[FICLET] Kamu

url

Author : Park Haera (Haerassi) // blacksphinx

Cast : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Jung Eunji

Genre : Friendship, lil bit romance

Length : Ficlet

Rating : T

All Author’s pov

“Jiyeon-ah, aku sudah berada di depan gerbang rumahmu. Cepatlah keluar! Atau aku tinggal.”

Seorang namja tersenyum sambil menekan tombol ‘send’ pada layar ponselnya. Ia kemudian memasukkan ponsel yang ia pegang dan memandangi pintu rumah yang masih setia dalam keadaan tertutup.

Tak perlu waktu lama, pintu itu terbuka. Menampilkan sosok yeoja berseragam dengan rambut sebahu. Ia berjalan mendekati seorang namja dengan langkah ringan.

Yeoja itu tersenyum sekilas pada namja di depannya dan melangkah mendahului namja itu.

Namja itu mendengus dan berjalan di belakang yeoja itu. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam kedua saku celananya dan kedua bola mata yang ia memiliki menatap yeoja itu dari belakang.

“Bisakah kau berjalan di sebelahku?”

“Shireo! Kau kan yang meninggalkanku,” jawab namja itu dengan nada ketus yang ia buat.

Yeoja itu membalikkan badan dengan tiba-tiba. Namja itu sedikit terkeget.

“Myungsoo-ya, kau menyebalkan.”

Jiyeon berbalik dan melangkah dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal.

Myungsoo sedikit terkekeh, ia mempercepat langkahnya dan merangkul Jiyeon, “Jika aku menyebalkan, kenapa kau mau menjadi sahabatku?”

Jiyeon menoleh, “Karena kau pandai memasak. Yah, setidaknya ada yang memasakkan makanan untukku dan aku tidak akan kelaparan.”

Myungsoo menyengir mendengar jawaban sahabatnya, ia menoleh dan menemukan sosok Eunji yang berjalan di trotoar seberang jalan, “YA!! EUNJI-YA!!”

Eunji menolehkan kepalanya, ia kemudian menyeberang dan bergabung dengan Jiyeon dan Myungsoo.

“Kau sudah sarapan?” tanya Myungsoo pada Eunji.

Eunji menoleh dan tersenyum, “Sudah, wae?”

“Ani, hanya bertanya. Aku tidak mau kau jatuh sakit,” jawabnya sambil tersenyum. Jiyeon yang melihatnya hanya menyengir kecil, sok perhatian.

“Eo, aku duluan. Annyeong!” Eunji melangkah mendahului Jiyeon dan Myungsoo.

Kini, tinggal mereka berdua. Keduanya sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing sampai tiba di depan gerbang sekolah.

Ada apa dengan namja ini, tidak biasanya dia diam. Dan tadi, aish, apa yang kau pikirkan Jiyeon-ah. Sadarlah, Myungsoo tidak meyukaimu, dia hanya menganggapmu sebagai sahabat.

Jiyeon beberapa kali melirik ke arah Myungsoo yang berjalan dengan santai.

“Wae? Jangan menatapku seperti itu. Aku melihatnya.”

Jiyeon langsung mengalihkan wajah, “Jangan salah paham, aku hanya bingung. Tidak biasanya kau diam.”

“Semuanya bisa berubah Jiyeon-ah. Yasudah, aku duluan,” jelas Myungsoo singkat, kemudian ia melangkah mendahului Jiyeon.

Semuanya bisa berubah? Apa itu berarti, perasaanmu terhadap Eunji berubah?

Jiyeon sebenarnya telah sampai di depan kelasnya. Namun ia tak kunjung memasuki kelas itu. Tubuhnya masih berdiri dengan mata yang menatap pintu kelas.

Selang beberapa menit, Jiyeon menarik nafas. Kakinya melangkah memasuki kelas. Ekspresinya yang tadinya telah datar bertambah datar setelah melihat pemandangan yang tidak ingin ia lihat.

“Neo!! Jinjja!! Kau melakukannya?”

“Mworago? Aku tidak melakukannya.”

Mulut Jiyeon mengatup melihat Myungsoo dan Eunji yang sedang bercanda. Entahlah, mungkin ia dilanda rasa cemburu.

Kau menyukainya Myungsoo-ya.

Kini, ada satu hal yang bisa Jiyeon simpulkan, Myungsoo mencintai Eunji dan mungkin Eunji juga. Bahkan, ia belum pernah melihat Myungsoo tertawa lepas seperti itu selama dekat dengannya. Ia malah sering mendapatkan ekspresi ketus Myungsoo.

-sepulang sekolah-

Mereka –Jiyeon dan Myungsoo- berjalan beriringan-seperti biasanya-. Namun, kali ini tidak ada satupun atau mungkin memang tidak ada topik yang bisa mereka bicarakan. Jiyeon mendengus pelan.

“Wae?”

“Eobseo,” jawab Jiyeon singkat.

“Aku tahu, ada sesuatu yang kau sembunyikan. Mau berbagi denganku?”

