DESTINY: OUR FATE. THE END? [PART 12]

Destiny real

Tittle : Destiny: Our Fate [PART 12]

Cast : Kim Myungsoo/L – INFINITE, Park Jiyeon – T -ARA , Bae Suzy – Miss A, Jung Soojung/Krystal – F(x), Jeon Jongkook – BTS, Oh Sehun – EXO, Son Naeun – A Pink, Kim Jongin/Kai  – EXO, Lee Junho  – 2PM, Im Nayeon  – 6Mixs

dditional cast :

Kim Taeyeon – SNSD – Kim Jonghyun – SHINee : Myungsoo’s parents

Kim Seokjin BTS

Nam Woohyun – INFINITE

Park Hyomin  – T-ara

Jeon Boram  T-ara

Bae Soobin– Actor – Wang Fei Fei – Miss A : Suzy’s Parents

Cho Kyuhyun – Super Junior – Choi Sooyoung  – SNSD : Sehun’s Parents

Genre : Sad, Romance, Drama, Married life 

Type : Series

 Rating : PG – 15 +

Author : Manda Kim & Park Niyeon

 Previous : 1 2  3 4 5 6 8A 8b 9 10A 10B 11

Summary : “Kami berpisah di awal, tapi siapa yang tau akan takdir tuhan nanti bukan?”

“HATI-HATI AKU RASA INI KEPANJANGAN HEHHE XD”

Ehh ini orang kenapa muncul lagi, setelah berminggu-minggu menghilang? gak taumalu nih orang beneran ckckck -.-
maafkan aku semuanya Readers dan Silent Readers tercintahhhh!! maafkan daku dan temanku yang baru apdet ini cerita absurd sekarang :””( kalo boleh jujur itu karena aku -alias Park Niyeon! mianhae :””( aku kemaren keasikan sama debutnya Jiyeon dan comebacknya infinite wkwk xD abis gitu aku juga ada UAS kemaren :”(. abis UAS aku kena writers block alias males nulis :””( setelah itu aku bdmood gegara di php-in cowok :””( abis itu aku keasikan main rp :””( jadi aja lama hahaha xD tapi tenang seperti biasa kami membawa part FF ini yang begitu sangaaaaaatttttttt panjang wkwk.. yaudahlah dari pada ngomong terus yukk kita baca wkwk xD

Happy Reading and Hope you like this story ^^

Don’t forget ti RCL ;)

Previuous 

“baiklah.. maksudku adalah” Myungsoo meliri kearah matahari yang sepertinya tinggal 20 detik lagi akan tenggelam “maukah kau menjadi isteriku, Jiyi-ah?

Jiyeon terkejut bukan main mendengar pernyataan pria ini.. mata Jiyeon benar-benar terbelalak sempurna.. bahkan tangisan gadis inipun mulai terhenti.

“i-iya.. aku mau Myungie-ah

Myungsoo tersenyum senang mendengar jawaban Jiyeon tersebut.. Myungsoo kemudian meraih cincin yang berlambangkan infinity tersebut.. kemudian memakaikannya ke jari manis Jiyeon. perlahan Myungsoo mulai beranjak dari posisinya kemudian menatap mata Jiyeon lekat. Myungsoo kembali melirik kearah matahari yang satu detik lagi akan benar-benar terbenam

“saranghae” ucap keduanya serempak

Matahari kini mulai menghilang dari pandangan –yang mengartikan kalau matahari tersebut kini sudah benar-benar tenggelam. Myungsoo perlahan mendekatkan wajahnya kewajah Jiyeon membuat Jiyeon memejamkan matanya. Wajah tampan Myungsoo terus mendekat kewajah Jiyeon… dan….

Chup…..

Merekapun berciuman mesra dengan penuh cinta yang tak terbatas dibawah matahari terbenam

Part 12

Myungsoo menuntun Jiyeon kembali kemeja makan bundar yang sudah ditatanya cantik setelah ia melamar sekaligus mencium bibir gadis cantik itu. Wajah Jiyeon terlihat menunduk karena malu –wajah cantik itu sebenarnya sudah sangat memerah dari tadi. sebuah senyuman manis sekaligus malu terukir diwajah cantik Jiyeon. tak jauh berbeda hal yang samapun terjadi pada wajah tampan Myungsoo, sedari tadi ia hanya menatap lurus kedepan, sembari terus menggenggam tangan Jiyeon. Myungsoo tidak berani menatap Jiyeon, karena malu dengan wajahnya yang memerah dan senyuman malu-malunya –padahal wajahnya ini terlihat sangat lucu dan imut. Myungsoo berhenti berjalan dan mulai menetralisirkan wajahnya yang memerah –dan ohhh tak lupa, iapun membenarkan senyumannya. Myungsoo menarik salah satu kursi yang tersedia dan mempersilahkan gadisnya untuk duduk disana. Jiyeon dengan senang hati mulai menuruti permintaan pria romantisnya ini.

“silahkan makan, nyonya kim.. aku harap masakanku ini tidak terasa buruk, mengingat aku baru belajar memasak satu minggu yang lalu” tutur Myungsoo, yang kini sudah duduk dihadapan Jiyeon. Jiyeon tak bisa menahan tawanya mendengar penuturan Myungsoo “wae? ada yang lucu?” tanya Myungsoo

Jiyeon perlahan menghentikan tawa kecilnya “mendengarmu memanggilku nyonya kim, terasa lucu..” jawab Jiyeon

“haha.. itu tidak lucu nyonya kim, karena gelar itu sebentar lagi akan melekat didirimu.. kau akan menjadi istriku! Milikku seutuhnya” ujar Myungsoo, dan Jiyeon hanya bisa tersenyum mendengarnya

“haha.. baiklah.. terserah kau.. aku sudah tak tahan untuk mencicipi masakanmu yang terlihat lezat dan tampan ini” mata Jiyeon terlihat berbinar memperhatikan setiap makanan yang terhidang tersebut

ya Dino! Bagaimana bisa matamu itu terlihat berbinar dan bahkan kau memuji makanan ini tampan, jelas-jelas lelaki didepanmu ini lebih tampan dari makanan! Aisshhh” Myungsoo mendorong pelan dahi Jiyeon

Jiyeon mengerucutkan bibirnya sembari mengusap dahinya “tidak! Makanan ini jauh lebih tampan darimu!” seru Jiyeon sembari menjulurkan lidahnya. Myungso mendengus kesal mendengarnya, sementara Jiyeon –gadis itu sedang asyik memanjakan matanya dengan masakan buatan calon suaminya itu –dan hal ini membuat Myungsoo semakin kesal “jal mokgesibnida!!” seru Jiyeon dengan riangnya –namun baru saja ia akan menyendok makananya.. Myungsoo sudah menyuapkan makanan kemulut Jiyeon, sampai-sampai mulut gadis itu penuh. Dengan bersusah payah Jiyeon mengunyahnya.. mata gadis itu menatap tajam seperti ingin menerkam Myungsoo yang saat ini tertawa puas. “YA!” teriak Jiyeon –dan seketika itu juga sumpit melayang dikepala Myungsoo.

“awwww” Myungsoo meringis memegangi kepalanya

“rasakan itu! Wle” dengan tanpa merasa bersalah Jiyeon menjulurkan lidahnya pada Myungsoo kemudian mulai melahap makanannya. Sesekali Jiyeon tertawa ketika memperhatikan wajah Myungsoo yang terlihat kesal.

“aishhh..” dengan jahilnya Myungsoo mencoretkan cream cupcake yang ada di meja makan ke wajah Jiyeon.

ya! Apa-apaan kau Kim Myungsoo!!” seru Jiyeon kesal namun Myungsoo tak memperdulikannya dan malah tertawa kemudian memakan cupcake nya “kubalas kau!” seru Jiyeon kemudian melempar cupcake kearah Myungsoo –dan “hahhaha” Jiyeon tertawa karena lemparannya berhasil mengenai wajah Myungsoo. cupcake tersebut kini menempel dihidung mancung Myungsoo

Myungsoo terdiam menahan kesal kemudian mengambil cupcake yang ada dihidungnya. “PARK JIYEON!!” Teriaknya yang hanya dibalas tawaan renyah Jiyeon yang terlihat puas mentertawakannya.

Begitulah makan malam itu mereka habiskan bersama dengan tawaan dan juga candaan. Hingga akhirnya merekapun kenyang sendiri dengan makanan-makanan tersebut.

“hah…” Jiyeon membuang nafasnya sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Sementara Myungsoo terlihat sedang meminum wine. Setelah meminumnya Myungsoo mengambil tissue kemudian membersihkan sisa makanan dimulutnya.tak lupa ia juga membersihkan wajah tampannya dari krim cupcake

“Jiyeon” panggil Myungsoo. Jiyeon hanya menoleh kearah Myungsoo. pria itu kemudian menarik kursinya kedekat Jiyeon setelah itu meraih wajah sang gadis, agar mendekat kearahnya. Jiyeon tersentak dengan perlakuan tiba-tiba sang calon suami. Dengan susah payah ia menelan ludahnya –jantungnya berpacu tak keruan, apalagi setelah melihat mata Myungsoo yang sepertinya hanya tertuju pada wajahnya. Dengan perlahan Myungsoo mengusap wajah Jiyeon dengan tissue –bermaksud untuk menghilangkan cream cupcake diwajah cantiknya. “kau benara-benar cantik, sayang” Myungsoo tiba-tiba tersenyum dan mengatakan hal manis itu pada Jiyeon setelah membersikahkan wajahnya dari cream cupcake. Dan lebih mengejutkannya lagi –pria itu memanggilnya ‘sayang’ ingat itu –Myungsoo memanggilnya ‘sayang’ baru kali ini ia mendengar Myungsoo memanggilnya dengan sebutan manis itu. Sejurus kemudian Jiyeon memejamkan matanya ketika Myungsoo mendekat kearahnya kemudian mencium keningnya cukup lama dan lembut. Mata indah Jiyeon kembali terbuka –setelah merasakan kalau Myungsoo sudah melepas ciuman dikeningnya. Oh tuhan, Jiyeon merasa akan mati sekarang juga begitu melihat senyuman hangat nan memikat diwajah tampan Myungsoo. “aku ada hadiah untukmu, sayang”Myungsoo berdiri dari duduknya kemudian mengulurkan tangannya pada Jiyeon. dengan senang hati Jiyeon memegang tangan Myungsoo yang terulur kemudian ikut berdiri

“hadiah apa?” tanya Jiyeon “Myungie, kau benar-benar sudah memberiku banyak hadiah hari ini”

Myungsoo hanya menanggapinya dengan senyuman kemudian membawa Jiyeon untuk masuk kembali kedalam filla “aku ingin kita berdansa, selain itu aku punya pesta kecil untuk merayakan hari jadi kita” Myungsoo menoleh kearah Jiyeon sebentar “dan aku ingin kau terlihat  sangat cantik malam ini, meski sebenarnya sekarangpun kau tetap cantik”

###

Gadis cantik bersurai coklat panjang dan bergelombang itu belum beranjak dari posisinya yang terduduk manis diatas sebuah ranjang berukuran cukup besar. Mata runcing nan indahnya tak pernah lepas untuk menatap kearah sebuah gaun cantik yang tergeletak disampingnya. Sedari tadi gadis cantik bernama Jiyeon ini masih merasa ragu untuk memakai gaun tersebut. Ya, hadiah yang dimaksud Myungsoo adalah gaun cantik itu –dan Myungsoo ingin Jiyeon memakai gaun itu malam ini, karena seperti yang Myungsoo katakana sebelumnya kalau ia ingin Jiyeon tampil sangat cantik dipesta itu. Meski, sesungguhnya Jiyeon tak tau apa pesta yang dimaksud pria tampan itu. Suara ketukan pintu berhasil mengalihkan perhatian Jiyeon dari gaun cantik berwarna hitam berlengan pendek dengan beberapa motif keemasan tersebut.

1911763_10152385332151684_1135725643473895463_n

“Jiyi-ah.. kau sudah mengganti pakaianmu?” terdengar suara Myungsoo dari balik pintu tersebut

“eeeuuhh..” Jiyeon terlihat bingung harus menjawab apa “sebentar lagi, Myung!!” jawab Jiyeon cepat. Dengan gerakan cepat Jiyeon segera meraih gaun 3cm diatas lutut tersebut.

Setelah selesai memakai gaunnya –Jiyeon segera berjalan kemeja rias, kemudian merias dirinya dengan bedak tipis, eyeliner, dan tak lupa ia juga mengenakan lip balm berwarna peach. Jiyeon mengambil sisir yang tergeletak diatas meja, kemudian menyisir rambut indahnya yang tadi sedikit berantakan. Setelah merasa dadanannya sudah sempurna –Jiyeon segera berjalan menuju pintu, dan membuka pintunya. Dan tiba-tiba

Brukk

“hahhahaha”

Myungsoo terjatuh tepat dibawah kaki Jiyeon –pria itu sedang bersandar pada pintu, dan ketika Jiyeon membuka cepat kunci itu Myungsoopun kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Jiyeon tertawa puas melihat Myungsoo yang terjatuh dibawah kakinya –tanpa berniat untuk membantu sang calon suami. Myungsoo meringis kesakitan dengan mata yang menyipit karena menahan sakit di tubuhnya. Tiba-tiba mata Myungsoo terbelalak begitu melihat sesuatu dibalik gaun Jiyeon. Myungsoo meneguk ludahnya –saat melihat hal tersebut. Tadinya ia akan marah-marah karena Jiyeon tak membantunya dan malah menertawakannya.. namun… kau mungkin mengerti apa yang Myungsoo lihat membuatnya jadi terdiam dan melongo karena tercegang. Dengan susah payah pria itu meneguk ludahnya sendiri

Jiyeon menghentikan tawaannya saat menyadari gelagat aneh Myungsoo yang sama sekali tak bereaksi ketika dia mentertawakannya. Mata indah Jiyeon kini memperhatikan lelaki dibawahnya itu kemudian mengikuti arah pandang Myungsoo hingga.. akhirnya iapun menyadari apa yang sudah membuat Myungsoo menjadi mematung

Ya! Kim Myungsoo!! apa yang sedang kau lihat!!” teriak Jiyeon sembari merapatkan ujung gaun kekakinya.

“a-aku tidak sengaja melihatnya!! Sungguh Jiyi-ah.. mian!!” pekik Myungsoo gelagapan..

Jiyeon memasang wajah garangnya kemudian mendekat kearah Myungsoo yang masih terduduk dibawah lantai. Myungsoo semakin memundurkan tubuhnya untuk menghindari Jiyeon yang terus mendekat kearahya dan menatapnya tajam sembari memasang wajah garangnya

“Kim Myungsoo!! kau akan menerima akibatnya!!” seru Jiyeon sembari menekankan setiap perkataannya membuat nyali  Myungsoo semakin menciut

“sungguh.. aku tidak sengaja!! Mian!!” Myungsoo terus meminta maaf pada Jiyeon hingga…

Dug..

Myungsoo sudah tak dapat lagi menghindari Jiyeon karena punggungnya kini sudah membentur tralis tangga.. karena posisi mereka saat ini ada dilantai dua Filla. Jiyeon tersenyum sarkatis penuh kemenangan begitu melihat Myungsoo sudah terpojok ditralis tersebut.

“mati kau Kim Myungsoo!” teriak Jiyeon dan mulai beraksi untuk menghajar Myungsoo

“Jiyi-ah.. awas dibelakangmu!!” teriak Myungsoo sembari menunjuk kearah belakang tubuh Jiyeon. usaha Myungsoo ini berhasil mengalihkan perhatian Jiyeon darinya. Gadis cantik itu mengalihkan perhatiannya kebelakang, namun tak menemukan apapun. Merasa mendapatkan kesempatan untuk kabur –Myungsoo segera beranjak dari posisinya kemudian berlari entah kemana asalkan terhindar dari Jiyeon

Ya! Kim Myungsoo!!” teriak Jiyeon yang kini semakin geram. Jiyeon berlari mengejar Myungsoo.

“hahaha.. kau kena tipuku!!” Myungsoo tertawa puas karena berhasil menipu Jiyeon dan juga melarikan diri dari gadis itu. Namun bukan Jiyeon namanya bila langsung menyerah begitu saja. Dengan penuh semangat Jiyeon mengejar Myungsoo.

Hap..

Akhirnya Jiyeon berhasil menangkap Myungsoo dengan cara menarik kerah jas belakang Myungsoo. dengan susah payah Myungsoo mencoba meneguk ludahnya ketika Jiyeon berhasil menangkapnya.

