuatnya diberkati dengan sebagian kekuatan Zeus.

“Seharusnya kau membunuh gadis kecil itu, tuan Zeus, bukan mengirimkan seorang manusia untuk menjaganya.”ledek Hades.

“Hentikan semua perdebatan kalian, sebaiknya saat ini kita jaga kesehatan Cherise dan perketan penjagaan Chaera.”Athena, si dewi kebijaksanaan.

“Tenanglah, Cherise selamat.”ujar suara laki-laki yang tiba-tiba saja berdiri di tengah mereka.

“Apollo! Bagaimana kau tahu?”tanya Poseidon.

“Aku baru mengantarnya, bersama CL.”ujar Apollo yang masih mengingat panggilan sayangnya untuk Chaerin, dulu.

“Kau masih menemui manusia itu?!”pekik Zeus membuat Langit kembali berpetir.

“Tenanglah, Zeus! Aku merahasiakan jati diriku dengan baik.”

“Beraninya, kau!”

“Aphrodite! Dia juga menemui anaknya!”ujar Hades terus menunjuk dewi kecantikkan itu.

“Apa kalian sudah gila?!”bentak Zeus, ia benar-benar kesal dengan apa yang dilakukan saudara-saudaranya itu.

“Ini tidak penting, adikku. Saat ini yang paling penting adalah keadaan kedua anakku.”ujar Poseidon.

“Aku tak tahu keadaan si perusak, maaf. Aku kehilangan jejaknya, aku sudah berusaha mencarinya juga meminta bantuan burung merpati peliharaanku untuk mencarinya, tapi mereka tidak menemukannya.”

“Bagaimana jika dia masih emosi? Bagaimana jika dia menyerang manusia lain..”lirih Artemis

“Tenanglah, seseorang menjaga Chaera kita dengan sangat baik.”ujar Hades menyeringai.

-oOo-

 

Jiyeon meringkuk lemas dibalik selimut merahnya, menatap lurus dinding kamar bercat putih gading itu kemudian mendesah pelan. Ia tahu apa yang sebenarnya terjadi beberapa jam lalu, ia tahu penyerangan yang dilakukan wanita yang baru ia temui itu. Yang kini memenuhi pikirannya adalah, bagaimana bisa seorang wanita berusia belasan tahun menghancurkan akuarium besar yang letaknya jauh dari tempat mereka berdiri. Bagaimana dirinya terhipnotis dengan sensasi saat ia memandang wajah di gadis berambut merah itu dan mengapa Myungsoo juga Jieun menyembunyikan semua itu darinya? Begitu banyak pikiran yang ia rasakan.

“Cherise, anakku..”

Jiyeon mendengar dengan jelas suara seorang pria yang sering ia dengar, gadis cantik ini langsung mendudukkan tubuhnya dan memandang sekeliling.

“Siapa kau?”tanya Jiyeon lirih.

“Maafkan aku jika membuatmu harus berada diposisi ini.”

“Jangan hanya bicara, tunjukkan dirimu.”

“Maaf, Appa tidak bisa.”

“Appa? Apa kau benar-benar Appaku?”

“Ya, anakku. Aku Appamu.”

“Appa..”isak Jiyeon pelan.

“Jaga dirimu baik-baik, sayang. Percayalah, Appa akan selalu melindungimu. Appa akan melakukan apapun yang Appa bisa untuk menjagamu, juga Chaera.”

“Jangan banyak bicara! Tunjukkan dirimu! Dasar Appa bodoh!”tangis Jiyeon pecah bersama gemuruh hebat di Langit sana.

“Akan tiba saatnya kau melihat Appa, sayang. Untuk sekarang, Appa minta kau menjaga dirimu. Appa sayang padamu.”

Bersamaan dengan itu, Jiyeon merasakan tubuhnya dipeluk hangat oleh semilir angin malam yang sesungguhnya dapat membekukan tubuh. Jiyeon memeluk lututnya sendiri dan menangis dalam diam. Ia tak pernah merasa sehangat itu sebelumnya, ia tak pernah merasakan ketenangan seperti malam ini.

