[ONESHOOT] The Unsaid Words

The Unsaid Words v2 copy

 

The Unsaid Words

Author : salsabc
Rating : General
Length : Oneshoot
Genre : drama,romance, sad
Cast :
-Park Jiyeon T-ara
-Park Chanyeol EXO
-Others

Note : Sebelumnya aku mau minta maaf sama kak ica karena aku sudah sekian lama dari awal tahun kemarin hiatus lama dan saat aku liat new page untuk author hiatus namaku enggak ada. Maka dari itu berhubung akhirnya aku bisa balik setelah beberapa waktu bikin ff ini. Cerita ini asli hasil pikiranku sendiri. Satu lagi, cerita ini alurnya maju mundur jadi harap diperhatikan ya. Gomawo.

 

 

To me love is always ouch and always comes with pain

.

.

Secangkir kopi hangat perlahan mulai dingin terus dibiarkan oleh pemesan kopi itu. Pemesan cantik itu hanya sesekali menyesap kopi itu menikmati rasa manis dan agak pahit yang tercampur menjadi satu dalam mulutnya. Sensasi tersendiri baginya.

Suasana kafe yang tenang membuat Jiyeon tidak ingin beranjak dari kafe itu. Seharusnya ia sudah kembali ke apartemen sewaannya tetapi sesuatu seperti menahannya untuk pergi. Sesekali ia memperhatikan jalanan luar dari jendela kafe. Berdasarkan laporan cuaca hari ini diperkirakan akan turun salju. Di luar sana sudah pasti terasa dingin.

Drrrtt.. drrrtt..

Berkali-kali ponselnya bergetar. Ia menebak pasti banyak pesan masuk. Namun, ia enggan membacanya satu persatu. Jiyeon benar-benar sedang tidak ingin diganggu saat ini. Ia ingin menghabiskan waktu senggangnya dengan caranya sendiri. Yaitu duduk di kafe dan menikmati secangkir kopi.

“Park Jiyeon? Apa itu kau?” terdengar suara berat seseorang sepertinya memanggilnya.

Jiyeon mengalihkan pandangannya dari jendela dan sesaat kemudian ia mendapati seorang namja di depannya. Bagaikan takdir ia diharuskan bertemu dengannya kembali. Namja itu Park Chanyeol, namja yang pernah mengisi hatinya.

“Ne,” kata Jiyeon pelan.

“Apa kau lupa padaku? Ini aku, Park Chanyeol. Kita satu kelas sewaktu sekolah menengah atas,” kata namja itu, Chanyeol.

“Aku mengingatmu Chanyeol,” kata Jiyeon dingin.

Chanyeol tersenyum mendengar balasan Jiyeon mengingatnya. Senyuman Chanyeol ternyata tidak berubah, masih terasa indah dimata Jiyeon.

“Long time no see. Apa kabar? Semenjak kita lulus aku tidak pernah mendengar kabar tentangmu,” kata Chanyeol.

“Kau sepertinya banyak berubah. Kau tumbuh dewasa,” katanya lagi.

Jiyeon hanya tersenyum palsu mendengar kata-kata Chanyeol. Dalam hati ia mengiyakan kalau ia memang berubah. Semua masa lalunya membuatnya belajar agar ia lebih dewasa menghadapi semuanya. Ya, semua orang tidak berubah mereka hanya belajar dari pengalamannya menurutnya.

I don’t wanna meet new people,

though I don’t know why

I still hate you a lot

Our encounter was like destiny

“Semua orang memang tumbuh dewasa bukan? Kurasa kau juga tumbuh dewasa,” kata Jiyeon.

“Begitulah. Hmm, apa aku boleh duduk di depanmu. Semua meja sudah penuh,” kata Chanyeol.

“Tentu saja. Duduklah,” kata Jiyeon.

Suasana menjadi sedikit canggung kemudian. Tidak ada yang mulai membuka obrolan. Mereka hanya terdiam sambil menatap keluar dari jendela. Sampai beberapa saat berlalu akhirnya, Jiyeon membuka obrolan.

“Apa kau masih sering bermain basket di lapangan basket dekat taman?” tanya Jiyeon.

“Hmm, masih tetapi tidak sesering dulu. Bagaimana denganmu? Aku sudah tidak pernah melihatmu berlari mengelilingi taman,” kata Chanyeol.

“Aku sudah lama tidak berlari disana. Aku sibuk,” kata Jiyeon.

“Cih, sok sibuk,” sindir Chanyeol.

.

.

Setiap sore Jiyeon selalu menyempatkan dirinya untuk berlari mengelilingi taman. Jiyeon terus berlari hingga ia merasa lelah kemudian duduk dan meminum air minumnya. Namun, sepertinya keburuntungan tidak bergantung padanya saat ini. Air minumnya tumpah. Akhirnya dengan terpaksa ia pergi ke minimarket dekat lapangan basket.

Setelah mendapatkan air minum ia duduk di kursi panjang penonton yang ada di lapangan basket dan meminum air disana sambil melihat beberapa namja bermain basket. Seorang namja berbadan tinggi melihat Jiyeon dan kemudian memanggilnya.

“Kau yang disana. Tolong lemparkan botol minum berwarna biru yang ada di kursi!” teriak namja itu.

Awalnya ia kebingungan mencari botol minum milik namja itu tetapi tak lama kemudian ia berhasil menemukannya dan kemudian melemparnya pada namja itu.

“Gomawo!” teriak namja itu lagi.

Jiyeon hanya menganggukan kepalanya pada namja itu. Sebenarnya ia ingin melihat para namja itu bermain basket lebih lama namun, ia harus pulang karena matahari sepertinya akan tenggelam.

Keesokan harinya ia kembali melihat namja berbadan tinggi yang ia lihat di lapangan basket kemarin di sekolah. Rupanya namja itu siswa baru di sekolahnya. Namja itu ditempatkan sekelas dengannya.

“Annyeong. Park Chanyeol imnida. Senang bertemu dengan kalian dan aku mohon bantuannya,” kata namja itu yang bernama Chanyeol.

Kelas cukup gaduh saat mendengar suara berat Chanyeol memperkenalkan diri. Semua terlihat membicarakan Chanyeol, siswa baru itu. Begitu pula dengan Jiyeon, ia juga ikut membicarakan Chanyeol dengan teman-temannya di samping bangkunya.

