[CHAPTER – PART 2] 15:40:45 – School Club

myung-ji-154045-1

15:40:45

School Club

written by asyfantastic

T-ara’s Jiyeon – Infinite’s L – EXO’s Sehun – SHINee’s Minho || and other minor cast || Romance Friendship School Life || Chapter

Poster here | Previous here

-oOo-

Bel tanda pulang sekolah baru saja berbunyi beberapa waktu yang lalu, seluruh siswa bergegas keluar dan menyibukkan diri dengan urusannya masing-masing. Tidak ada yang langsung pulang sore ini, karena hari ini adalah hari pembukaan klub sekolah untuk tahun ini dan seluruh klub akan berkumpul dengan anggotanya masing-masing.

Begitu pula dengan Minho, ketua klub sepakbola yang masih bertahan sejak tahun lalu. Kemampuan permainannya tidak usah diragukan lagi, sudah banyak pertandingan yang ia taklukkan.

“Hai..” Sapa Minho, “Perkenalkan namaku Choi Minho, yang masih menjabat sebagai ketua klub sepakbola.”

“Melihat dari hasil tes kemarin, aku merasa cukup senang bisa menerima kalian semua sebagai anggota klub kami yang baru. Aku harap kalian membawa pengaruh yang lebih baik pada klub sepakbola, dan aku akan lebih senang lagi jika kalian bisa ikut mengharumkan nama sekolah.” Lanjut Minho.

Klub sepakbola menjadi satu klub yang banyak diminanti, jadi tak heran jika anggota yang diterima tahun ini lebih banyak dari tahun kemarin.

“Seperti yang kalian ketahui, sekitar dua atau tiga bulan lagi pertandingan persahabatan antar sekolah akan diadakan, dan nama sekolah kita sudah tercatat disana. Masih belum ditentukan siapa saja yang akan ikut, bukan aku atau kalian yang akan menentukan tetapi Mr. Kang, pelatih kita dalam klub ini. Aku harap kalian bisa bersungguh-sungguh mengikuti klub sepakbola ini. Kurasa aku sudah terlalu banyak bicara di depan kalian, jadi sekian dan terimakasih.”

Sambutan panjang yang diutarakan oleh Minho diakhiri dengan tepukan tangan siswa yang duduk berbaris di depannnya. Minho terlihat berwibawa saat berada di depan, tak salah jika dia menjadi ketua dari klub sepakbola selama dua tahun berturut-turut.

Pemanasan adalah hal wajib yang selalu dilakukan sebelum memulai latihan hari ini. Seluruh anggota klub sudah berbaris rapi bersiap untuk berlari kecil memutari lapangan. Sehun yang juga menjadi anggota klub sepabola terlihat asyik berbicara dengan Jeongmin selagi melakukan pemanasan, dan tanpa ia sadari jika dari belakang sang ketua klub sudah menyusul dari kini berada disampingnya.

“Hei, Sehun-ah, sudah lama tak berjumpa.” Sapa Minho tersenyum.

Sehun yang tiba-tiba menghentikan pembicaraannya dengan Jeongmin menoleh, “Ternyata kau hyung, ah maksudku sunbae, annyeonghaseyo..”

“Tak usah seformal itu.” Minho menepuk bahu Sehun, “Semua juga tahu bahwa kau dan aku sudah saling kenal sebelumnya, dan mungkin mereka akan menganggapmu anggota istimewa yang aku pilih secara langsung tanpa harus melakukan tes kemampuan.”

“Jadi aku terpilih bukan karena kemampuanku, tapi karena aku sudah mengenalmu lebih dulu dari mereka, begitu?” Tanya Sehun menggoda, “Baiklah aku akan segera keluar dari klub ini.”

“Hei jangan marah, aku hanya bercanda, aku memilihmu karena aku sudah mengetahui kwalitas permainanmu seperti apa.” Balas Minho sambil tertawa.

“Aku mengerti, aku juga bercanda tadi..”

Tak ada lagi pembicaraan diantara mereka, tak ada lagi yang memulai untuk membuka percakapan lagi. Kang songsaenim meniup peluitnya ketika para anak asuhnya sudah cukup melakukan pemanasan.

Pembagian tim sudah dibagi dan latihan yang sebenarnya akan segera dimulai. Para pemain sudah siap dengan posisi masing-masing. Bola masih berada ditangan Kang songsaenim, dan Sehun juga Minho –yang sudah ditunjuk sebagai kapten tim– berada diantara siap merebut bola yang sebentar lagi akan dijatuhkan.