-oOo-

 

Kyuhyun berjalan malas dilorong penghubung antara dunia bawah yang merupakan tempat tinggal Hades dan dunia atas tempat tinggal para manusia. Telinganya dapat mendengar dengan jelas segala rintihan serta jeritan dari ujung lorong, tempat parah Roh dikumpukan.

“Hai Kharon.”sapa Kyuhyun pada makhluk berjubah hitam dan bertubuh kurus yang kini berdiri dihadapannya.

“Ah, Demon – Nama lain Kyuhyun –, apa kau dipanggil Hades?”

“Jika tidak dipanggil si gila itu, untuk apa aku kesini.”jawab Kyuhyun malas lalu kakinya menaiki perahu yang sejak tadi menjadi tempat Kharon berpijak.

Kharon adalah makhluk yang selalu membantu Hades selama ribuan tahun lalu. Ia selalu berdiri diatas perahu yang akan mengantarkan roh manusia dari tepi sungai menuju tempat mereka seharusnya berada. Kharon berteman baik dengan Kyuhyun, mengingat ia adalah putra tunggal Hades dari bangsa manusia, Kyuhyun juga sangat sering keluar masuk dunia bawah tanah untuk menemui Appanya itu. namun demikian, Kharon selalu meminta upah setiap kali Kyuhyun menyebrang.

“Kenapa tidak jalan?”tanya Kyuhyun yang kini menatap Kharon sinis.

“Kau belum memberikanku sekeping obolos – koin Yunani, Demon.”

“Hey! Aku ini anak majikanmu, kau tahu. Lagupula aku tak punya koin obolos lagi. Hades mengambil seluruhnya dariku.”

“Kalau begitu kau tidak bisa menyebrang dan menemui tuan Hades.”

“Tapi aku harus menemuinya!”

“Kau harus membayar, sama seperti roh-roh yang lainnya.”ujar Kharon sambil melirik kearah roh-roh dibelakang Kyuhyun.

“Bercanda.. aku ini manusia. Aku tidak perlu membayar seperti mereka.”

“Maaf Demon, aku tidak bisa membawamu  jika kau tidak memberikanku sekeping obolos.”

“Aku bersumpah akan mengadukan apa yang kau lakukan ini pada Hades! Kau akan menjadi makanan Cerberus – anjing kepala tiga peliharan Hades – jika tidak membawaku menemui Hades!”bentak Kyuhyun yang kini sudah kehabisan sabar.

Mendengar nama Cerberus disebut membuat Kharon bergidik ngeri, dengan terpaksa ia mengangkut Kyuhyun untuk menyebrangi sungai kematian bersama roh-roh lain. Sementara Kyuhyun hanya menatap sinis makhluk-makhluk tembus pandang dihadapannya.

-oOo-

 

Suara-suara merdu terdengar melalui telinga Jiyeon, gadis berparas cantik itu mulai menggeliatkan tubuhnya dan perlahan matanya mulai terbuka. Jiyeon tersenyum memandang Langit-Langit kamarnya. Matanya yang berwarna coklat terang menatap jam dinding berbentuk mahkota berwarna pink di sudut kamar, ini masih terlalu pagi untuk bersiap ke sekolah, jadi Jiyeon memutuskan untuk membuatkan Ha Neul sarapan.

Langkah-langkah kaki Jiyeon tak terdengar saat ia menyusuri anak-anak tangga dibawah kakinya. Gadis dengan rambut pirang ini mengulurkan tangannya dan membuatkan sarapan untuk sang Eomma tercinta. Lima belas menit kemudian Jiyeon selesai dengan masakannya dan kini di meja makan sudah tersedia dua gelas susu coklat, roti panggang juga telur mata sapi yang selalu menjadi menu sarapan keduanya. Baru Jiyeon berniat untuk membangunkan Ha Neul, wanita cantik itu kini sudah berdiri di hadapan Jiyeon.

“Eomma sudah bangun?”tanya Jiyeon yang menatap Ha Neul hangat.

“Hmm, kau membuat sarapan? Kenapa tidak tunggu Eomma.”

