[CHAPTER – PART 1 OF 2] 29 FEBRUARY

29 FEBRUARI

29 FEB CAST29 FEBRUARY PRESENTED BY KAK ICA

“29 February,” gumam seorang anak kecil di depan kalender pada dinding rumahnya yang sebentar lagi resmi menjadi milik orang lain. Tak lama kemudian muncul sang kakak tertua sedang sibuk membopong kardus dari dalam kamarnya menuju ruang tamu. “Eonnie,” panggil Park Seo Rim.

“Ne?” Park Boyoung, sang kakak yang saat itu sudah menginjak umur 25 tahun. “Seo Rim butuh sesuatu?”

“Kalender ini…” Seo Rim menunjuk kalender mini yang tergantung manis di dinding. “…kenapa kau tidak membawanya ke rumah baru kita?”

Boyoung pun menatap kalender itu sebelum menjawab pertanyaan sang adik yang masih berumur enam tahun. “Eonnie sudah pasang kalender yang lain di rumah baru kita.”

“Waeyo, Eonnie?” tanya Seo Rim lagi.

Belum sempat Boyoung menjawab pertanyaan Seo Rim, muncullah yeoja lain berbalut seragam sekolah yang langsung mengambil tempat duduk di atas sofa yang sebentar lagi akan di angkut oleh tukang sewaan Boyoung.

“Kau baru pulang?” tanya Boyoung pada Park Jiyeon.

“Kenapa kau tidak katakan yang sebenarnya pada adikmu itu, Eonnie?” tanya Jiyeon tanpa menghiraukan pertanyaan Boyoung. “Kau sengaja meninggalkan semua benda-benda peninggalan Eomma di rumah ini.”

Boyoung tidak menjawab, dia hanya menatap sang adik seraya menghela nafas pendek. Tiba-tiba Jiyeon beranjak bangun lalu menghampiri Seo Rim.

“Apa kau lupa mengambil benda ini dari tangan Seo Rim?” tanya Jiyeon kepada Boyoung seraya mengacungkan sepasang high heels dari tangan Seo Rim. “High Heels Eomma, kurasa benda ini juga harus disingkirkan jauh-jauh dari kehidupan kita.”

“Kenapa kau bicara seperti itu, Eonnie?” tanya Seo Rim pada Jiyeon. “Aku akan membawa sepatu Eomma ke rumah kita yang baru.”

“Seo Rim-ah, sebaiknya kau naik ke mobil sekarang,” ucap Boyoung langsung mengubah topik pembicaraan. “Sebentar lagi kita akan berangkat, setelah Eonnie membawa dua kardus yang tersisa.”

Setelah mengambil kembali sepasang high heels dari tangan Jiyeon, Seo Rim pun berlari kecil keluar rumah menuju mobil.

“Jiyeon-ah, aku minta tolong padamu untuk berhenti membahas kematian Eomma di depan Seo Rim,” ucap Boyoung memohon.

“Waeyo?” tanya Jiyeon dengan tatapan tidak suka. “Seo Rim berhak tahu bahwa ibunya kini sudah mati.”

“Jiyeon-ah, jebal….”

“Setelah kau berhasil membunuh ibu kita, kau dengan seenaknya menjual rumah ini dan membeli rumah baru,” sela Jiyeon dengan nada suara semakin tinggi.

“Aku tidak  pernah membunuh ibuku sendiri,” ucap Boyoung dengan nada yang sama tingginya dengan Jiyeon.

“Kau yang membuat Eomma terbunuh, Eonnie,” ucap Jiyeon memelan. “Karena kau terlalu memaksakan hubunganmu dengan Je Hoon. Eomma pergi karena kau memicu kekesalannya. Dan dia mati. Dia mati terbunuh di rumah kita sendiri. Dan bisakah kau mengerti bagaimana perasaan kami, menyadari bahwa satu-satunya ibu yang kami miliki direnggut nyawanya oleh….”

“Keumanhe!” bentak Boyoung keras.

Suasana pun hening. Keduanya saling melempar tatapan tajam, membuat suasana yang awalnya suram berubah menjadi tegang.

“Aku minta padamu sekali lagi, Jiyeon-ah…” Boyoung kembali bersuara. “…berhenti membahas kematian Eomma di depan Seo Rim.”

“Kita lihat saja nanti,” jawab Jiyeon dengan wajah merendahkan. “Aku hanya berpikir bahwa Seo Rim harus tahu penyebab kematian ibunya.”

Jiyeon pun pergi keluar rumah meninggalkan Boyoung yang tiba-tiba terjatuh duduk dengan wajah depresi. Dia memegang dadanya sendiri yang berdetak kencang akibat perdebatannya dengan sang adik.

**

Di luar rumah…

Jiyeon sudah duduk di sebelah Seo Rim di dalam mobil. Setelah dia memasang seat belt pada adiknya, dia pun memasang pada dirinya sendiri.

“Apa kau bertengkar lagi dengan Boyoung Eonnie?” tanya Seo Rim tiba-tiba kepada Jiyeon yang perhatiannya sedang teralih pada sosok namja yang sedang berdiri tidak jauh dari mobil mereka. Namja tersebut menggunakan tudung hoodienya beserta masker untuk menutupi kepala dan sebagian wajahnya. “Eonnie!” panggil Seo Rim setengah berteriak, membuat Jiyeon memalingkan wajah ke arah sang adik. “Kau sedang lihat apa sih?”

