[CHAPTER – PART 1] 15:40:45 – Surfeited

myung-ji-154045-1

15:40:45

Surfeited

written by asyfantastic

T-ara’s Jiyeon – Infinite’s L – EXO’s Sehun – SHINee’s Minho || and other minor cast || Romance Friendship School Life || Chapter

Poster here | Previous here

-oOo-

Lapangan Anyang High School terasa cukup ramai untuk hari ini, banyak siswa yang berlalu lalang melintasi lapangan dan menuju beberapa stan yang telah berdiri di lobi utara.

Hari ini adalah School Activity Day, hari dimana siswa yang baru saja masuk pada tahun ini dapat memilih klub yang akan mereka ikuti, dan juga kesempatan bagi tingkatan diatasnya untuk berpindah, karena sebuah larangan untuk keluar masuk klub seenaknya ditengah satu tahun ajaran.

“Jadi kau akan memilih klub apa?” Tanya Hayoung pada seseorang di depannya.

Seseorang yang ditanya hanya membalasnya dengan tatapan, “Ya, seperti yang kau ketahui, tidak ada klub lain lain yang begitu cocok denganku selain klub yang telah aku ikuti setahun lalu.”

“Yoon Bomi memang seorang penulis sejati, klub jurnalistik memang tempat yang tepat untuknya.” Jawab gadis berambut pendek yang baru saja datang menghampiri.

“Hei Yooyoung-ah, jadi memilih klub apa?” Tanya Bomi kemudian.

Yooyoung hanya menganggukkan kepalanya, “Aku mengikuti saran Gyuri eonni untuk masuk kedalam klub modelling.”

“Akhirnya dia mendahului langkah sepupunya yang bahkan pernah mengikuti kontes.” Sahut Soojung.

“Lalu kau Jiyeon-ah, jadi pindah?” Tanya Bomi lagi.

Jiyeon yang sedari tadi diam hanya menggelengkan kepalanya, “Setelah aku pikir-pikir, aku tidak memiliki bakat selain bernyanyi, jadi aku tak ingin mempermalukan diri dengan mengikuti klub yang tidak sesuai denganku.”

“Dan kau Soojung-ah, sudah memastikan pilihanmu?”

Soojung mengangguk yakin, “Bahkan aku sudah memikirkannya jauh sebelum ini, aku sudah tidak tahan dengan sifat diktator si pelatih basket, lama-lama dia akan melempar kepalaku dengan bola basket jika aku terus melakukan kesalatan setiap latihan.”

“Wah, aku tidak menyangkan bahwa pelatih basket sekolah kita begitu men-”

“Hei tunggu sebentar..” Potong Jiyeon, “Bukankah jika kau keluar, kau tak akan bertemu dengan pujaan hatimu lagi?”

“Yang kau maksud dengan tak bertemu itu apa? Bukankah Soojung dan Minhyuk masih bisa bertemu saat hari peminatan setiap sabtu.”

“Setidaknya mereka masih ada satu hari untuk saling bertemu dalam waktu yang cukup lama.” Sahut Bomi, “Ah iya bagaimana dengan Sehun, dia jadi masuk dalam klub apa? Klub musik sepertimu atau-”

Jiyeon menatap heran Bomi memotong ucapannya, “Sepertinya dia tidak terlalu tertarik dalam bidang musik, dan sudah pasti klub sepakbola yang akan menjadi pilihannya.”

“Aku dengar dia bisa masuk kedalam klub sepakbola tanpa harus melakukan tes seperti yang lain.”

“Wah, sehebat itukah dirinya?”

“Tentu saja, dia sudah memenangkan begitu banyak pertandingan jadi tak heran jika ia bisa masuk dengan begitu mudahnya.”

Jiyeon hanya bisa diam dengan tatapan bosan saat keempat gadis yang berada didepannya membicarakan sesuatu yang sedang tak ingin ia dengar.

“Memangnya harus kita membicarakannya sekarang?” Tanya Jiyeon menghentikan pembicaraan.

Keempat teman yang lain hanya diam menatap Jiyeon, “Memangnya kenapa?”

“Sensitif sekali, apa kau masih bertengkar dengannya?” Tanya Bomi.

“Aku tidak sedang bertengkar dengan Sehun, Bomi-ya. Jangan membuat pernyataan sendiri.” Sanggah Jiyeon.

“Tidak bertengkar katamu, kau tak menghubunginya sama sekali, pesan dan panggilan yang ia kirim tak pernah kau respon, bahkan selalu menghindar, apa itu baik-baik saja?” Tanya Hayoung sarkastik.