Pelemparan koin sudah menjadi tradisi untuk menentukan tim mana yang akan mendapat bola terlebih dahulu, dan hari keberuntungan untuk Sehun karena gambar yang ia pilih menghadap ke arah atas.

Sekali lagi buyi peluit terdengan panjang dan menandakan bahwa pertandingan telah dimulai. Permainan dari masing-masing anggota terlihat sangat baik dengan segala giringan dan tendangan yang mereka lakukan. Walalupun mereka semua baru saja berkumpul hari ini, kerja sama diantara masing-masing pemain sudah bisa dikatakan cukup baik.

“Permainanmu semakin baik semenjak terakhir aku bertanding bersamamu.” Ucap Minho menghampiri Sehun yang sedang minum di bangku pinggir lapangan.

Sehun menghabiskan tegukan terakhirnya sebelum menjawab, “Kau kira aku tak pernah berlatih, selama ini aku terus berlatih agar kemampuanku bisa sepadan dengan kau, hyung.”

“Aku rasa kau akan lebih unggul dariku beberapa tahun kedepan, aku yakin kau akan menjadi pemain hebat kedepannya.” Balas Minho lagi seraya mengambil botol minum dari tangan Sehun, “Boleh kuminta?”

Sehun hanya menganggukkan kepalanya, “Kau juga pasti akan menjadi pemain hebat, hyung.”

“Untuk menjadi pemain hebat, pemain profesional seperti dirimulah yang diperlukan.”

Sehun mengerutkan dahinya bingung, “Apa maksudmu, hyung? Aku tak ada masalah sama sekali, pertandingan tadi menyenangkan, bahkan aku tak terluka sama sekali.”

“Oh jadi masalahmu dengan kekasihmu itu bukan suatu masalah?” Ucap Minho lagi sambil tersenyum, “Aku tak tahu berita itu benar atau tidak, tapi seperti itulah yang aku dengar.”

“Ya ampun, aku merasa terkenal sekarang, belum lama aku berada disekolah ini dan gosip tentang diriku sudah menyebar bahkan sampai telinga para senior.”

Minho hanya membalasnya dengan tawa, “Karena kau adalah anggota klub sepakbola yang terbaik, lagipula siapa yang tidak mengenal Park Jiyeon, perlu kau tahu bawa kekasihmu itu begitu mengagumkan.”

“Suaranya yang dimilikinya memang begitu khas, bahkan ditahun pertamanya ia sudah tampil pada pentas sekolah dan mengikuti cukup banyak lomba.” Minho masih melanjutkan pendapatnya tentang Jiyeon.

“Aku rasa kekasihmu itu telah banyak berubah sejak terakhir aku melihatnya dulu.”

Sehun hanya diam memperhatikan Minho tanpa berniat untuk menghentikan atau menjawabnya, seakan mempersilahkan Minho untuk terus bercerita tantang kekasihnya, tanpa merasa aneh atau ada sesuatu yang janggal.

“Kau memang benar-benar beruntung memilikinya.” Minho terlihat sudah mengakhiri ceritanya kali ini, “Jadi mungkin kau bisa ceritakan apa masalahmu yang sebenarnya dengan Jiyeon..”

Sehun hanya menghela nafas panjangnya, “Aku juga tak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi, aku rasa dia berubah.”

“Dia selalu menghindar dariku, seakan tak ingin menemuiku sama sekali, bahkan seluruh pesan yang kukirim padanya hanya dibalas singkat, dan jika aku menghubunginya selalu saja ia mengatakan jika tugasnya menumpuk dan menutupnya dengan cepat. Ketika aku tanyakan langsung padanya apa yang salah, ia hanya diam dan menggelengkan kepalanya.”

Seperti yang dilakukan Sehun padanya tadi, kini Minho hanya mengangguk diam saat Sehun masih sibuk bercerita.

“Ah maaf, aku jadi merasa tak enak menceritakan semuanya padamu, hyung..”

Minho memukul pelan lengan Sehun, “Sudah kukatakan jangan bersikap terlalu kaku didepanku, seperti baru mengenalku saja.”

“Jadi apa dengan kata lain, kau terancam putus dengannya?”

Sehun hanya mengendikkan bahu sambil tertunduk, “Entahlah..”