Setelah Chanyeol duduk dan pelajaran dimulai kelas kembali tenang. Selama pelajaran berlangsung Jiyeon sesekali menoleh kebelakang untuk memperhatikan Chanyeol. Namja ini menarik, pikirnya.

“Hei, sepertinya aku pernah melihatmu,” kata Chanyeol pada Jiyeon saat istirahat.

“Mwo?”

“Aku namja yang kau lihat di lapangan basket kemarin sore,” kata Chanyeol.

“Yang mana?” kata Jiyeon pura-pura tidak tahu.

“Aku yang memintamu mengambilkan botol minumku,” jelas Chanyeol.

“Arraseo. Jadi itu kau,” kata Jiyeon sambil menganggukan kepalanya.

Chanyeol menarik bibirnya membentuk sebuah senyuman. Tanpa meminta izin untuk duduk tiba-tiba ia duduk disebelah Jiyeon yang sedang menikmati makanan. Spontan teman-teman Jiyeon termasuk Jiyeon terkejut dengan tingkah Chanyeol.

“Ah, senang bisa mengenalmu. Kau juga. Kau juga,” kata Chanyeol sambil tersenyum.

Setelah bercakap-cakap sebentar dengan Jiyeon, Chanyeol pun pergi untuk bergabung dengan teman-teman barunya.

After that day

we always

Stuck together like the Astro twins,

you were me and I was you

Jiyeon mulai mengenal Chanyeol lebih dekat ketika mereka sering satu kelompok saat mendapat tugas dari guru. Rupanya Chanyeol adalah namja periang, humoris. Banyak orang menyebutnya “Happy Virus” karena ia selalu terlihat senang dan bisa membuat orang senang hanya dengan melihat tingkahnya.

“Jiyeon-ah, dengarkan aku. Aku dan Sehun pernah sekali menemukan dompet Suho sunbae. Kau tahu? Saat itu terdapat banyak uang di dalam dompetnya. Sehun pun menyuruhku untuk mengambil uang Suho sunbae dan menyembunyikannya,” kata Chanyeol.

“Lalu?” tanya Jiyeon penasaran.

“Kami mendengar suara Suho sunbae tepat dibelakang kami. Ia berteriak keras ditelinga kami sambil menjewer telinga kami dan kemudian Sehun menjerit tidak jelas karena tidak tahan dengan suara Suho sunbae,” kata Chanyeol.

Chanyeol kemudian mencontohkan ekspresi marah Suho sunbae dan suara Sehun ketika berteriak tidak jelas. Jiyeon tertawa dengan puas melihat semua tingkah Chanyeol. Benar-benar terlihat lucu baginya.

“Aish, bisakah kalian tetap mengerjakan bagian kalian tanpa tertawa?” kata salah satu anggota kelompok mereka menegur.

Mereka saling berpandangan sesaat lalu tertawa kembali tidak menghiraukan mereka.

.

.

Another day passes by like this

My whole day was spent for you

Hari demi hari mereka kian menjadi teman dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Kini Jiyeon selalu menyempatkan diri untuk melihat Chanyeol bermain basket di lapangan basket selesai berlari mengelilingi taman. Terkadang, Jiyeon lebih memilih untuk duduk di bangku penonton memperhatikan Chanyeol bermain basket daripada berlari mengelilingi taman.

Perlahan tangannya bergerak mencari posisi yang pas untuk memotret namja itu bermain basket dari kejauhan. Klik. Ibu jari kanannya berhasil menekan tombol tengah ponselnya. Sekarang, ia berhasil mendapatkan foto Chanyeol. Ia terus memperhatikan foto Chanyeol sambil tersenyum hingga ia tidak menyadari seseorang duduk disampingnya.

“Kau sedang melihat foto siapa?”

“Woah! Park Chanyeol! Sedang apa kau duduk disini? Bukannya kau sedang bermain basket?” kata Jiyeon terkejut melihat Chanyeol sudah duduk disampingnya.

“Aku lelah. Istirahat dulu saja,” kata Chanyeol sambil meneguk air botol minumnya.

“Itu foto siapa yang kau lihat?” tanyanya kemudian.

“Eh? Fotoku tentunya,” kata Jiyeon berbohong.

“Narsis betul dirimu. Ya sudah, aku mau bermain basket lagi,” kata Chanyeol sambil beranjak dari bangku.

Yeoja itu menghela nafas lega karena Chanyeol tidak banyak tanya soal foto yang sedang dilihatnya. Hampir saja ia ketahuan sedang melihat foto Chanyeol yang ia ambil saat bermain basket.

.

.

“Jiyeon-ah, kau sekarang semakin dekat dengan Chanyeol. Apa kalian berpacaran?” kata Jieun.

“Aish, sudah kubilang kita hanya berteman. Hanya itu saja. Wae? Kau menyukainya?” kata Jiyeon santai.

“Aku kan sudah mempunyai namjachingu Jiyeon-ah, jangan bertanya seperti itu padaku,” kata Jieun kesal.

“Ah, apa kau tidak menyukainya?” kata Jieun lagi.

“Mollayo. Itu rahasia,” kata Jiyeon sambil tersenyum.

“Yak, kau menyebalkan,” teriak Jieun.

Jiyeon buru-buru menuju kafetaria meninggalkan Jieun sebelum sahabatnya itu melemparnya sepatu. Jiyeon yang kelaparan berjalan menuju kafetaria untuk memakan sesuatu disana. Sesuatu menahan kakinya untuk melangkah lebih jauh menuju kafetaria. Ia berhenti di depan ruang musik. Tiba-tiba dalam pikirannya terlintas untuk mengajak Chanyeol ke kafetaria bersamanya.

Namun, saat ia hendak membuka pintu ruang musik terdengar suara Chanyeol sedang mengobrol dengan seorang dengan akrab. Karena penasaran akhirnya Jiyeon mengintip agar tidak ketahuan Chanyeol. Ternyata Chanyeol sedang bercakap-cakap dalam telepon. Ia sedikit mendengar percakapan mereka dalam telepon. Jiyeon berkesimpulan kalau Chanyeol terlihat sangat dekat dengan orang yang berada dalam telepon itu.

Tidak ingin mengganggu kegiatan namja itu, Jiyeon memutuskan untuk ke kafetaria sendiri tanpanya. Saat ia hendak memakan bibimbap pesanannya tiba-tiba Chanyeol datang mengejutkannya. Beruntung, ia tidak tersedak.

“Kau rupanya disini. Mengapa tidak mengajakku?” kata Chanyeol.