“Eomma pasti lelah seharian kemarin bekerja, jadi biar aku yang membuatkan Eomma sarapan, ya?”

“Ah, kau memang putri Eomma yang paling baik. Jadi, ceritakan pada Eomma bagaimana hari pertamamu di sekolah. Menyenangkan?”tanya Ha Neul.

Jiyeon terdiam, rasanya ia ingin sekali mengatakan pada Ha Neul tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tentang pertemuannya dengan Hyuna juga tentang penyerangan yang dilakukan gadis berambut merah itu.

“Tidak ada sesuatu yang terjadi, semua berjalan dengan baik. Kau tidak perlu khawatir.”jawab Jiyeon dengan senyum khasnya.

Ha Neul hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum mendengar jawaban Jiyeon. Ada kelegaan yang ia rasakan.

“Maafkan aku, Eomma. Aku tidak mungkin mengatakan tentang apa yang terjadi. Jika kau tahu, kau pasti akan membawaku kembali ke inggris. Jika itu terjadi, bagaimana bisa aku menemukan Chaera dan menyelamatkan dunia seperti apa yang Appa inginkan.”bisik Jiyeon dalam hatinya.

Tingtong

Jiyeon mendongakkan kepalanya saat mendengar bunyi bell rumahnya berdering dengan langkah kecil gadis ini menyusuri rumahnya dan membukakan pintu untuk tamu yang datang.

“Jieun-ya! Bagaimana bisa kau kesini?”tanya Jiyeon terkejut dengan kedatangan Jiyeon yang begitu mendadak.

“Aku mengkhawatirkan keadaan teman baru ku. Kau tidak apa-apa?”jawab Jieun dengan senyum mengembang diwajahnya.

“Jangan terlalu keras, Eomma bisa mendengar apa yang kau katakan.”

“Eoh, kau tidak memberitahu Eomma mu perihal kau yang jatuh pingsan?”

Jiyeon menggelengkan kepalanya, membuat Jieun menganggukan kepalanya beberapa kali.

“Ayo masuk Jieun-ya, kuperkenalkan dengan Eomma.”tangan mungil Jiyeon menarik lembut Jieun, membuat gadis itu kini sudah berdiri di depan Haenul.

“Hallo, perkenalkan, saya Jieun, Lee Jieun. Senang bertemu anda.”Jieun memperkenalkan dirinya pada Ha Neul.

Ha Neul terdiam, ia bahkan menjatuhkan potongan roti panggang dari tangannya. Matanya mengerjap beberapa kali, tidak percaya dengan apa yang matanya lihat saat ini.

“Eomma, kau baik-baik saja?”Jiyeon memandang Ha Neul dengan bingung, begitu pula dengan Jieun.

Ha Neul menganggukan kepalanya, berharap ia bisa memberikan jawaban yang diinginkan oleh putri tunggalnya.

“Sungguh? Kalau begitu Eomma temani Jieun sebentar, ya. Aku akan bersiap-siap dulu.”lanjut Jiyeon lalu melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.

Merasakan hal yang aneh pada Ha Neul membuat Jieun kini berdiri dengan kikuk.

“Bibi, ada apa? Apa ada yang aneh pada diriku?”tanya Jieun pelan.

“Lee Jieun? Apa kau Putri dari Aphrodite?”

Jieun memandang terkejut bukan main saat identitas aslinya terbongkar oleh seorang wanita paruh baya yang kini sedang berdiri di depannya.

“Bagaimana bisa Ibu Jiyeon mengetahui identitasku?”bisik Jieun pelan.

“Keponakanku, maksudku kau keponakan suamiku.”

“Tunggu, maksud bibi?”

“Kau pasti tahu apa yang aku maksud, Jieun-ssi.”

Baru Jieun ingin mengajukan pertanyaan lain, iris matanya menangkap sosok cantik Jiyeon yang kini sedang menuruni anak tangga.’

“Tolong rahasiakan identitasku dari Jiyeon, belum saatnya ia tahu tentang siapa dirinya juga Ayah nya.”Jieun memandang penuh harap pada Ha Neul.

“Tentu, sampai saatnya tiba, aku akan merahasiakan identitasmu.”