Minho tak berniat menambahi pertanyaan lagi pada Sehun, ia pikir keadaan Sehun sudah mulai memburuk. Minho hanya memandang kedepan dan tersenyum dalam diam.

-O-

Rencana Myungsoo untuk langsung pulang sore ini gagal, karena sebelum ia sempat bangun dari tempat duduknya, Jimin sudah berteriak memanggilnya dari kelas sebelah memberitahunya bahwa Miss Ahn memanggilnya.

Sebenarnya ia bisa saja langsung pulang tanpa mempedulikan panggilan itu, tapi siapa yang berani menentang guru paling galak di Anyang High School dan Myungsoo tak ingin menambah masalahnya lagi, jika diingat-ingat lagi dua hari yang lalu ia baru saja menerima hukuman karena terlambat masuk sekolah dengan seragam yang dipakai seadanya.

Setelah ia selesai memasukkan semua barang miliknya yang kebanyakan bukan buku pelajaran, ia langsung menuju ruang guru dan memenuhi panggilan yang baru disampaikan oleh Jimin.

“Kim Myungsoo cepat masuk..” Ucap Miss Ahn setelah ia melihat Myungsoo berdiri di depan pintu mencarinya, “Kau kira sedang dimana sekarang, ini masih area sekolah walalupun sudah waktu pulang, cepat rapikan seragammu!”

Myungsoo memperrhatikan penampilannya dari ujung kaki sampai kepalanya, dan memang penampilannya jauh dari kata rapi. Tali sepatu yang tidak terikat, celana yang entah bagaimana bisa terlipat sebelah, kemeja yang sebagian sudah keluar, jas yang hanya dilampirkan di atas bahu, dan dasi yang bahkan lebih pantas disebut sebagai kain yang terikat mati.

Dengan wajah malasnya Myungsoo mencoba untuk menuruti perintah dari Miss Ahn, merapikan seragamnya dengan asal-asalan. Miss Ahn hanya menggelengkan kepalanya, walaupun seragam siswanya itu masih belum sepenuhnya rapi, setidaknya lebih baik dari sebelumnya.

“Kau tahu mengapa aku memanggilmu untuk yang kesekian kalinya, Kim Myungsoo?” Tanya Miss Ahn.

Myungsoo hanya mengendikkan bahunya terlihat malas, “Aku tidak terlambat hari ini, aku tidak mencoba membolos pelajaran, bahkan aku tidak membuat keributan hari ini. Aku rasa aku tak membuat kesalahan sama sekali.”

Miss Ahn hanya menghela nafasnya panjang mencoba sabar menghadapi siswanya, “Ini bukan kesalahanmu hari ini atau kemarin, tetapi tentang nilaimu.”

“Aku sudah memperbaiki semua nilainya dengan mengikuti remidi, Miss. Apalagi yang kurang?” Jawab Myungsoo membalas.

“Jika aku bertanya padamu, apa klub yang kau ikuti setahun lalu?” Tanya Miss Ahn cepat.

Myungsoo tahu sekarang apa alasan ia dipanggil hari ini. Ia sudah tahu sebelumnya, cepat atau lambat ia pasti akan dipanggil karena hal ini, karena kegiatan bodoh yang menurutnya hanya membuang waktu.

“Kau sudah tahu apa alasanku memanggilmu sekarang?” Tanya Miss Ahn lagi, “Jadi klub apa yang akan kau ikuti tahun ini, kau tahu bukan, jika kegiatan ini penting untuk penilaian non-akademik..”

“Aku sarankan kau untuk cepat menentukan klub yang akan kau ikuti dan segera mengikuti kegiatannya. Itupun jika kau masih peduli dengan nilai dan nasibmu saat kenaikan kelas nanti, aku sama sekali tak memaksa.”

Myungsoo hanya mendengus kasar, tak mencoba untuk menjawab semua ucapannya lagi. Sebenarnya ia bukanlah siswa yang bodoh, hanya saja ia terlalu malas untuk mengikuti segala kegiatan yang menurutnya tak penting, bahkan tak sekali atau dua kali orang tuanya dipanggil hanya karena masalah ini.

“Hari ini semua klub sedang berkumpul untuk hari pertama mereka, kau boleh berkeliling untuk memilih.” Miss Ahn mempersilahkan Myungsoo untuk keluar dari ruangannya.