“Aku tadi berniat untuk mengajakmu tapi di ruang musik aku melihat kau sedang bertelepon dengan serunya bersama seseorang. Ya sudah, aku kesini sendiri,” kata Jiyeon.

“Hmm, ia hanya teman satu sekolahku yang dulu. Ah, sebaiknya aku memesan bibimbap sepertimu,” kata Chanyeol.

.

.

“Hmm, apa kegiatanmu sekarang Chanyeol-ah?” tanya Jiyeon kemudian.

“Hanya mengerjakan berkas-berkas di kantor appaku. Ya, kau tahu aku akan diwariskan perusahaan itu jadi aku harus bekerja keras. Namun, sorenya aku berusaha menyempatkan diri untuk bermain basket,” kata Chanyeol.

“Kau tidak menghabiskan waktu santaimu bersama yeojachingumu?” kata Jiyeon.

“Yang mana? Saebyul? Yejin? Aku sudah putus lama,” kata Chanyeol santai.

“I see. Ah, maafkan aku sudah bertanya tentang privasimu,” gumam Jiyeon.

“Aku sedang tidak berpacaran saat ini. Ya, aku sibuk,” kata Chanyeol.

Jiyeon hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Ia merasa bersalah pada dirinya sendiri tetapi pikirannya mengatakan ia tidak perlu merasa bersalah atas hal itu. Sekarang ia bingung, haruskah ia senang? Ataukah sedih? Perasaannya itu tidak akan pernah hilang sepenuhnya dalam hatinya. Mendengar salah satu nama yeoja yang Chanyeol sebut membuatnya teringat sesuatu.

“Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sudah mempunyai namjachingu?” tanya Chanyeol.

“Aku tidak punya namjachingu Chanyeol-ah. Aku sama sibuk sepertimu,” kata Jiyeon sambil tersenyum

.

.

You came to me, into my heart,

as something more than a friend

Next to you, I hid my heart,

hiding behind the friend label

Hari ini Chanyeol mengajak Jiyeon menghabiskan waktu untuk mencoba semua wahana di Lotte World. Jiyeon tentu saja menerima ajakannya dengan senang hati. Hari itu Jiyeon berusaha berpenampilan serapi mungkin demi namja yang ia rasa sudah membuatnya jatuh hati.

Jiyeon menyadari kalau dirinya menyukai Chanyeol. Entah sejak kapan rasa itu muncul. Namun, ia benar-benar menyukai Chanyeol. Ia tidak pernah merasakan hal seperti itu pada namja lain selama ini. Sepertinya Chanyeol adalah cinta pertamanya.

Disana mereka menaiki satu persatu permainan yang ada. Mereka berteriak sesaat lalu tertawa disela mesin-mesin permainan bergerak. Mereka benar-benar menikmati kegiatan bermain mereka disana. Tidak ada yang memedulikan tingkah mereka yang seperti anak kecil. Sesekali mereka mengambil foto bersama untuk mengabadikan kesenangan mereka.

“Yak, Chanyeol-ah. Kajja, kita belum makan siang. Aku lapar,” kata Jiyeon.

Chanyeol terdiam tidak merespon Jiyeon. Sepertinya namja itu sedang memperhatikan seseorang.

“Hmm, kau memperhatikan apa?” kata Jiyeon penasaran.

Ia pun menggeser duduknya lebih dekat dengan Chanyeol dan mencoba mengedarkan pandangan mengikuti arah pandangan Chanyeol sambil mencari objek yang dilihat namja itu. Ternyata Chanyeol sedang memperhatikan seseorang yeoja.

“Nuguya?”

“Ah, dia temanku yang pernah kau dengar ditelepon dulu Ji-ya,” kata Chanyeol sambil tersenyum sumringah.

Tanpa mengatakan apapun pada Jiyeon, Chanyeol beranjak dan mendekati yeoja itu. Entah tiba-tiba ia merasa tidak suka pada yeoja itu. Diam-diam sebelum Chanyeol mencarinya, ia sudah pergi menuju food court untuk makan.

Sekarang Jiyeon bisa memperhatikan Chanyeol dengan temannya dari kejauhan. Paras yeoja itu cantik, tingginya juga semapai, cara bicaranya sepertinya lembut semuanya terlihat sempurna dimatanya. Seandainya Chanyeol menyukai yeoja itu wajar saja, dia memang pantas bersamanya. Oh, Jiyeon merasa iri pada yeoja itu karena sepertinya Chanyeol tertarik padanya.

“Yak, mengapa kau pergi makan duluan? Aku tadi ingin mengenalkanmu pada temanku,” kata Chanyeol saat menemukan Jiyeon di food court.

“Aish, aku sudah kelaparan Chanyeol-ah. Sudahlah, pesan makan saja kau,” kata Jiyeon.

Chanyeol mendengus kesal pada Jiyeon dan pergi untuk memesan makanan. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan makanan dan minuman pesanannya. Ia memakan makanannya bersama Jiyeon.

“Jangan marah Chanyeol-ah,” kata Jiyeon tidak enak.

“Aku tidak marah Ji-ya. Moodku hanya sedikit rusak,” kata Chanyeol datar.

“Mianhae, kalau itu karenaku. Hmm, siapa namanya?” kata Jiyeon.

“Nugu?” tanya Chanyeol.

“Ya yeoja yang tadi,” kata Jiyeon.

“Ah, dia Kwak Saebyul. Cantik ya,” kata Chanyeol.

“Ne. Dia cantik,”

She’s just a friend, it didn’t mean anything

You have my full attention, I promise

.

.

Drrrtt.. drrrtt..

Ponsel Jiyeon bergetar. Jiyeon yang sedang mengerjakan tugas rumahnya harus berhenti sejenak untuk membaca pesan masuk dari ponselnya.

From    : Park Chanyeol
Ada apa dengan Saebyul? Mengapa ia terlihat dingin sekali padaku T_T

Dahi Jiyeon berkerut membaca pesan dari Chanyeol. Sepertinya namja itu salah mengirimkan pesan singkat. Mungkin pesan itu bukan dikirimkan untuknya. Namun, membaca pesan salah kirim dari Chanyeol membuatnya sedikit penasaran.

“Eoh? Saebyul? Yeoja yang kemarin? Perhatian sekali Chanyeol padanya,” gumam Jiyeon.