Jiyeon menyeringai “kena kau Tuan Kim” ucap Jiyeon sembari masih terus memasang seringaiannya

Namun tiba-tiba seringaian  diwajah cantik Jiyeon hilang begitu saja karena Myungsoo yang berbalik arah menatap kearahnya sembari memegangi kedua bahunya. Tubuh Jiyeon mematung ditempat akibat perlakuan mendadak Myungsoo tersebut. Jantung Jiyeon berpacu kencang, darahnya terasa berhenti mengalir, dan Jiyeon merasa sangat sulit untuk bernafas saat ini.

Kini giliran Myungsoo yang memasang seringaian begitu melihat Jiyeon yang sudah tak bisa melakukan apapun lagi. Perlahan Myungsoo mulai mendekat kearah Jiyeon kemudian menatap gadis itu dari pinggir “saranghae” bisik Myungsoo tepat ditelinga Jiyeon, membuat Jiyeon semakin terdiam tak bisa berkutik lagi “tapi sungguh aku tak sengaja melihatnya” tambah Myungso yang berhasil membangunkan Jiyeon dari ketidak sadarannya barusan

mwo?  Ya! Kim Yadong!!” teriak Jiyeon meluapkan amarahnya sembari menghajar Myungsoo sehingga Myungsoo meringis kesakitan namun tak lama setelah itu Myungsoo berhasil mengunci lengan Jiyeon dengan genggamannya. Jiyeon terpaksa harus kembali mematung

Myungsoo kembali mendekat ketelinga Jiyeon “kalau kau menghajarku lagi akan kucium kau.. dan tak akan pernah kulepaskan.”

Mata Jiyeon terbelalak sempurna begitu mendengar bisikan dari Myungso tersebut. Sejak kapan Myungsoo menjadi mesum seperti ini? Jiyeon menatap Myungsoo yang saat ini sedang tersenyum penuh kemenangan.

Myungsoo menoleh kearah jam dinding yang kini tepat menunjukkan pukul setengah Sembilan malam “kajja..” Myungsoo menggandeng lengan Jiyeon.. namun ditengah perjalanan Myungsoo berhenti melangkah kemudian memperhatikan Jiyeon “tunggu sebentar..” ucap Myungsoo kemudian berjalan meninggalkan Jiyeon dan masuk kedalam kamar yang baru saja Jiyeon gunakan untuk mengganti pakaian.

Jiyeon hanya terdiam ditempatnya Menunggu Myungsoo kembali. hingga tak lama kemudian Myungsoo datang kembali sembari melangkah dengan senyuman manis kearah Jiyeon. setelah Myungsoo ada dihadapan Jiyeon, ia segera berjongkok dihadapan gadis itu membuat Jiyeon  terkejut dan segera merapatkan gaunnya karena takut Myungsoo mengintipnya lagi.

ya! Kim Yadong!! Kau mau mengintip lagi!!” teriak Jiyeon

Tapi Myungsoo tak menanggapinya dan malah meraih kaki Jiyeon lalu membuka sepatu Jiyeon dan menggantikannya  dengan sepatu yang baru saja di bawanya. Jiyeon terpaku memperhatikan Myungsoo yang sedang memasangkan sepatu cantik berwarna hitam dan sedikit dipadukan dengan warna  emas yang senada dengan gaun yang tengah dipakainya.

“aku bukan pria yadong” cibir Myungsoo sembari berdiri menyamakan tingginya dengan Jiyeon “kau benar-benar sangat cantik, sayang” Myungsoo kembali tersenyum. Lagi-lagi Jiyeon termenung karena kata-kata manis yang terucap dari bibir Myungsoo “kajja..” Myungsoo menggandeng tangan Jiyeon –membuat Jiyeon tersadar dari hipnotis kata-kata manis Myungsoo.

###

Cahaya remang-remang lampu dan juga bulan serta bintang berhasil membuat malam diluar filla tersebut terlihat indah. Jiyeon kembali dibuat kagum dengan apa yang baru saja dilihatnya ketika keluar dari filla. Mata Jiyeon kini menatap wajah tampan Myungsoo yang terlihat manis dan tampan. Tanpa disadarinya seulas senyuman terpancar diwajah cantiknya.

“Jiyeon-ah” Myungsoo menghentikan langkahnya begitu sampai didepan gapura kemudian berbalik menatap Jiyeon “tutup matamu”

“eh? Kenapa?”

“kau akan tahu nanti “ Myungsoo berjalan kebelakang tubuh Jiyeon kemudian menutup mata gadis itu. “kau percaya padaku?” Jiyeon menganggukan kepalanya begitu mendengar pertanyaan Myungsoo tersebut “kalau begitu kau ikuti semua yang kuucapkan.. aku akan menuntunmu”

Myungsoo terus menuntun Jiyeon memasuki taman hingga kini mereka sudah ada didepan meja makan bundar yang tadi sempat mereka pakai untuk makan bersama. Kali ini meja tersebut bersih, rapi, dan apik dengan hiasan bunga mawar putih dan juga lilin-lilin yang mengeluarkan harum bunga mawar yang memanjakan penciuman.

“apakah sudah sampai?” tanya Jiyeon

Myungsoo menjawab pertanyaan Jiyeon dengan sebuah anggukan meski ia tahu kalau Jiyeon tidak akan melihatnya. Perlahan Myungsoo melepas lengannya yang menutupi mata Jiyeon. kelopak mata Jiyeon masih tertutup hingga perlahan Jiyeonpun mulai membuka kelopak mata indahnya. Jiyeon terkesima ketika ia membuka mata ia melihat taman ini semakin terlihat indah dengan hiasan lilin, mawar, dan beberapa lampu kerlap-kerlip. Mata Jiyeon kini tertuju pada atas podium taman yang memperlihatkan sebuah meja panjang dengan beberapa jenis makanan manis dan juga minuman. Jiyeon semakin melebarkan matanya begitu melihat sekumpulan foto dirinya yang tertata apik membentuk tanda hati diatas podium, tepatnya  dibalik meja panjang berisi makanan manis dan juga minuman. Jiyeon membalikan tubuh rampingnya mencoba untuk menatap orang yang sudah memberikan banyak kejutan manis padanya hari ini. Dilihatnya Myungsoo hanya tersenyum kearahnya.

“kau menyukainya?” tanya Myungsoo

“tentu.. aku sangat sangat sangat menyukainya” Jiyeon menangis haru kemudian memeluk tubuh Myungsoo “gomawo.. gomawo Myungsoo-ah.. saranghae” ujar Jiyeon ditengah  isakannya membuat Myungsoo semakin mengembangkan senyumannya.

Myungsoo mengusap-ngusap punggung Jiyeon “ini belum seberapa.. kau belum melihat kejutan lainnya”

Jiyeon melepaskan pelukannya dari Myungsoo kemudian menenggak menatap pria tampan penuh kejutan tersebut “ini belum selesai? Masih ada lagi?”

Myungsoo tersenyum begitu melihat ekspresi terkejut Jiyeon “tentu saja.. mendapatkanmu sangatlah sulit.. untuk itu aku membuat ini semua” Myungsoo mengusap rambut Jiyeon pelan seraya memasang senyuman manisnya. “kajja..” Myungsoo menarik lengan Jiyeon kearah sekumpulan foto Jiyeon yang tertata apik membentuk tanda hati. “coba kau pegang”

Awalnya Jiyeon merasa ragu untuk memegangnya sehingga ia hanya menatap kearah Myungsoo. namun, pada akhirnya iapun mulai meraih sekumpulan foto itu namun ternyata tangannya tembus kebelakang sekumpulan foto tersebut. “Myung..” Jiyeon mengkerutkan keningnya heran seraya menatap kearah Myungsoo

“itu hanya hologram..”

“hologram?”

“eoh.. itu melambangkan sosok dirimu yang kucinta namun sulit untuk ku raih.. tapi..” Myungsoo kembali meraih tangan Jiyeon turun dari podium kemudian membawanya melewati meja makan bundar yang tertata apik dan rapi. “coba kau pegang yang ini” titah Myungsoo menunjuk kumpulan foto Jiyeon yang berbentuk lambing infinity

“apa ini juga hologram?” tanya Jiyeon

“kau pastikan saja sendiri”

Jiyeon mulai mengalihkan tatapannya dari Myungsoo ke sekumpulan foto tersebut sembari menggerakkan tangannya untuk menyentuhnya. Ternyata yang ini nyata. Kini, Jiyeon beralih menatap Myungsoo mencoba untuk menanyakan apa maksudnya, karena biasanya selalu ada arti dibalik apapun yang Myungsoo siapkan untuknya

“tapi karena cintaku yang tak terbatas akhirnya aku dapat mendapatkanmu” ujar Myungsoo seakan tahu maksud tatapan yang diberikan gadis itu. Jiyeon kembali tersenyum kemudian memeluk pria itu

“Myung… aku benar-benar gadis yang beruntung bisa dicintai pria sepertimu” ucap Jiyeon

Mereka melepas pelukan “aku lebih beruntung lagi karena mendapatkan gadis yang cantik dan berhati mulia meski terlalu polos sepertimu” balas Myungsoo sembari mencolek hidung Jiyeon gemas. Keduanya kemudian tertawa bersama “kajja.. kita nikmati malam ini sambil duduk disana” ajak Myungsoo sembari menggandeng Jiyeon untuk duduk di kursi yang tersedia diantara meja bundar. “silahkan.. calon isteriku” ujar Myungsoo mempersilahkan Jiyeon untuk duduk terlebih dahulu. Jiyeon terkeukeuh geli sekaligus bahagia mendengar ucapan Myungsoo.

“Myungie-ah.. bolehkan aku bertanya?” tanya Jiyeon sesaat setelah mereka sudah duduk berhadap-hadapan. Myungsoo mengangguk memperbolehkan “kenapa kau menyukaiku?” tanya Jiyeon “padahal kau bisa mendapatkan gadis yang lebih baik dariku”

“kau lihat berbagai bunga mawar putih yang ku taruh dan kutaburkan disepanjang jalan taman ini?” bukannya menjawab Myungsoo malah balik bertanya. Jiyeon menjawab dengan anggukan “cintaku tulus seperti warna mawar putih tersebut yang melambangkan ketulusan..” jelas Myungsoo “dan cinta yang tulus tidak perlu alasan..”

Jiyeon kembali terkeukeuh pelan mendengar jawaban dari Myungsoo “dari mana kau belajar menjadi pria manis, eoh?”

“entahlah.. setiap melihatmu semua hal yang manis mengalir begitu saja” ujar Myungsoo menjawab pertanyaan Jiyeon “mau melihat bintang?” tanya Myungsoo yang disambut anggukan oleh Jiyeon “kajja.. aku sudah menyiapkan teleskop” Myungsoo mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh tangan Jiyeon

Mereka berjalan menuju ujung taman yang tanahnya sedikit curam kebawah. Terihat sebuah teleskop sudah tersaji di ujung taman dekat curaman tersebut. Jiyeon mulai memegang teleskop tersebut dan mencari bintang yang indah. “Myung.. bintangnya indah dan terang sekali ya” ujar Jiyeon

“tentu.. karena masa depan kita sudah terang sekarang.. bukankah aku mengatakan kalau masa depan kita terang seperti bintang ditengah kegelapan?”

Jiyeon tak menggubris ujaran manis Myungsoo. ia masih asyik memandangi kumpulan bintang yang bersinar terang, Seakan tahu kalau malam ini adalah malam terindah untuk Myungsoo dan Jiyeon. sementara Myungsoo ia hanya terdiam memperhatikan Jiyeon yang terlihat sangat bahagia sekarang ini. Akhirnya, impian dan ambisinya untuk melihat dan membuat Jiyeon bahagia dapat tercapai juga. Myungsoo berjalan mendekati Jiyeon kemudian melepaskan jasnya dan memasangkannya ketubuh Jiyeon. gadis itu tersentak mendapati Myungsoo yang memakaikan jas ketubuhnya. Ia mengalihkan perhatiannya dari teleskop kesosok tampan yang tak kalah bersinar dari bintang

“gomawo” ujar Jiyeon sembari memberikan senyumannya. Jiyeon menjinjitkan tubuhya kemudian mencium lembut pipi Myungsoo. membuat pipi sang pria yang baru saja diciumnnya itu menjadi memerah. Senyuman terukir diwajah Jiyeon setelah mencium pipi Myungsoo. sementara Myungsoo terlihat mematung ditempatnya dengan bibir yang menyunggingkan senyuman “saranghae” ucap Jiyeon yang berhasil menyadarkan Myungsoo

nado.. bahkan aku lebihhh.. mencintaimu” balas Myungsoo

“aku terlebih sangat mencintaimu…”

“aku terlebih terlalu sangat sangat mencintaimu”

“aku terlalu terlebih benar-benar sangat-sangat mencintaimu” ujar keduanya serempak. Mereka kemudian tertawa ringan penuh kebahagiaan mendengar ucapan yang menjadi akhir perdebatan soal siapa yang lebih mencintai satu sama lain.

“Jiyi sayang, ayo kita berdansa” ajak Myungsoo

Jiyeon membulatkan matanya “dansa? Shireo

“wae?”

“aku tidak bisa berdansa”

Myungsoo tersenyum “akan kuajarkan” Myungsoo meraih lengan Jiyeon kemudian mengalungkan lengan Jiyeon dilehernya –kemudian dengan secepat kilat Myungsoo menarik pinggang Jiyeon kedekatnya –sehingga kini jarak mereka sangatlah dekat. Bahkan Jiyeon sampai menahan nafasnya karena terkejut dengan jarak mereka yang hampir tak ada jarak. Jiyeon dapat merasakan hembusan nafas pelan nan menenangkan milik Myungsoo. “aku paling senang melihat wajah cantimu sedekat ini”

Jiyeon tak dapat berkata-kata lagi, pipinya benar-benar merona sempurna dan memanas sekarang –karena takut Myungsoo melihatnya, Jiyeon segera menyembunyikan wajahnya kedada Myungsoo –membuat pria itu tertawa pelan. “kau malu? Jangan malu sayang”

“Myungsoo berhenti berkata manis. Aku lebih baik mendengarmu mengejekku!!” teriak Jiyeon dari balik dada bidang Myungsoo. tawa Myungsoo semakin melebar meski ia masih tetap bisa mengontrol tawanya.

Suasana hening sejenak. Jiyeon dapat mendengar degupan jantung Myungsoo dari posisinya saat ini. “bagaimana detak jantungku? Merdu bukan?” tanya Myungsoo. Jiyeon mulai mengangkat wajahnya –memberanikan diri menatap wajah Tampan Myungsoo “detak jantung seperti itu hanya aka terdengar bila aku ada disisimu, Jiyi sayangku” Myungsoo mengecup kilas bibir Jiyeon –membuat sang empunya mematung. “kajja kita mulai berdansa”  Mereka berdua kini mulai berdansa bersama diiringi lagu klasik yang terdengar menenangkan. Myungsoo terus menuntun Jiyeon bergerak kekanan –kekiri, kedepan-dan kebelakang. Selama berdansa Jiyeon tidak berani menatap Myungsoo dan hanya menatap pundak pria itu. “Jiyi sayang, lihatlah mataku” pinta Myungsoo lembut –Jiyeon sebenarnya enggan menatap pria itu. Ia malu sekali. Namun pada akhirnya iapun memberanian diri menatap Myungsoo. “kau tidak ingin memujiku? Sedari tadi selalu aku yang memujimu”

“jadi itu alasanmu” ujar Jiyeon “kau memujiku karena ingin dipuji juga?”

“bukan begitu, yasudah tidak usah memujiku kalau kau tidak mau” Myungsoo terlihat memaksakan untuk tersenyum sekarang

“kau tampan, Myungie.. sangat tampan.” Mendengar pujian pertama dari mulu Jiyeon membuat senyuman Myungsoo merekah sempurna “kau pria yang baik, pengertian, dan juga manis.. aku suka” ujar Jiyeon kemudian mengecup pipi Myungsoo.

senyuman pria itu kini semakin merekah saja. “saranghae” Myungsoo berhenti bergerak kemudian menarik tengkuk Jiyeon untuk mencium bibirnya. Namun…..

“Appa… Eomma”

Suara teriakan yang terdengar seperti teriakan Jisoo dan Jihun berhasil menggagalkan niat Myungsoo untuk mencium bibir Jiyeon –padahal tadi tinggal selangkah lagi bibir mereka akan menyatu. Myungsoo dan Jiyeon dengan cepat memberikan jarak diantara tubuh mereka. Dan benar saja, Jisoo dan Jihun sedang berlari kearah mereka yang disusul oleh Taeyeon, Sooyoung, Kyuhyun, Naeun, Jungkook, Krystal, Jongin dan Junho yang berjalan dibelakang anak-anak tersebut.