Jiyeon sebenarnya agak ragu untuk menceritakan hal ini pada Myungsoo, terlebih, sesuatu yang mengganjal hatinya itu ada hubungannya dengan Myungsoo.

“Myungsoo-ya, kau sahabatku, kan?”

Myungsoo mengerutkan kening mendengar ucapan Jiyeon. Ia berpikir sejenak lalu mengangguk, “Keunde?”

“Apa kau pernah merasakan jatuh cinta?” tanya Jiyeon to the point.

“Eum, mungkin. Wae?”

“Kau menyukai seseorang?”

“Ne, wae? Aku akan menyatakan perasaanku padanya malam ini. Kau harus membantuku.”

JDERR!!

Perasaan Jiyeon seketika hancur berkeping-keping. Ia kemudian tersenyum kecut, “O, baguslah.”

Ternyata benar, dia menyukai Eunji. Aish, kenapa aku menyukainya? Jinjja!!

“Jiyeon-ah, sudah sampai.”

Jiyeon menghentikan langkahnya, kemudian ia menoleh ke arah Myungsoo.

“Nanti malam, pastikan handphone mu menyala. Aku membutuhkanmu untuk memberikan clue padaku. Arra?”
Jiyeon mengangguk lemas dan membuka gerbang rumahnya.

-SKIP-

Apa yang akan dilakukan namja itu pada Eunji?

Jiyeon terduduk di ranjang dan membayangkan momen saat Myungsoo menyatakan perasaannya pada Eunji.

Momen #1

Myungsoo berjalan mendekat ke arah Eunji yang sedang terduduk sendirian di taman. Kemudian ia menutup kedua mata Eunji sambil membawa setangkai mawar.

“Nuguya? Myungsoo?”

Tidak ada jawaban. Tangan Eunji melepas paksa tangan Myungsoo dan berbalik, “Eo!! Neo!!”

Myungsoo tersenyum lembut, kemudian ia berlutut di depan Eunji dan menyerahkan setangkai mawar itu.

“Eunji-ya! saranghae!”

“Aish!! Itu terlalu pasaran!!” gumam Jiyeon. Otaknya kemudian memproses sebuah momen lain.

Momen #2

Myungsoo dan Eunji berjalan bersama menyusuri trotoar di pinggir Sungai Han. Kemudian mereka berdua terduduk dan memandang indahnya pemandangan dari tempat itu.

“Eunji-ya?”

“Hm?” Eunji menoleh dengan senyum yang masih mengembang.

“Do I like you?” ucap Myungsoo tanpa menoleh ke arah Eunji.

“Mwo?”

“Coba kau lihat ke arah sana.” Myungsoo menunjuk ke arah dimana tulisan itu berasal. Eunji mengikuti arah dimana jari Myungsoo menunjuk, “Do I like you?”

Myungsoo tersenyum manis, “Ne, saranghae Eunji-ya.”

Kemudian mereka bertatapan. Sampai Myungsoo menghapus jarak antara keduanya.

“Aish!! apa yang kupikirkan!! Jinjja!!! bahkan dia terlihat mengerikan jika bersikap seromantis itu.”

Jiyeon mendengus pelan dan menyadari bahwa ada sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Keningnya berkerut dan membuka pesan itu.

“Jiyeon-ah, aku sedang dalam perjalanan menuju rumah yeoja itu. Apa kau ada usul? Sebaiknya aku membawakan apa untuknya?”

“YA!! disaat perasaanku hancur seperti ini, kau mengirimiku sms seperti ini. Nappeun chingu,” gerutu Jiyeon kesal, kamudian tangannya mengetikkan sesuatu.

To : Myungsoo
Kau bisa membawakan boneka atau bunga.

“Dia benar-benar melakukan niatnya. Aigoo, aku harap persediaan tisu ku masih banyak.”

Tak lama, ponsel itu kembali bergetar – menandakan ada sebuah pesan masuk-

“Itu terlalu biasa.”

“Jinjja!! Memangnya dia mau yang bagaimana?” Tangan Jiyeon mengetik satu persatu huruf dengan setengah hati.

To : Myungsoo
Memangnya gadis yang kau incar seperti apa? Kau sahabatku, bukan? Kau tidak perlu sungkan untuk memberitahuku.

From : Myungsoo
Tunggu, aku akan menelponnya. Apa itu langkah yang baik?

To : Myungsoo
Ne, mungkin dia akan senang.

Lama Jiyeon tidak mendapatkan balasan dari Myungsoo. Harapannya seketika hancur. Ia memandang hadphonenya lemah, pasti dia sedang menelpon yeojanya dan menyatakan perasaannya. Beruntungnya yeoja itu.

Jiyeon mendengus pasrah dan meletakkan ponselnya di atas meja. Ia menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.

Drrtt.. drrttt…

Kening Jiyeon berkerut, dengan secepat kilat, tangannya menyambar ponsel yang tergeletak dan melihat siapa yang menelpon.