“A-aniyo,” jawab Jiyeon seraya memandang kaca spion luar mobilnya lagi. Si namja tadi sudah tidak ada.

“Eonnie, kau aneh sekali,” ucap Seo Rim seraya memandang aneh ke arah Jiyeon.

Tak lama kemudian muncul Boyoung yang langsung masuk ke dalam mobil. Sebelum menjalankan mobil, Boyoung bertanya, “Kau tidak duduk di depan, Jiyeon-ah?”

“Aku tidak sedang ingin duduk di depan,” jawab Jiyeon seraya membuang wajah ke luar jendela mobil. “Duduk bersama Seo Rim jauh lebih mengasikkan.”

Mendengar ucapan sang adik, Boyoung hanya mampu menghela nafas berat. Mobil pun mulai melaju pelan keluar dari kompleks perumahan. Dan sepanjang perjalanan Boyoung hanya diam, sementara kedua adiknya di belakang asik mengobrol. Tiba-tiba Seo Rim menyentuh bahu Boyoung seraya bertanya, “Eonnie jadi mengadakan pesta kecil untuk rumah baru kita?”

“Mwo?” sela Jiyeon seraya memandang Boyoung dengan tatapan tidak suka. “Pesta kecil? Kau tidak pernah mengatakan soal itu padaku, Eonnie.”

“Aku hanya belum sempat memberitahumu,” jawab Boyoung. “Lagipula itu bukan pesta. Hanya makan malam biasa.”

“Dan Je Hoon Oppa akan datang nanti malam,” sambung Seo Rim bersemangat.

Wajah Jiyeon dua kali lipat terlihat tidak suka bahkan ada aura kemarahan yang dapat Boyoung rasakan.

“Sinting,” gumam Jiyeon pelan tetapi mampu terdengar sampai ke telinga Seo Rim, bahkan Boyoung.

“Jaga ucapanmu di depan Seo Rim, Jiyeon-ah!” ucap Boyoung segera.

Jiyeon pun diam, walaupun kedua tangannya kini sedang terkepal erat pada pangkuannya.

Perjalanan pun dilanjutkan dengan suasana tidak enak. Dua jam kemudian mobil mereka akhirnya sampai di sebuah tempat baru pilihan Boyoung. Rumah yang terlalu besar untuk ditinggali tiga orang seperti mereka. Paling tidak mereka akan mendapatkan lingkungan yang sepi yang jauh dari keramaian tetangga menyebalkan ataupun suasana bising dari mobil jalanan.

“Bagaimana bisa kau menemukan daerah perumahan seperti ini?” tanya Jiyeon seraya memutar pandangan. “Kurasa daerah ini hanya memiliki tiga rumah.”

“Geurae,” ucap Boyoung. ” Dan rumah diujung sana sudah ditinggal oleh pemiliknya satu tahun yang lalu. Dan aku mendapatkan rumah ini dari Hyungsik.”

“Hyungsik?” tanya Jiyeon yang tidak mengenali nama itu.

“Adik Je Hoon,” jawab Boyoung.

Spontan wajah Jiyeon berubah masam.

“Tentu saja kau bisa mengandalkan adik dari kekasihmu itu. Lalu kenapa kau memilih rumah di daerah sesepi ini?” tanya Jiyeon.

“Karena aku tidak suka keramaian. Dan aku butuh suasana yang dapat memicu inspirasiku,” jawab Boyoung lagi.

“Araseo, aku lupa bahwa kau ini penulis gagal,” ucap Jiyeon ketus seraya meninggalkan Boyoung untuk menyusul Seo Rim yang kini sedang berdiri di depan pintu rumah barunya yang masih terkunci.

“Eonnie, rumah ini besar sekali,” ucap Seo Rim pada Jiyeon. Wajah kecilnya terlihat sangat bersemangat.

“Kau menyukainya?” tanya Jiyeon seraya mengelus kepala sang adik.

“Tentu saja,” jawab Seo Rim antusias. “Lihat halaman rumah ini, luas sekali. Aku bisa bermain sepuasnya, bahkan aku bisa berguling-guling di tempat seluas ini.”

“Semoga saja aku mampu menemukan kesenangan sepertimu di rumah baru ini,” gumam Jiyeon seraya berjalan menuju halaman belakang rumah. Seorang namja sedang memotong kayu dengan kapak di tangannya. Wajah tampannya terlihat basah karena keringat di sekitar pelipisnya. Tak lama kemudian Boyoung datang menghampiri.

“Kau tidak mau lihat-lihat keadaan di dalam?” tanya Boyoung.

“Di jaman modern seperti sekarang, apa masih ada namja tampan dan muda yang mau melakukan pekerjaan itu?” tanya Jiyeon tanpa menggubris pertanyaan Boyoung.

Boyoung segera memalingkan wajah ke arah namja yang sedang Jiyeon bicarakan.

“Kim Myung Soo?” gumam Boyoung dengan dahi berkerut.

“M-mwo?” Dahi Jiyeon pun ikut berkerut tanda bingung.

Keduanya akhirnya memutuskan untuk menghampiri si namja yang masih sibuk dengan kapaknya.

