[Chapter-Part 3] True Love

true love 3

Joelle Park story present.

True Love
{adapted from Heart Curtain by Nakajima Yuka}

cast of true love

|| Chaptered AU! Romance, school-life, hurt/comfort For 13 ||

.

.

Apa kamu tahu cinta itu apa?

Terkadang aku tidak bisa membedakan antara rasa kagum dan cinta. Semuanya terlihat sama di mataku. Namun bersamamu, aku kini mengerti apa arti dari cinta yang sesungguhnya.

.

.

IntroPrologOne. Two. Three; His Heart, Something Inside

 

Suzy’s POV

“Maaf, sikapnya dari dulu memang seperti itu. Seenaknya sendiri.” Myungsoo memecahkan kecanggungan yang tadi sempat melingkupi. Aku menoleh; menamati air muka sendunya. Meski dia berkata dengan senyuman, matanya tak dapat menutupi segala kebohongan. Permata hitam itu, kini terasa hampa; mati tak layaknya saat biasa.

Aku mencoba untuk tersenyum, sekadar menyalurkan sedikit semangat. Meski pasalnya aku pun tidak mengerti pada situasi kala ini. Hanya satu kondisi yang dapat kusadari. Pernah terjadi sesuatu peristiwa buruk diantara Myungsoo dengan gadis bernama Soojung itu.

Setelah sekian menit melewati waktu bersama Soojung. Dia terpaksa pergi karena ada jadwal pemotretan di salah satu studio dekat sekolahan. Ada sebagian hal baru yang kutemukan pada jiwa seorang Soojung. Gadis itu amat ramah, suka berterus terang, dan cantik. Terlebih waktu aliran udara menerpa surai panjangnya; terlihat seperti artis iklan sampo di televisi. Dan aku sangat tertegun kala mengetahui bahwa Soojung berprofesi sebagai model; yang sekarang sedang naik daun. Walaupun sudah memafhumi beberapa pengetahuan tentang Soojung, rasa penasaran tetap mencuat dalam hatiku. Menyebabkan aku harus menahan penasaran setengah mati ini.

“Kau tahu, dia dulu adalah tetangga yang notabene sahabatku semasa taman kanak-kanak. Bosan sih bersama dengan gadis menyebalkan seperti Soojung, tetapi-“

Myungsoo menghentikan ucapannya. Menimbulkan keingintahuanku kian membuncah. Kulihat, dia menunduk sembari memegang tengkuknya.

“–dia telah membuatku jatuh hati. Soojung, cinta pertamaku.”

Angin berembus kencang. Menerbangkan dedaunan rontok yang menguning –juga helainan rambut kami. Seakan tengah mengawali cerita lampau milik Myungsoo yang sekarang mulai kusimak penuh keseriusan.

.

.

Author POV

Seorang bocah perempuan berusia sebelas tahun kini sedang membopong kamera hitam besar dalam genggaman tangan mungilnya. Kaki pendeknya melangkah lebar-lebar menghampiri anak lelaki berpakaian kaus putih dan celana selutut abu-abu yang menunggu di depan rumahnya.

Jung Soojung memanggil nama sahabatnya itu keras-keras. Membuat Myungsoo terlonjak dan melontarkan tatapan bertanya pada Soojung. “Myungsoo, look! Aku punya sesuatu buat kamu.”

“Kamera?” Myungsoo menautkan alisnya karena heran, sementara Soojung hanya mengangguk penuh asa.

Yap, kamu benar sekali! Appa sudah beli yang baru, jadi yang ini enggak kepakai lagi. So, Soojung kasih buat Myungsoo saja deh.”

Soojung secara tiba-tiba melemparkan benda kotak itu pada Myungsoo. Menyebabkan Myungsoo harus tanggap dalam bergerak dan segera menangkapnya cepat –takut jika kamera tersebut akan jatuh, lalu pecah terhampar di atas jalanan beraspal. “Berat sekali! Kamu serius? Ini beneran untuk aku?”

