[CHAPTER – PART 2] 검정 (Black)

black poster

 

Poster by bubbletea Art © High School Graphic

Author : heavnicolaine
Tittle : 검정 (Black)
Cast :
– (Kim) Lee Myung Soo
– (Bae) Lee Suzy
– Kim Soo Hyun
– Jung Krystal
Rating : PG-15
Genre : Family, Romance, Drama, Tragedy

                           ∞

 

Myung Soo langsung menggendong Suzy menuju rumah sakit dengan panik. Ia tidak mau Suzy mati. Apalagi ini keadaan kritis yang kedua kali baginya. Resiko kematian jauh lebih tinggi dibandingkan keadaannya yang kemarin.

Untunglah ia cepat membawa Suzy ke rumah sakit. Dokter segera menanganinya dan .. Suzy selamat. Kira-kira 2 hari lagi gadis itu akan siuman. Myung Soo kini bisa bernafas sedikit lega, dan sedikit berharap agar Suzy kembali bersifat seperti dulu lagi.

“Oppa ..” Panggil Suzy lirih. Myung Soo yang sedang tidur di atas lengannya sendiri itu terbangun dengan senang. Pasti sifat Suzy yang dulu sudah kembali.

“Suzy-ah .. Gwenchana?” Myung Soo mengelus pelan kepala Suzy sambil menunggu ia kembali berbicara. “Ke .. Kenapa semuanya gelap? Oppa, tolong aku! Oppa .. Hiks ..” Suzy mulai menangis. Sepertinya ia lupa kalau ia sudah .. Buta.

“Suzy, tenang ya. Dengarkan aku. Kau … Buta karena kecelakaan ..”

Tangisan Suzy berhenti, dan suasana menjadi hening. Sepertinya ingatan Suzy sudah kembali. Tapi kemudian ia kembali menangis tersedu-sedu, membuat Myung Soo menjadi frustasi.

“SUZY, ULJIMMA! Kau tau sudah berapa hari aku tidak tidur karena mencemaskanmu? Karena pikiran bodohmu untuk bunuh diri? Hah?!”

Suzy terdiam sejenak, lalu membalas mengomel. “AKU JUGA TIDAK MINTA KAU MENJAGAKU! AKU TIDAK MEMBUTUHKANMU! Kau boleh keluar sekarang kalau kau mau!”

“Baik, aku akan keluar sekarang jika itu maumu.”

Dan Myung Soo pun keluar dari kamar Suzy.

***

  Piip .. Piip ..

  Suzy terus menekan tombol panggilan untuk perawat dengan tak sabar.

“Maaf, nona Lee. Ada yang bisa saya bantu?” Seorang perawat datang dengan nafas yang masih belum teratur.

“Tolong bawakan kursi roda. Aku ingin jalan-jalan di luar.”

“Baik. Saya akan bawakan segera.”

Tak lama, perawat itu datang dengan mendorong kursi roda dan membantu Suzy untuk mendudukinya.

“Tinggalkan aku sendiri di sini.” Pinta Suzy saat mereka sudah sampai di taman. “Jisunghamnida, Lee agassi. Aku tidak bisa meninggalkan anda sendiri di sini. Nanti aku bisa di marahi ..” Perawat itu meminta maaf sambil menunduk.

“Aku tidak peduli. Kau tunggu saja di pintu masuk taman, nanti aku ke sana kalau sudah selesai!” Bentakan Suzy membuat perawat itu terpaksa memenuhi permintaan Suzy. Ia pun meninggalkan Suzy sendiri di tengah taman yang sepi.

Suzy berusaha berdiri dari kursi rodanya dan belajar berjalan dalam keadaan buta. Sebuah ranting pohon yang ada di dekatnya menjadi tongkatnya. Tiba-tiba ia malah teringat percakapannya tempo hari dengan Myung Soo. Tentang dirinya yang bersikeras tidak mau memakai tongkat.

“Haah .. Keras kepala juga aku ini.” Gumam Suzy sambil berjalan perlahan menusuri taman dengan ranting kecilnya. Langkah kakinya berhenti saat rantingnya tertahan di sepatu kulit seseorang.

“Jisunghamnida.” Ucap Suzy pelan lalu merubah posisi rantingnya. Lagi-lagi ranting itu tertahan di sepatu kulit yang tadi. “Permisi, aku mau lewat ..”

“Kenapa kau berjalan sambil membawa ranting?” Tanya orang itu. Suara laki-laki, dan suaranya agak keras. Usianya pasti tidak lebih dari 30 tahun, tebak Suzy.