Jiyeon mengkerutkan alisnya melihat mereka semua datang kemari menyusul mereka. Mata Jiyeon kini tertuju kearah Myungsoo yang berada disampingnya. “a-ada apa ini, Myung?” tanya Jiyeon heran

“ini pesta yang kumaksud, Jiyi ku sayang” Myungsoo menggandeng Jiyeon mendekati mereka semua tanpa menjawab pertanyaan Jiyeon sebelumnya. Jiyeon tampak pasrah dan juga heran ketika Myungsoo menggandengnya. “Jisoo-ah.. Jihun-ah” Myungsoo melepaskan gandengan tangannya pada lengan Jiyeon kemudian berjongkok dihadapan kedua anak kecil yang manis itu.

“ehemm.. selamat Jiyeon Eonni” ujar Naeun sembari tersenyum kearah Jiyeon. Naeun kemudian menyenggol Jungkook pelan

Jungkook berdeham “se-selamat Noona-ya” ujar Jungkook terdengar terpaksa untuk memberikan nada suara yang terdengar riang

“Selamat Jiyeon-ah” kali ini Soojung yang mengucapkan selamat

“chukkae….” Teriak Jongin menyusul

chukkae.. semoga kalian bahagia” ujar Junho sembari memasang senyumannya

“selamat untuk kalian berdua.. Jiyeon-ah.. kalau Myungsoo menyakitimu.. beri tahu Eommonim” ujar Taeyeon

chukkae..Appa harap kau akan jauh lebih bahagia, Jiyeon-ah” seru Kyuhyun

Dengan wajah datarnya, Sooyoung berjalan mendekati Jiyeon yang sedang kebingungan karena mendapatkan banyak ucapan selamat yang tidak ia mengerti “berbahagialah dengan Myungsoo.. Eomma selalu mendoakan yang terbaik untukmu” ujar Sooyoung sembari menepuk-nepuk pundak Jiyeon, membuat gadis itu semakin kebingungan

“ma-maksud kalian ini apa?” tanya Jiyeon heran

Eonni.. kau dan Myungsoo Sunbae.. akan menikah minggu depan” teriak Naeun yang seketika itu juga membuat mata Jiyeon terbelalak. Ia mengalihkan perhatiannya kearah Myungsoo yang saat ini hanya tersenyum

“mi-minggu depan?!!” kaget Jiyeon “kau harus menjelaskan semua ini.. Tuan Kim” geram Jiyeon menekankan setiap perkataannya.

“aku sudah meminta restu pada semuanya untuk menikahimu minggu depan.. dan tadi pada saat kau mengganti pakaian aku menghubungi mereka semua untuk ikut merayakan malam yang membahagia ini” jawab Myungsoo

“Myung.. ini terlalu mendadak!!”

“kita sudah terlalu lama berpisah dan melewati banyak masalah.. so, aku rasa ini tidak mendadak”

“Kim Myungsoo!!”

“Jiyeon-ah.. kau seharusnya bahagia sekarang, benar apa kata Myungsoo” ucap Sooyoung membela Myungsoo “dan sebenarnya.. tanpa kau ketahui, Myungsoo selalu datang kepadaku untuk memohon agar ia bisa menikahimu..tapi aku selalu menolaknya.. namun karena melihat perjuangannya dalam mendapatkanmu.. akhirnya aku menyetujuinya” jelas Sooyoung yang membuat Jiyeon terkejut dibuatnya, ia tak menyangka kalau selama ini Myungsoo terus berusaha untuk mendapatkannya. Ia menatap Myungsoo yang saat ini hanya tersenyum ringan kearahnya

ne, Eonni.. lebih cepat lebih baik” teriak Naeun menambahkan

“benar Jiyeon-ah.. apalagi kalian juga sudah memiliki Jisoo dan Jihun” ujar Taeyeon.

Jiyeon memijat kepalanya yang terasa pusing kemudian menatap satu persatu wajah mereka semua yang hadir pada malam itu.

“baiklah kalau begitu mari kita merayakan malam ini…” seru Myungsoo yang disambut sorakan dari yang lainnya terkecuali  Jiyeon. Mereka semua kini berlari menuju makanan manis yang tersedia diatas podium. Jiyeon terlihat masih memasang wajah heran sekaligus terkejutnya. Myungsoo berbalik menatap gadis tersebut kemudian tersenyum “Jiyi-ah” panggil Myungsoo sembari menggenggam tangan Jiyeon, membuat sang empunya tangan tersentak kemudian berbalik menatapnya

“bagaimana bisa kau memberitahu dan mendapatkan restu dari mereka tanpa aku tahu?” tanya Jiyeon

“itu tidak penting karena sekarang mereka sudah merestui kita” jawab Myungsoo terdengar ringan “awalnya sangat sulit mendapatkan restu dari kedua orang tua Sehun alias mertuamu”

“lalu jikalau begitu kenapa sekarang mereka merestui kita?”

Myungsoo menghela nafas pelan kemudian tersenyum “ketika aku membaca surat dari Nichkhun dan Sohee aku menemukan kata yang sama dari mereka… yaitu” Myungsoo menjeda perkataannya “kau akan berjuang untuk Jiyeon nanti..” sambung Myungsoo “dan ternyata yang dimaksud kata-kata mereka tersebut adalah berjuang untuk mendapatkan restu kedua mertuamu” jelas Myungsoo “selama 2 minggu sebelum malam ini aku terus meminta persetujuan kedua mertuamu hingga akhirnya merekapun merestui hubungan kita dengan bantuan Jihun tentunya”

“kenapa kau tidak memberitahuku? Kalau begitukan kita bisa berjuang bersama”

“aku tidak ingin membuatmu murung lagi karena masalah restu itu.. sehingga aku memperjuangkannya sendiri.. dan itulah alasan mengapa aku selalu bersikap manis padamu.. tapi tak pernah meresmikan hubungan kita.. karena aku ingin mendapatkan restu dari kedua mertuamu dulu”

“Myungie-ah…” Jiyeon kini berhambur kedekapan Myungsoo. sungguh ia benar-benar merasa menjadi wanita paling beruntung dimuka bumi ini.

saranghae..Jiyi-ah” bisik Myungsoo tanpa melepaskan pelukannya ditubuh Jiyeon

nado saranghae Myungie-ah” balas Jiyeon yang kini semakin mengeratkan pelukannya ditubuh Myungsoo.

###

Siang itu dilorong rumah sakit, seorang gadis dengan rambutnya yang diikat satu tampak berlari menyusuri koridor. Ia terus berlari sekencang yang ia bisa hingga..

Brakk

Gadis itu menabrak  seseorang yang baru saja keluar dari sebuah ruangan. Gadis yang diikat satu tersebut terjatuh kelantai dengan posisi terduduk. Ringisan-ringisan kecil mulai terdengar keluar dari mulutnya. Ia menenggak dan mendapati seorang Dokter tampan yang kemarin menolongnya untuk mendapatkan pekerjaan, kini sedang berdiri dengan wajah datarnya sembari menatap kearahnya.

“gwenchana?” tanya Junho si Dokter tampan yang tadi ditabrak oleh gadis ikat satu tersebut. Junho mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri

“eo-eoh?” gadis itu terlihat gelagapan sekarang, ia menatap tangan Junho yang terulur kemudian menanggapi uluran tangan Junho “go..gomawo Dokter Lee” ujar gadis tersebut setelah kini ia sudah berdiri tegak. Junho mengangguk kemudian mulai melangkahkan kakinya meninggalkan gadis itu “Dokter.. Lee.. Jeosonghaeyo.. aku tidak sengaja menabrakmu..” teriak gadis itu yang berhasil menghentikan langkah Junho, sehingga pria tersebut kini kembali menatap kearahnya

“tidak apa-apa, Na… Nayeon-ssi?” ujar Junho yang terlihat mengingat-ngingat nama gadis ikat satu ini

Senyuman mengembang begitu saja dibibir gadis ikat satu bernama Nayeon ini “ne.. sekali lagi terima kasih dan maaf Dokter Lee” Nayeon membungkukkan tubuhnya

“Junho-ya!!” seorang gadis cantik memanggil nama Junho, membuat Junho teralihkan dari Nayeon kegadis tersebut. Gadis cantik ini adalah Soojung –ia kini berlari mendekati Junho “mau makan siang bersama?” tanya Soojung sembari menggandeng tangan Junho dan tersenyum kearahnya. Wajah Nayeon yang tadi berseri-seri kini terlihat kusut setelah kedatangan Soojung

“makan? Dengan Jongin tidak? Kalau tidak ada Jongin aku tidak mau!!” jawab Junho

“kenapa harus Jongin?” Soojung mengerucutkan bibirnya begitu mendengar nama Jongin

“aku hadir Hyung!” teriak Jongin yang tiba-tiba datang begitu saja, membuat kerucutan dibibir Soojung semakin bertambah. Jongin melepaskan tangan Soojung yang merangkul Junho

Soojung  jadi geram karena kelakuan Jongin ini “Ya!!” teriak Soojung

Jongin tak menggubris teriakan geram Soojung dan malah merangkul Junho “Kajja Hyung!!” ajak Jongin.. mereka berduapun pergi meninggalkan Soojung yang semakin geram

“aishh.. apa-apaan pria itu?! Akukan yang mengajaknya duluan” gerutu Soojung kesal. “ya! Tunggu aku!!” Soojung kini berlari menyusul mereka

Nayeon masih berdiri ditempatnya sembari memperhatikan ketiga orang tadi. “siapa gadis itu?” tanya Nayeon dengan berbisik pada dirinya sendiri. Tiba-tiba wajah murung Nayeon kini kembali berseri-seri. Ia menggaruk tengkuknya “sudahlah.. yang penting Dokter Lee mengingat namaku..” gumamnya sembari menangkup kedua pipi tembamnya.

###

Never ever pogi mothaeyo
Never ever na ireoke
hanja hanja cheokeo nae janha ni ireumeul ddo

Never ever sume myeon andwae
never ever tteonajimayo
sumdo swiji mothae neo eobshin ill bun ill cheorado

Alunan Musik dari Jiyeon T-ara-Never Ever yang berasal dari pemutar musik café terdengar meramaikan acara makan siang Junho, Soojung, dan Jongin di sebuah café yang terletak tidak jauh dari rumah sakit. Mereka tampak sedang melahap makanan yang mereka pesan masing-masing. Soojung mengambil alih jus strawberry pesanannya kemudian menyeruputnya sedikit

“aku.. mau ke toilet dulu..” ucap Soojung kemudian beranjak dari tempatnya menuju toilet

Jongin menghentikan acara makannya kemudian menatap kearah Junho “Hyung..” panggilnya

Junho yang mendengar panggilan Jonginpun segera menghentikan acara makannya, kemudian menatap kearah Jongin penuh tanya.. “wae?”

“ini masalah Soojung” ucap Jongin yang membuat wajah Junho menjadi sedikit kusut “kau menyukai Soojung?” tanya Jongin kemudian

Junho menghela nafas pelan kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi “memang kenapa kalau aku menyukai Soojung?” Junho tak mengindahkan pertanyaan Jongin

Hyung.. kau tahu aku menyukainya..”

“aku tahu..” sahut Junho “jadi, kau merasa tersaingi?”

“tentu saja, apalagi kau ada masa lalu dengan Soojung.. dan pastinya Sojung akan lebih gampang membuka hatinya untukmu”

Tanpa mereka sadari Soojung kini sudah kembali dari toilet dan berhasil mendengar ucapan Jongin barusan. Gadis itu memilih untuk tidak menghampiri mereka dan malah bersembunyi dibalik tembok –agar ia dapat mendengar kelanjutan pembicaraan kedua pria tersebut

Junho kembali menghela nafas “bukankah sebelumnya aku pernah bilang padamu kalau aku mempercayakan Soojung padamu?” tanya Junho yang langsung mendapatkan anggukan dari Jongin. Soojung terpaku mendengar ujaran yang keluar dari mulut Junho.. jadi selama ini….? “jadi, untuk apa kau khawatir kalau aku akan menjadi pesaing beratmu?” Junho meraih Jus jeruknya kemudian menyeruputnya

“lalu.. bagaimana dengan permintaan terakhir Suzy waktu itu?”

Junho menghentikan seruputannya dan untuk kesekian kalinya ia menghela nafasnya –tapi kali ini terdengar lebih berat “Suzy.. tidak memintaku untuk bersama Soojung..” ucap Junho yang seketika itu juga membuat alis Jongin maupun Soojung yang sedang menguping diam-diam dibalik tembok mengkerut “ia hanya memintaku untuk menjaga Soojung..” jelas Junho “jadi,  jika kau benar-benar menyukai Soojung.. maka rebutlah hatinya!! Dan jangan sampai kau menyakitinya.. karena jika sampai itu terjadi.. kau harus berhadapan denganku!!”

Senyuman terukir jelas diwajah Jongin setelah mendengar ujaran Junho tersebut “kau tenang saja Hyung.. aku akan merebut hati Soojung..” ujar Jongin yang membuat Junho ikut menyunggingkan senyumannya “dan aku tidak akan menyakitinya! Justru aku akan menjaganya melebihi kau menjaganya!!”

Junho menepuk-nepuk pundak Jongin “ini, baru adik sepupuku” ucap Junho

Soojung menghela nafasnya setelah mendengar percakapan terakhir kedua saudara sepupu itu. Kaki Soojung mulai melangkah mendekati meja Junho dan Jongin kemudian duduk ditempatnya semula –yaitu ditengah-tengah kedua pria tersebut. Junho segera melepaskan tangannya dari bahu Jongin setelah kedatangan Soojung –mereka terlihat gelagapan saat ini. Soojung kini menatap kearah dua pria tersebut bergantian

“kenapa dengan kalian?” tanya Soojung

“tidak ada.. apa-apa.. ayo, makan lagi” seru Jongin sembari menyendok makanan Soojung kemudian mengarahkannya kemulut kecil Soojung “ayo.. buka mulutmu chagi” titah Jongin yang seketika itu juga mendapatkan tatapan mengerikan dari Soojung

“shireo!!” pekik Soojung menolak

“ayo.. buka.. kalau tidak aku akan menciummu, chagia

“mwo??” Soojung melebarkan matanya sekaligus membuka lebar mulut kecilnya setelah mendengar ujaran Jongin tersebut.. dan….

Hap

Makanan yang disuapkan Jongin untuk Soojung –berhasil masuk kedalam mulut kecil Soojung.

“ya!.. ige mwoya?” teriak Soojung kesal membuat  Junho maupun Jongin tertawa terbahak-bahak –karena melihat tingkah lucu gadis ini.

“kau telan dulu saja, chagia.. kekkekekke” seru Jongin yang diselingi gelak tawanya. Membuat Junho merasa perutnya terkocok. Pria bermata sipit tersebut tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucu Jongin dan Soojung

Sementara Soojung terlihat mengunyah asal makanan dimulutnya. Soojung kini berlalih menatap Junho yang masih asyik tertawa.. tatapan Soojung kali ini terlihat misterius.. seperti tatapan sedih.

###

“hai…” dengan senyumannya Naeun telihat menyapa dan menghampiri Jungkook yang saat ini sedang termenung dikursi panjang yang terdapat dihalaman belakang kampus mereka. Jungkook melirik Naeun sejenak yang saat ini sedang mengambil tempat disampingnya “kau sedang memikirkan apa?” tanya Naeun dengan senyum yang sepertinya tidak pernah pudar

Jungkook tak menjawab pertanyaan Naeun dan malah menatap gadis itu datar.. membuat Naeun menjadi salah tingkah “memikirkan teka tekimu” jawab Jungkook “bisakah kau menjelaskannya lagi?”

Naeun menelan ludahnya kemudian menghela nafasnya..jadi selama ini Jungkook belum menyadarinya juga? Ini sudah hampir satu bulan dari hari dimana ia memberikan teka-teki pada Jungkook. “aishh.. sudahlah lupakan teka-teki itu kalau kau tidak bisa menebaknya!!” seru Naeun sedikit kesal

“eh? Kenapa? Itu suatu tantangan untuk otakku”

“pokoknya sekali kubilang lupakan..ya lupakan!!” teriak Naeun kesal kemudian beranjak dari posisinya untuk meninggalkan Jungkook. Namun, ternyata Jungkook malah menahan tangannya

“kau mau kemana?” tanya Jungkook dengan wajah polosnya. Naeun menatap kearah Jungkok dengan tatapan yang terlihat sedih sekaligus kesal, gadis ini kemudian melepaskan tangan Jungkook yang mengenggamnya sedikit kasar. Setelah terlepas dari gengaman Jungkook, Naeun berlari meninggalkan jungkook.  “Naeun-ah” teriak Jungkook kemudian beranjak dari duduknya dan berlari mengejar Naeun, hingga akhirnya ia berhasil mengejar Naeun.Jungkook menarik paksa lengan Naeun hingga dengan sendirinya tubuh Naeun berbalik kearahya. Jungkook tercekat melihat mata Naeun yang berkaca-kaca menahan tangis. “kenapa kau marah?” tanya Jungkook dan lagi-lagi dengan kepolosannya.