“Myungsoo? Jinjja!! Dia pasti akan memberitahukan kalau dia mendapat yeojachingu. Apa yang harus kulakukan?”
Jiyeon menarik nafas dan menekan tombol hijau.

“Yeobos-“

“Saranghae Jiyeon-ah.”

Jiyeon terdiam, “Mwo? Neo—ya!! yeoboseo?” Apa yang namja ini lakukan?

Drrttt.. Drtt…

Jiyeon melihat siapa yang menelponnya, Kim Myungsoo. Tangan Jiyeon tergerak untuk menekan tombol hijau di layar ponselnya.

“Aku sudah menyatakan perasaanku padanya. Bagaimana menurutmu?”

“M-mwo?” jadi, yeoja itu.. aku?

“Jiyeon-ah, keluarlah dari rumahmu. Kakiku pegal sedari tadi terus berdiri disini. Kau tidak merasa kasihan?”

Dengan secapat kilat, Jiyeon membuka tirai jendela kamarnya dan menemukan Myungsoo yang sedang menatap jendela kamar Jiyeon -tepatnya ke arah Jiyeon-

“Apa yang kau lakukan disitu?” ujar Jiyeon dari telepon sambil menatap ke arah Myungsoo bingung.

“Apa tidak boleh? Terserahku. Ya!! Palli!!”

Jiyeon langsung mematikan ponselnya dan menyambar sebuah mantel. Tak lupa, ia juga mengenakan sepatu cats miliknya.

Myungsoo tersenyum melihat Jiyeon yang berjalan mendekat.

“Bagaimana menurutmu? Apa yeoja itu akan menerimaku?” Jiyeon berdecak mendegar ucapan Myungsoo, namun kemudian dia tersenyum.

Jiyeon berjalan mendekat, lalu ia berdiri di samping Myungsoo.

“Menurutmu? Apa dia akan menerimamu?” ucap Jiyeon kemudian berjalan mendahului Myungsoo. Myungsoo yang melihatnya, akhirnya melangkah dengan langkah agak lebar tentunya.

“Wae? Apa kau menolakku?” ucapnya setelah berhasil mensejajarkan tubuhnya dengan Jiyeon.

“Bagaimana dengan Eunji? Sepertinya dia menyukaimu.”

Myungsoo tersenyum, “Kau cemburu?”

“Ya!! mana mungkin aku cemburu. Memangnya kau pantas dicemburui?” jawab Jiyeon ketus.

“Jinjja? Aku tidak pernah menyangka jika aktingku dengannya berhasil.”

“Akting?” Myungsoo mengangguk.

“Ne, aku yang menyuruhnya datang pagi-pagi saat kita berangkat sekolah. Semua sekenario dari tadi pagi aku yang mensetting. Wae? Kau tidak percaya?” ucapnya kemudian. Jiyeon hanya melongo mendengar ucapan Myungsoo.

“Jadi? Apakah kau menerimaku?”

Jiyeon tersenyum. Lalu dengan secepat kilat, ia mencium pipi sebelah kiri Myungsoo. Myungsoo terdiam –kaget dan tidak percaya- dengan apa yang Jiyeon lakukan.

“Aku menerimamu. Nado saranghae Myungsoo-ya!!!” ucap Jiyeon sedikit berlari menjauh dari Myungsoo.
Myungsoo tersenyum manis dan berlari mengejar Jiyeon.

Aku pernah mengatakan bahwa semuanya bisa berubah, bukan? Tentu, seperti perasaanku pada Jiyeon. Entah, perasaan itu muncul sejak kapan. Namun, aku bukan namja bodoh yang tidak menyadari perasaanku sendiri. – Kim Myungsoo

Persahabatan itu lebih penting dari apapun, namun, ceritanya akan menjadi lain jika kau menyukai sahabatmu sendiri. Entah dia tahu atau tidak. Terkadang, seorang sahabat memang menyebalkan, namun, dengan cara itulah ia menunjukkan rasa sayangnya padamu. – Park Jiyeon

END
.
.
.

Hai~ hai~ hai~ /reader: ff chapter belum selesai juga.. eh, udah nulis ff baru. Ceritanya ancur lagi./
Hehe, iya nih, gatau, moodku selalu berubah-ubah sesuai musim, seringnya musim gersang sih /reader: emang ada -__-/
Maaf kalau banyak typo, aku belum ngecek ulang soalnya *nyengir kuda dan judulnya pasaran banget -_-
Thanks for read and don’t forget to leave a comment^^

61 responses to “[FICLET] Kamu

  1. ternyata si myung sukanya sama jiyeon,aku pikir sad ending trnyata ngk.ceritanya bagus.myungyeon jjang

  2. Sahabat jadi cinta, smg ntar kalo putus ttp jadi sahabat ya, eh jangan sampe putus deh wlwk ditunggu myungyeon ff yg lain

  3. Myungyeon sweet banget,,,,dari sahabat jά̲̣̥ϑï cinta
    “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐ”̮‎​​

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s