Ia tidak mau berpikir panjang mengenai Chanyeol dan Saebyul saat ini. Yang harus ia pikirkan sekarang adalah mengerjakan tugas sampai selesai baru mencari tahu tentang hubungan Chanyeol dan yeoja itu.

Sore harinya Jiyeon memutuskan untuk ikut Jieun berjalan-jalan keluar. Mereka duduk disebuah cafe dan memesan dua bubble tea. Saat mereka menikmati bubble tea mereka tiba-tiba mata Jiyeon menangkap sosok Chanyeol dan beberapa orang bersamanya. Terlihat ada yeoja yang ia lihat di Lotte World beberapa hari lalu bersama Chanyeol juga.

“Jiyeon-ah, apa itu Chanyeol? Wah, mereka pergi ramai-ramai,” ujar Jieun kemudian.

“Ne. Mungkin mereka teman satu sekolahnya dulu sebelum ia pindah,” kata Jiyeon mengira.

“Mungkin saja. Bagaimana kalau kita panggil saja mereka agar bergabung?” kata Jieun.

“Jangan,”

Belum sempat Jiyeon mencegah Jieun, yeoja itu sudah memanggil Chanyeol dan teman-temannya. Tentu saja mereka mendengar suara Jieun karena Jieun dan dirinya duduk di bagian luar cafe. Chanyeol yang menyadari itu mengajak teman-temannya mendekati Jiyeon dan Jieun.

“Annyeong Jiyeon-ah, Jieun-ah. Kalian rupanya menghabiskan waktu disini?” kata Chanyeol.

“Ya begitulah. Seperti yang kau lihat,” sahut Jiyeon.

“Ya! Chanyeol-ah, mereka siapa?” tanya Jieun.

“Ah, kami teman satu sekolahnya dulu sebelum ia pindah. Aku yakin kalian temannya di sekolah barunya,” kata salah satu dari teman Chanyeol.

Mereka bercakap-cakap beberapa saat. Selama mereka bercakap-cakap terlihat sekali Chanyeol benar-benar memperhatikan Saebyul. Jika Saebyul bicara pasti Chanyeol selalu menambahkan kata-katanya. Begitu pula sebaliknya. Ya, mereka seperti saling menyukai satu sama lain.

“Mungkinkah Chanyeol menyukainya? Omo! Andwe! Itu tidak boleh terjadi,” teriak Jiyeon panik di rumah.

“Ya! Pelankan suaramu Jiyeon-ah,” kata kakaknya dari dalam dapur.

“Mianhae oppa,” kata Jiyeon yang langsung berlari menuju kamarnya.

.

.

Suasana kembali canggung. Hanya terdengar suara sendok yang sedang digunakan untuk mengaduk-aduk kopi. Jiyeon terus mengaduk kopinya dan menghirup aroma yang terus menguar dari kopi itu.

Sedangkan Chanyeol hanya memperhatikan jalanan luar sembari meminum kopi pahitnya. Menikmati rasa pahit kopi yang khas membuatnya merasa nyaman. Dalam pikirannya, memori-memorinya kembali berputar seperti film lama yang diputar ulang.

“Hmm, Jiyeon-ah. Apa kau mengingat ketika kau mendorongku hingga masuk ke kolam taman?” kata Chanyeol.

Tangan kanan yeoja itu langsung menghentikan kegiatan mengaduk kopinya. Ia mencoba kembali mengingat saat itu. Sesaat kemudian senyumnya mengembang perlahan. Ya, ia ingat saat itu.

“Tentu saja. Aku benar-benar merasa kuat saat itu bisa mendorongmu,” kata Jiyeon sambil tertawa.

Namja itu ikut tertawa bersamanya. Mereka membiarkan diri mereka untuk tertawa mengingat saat-saat indah bersama. Indah sekali bagi mereka. Terlalu banyak kenangan hingga tidak dapat tersampaikan semuanya.

Mungkin semuanya terasa indah dimata Chanyeol tetapi tidak dimata Jiyeon. Memang sebagian besar kenangan mereka indah. Namun, tidak dapat dipungkiri ia pernah mempunyai kenangan pahit yang ia alami karena Chanyeol. Sekarang ia hanya bisa tersenyum mengenang semuanya yang sudah terlewati begitu saja.

“Apa kau hanya mengingat masa itu saja?” tanya Jiyeon.

“Maksudmu?” kata Chanyeol tidak mengerti.

“Ya, kurasa kau hanya mengingatku dengan baik saat aku berhasil membuatmu masuk kolam taman. Kau tidak mengingatku sepenuhnya di semua saat yang pernah kita lewati,” kata Jiyeon.

“Apa yang terjadi padamu? Aku tidak mengerti. Kau seperti,”

“Aish, lupakan saja kata-kataku barusan,” kata Jiyeon kesal.

Chanyeol tertawa melihat wajah kesal Jiyeon yang kesal padanya. Dalam matanya wajahnya tidak banyak berubah. Jiyeon masih terlihat imut dimatanya.

“Eoh, apa kau memotong rambutmu? Sepertinya rambutmu jauh lebih pendek dari yang dulu,” kata Chanyeol mengganti topik.

“Ne. Tidak terlalu buruk bukan?” kata Jiyeon.

.

.

Jiyeon sedang duduk di bangku taman sore ini. Ia sedang tidak mood untuk berlari. Ia duduk di bangku hingga tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia sedang membayangkan seseorang. Tentu saja orang itu Park Chanyeol.

I close my eyes but I think of you

Each and every one of your faces

“Tidak berlari mengelilingi taman?” sebuah suara tidak asing terdengar telinga Jiyeon.

Ternyata suara itu berasal dari Chanyeol. Jiyeon pun menggeser duduknya memberi Chanyeol ruang untuk duduk disebelahnya.

“Ani. Aku sedang bosan,” kata Jiyeon.

“Kau tidak bermain basket?” katanya lagi.

“Ani. Aku sedang bosan,” balas Chanyeol.

“Yak, jangan meniruku,” kata Jiyeon.

Namja itu tertawa mendengar respon Jiyeon. Ia tertawa benar-benar lepas terlihat jauh lebih puas dan natural, tidak seperti biasanya. Baru pertama kali Jiyeon melihat tawanya yang seperti ini. Ia terlihat nyaman tertawa disampingnya, menghabiskan waktu bersamanya. Mungkinkah ia juga menyukai Jiyeon?

“Menyenangkan sekali berada didekatmu,” kata Chanyeol kemudian.