“a-aku.. tidak marah..” Naeun mencoba untuk melepaskan tangan Jungkook yang menggenggam pergelangan tangannya kuat. “tolong lepaskan tanganku.. Jungkook-ah” pinta Naeun, namun Jungkook tak menurutinya dan malah menatap gadis itu yang terus berusaha melepaskan tangannya. Akhirnya air mata yang sedari tadi Naeun tahanpun turun..

“kau menangis?” tanya Jungkook sembari memperhatikan wajah Naeun yang dibasahi oleh air matanya. Naeun menggeleng –meski kenyataannya adalah kebalikannya. Naeun berlari menghindari Jungkook begitu merasakan genggaman Jungkook sudah meregang. Jungkook kembali mengejar Naeun kemudian pria berwajah kekanakan itu, kini memeluk Naeun dari belakang setelah berhasil mengejarnya. Dan bersamaan dengan Jungkok yang melingkarkan lengannya di tubuh Naeun –air mata meluncur semakin deras dari mata Naeun  “mianhae..” ujar Jungkook berbisik sembari mengeratkan pelukannya di tubuh Naeun

“lepaskan!!” pekik Naeun sembari meronta mencoba melepaskan lengan Jungkook yang melingar ditubuhnya, namun Jungkook tetap memeluknya dan semakin mengeratkan pelukannya

“biarkan dulu.. seperti ini.. jebal” ujar Jungkook terdengar memohon.. Naeun terus meronta, dan air mata semakin banyak mengalir kepipinya..

Keduanya, kini terdiam dengan posisi Jungkook yang memeluk Naeun. hangat dan nyaman –itulah yang keduanya rasakan saat ini. Naeun benar-benar tak bisa berkutik karena saking merasa nyamannya dengan pelukan Jungkook ditubuhnya –padahal jauh dibenak Naeun, ia ingin melepaskan pelukan tersebut kemudian berlari meninggalkan Jungkook. Namun, apa daya.. perasaannya menolak

###

“Myungsoo.. tunggu dulu..” Jiyeon menghentikan Myungsoo yang sedari tadi menariknya. Jiyeon menarik nafas sembari menutup matanya kemudian membuangnya perlahan.

“apa yang sedang kau lakukan?” tanya Myungsoo yang sedari tadi hanya menatap Jiyeon heran

“aku gugup..” ujar Jiyeon sembari menundukan wajahnya

“mengapa kau jadi gugup eoh? Ini hanya pemotretan pre-wedding” ujar Myungsoo sembari menunjukan senyumannya

“euhh.. itu..”

Chup~

Myungsoo mencium singkat kening Jiyeon, membuat gadis yang diciumnya itu mematung “ada aku.. tidak ada yang perlu kau takuti” ujar Myungsoo mencoba meyakinkan Jiyeon.

ya! Kalian!! Sedang apa?” teriak Woohyun sembari menghampiri keduanya “Kim Myungsoo! kau sebentar lagi akan menikahinya.. jadi bersabarlah dulu…”

“aihh.. kau ini bicara apa, eoh?” seru Myungsoo kesal

“Annyeong..” seorang wanita cantik, tinggi, dan ramping tampak menghampiri mereka sembari memasang senyuman manisnya. Jiyeon mematung ditempatnya begitu mendapati sosok cantik yang menurutnya sangat cantik bagaikan bidadari “kau Park Jiyeon?”tanya wanita cantik itu sembari terus memasang senyuman manisnya

tersadar dari kekagumannya akan sosok wanita cantik didepannya –Jiyeon segera mengangguk membenarkan pertanyaan yang terlontar dari bibir tipis wanita cantik itu “ne.. a-aku Park Jiyeon” ujar Jiyeon memperjelas anggukannya sembari membungkuk

Senyuman wanita cantik yang mana adalah Park Hyomin ini semakin merekah melihat tingkah Jiyeon “kenalkan.. aku Park Hyomin” Hyomin mengulurkan tangannya didepan Jiyeon

Jiyeon mematung sembari menatap tangan Hyomin yang terulur.. ia tak menyangka kalau akan ada artis cantik yang mana pada saat ini sering muncul dilayar kaca dan digilai banyak orang –kini memintanya untuk berkenalan. Jiyeonpun membalas uluran tangan Hyomin “ternyata anda jauh lebih cantik dari yang saya lihat di TV” ujar Jiyeon polos

“haha.. tentu saja.. wanita cantik ini adalah kekasihku” Woohyun merangkul Hyomin membuat Hyomin, Jiyeon dan Myungsoo terbelalak kaget

“mwo?!” pekik Jiyeon dan Myungsoo berbarengan

wae? apa ada yang salah?”

“kau.. tidak mengaku-ngaku kan Woohyun-ah?” tanya Myungsoo dengan nada suara dan tatapan yang menyelidik

“tentu saja tidak!!” teriak Woohyun tak terima

Hyomin hanya tertawa melihat Woohyun dan Myungsoo “Jiyeon-ssi.. Kajja” Hyomin melepaskan rangkulan Woohyun kemudian menarik Jiyeon “Myungsoo-ssi serahkan Jiyeon padaku!” seru Hyomin yang kini sudah melangkah meninggalkan Myungsoo dan Woohyun. Gadis itu sempat mengerlingkan matanya

“kau.. pasti cuman mengaku-ngakukan? Buktinya Hyomini tidak membenarkan hubungan kalian” ledek Myungsoo

mwo? ya! Aku tidak mengaku-ngaku!!” teriak Woohyun kesal.

Namun Myungsoo tak memperdulikan kekesalan sahabatnya itu, ia hanya tersenyum kecut “aku tidak akan pernah percaya, sebelum Hyomin sendiri yang mengatakannya” ucap Myungsoo yang semakin membuat Woohyun kesal. Myungsoo kini berjalan meninggalkan Woohyun yang dibakar api kekesalan.

“ya!!” teriaknya, namun tetap saja tak dihiraukan Myungsoo. “aissshh” gerutu Woohyun sembari mengacak rambutnya

###

Hyomin membawa Jiyeon masuk kedalam sebuah ruangan yang menjadi waiting room, tempat isitirahat, dan tempat mengganti pakaian yang disediakan ditempat lokasi pemotretan pre-wedding. Hyomin kini, terliahat sibuk memilih berbagai gaun yang tergantung cantik ditempatnya. Hyomin mengambil salah satu baju berwarna hitam dan kemudian mengepaskannya ketubuh Jiyeon, ia membalik-balikan tubuh Jiyeon kesana kemari, kemudian menggeleng. Baju tadi Hyomin kembalikan ketempat asalnya, setelah itu lengan cantiknya kembali menelusuri setiap pakaian yang ada hingga lengannya berhenti pada pakaian berwarna pink. Ia mengambil pakaian tersebut kemudian mencoba untuk kembali menyocokannya dengan Jiyeon

“ja-jangan yang itu!!” tolak Jiyeon sembari menjauh dari Hyomin dan mengibas-ngibaskan kedua tangannya

“wae? kudengar dari Myungsoo kau menyukai warna pink?” tanya Hyomin sembari mengkerutkan alisnya

“ahh.. itu dulu.. sekarang sudah tidak” jawab Jiyeon sembari menunjukan cengirannya

Hyomin mengangguk mengerti kemudian kembali menaruh gaun  tersebut, setalah itu kembali memilih gaun yang lainnya “bagaimana dengan ini?” seru Hyomin sembari mengambil gaun berwarna putih

“hmm.. boleh..” angguk Jiyeon sembari memasang senyumannya.

Sementara itu di lokasi pemotretan, Myungsoo sudah bersiap-siap dengan jas putihnya, bahkan rambutnya yang biasanya rapi dan lurus kini sedikit curly dan sedikit diberantakan. Mata elang Myungsoo terus mengarah pada ruangan dimana tempat Hyomin merias Jiyeon. ia merasa sangat gugup seperti akan menikah hari ini saja, padahal ini hanya sebuah pemotretan pre-wedding. Tak lama kemudian pintu ruangan yang sedari tadi Myungsoo pandangipun terbuka, dan keluarlah gadis cantik, yaitu Hyomin.

“Myungsoo-ssi dari wajahmu seperti terlukis kalau kau sudah tak sabar melihat calon pengantinmu, geutji?” tanya Hyomin sembari memasang senyuman nakalnya sedangkan Myungsoo hanya menggaruk tengkuknya asal sembari menunjukan cengirannya “haha.. kau pasti akan terkesima melihatnya..” ujar Hyomin “Jiyeon-ssi” panggil Hyomin

Sepasang kaki dengan dibalutkan sepatu high hills berwarna putih yang senada dengan gaun yang dipakainya keluar dari balik pintu masuk ruangan tersebut. Mata Myungsoo terbuka sempurna ketika melihat pemilik sepasang kaki tersebut, mulut Myungsoopun ikut terbuka lebar karena saking kagumnya akan sosok itu. Ia adalah Park Jiyeon. mata elang milik Myungsoo masih terus memperhatikan Jiyeon dari bawah hingga atas, itu membuat Jiyeon jadi sedikit terganggu. Namun, Jiyeon masih terus melangkah mendekati Myungsoo hinggaa…

Tiba-tiba badan Jiyeon limbung karena ia belum terlalu terbiasa memakai high hills. Namun, dengan cekatan Myungsoo menangkap tubuh ramping calon isterinya itu agar ia tak terjatuh, sementara Jiyeon mengalungkan lengannya di kedua sisi leher Myungsoo. Keduanya kini terhipnotis oleh mata indah dan wajah rupawan masing-masing.

“kau harus lebih hati-hati.. dino!!”  bisik Myungsoo yang berhasil menyadarkan Jiyeon dari ketidak sadarannya karena terhipnotis laki-laki didepannya itu “tapi, tidak apa.. aku jadi ada kesempatan untuk memelukmu” senyum nakal Myungsoo terpasang jelas diwajah tampannya

kedua mata indah Jiyeon terbelalak sempurna ketika mendengar ucapan Myungsoo barusan “mwo?”

chup……

seluruh anggota tubuh Jiyeon membeku seketika karena ulah Myungsoo yang mengecup bibirnya singkat dan tiba-tiba. Senyuman nakal itu kembali terukir diwajah tampan Myungsoo “Saranghae.. Nyonya Kim” ujar Myungsoo yang berhasil membuat wajah Jiyeon memerah sekarang

“aishh.. apa mereka sengaja membuatku cemburu?” pekik Woohyun dengan nada kesal. Sedari tadi ia dan Hyomin memperhatikan Myungsoo dan Jiyeon

“jangan ganggu mereka” cegah Hyomin ketika Woohyun akan menegur Myungsoo dan Jiyeon “kajja” Hyomin menarik Woohyun

Myungsoo mulai menggandeng Jiyeon yang saat ini belum tersadar sepenuhnya. Namun ketika baru dua langkah Jiyeon menghentikan langkahnya, membuat Myungsoo ikut menghentikan langkahnya. Lelaki itu kini merubah posisinya menjadi menghadap Jiyeon.

“kau.. kau.. berani menciumku ditempat umum?” tunjuk Jiyeon dengan wajah yang terlihat masih syok

Dengan tenangnya Myungsoo mengangguk “wae?”

“babo” seketika itu juga Jiyeon memukul kepala Myungsoo, membuat lelaki berwajah tampan itu meringis sembari memegangi kepalanya

“appo!!” teriak Myungsoo kesal

“kau mempermalukanku, Myung!! Kenapa kau menciumku ditempat seperti ini?!!” teriak Jiyeon

waeyo? Nanti minggu depan setelah selesai mengucapkan janji suci, kita juga akan berciuman didepan umum!” balas Myungsoo sengit. Wajah Jiyeon kini memerah setelah mendengar perkataan Myungsoo barusan.

“isshhh” dengus Jiyeon kesal sekaligus berusaha untuk menutupi wajahnya yang memerah kemudian pergi meninggalkan Myungsoo

ya! Nyonya Kim tunggu aku!!” teriak Myungsoo kemudian berlari menyusul Jiyeon

Jiyeon berhasil sampai ditempat dimana kamera sudah stand by untuk memotretannya dengan Myungsoo. gadis itu terlihat mengerucutkan bibirnya sembari melipat tangan diperut. Jika orang lain mungkin akan terlihat jelek dengan wajah seperti itu.. tapi tidak untuk Jiyeon dia tetap cantik bahkan terlihat menggemaskan dengan wajah itu. Tak lama setelah Jiyeon sampai, Myungsoopun sampai.. namun keduanya terlihat membuang muka dan memberikan jarak.  Hyomin yang sedang mengobrol dengan Woohyun, kini beralih menatap pasangan yang sebentar lagi akan menjadi suami isteri itu.

“ahh.. akhirnya kalian datang juga..” ucap Hyomin sembari tersenyum

“kalian habis apa sih? Kenapa lama sekali” gerutu Woohyun kesal dengan wajah marahnya

Hyomin memukul pelan lengan pria itu seolah mengisyaratkan agar Woohyun tak berkata seperti itu, namun Woohyun tak memperdulikannya “kajja.. sebaiknya kita segera mulai”

“jadi, dia kekasihmu, L? waaahh ia cantik sekali!!” puji seorang pria tampan dengan kacamata berbingkai hitam namun berkaca bening yang saat ini sedang berdiri sembari memegang kamera

“Sungyeol?! Ja-jadi kau yang akan menjadi fotograperku?” ujar Myungsoo setengah berteriak dengan mata elangnya yang melebar karena terkejut melihat lelaki tampan bernama Sungyeol itu.

“eoh.. lama tak bertemu, dan sekarang kau sudah akan menikah lagi.. haha” tawa Sungyeol “ohh ya..  aku turut berduka dan maaf karena aku tidak bisa datang kepemakaman Suzy.. saat itu aku sedang berada di kanada”

“eo-eoh.. gwen-gwenchana!!

“tak usah gugup begitu, L! aku tau gadis ini, pasti gadis yang sering kau ceritakan padaku sewaktu di __” dengan cepat Myungsoo berlari kearah Sungyeol kemudian membungkam mulut Sungyeol dengan telapak tangannya agar pria itu tak melanjutkan perkataannya.

Jiyeon terkejut mendengar penuturan pria bernama Sungyeol yang mana baru saja ia simpulkan kalau Sungyeol adalah sahabat Myungsoo sewaktu bersekolah di Paris. Kata-kata yang terlontar dari mulut pria itu berhasil menumbuhkan sebuah tanda tanya di benak Jiyeon. Jiyeon yakin kalo yang dimaksud Sungyeol adalah tentang perasaan Myungsoo padanya dulu. Ia sungguh berpikiran betapa bodohnya seorang Kim Myungsoo sekarang.. seharusnya ia tidak usah repot-repot menutup mulut Sungyeol, karena ia memang sudah tahu kalau Myungsoo memang menyukainya dari dulu.. bahkan Myungsoopun sudah mengakuinya kalau dulu ia menyukainya..jadi untuk apa membekap mulut Sungyeol. Sepertinya seorang Kim Myungsoo yang pintar saat ini menjadi sangatlah bodoh hanya karena cintanya pada Jiyeon. dan hanya Jiyeon lah yang bisa membuat Myungsoo menjadi bodoh

ya! Le.. hah..paskan..!!!” akhirnya setelah sekian lama Sungyeol berada dibekapan Myungsoo dan selama itu juga ia sulit untuk bernapas, Myungsoopun melepaskan bekapannya. “kau gila, L!!” teriak Sungyeol kesal

“aish.. kita tak ada waktu lagi.. ayoo cepat dimulai!!” seru sang Sutradara yang tak lain adalah Woohyun

Mereka semuapun mulai mengambil posisi mereka. Sungyeol sudah bersiap untuk menangkap gambar Myungsoo dan Jiyeon dengan kameranya. Woohyun sudah bersiap disamping Sungyeol untuk memberikan petunjuk dan aba-aba pada Myungsoo dan Jiyeon, sementara Hyomin duduk manis dikursi berjaga-jaga kalau Jiyeon perlu bantuannya untuk merias diri.

ya! Kalian!! Lebih dekatlah!!” teriak Woohyun memerintah keduanya

Myungsoo dan Jiyeon yang saat ini sedang sedikit terlibat perang dingin agak sedikit ragu untuk mendekatkan tubuh mereka pada satu sama lain. Perlahan Myungsoo mulai memberanikan diri untuk mendekati Jiyeon. dan tiba-tiba ia menarik pinggang Jiyeon agar jarak mereka semakin dekat. Jiyeon terkejut mendapati perlakuan tersebut dari Myungsoo.. terlebih lagi wajah Myungsoo tepat berada sangat dekat dengan wajahnya, bahkan hampir tak ada jarak, buktinya hidung mancung keduanya saling bersentuhan saat ini. Lagi-lagi Jiyeon tenggelam kedalam mata elang nan tajam milik Kim Myungsoo. ya, mata itulah yang menurut Jiyeon menjadi point utama seorang Kim Myungsoo.