Yang lain hanya menggelengkan kepala mereka, “Dasar kau, bagaimana bisa kau tidak memperdulikannya sampai seperti itu?”

“Aku sama sekali tidak bermaksud apa-apa.” Jiyeon menyangkal cepat, “Aku hanya meminta waktu untuk sendiri dulu, tidak lebih.”

“Dengan membiarkannya kebingungan sendiri atas apa yang telah kau lakukan padanya?” Ucap Bomi membalas.

Yooyoung menyahut, “Kemarin aku melihatnya sibuk menendang bola dengan membabi buta, dan sama sekali tak ada yang berani menhentikannya bahkan mendekatinya saja tidak.”

“Jadi semua ini salahku?” Tanya Jiyeon heran, “Sudah aku katakan jika aku hanya meminta waktu sejenak untuk sendiri dan menenangkan pikiranku.”

“Sebenarnya apa masalah utamanya? Bukankah sebelumnya hubunganmu dengannya baik-baik saja, tidak ada masalah serius bukan?” Tanya Soojung menengahi.

Jiyeon menghela nafasnya panjang, “Tidak ada masalah yang serius, hanya saja entahlah sepertinya ada aneh pada diriku sendiri.”

“Tidak ada keinginan untuk bertemu dengannya, walalupun dalam jangka waktu yang panjang. Rasa rindu yang dulu sering kurasakan juga sudah menghilang entah kemana, bahkan aku lebih menikmati waktu bersama teman-teman daripada bersamanya, dan walalupun aku sedang bersamanya semuanya terasa biasa saja, terasa hampa.”

Keempatnya –Soojung Hayoung Bomi Yooyoung- hanya bisa menganggukkan kepalanya mendengarkan penuturan panjang yang dikatakan Jiyeon.

“Sepertinya masalahmu cukup rumit.” Ucap Yooyoung memecah keheningan.

Jiyeon hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab. Masalahnya kali ini cukup membingungkan, bahkan dirinya sendiripun tak bisa menebaknya, bercerita pada orang lainpun tak membantu sepenuhnya, karena dirinyalah kunci dari masalahnya sendiri, hanya ia yang tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“Apa ini yang dikatakan orang sebagai suatu kejenuhan dalam sebuah hubungan?” Sahut Bomi.

“Ah aku juga pernah mendengarnya.” Ucap Soojung, “Tidak sedikit pasangan yang mengalaminya, dalam suatu hubungan tidak akan berjalan manis atau pahit saja, bisa saja sebuah hubungan menjadi hambar, seperti kau dan Sehun sekarang ini.”

Yooyoung dah Hayoung hanya menganggukkan kepala, “Aku rasa hal ini cukup membahayakan hubunganmu dengannya.”

“Mungkin tak lama lagi hubunganmu dengannya akan berakhir.”

“Ya! Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu? Sama sekali tidak membantu..” Ucap Yooyoung sambil menggelengkan kepalanya.

Jiyeon hanya mengendikkan bahunya, “Entahlah, aku juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padaku.”

Jiyeon melangkah pergi meninggalkan keempat gadis yang hanya bisa terdiam memandangi punggung sahabatnya dari belakang. Tak ada yang benar-benar bisa mereka lakukan untuk menyelesaikan masalah Jiyeon, karena mereka tahu sampai mana batasan mereka untuk mencampuri masalah yang sedang terjadi.

“Jiyeon-ah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu..”

“Itu Sehun!”

-O-

School Activity Day tidak berhenti disitu saja, setelah seluruh siswa memilih klub apa yang akan mereka ikuti, mereka diharuskan untuk mengikuti tes bahasa asing lebih tepatnya bahasa inggris yang mereka sebut Conversation yang memang menjadi kegiatan wajib untuk meningkatkan mutu sekolah.

Setiap siswa tidak dikelompokkan berdasarkan nilai yang mereka dapat, tetapi mereka akan dikelompokkan secara acak, agar mereka yang masih lemah dalam pelajaran bahasa inggris bisa mengejar ketertinggalan mereka.

“Aku harap conver tahun ini aku tidak berada dalam satu kelas bersama Kyung lagi, atau aku akan berakhir dengan hukuman seperti tahun lalu. Lelaki itu benar-benar gila dengan segala candaannya, dan aku tidak akan bisa berhenti menghinanya.”

Ketiga gadis yang berada disebelahnya hanya bisa tertawa, “Percuma saja kau tidak satu kelas lagi dalam kelas conver, kau lupa jika kita semua berada dalam satu kelas umum dengannya?”

“Setidaknya bukan guru itu lagi yang mengajar, guru menyebalkan yang bentuk wajahnya saja tidak simetris.” Jawab Bomi, “Ah iya, kemana Jiyeon? Sejak tadi ia belum kembali.”