Walau kelihatannya Myungsoo sudah tidak memiliki keinginan untuk mengikuti segala kegiatan sekolah, tapi ia masih peduli dengan nilainya sendiri, dan tinggal kelas adalah hal yang paling ia hindari karena ia tahu jika hal itu terjadi, hidupnya akan berakhir di pedesaan bersama kakeknya, dan tak lama setelah itu pasti ia akan mati karena bosan, atau lebih parahnya lagi ia akan dinikahkan dengan gadis pilihan kakeknya karena beberapa tahun yang lalu kakeknya telah mengutarakan rencana gilanya itu.

Seketika Myungsoo merinding membayangkan semua itu dan dengan cepat ia menghilangkan segala pikiran buruknya. Berkeliling melihat segala kegiatan yang sedang berlangsung, dan ia tahu jika tak ada kegiatan yang benar-benar menarik untuk ia ikuti.

Klub jurnalistik, mimpi apa seorang Kim Myungsoo akan masuk kedalamnya, ia ingat ketika dirinya mencoba menciptakan sebuah karangan bebas pada saat sekolah dasar dulu dan berakhir dengan tawa keras dari seluruh teman sekelasnya, dan mulai saat itu Myungsoo berjanji tak akan pernah membuatnya lagi.

Klub tari, ya ampun bahkan hal itu lebih buruk lagi daripada ditertawakan hingga malu di depan kelas. Kim Myungsoo yang menjabat sebagai ketua gang mengikuti klub tari, oh ia mungkin sudah mulai gila jika hal itu benar terjadi.

STUDIO MUSIK. Tulisan itu terpampang besar di depan sebuah ruangan belakang kantin. Myungsoo merasa mendapatkan pencerahan saat ini, mengikuti klub musik mungkin bukanlah pilihan yang buruk, mengingat ia pernah mendapatkan nilai tertinggi untuk mata pelajaran seni musik.

Myungsoo sangat menyukai sebuah alat musik pukul yang biasa disebuat drum, ia begitu mengagumi alat musik ini sejak kecil hingga sekarang. Saat pertama kalinya ia melihat bagaimana cara Buddy Rich memukul drum itu dengan stick-nya, menurutnya itu sangat hebat dan ia ingin sepertinya, menjadi drummer legendaris dunia.

Melangkah mendatangi Miss Noh –pelatih klub musik– tanpa rasa sungkan atau setidaknya sedikit menunjukkan kesopanan di depan, “Permisi, aku ingin meminta ijin jika mulai saat ini aku akan ikut dalam klub ini.”

Kumpulan yang semula ramai dengan sahutan dari anggotanya mendadak sepi, semua mata tertuju pada lelaki dengan seragam acak-acakan yang baru saja datang dan menginterupsi semuanya.

“Oh kau Kim Myungsoo..” Ucap Miss Noh memecah keheningan, “Mengapa baru datang sekarang? Bukankah hari pendaftarannya sudah lewat beberapa hari lalu?”

“Maaf, aku kira aku tak perlu mengikuti kegiatan seperti ini tapi ternyata keadaannya memaksa, jadi aku baru datang sekarang.” Jawab Myungsoo ringan.

Senakal apapun seorang siswa, tak ada yang pernah melebihi Myungsoo. Tidak dia bukan nakal dalam artian memakai obat terlarang atau mencuri barang yang bukan miliknya, keluarganya masih berkecukupan dan ia masih sadar akan bahaya dari bubuk putih itu.

Tetapi hanya seorang Kim Myungsoo yang tak pernah takut berbicara di depan orang lain, bahkan jika itu adalah gurunya sendiri. Benar atau salah ia akan tetap mengucapkannya dengan percaya diri.

Miss Noh yang juga menjabat sebagai guru seni, sudah mengetahui dengan pasti jika Myungsoo akan mengikuti klub yang dibinanya, karena ia sendirilah yang memberikan nilai tinggi kepada Myungsoo dalam mata pelajaran seni. Ia tahu jika Myungsoo berbakat dalam bidang seni, kemampuannya bisa dikatakan luar biasa dibandingkan dengan siswa lain.

“Baiklah tapi sebelum itu coba kau perlihatkan kemampuanmu, sebelum aku bisa memastikan pantas tidaknya kau masuk kedalam klub ini.”

Tidak mau membuang banyak waktu, Myungsoo langsung meletakkan tasnya asal di pinggir studio dan berjalan menuju drum yang terletak di ujung.