“Terima kasih.”

-oOo-

 

Jiyeon memandang lurus sosok gadis yang kemarin menyerangnya. Saat ini Hyuna sedang berdiri berhadapan dengan seorang laki-laki yang Jiyeon kenal. Wajah Hyuna tetap datar seperti biasa, ia tak memandang wajah laki-laki itu, sementara lawan bicaranya terus memohon untuk Hyuna pulang.

“Paman, bukankah sudah aku katakan, aku tidak ingin pulang.”ujar Hyuna untuk ketujuh kalinya.

“Tapi kau harus pulang, sayang. Aku mengkhawatirkanmu.”

“Tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri.”ujar Hyuna lalu meninggalkan Seung Won.

Seung Won memandang sedih sosok Hyuna yang kini telah memasuki halaman sekolah, sementara itu Jiyeon berjalan mendekati pria berwajah tampan itu.

“Paman.”panggil Jiyeon menarik perhatian Seung Won.

“Jiyeon-ssi.”

“Sedang apa paman disini?”tanya Jiyeon.

“Aku, aku ada urusan.”

“Paman mengenal si rambut merah?”

“Hyuna? Maksudmu Hyuna? Kau mengenalnya?”

“Ah jadi namanya Hyuna?”ujar Jiyeon dalam hatinya. “Hmm, aku mengenalnya. Dia Sunbae ku, paman.”

“Benarkah? Kalau begitu, aku bisa tenang. Jiyeon-ssi, bisakah kau menjadi mata-mataku?”

“Maaf?”

“Tolong awasi gerak-gerik Hyuna, bisakah?”

“Ah, ya. Aku akan mengawasi Hyuna-ssi. Tapi, apa hubungan paman dengan Hyuna?”

Seung Won tersenyum “Ia anakku.”

-oOo-

 

Jiyeon melangkahkan kakinya menyusuri taman Seoul International High School dengan sangat hati-hati. Saat ini ia sedang menjalankan apa yang dikatakan oleh Seung Won, mengawasi Hyuna. Dibelakang Jiyeon berdiri seorang pria dengan mata teduh yang tak memalingkan perhatiannya barang sedetikpun dari tubuh tinggi Jiyeon.

“Berhenti mengikutiku.”ujar Hyuna dingin.

“Apa, siapa yang mengikutimu? Aku..”

“Hentikan tindakan bodohmu itu. Apa perkataanku kemarin kurang jelas? Aku membencimu.”ujar Hyuna lalu berjalan meninggalkan Jiyeon.

“Kenapa? Kenapa kau membenciku?”

“Kau tidak perlu tahu alasannya.”

“Aku perlu tahu! Aku harus tahu alasan kau membenciku, sampai-sampai kau menyerangku!”

Hyuna menghentikan langkahnya. Ia mengertukan keningnya kemudian berpikir keras.

“Menyerang?”tanya Hyuna bingung.

“Eoh, kau menyerangku kemarin! Kau membuat akuarium di perpustakaan hancur dan kau menggunakan airnya untuk menyerangku.”

“Omong kosong! Bagaimana bisa aku melakukan itu?”

“Kau tidak ingat?”

“Aku bahkan tidak ingin mengingat pertemuan kita!”

Hyuna berlari meninggalkan Jiyeon yang berdiri bingung memandang kepergiannya. Seribu pertanyaan menghampiri benak Jiyeon, bagaimana bisa Hyuna melupakan penyerangan yang ia lakukan dan bagaimana bisa ia begitu membenci Jiyeon. Tanpa Jiyeon sadari di ujung taman, ada seorang pria berkacamata tebal memperhatikan dia.

 

Cho Kyuhyun pov

Aku terus memperhatikan setiap pergerakkan Hyuna juga si anak baru Jiyeon. Memandang mereka dari sudut taman sambil terus mengingat apa yang Hades katakan padaku. Fikiranku mulai melambung pada kejadian yang menimpa dua gadis ini. Bagaimana Hyuna menyerang Jiyeon yang diyakini adalah si penyelamat Dunia. Bahkan si raja neraka itupun mengakui bahwa anak baru ini adalah Cherise, putri Poseidon.