Ish, jangan bawel, please. Yang penting, mulai saat ini Myungsoo resmi menjadi photographer-ku, okay?” Myungsoo meringis tatkala mendengar penuturan Soojung yang begitu memaksa, kendati Myungsoo pun tak merasa terbebani oleh perintah sahabatnya itu. Jemari panjangnya menelusuri kamera pemberian Soojung dengan linglung.

“Bagaimana cara mengoperasikannya?”

“Tinggal tekan tombol itu. Sekarang, ayo memotret! Sembari kau coba kamera itu, aku bisa latihan menjadi model,” Oceh Soojung gembira dan senyum lebar khas gadis itu cukup menggetarkan hati seorang Kim Myungsoo.

.

.

Sangkala berlalu dengan angkuhnya; merasa begitu berkuasa hingga mempercepat masa sesuka hatinya. Myungsoo serta Soojung kini telah tumbuh menjadi remaja yang menginjak jenjang pendidikan tingkat menengah pertama. Keduanya masih sama; tetap bersahabat dan sering melakukan sesi pemotretan, tentu dengan Myungsoo sebagai tukang foto dan Soojung modelnya.

Begitu lama menghabiskan usia bersama Soojung, membuat Myungsoo berpikir bahwa semua tidak akan pernah berubah, tetapi itu hanya dugaan semata.

Dua sebelum ujian akhir, Soojung menyampaikan kabar baik, namun bagi Myungsoo ucapan Soojung tampak seperti mimpi buruk. Gadis itu mengikuti sebuah audisi, di mana foto hasil jepretan Myungsoolah yang ia gunakan untuk mendaftar. Siapa sangka, Soojung meraih nilai luar biasa dan menjadi peserta paling populer.

Melihat betapa sukses, ia dalam bidang permodelan. Soojung mengungkapkan keputusan kalau dia akan pindah setelah kelulusan dan memasuki sekolah khusus entertainment; tempatnya bisa lebih belajar banyak soal menjadi model sebelum memulai debut. “This is great, right? Kenapa kamu enggak ucapin selamat buat aku?”

“Bukankah ini mendadak sekali? Lagi pula, aku tidak menyangka kamu bakal pergi.”

Pipi Soojung memerah saat mendapati tatapan nelangsa dari Myungsoo. Sesungguhnya pun dia tak ingin jauh dari sahabatnya, tetapi Soojung sudah mantap akan ketentuan langkahnya guna meraih mimpi. “Aku harus mencapai tujuan hidupku, pokoknya aku tidak mau berhenti di tengah jalan!” Tegasnya penuh asa. Dan Myungsoo kian terpuruk karenanya.

Myungsoo tidak kunjung merespon dan itu cukup mengores kecil hati Soojung. Bukan hanya Myungsoo yang bersedih, dia sendiri juga merasakan perihnya. Takut pertahanannya runtuh dan ketetapannya berubah, Soojung berniat untuk kembali ke kelasnya, namun tangan Myungsoo terlebih dahulu mencengkram lengan Soojung.

“Jung Soojung, aku ingin mengatakan sesuatu. Aku suka-“

“Aku akan terus berjuang supaya bisa berhasil di masa depan. Untuk sekarang, aku tidak memiliki waktu guna memikirkan persoalan lain. Maka dari itu, aku tidak akan berpacaran,” Ujar Soojung memotong kalimat Myungsoo dan dengan kasar, ia melepaskan genggam tangan Myungsoo, kemudian melenggang jauh; meninggalkan Myungsoo yang masih terpaku karena peristiwa barusan.

.

.

Suzy POV

Hahaha, aku bahkan sudah ditolak mentah-mentah sebelum menyatakan cinta. Kisah ini, tak apa, ‘kan kuceritakan padamu?” Dia menatapku dengan lesu. “Kalau sama Suzy, aku bisa menceritakan semua masalahku, soalnya kita pernah patah hati. Iya, ‘kan?” Dan kini Myungsoo mengembangkan lengkungan tinggi di bibirnya; layaknya tidak terjadi apapun, seolah kepahitan cinta tak membuatnya kesakitan. Namun, matanya menerawang jauh entah ke mana.