Bermain drum adalah salah satu kegemarannya, tampil di depan anggota yang lain seperti ini bukanlah pekerjaan berat untuknya. Perlahan nadanya mulai terdengar, lagu yang dibawakan Myungsoo bena-benar hebat, bahkan terdengar lebih bagus daripada aslinya.

Sedetik setelah ia menyelesaikannya, tepuk tangan yang sangat kencang menyambutnya, dan Myungsoo hanya tersenyum tipis sambil melihat kearah Miss Noh.

Miss Noh menyuruhnya tampil di depan anggota lain bukan karena ia tak percaya dengan kemampuan Myungsoo, hanya saja ia ingin mengukur seberapa besar niat Myungsoo untuk mengikuti klub yang dibinanya, karena ia tahu bagaimana sifat dan sikap Myungsoo.

“Permainanmu bagus, dan mulai sekarang kau bisa mengikuti klub musik.”

“Ah satu lagi..” Lanjut Miss Noh, “Isi data ini dan segera serahkan pada Jiyeon.”

-O-

“Bagaimana dengan klubmu kemarin?”

“Berjalan dengan sangat baik dan menyenangkan.” Jawab Soojung tersenyum.

“Tidak bersedih harus berpisah dengan pujaan hatimu?” Tanya Yooyoung menggoda dan hanya dibalas pukulan pelan pada lengannya.

“Hei kalian tahu tidak, kemarin ada siswa yang baru masuk kedalam klub musik.” Sahut Jiyeon, “Tidak ada rasa malu atau sungkan, aku rasa dia tidak memiliki sopan santun, tapi kemampuannya memang tidak bisa diremehkan.”

“Siapa?” Tanya keempat gadis –Yooyoung Bomi Hayoung Soojung– itu serempak.

Jiyeon terlihat berpikir sejank mengingat sesuatu, “Kim Moo­­– bukan bukan Mi– ah aku ingat, Miss Noh memanggilnya Myungsoo.”

“Kim Myungsoo maksudmu?” Tanya Bomi meyakinkan.

Jiyeon hanya menganggukkan kepalnya sambil menatap Bomi seakan bertanya –kau-mengenalnya–

“Lelaki itu juga satu kelas conver pagi denganku, aku baru mengetahui namanya dari Minah kemarin, dan dia benar-benar lelaki yang tidak sopan, bagaimana bisa ia meminjam buku milikku bahkan tanpa mengucapkan terimakasih.”

Bomi masih melanjutkan ceritanya, “Sudah datang terlambat dan dia malah tidur seenaknya disaat guru sedang menjelaskan materi.”

“Lelaki yang cukup menarik..” Ucap Jiyeon pelan.

Keempat sahabatnya hanya menatap Jiyeon bingung, “Menarik katamu? Lelaki itu bahkan lebih menakutkan dari pada duduk bersebelahan dengan Ji-Gyeong.”

“Hei Jiyeon-ah, jangan katakan jika kau merubah seleramu dari lelaki baik hati seperti Sehun menjadi lelaki seperti Myungsoo.”

-To be Continue-

Note :

Hai! Aku datang lagi bawa part 2nya

Ah iya sekedar informasi aja sih kalo disini ceritanya itu Sehun kls 1, Jiyeon dan Myungsoo kls 2, Minho kls 3. Nggak penting banget sih, cuma ya biar kalian nggak bingung aja ._.

Comment please yes! Sarannya juga boleh kok~

114 responses to “[CHAPTER – PART 2] 15:40:45 – School Club

  1. tuh kan minho suka am jiyi trus kek nya maudeketin jiyi , tapi sayang jiyi nye tertarik am myung yeh , emh menarikkk nie cerita .
    qta liat siapa yang bakal memenang kan hati jiyi !!!

  2. apa munho suka sama jiyeon,kenapa pas sehun cerita hubungan mereka yg renggang minho malah tersenyum

  3. Omo ternyata Sehun berondong.. Wkwkwk.. Sudah..JiYeon sama MyungSoo aja.. Biar Sehun sama akyu.. #plak.. FFnya keren banget Thor, izin baca next chapternya ya..
    Annyeong..😀

  4. Huaa daebakk jiyeon trnyata trtarik sma myungsoo,, hehe aku suka cz aku salah satu myungyeon shipper,,, hehe moga mreka d ff ini brsatu nee,,
    Net read

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s