“Ah .. Itu karena aku tidak mau pakai tongkat. Aku bertengkar dengan kakakku soal itu, jadi, yah .. Aku terpaksa membawa ranting.” Jawab Suzy dengan kikuk.

Lelaki itu mengernyitkan dahinya. ‘Apa gadis ini buta? Tapi matanya terbuka begitu ‘kok .. Kalau ditanya nanti sakit hati. Bagaimana baiknya, ya …’ Pikir lelaki bernama Soo Hyun itu sambil melamun.

“Cho .. Chogiyo? Apa kau .. Masih di sana?” Suzy melambaikan tangannya di depan wajah Soo Hyun. Tepatnya, di depan hidung Soo Hyun. Meskipun perempuan ini lebih pendek, kalau matanya masih berfungsi, pasti tidak akan melakukan hal seperti itu kan? Pikir Soo Hyun lagi.

“Iya, aku masih di sini. Na-namaku Soo Hyun. Sebaiknya .. Kita duduk dulu.” Suzy mengangguk kecil sambil berjalan di belakang Soohyun. “Sini, aku bantu ..” Soohyun menuntun tangan Suzy sampai akhirnya mereka berdua duduk di bawah pohon.

“Maaf, apa kamu .. Buta?” Soo Hyun bertanya dengan sangat hati-hati. Suzy menjawabnya dengan mengangguk kecil. “Aku baru seminggu buta, jadi masih sedikit bingung. Hehe .. Oh ya, terimakasih sudah membantuku.” Suzy membungkuk kecil ke arah Soo Hyun.

“Memang kita harus saling membantu sebagai manusia ‘kan. Omong-omong, namamu siapa?” Suzy mengulurkan tangannya pada Soo Hyun sambil menjawab. “Lee Suzy imnida.” Ucap Suzy sambil tersenyum kecil.

Mereka berdua mengobrol dengan riang, hingga tanpa sadar langit sudah berubah menjadi gelap dan Myung Soo sibuk mencarinya. Kakaknya dan perawat yang sedari tadi menunggu di depan pintu masuk taman itu berteriak-teriak memanggil namanya.

“Suzy! Kalau mau jalan-jalan bilang aku dulu! Setidaknya, biarkan perawat ini menemanimu!” Omel Myung Soo tiba-tiba saat melihat Suzy yang sedang bercanda dengan Soo Hyun. Soo Hyun yang kaget itu spontan menebak, pasti Myung Soo adalah pacar Suzy. “Kau siapa? Mau berbuat macam-macam ya dengan Suzy?”

“Ah, namaku Kim Soo Hyun. Tadi ia tidak sengaja menabrakku, jadi aku bantu dia untuk duduk di sini dan menemaninya mengobrol. Maaf.” Soo Hyun pun berpamitan pada Suzy agar tidak diomeli Myung Soo lebih keras lagi. “Suzy, aku pergi dulu ya. Senang bertemu denganmu.”

“Soo .. Soo Hyun-ssi!” Panggil Suzy dengan teriakannya. “Aku harap .. Kita bisa bertemu lagi.” Suzy berbisik pada Soo Hyun sambil menggenggam tangannya. “Aku yakin, kita pasti bertemu lagi. Sampai jumpa.”

Soo Hyun pun meninggalkan taman itu, sambil mengharapkan keinginan yang sama dengan Suzy. Harapan untuk bertemu kembali, dan menghabiskan waktu bersama. Tentu saja, kalau bisa, dalam waktu yang lebih lama.

“Untuk apa kau datang ke sini? Bukankah kau bilang, kau tidak tidur gara-gara aku?” Myung Soo menuntun Suzy dengan tangannya sambil meminta maaf. “Bagaimanapun, kau adalah adikku. Tanggung jawabku. Lagipula, abeoji dan ahjumma belum bisa pulang, jadi hanya aku satu-satunya orang yang mengurusmu.”

Suzy melepaskan tangan Myung Soo dari pergelangan tangannya. “Aku tidak ingin bertemu denganmu. Jadi jangan temui aku.” Suzy melangkah lebih cepat dibandingkan Myung Soo, meninggalkan kakaknya sendiri di belakang.

“Suster, kapan aku keluar dari rumah sakit?” Perawat itu mengecek catatan dokter yang di berikan padanya. “Besok, nona. Ada apa?”

“Bisa tolong hubungi nomor telepon rumahku?” Perawat itu mengangguk, lalu menekan nomor telepon yang ada di catatan tadi tanpa bertanya apa-apa. Suzy menyuruh supirnya untuk menjemputnya tanpa Myung Soo.

“Kalau kakakku datang, bilang saja aku pulang sendiri. Biayanya sudah lunas kan?” Perawat itu meninggalkan Suzy setelah meng-iya-kan ucapan Suzy.