“Entahlah, aku sudah mencarinya dari kantin hingga kamar mandi, dia tidak kutemukan.” Jawab Soojung.

“Terakhir kita meninggalkan dia saat Jiyeon bersama Sehun, bukan? Apa mungkin sampai saat ini pembicaraan mereka belum selesai?” Tebak Hayoung.

“Tidak mungkin.” Sahut Yooyoung, “Sudah selama ini, pasti Jiyeon sedang berada di suatu tem-”

“Itu Jiyeon!”

“Dari mana saja kau?”

“Apa yang dikatakan Sehun?”

Pertanyaan langsung menyerbu Jiyeon saat ia baru saja menyandarkan tubuhnya pada tempat duduk di sebelah Bomi. Jiyeon hanya menatap keempat sahabatnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Senang, sedih, lega? Entahlah hanya Jiyeon yang mengetahuinya.

“Mengapa wajahmu seperti itu? Ada suatu hal yang terjadi antara kau dan Sehun?”

Pertanyaan Yooyoung membuat Jiyeon kembali teringat dengan percakapannya dan Sehun beberapa waktu yang lalu, sesaat setelah ia memisahkan diri dengan sahabatnya.

“Jiyeon-ah, ada yang ingin kukatakan padamu..”

Seseorang tiba-tiba saja muncul dan menghalangi jalan Jiyeon, dan dengan terpaksa ia menghentikan langkahnya.

“Akhirnya aku bisa menemuimu seperti ini, sudah lama aku mencarimu tapi kau terlihat selalu menghindar dariku, sebenarnya ada apa?” Tanyanya lagi.

Jiyeon hanya bisa menatapnya dalam diam tak menjawab bahkan tak melakukan apapun, hanya menatap lelaki di depannya.

Sudah ia tebak jika nantinya ia akan mendapatkan pertanyaan semacam ini, dan sampai sekarang ia masih belum menentukan dan menemukan jawabannya. Tak ada yang dapat ia jawab dan dilakukannya selain menggelengkan kepalanya, menandakan bahwa ia sendiri tak tahu apa yang sedang terjadi.

“Kau tak pernah seperti ini sebelumnya, jika ada masalah katakanlah, aku tak akan marah dengan apapun yang keluar dari mulutmu. Kumohon jangan membuatku bingung dengan keadaan yang seperti ini.”

“Aku tidak tahu..”

Lelaki di depannya hanya bisa menghela nafasnya panjang, kembali menatap gadis di depannya masih dengan tatapan lembut dan mencoba mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada gadisnya. Ia tersenyum dan mencoba meraih tangan Jiyeon yang sedari tadi terus bergerak tanpa henti.

“Bagaimana aku bisa mengerti dengan apa yang terjadi padamu, jika kau sendiri tak mau menceritakannya padaku. Apapun itu aku akan mencoba mengerti keadaanmu, Jiyeon-ah.”

Jiyeon masih terdiam. Ia masih belum menjawab semua pertanyaan Sehun. Hatinya belum siap menerima segala konsekuensi yang terjadi.

“Apa semua karena aku?”

Seketika Jiyeon menatap Sehun, bagaimana bisa Sehun menyalahkan dirinya sendiri atau yang lebih tepat bagaimana bisa Sehun membaca pikirannya, apakah begitu terbaca dari raut wajahnya?

“Katakanlah jika itu semua karena aku, tak apa aku tak akan marah.”

Sekarang Jiyeon merasa seperti anak kecil yang tertangkap basah mengambil pensil temannya, segala ucapan Sehun masih lembut mencoba untuk tidak membuat Jiyeon tertekan.

“Apakah sebaiknya kita tidak bertemu untuk beberapa waktu, apa itu yang kau inginkan?”

Seketika Jiyeon mengangkat dagunya dan menatap Sehun yang berada di depannya. Nada bicara Sehun berubah serius, walau masih lembut sama seperti sebelumnya.

“Tak apa jika kau ingin seperti itu, mungkin itu akan lebih baik daripada terus tergantung tanpa kepastian seperti ini. Aku dan kau bisa menenangkan pikiran masing-masing dan berpikir tentang segalanya, tentang hubungan kita selama ini.”

Lagi-lagi Sehun tersenyum, “Baik-baik selama aku tak bersamamu.”

Sehun sempat mengacak pelan rambut Jiyeon sebelum meninggalkannya dalam diam, masih menatap punggung Sehun yang berjalan menjauh.

“Jadi apa maksudnya, aku masih tak mengerti.”