“Myung Soo-ssi, benarkah kau?” panggil Boyoung, membuat si namja otomatis menghentikan pekerjaannya.

Si namja terdiam sebelum akhirnya berkata, “Park…Boyoung?”

“Geurae,” jawab Boyoung seraya tersenyum lebar. “Aku Park Boyoung. Kau…bagaimana bisa ada disini? Bukankah kau memutuskan untuk meninggalkan Korea untuk mencari ibumu di Brunei?”

“Ne,” jawab Myung Soo seraya mengusap keringat yang bermunculan di dahinya. “Aku memutuskan untuk menghentikan pencarian itu.”

“Waeyo?” tanya Boyoung sementara Jiyeon sibuk menatap kapak tajam yang tergenggam erat dibalik tangan kuat Myung Soo.

“Rasanya sia-sia saja,” jawab Myung Soo. “Ibuku pergi saat aku masih kecil. Dan aku baru memutuskan untuk mencarinya setelah aku sebesar ini. Hanya dengan keberuntungan aku bisa menemukannya.”

“Kau benar-benar namja hebat, Myung Soo-ah,” ucap Boyoung seraya menepuk pelan bahu Myung Soo. “Kau bisa bertahan dengan segala masalah yang menimpamu. Bahkan sampai sebesar ini kau mampu hidup hanya bersama dengan ayahmu, tanpa kehadiran seorang ibu.”

Mendengar ucapan Boyoung, Jiyeon kembali menatap sang kakak dengan tatapan tidak suka.

“Sebenarnya….ayahku sudah meninggal,” ucap Myung Soo, membuat Boyoung terlihat terkejut. “Setahun yang lalu dia meninggalkanku.”

“O-omo…” Boyoung tergagap seketika. “M-mianhae Myung Soo-ah. Aku turut berduka atas…”

“Untuk apa kau merasa berduka pada orang lain disaat kau sendiri baru saja kehilangan seorang ibu?” sela Jiyeon tiba-tiba, membuat Boyoung maupun Myung Soo terkejut.

“Keumanhe, Jiyeon-ah…” ucap Boyoung memperingatkan.

“Mianhae, aku sudah menginterupsi perbincangan kalian dengan sangat lancang,” ucap Jiyeon kepada Myung Soo. “Aku Park Jiyeon. Kami adalah penghuni baru rumah ini dan kalau kau berkenan untuk datang makan malam jam tujuh nanti, aku sangat menghargai kehadiranmu.”

“U-um…terima kasih atas undangannya,” jawab Myung Soo kikuk. “Tetapi…”

“Kau harus datang, Myung Soo-ah,” sela Boyoung seraya tersenyum. “Sudah lama kita tidak bertemu. Ada baiknya jika kau makan bersama kami, mengobrol atau…”

“Ada Je Hoon yang harus kau perhatikan nanti malam, Eonnie,” sela Jiyeon untuk yang kesekian kalinya. “Dan Kim Myung Soo, kurasa aku sudah menemukan teman mengobrol untuk malam ini.”

Boyoung hanya mampu menelan pahit setiap sindiran yang Jiyeon berikan padanya.

“Araseo, aku akan datang,” ucap Myung Soo akhirnya menerima undangan makan malam mereka.

Jiyeon dan Boyoung pun kembali ke rumah mereka, menyusul Seo Rim yang sudah lebih dulu masuk ke dalam.

“Ada hubungan apa Eonnie dengan namja itu?” tanya Jiyeon mulai menginterogasi sang kakak, menyadari bahwa dirinya memiliki ketertarikan dengan Kim Myung Soo.

“Aku pernah mengajarinya les privat,” jawab Boyoung. “Dia lebih memilih untuk mencari ibunya setelah lulus dari SMA daripada melanjutkan kuliah. Waeyo? Kau tertarik padanya?”

“Ani,” jawab Jiyeon tidak mau berterus terang dan lebih memilih untuk meninggalkan Boyoung sendirian di ruang tamu mereka yang lumayan besar. Sedangkan Boyoung sendiri hanya mampu menatap punggung sang adik dengan tatapan sedih. Sejak kematian sang ibu, sikap Jiyeon berubah drastis terhadapnya. Bicaranya selalu ketus dan cenderung selalu menyalahkan Boyoung. Kematian sang ibu yang tak terduga bukan kehendak Boyoung, tetapi karena kejadian itu Boyoung merasa telah menyakiti banyak perasaan. Dan semua itu terjadi karena dia terlalu mencintai Lee Je Hoon. Seperti saat ini, Boyoung begitu bersemangat saat sang kekasih menghubunginya.

“Kau jadi datangkan malam ini?” tanya Boyoung saat menjawab panggilan Je Hoon.

“Ne, aku akan datang jam tujuh malam nanti sementara aku harus mengurus perpanjangan beasiswaku dulu,” jawab Je Hoon.

“Beristirahatlah sejenak,” ucap Boyoung yang sangat mengerti bagaimana keadaan sang kekasih yang hobi sekali berkutat pada buku-buku tebal koleksian perpustakaan kampusnya. Je Hoon bukan berasal dari keluarga kaya, bahkan beasiswa yang selalu didapatnya merupakan bantuan terbesar yang Je Hoon dapatkan dari kampusnya. Jika tidak ada beasiswa, mungkin Je Hoon tidak akan mampu melanjutkan kuliah S2-nya. Karena keadaan ekonomi Je Hoon yang tidak baik, sang ibu pun berkali-kali menolak hubungan Boyoung, sang anak, dengan namja itu.