Jiyeon terkejut mendengar kata-kata Chanyeol. Kedua matanya mengerjap tidak percaya. Hampir saja ia membuka mulutnya dan berteriak senang.

“Aish, kau memang pantas menjadi temanku,” kata Chanyeol sambil mengguncang bahu Jiyeon.

The friend label

is a label that I got to hate

Mendengar kata-kata Chanyeol barusan membuatnya terkejut. Hatinya mencelos seketika hingga ia tidak sadar mendorong Chanyeol masuk ke kolam yang ada di dekat kursi taman.

Jiyeon benar-benar terkejut mengetahui dirinya membuat Chanyeol masuk ke dalam kolam. Ia pun memutuskan untuk berpura-pura sengaja mendorongnya walau sebenarnya ia tidak sengaja. Ia tidak mau mengaku karena ia takut Chanyeol curiga padanya.

“Yeah! Aku kuat Chanyeol-ah!” teriak Jiyeon senang.

“Terserah apa katamu. Sekarang, bantu aku keluar dari kolam ini,” kata Chanyeol.

Chanyeol baru saja tercebur ke dalam kolam ikan taman karena Jiyeon mendorongnya. Jiyeon mendorongnya karena yeoja itu kesal padanya sudah mengejeknya. Saat dirinya berhasil masuk ke dalam kolam, yeoja itu menjerit senang karena merasa kuat bisa mendorongnya. Sekarang ia meninggalkan Chanyeol yang masih berada di kolam.

“Yak, neo nappeun!” teriak Chanyeol.

Karena Jiyeon tidak mau mendengarkan Chanyeol, akhirnya ia harus berusaha sendiri bangun dari kolam ikan yang dangkal itu. Saat ia sedang meremas kaosnya yang basah, ia mendapati seseorang memberikannya handuk.

“Saebyul? Sedang apa kau disini?” tanya Chanyeol.

“Hanya menikmati sore hari. Ini untukmu, sepertinya kau baru saja masuk ke kolam itu,” ujar Saebyul.

“Gomawo Saebyul-ah, kau memang baik. Apa aku terlihat ceroboh dimatamu bisa tercebur kolam?” kata Chanyeol sambil menggunakan handuk pemberian Saebyul.

“Ani. Aku tahu itu kan hanya kecelakaan,” kata Saebyul.

Mereka mengobrol beberapa saat hingga Jiyeon kembali membawa sebuah handuk dan kaus seadanya. Dengan berat hati Chanyeol harus membiarkan Saebyul pergi.

“Hmm, kurasa kau sudah tidak membutuhkan benda-benda ini,” kata Jiyeon.

“Aish, cepat berikan padaku kausnya,” kata Chanyeol.

“Yak, pakaianmu sudah kembali kering. Tidak perlu memakai kaus ini,” kata Jiyeon.

Chanyeol mendengus kesal. Ia tidak habis pikir dengan Jiyeon yang terkadang aneh seperti ini.

“Kau mengapa tadi meninggalkanku?” tanya Chanyeol kemudian.

“Aku menuju lapangan basket untuk mengambil ini semua dari tasmu. Aku tahu kau pasti tadi bermain basket,” kata Jiyeon.

“Jadi ini semua punyaku? Aigoo, kupikir kau berlari ke rumah untuk mengambil benda-benda ini,” kata Chanyeol terkejut.

“Kau kira aku rela mengambil semuanya berlari jauh ke rumah demi kau. Cih,” kata Jiyeon.

“Aish, kau benar-benar. Sudahlah. Lupakan hal ini. Aku punya cerita lucu untukmu,” kata Chanyeol sambil tersenyum kemudian.

.

.

Mereka kembali bercakap-cakap mengenang masa lalu mereka. Tidak ada rasa canggung lagi di antara mereka sedikit pun. Sesekali mereka menertawakan perilaku bodoh dan konyol yang mereka ingat.

“Hah, rupanya kau benar-benar mengingat sikap burukku padamu daripada sikap baikku,” ujar Jiyeon setelah beberapa saat tertawa.

Chanyeol sedikit terkejut mendengar kata-kata Jiyeon tadi. Namun, ia harus membenarkan kata-kata Jiyeon. Ia memang tidak terlalu mengingat sikap baik Jiyeon entah yeoja itu memang terkadang berbuat baik atau tidak pernah sama sekali.

“Kurasa itu karena kau memang sering jahil padaku,” kata Chanyeol.

“Aish, kau juga sering jahil padaku,” kata Jiyeon.

“Jinjjayo? Kurasa tidak,” kata Chanyeol sambil memasang wajah konyolnya.

Jiyeon hanya mendengus kesal mendengar ucapan Chanyeol yang baginya tidak terlihat lucu saat ini. Beruntung, Chanyeol segera mengetahui kondisi Jiyeon yang moodnya seketika berubah.

“Aku hanya bercanda Jiyeon-ah. Kau terlihat seram kalau memasang wajah seperti itu,” kata Chanyeol sambil tertawa.

Mendengar tawa Chanyeol, Jiyeon pun ikut tertawa.

Drrrtt.. drrrtt..

Ponsel Jiyeon kembali bergetar. Ia sudah tidak tahan membiarkan pesan-pesan masuk dan telepon yang masuk terus menerus. Ia pun memberi tanda pada Chanyeol untuk menunggunya sebentar.

“Yoboseyo?” kata Jiyeon.

“Aku sedang berada di cafe. Waeyo?”

“Aku akan pulang terlambat. Jangan menungguku apalagi mencariku,”

“Ne. Bye,” ucap Jiyeon terakhir sebelum telepon ditutup.

Selama Jiyeon bercakap-cakap dalam telepon Chanyeol berusaha menebak siapa yang menelepon Jiyeon. Dalam pikirannya terbesit orang itu sepertinya sangat menyayangi Jiyeon. Mungkinkah itu namjachingunya? Ah, Jiyeon tidak mempunyai namjachingu ceritanya tadi, batinnya.

“Hmm, sudah selesai?” tanya Chanyeol basa basi.

“Ne,” jawab Jiyeon sambil memasukan ponselnya kedalam tasnya.

“Kalau boleh tahu siapa yang menghubungimu tadi?” kata Chanyeol.

“Hanya teman. Waeyo?” kata Jiyeon.

“Ah, gwenchanayo. Sampai mana kita tadi?” kata Chanyeol.

.

.