“mianhae..” bisik Myungsoo hampir tak terdengar membuat Jiyeon tersadar dari hipnotis mata Myungsoo.

“ya, begitu! Tahan” seru Woohyun.. kemudian tak lama setelah itu terdengar suara jepretan kamera Sungyeol.

Jantung Jiyeon terus bertalu-talu dengan sangat kencang karena posisinya dengan Myungsoo saat ini, belum lagi mata Myungso benar-benar membuatnya semakin merasa canggung. Tak jauh berbeda, perasaan yang samapun Myungsoo rasakan, namun berbeda dengan Jiyeon –Myungsoo masih bisa mengendalikan rasa gugupnya saat ini.

“kau cantik sekali Jiyi sayang”

Jiyeon semakin merasa gugup sekaligus juga senang ketika mendengar pujian Myungsoo tersebut. Mata indah nan tajam milik keduanya masih saling beradu untuk menghipnotis satu sama lain. Tiba-tiba Myungsoo semakin memperkecil jarak diantara mereka, sampai-sampai nafas keduanya semakin terasa menerpa kulit wajah satu sama lain.

Jiyeon kembali terkejut dengan mata yang terbelalak karena Myungsoo lagi-lagi menciumnya tanpa izin dan secara tiba-tiba, belum lagi pria itu menciumnya ditempat umum, yang mana disaksikan pula oleh banyak orang. Ingin sekali Jiyeon mendorong tubuh Myungsoo, namun ia tidak bisa melakukannya

“aishh.. apa-apaan mereka?” gerutu Woohyun kesal atau kata yang lebih tepat adalah iri. Ya, si sutradara tampan ini nampaknya sangat iri dengan kemesraan keduanya.

Sementara itu Hyomin, Sungyeol dan beberapa kru lainnya tercegang melihat adegan romantis keduanya. Karena tak ingin melewatkan momen langka ini –Sungyeol dengan cepat mengambil gambar kedua orang tersebut.

###

Junho sedang asyik berada diruangan kerja yang terletak diapartmennya. Pria bermata sipit ini sedang membaca hasil ct scan pasiennya. Ia merasa sangat lega, karena mengetahui pasiennya tidak terkena penyakit mengerikan yang sudah merenggut nyawa wanita yang sangat ia cintai. Junho kemudian mengambil berkas riwayat gejala yang sedang dialami pasien tersebut –mencoba untuk menganalisis penyakit lain yang mungkin diderita si pasien. Namun belum sampai ia membacanya dengan cermat –suara deringan ponsel sudah menggangunya. Lengan besar Junho kemudian mengambil ponselnya tersebut, kemudian membaca nama kontak orang yang menelponnya itu, dan ternyata ia adalah Soojung

waeyo, Jungie-ah?” tanya Junho

“bisakah kau menjemputku dikantor sekarang? Mobilku mogok” jawab Soojung sembari menggerutu

“naik saja taksi atau kendaraan umum lainnya.. aku sedang sibuk saat ini”

“shireo!! Pokoknya aku tidak mau tahu! Kau harus menjemputku, Arra?!” seru Soojung dengan nada memerintah dan memaksaa. Gadis ini kemudian memutuskan sambungan telponnya dengan Junho begitu saja.

Junho menghela nafas berat karena tingkah gadis itu. Mau tidak mau, ia harus menjemputnya. Karena kalau tidak gadis itu pasti akan terus menghubunginya dan mengganggunya. Junho beranjak dari kursi kerjanya kemudian melangkah menuju pintu keluar apartmen dengan tentunya keluar dulu dari ruangan kerjanya itu. Ketika ia baru saja, akan membuka pintu keluar, seseorang sudah menekan bel rumahnya terlebih dahulu. Junho kemudian menyalakan intercorm dan muncullah seseorang yang baru saja menekan bel apartmennya –ia adalah Kim Seokjin. Dengan cepat Junho membuka pintu tersebut agar Seokjin bisa masuk

“Junho-ya!! Aku punya berita bagus untukmu!!” teriak Seokjin tiba-tiba tanpa menyapa Junho terlebih dahulu

“berita apa?” tanya Junho santai seakan tidak penasaran dengan berita yang dimaksud Seokjin.

kajja.. kita duduk dulu” Seokjin mengajak Junho untuk duduk disofa “akhirnya aku mendapatkan gadis yang tepat untukmu!!”

“gadis lagi? Sudah kubilang jangan campuri urusan itu Kim Seokjin!!” ujar Junho kesal namun masih berusaha tenang dengan menekankan setiap perkatannya

“aishh.. dengarkan aku dulu, gadis ini sangatlah sempurna!! Ia cantik, kaya dan terpenting ia adalah adik dari Im Jaebeom dan Im Yoona.. pengusaha muda terkenal dinegara kita!!” jelas Seokjin mencoba membujuk Junho

Junho mendengus kesal berusaha untuk bersabar menghadapi sepupunya ini “sekali kubilang tidak! Tetap tidak!” Junho beranjak dari tempatnya untuk meninggalkan Seokjin

“baiklah, jika kau ingin imo alias ibumu bertindak!” perkataan Seokjin berhasil menghentikan langkah Junho. Pria itu kembali menatap kearah Seokjin “jika kau tidak juga mendapatkan pasangan, imo akan datang ke Korea kemudian menikahkanmu dengan pilihannya, tanpa memberimu waktu untuk mengenal gadis itu!!” jelas Seokjin yang membuat Junho merinding seketika “aku ini hanya bermaksud baik Junho-ya!” Seokjin beranjak dari sofa kemudian menepuk pundak Junho

“Seokjin-ah” panggil Junho ketika Seokjin akan melangkah meninggalkan apartmennya “kalau begitu aku setuju dengan gadis yang kau bilang tadi!!” ujar Junho dengan sedikit ragu, ia takut keputusannya ini adalah salah

Seokjin tersenyum penuh kemenangan “okey, baiklah.. sekarang kau harus bersiap untuk menemui gadis itu”

mwo? sekarang juga?!!” teriak Junho

“eoh! Sebelum gadis itu diambil oleh orang lain, sebaiknya kau segera menemuinya dan memintanya untuk menjadi milikmu!!”

shi-shireo!! Ini terlalu cepat!”

“baiklah jika kau ingin dinikahkan paksa oleh Imo!!

Ya! Ya! Seokjin-ah!” Junho menarik lengan Seokjin yang akan kembali pergi dari apartmennya “ba-baiklah!! Berikan alamatnya padaku!”

Seokjin kembali tersenyum penuh kemenangan “keputusan yang bagus! Ini” Seokjin memberikan sebuah kartu nama pada Junho, membuat Junho mematung memandangi kartu nama yang ada ditelapak tangannya itu “itu adalah kartu nama Im Jaebeom.. ia bersama adiknya dan kakaknya Im Yoona tinggal satu rumah.. kau bisa menemui gadis itu dirumah mereka!!” jelas Seokjin kemudian menepuk bahu Junho “semoga berhasil!!” Seokjinpun kini benar-benar pergi meninggalkan Junho.

“aishh.. aku bisa gila!!” teriak Junho kesal sembari mengacak rambutnya.. pria ini kemudian malangkah menuju pintu keluar. Ya, ia sudah membulatkan tekad untuk menemui gadis itu.

###

Junho menghentikan mobilnya didepan sebuah pagar raksasa yang menjulang tinggi. Seorang satpam terlihat datang menghampirinya dan Junhopun segera membuka kaca mobilnya

“selamat… sore Tuan.. kalau boleh tau.. apa tujuan anda datang kemari?” tanya satpam tersebut

“untuk bertemu tuan pemilik kartu nama ini!!” Junho memberikan kartu nama Im Jaebeom pada satpam tersebut

“nama tuan siapa?” tanya satpam itu

“Aku Dokter Lee Junho” jawab Junho sembari memberikan kartu namanya

Satpam tersebut mengambil kartu nama Junho kemudian membacanya. Setelah membacanya,satpam tersebut menelpon seseorang yang dapat Junho pastikan adalah Im Jaebeom “algesimnida…” ujar satpam tersebut pada seseorang yang dihubunginya itu. Ia kemudian kembali beralih kearah Junho “anda boleh masuk”ujar satpam itu dan tak lama setelah itu, gerbang raksasa itupun terbuka.

Junho kembali melajukan mobilnya memasuki rumah itu. Ia benar-benar terkagum-kagum akan halaman depan rumah ini yang sangat luas. Junho memarkirkan mobilnya ditempat parkir khusus yang disediakan oleh pemilik rumah ini untuk tamu. Kaki Junho kini memijaki anak tangga yang akan membawanya kepintu masuk utama rumah ini. Belum, sempat ia membuka pintu.. seseorang sudah membukanya duluan. Mata sipit Junho melebar begitu melihat banyak sekali pelayan yang berjajar disamping kanan dan kirinya.

“anda Dokter Lee bukan?” seorang pria tampan yang mungkin seumuran dengannya datang menghampirnya. Dengan melihat wajahnya dari jauh saja, Junho sudah dapat mengetahui siapa dia. Ia adalah Im Jaebeom. Semua orang pasti mengenalnya.. seorang pengusaha yang sangat sukses. Im Jaebeom datang mendekatinya “ada apa anda bertamu kerumah ku?” tanya Jaebeom ramah

“sa-saya ingin mengikuti kencan buta dengan adik anda!!” jawab Junho sedikit gugup

Jaebeom tertawa mendengar jawaban Junho “tak kusangaka seorang Dokterpun tertarik pada adikku haha…” Junho hanya bisa terdiam membiarkan pria itu tertawa “kajja.. aku akan mengenalkanmu padanya.. karena ialah yang akan menentukan untuk memilihmu atau menolakmu..” Jaebeom mulai berjalan dan Junhopun dengan cepat mengikuti langkah pria itu.

mwo? cara mengobati orang pingsan saja kau tidak tau?!” teriakan seorang gadis berhasil memekakan telinga Junho dan juga Jaebeom “kau kutolak!! Aku tidak mau mempunyai suami yang tidak bisa diandalkan seperti mu!!” teriaknya lagi

“ta-tapi!!” pria malang dengan wajah cukup tampan itu Nampak tak terima ditolak gadis tadi dan mulai memohon padanya

“kubilang tidak ya tidak!!? Kau tidak mengerti juga?! Aishh.. pengawal.. bawa dia pergi dari hadapanku” teriak gadis itu memerintah pengawalnya. Para pengawalpun berdatangan dan menyeret si pria malang itu.

Namun, pria itu tak terima diperlakukan seenaknya. Ia melepaskan kasar cengkraman tangan para pengawal tersebut “aku bisa pergi sendiri!! Dasar gadis sombong!! Aku yakin kau akan jadi perawan tua!!” teriak pria tersebut terdengar seperti memberikan sumpah serapah pada gadis itu.

Mata Jaebeom yang berada tepat didepan daun pintu begitu terkejut mendengar perkataan pria tadi. Jaebeom kemudian membuka pintu ruangan tersebut dengan sedikit kasar, begitu berada didalam ruangan ia memukul pria itu..

“beraninya kau menyumpahi adikku!!” teriak Jaebeom marah. Baru saja ia akan memukulnya lagi Junho sudah datang dan menahan lengannya

“tenanglah.. tidak usah anda anggap serius sumpah serapah seperti itu” ucap Junho memberi nasehat sekaligus berusaha menenangkan Im Jaebeom. Jaebeom kini mulai merasa tenang meski nafasnya masih belum beraturan. Gadis tadi terlihat menggerakan kepalanya kesana kemari untuk melihat pria yang tengah menenangkan kakanya itu. Namun, ia masih belum dapat melihatnya, karena tubuh sang pengawal dan sang kakak menghalanginya.

“bawa lelaki gila ini pergi!!” perintah Jebeom dengan penuh penekanan karena menahan amarahnya

“Oppa..” panggil gadis itu sembari mendekati Jaebeom –dan pada saat itu lelaki yang tadi menenangkan sang Kakak beralih menatap kearahnya. Ia sungguh terkejut bukan main melihat lelaki tersebut “Dok-dokter Lee!!” seru gadis itu dengan mata yang membulat

“kau!! Kau Im Nayeon?!!” balas Junho tak kalah terkejut

Jaebeom terlihat bingung dengan keduanya. Ia melirik kearah Nayeon dan Junho bergantian. “kau mengenalnya.. Nayeon-ah?

“eo-eoh.. dia salah satu dokter idolaku” jawab Nayeon dengan mata yang masih tertuju pada Junho

“Na-nayeon-ssi kau.. kau adiknya Jaebeom-ssi?”tanya Junho tidak menyangka kalau Nayeon adalah adik pengusaha muda terkenal “lalu kenapa kau mau bekerja sebagai cleaning service dirumah sakit?”

“i-itu… karena seseorang dari rumah sakit tersebut telah menyelamatkan nyawaku dengan memberikan sumsum tulang belakangnya.. sehingga aku bisa sembuh dari leukemia yang kuderita selama ini.. makanya aku ingin bekerja disana” cerita Nayeon sembari memasang senyum tipisnya

“apa ia bernama Suzy?”

“eoh.. kau tau darimana?”

Junho tersenyum tipis namun terlihat ada guratan kesedihan disana “kau tidak perlu tau!!” Nayeon tertegun melihat raut wajah Junho ketika mereka membahas soal Suzy.. ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Junho soal gadis baik yang menyelamatkan nyawanya itu.

“waaah.. kalian sudah akrab ternyata… Nayeon-ah…maksud Dokter Lee ini datang kemari adalah untuk melamarmu!! Akhirnya cita-citamu memiliki kekasih seorang dokter tercapai!!” seru Jaebeom membuyarkan lamunan Nayeon dan juga Junho.

“mwo?” mulut Nayeon membulat ketika mendengar pernyataan kakaknya itu.. Dokter Lee Junho yang sangat ia kagumi melamarnya?

###

Soojung melirik kearah jam yang sudah menunjukan pukul delapan malam tapi Junho belum datang untuk menjemputnya juga, padahal ia sudah menelpon pria bermata sipit itu dari sekitar jam tujuh malam. Soojung mendengus kesal kemudian kembali meraih ponselnya dan mengirimi pria itu seribu pesan yang sama.

“aisshh.. awas kau Lee Junho!!” gerutu Soojung kesal. Gadis itu kemudian mengambil tasnya dan keluar dari ruangannya. Kali ini ia bermaksud untuk menunggu Junho diluar kantor.

Disisi lain, Junho yang sedang menunggu Nayeon yang saat ini sedang mempersiapkan diri, karena rencananya ia dan Nayeon akan dinner di salah satuc café yang dekat dengan rumah Nayeon. Junho meraih ponselnya yang bergetar dari saku mantelnya, dan menemukan seribu pesan Soojung disana. Ia tertawa kecil melihat seribu pesan yang berisi kalimat yang sama yaitu ‘kau dimana? Cepat datang, atau aku akan memakanmu hidup-hidup!!’

Junho kemudian mulai menghubungi kontak Soojung “Soojung-ah.. mian..” ujar Junho saat panggilannya tersambung dengan Soojung  “aku tidak bisa menjemputmu.. aku ada.. eungg eungg op-operasi!!” ujar Junho berbohong

“ehhh? Operasi? Kenapa mendadak sekali?” seru Soojung kesal. Gadis ini baru saja sampai didepan pintu masuk utama kantornya “ohhh.. arraseo!!” Soojung kemudian mematikan sambungan telponnya karena kesal. Soojung menghela nafas sembari mempoutkan bibirnya “bagaiman nasibku sekarang? Aisshh kau tega sekali Lee Junho”

Setelah sambungannya terputus begitu saja dengan Soojung, Junho mulai mencari kontak Jongin. Bermaksud meminta bantuan pria itu untuk menjemput Soojung, bagaimanapun ia khawatir pada Soojung.

“Waeyo Hyung?” tanya Jongin yang saat ini sedang mengendarai mobilnya entah mau kemana? “mwo? Soojung?” seru Jongin sedikit terkejut “ohh.. kalau itu aku pasti sangat mau melakukannya!! Haha.. gomawo Hyung sudah memberikanku momen untuk mendekatikanya keke!!” Jongin mengakhiri sambungan telponnya dengan Junho kemudian kembali memfokuskan diri pada jalanan.