“Eomma, aku tidak pernah mempermasalahkan bagaimana bentuk keadaan ekonomi Je Hoon,” ucap Boyoung kepada sang ibu yang saat itu masih terlihat cantik dan sehat. Sang ibu sedang menghabiskan potongan daging steak di atas piring makannya dan seleranya mendadak buyar saat Boyoung mulai membahas Lee Je Hoon.

“Boyoung-ah, aku sudah berkali-kali mengatakan bahwa aku tidak akan pernah mengizinkan anakku menikah dengan namja miskin seperti Je Hoon,” ucap sang ibu tegas. “Aku berani menyerahkan apa saja, bahkan nyawaku, agar seluruh anak-anakku mendapatkan kebahagiaan duniawi bersama dengan pasangan hidupnya masing-masing. Lalu Je Hoon? Apa dia mampu membuatmu bahagia? Kebahagiaan duniawi?”

“Aku tidak butuh kebahagiaan macam itu jika aku tidak bisa bersama dengan namja yang kucintai,” jawab Boyoung dengan mata berkaca-kaca. “Aku mencintai Je Hoon, Eomma. Aku sangat mencintainya. Jika Eomma selalu mempermasalahkan status kehidupannya yang tidak setara dengan kita, aku bisa jamin…setelah aku hidup bersamanya, dia pasti mampu membuatku bahagia tidak hanya dengan uang yang selalu Eomma ributkan.”

“Boyoung-ah, cukup,” ucap sang ibu yang benar-benar sudah kehilangan selera makannya. “Kau membuatku mual dan kesal.”

Sang ibu pun beranjak dari kursi makannya menuju ruang tamu. Sedangkan Boyoung masih diam di tempat duduknya dengan tetesan air mata di pipinya.

“Eonnie, ada baiknya kau ikuti ucapan Eomma,” ucap Jiyeon yang duduk tepat di depan Boyoung. “Keinginan dan ucapan orangtua tidak pernah salah.”

“Kau tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan saat ini,” ucap Boyoung dengan kepala sedikit tertunduk.

Tiba-tiba jam dinding besar rumah mereka berbunyi, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.

“Sudah jam tujuh. Waktunya aku menjemput Seo Rim,” ucap Jiyeon seraya beranjak pergi menuju ruang tamu. Dan yang terjadi selanjutnya hanyalah pekikan keras yang terdengar dari bibir Jiyeon, membuat Boyoung spontan berlari menuju ruang tamu. Mata Boyoung tak berkedip sedikitpun sementara tangan dan tubuhnya bergetar kencang saat melihat leher sang ibu berlumuran darah. Garis melintang berhasil menghiasi leher sang ibu yang nyaris terputus karena benda tajam yang kini tergeletak di atas lantai rumah mereka. Kapak besar bebercak darah tergeletak begitu saja tanpa tahu siapa pemiliknya.

“E-eomma…” Jiyeon berusaha bersuara memanggil sang ibu, tetapi yang keluar hanyalah bisikan pilu.

Boyoung sendiri sudah terjatuh duduk di lantai dengan tatapan masih tertuju ke arah jasad sang ibu.

“J-Jiyeon-ah,” panggil Boyoung pelan.

“Kau…” Tatapan sedih Jiyeon tiba-tiba berubah menjadi tatapan penuh kebencian. “Karena kau, Eomma mati!”

#flashback end#

“Boyoung-ah?” panggil Je Hoon lewat ponselnya. “Boyoung-ah, kau masih ada disana?”

“N-ne?”Boyoung mengerjapkan matanya yang baru saja melamun. “N-ne…aku masih ada disini. Um..sepertinya aku harus segera menyiapkan makan malam. Usahakan jangan datang terlambat.”

“Aku mengerti,” ucap Je Hoon. “Kalau begitu sampai nanti.”

Sambungan pun terputus.

Boyoung mengusap wajahnya seraya menghela nafas panjang. Kematian sang ibu selalu terbayang dibenaknya secara tiba-tiba, membuat dirinya semakin hari semakin dilanda perasaan bersalah. Pembunuh sang ibu yang sampai saat ini belum dapat diketahui dan ditemukan menjadi tanda tanya besar bagi Boyoung maupun Jiyeon. Satu hal yang menjadi pemikiran Boyoung, mungkinkah sang ibu memiliki musuh selama hidupnya, sehingga ada orang yang begitu berani membunuh sang ibu? Seo Rim, adiknya yang paling kecil, sampai saat ini pun belum tahu bahwa ibunya sudah meninggal sejak tiga bulan yang lalu. Alasan yang Boyoung dan Jiyeon berikan kepada Seo Rim selalu sama, “Eomma harus pergi untuk waktu yang lama karena urusan pekerjaan.” Tetapi Seo Rim akan semakin besar dan dewasa, mereka tidak akan mungkin membohonginya terus menerus. Kadang Boyoung berpikir apa yang dikatakan Jiyeon benar, Seo Rim berhak tahu. Dan Boyoung juga merasa bahwa dia berhak menerima perlakuan tidak baik dari Jiyeon. Kematian sang ibu memang salahnya.