“Sehun memberi waktu untuk mereka berdua untuk memikirkan kembali, apa yang terbaik untuk hubungan mereka.” Hayoung menjawab pertanyaan Soojung yang ditujukannya pada Jiyeon.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

Jiyeon menatap gadis berambut panjang disebelahnya, “Entahlah, aku tak tahu..”

Jiyeon kembali mengalihkan pandangannya, meletakkan kepalanya diatas meja dan menempatkannya diantara lengannya yang terlipat.

Jika memang benar apa yang terjadi padanya adalah tepat seperti yang dikatakan Soojung, setengah mati ia tak akan tega mengatakannya pada Sehun. Lelaki itu terlalu baik untuk dibuang begitu saja hanya karena sebuah kejenuhan.

Lagipula Jiyeon sendiri juga tak habis pikir, bagaimana bisa ia jenuh terhadap kekasih yang baik hati dan selalu setia seperti Sehun, bahkan setahun lalu mereka menjalani hubungan jarak jauh karena sekolah mereka yang terpisah, dan tak ada apapun yang terjadi, masing-masing dari Jiyeon dan Sehun masih saling menjaga janji dan kepercayaan yang telah diberikan satu sama lain.

Apa karena Sehun terlalu baik, rasanya tidak mungkin, seluruh gadis menginginkan seorang kekasih seperti Sehun. Ia baik, ia tampan, ia setia, dan jangan lupakan satu keahliannya dalam bidang sepakbola, gadis mana yang tak tertarik pada sosok seorang Sehun.

Ia masih mengingat dua tahun lalu, tepatnya hari dimana ia dan Sehun resmi menjadi sepasang kekasih, seluruh gadis yang mereka lewati hanya bisa menatap sambil berbisik dan menatap mereka iri, bahkan Jieun –sahabatnya– hanya bisa terdiam dan mengatakan betapa beruntungnya Jiyeon bisa mendapatkan Sehun yang diidolakan gadis satu sekolah.

Jika Jiyeon saat ini bukanlah Jiyeon yang merupakan kekasih terang dari Oh Sehun, mungkin ia akan mengatakan betapa bodohnya seorang Jiyeon yang bisa-bisanya jenuh terhadap kekasih seperti Sehun. Lalu apa, ia akan memutuskan hubungannya dengan Sehun? Oh mungkin ia sudah mulai gila saat ini..

-O-

Matahari pagi kembali bersinar dan mulai menyinari Anyang High School yang sudah mulai dipadati oleh siswa-siswi yang mulai berdatangan bahkan saat sang mentari masih malu-malu mengeluarkan cahayanya.

Papan pengumuman yang berada di lobi depan menjadi satu dari sekian banyak objek menarik yang dapat dilihat, tapi mungkin untuk pagi ini papan pengumuman inilah yang menjadi objek paling diminati, karena disana suah tertulis daftar nama dan pembagian kelas untuk Conversation yang akan dimulai pagi ini juga.

Wajah Soojung terlihat tidak begitu senang setelah melihat papan pengumuman yang kini semakin berdesakan, alasannya hanya satu, karena ia berakhir sendirian dalam kelas conver kali ini, tidak bersama Jiyeon, Bomi, Hayoung, maupun Yooyoung.

“Hei, kau seperti tidak memiliki teman lain saja, masih ada Sohyun yang berada di kelas yang sama denganmu.”

Bomi menepuk bahu Soojung, “Aku juga tidak satu kelas dengan kalian berempat, sama halnya dengan Jiyeon, hanya Yooyoung dan Hayoung saja yang bersama.”

“Tidak apa-apa, lagipula ada Kyung yang berada satu kelas denganmu, kan?” Tawa mereka sempat membuat perhatian teralihkan pada mereka yang terus mengobrol asyik.

Soojung hanya bisa menggerutu, “Hash, jika seperti itu kemungkinan aku akan berakhir sama seperti Bomi tahun lalu.”

“Kau sendiri Bomi, bagaimana? Lalu Jiyeon?”

“Aku berada dalam kelas yang sama dengan Minah, dan juga Jimin.” Jelas Bomi, “Jiyeon sepertinya bersama Hyeri, iya bukan?”

Jiyeon hanya menganggukkan kepalnya tanpa menjawab. Sedari tadi ia hanya diam disaat keempat sahabatnya membuat keributan sendiiri.

“Kau terlihat berbeda hari ini, ada apa? Pasti karena Sehun, tenang saja kau tidak berada dalam satu kelas yang sama dengannya.”

“Sudah tahu masih bertanya, lagipula mana mungkin kita berada dalam kelas yang sama dengan adik kelas.”