###

Soojung mengerutkan keningnya ketika melihat sebuah mobil hitam terparkir didepannya. Mata indah Soojung, masih terus memperhatikan mobil tersebut, hingga tiba-tiba seorang pria turun dari arah kursi pengemudi. Soojung menghela nafas begitu mengetahui ia adalah Jongin

“hallo.. kudengar dari Junho Hyung.. kau perlu jemputan.. ” ujar Jongin dan seperti biasa, pria itu selalu memberikan senyum nakal yang terlihat mempesona pada Soojung. namun, sepertinya senyuman itu tak mempan untuk Soojung.

“tidak perlu! Aku bisa naik kenadara umum” seru Soojung sinis

Jongin terkekeh.. “tapi, aku memaksamu untuk ikut denganku” tanpa membuang waktu lagi, Jongin menarik lengan Soojung membuat gadis itu memekik karena terkejut

“eehhh.. apa yang kau lakukan?!!” Jongin tak mengindahkannya dan malah memakaikan gadis itu sabuk pengaman. Soojung dengan susah payah menelan salivanya dan juga menahan nafasnya begitu mendapati wajah Jongin yang berada sangat dekat dengan wajahnya.

Jonginpun sebenarnya merasakan hal yang sama dengan Soojung, namun ia berusaha untuk tetap tenang. Meski mata Jongin tak tertuju pada wajah Soojung, namun sebenarnya ekor matanya masih sedikit bisa melihat wajah tegang Soojung saat ini. Ia tertawa dalam hatinya karena bisa membuat Jung Soojung setegang ini. Jongin kini mulai mengarahkan mata tajamnya pada Soojung membuat nafas Sojung semakin tercekat. Sungguh saat ini Soojung tak bisa bernafas.

“kalau kau tidak mau ku antar pulang.. kau harus mengantarku kesuatu tempat” Jongin mengedipkan sebelah matanya kemudian beranjak meninggalkan Soojung yang tertegun memegangi dadanya karena jantungnya tak berhenti berdetak abnormal.

Jongin kini sudah berada di kursi pengemudi, ekor mata Jongin melirik sosok Soojung yang masih mematung disebelahnya. Salah satu sudut bibir Jongin tertarik –membentuk senyuman nakal yang menandakan kebanggaannya. Selama perjalanan, tak ada suara sedikitpun yang terdengar, yang ada hanya Soojung yang terdiam, dan Jongin yang terus menerus mencuri pandang kearah gadis cantik itu.

Soojung tersentak ketika Jongin menghentikan mobilnya. Jongin tak memperdulikan Soojung dan malah keluar dari mobilnya kemudian membukakan pintu mobil untuk Soojung

“ini bukan rumahku!” ujar Soojung ketus sembari memperhatikan sekitar. Soojung tidak tau tempat apa itu, yang jelas seperti sebuah gedung kantor namun kecil, terpencil, dan agak sedikit menakutkan.

“bukankah kubilang, kau yang mengantarku.. kajja” Jongin dengan paksa menarik lengan Soojung membuat gadis itu memekik karenanya

Ya! Lepaskan!! Kau mau membawaku kemana?” teriak Soojung sembari terus memukul lengan Jongin yang menarik lengannya. “ya!!” Soojung terus berteriak dan memukul lengan Jongin, sepanjang pria itu membawanya menuruni anak tangga menuju bawah gedung terpencil tadi “aishhh”

Akhirnya Jongin melepaskan tarikannya pada lengan Soojung, setelah mereka kini sudah ada dalam sebuah ruangan penuh dengan kaca. Kalau diibaratkan ruangan tersebut seperti ruangan Practice dance. Soojung terus memperhatikan seluruh ruangan tersebut.

“bagaimana menurutmu?” tanya Jongin menghentikan arah mata Soojung yang sedang memperhatikan sekitar ruangan tersebut

“apanya?”

“tentu saja tempat ini”

“biasa saja! Semuanya hanya berisikan cermin”

“tcih.. kau bisa dance?” tanya Jongin

“tidak!”

Jongin kembali menarik ujung sebelah bibirnya membentuk senyuman yang paling Soojung benci. Pria itu kemudian mulai bergerak lihai didepan Soojung membuat Soojung mengerutkan keningnya melihat pria itu menggerakkan tubuhnya tiba-tiba. Jongin kemudian menari mengitari tubuh Soojung. setelah itu ia berjalan kearah sebuah tape yang ada tepat disudut ruangan sebelah kanan Soojung. alunan music Exo-Growl mengalun ketika Jongin menyalakan tape tersebut –ia mulai menari tarian tersebut didepan Soojung, membuat sudut bibir Soojung yang asalnya hanya terdiam datar kini mulai sedikit menyungging. Ya, Soojung tersenyum ketika melihat pria itu menari didepannya. Lama-kelamaan senyuman Soojung berubah menjadi tawaan. Jongin menghentikan tariannya ketika mendengar suara tawaan gadis itu. Ia bergerak menuju tape kemudian mematikannya.

wae useo? (apa yang kau tertawakan?)” tanyaJongin dengan alis yang bertaut

aniyo.. baru kali ini aku melihat pria menari secara langsung haha.. itu terlihat aneh haha..!!” jawab Soojung sembari tertawa

“aneh apanya? Bukankah Negara kita kaya akan boygroup yang pandai menari?”

arra… kan sudah kubilang kalau baru kali ini aku melihatnya secara langsung!!”  akhirnya tawaan gadis itu mulai mereda

“tcih.. ayo menari bersama.. kita menari trouble maker

“cuihh… shireo..”  Soojung mencibir sembari memeletkan lidahnya kearah Jongin “Ya! Ya!!apa yang kau lakukan! Ya!!” Soojung memekik bergitu Jongin memaksanya untuk menari bersama, pria itu menggerakan tangan Soojung asal –Soojung hanya tertawa dengan apa yang Jongin lakukan padanya. Tangan Soojung terus memukul wajah Jongin ketika pria itu akan mendekatkan wajahnya kearahnya, mengikuti koreo trouble maker

Soojung dan Jongin kini sudah duduk bersandar pada salah satu cermin dari banyaknya cermin yang ada disana. Nafas mereka sedikit tidak teratur karena kejadian mengasyikan tadi.

“Jongin! Tempat apa sebenarnya ini?” tanya Soojung memecah keheningan. Jongin tertegun sejenak mendengar untuk pertama kalinya, Soojung memanggil namanya. “Jongin! Kau mendengarku tidak?!!” seru Soojung

“eo-eoh?” pekik Jongin yang seketika itu juga dibalas decakan oleh Soojung “ini tempat aku menyalurkan hobiku! Meski aku bekerja sebagai pengusaha yang bergerak dibidang teknologi, tapi aku menyukai menari sejak dulu!! Bisa dibilang menari itu adalah olahragaku haha”

Soojung mengangguk “kau benar juga, ternyata menari menghasilkan banyak keringat”

“bukan hanya itu, tapi tubuh sehat dan ideal.. kau mau lihat perutku?!”

“ya!! Apa yang kau lakukan?! Cepat tutup lagi!!” seru Soojung sembari menutup wajahnya dengan tangannya saat Jongin akan sedikit membuka kaos biru tua yang sedang dipakainya

“wae?!!”

“aku tidak mau melihatnya!! Memalukan!!” cibir Soojung

“memalukan apanya? Perutku bagus kok.. tidak memalukan!!”

“kubilang tidak Kim Jongin!! Aishh!!” Soojung berdiri dari duduknya kemudian berjalan entah kemana. Jongin hanya terdiam ditempat memperhatikan gadis itu “kau tidak punya air? Aku haus!!”

“air? Tidak ada! Biasanya aku beli disupermarket sekitar sini”

“kalau begitu tunjukan dimana tempatnya?”

“tidak perlu kesana!! Kita sekalian saja makan direstoran dekat sini!! Aku lapar” Jongin beranjak dari duduknya kemudian berjalan mengambil jaketnya. “kajja”

Mereka berdua berjalan beriringan menembus gelapnya malam kota Seoul. Soojung terlihat agak lelah berjalan, karena terhitung sudah 3 meter mereka berjalan. Ia heran, mengapa Jongin tidak membawa mobilnya saja, dari pada harus berjalan kaki seperti ini.

“kenapa tidak memakai mobil saja, sih? Kan capek kalau berjalan seperti ini” keluh Soojung sembari mengerucutkan bibirnya

“untuk apa? Tempatnya dekat kok..” Jongin menghentikan langkahnya kemudian menatap Soojung yang ada disebelahnya

“kalau dekat mengapa kita masih terus berjalan?”

“tidak, kita sudah sampai kok!” ujar Jongin “itu” Jongin membalikan tubuh Soojung menghadap sebuah kedai, yang ada diseberang mereka. “kajja.. kau pasti akan menyukai makanan yang ada disana” Jongin dengan cepat menarik tangan Soojung kekedai tersebut “Ahjumma… bulgoginya dua!!” teriak Jongin kemudian mengajak Soojung untuk duduk disalah satu meja yang ada disana.

“kukira kau mengajakku kerestoran!”

“ini restoran menurutku! Meski tempatnya seperti ini, namun makanannya melebihi makanan restoran bintang lima, oops salah maksudku bintang sepuluh!!” Jongin menekankan setiapa perkataannya. Soojung lagi-lagi tersenyum karena pria itu. “ohya.. aku dan Junho Hyung juga sering kesini”

Tanpa sengaja, saat ia sedang memperhatikan Jongin sembari tersenyum, Soojung menemukan seseorang yang sangat ia kenali sedang makan dimeja yang terletak dibelakang tubuhJongin “Junho..” ucapnya pelan “Junho!!” panggil Soojung sembari berdiri dari tempatnya memanggil seseorang yang tadi dilihatnya itu.

Jongin berbalik kearaah mata Soojung tertuju. Begitupun dengan Junho ia berbalik kearah Soojung. perasaan Soojung begitu sakit, ketika mengetahui kenyataan bahwa Junho membohonginya –ternyata pria itu bukannya ada operasi, melainkan makan bersama seorang gadis. Soojung berdecak kemudian berlari sembari terisak keluar dari kedai itu

“Soo-Soojung-ah!!” panggil Jongin dan Junho bersamaan. Keduanya beranjak dari tempat mereka masing-masing untuk menemui Soojung.

namun, langkah Junho dihentikan oleh Jongin “biar aku saja Hyung!!” ujar Jongin kemudian kembali berlari mengejar Soojung. Junho terdiam ditempatnya berharap agar Jongin bisa ia andalkan.

“Soojung-ah!!” Jongin terus memanggil dan mengejar gadis itu hingga akhirnya ia berhasil menangkap lengan Soojung. gadis itu terdiam ditempatnya, tanpa memberontak ataupun berbalik kearah Jongin. Isakan tangis Soojung dapat terdengar oleh Jongin “kau menangis?” tanya Jongin.. Soojung tak menjawabnya dan malah memeluk Jongin dan menangis didada pria itu. Jongin kembali merasakan sensasi aneh itu.  Sensasi ketika ia pertama kali dipeluk Soojung dan bertemu dengan Soojung.

“kenapa ia harus membohongiku?!! Padahal ia tau aku paling benci untuk dibohongi!!” tangis Soojung –Jongin hanya dapat mengelus punggung Soojung, karena ia mengerti posisi Junho yang tidak ingin menyakiti Soojung, namun disisi lain –tentunya Junho juga merasa tak enak padanya yang memiliki perasaan pada Soojung, belum lagi rasa takut untuk dinikahkan secara paksa.

“Jungie-ah” suara berat Junho berhasil melepaskan pelukan Soojung dari tubuh Jongin. Kini mata Soojung dan mata Junho bertemu. Dari sini, Soojung dapat melihat seorang gadis yang makan bersama dengan Junho –yang tak lain adalah Nayeon berdiri agak jauh dari Junho.  Junho mulai melangkah mendekati mereka. “mianhae!!”

“aku tidak perlu kata maafmu!! Dokter Lee!!” seru Soojung mencoba untuk sinis dan tidak menangis

Junho menghela nafas “kalau begitu, berbahagialah dengan Jongin” dengan mati-matian Soojung menahan air mata yang mendesak ingin keluar ketika mendengar ucapan pria sipit itu “aku tidak mungkin bersamamu, bukannya aku tidak menyukaimu.. hanya saja, dari dulu kau sudah kuanggap adikku Jungie-ah.. sampai kapan pun kau adalah adikku, adik yang sangat berharga dan harus kuja_”

“Memangnya kau pikir aku menyukaimu sebagai apa, eoh?” balas Soojung menyela ujaran terakhir Junho –karena ia sudah tak mau lagi mendengar kata-kata menyakitkan itu “jangan terlalu percaya diri Dokter Lee!!” tambah Soojung “dan satu lagi, akan kupastikan aku akan berbahagia dengan Jongin!!” Soojung menarik Jongin kedekatnya “kajja!!” Soojung kemudian menarik Jongin menuju tempat pertama kali Jongin tadi membawanya. Soojung menghentikan langkahnya begitu sampai digedung –tempat tadi Jongin membawanya. “antar aku pulang sekarang juga”

“kau-kau yakin? Maaf seharusnya_”

“antarkan aku sekarang juga!!” teriak Soojung menyela ujaran Jongin

Jongin menghela nafas “baiklah”

###

Jiyeon dan Myungsoo terlihat sedang duduk bersama di sofa ruang tengah dirumahnya Jiyeon.  Jihun dan Jisoo sudah pergi kesekolah. Mereka terlihat sedang asyik menyiapkan persiapan untuk pernikahan mereka minggu depan.

“yang ini saja..” ucap Myungsoo menunjuk sebuah foto dari beberapa foto pre-wedding mereka yang sedang ada ditangan Jiyeon. Mereka sedang memilih foto yang tepat untuk menjadi sampul undangan

“dasar mesum! Itu memalukan, bodoh!” Jiyeon memukul kepala Myungsoo “bagaimana kalau Jihun dan Jisoo melihat foto kita yang sedang berciuman ini!” seru Jiyeon kesal “kau benar-benar memalukan dan membuatku malu tuan Kim!”

“malu apanya? Hyomin dan Sungyeol saja memuji aksiku yang menciummu itu!” sahut Myungsoo setengah berteriak

“diam kau!” balas Jiyeon kesal

Tiba-tiba Sooyoung datang sambil membawa minuman dan makanan kecil. Ia terlihat heran dengan wajah Jiyeon yang terlihat kusut “kau kenapa, yeonnie-ah? masa mau nikah wajahmu ditekuk seperti itu?” tanya Sooyoung sembari menaruh makanan di meja kemudian duduk disofa yang satunya tepat disamping Jiyeon

“tidak Eomma!” jawab Jiyeon ketus

“eyy…. Ada apa ini Myungsoo? kalian sedang bertengkar?” tanya Soyoung

molla.. Jiyeon marah karena kemarin pada saat pemotretan pre-wedding aku menciumnnya” jawab Myungsoo “aaawwwhh” Myungsoo berteriak kesakitan ketika Jiyeon mencubit cukup keras perutnya

ya! Apa yang sedang kau bicarakan, eoh? Dasar Kim Yadong!! Aku membencimu!!” Jiyeon memuku-mukul dada Myungsoo. Sooyoung tertawa keras melihat tingkah mereka berdua

“awww, sakit Jiyi-ah.. ampun..” teriak Myungsoo namun tidak diperdulikan oleh Jiyeon.

“Hallo semuanya… orang tampan datang!!” suara teriakan Jungkook menggema namun tak menghentikan kegiatan Jiyeon yang sedang memukuli Myungsoo

“Hallo.. Jungkook-ah.. bisa kau membantu ku?!!” teriak Myungsoo diiringi ringisan-ringisan kecilnya

“haha.. Jiyeon Noona sedang mengamuk rupanya!!” Jungkook tertawa

Jiyeon berhenti memukuli Myungsoo “ya! Jeon Jungkook! Kau sedang meledekku?!” teriak Jiyeon sembari menatapJungkook tajam.

Jungkook dengan susah payah meneguk ludahnya begitu melihat Jiyeon yang sedang menatapnya tajam “ti-tidak.. Noona!!” ucap Jungkook gelagapan

“kau telah salah memilih hari untuk berurusan denganku, Jeon Jungkook!!” Jiyeon berteriak kemudian beranjak dari duduknya dan menghampiri Jungkook yang sedang berdiri ketakutan

omo! Noona kau terlihat menyeramkan!!”

“ya!!” dengan tanpa ampun lagi Jiyeon segera meraih rambut Jungkook untuk dijambaknya

“Noona-ya!! Appo!! Appo!! Mian!!”