Malam itu Hades memanggilku, ia mengirimkan Askalafos – penjaga kebun Hades yang dikutuk menjadi burung hantu – kesayangannya untuk menyampaikan pesan padaku dan dengan berat hati aku harus kembali melangkahkan kaki ku memasuki gua Neraka, tempat ia tinggal.

 

Flashback on

“Hai Cerberus, apa kabar?”tanyaku setelah turun dari perahu Kharon.

Tangan kananku terulur untuk mengusap salah satu kepala makhluk dihadapanku.

“Hades ada di dalam?”

Guk!

Jawab salah satu kepala Cerberus. Aku menganggukkan kepalaku dan kembali berjalan memasuki Istana Hades. Hey! Jangan berfikir kalau istana Ayahku ini adalah istana yang suram seperti yang digambarkan oleh manusia-manusia itu, ya. Demi Kronos, Istana Hades sungguh mewah dan jauh dari kata menakutkan. Istana ini terbuat dari emas murni. Aku melangkahkan kakiku memasuki Istana mewah milik Hades, semakin masuk ke dalam semakin terdengar jelas raungan dari roh-roh manusia yang meminta pengampunan.

“Demon, sedang apa kau disini?”tanya Erinyes saat melihatku melangkah masuk. Biar kuberitahu, Erinyes ini merupakan Dewi pembalasan yang merupakan kaki tangan Hades.

“Ah, hay Erinyes, senang juga bertemu denganmu.”ujarku sedikit berbasa-basi, wanita ini masih juga tidak berubah, tak pernah berbasa-basi. “Aku harus menemui, yah, kau tahu siapa.”

“Ah, Hades ada di singgahsananya, kau bisa langsung kesana. Kau mau minum? Aku bisa meminta para Ker untuk membawakanmu minuman.”

“Oh tidak, terima kasih. Kau tidak perlu meminta para Dewa kematian itu untuk membawakan segelas darah segar untukku.”

“Oh ayolah, Ker tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku akan meminta mereka membawakanmu jus tomat, kau mau?”

“Well, jika itu memang jus tomat.”

“Akan kupastikan mereka tidak berbuat nakal lagi padamu Yang Mulia Demon.”

Berbuat nakal? Apa menurutnya memberikan segelas darah pada anak manusia, ehm maksudku anak setengah manusia ini merupakan tindakan nakal? Apa mereka fikir aku ini seorang vampire atau apa? Dasar sial. Selesai berbincang dengan Erinyes, aku kembali melangkahkan kakiku menemui si tuan dari segala tuan dunia bawah, Hades.

Hades berdiri dengan tangan yang ia letakkan dibelakang punggungnya, menatap ribuan roh yang kini sedang merintih kesakitan karena jilatan api neraka.

“Ehem.”aku berdeham pelan, berusaha menarik perhatian pria yang usianya sudah ribuan tahun ini.

Hades menoleh, manatapku dengan tatapan datarnya namun senyuman mengembang diwajanya. Sungguh, Hades tidak terlalu menyeramkan seperti yang biasa anak-anak khayalkan. Ia bahkan cenderung tampan, sangat tampan. Hidungnya mancung dengan mata yang besar juga rambut coklat yang menghiasi kepalanya. Hades tidak memiliki mahkota kerajaan seperti Raja pada umumnya, ia hanya memiliki sebuah helm kegelapan.

“Demon, kau sudah sampai.”tanya Hades berbasa-basi.

“Well, seperti yang kau lihat.”jawabku malas. “Jadi apa yang Tuan Hades inginkan dari hamba yang hanya setengah dewa ini?”

“Oh Demon, kau terlalu kaku. Apa hidup di dunia manusia yang membuatmu seperti ini?”tanya Hades lagi. “Jadi, laporkan padaku mengenai insiden penyerangan yang dilakukan Chaera.”titahnya kemudian.

Aku menarik nafasku lalu menceritakan dengan jelas segala yang terjadi antara dua anak Poseidon, sementara Hades hanya menganggukan kepalanya. Ia terlihat seolah sangat menikmati segala cerita yang aku berikan sambil beberapa kali tersenyum licik.