Tteeeeeeett! Tteeeeett!!

Bel tanda masuk sudah berbunyi. Otomatis papan pengumuman yang semula dikerubungi oleh banyak siswa perlahan mulai sepi.

Semua siswa sudah mulai mencari kelas conver mereka masing-masing, begitu juga dengan Bomi, setelah ia berhasil menemukan Minah mereka langsung bergegas menuju kelas pagi mereka.

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat, Bomi dan Minah sudah terlambat masuk kelas karena sebelum itu mereka menyempatkan diri untuk ke kamar mandi, dan saat mereka masuk sudah ada guru yang sepertinya sedang memperkenalkan diri di depan kelas.

Karena datang terlambat, Minah dan Bomi mendapat tempat di bangku pinggir karena semua tempat di tengah sudah terisi penuh.

“Rajin sekali anak-anak ini, baru terlambat beberapa menit saja, bagku tengah sudah habis diduduki.” Bisik Minah pada Bomi.

“Beberapa menit bagaimana, waktu kita termakan lima belas menit di depan kaca-”

“Permisi..”

Ucapan seseorang dari arah pintu seketika menginterupsi pembicaraan Bomi dan Minah, juga sang guru yang sudah mulai menulis beberapa materi di depan kelas.

Come in, quickly! Sit in the empty seat.” Perintah sang guru yang kembali menjelaskan materi.

Tanpa permisi lelaki yang datang terlambat itu duduk tepat disebelah Bomi dan membanting ranselnya diatas meja. Bomi dan Minah hanya melirik lelaki itu tanpa berani menatapnya secara langsung, karena jika dilihat dari penampilannnya, ia bukanlah lelaki baik yang rajin belajar dan suka menabung.

“Bisa kupinjam buku milikmu?” Ucap lelaki itu datar. Bomi hanya mengangguk dan baru saja ia ingin mengangkat buku miliknya, dengan cepat lelaki itu langsung mengambil buku Bomi bahkan tanpa mengucapkan terimakasih.

“Sebenarnya siapa lelaki ini?” Bisik Bomi pelan berusaha agar lelaki yang mereka bicarakan tidak mendengar.

“Kau tidak tahu?” Tanya Minah balik, “Dia Kim Myungsoo, berada dalam gang yang sama dengan Jimin, bisa dibilang ia adalah ketuanya.”

“Oh pantas saja dia terlihat sedikit tidak biasa dan menakutkan.” Bomi hanya mengangguk.

Myungsoo menatap Bomi dan Minah yang tertangkap basah memperhatikan Myungsoo tanpa sebab, “Kalian membicarakanku?”

“Tidak..!” Serempak Bomi dan Minah menjawab dengan senyum yang terlihat sangat dipaksakan berusaha menutupi kebohongan mereka.

-O-

Jam sudah menunjukkan waktu istirahat, bel juga baru saja berbunyi dan banyak murid yang mulai keluar dari kelas menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang kosong atau hanya sekedar untuk menghilangkan penat.

Tapi tidak bagi Minho, ia masih harus mengurus beberapa data anggota baru klub sepakbola yang dipimpinnya dan segera menyerahkan pada sang pelatih.

“Jadi ini yang bernama Oh Sehun, aku dengar ia menjadi pemain baru terbaik dalam klub sepakbola sekolah kita.” Tanya seseorang yang baru datang dan duduk disamping Minho.

Minho hanya menoleh dan mengangguk cepat, “Ya, dia adik kelasku saat masih di sekolah menengah pertama dulu dan aku sudah tahu betul bagaimana permainannya.”

“Ah iya, aku juga mendengar jika hubungannya dengan Jiyeon mulai merenggang.” Ucapnya.

Minho hanya tersenyum kecil, “Begitukah?”

“Mengapa kau tersenyum seperti itu?” Tanya lelaki disamping Minho heran.

Minho hanya menggelengkan kepalanya. Nanti kau juga akan tahu..

-To Be Continue-

Note :

Hai! Aku kembali dengan membawa part 1nya, gimana?

Ah iya, aku juga mau terimakasih banget buat komentarnya di teaser kemarin, juga kayanya pada ngeributin jiyeon bakal jadi sama siapa ya? Jujur sih aku udah sempat terpikir bakal gimana jadinya, tapi sekarang kok jadi bingung lagi ya, jiyeon bakal jadi sama salah satu dari ketiganya atau nggak sama sekali ._. Mungkin boleh minta saran dari kalian..

Comment please yes! Sarannya juga boleh kok~

145 responses to “[CHAPTER – PART 1] 15:40:45 – Surfeited

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s