**

Bel rumah mereka berbunyi dan Jiyeon langsung pergi untuk membukakannya sementara Boyoung sedang sibuk di dapur.

“Annyeong, Jiyeon-ah.” Je Hoon berusaha menunjukkan senyum kepada Jiyeon saat adik kekasihnya ini membukakan pintu untuknya.

Jiyeon yang sama sekali tidak tertarik dengan senyum maupun kehadiran Je Hoon, hanya diam seraya pasang wajah tidak suka. Keduanya pun masuk ke dalam ruang makan, tempat dimana Seo Rim sedang asik bermain dengan bonekanya. Melihat kedatangan Je Hoon, Seo Rim pun langsung menghambur ke arah Je Hoon untuk memeluknya.

“Oppa, aku rindu padamu,” ucap Seo Rim setelah mengecup pipi Je Hoon.

“Jinjiha?” tanya Je Hoon yang kini sedang menggendong Seo Rim. “Kalau begitu…bagaimana jika aku mendapatkan popo darimu lagi?”

“Tentu saja,” ucap Seo Rim seraya mengecup pipi Je Hoon sekali lagi.

“Aigo…manis sekali yeoja kecil satu ini,” ucap Je Hoon seraya mengelus rambut panjang Seo Rim.

Sementara itu Jiyeon melihat keduanya dengan tatapan tidak suka dan mulai berkomentar,”Beginikah caramu mengambil hati anak kecil?”

“Mwo?” tanya Je Hoon seraya menurunkan Seo Rim.

“Kau perlu tahu, anak kecil seperti Seo Rim mungkin bisa kau ambil hatinya dengan mudah, tetapi tidak denganku,” ucap Jiyeon ketus. “Aku sudah terlalu besar untuk kau bodohi.”

Je Hoon hanya bisa diam tanpa membalas ucapan Jiyeon yang berhasil melukai hatinya. Tidak lama kemudian Boyoung datang dari dapur, membawakan makanan yang sudah dipersiapkan sejak satu jam yang lalu.

“Kau tidak mengajak Hyungsik?” tanya Boyoung saat menyadari Je Hoon datang sendirian.

“Dia tidak jadi datang karena harus menjenguk orangtua kekasihnya,” jawab Je Hoon, membuat Jiyeon berdecak meremehkan.

“Aku yakin adikmu sama ahlinya denganmu dalam hal mengambil hati orang lain,” celetuk Jiyeon seraya menyuapi nasi ke dalam mulutnya sendiri.

“Jiyeon-ah, aku harap kau bisa menjaga mulut dan sikapmu selama acara makan malam berlangsung,” pinta Boyoung dengan nada menekankan.

“Gwaenchana, Boyoung-ah,” ucap Je Hoon seraya menggamit tangan Boyoung untuk digenggamnya erat.

Acara makan malam pun berlangsung canggung. Beberapa menit kemudian bel rumah mereka berbunyi lagi. Tinggal satu tamu lagi yang kehadirannya sedang ditunggu-tunggu, terutama oleh Jiyeon. Maka dengan secepat kilat Jiyeon beranjak dari bangkunya dan berlari ke arah pintu, berharap sosok Myung Soo ada dibalik pintu rumahnya. Tetapi apa yang dia dapatkan? Hanya selembar kertas yang tergeletak manis di atas karpet di depan rumahnya.

“29 Februari,” ucap Jiyeon membaca tulisan yang tertera pada selembar kertas tersebut. “Apa maksudnya? Siapa yang meletakkan kertas ini di depan rumah ini?” Jiyeon pun memutar pandangannya ke arah halaman rumahnya yang gelap. Tidak ada siapa-siapa.

“Siapa yang datang, Jiyeon-ah?” Suara Boyoung pun terdengar memanggil dari dalam.

Tanpa menjawab pertanyaan sang kakak, Jiyeon langsung menutup pintu dan kembali ke dalam.

“Apa Myung Soo yang datang?” tanya Boyoung sekali lagi.

“Tidak ada siapa-siapa,” jawab Jiyeon dengan wajah kecewa. “Hanya ada selembar kertas. Entah siapa orang iseng yang meletakkan kertas ini di depan rumah kita.” Jiyeon menunjukkan kertas tersebut kepada Boyoung dan Je Hoon.

“29 Februari,” gumam Boyoung dengan dahi berkerut bingung.

Tiba-tiba terdengar suara bel untuk yang ketiga kalinya. Kali ini Je Hoon yang bergerak untuk membukakan pintu. Tak lama kemudian muncul sosok Myung Soo bersama dengan Je Hoon di belakangnya.

“Kau datang!” seru Jiyeon kesenangan.

“Maaf aku terlambat,” ucap Myung Soo seraya mengambil tempat duduk di sebelah Jiyeon.

“Gwaenchana,” ucap Boyoung seraya memberikan mangkuk nasi kepada Myung Soo. “Perkenalkan Myung Soo-ah, ini Je Hoon, kekasihku. Dan ini adik kecilku, Park Seo Rim.”

“Annyeong,” Seo Rim melambai dari seberang meja.

“Annyeong.” Myung Soo membalas lambaian tangan Seo Rim disertai senyum.

“Jadi kau yang bernama Kim Myung Soo?” Je Hoon menjabat tangan Myung Soo. “Boyoung pernah bercerita pasal dirimu yang malas sekali belajar, sampai-sampai ayahmu menegur Boyoung sebagai guru les privatnya.”