Menjelang tes kenaikan kelas membuat Jiyeon maupun Chanyeol jarang menghabiskan waktu bersama. Disamping banyak tugas yang menumpuk dan tambahan kelas berdasarkan nilai tes semester lalu membuat mereka sibuk dan jarang bertemu.

Sesekali mereka mengirim pesan singkat satu sama lain atau mengobrol di sosial media yang saat itu sedang marak digunakan banyak orang. Hanya itu media yang bisa mereka gunakan untuk saling berhubungan.

Was it a sin to love you?

Why am I the only one hurting?

Suatu saat Jiyeon menemukan sesuatu saat ia sibuk stalking akun milik Chanyeol. Rupanya Chanyeol lebih sering membalas tulisan dari Saebyul daripada dirinya. Buru-buru ia membaca percakapan mereka yang ia temukan.

“Andwe,” gumam Jiyeon.

Ia tidak menyangka kalau Chanyeol sangat dekat dengan Saebyul melebihi dirinya. Ia sudah menebaknya sejak lama kalau Chanyeol menyukai Saebyul dan begitu pula sebaliknya. Ia sudah berusaha keras mendapatkan hati Chanyeol walau itu sulit. Dan sepertinya ia gagal.

Kepala Jiyeon sekarang benar-benar pusing setelah membaca semuanya. Jujur ia sedikit menyesal sudah membaca percakapan mereka. Tetapi kalau ia tidak membaca mungkin ia akan merasa lebih sakit.

Drrrtt.. drrrtt..

From    : Jieun
Jiyeon-ah, apa kau sedang santai? Kita pergi keluar saja bagaimana? Aku ingin memberitahu sesuatu padamu.

To        : Jiyeon
Kajja. Kita pergi saja. Kutunggu di taman ya.

Jiyeon menghela nafasnya. Mungkin pergi bersama Jieun bisa menghilangkan pusing di kepalanya. Saat ini ia ingin menenangkan pikirannya.

.

.

Sesampainya di taman Jiyeon melihat Jieun sudah menunggunya. Dengan langkah cepat ia mendekati Jieun.

“Jieun-ah!” panggil Jiyeon.

“Ah, rupanya kau datang cepat. Kajja,” kata Jieun menggandeng tangan Jiyeon.

“Mwo? Kita mau kemana?” tanya Jiyeon.

“Ke cafe. Aku tidak mau memberi tahu sesuatu padamu disini karena banyak orang,” kata Jieun.

Mereka pun menuju cafe yang berada di dekat taman. Setelah mendapatkan tempat duduk dan memesan minuman serta camilan Jieun memulai ceritanya. Semakin lama yeoja itu bercerita pada Jiyeon, ia mulai menitikkan air mata dan menangis.

“Uljima Jieun-ah,” kata Jiyeon.

Rupanya Jieun sakit hati melihat namjachingunya tengah berpelukan erat dengan seorang yeoja yang ia tahu yeoja itu menyukai namjachingunya. Ah, kepala Jiyeon semakin pusing mendengar tangisan Jieun dan ceritanya.

“Ya! Dengarkan aku,” kata Jiyeon frustrasi kemudian.

“Belum tentu mereka menjalin hubungan dibelakangmu. Aku yakin ia masih mencintaimu. Ayolah, ia hanya memeluk seorang yeoja. Mungkin saja tanda terima kasih atau apapun itu. Buang pikiran negatifmu dulu. Kalau kau tidak tahan tanyakan saja padanya,” omel Jiyeon.

Seketika Jieun menghentikan tangisnya. Seperti biasa Jiyeon selalu bisa memberi solusi pada seseorang walaupun terkadang harus sambil marah-marah.

“Gomawo Jiyeon-ah,” kata Jieun.

“Arrayo. Aish, mendengarkan tangisanmu membuat kepalaku semakin pusing,” kata Jiyeon.

“Apa aku sudah mulai memasuki tahap sakit hati?” kata Jiyeon lagi.

“Neomu appa,” kata Jiyeon sambil menepuk dadanya dengan tangan kirinya.

“Waeyo Jieun-ah? Gwenchanyo?” kata Jieun.

“Aku tidak sedang baik-baik saja Jieun-ah,” kata Jiyeon gugup.

 

.

.

Pagi ini Jiyeon mengikuti pelajaran dengan sedikit tidak enak badan. Pasalnya tadi malam ia demam tinggi. Namun, ia memaksakan untuk tetap berangkat karena hari ini akan ada ulangan harian.

“Jiyeon-ah!” panggil Chanyeol saat Jiyeon berusaha menikmati makanannya bersama Jieun di cafetaria.

“Jangan mendekat Chanyeol-ah. Jiyeon sedang sakit,” kata Jieun.

“Mwo? Sakit? Ah, wajahmu pucat. Jiyeon-ah, gwenchana?” kata Chanyeol tetap memaksa duduk di sebelah Jiyeon.

“Ya! Pergilah. Aku sedang tidak enak badan jangan dekat-dekat,” kata Jiyeon.

Aneh, tidak seperti biasanya Chanyeol selalu menyelanya tidak menyela kali ini. Namja itu mengangguk dan kemudian beranjak pergi. Hati Jiyeon mencelos. Dalam hati ia menyesal sudah menyuruh namja itu pergi. Namun, apa boleh buat karena percuma saja menahannya.

“Makan yang banyak Jiyeon-ah agar kau cepat sembuh,” kata Jieun.

“Ne. Kau makan juga,” kata Jiyeon sambil mengunyah nasi dalam mulutnya.

.

.

Sepulang sekolah tidak seperti biasanya Jiyeon akan mampir kedai dekat sekolah untuk membeli bubble tea bersama Jieun. Kepalanya benar-benar terasa berat dan pusing sehingga ia harus segera pulang ke rumah.

Jiyeon berjalan kaki menuju halte bus yang terletak agak jauh dari sekolah. Sembari ia berjalan, ia bertemu lagi dengan Chanyeol. Ia berusaha mengejar langkah Chanyeol yang cepat dan menyapanya.

“Chanyeol-ah!” kata Jiyeon.

Namja itu menoleh ke belakang dan melihat Jiyeon berlari dengan susah payah mengejarnya. Langsung saja Chanyeol menghentikan langkahnya menunggu Jiyeon.

“Mwo? Kau bisa berlari disaat kau sedang sakit?” kata Chanyeol bercanda.

“Jangan bercanda Chanyeol-ah. Bukannya kau pulang ke arah sana?” kata Jiyeon sambil menunjuk dengan jarinya.