Gadis itu kini memikirkan Soo Hyun. Lelaki yang bersuara khas itu menghantui pikiran Suzy. Ia merasa sangat bahagia dengan percakapan tadi sore, walaupun ia tidak tahu bagaimana wajahnya. Apakah ia tampan? Bagaimana bentuk wajahnya? Matanya? Apa ia terlihat keren daripada tampan?

Suzy menjadi tersenyum sendiri di dalam kamarnya. Hingga tanpa sadar, ia tertidur dengan ingatan tentang Soo Hyun ..

“Nona Lee, selamat pagi.”’ Suara perawat yang menjaganya kemarin membangunkan Suzy. “Ada apa pagi-pagi ke sini?” Perawat itu tersenyum kecil sambil menjawab dengan riang. “Waktunya sarapan, nona. Setelah itu aku akan bereskan barang nona dan nona bisa secepatnya keluar dari rumah sakit.”

Suzy memakan bubur buatan kantin rumah sakit, yang rasanya .. Yah, mungkin,lumayan? Gadis itu tidak bisa lagi merasakan makanan enak, karena indra penglihatannya sudah hilang, jadi tidak ada lagi makanan indah yang dapat merangsang indra perasa untuk membuatnya terasa enak.

“Suster.” Panggil Suzy pelan sambil melahap buburnya. “Apa aku .. Bisa melihat lagi kalau aku menjalani operasi?”

“Tentu, hanya saja .. Belum ada pendonor yang syaraf matanya cocok dengan syaraf mata nona. Jadi untuk sementara, nona harus mengalami keadaan seperti ini.”

Suzy mengangguk dan segera menyelesaikan makannya, lalu buru-buru pulang setelah mengucapkan banyak terima kasih pada perawatnya.

“Aku pulang ..” Suzy memberi salam dengan suara yang sangat pelan. Hanya ada bibi pembantu yang menyambutnya dengan cerocosan tentang kakaknya yang pagi-pagi sudah pergi. Ia meminta bibi itu untuk diam dan membawakan barangnya ke dalam kamar. Ia butuh istirahat.

Padahal baru sehari bertemu, dan sehari berpisah. Tapi Suzy sudah sangat rindu sekali pada Taecyeon. Hanya lelaki itu yang bisa membuatnya merasa nyaman, melepas semua derita karena tak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya buta. Namun, rasanya .. Ia pernah merasakan perasaan ini. Ada apa ini? Mengapa ingatannya bercampur aduk dengan ingatan dulu di saat ia masih bisa melihat?

‘Oppa, aku boleh tidur di kamarmu kan?’
‘Ah .. Aku mencintai saudara yang kini menjadi kakak tiriku ..’
‘Oh, nona. Tuan Myung Soo baru saja meninggalkan rumah’
‘Oppa, kajjima! Tunggu sebentar!’
‘Suzy, berhenti!’
‘KYAAA!’

“Huff ..” Suzy menarik nafas panjang dan ingatan itu langsung lenyap dari pikirannya. Ia berusaha mencerna kembali kejadian yang barusan terputar di kepalanya. Tidur di kamar Myung Soo, mencintai kakak tiri, berlari mengejar Myung Soo .. Kenapa semuanya menunjukkan kalau dulu ia mencintai Myung Soo? Apa ini mimpi? Kalaupun mimpi, mengapa terasa begitu nyata?

Suzy terus merasa ada sesuatu yang aneh mengganjal di pikirannya. Ia, seorang Lee Suzy, bisa mencintai lelaki kasar, keras kepala, seperti Myung Soo? Hah, tidak mungkin. Itu pasti mimpi buruknya. Tapi kenapa bisa senyata itu kejadiannya? Suzy ingin sekali bertanya, tetapi .. Kepada siapa?

Mungkin Krystal tau jawabannya, gumam Suzy. Ia pun mencari handphonenya dan menyalakannya. Namun … Ia tidak bisa menghubungi Krystal. Jangankan melihat daftar kontak, melihat terangnya layar handphone pun ia tidak bisa. Terpaksa ia memanggil bibi pembantu cerewet itu untuk menghubungi Krystal.

“Yeoboseyo, Krystal-ah? Kau punya waktu?”
“Ya, ada apa? Bagaimana kabarmu?”
“Aku baik-baik saja. Datanglah ke rumahku, secepatnya ya. Aku tunggu.”

Peep! Telepon yang hanya tersambung selama 3 menit lebih 30 detik itu langsung mati, sementara Krystal bingung karena tidak biasanya Suzy menelepon, apalagi dengan waktu yang begitu singkat dan suara yang terburu-buru.