“Jadi, apa yang kau lakukan setelahnya?”

Deg!

“Membawa Chaera lari.”jawabku gugup, aku tahu ia akan mengatakan ini. Dia pasti akan menanyakan apa yang aku lakukan pada Chaera.

“Hanya itu?”

“Kau mau aku melakukan apa?”aku berusaha memberanikan diriku untuk menjawab apa yang ia katakan, namun aku tak berani menjawabnya.

“Memeluk dan menghilangkan ingatannya, mungkin? Demon, dia sepupu mu, kau harus melakukan hal yang membuatnya nyaman, bukan?”senyum licik kembali terukir diwajah Hades.

Oh ayolah, aku harusnya ingat kalau Hades akan tahu apa yang aku lakukan pada Chaera. Entah mengapa setiap kali berhadapan dengan gadis itu aku selalu merasa bodoh setengah mati. Dari yang kehilangan kendari sampai si Arion dapat memasuki fikiranku dan sekarang? Aku lupa kalau Hades juga bisa membaca fikiranku, bahkan ia pasti sudah tahu apa yang terjadi sebelum hal itu benar-benar terjadi.

“Kau menyukainya?”

“Apa?”

“Kau menyukai Chaera.”

“Aku? Tidak, itu tidak benar.”

“Aku tahu kau menyukainya, Demon, terlihat jelas dimatamu.”

“Aku bilang aku tidak menyukainya, Hades.”

“Lalu kenapa kau menghapus ingatannya? Tidak ingin dia terluka atau apa?”

“Hanya.. Aku hanya tidak ingin mengacaukan rencanamu, bukankah kau yang mengatakan kalau aku harus mengawasi dan menjaga Chaera? Menurutku apa yang aku lakukan adalah salah satu dari tindakan ‘menjaga’ gadis itu.”

“Well, aku harap kau tidak berbohong padaku, Demon. Kau tahu, aku dewa kematian, aku dewa yang menurut pada manusia adalah dewa terkejam. Aku anak tertua dari Cronos, aku dapat tahu isi hatimu tanpa membacanya lebih dulu. Jangan pernah berfikir kau dapat membohongiku. Atau aku akan menghancurkan semuanya.”

Aku hanya menganggukan kepalaku ragu.

Flashback off

Cho Kyuhyun pov end

 

“Aku akan menghancurkan semuanya.”

Kata-kata itu terus terngiang dalam kepala Kyuhyun. Ia tahu benar bahwa Hades tidak mungkin main-main dengan ancamannya. Ia akan melakukan apa saja untuk melakukan apa yang dia inginkan. Meski dia harus membunuh Chaera, putri adiknya sendiri, meski akan ada peperangan di gunung olympus, meski ia harus melenyapkan anak kandungnya.

-oOo-

 

From: Baby Apollo

Kau dimana? Kita harus bertemu, ada yang ingin aku bicarakan.

 

Jieun memandang layar ponselnya yang kini menampilkan pesan singkat dari Myungsoo sementara Jiyeon yang duduk di sampingnya terus melahap kimbab yang ia pesan di kantin beberapa waktu lalu.

“Jiyeon-ah.”panggil Jieun pelan membuat gadis dihadapannya mendongakkan kepalanya. “Bisa aku tinggal sebentar? Aku perlu ke toilet.”

“Mau aku temani?”

“Tidak, tidak perlu. Kau lanjutkan saja makan siangmu. Aku tidak akan lama.”ujar Jieun lalu meninggalkan Jiyeon sendiri.

Jiyeon memandang berkeliling atap gedung sekolahan yang ia jadikan tempat menyantap makan siangnya bersama Jieun beberapa waktu lalu. Pemandangan indah menyapa iris mata Jiyeon. Suara-suara burung pipit terdengar merdu di telinga Jiyeon, membuat senyum terukir diwajah cantiknya. Namun senyumnya segera hilang saat bola matanya bertemu pandang dengan Hyuna.

“Sunbae-nim.”panggil Jiyeon.