“Ne. Aku ingin mengunjungi temanku dulu,” kata Chanyeol.

Jiyeon menganggukan kepalanya menandakan ia mengerti. Dalam pikirannya terlintas mungkinkah Chanyeol hendak mengunjungi Saebyul. Ketika ia hendak menahan Chanyeol dan bertanya, namja itu sudah terlebih dulu meninggalkannya jauh.

“Semoga saja bukan yeoja itu,” harapnya.

Di rumah Jiyeon memutuskan untuk tidur. Ia harus beristirahat seperti yang dikatakan dokter yang datang ke rumahnya tadi. Setelah meminum obat akhirnya ia bisa tertidur dengan lelap.

Disamping itu Chanyeol sedang menghabiskan waktu berdua dengan Saebyul sepulang sekolah. Ya, teman yang ingin Chanyeol temui adalah Saebyul. Sekarang mereka tengah berjalan-jalan berdua.

“Hmm, Saebyul-ah,” kata Chanyeol kemudian.

“Ah, aku menyukaimu,” kata Chanyeol gugup.

“Sudah lama aku memendam perasaanku. A-aku menyukaimu, maukah kau menjadi yeojachinguku?” kata Chanyeol.

Tangan Chanyeol perlahan menggenggam tangan Saebyul. Namja itu tersenyum penuh harap padanya.

“Ah, aku juga menyukaimu,” kata Saebyul.

“Jadi?” kata Chanyeol.

“Tentu saja aku mau,” kata Saebyul sambil tersenyum dan kemudian memeluk Chanyeol erat.

.

.

Jiyeon tercengang mendengar berita bahwa Chanyeol benar-benar berpacaran dengan Saebyul. Ia baru saja mendengar di kafetaria dari siswi kelas lain saat sedang istirahat. Ia benar-benar syok. Ia tidak siap menghadapi semua ini.

Like a fool, I gave you my heart

Because of you I’m

Locked in a deep sadness

Swallowing my tears alone

“Jiyeon-ah, waeyo?” kata Jieun bingung saat mendapati tiba-tiba Jiyeon memeluknya dan terlihat menahan tangis.

“Aniya. Nan gwenchana Jieun-ah. Aku hanya ingin memelukmu,” kata Jiyeon dengan senyum palsunya.

“Gotjimal. Apa yang terjadi Jiyeon-ah?” kata Jieun.

Jieun terus mendesak Jiyeon hingga ia akhirnya mau mengatakan sesuatu padanya. Mungkin ini saatnya Jiyeon menceritakan semuanya tentang Chanyeol.

“Aku terlalu mengharapkannya hingga aku tidak menyangka aku bisa jatuh. Dadaku terasa sakit. Kepalaku terasa pening. Otakku tidak dapat berpikir dengan baik. Aku panik,” katanya.

“Siapa orang yang kau harapkan itu Jiyeon-ah?” kata Jieun.

“Park Chanyeol,” kata Jiyeon nyaris berbisik.

“Arraseo. Aku mengerti keadaanmu sekarang karena aku juga sudah mendengar kabar tentang Chanyeol,” kata Jieun sambil tersenyum.

“Kau butuh pelukanku?” katanya lagi.

Tanpa menjawab pertanyaan Jieun, Jiyeon sudah merangsek memeluk sahabatnya.

.

.

Yeoja itu harus terbangun dari mimpinya karena ponselnya yang terus bergetar mengganggunya. Dengan mata setengah terbuka dan setengah sadar Jiyeon mencari-cari ponselnya. Setelah menemukannya, ia langsung mengeceknya.

Matanya langsung melebar ketika melihat nama Chanyeol tertera disana. Chanyeol rupanya mengirimnya lima pesan singkat padanya. Ternyata isi dari kelima pesan itu sama semua.

From    : Park Chanyeol
Jiyeon-ah! J

Tidak biasanya Chanyeol mengiriminya pesan singkat hanya sekedar untuk memanggilnya seperti itu. Dengan penasaran Jiyeon mengetik pesan balasan untuk Chanyeol.

To        : Park Chanyeol
Waeyo?

Drrrtt.. drrrtt..

From    : Park Chanyeol
Aku senang sekali beberapa hari ini Jiy-ya.

Dahi Jiyeon seketika berkerut tidak mengerti maksud pesan singkat Chanyeol. Ia mencoba menebak sesuatu yang membuat Chanyeol senang tetapi ia tidak menemukan apapun dalam pikirannya.

To        : Park Chanyeol
Aku tidak akan memaksamu memberi tahu alasan kau senang Chanyeol-ah, oke?

Drrrtt.. drrrtt..

From    : Park Chanyeol
Kau jahat -_-

Yeoja itu mendengus kesal membaca balasan dari Chanyeol yang sangat tidak berguna baginya. Ia agak menyesal sudah menanggapi pesan-pesan aneh Chanyeol. Namun, sesaat kemudian ponselnya kembali mendapati pesan dari Chanyeol padahal ia belum membalasnya.

From    : Park Chanyeol
Saebyul memang lucu. Hahaha

Sejenak ia terhenyak mendapat pesan dari Chanyeol. Mungkinkah ia mendapat pesan salah kirim lagi? Atau memang yeoja itu yang membuat Chanyeol senang belakangan ini? Ia tak tahu. Akhirnya ia mulai mengetik balasan pesan untuk namja itu.

To        : Park Chanyeol
Saebyul? Siapa dia? Aku tak mengerti

Tak lama kemudian pesan masuk. Tentu saja itu balasan dari Chanyeol. Tanpa berpikir panjang ia membuka pesan itu dan mulai membacanya.

Kedua mata Jiyeon mulai berair setelah ia membaca pesan dari Chanyeol. Tetes demi tetes air mata mulai turun dari matanya membasahi wajah cantiknya. Tangisannya pecah. Kali ini ia sudah tidak bisa menahan tangisannya. Ia sudah tidak tahan menahan semua perih yang ia hadapi.

I wish you could be me

I wish I could be you

I wish you could feel it for just a day

Your heart

My heart

.

.

Pelajaran Han seongsaengnim hari ini cukup membuat Jiyeon bosan. Sedari tadi ia terus menguap mendengar suara cempreng Han seongsaengnim yang sedang menjelaskan materi. Namun, Jieun mengingatkannya untuk tidak mengabaikan pelajaran Han seongsaengnim karena itu Jiyeon pergi ke toilet untuk mencuci mukanya.