“Annyeong, Suzy-ah.” Krystal menyapa Suzy saat ia memasuki kamar sahabatnya. “Aku dengar kemarin kau kecelakaan ya? Kau baik-baik saja kan? Maaf ya, aku tidak sempat menjengukmu. Kemarin aku pergi keluar negeri ..”

“Gwenchanayo. Aku .. Punya pertanyaan untukmu. Kau sudah duduk ‘kan?” Krystal heran. Kenapa kalimat tanyanya aneh? “Aku sudah duduk kok. Di depanmu malahan. Kau tidak melihatku?” Suzy tidak menjawab, mencoba membiarkan Krystal menebak sendiri apa yang terjadi padanya.

“Omona, Suzy-ah. Ka-kau … Buta?!” Krystal histeris saat mengetahui Suzy ternyata buta. “Kenapa kau tidak cerita padaku dari awal, Suzy-ah …” Krystal menangis sambil memeluk Suzy dengan erat. “Sudahlah, Krys. Semua ini sudah terjadi. Mau bagaimana lagi ..”

Krystal berusaha menghentikan tangisannya. “Kalau butuh apa-apa, telepon aku ya. Aku akan selalu ada untukmu. Malam ini, aku akan menginap di sini. Ijinkan aku ya, Suzy.” Suzy mengangguk kecil sambil menaruh salah satu bantal di sebelahnya untuk Krystal. “Sebenarnya aku menyuruhmu kesini, untuk bertanya padamu.”

“Bertanya apa?” Kata Krystal sambil berpindah duduk ke sebelah Suzy. “Apa sifatku berubah? Maksudku, sifatku pada Myung Soo. Apa aku dulu pernah menceritakan sesuatu tentang pada Myung Soo padamu?”

Krystal berpikir sejenak. “Ah, iya. Biasanya kau akan menceritakan semuanya tentang Myung Soo. Kau juga memanggilnya dengan sebutan oppa. Bahkan kau sering tidur bersamanya. Kalau ia pergi, kau akan memaksa ikut atau paling tidak bertanya padanya kemana ia akan pergi. Kemana Myung Soo sekarang?”

“Molla.” Jawab Suzy ringan. “Entahlah, semenjak aku buta, aku tidak merasakan perasaan seperti itu lagi padanya. Aku bahkan menolak saat ia mengajakku tidur bersama.” Krystal sedikit shock mendengar jawaban itu. “Kau serius? Padahal dulu kan kau menyukainya. Ah tidak, tidak. Mencintainya. Iya kan?”

“Krys.” Ucap Suzy pelan. “Kau serius kalau dulu itu … Aku .. Mencintai Myung Soo?” Krystal mengangguk dengan cepat. “Memangnya kenapa? Apa kau jatuh cinta pada orang lain?” Suzy tersenyum kecil, dan bagi Krystal, itu adalah jawaban ‘iya’. “Dengan siapa?”

Suzy tersenyum keci, lalu menjawab. “Dengan seorang pria baik, tentu saja.”

TBC.

19 responses to “[CHAPTER – PART 2] 검정 (Black)

  1. kenapa kamu hapus ff kamu? kalo kamu ada niatan buat keluar ga begini caranya, kamu bisa ke page resign dan ikutin aturan yg sudah ditentukan, kalo alasannya karna udah ga niat mau lanjutin ff ini (dan ff lain yg kamu hapus) kamu juga seharusnya bilang dulu sama aku.
    kalo cara kamu kayak begini, bikin library HSF berantakan, pasti jadi banyak link ff yg broken, ya karna kamu hapus tanpa pemberitahuan.

    • maaf kak ica, aku cuma pengen hapus tanpa bikin librarynya berantakan. aku gada niat keluar dari HSF sama sekali kok kak. aku pikir kalo hapus ff aja ga perlu bilang sama kak ica
      mohon maaf banget ya kak ._______, mohon maaaaaffff banget yang sebesar-besarnya .____, :”(

      • begini, kenapa aku larang ada author yg seenaknya menghapus ff tanpa memberitahu aku karna library hsf ntar bisa berantakan. banyak link ff yg udah aku buat malah broken karna ffnya gada. kalo udah gitu caranya aku bisa kerja dua kali, ngurutin ff mana yg linknya broken dan mana yg enggak. itu pusing banget lho ngerjainnya.
        maka dari itu, aku buat page resign, salah satu isinya kalian disuruh menyebutkan semua ff yang sudah dipublish disini dengan tujuan mempermudah aku merevisi librarynya tiap saat.
        lagipula, emang kenapa ffnya di hapus sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s