Myung Soo pun tersenyum seraya mengangguk. “Geurae, dulu aku banyak menyusahkan Boyoung Seonsaengnim,” ucap Myung Soo malu-malu.

Merasa dirinya tidak diajak bicara, Jiyeon langsung menyela, “Kau mau teriyaki, Myung Soo-ssi?”

“Gwaenchana, aku bisa ambil sendiri,” ucap Myung Soo seraya mengambil sendok teriyaki dari tangan Jiyeon.

“Tak apa, biar aku saja,” ucap Jiyeon sambil mempertahankan sendok teriyaki yang digenggamnya.

“Terima kasih kalau begitu,” ucap Myung Soo seraya menyorongkan mangkuk nasinya ke arah Jiyeon.

“Sebenarnya apa yang kau kerjakan belakangan ini, Myung Soo-ah?” tanya Boyoung saat melihat tangan Myung Soo yang penuh goresan luka. “Siang tadi aku lihat kau sedang sibuk dengan kapakmu.”

“Sebenarnya aku sedang menganggur saat ini,” jawab Myung Soo seraya menarik tangannya ke bawah meja. “Setelah kematian Appa, aku seperti tidak memiliki semangat hidup. Tetapi aku harus benar-benar menemukan pekerjaan secepat mungkin, karena persedian uang yang Appa tinggalkan di rumah rasanya sudah semakin menipis. Jika tidak, mungkin aku akan menjual rumah orangtuaku itu.”

“Lalu soal kapak itu…” sela Jiyeon yang entah mengapa lebih tertarik membahas si kapak ketimbang cerita hidup Myung Soo. “Aku benar-benar tidak menyangka masih ada namja muda sepertimu yang mau melakukan pekerjaan melelahkan seperti mengampak kayu…”

“Ah soal itu…” Myung Soo refleks mengusap dahinya yang tidak berkeringat. “Penghangat ruangan di rumahku rusak. Kupikir daripada membeli yang baru, lebih baik aku menggunakan perapian sebagai penggantinya. Seperti ceritaku tadi, persedian uang yang Appa tinggalkan di rumah rasanya sudah semakin menipis. Jadi aku harus benar-benar berhemat.”

“Lagipula tidak ada salahnya kan Myung Soo melakukan pekerjaan seperti itu,” ucap Boyoung seraya melempar senyum.

“Aniyo, aku hanya tidak suka dengan seseorang yang hobi bermain dengan kapak,” ucap Jiyeon memberitahukan alasannya. “Kau pasti tahu, Eonnie. Kenapa aku benci sekali dengan benda tajam satu itu.”

Boyoung hanya diam, sementara Je Hoon melanjutkan sisa makanannya dengan mulut pahit.

Saat acara makan malam selesai, mereka melanjutkan dengan obrolan santai. Sedangkan Boyoung pergi ke dapur untuk mencuci piring dan mangkuk bekas makanan mereka. Ketika sedang mencuci piring, perhatian Boyoung teralih pada jejak telapak tangan yang terjiplak di kaca dapur di depannya. Boyoung ingat sebelumnya jejak telapak tangan itu belum ada.

“Jejak tangan siapa ini?” gumam Boyoung seraya meletakkan piring terakhir di dalam rak piring. Dan tepat saat Boyoung berbalik untuk kembali ke ruang tamu, sosok Je Hoon yang sedaritadi sedang berdiri di ambang pintu dapur sukses membuat Boyoung terkejut.”Yaa, kau nyaris membuat jantungku copot,” gerutu Boyoung seraya mengelus dadanya. “Sedang apa kau berdiri disini?”

“Aniyo,” jawab Je Hoon yang tiba-tiba saja menghampiri untuk memeluk tubuh kecil Boyoung. “Entah mengapa…aku sangat merindukanmu malam ini.”

Boyoung pun tersenyum seraya membalas pelukan Je Hoon yang melekat sangat erat di tubuhnya.

“Haruskah aku menciummu sekarang?” bisik Je Hoon di telinga Boyoung, membuat yeoja satu ini otomatis mengangguk malu.

Tanpa banyak bicara lagi, Je Hoon pun mendaratkan bibirnya pada bibir Boyoung. Mereka begitu menikmatinya, sampai-sampai tidak sadar bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka. Kim Myung Soo yang sedang berjalan menuju dapur otomatis menghentikan langkahnya. Wajahnya tiba-tiba berubah tidak suka. Suara Jiyeon-lah yang mampu menyadarkannya.

“Sedang apa kau disini?” tanya Jiyeon seraya membelakangi Je Hoon dan Boyoung yang kini sudah melepaskan ciuman mereka.

“Aniyo,” jawab Myung Soo seraya mengalihkan wajahnya ke arah Seo Rim yang kini sedang asik menonton di ruang keluarga. “Aku hanya ingin mengambil air putih.”

“Biar aku ambilkan,” ucap Jiyeon menawarkan.

“Aniyo,” jawab Myung Soo cepat seraya mengambil tangan Jiyeon. “Aku sudah tidak haus. Dan sepertinya aku harus pulang sebentar. Maukah kau mengantarku sampai depan?”