“Hah, akhirnya aku tidak mengantuk lagi,” kata Jiyeon setelah mencuci mukanya.

Saat ia berjalan kembali ke kelas ia bertemu Chanyeol yang sedang bermain basket di lapangan sekolah. Sepertinya namja itu membolos kelas Han seongsaengnim.

“Jiyeon-ah, ikutlah bermain basket bersamaku,” kata Chanyeol.

“Ani. Aku harus mengikuti kelas Han seongsaengnim karena beliau menjelaskan bab baru,” kata Jiyeon.

Chanyeol pun mendengus kesal mendengar penolakan Jiyeon.

“Yak, kau marah? Aigoo,” kata Jiyeon.

“Aniyo. Aku baru menyadari kau memakai dasi terbalik,” kata Chanyeol.

Dengan cepat Jiyeon langsung mengecek dasinya. Sesaat kemudian Chanyeol tertawa melihat tingkah Jiyeon.

“Ya! Jangan membodohiku. Aku memakai dasi dengan benar,” kata Jiyeon.

“Hahaha. Kau kena,” kata Chanyeol sambil tertawa.

“Jiyeon-ah, kau sudah mendengar berita tentangku?” kata Chanyeol lagi.

“Berita apa? Kau berpacaran dengan Saebyul?” tanya Jiyeon.

Belum sempat Chanyeol menjawab pertanyaannya, Jiyeon sudah menyelanya. Sebenarnya bukan berita itu yang Chanyeol maksud. Namun, yeoja itu menyelanya terlebih dulu.

“Chukae Chanyeol-ah. Kuharap kau longlast dengan Saebyul,” kata Jiyeon sambil tersenyum.

Dengan bingung Chanyeol hanya menjawab “Ne. Gomawo Jiyeon-ah,”.

I don’t want this kind of love anymore,

I don’t want to cry in front of you

“Ne. Kalau begitu aku kembali ke kelas dulu,” kata Jiyeon yang kemudian berlalu meninggalkannya.

Jiyeon merutuki dirinya dalam hatinya. Seharusnya ia hanya mengatakan selamat padanya. Hatinya terasa diiris-iris saat ia mengatakan harapan itu ditambah dengan senyuman pahitnya. Dirinya sendiri tidak menyangka bisa mengatakan harapan seperti itu pada Chanyeol terlebih ia mengingat pesan dari Chanyeol tempo hari lalu.

From    : Park Chanyeol
Saebyul adalah yeojachiguku Jiyeon-ah. Menyenangkan sekali bisa menjadi namjachingunya.

.

.

Percakapan mereka masih berlanjut. Mereka terus mengobrol hingga mereka hampir tidak menyadari salju mulai turun untuk pertama kalinya musim dingin kali ini.

“Woah, salju. Sebaiknya aku mengucapkan permohonanku dulu,” ujar Jiyeon.

Yeoja itu menyatukan kedua telapak tangannya dan menautkan jari-jarinya kemudian ia memejamkan matanya dan memohon permohonannya dalam hati. Chanyeol yang melihat tingah Jiyeon juga langsung mengikutinya. Ia juga memohon permohonan.

“Selesai. Apa kau sudah selesai?” kata Jiyeon kemudian.

“Ne,” kata Chanyeol.

“Tak kusangka salju turun disaat kita bertemu kembali setelah sekian lama,” gumam Jiyeon.

Chanyeol hanya tersenyum mendengarnya. Tak lama kemudian mereka kembali hanyut dalam pikiran masing-masing.

“Hmm, aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” kata Jiyeon memecah keheningan.

“Katakan saja. Aku akan mendengarkan,” kata Chanyeol.

Drrrtt.. drrrtt..

Ponsel Jiyeon kembali bergetar. Sesaat ia membaca pesan singkat yang baru saja masuk. Setelah itu ia memasukan ponselnya kembali ke dalam tasnya.

“Chanyeol-ah, kurasa aku harus pergi karena sepertinya nanti malam akan menjadi malam yang dingin,” kata Jiyeon pamit.

Belum sempat Chanyeol membalasnya, Jiyeon sudah terlebih dulu berjalan meninggalkannya yang masih duduk di dalam cafe. Setelah ia benar-benar keluar dari cafe sebelum pergi ia melihat Chanyeol yang masih duduk di dalam cafe.

“Jujur saja aku menyukaimu sejak kita di masa sekolah dulu. Kau namja pertama yang berhasil membuatku menaruh perasaan padamu. Menyakitkan saat mengetahui kau dan Saebyul saling menyukai. Hancur sudah hatiku saat aku mengetahui kau menyatakan perasaanmu dan mengisi hatimu bersama Saebyul,” ucap Jiyeon pelan.

“Aku berusaha tidak menangis melihat kalian bersama karena aku bukan siapa-siapa. Ini resiko yang harus kuterima saat aku mengetahui cintaku bertepuk sebelah tangan dan aku memaksa untuk mendapatkanmu. Semua ini terasa perih. Apa aku berlebihan Chanyeol-ah?” kata Jiyeon dengan suara yang semakin melirih.

Dalam pengakuannya yang tanpa diketahui Chanyeol rasa yang dulu sudah ia pendam terasa kembali betapa pedihnya dirinya harus menahan perasaannya. Namun, ia tidak menangis lagi atas semuanya. Ia tahu dirinya sudah melewati masa sulitnya. Baginya, Chanyeol hanya masa lalu pahitnya dan cinta pertamanya.

The feelings I’ve hidden still remain

as a painful secret memory

“Huh, kurasa aku harus segera pergi sebelum orang-orang menyadari aku berbicara sendiri,” gumam Jiyeon sambil tersenyum.

.

.

So hard to forget everything about you even I’m not love you anymore. But those pains would always linger in my mind. – Park Jiyeon

 

17 responses to “[ONESHOOT] The Unsaid Words

  1. Ih bagus..Agak bingung sih karena ga dikasih tau bagian flashback dan mana yang nggaknya. Tapi alurnya mengalir alami, manis dan pahitnya kerasa, walau ada typo dikit juga hehe.
    Penasaran sama yang ngehubungin jiyeon terus. Aku juga penasaran sama perasaan chanyeol sekarang.
    Sequel dong thor. Ga perlu banyak sudut pandang, cukup kaya gini, pake sudut pandang jiyeon aja.. biar bikin penasaran dan bertanya-tanya.
    Good job author🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s