“Hhahahhaa” Myungsoo dan Sooyoung tertawa terbahak-bahak

Noona-ya!! Apakah kau sedang PMS? Makanya sensitif begini?” tanya Jungkook yang yang saat ini masih disiksa oleh Jiyeon

Mwo?! PMS?! Andwae! Kalau begitu aku tidak bisa malam pertama nanti!!” teriak Myungsoo yang langsung menghentikan tawanya ketika mendengar pertanyaan Jungkook barusan.

“mwo?!” Jiyeon berhenti menyiksa Jungkook dan beralih menatap Myungsoo tajam

“haha! Kasian sekali kau Hyung, tidak bisa malam pertama!!” teriak Jungkook tertawa puas

“ya! Kalian berdua!!” teriak Jiyeon kesal sembari menghentakan kakinya kesal terhadap dua pria yang padahal sangat ia sayangi itu.

“haha!!” mereka semua hanya tertawa melihat kekesalan Jiyeon saat ini

“sudahlah.. Jiyeon-ah!” Sooyoung menghampiri Jiyeon kemudian mengusap pundaknya

“ehmm.. Hyung!” panggil Jungkook yang dijawab tatapan tanya oleh Myungsoo “ada yang ingin kubicarakan padamu!”

“bicara apa?” tanya Myungsoo

“ehmm.. ini soal privasi.. bisa kau ikut aku sebentar?” tanya Jungkook sembabari menggaruk tengkuknya

“baiklah..” Myungsoo beranjak dari sofa

Noona.. aku pinjam calon suami yang tidak lebih tampan dariku ini ya!!” ujar Jungkook meminta izin

mwoya! Jelas-jelas aku lebih tampan darimu!!” seru Myungsoo tak terima

“haha.. pokoknya aku lebih tampan! Kajja Hyung!!” Jungkook mulai berjalan meninggalkan ruang tengah tersebut

Mwoya! Aku lebih tampankan Jiyeon-ah?” tanya Myungsoo

“lebih tampan Sehun!!” teriak Jiyeon kesal sembari menjulurkan lidahnya

“awas kau Park Jiyeon!!” Myungsoo terlihat menahan amarahnya, sementara Jiyeon dan Sooyoung terlihat menahan tawa

“HYUNG!!” teriak Jungkook kesal karena Myungsoo tidak juga mengikutinya

“aishh anak itu bawel sekali… membuat telingaku sakit saja!!” gerutu Myungsoo “iya! Tunggu sebentar anak kecil!!” seru Myungsoo kemudian mulai melangkah untuk menyusul Jungkook

###

“apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Myungsoo pada Jungkook. Saat ini mereka sedang berada di halaman depan rumah Jiyeon.

“ehemm” Jungkook berdeham sembari menggaruk tengkuknya. Ia malu untuk membicarakannya pada Myungsoo “begini. Waktu kau menyatakan perasaanmu pada Jiyeon Noona, apa yang kau lakukan?” tanya Jungkook memberanikan diri

“haha! Kau ingin menyatakan perasaan pada seorang wanita?!” tanya Myungsoo sembari terkeukeuh pelan. Jungkook hanya mengangguk canggung “siapa wanita itu?”

“apa perlu kuberitahu?” tanya Jungkook ragu

“tentu saja, kalau kau ingin pendapat dariku! Kau harus memberitahuku dulu siapa gadis itu!”

“dia.. dia Son Naeun!”

Mwo?!! Naeun!!?” teriak Myungsoo tak percaya. Mata Myungsoo membulat sempurna sekarang

“eoh! Apa ada yang salah jika aku mencintainya? Lagipula Naeun juga menyukaiku!”

“haha.. Naeun menyukaimu?! Tidak mungkin! Dia itu menyukaiku tahu!!”

Ya! Hyung! Itu dulu! Sekarang Naeun sudah menyukaiku! Bahkan ia mengajakku untuk menjadi kekasihnya waktu itu!!”

“Jinjayo?!!” Myungsoo menepukan tangannya “kau hebat bisa membuat wanita yang dulu menyukai berpaling! Karena wanita yang sudah menyukaiku! Akan sangat sulit berpaling! Mengingat wajahku yang tampan tiada tara ini!!”

“cuihh” Jungkook meledek “jangan memuji dirimu sendiri! Menggelikan!” ucap Jungkook “lagipula, Naeun pasti akan berpaling mengingat aku jauh lebih tampan darimu!!”

“aisshh.. kau sendiri memuji dirimu sendiri! Menggelikan!!” balas Myungsoo tak terima

“aahhh hentikan percakapan tidak penting ini! Jadi bagaimana?! Apa yang harus ku lakukan?!”

“kau masih bertanya juga?! Ya, terima ajakan Naeun untuk menjadi pacarnya! Dasar anak kecil Bodoh!!” Myungsoo menoyor kepala Jungkook

“aishh kalau itu yang kau usulkan, lebih baik aku tidak usah bertanya!” ucap Jungkook terlihat sedikit kesal “aku meminta pendapatmu, agar pada saat aku dan dia menjadi sepasang kekasih, terkenang manis dan indah. Tidak biasa saja seperti itu!!”

“ohh.. arraso.. arraso! Kalau begitu kau datang ke orang yang tepat!!” Myungsoo menjentikan jarinya didepan wajah Jungkook

###

Setetes air mata Jatuh kepipi Jiyeon. sore ini, ia, Myungsoo, Jihun, dan juga Jisoo sedang berada dipemakaman Suzy. Jiyeon mengelus pelan batu nisan Suzy “Suzy-ah! kau harus bahagia disana ya!!” ucap Jiyeon lirih

“Suzy-ah! mian.. kita semua sudah mengabulkan semua permintaan terakhirmu!” ujar Myungsoo mencoba terlihat tegar “semua yang kau cintai, kini mereka mulai mencoba untuk hidup bahagia. sama seperti yang kau inginkan” tutur Myungsoo sembari berusaha untuk tersenyum “aku dan Jiyeon minggu depan akan menikah! Kau setuju bukan zy-ah? itu permintaanmu padaku dan Jiyeon bukan? Kami akan mengabulkannya dengan segera!!” Myungsoo mengusap batu Nissan Suzy “gomawo.. aku menyayangimu!”

“Suzy-ah! terima kasih sudah membuat Jihun bisa melihat! Kau benar-benar gadis yang hebat! Aku salut padamu!” ucap Jiyeon

“bi-bi Su-zy! Te-te-ri-ma ka-sih! Ji-hun bi-sa me-li-hat se-ka-rang! Ji-hun sa-sa-yang pa-damu!” ujar Jihun

Eomma! Jisoo merindukan Eomma!! Eomma baik-baik sajakan!? Jisoo sudah bahagia sekarang! Jisoo harap Eomma juga bahagia disana” ujar Jisoo sembari menangis karena ia begitu merindukan sosok Suzy yang selama ini selalu ada disampingnya. Memeluknya, menyayanginya, dan memberikannya kehangatan

Jiyeon memeluk erat kedua anaknya tersebut sembari menangis bersama mereka. Myungsooo beranjak dari tempatnya yang tadinya berada di hadapan Jiyeon dan kedua anaknya kemudian menghampiri keluarga kecilnya dan memeluk mereka erat.

“Jiyeon Myungsoo?!!”

Mereka berempat melepas pelukan mereka begitu mendengar suara seseorang selain mereka. Mereka semua menenggak dan menemukan sesosok Junho beserta seorang gadis yang ada disebelahnya.

“Dokter Lee?!” panggil Jiyeon heran seraya mengubah posisinya menjadi berdiri

“sedang apa kalian disini?” tanya Junho

“kami sedang menjenguk Suzy, sekaligus memberitahukan kabar soal pernikahan kami” jawab Myungsoo “kau sendiri sedang apa disini? Dan siapa wanita yang sedang bersama anda?” tanya Myungsoo sembari melirik seorang gadis yang ada disamping Junho, yang tak lain adalah Nayeon

“kami juga ingin menjenguk Suzy!” jawan Junho “dan gadis ini adaah Nayeon. Ia adalah orang yang menerima donor sumsum tulang belakang dari Suzy. Ia kesini ingin berterima kasih pada Suzy!”

Annyeong haseyo! Im Nayeon Imnida” ujar Nayeon membungkuk

“begitukah?” tanya Myungsoo terlihat tidak senang Junho berdekatan dengan Nayeon. Bahkan ia tak menjawab ucapan salam dari Nayeon

“Myungsoo!” panggil Jiyeon pelan sembari menyengol lengan pria itu “annyeong Nayeon-ssi! Aku Park Jiyeon! bangapsemnida!” Jiyeon menjawab salam Nayeon sembari membungkuk “dan ini anak-anakku!”

Annyeong bibi Nayeon.. Jisoo imnida!!” ujar Jisoo

“Ji-hun Im-ni-da!” Jihunpun ikut membungkuk

“Hallo” Nayeon melambaikan tangannya sembari tersenyum kearah Jisoo dan Jihun

“jadi Suzy tidak hanya mendonorkan matanya untuk Jihun? tapi sumsum tulang belakang untukmu juga?! Wuaahh aku semakin salut padanya!” ujar Jiyeon

“Dokter Lee, apa anda memiliki hubungan special dengannya?” tanya Myungsoo menyelidik –membuat suasana kembali menjadi tegang.

Junho maupun Nayeon terdiam sebentar memikirkan jawaban yang tepat “iya, kami memiliki hubungan special. Sebentar lagi kami juga akan menikah”

Bug!

Seketika itu juga tinjuan Myungsoo mendarat dipipi Junho –membuat Junho terjatuh ketanah. Junho mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Semua orang terlihat terkejut karena ulah Myungsoo yang memukul Junho secara tiba-tiba. Nayeon terlihat khawatir dan segera membantu Junho untuk berdiri

“Dokter Lee, Gwenchana?” tanya Nayeon khawatir

“Kim Myungsoo!” teriak Jiyeon kesal sembari menatap Myungsoo tajam “kau ingin mencontohkan hal yang tidak baik didepan anak-anak!” teriak Jiyeon lagi. Ia benar-benar kecewa pada Myungsoo

“Myungsoo-ssi kenapa kau memukul Junho!” seru Nayeon tak terima Dokter idolanya dipukul begitu saja

Ya! Kau! Apakah kau tidak memikirkan Soojung?! ia masih sangat menyukaimu! Dan apakah kau juga tidak memikirkan permintaan Suzy?! Ia memintamu untuk bersama Soojung!!” bentak Myungsoo. ia tidak terima Junho mengacuhkan Soojung. walau bagaimanapun ia menyayangi Soojung. Soojung adalah sahabatnya dan Suzy. Lagipula menjaga Soojung sudah menjadi tugasnya

Junho tersenyu kecut –membuat Myungsoo semakin geram “Suzy tidak memintaku untuk bersama Soojung.” ujar Junho “ia hanya memintaku untuk menjaganya” jelas Junho. Myungsoo sudah mengepalkan tangannya bersiap untuk meninju wajah Junho lagi  “lagipula dari dulu aku tidak bisa mencintainya!”

Bug!

Satu tinjuan lagi melayang diwajah Junho. Tapi pria itu hanya kembali tersenyum kecut dan menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Nayeon kembali membantu Junho untuk berdiri

“Kim Myungsoo kendalikan dirimu!!” teriak Jiyeon

Bug!

Kali ini Junho yang memukul Myungsoo hinga pria itu terjatuh. Jiyeon, Nayeon, Jihun , dan Jisoo terkejut bukan main melihat Junho memukul Myungso

“Appa!!” teriak Jihun dan Jisoo

“ya! Kenapa kau memukul ayahku!!” teriak Jisoo kesal

Jiyeon membantu Myungsoo untuk berdiri “gwenchana?” tanya Jiyeon khawatir. Meski ia kecewa karena Myungsoo tak bisa mengendalikan dirinya, namun ia tetap mengkhawatirkan Myungsoo

“kau pikir dipaksa mencintai orang itu gampang!” teriak Junho “kau sendiri dulu sulit bukan mencintai Suzy?! Di hati dan fikiranmu hanya ada Jiyeon! Jiyeon! dan Jiyeon! kau selalu membuat Suzy menangis dan sakit hati! Bahkan disaat-saat terakhir Suzy hidupun kau masih menyakitinya! Kau bahkan tidak ada disamping Suzy pada saat ia kritis! Kau malah mabuk-mabukan dan menemui wanita lain!!” teriak Junho mengeluarkan emosinya “Kau! Lebih buruk dariku Tuan Kim!!” Junho menekankan setiap perkataannya

Myungsoo hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat –karena tadinya ia ingin membalas tinjuan Junho. Namun, setelah mendengar ucapan Junho tadi. Ia mengurungkan niatnya.

“Kalian hanya membuat Suzy menderita sekarang!” teriak Jiyeon kesal “Jisoo, Jihun ayoo kita pergi.” Jiyeon menuntun kedua anaknya untuk pergi dari sana. Ia tidak mau kedua anaknya mendapatkan contoh yang tidak baik

Myungsoo masih terdiam ditempatnya memandangi makam Suzy. “ma-maafkan aku!” ujar Myungsoo penuh penyesalan “kau benar! Aku jauh lebih buruk darimu” Myungsoo kini sudah berjongkok dihadapan makam Suzy “maafkan aku Suzy-ah.. maaf maafkan aku” karena menyesal Myungsoo menangis sembari mengusap batu Nissan Suzy

Junho menghela nafas pelan sembari memperhatikan Myungsoo. “sudahlah” Junho menghampiri Myungsoo sembari menepuk pundak pria itu “aku juga minta maaf.” Ucap Junho “lebih baik, sekarang kita memulai hidup baru! Seperti keinginan Suzy. Aku yakin, diapun sudah tenang disana” Junho mencoba menenangkan Myungsoo “lebih baik sekarang kau susul Jiyeon dan anak-anakmu. Jiyeon pasti kecewa”

Myungsoo menghapus jejak air mata dipipinya kemudian beralih menatap Junho “maaf Dokter Lee” ucap Myungsoo “kalau begitu aku duluan” ucap Myungsoo kemudian beranjak dari posisi bejongkoknya. Myungsoo membungkuk kearah Junho kemudian melesat meninggalkan pemakaman Suzy.

Junho kembali menghela nafas setelah kepergian Myungsoo. mata sipitnya kini beralih pada Nayeon “kemarilah! Kau ingin menjenguk orang yang sudah menyelamatkan nyawamu bukan?” tanya Junho

Nayeon mengangguk kemudian berjalan kesamping Junho.

###

“Jiyeon-ah!” panggil Myungsoo. dilihatnya gadis itu beserta anak-anaknya sedang berdiri mobilnya

“sudah selesaikan urusanmu dengan Dokter Lee?” tanya Jiyeon sinis

Myungsoo mengangguk sembari menghampiri Jiyeon “maaf membuatmu kecewa” ucap Myungsoo menyesal

“minta maaf pada Jihun dan Jisoo kau sudah memberikan contoh tidak baik pada mereka!”sahut Jiyeon yang terdengar masih marah pada Myungsoo

Myungsoo kemudian mulai menyamakan tingginya dengan kedua putrinya tersebut “Jihun-ah.. Jisoo-ah maafkan Appa. Jangan contoh yang tadi ya” ujar Myungsoo kemudian mencoba memasang senyum manisnya pada kedua putrinya itu

Appa! Gwenchanayo? Pipi mu terlihat lebam” ujar Jisoo khawatir seraya memegang wajah yang Ayah. Myungsoo hanya tersenyum kecil mendengar Jisoo yang mengkhawatirkannya. Jiyeon menatap kearah Myungsoo khawatir begitu mendengar ucapan Jisoo

A-Appa.. ma-u Ji-hun o-ba-ti” tanya Jihun menawarkan diri.

Myungsoo semakin melebarkan senyumnya. Myungsoo mengusap pelan puncak kepala kedua putrinya “Appa tidak apa-apa sayang” ujar Myungsoo “Appa kalian ini kan orang yang kuat”

###

Myungsoo terlihat sedang berkonsentrasi menyetir. Jiyeon hanya terdiam disampingnya memperhatikan jalanan diluar kaca mobilnya. Sedari tadi perjalanan hanya diramaikan oleh Jihun dan Jisoo yang sedang bermain game bersama –adu skor dalam permainan flappy bird.

“Myungsoo, nanti berhenti di apotek dekat taman bermain yang dulu waktu kecil sering kita kunjungi” ucap Jiyeon

ne? untuk apa?” tanya Myungsoo heran

“jangan banyak tanya!” sahut Jiyeon

Myungsoo hanya bisa diam sekarang –dan kembali memperhatikan jalanan. Begitu sampai ditempat tujuannya, Myungsoo segera memarkirkan mobilnya tersebut. “sudah sampai Nyonya Kim sayang” ujar Myungsoo mencoba bergurau sembari memasang senyumannya –mencoba mengembalikan mood Jiyeon yang tadi jelek karena ulahnya yang bertengkar dengan Junho.