“Lain kali, aku akan membawakan lebih banyak album foto untukmu.”

“Iya, terima kasih.” Sekarang aku tahu alasan di balik seluruh hasil potretannya yang tak pernah mengandung unsur manusia. Karena di hati Myungsoo, masih tersisa bayangan Jung Soojung. Dan hal tersebut turut merenyuhkan hatiku, sebab aku pun tak bisa melupakan Jongin sepenuhnya.

“Suzy, selepas sekolah kamu temani aku ke suatu tempat, yuk?”

.

.

Kami tiba di sebuah taman kecil yang terletak dekat sekolahan. Aku mengamati dedaunan cokelat pohon maple yang berjatuhan, sementara Myungsoo sibuk memotret dari atas pohon.

Tempat ini amat sepi. Meski beberapa permainan anak kecil menghiasi lahan, tampaknya taman yang kupijak ini tak memiliki banyak peminat. Namun, suasananya begitu menenangkan, terlebih saat angin membawa wewangian lembut khas musim gugur. Dan, aku menyukai hal tersebut.

“Bagaimana, situasi di sini sangat nyaman, ‘kan?”

“Iya,” Jawabku sembari meliriknya. Sekonyong-konyong debaran jantungku berpacu, hanya karena menatap dan berada di sekitar Myungsoo, perasaanku jadi tidak menentu begini.

Sang bayu kembali berembus, membuatku secara reflek menutup mata; menghayati tiap semilirnya. Hingga suara klik terdengar jelas di telinga. Kala aku membuka kelopak mata, kulihat Myungsoo tengah mengarahkan lensa kameranya padaku. Kami terdiam dengan pandangan terkejut.

Ah, maaf. Aku tidak sadar tadi, habis wajahmu lucu sekali, aku jadi ingin mengambil gambarnya hehehe,” Ujar Myungsoo diiringi kekehan datar; terkesan memaksa dan gugup.

Aku menunduk, memikirkan insiden yang baru saja berlalu. Senang bercampur perih menyelimuti jiwa.

‘Aku tahu betapa sakitnya hati yang terluka’.

Perkataan Myungsoo terniang dalam bayanganku. Penjelas tersebut seakan mengingatkanku bahwa hubungan kami hanya sebatas teman yang sama-sama pernah patah hati.

Tapi untuk apa aku bersedih? Toh, perasaanku terhadapnya tak pernah lebih dari seorang junior kepada senior-nya. Membahas tentang persoalan ini cukup memusingkan kepala, mungkin ada baiknya kulupakan saja.

.

.

Aku telah berjanji untuk menemui Myungsoo di halaman belakang. Dia bilang hari ini ia membawa kumpulan foto lamanya sewaktu sekolah dasar dan ingin menunjukkannya kepadaku.

Setiba di sana, Myungsoo menyambut kedatanganku dengan senyum merekah juga sebuah buku yang ia lambaikan ke arahku. Sampulnya yang berwarna cokelat cukup terlihat usang, namun tetap terawat. Aku mengembangkan lengkungan tipis di bibir, lalu menyahut album tersebut; mengambil alih dan mulai meneliti satu persatu gambar yang terpampang.

Sampai beberapa kertas jatuh berserakan. Myungsoo merunduk seraya memunggutnya satu-persatu dan aku mematung tatkala manikku menangkap sosok gadis berambut pendek terlukis di dalamnya. Aku mengenal wajah itu, dia adalah Jung Soojung.

“Aku tidak tahu kalau fotonya tercampur di situ,” Ungkap Myungsoo dengan mata berbinar yang menelusuri rupa Soojung. “Aku ingat, semua cetakan kuserahkan pada Soojung, tetapi gambar yang ditolak agensi langsung ia kembalikan. Aku sulit percaya saat Soojung mengatakan panitia audisi tidak menerima foto ini, padahal dia cantik sekali.”