“Ne,” jawab Jiyeon seraya mengikuti langkah Myung Soo keluar rumah.

“Aku harus memastikan bahwa aku tidak lupa mematikan perapian,” ucap Myung Soo mencoba mencari alasan. “Rumah diujung sana, yang sudah tidak ditinggali, tiga tahun yang lalu nyaris terbakar karena salah satu anggota keluarganya lupa mematikan perapian sewaktu meninggalkan rumah. Aku tidak mau hal buruk itu terjadi pada rumah peninggalan kedua orangtuaku.”

“Umm…kalau kau tidak keberatan…” ucap Jiyeon terlihat malu-malu. “Bolehkah aku ikut bersamamu ke rumahmu? Aku hanya ingin lihat suasana di dalam rumahmu.”

Myung Soo pun mengangguk kaku seraya menjawab, “Tentu saja.”

Maka pergilah mereka berdua ke rumah Myung Soo yang terletak di belakang rumah Boyoung.

Rumah Myung Soo terlihat gelap dan dingin. Ternyata perapian di dalam rumahnya tidak menyala sama sekali. Hanya ada abu hitam bekas pembakaran kemarin.

“Ah…sepertinya otakku agak bermasalah. Aku lupa bahwa aku tidak menyalakan perapian sebelum datang ke rumahmu,” ucap Myung Soo terlihat kikuk.

Hal ini agak terasa aneh bagi Jiyeon, tetapi dia tidak mau terlalu ambil pusing. Mungkin Myung Soo memang tipe namja pelupa.

“Mumpung sudah ada disini, apa kau mau minum sesuatu?” tanya Myung Soo menawarkan.

Jiyeon pun mengangguk seraya menjawab, “Boleh.”

“Kalau begitu kau tunggu sebentar disini,” ucap Myung Soo seraya beranjak pergi ke dapurnya yang terletak di belakang rumahnya.

Jujur saja Jiyeon agak tertarik dengan isi rumah Myung Soo yang hampir lima puluh persen berisi benda-benda pahatan dari kayu. Sebuah sertifikat prestasi terpampang dengan bingkai kayu yang diukir indah di gantung di dinding ruang tamu.

“Jadi ayah Myung Soo adalah pemahat,” gumam Jiyeon yang merasa takjub dengan semua hasil karya ayah Myung Soo. Ada selembar kertas lain di atas meja, tidak di bingkai dan terlihat menyedihkan karena pinggirannya sudah robek-robek. Ketika Jiyeon mendekatkan kepalanya untuk membaca apa isi kertas tersebut, spontan keduanya matanya membulat, terbelalak, seakan-akan tidak percaya apa yang  sedang dilihatnya saat ini. “S-surat Keterangan Catatan k-kriminal? K-Kim Myung Soo?”

Jiyeon terlalu shyok sehingga dirinya menjatuhkan kertas yang baru diambilnya tersebut dari atas meja.

“Kim Myung Soo? K-kriminal?” gumam Jiyeon seraya mundur beberapa langkah dari meja. Tiba-tiba dirinya teringat akan kapak yang siang ini Myung Soo gunakan untuk memotong kayu. Kepalanya pun spontan menoleh ke arah dapur tempat di mana Kim Myung Soo berada. Kebetulan sekali ada pisau lipat di atas meja lain di ruang tamu tersebut. Dengan cepat Jiyeon menyambar pisau lipat itu dan disembunyikannya di balik tubuhnya sementara dirinya kini dengan langkah tanpa suara mencoba menghampiri Myung Soo yang sedang berada di dalam dapur.

Pelan tetapi pasti Jiyeon mencoba masuk ke dalam dapur rumah ini. Dan apa yang dia temukan? Hanya dapur kosong dengan pintu belakang yang terbuka lebar. Tanpa banyak berpikir Jiyeon langsung kembali ke ruang tamu dan betapa terkejutnya dia saat mendapati bahwa pintu utama rumah ini telah dikunci oleh Myung Soo. Apa maksudnya? Tiba-tiba mata Jiyeon membulat lebar saat dirinya menangkap sosok namja dengan topeng menyeramkan yang melekat pada wajahnya. Dan tangan kanannya! Tangan kanannya memegang sebuah kapak. Dan yang lebih mengejutkan lagi, namja bertopeng menyeramkan itu sedang berjalan menghampiri rumahnya! Jiyeon langsung teringat pada Seo Rim dan Boyoung yang sedang berada di dalam rumahnya saat ini. Spontan Jiyeon berlari kembali ke dapur dan keluar lewat pintu belakang menuju rumahnya.

Sosok pria bertopeng menyeramkan itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Nafas Jiyeon sudah tersengal-sengal, membuat bagian bawah hidungnya terasa panas. Degup jantungnya pun berdetak tidak karuan, memikirkan kedua saudaranya yang masih berada di dalam rumah. Dengan berani, Jiyeon mencoba berlari sekencang mungkin, masuk lewat pintu belakang rumahnya menuju dapur. Boyoung dan Je Hoon masih ada di dalam dapur, sedang mengobrol tanpa menunjukkan kekhawatiran sedikitpun.

“Jiyeon-ah?” Je Hoon terkejut melihat wajah tegang Jiyeon. “W-wae irae?”

“D-dimana namja itu?” tanya Jiyeon dengan suara bergetar. “N-namja bertopeng…menyeramkan, d-dengan kapak. Dimana?”