“Kau ingin tahu kenapa aku membencimu?”tanya Hyuna pelan, matanya yang berwarna coklat tiba-tiba berubah warna menjadi hitam kelam. “Karena kau mirip Ibu, dan aku benci itu.”ujar Hyuna keras lalu berlari meninggalkan Jiyeon bersama petir yang menggelegar di angkasa.

Jiyeon terduduk mendengar apa yang dikatakan Hyuna, fikirannya kosong..

“Sedang apa disini?”tanya sebuah suara mengejutkan Jiyeon.

Jiyeon membalikkan tubuhnya, memandang seorang pria dengan pakaian serba hitam juga kacamata tebal yang bertengger di hidung mancungnya.

“Apa kau tak tahu kalau siswa dilarang memasuki atap sekolah?”tanya pria itu lagi.

“Ah, maaf. Aku hanya menghabiskan makan siangku disini.”

“Cepat kembali ke kelas jika makanmu sudah selesai.”

“Baik, Cho Seonsaengnim.”

“Apa ini, bukankah tadi aku merasakan aura makhluk hitam disini? Lalu kenapa justru Cherise yang ada?”lirih Kyuhyun setelah meninggalkan Jiyeon sendiri.

Kyuhyun berlari keras berusaha menemukan Hyuna, ia harus melaksanakan apa yang Hades perintahkan, ia harus menjaga dan mengawasi Chaera, namun hari ini tidak menemukan sosok gadis itu. segala fikiran buruk menghampiri Kyuhyun, mungkinkah mahluk-mahluk kegelapan sudah menemukan sosok Chaera dan berbagai macam pemikiran lainnya.

“Cho Seonsaengnim!”panggil sebuah suara membuat langkah Kyuhyun terhenti.

Kyuhyun menoleh dan mendapati Myungsoo juga Jieun berlari kearahnya.

“Ada yang ingin kami bicarakan.”ujar Myungsoo kemudian.

“Sedang apa kalian disini? Kenapa kalian tidak menjaga Cherise?!”bentak Kyuhyun membuat Jieun juga Myungsoo terkejut.

“Ada apa, apa yang kau bicarakan Seonsaengnim?”

“Bukankah kalian diminta Apollo juga istrinya untuk menjaga Cherise? Kenapa kalian justru membiarkan dia sendiri.”

Mendengar ayahnya disebut lantas membuat Myungsoo terkejut. Dengan sekali tarikkan ia membawa Kyuhyun menjauh dari lorong sekolah, menuju gudang gelap bersama Jieun dibelakangnya.

“Seonsaengnim sebenarnya siapa anda?”tanya Myungsoo.

“Itu tidak penting sekarang. Kalian harus pergi menemui Cherise, jaga dia jangan sampai mahluk kegelapan bertemu dengannya.”

“Katakan siapa kau sebenarnya!”bentak Myungsoo.

“Aku Demon, putra tunggal Dewa Hades. Sekarang cari Cherise dan jaga dia. Aku akan mencari Chaera.”

Myungsoo melepaskan kepalan tangannya dari kerah baju Kyuhyun, keterkejutan bukan main ia dan Jieun rasakan. Bagaimana bisa seorang putra Hades berada disekitar mereka tanpa mereka sadari.

“Tapi, siapa Cherise?”tanya Jiyeon polos.

“Demi Cronos, si anak baru, dia Cherise! Dia penyelamat dunia.”ujar Kyuhyun membuat Myungsoo juga Jieun terdiam.

TBC

117 responses to “[Chapter] Daughter of Poseidon Story Four

  1. kan hyuna am jiyi itu appa nya sama yeh , tapi kenapa bisa hyuna jd penghacur dunia sedangkan jiyi penyelamat dunia ,jd bisa dibilang mereka bertolak belakan kan *abaiakanini

  2. Aigo myung sm jieun byk trkjutx.. kwkwkwk mrk ini anak dewa dewi tp msh blm brpnglaman jg ya.. kekekek.. wah kyu sk hyuna ottokhae? Ih hades jht amat sih.. huff..

  3. Pingback: RECOMMENDED – Daughters of Poseidon | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s