Rasanya seperti tombak tajam menohok dadaku tanpa ampun. Terlalu sakit hingga air mata tak dapat kutahan lagi. “Cukup! Aku sudah tidak sudi mendengar Sunbae bercerita tentang Soojung! Karena aku jatuh cinta pada Myungsoo Sunbae,” Pekikku tertahan, cairan bening mengalir turun; menimbulkan sungai kecil di pipi. Aku tidak dapat lagi menahan letupan hangat ini, terlalu pedih untuk kusimpan sendiri.

“Kau bergurau, ‘kan? Aku ini bukan tipemu, Suzy bicara apa sih. Jangan ngelantur-“ Myungsoo tertegun tatkala melirikku yang sedang menangis. Seketika rautnya berubah, menjadi datar dan dingin. “Ternyata kamu serius.”

“Maaf-“ Isakanku kian menjadi, Myungsoo menolakku. Sama seperti Jongin.

“Selama ini aku sok menasihati Suzy dan berterus terang dengan tenang bahwa aku sakit hati. Tetapi, aku menipu diriku sendiri. Sebenarnya, aku hanyalah seorang pengecut sekaligus menyedihkan. Aku pun masih takut untuk jatuh cinta lagi.”

Myungsoo tampak menghela napas sejemang, kemudian sebelum beranjak pergi, ia berkata, “Maka dari itu, aku tak bisa membalas kejujuranmu.”

Aku sadar bahwa  Myungsoo tak akan menjawab sesuai dengan keinginanku. Awalnya aku ingin menyerah dan tetap memendamnya. Tetapi, aku terus mendengar degupan jantungku, bahkan kini detaknya bertambah kencang.

Mungkin, kali ini aku benar-benar merasakan cinta pertamaku. Sebab, aku tak membenci perasaan tengah kualami sekarang. Karena matanya yang berkaca-kaca, tangan gemetaran itu, juga parau nada suaranya, menyebabkan tubuhku menjadi hangat.

.

.

|| T B C ||

A/N : Yeay! Setelah didera WB yang begitu lama, aku kembali. Pasti sudah pada nungguin kelanjutan True Love, ‘kan? //soconfident.

Jadi bagaimana pendapat kalian tentang part ke-tiga ini? Semoga enggak mengecewakan. Terus maafkan aku, jika ada typo atau gaya tulisannya tidak enak dibaca, jujur aku belum ngecek ulang, diakibatkan oleh rasa malas hehehe //disiram. By the way, aku mau ucapin selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menlaksanakan. Semoga berkah, ya.

Oh iya, aku boleh curhat sebentar, ‘kan? Menurut pengamatanku, dari setiap chapter para pembaca yang meninggalkan komentar kian berkurang. Entah karena mereka bosan atau siders, tapi aku sedih banget lihatnya ;_;

Bukan maksudku mengemis komentar, hanya saja enggak seimbang sama grafiknya. Sakitnya tuh di sini, chingu😥 Sudahlah, aku tidak mau bersedih, ada yang baca saja aku bersyukur banget😆

Ok sekian dari aku, jangan lupa nantikan seri terakhir dari True Love, ya? Sebelum benar-benar mengucapkan sampai jumpa, aku mau kasih kabar. Kemungkinan part empat bakal aku protect. Kekanakan, ya? Maaf ;_;

Jadi kalau niatan itu terlaksana, bagi kalian yang penasaran dan ingin membaca, bisa minta password-nya di twitter @Fira_Oreo. Kalau begitu, see you~

Tertanda,
Fira – Joelle Park.

10 responses to “[Chapter-Part 3] True Love

  1. Shock jga tiba2 suzy blag di cinta sama myung,udah lupain jongin…haha
    myung mash belum bsa move on kah???
    penasaran sama kelanjutannya~~~~

  2. suzy ditolak lagi?,aigoo knp myung ga coba untuk belajar jatuh cinta lagi?,,persahabatan mereka (myungzy) gimana dong?,,ditunggu part selanjutnya,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s