“Jiyeon-ah, wae irae?” tanya Boyoung tidak mengerti. “Kenapa wajahmu terlihat sangat menakutkan?”

“Kim M-Myung Soo? D-dimana dia? Dimana?” tanya Jiyeon masih dengan suara bergetar.

“Tenanglah, Jiyeon-ah,” ucap Boyoung seraya memegang kedua bahu Jiyeon. “Bukankah Myung Soo bersama denganmu dan Seo Rim?”

“Ani…ani…” jawab Jiyeon seraya menggeleng. “T-tadi…aku dan Myung Soo pergi ke rumahnya, untuk mematikan perapian. Tetapi ketika sampai disana, dia pergi…Myung Soo pergi entah kemana. Dan aku…aku melihat orang aneh, n-namja dengan topeng m-menyeramkan…memegang k-kapak di tangannya. Namja itu berjalan ke arah rumah ini!” jelas Jiyeon dengan wajah sangat panik.

Kepanikan pun menjalari tubuh Boyoung dan Je Hoon bersamaan dengan sebuah panah yang menembus kaca jendela dapur dengan sangat cepat, tepat menuju punggung Je Hoon. Darah pun mengucur dari punggungnya sementara Boyoung menjerit keras. Sedangkan Jiyeon terdiam dengan ekspresi terkejut.

“Je Hoon-ah!” teriak Boyoung seraya memapah Je Hoon yang mendadak limbung ke lantai.

Jiyeon semakin terkejut saat sosok namja bertopeng menyeramkan menunjukkan wujudnya di luar kaca jendela dapur beserta dengan busur di tangannya. Busur tersebut di buangnya ke tanah, berganti menjadi kapak tajam. Tanpa banyak berpikir, Jiyeon langsung menutup pintu dapur dan menguncinya, lalu berlari menuju ruang tamu untuk mengunci pintu depan. Si namja bertopeng menyeramkan pun ikut berlari menuju pintu depan yang kini sudah terkunci rapat. Dengan sangat menyeramkan, si namja mendekati wajahnya ke jendela dan menggoreskan sebuah tulisan dengan darah di kaca. “29 Februari.” Berikutnya terdengar suara dobrakan pintu berkali-kali dari arah luar, disusul hantaman kapak tepat pada daun pintu, menembus sampai ke dalam.

“PERGIIIIII!” teriak Jiyeon histeris sambil menutup kedua telinganya.

Suasana mendadak hening. Si namja bertopeng menyeramkan tiba-tiba menghilang. Degup jantungnya yang berdetak tidak wajar masih tersisa bersamaan dengan keringatnya yang mengalir begitu banyak di dahinya.

“S-Seo Rim…” Jiyeon baru teringat akan adiknya yang sedang menonton. Segeralah Jiyeon berlari menghampiri ruang keluarga tempat Seo Rim berada. Jiyeon terjatuh duduk dengan kedua mata terbelalak saat mendapati sang adik tengah terduduk kaku di depan televisi lengkap dengan kapak yang tertancap di atas kepalanya. “S-S-Seo Rim…” Kedua tubuh Jiyeon seutuhnya bergetar dan sulit untuk digerakkan lebih jauh lagi. Ketakutan yang Jiyeon rasakan nyatanya mampu mengalahkan perasaan sedih melihat nasib sang adik yang begitu mengenaskan.

Tak lama kemudian terdengar suara Boyoung memanggil namanya. Saat Boyoung datang ke ruang keluarga, hal yang serupa terjadi pada Boyoung. Kini keduanya terjatuh duduk dengan tatapan membelalak ke arah Seo Rim.

“A-andwae….” ucap Boyoung dengan bibir bergetar. “Air mata perlahan menetes jatuh ke pipinya. “ANDWAEEEEEE!” teriak Boyoung histeris.

To Be Continue

Fanfiction ini terinspirasi dari film Hollywood berjudul You’re Next, cerita tentang pembunuhan berantai yang berhasil bikin aku mules waktu nonton🙂 Ceritanya sukses aku melencengin jauh dari cerita aslinya. Kalau kalian mau lihat perbandingannya, bisa nonton disini. Mohon RCLnya ya guys dan tunggu last part (part dua/end).

 

108 responses to “[CHAPTER – PART 1 OF 2] 29 FEBRUARY

  1. ommo , udah pernah baca sih tp baca lagi .. sukses bikin tegang lagi , deg.degan baca nya …
    lupa maksud 29feb tu apa.. aku next yaa thor

  2. Wooaaaaaaahhhhhhhhhh………. Daebakkkk….!!!!!!!! ku rasa ini lebih seru dari kisah asli nya hehhe *padahal belum nonton film aslinya*
    habis yg main MyungYeon sihh jadi pasti seru hahha..
    Cuma berharap semoga bukan Myungsoo yg jadi penjahatnya😦
    btw adiknya je hoon belum keliatan? apa mungkin……… dia penjahatnya? woaah dari pada penasaran pengen buru2 baca chapter berikutnya^^ Kak Ica daebaakk^^

  3. Ommo apa bnerr myungsoo namja bertopeng itu ,, huaa aku ga percaya,,, pliiss jgn myungsoo donk yg jadi jahat’y di sinii,,,

    Next penasaran bggt,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s