“bawa anak-anak ke taman bermain. Aku ada urusan di apotek” ujar Jiyeon terdengar seperti perintah. Jiyeon kemudian turun duluan dari mobil dan pergi memasuki apotek

Appa.. Eomma mau kemana?” tanya Jisoo heran

Myungsoo mengendikan bahunya “kajja, kita bermain ditaman bermain” ujar Myungsoo sembari tersenyum pada kedua anaknya.

Merekapun turun dari mobil. Myungsoo menuntun kedua putrinya menuju taman bermain. Begitu sampai ditaman bermain, Jisoo dan Jihun langsung berlari menuju ayunan

“Appa! Bantu aku mengayunkan ayunan ini!” teriak Jisoo

“a-aku ju-ga!” teriak Jihun tak mau kalah

Myungsoo melebarkan senyumannya kemudian menghampiri kedua putrinya “siap-siap ya kalian berdua” teriak Myungsoo kemudian mendorong ayunan yang ditumpangi Jihun dan Jisoo. Kedua anak itu tertawa gembira sekarang.

Jiyeon melangkahkan kakinya memasuki taman bermain. Seulas senyuman terukir diwajah cantiknya begitu meliahat Myungsoo yang sedang bermain bersama Jihun dan Jisoo. “Myungsoo-ah!” panggil Jiyeon

Myungsoo berhenti mengayunkan ayunan yang ditumpangi bersama oleh Jihun dan Jisoo “kalian berdua bermainlah sepuasnya. Appa ada urusan dengan Eomma kalian” ucap Myungsoo kemudian berlari menghampiri Jiyeon yang saat sedang duduk di kursi panjang berwarna putih yang ada di taman bermain tersebut. “ada apa Jiyi sayang?” tanya Myungsoo sembari memasang senyumannya

“duduklah” ujar Jiyeon sembari  menepuk bagian kosong dari kursi yang sedang didudukinya. Dengan senang hati Myungsoo menurutinya –bahkan senyuman itu tidak hilang dari wajahnya “ya! Apakah kau tidak kesakitan terus tersenyum seperti itu?” tanya Jiyeon heran –mengingat sudut bibir Myungsoo tadi sedikit berdarah akibat tinjuan Junho

Myungsoo menggeleng “tidak. Selama itu senyum untukmu dan kedua putri kita”

“aishh.. kau ini” Jiyeon kemudian meraih wajah Myungsoo –membuat sang empunya wajah tampan itu tersentak. Jaraknya dan Jiyeon kini cukup dekat. Jiyeon kemudian melepaskan wajah Myungsoo dan mengambil kapas berserta anti septik untuk mengobati luka Myungsoo. ia menuangkan sedikit anti septik ke kapas tersebut, kemudian mengoleskannya kesudut bibir Myungsoo beserta pipi Myungsoo yang sedikit lebam. Jantung Myungsoo maupun Jiyeon bertalu-talu begitu sangat cepat

“aaahh sakit” ringis Myungsoo manja. Padahal itu tidak terlalu sakit –namun ia hanya ingin bermanja-manja saja.

“sakit ya? Mianhae” ujar Jiyeon merasa bersalah

“kau tau obat yang paling ampuh untuk menyembuhkan lukaku apa?” tanya Myungsoo yang dijawab gelengan kepala oleh Jiyeon. Myungsoo tersenyum menyeringai. “akan kuberitahu kalau obat yang paling ampuh, adalah ini” dengan tanpa diduga dan dengan kecepatan kilat –bibir Myungsoo sudah menempel dibibir Jiyeon. Jiyeon membulatkan matanya terkejut mendapati bibir Myungsoo yang menempel dibibirnya.

Eomma, Appa kami ingin es krim!” Jihun maupun Jisoo terkejut dan langsung diam begitu menyaksikan kedua orang tuanya sedang berciuman

Jiyeon segera mendorong tubuh Myungsoo dan menatap terkejut kearah kedua anaknya. “ka-kalian” ujar Jiyeon gelagapan

“ka-kami ti-dak me-li-hat a-pa-pun” ujar Jihun dan Jisoo sembari mengalihkan perhatian mereka kearah lain

“ahhh.. geurae? Kalian tadi ingin es krim kan? Akan Eomma belikan” ujar Jiyeon kemudian beranjak dari kursi tersebut “Kim Myungsoo” gumam Jiyeon pelan penuh penekanan sembari menatap tajam Myungsoo

Myungsoo meneguk ludahnya dengan susah payah “ne? mereka tidak melihat kok! Kau dengar kan tadi mereka bilang begitu” ujar Myungsoo mencoba tenang dan bersikap biasa saja seperti tak terjadi apapun. Padahal sebenarnya ia takut Jiyeon akan marah.

Jiyeon menarik nafas dalam kemudian membuangnya pelan. Lama-lama ia bisa gila menghadapi sikap Myungsoo ini. Jiyeon kemudian melesat pergi mencari super market terdekat untuk membeli es krim untuk Jihun dan Jisoo.

“Appa!” panggil mereka sembari menghampiri Myungsoo

“tadi kalian manis sekali berciuman disini. Haha” ujar Jisoo menggoda Myungsoo. Jisoo memang suka sekali menonton drama-drama romantis. Makanya ketika menyaksikannya secara langsung, ia begitu sangat terkejut

ne Ap-pa.. ka-kali-an pa-sa-ngan yang Dae-bak” tambah Jihun mengancungkan jempolnya. Myungsoo hanya tersenyum sembari mengusap puncak kepala kedua putrinya yang kini duduk disebelahnya.

Ia kemudian memeluk kedua putrinya itu.“siapa dulu. Namanya juga orang tua Jisoo dan Jihun haha” tawa Myungsoo. “oh, ya besok kita sekeluarga akan ke Jeju!”

“Jeju? Jinja? Wuaaahhhh” Jisoo terlihat senang dapat pergi kesana. “Jihun-ah! kita pergi ke Jeju!” teriak Jisoo senang sembari menatap kearah Jihun

“Je-jeju” sorak mereka bersamaan sembari menggenggam tangan satu sama lain dan melompat-lompat. Myungsoo tersenyum melihat kedua putrinya senang

“Jeju? Untuk apa kesana?!” tanya Jiyeon heran. ia baru saja sampai dengan membawa bungkusan berisi 4 buah ice cream.

Myungsoo kini berjalan kedekat Jiyeon “tentu saja menjenguk  Sehun.” Jawab Myungsoo kemudian

“Mwo?” Jiyeon membulatkan matanya begitu mendengar penuturan Myungsoo.

“kita juga harus memberitahu Sehun soal kabar gembira ini. Dan Jihun juga pasti ingin menjenguk ayahnya” jelas Myungsoo “dan soal persiapan pernikahan, ada Hyomin, Woohyun, Sungyeol, Naeun, Jungkook, Soojung, dan Jongin yang akan mengurusnya”

###

Sebuah mobil berwarna silver terpakir dihalaman depan rumah berukuran cukup besar berwarna biru muda. Naeun keluar dari mobil tersebut dan melangkah menaiki beberapa anak tangga untuk mengetuk atau memencet bel rumah tersebut. Begitu sampai didepan dan baru saja ia akan memencet bel, pintu itu sudah terbuka sendiri. Naeun mengerutkan keningnya bingung. Sedetik kemudian ia masuk kedalam rumah tersebut.

“Nona Son” panggil seorang wanita paruh baya pada Naeun. Naeun menoleh kearah wanita itu sedikit terkejut “anda masih mengingat saya kan?” tanya wanita paruh baya itu

Naeun memperhatikan ahjumma itu –mencoba mengingatnya “ahh.. ahjumma Yoo” ucap Naeun sembari memasang senyumnya pada wanita paruh baya itu. Ahjumma Yoo  adalah pembantu kepercayaan keluarga Jeon –keluarganya Jungkook. “Jungkook, Boram Eonni, Jaejin Oppa, dan Jaeram kemana?” tanya Naeun sembari memperhatikan kediaman keluarga Jeon itu

“Nyonya, Tuan, dan Tuan muda Jaeram, sedang makan malam diluar” jawab Ahjumma Yoo “lalu Tuan muda Jungkook ada dihalaman belakang”

“bisa kau panggilkan Jungkook?” pinta Naeun

Josonghaeyo, bukannya saya tidak mau. Hanya saja Tuan muda Jungkook sendiri yang meminta pada saya agar membawa Nona Son ke halaman belakang”

“aahhh.. geuraeyo? Kalau begitu Kajja

Merekapun berjalan menuju halaman belakang rumah keluarga Jeon tersebut. Begitu sampai dipintu menuju halaman belakang keluarga Jeon –Ahjumma Yoo menghentikan langkahnya. “Joseonghaeyo, Nona Son. Saya hanya bisa mengantar sampai sini. Nona tinggal berjalan menuju rumah kaca diujung halaman ini”

“rumah kaca?” Naeun nampak berpikir “baiklah, terima kasih Ahjumma” ucap Naeun –kemudian gadis itupun mulai melangkah menuju rumah kaca tersebut.

Begitu menginjakan kakinya keluar halaman. Lampu-lampu yang asalnya tidak menyala –kini menyala dengan begitu indahnya, secara bersamaan. Naeun heran sekaligus juga terkejut –kejadian ini mengingatkannya akan drama You who came from the star yang dibintangi oleh Kim SooHyun dan Jun Jihyun juga drama The Heirs yang dibintangi oleh Lee Minho dan Park Shinhye. Kaki Naeun kembali melangkah menuju rumah kaca tersebut. Kini, Naeun sudah berada didepan pintu rumah kaca tersebut. Ia mulai membuka pintu rumah kaca tersebut –dan wuaahh Naeun kembali terkejut begitu kumpulan bunga mawar merah menghujani tubuhnya.

“Doegopa neoui oppa Neoreul hyanghan naui maeumeul wae molla Nareul moreun cheokhaedo chagaun cheokhaedo Neol mireonaejin motagesseo Doegopa neoui oppa Neoui namjaga doel geoya dugobwa Naui maeumi nege datorok Jigeum dallyeogal geoya”

Sepenggal lagu tanpa instrumental berhasil Jungkook lantunkan. Pria itu kini sudah ada didepan Naeun sambil tersenyum. Neun tak bisa berkutik –ia benar-benar terkejut dan bingung dengan apa maksud semua ini. Jungkook kemudian mengeluarkan setangkai bunga mawar merah dari balik jas hitam yang dipakainya.

“untuk gadis terimut” Jungkook memberikan setangkai bunga tersebut pada Naeun –dengan senang hati Naeunpun menerima setangkai bunga tersebut

“gomawoyo” ucap Naeun pelan sembari memberikan senyum pada Jungkook

“Naeun-ah.. aku ingin menjadi kekasihmu. Jadi apakah kau juga mau jadi kekasihku?” Naeun kembali terlonjak kaget mendengar perkataan Jungkook ini. Ia membulatkan matanya tidak percaya. “maaf karena baru memahami teka tekimu sekarang”

Naeun tersenyum. Namun senyumnya kali ini terlihat sedikit miris “jadi karena teka teki itu, kau membuat semua ini?” Naeun berdecak. Ia kira Jungkook melakukan ini atas dasar cinta, tapi ternyata… “sudah kubilang lupakan teka teki itu! Lagi pula aku tidak mau menjadi kekasihmu kalau kau sama sekali tidak memiliki perasaan yang sama padaku”Naeun meraih lengan Jungkook kemudian mengembalikan setangkai bunga mawar yang tadi diberikan Jungkook. Kaki Naeun kemudian melangkah untuk meninggalkan Jungkook.

Namun dengan cepat Jungkook menahannya –dan menarik tubuh Naeun agar menghadap kearahnya. Lengan Jungkook kini beralih ke pundak gadis itu “kau pikir aku melakukan ini tanpa dasar cinta?!” teriak Jungkook terlihat penuh emosi. Naeun hanya terdiam menatap mata Jungkook yang saat ini terlihat tajam “aku mencintaimu Son Naeun! Aku mencintaimu!” teriak Jungkook lantang.

Naeun melemas pendengar perkataan Jungkook tersebut. Air mata jatuh –tak dapat Naeun cegah lagi. “kau tidak berbohongkan?” tanya Naeun

Jungkook menghela nafas kemudian memeluk Naeun “aku tidak berbohong, Naeun-ie! Aku benar-benar jatuh cinta padamu! Kemarin-kemarin ini aku hanya kurang peka atas perasaanku padamu!”

“aku tidak bermimpikan?”

Jungkook melepas pelukannya. Ia kemudian menatap wajah Naeun yang dipenuhi air mata haru. Perlahan lengan Jungkook menghapus air mata tersebut. Jungkook kemudian dengan cepat mencium Naeun –membuat sang gadis terkejut dan membulatkan matanya. Namun, lama-kelamaan Naeunpun menutup matanya.

Jungkook melepas ciumannya “apa itu terasa seperti mimpi untukmu?” tanya Jungkook sembari menangkup wajah Naeun

Naeun menggeleng “saranghae Jungkook-ah” Naeun memeluk Jungkook

“nado saranghae” balas Jungkook

“Jeon Jungkook apa yang sedang kau lakukan?!!” teriakan seorang wanita berhasil mengacaukan momen romantis Jungkook dan Naeun –dengan cepat mereka melepas pelukan mereka dan menatap si empunya suara yang tadi berteriak

“Noo-Noona!” pekik Jungkook terkejut saat melihat Noonanya –alias Jeon Boram sudah ada diambang pintu rumah kaca.

ya! Kau berani memeluk wanita yang belum kau nikahi dirumahku! Aishhh dasar anak nakal kau Jeon Jungkook!” Boram berlari kearah Jungkook dan menjewer kuping Jungkook

“Noona-ya! Appo! Mianhae!!” ringis Jungkook kesakitan “Noona-ya! Ampun!!” pekik Jungkook. Naeun tertawa melihat Jungkook tersiksa –meski sekarang ia dan Jungkook sudah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih –namun ia tetap selalu merasa senang melihat pria itu menderita hahha

###

Pagi itu, kediaman keluarga Jiyeon terlihat sangat sibuk. Tentu saja mereka saat ini sedang memperiapkan keberangkatan Jiyeon, Myungsoo, Jihun dan juga Jisoo ke Jeju. Beberapa pelayan terihat memasukan koper kedalam mobil.

“kau hati-hati, ya yeonnie” ucap Sooyoung sembari mencium pipi Jiyeon

“ne, Eomma” balas Jiyeon sembari tersenyum

“Myungsoo jaga Jiyeon, Jihun dan juga Jisoo” peringat Kyuhyun pada Myungsoo

“pasti, abeonim” ucap Myungsoo dengan senyumnya

Eomma.. pasti akan merindukan kalian” ujar Taeyeon sembari memeluk Jihun dan Jisoo setelah itu memeluk Jiyeon dan terakhir memeluk Myungsoo

Eonni, Aku pasti merindukan mu” Naeun terlihat manja –gadis itu mempoutkan bibirnya.

Jiyeon tersenyum kemudian memeluk  Naeun “aku hanya pergi dua hari Son Naeun” Jiyeon menepuk-nepuk punggung Naeun. mereka kemudian melepas pelukan mereka “lagipula sekarangkan kau ada Jungkook yang sudah menjadi kekasihmu” goda Jiyeon

“Eonni!”

“Noona!”

Keluh keduanya bersama. Jiyeon dan yang lainnya tertawa keras karena pasangan yang baru saja menjalin hubungan kemarin itu.

“Jiyeon-ah!!”  panggil Soojung. Jiyeon menoleh kearah Soojung “semoga perjalananmu menyenangkan” ujar Soojung yang langsung dibalas anggukan dan pelukan oleh Jiyeon

“jaga dirimu disini, ya Jungie-ah” ucap Jiyeon sembari mengusap punggung Soojung. tak lama kemudian merekapun melepas pelukan mereka.

Soojung tersenyum kemudian mengangguk “pasti, Jiyeon-ah” Soojung kemudian berjongkok dan meraih pundak Jisoo dan Jihun “kalian jangan nakal nanti disana. Arra?!

Arraseo bibi Soojung” ucap keduanya serempak meski Jihun memang agak sedikit lambat. Soojung tersenyum kemudian mengacak rambut kedua gadis kecil itu.

“semuanya.. kami pergi dulu. Setengah jam lagi, pesawat menuju Jeju akan lepas landas” ujar Myungsoo berpamitan. Merekapun pergi masuk kedalam mobil, setelah sebelumnya melambai pada Taeyeon,Sooyoung, Kyuhyun, Soojung, Naeun dan juga Jungkook.

###

Suara desiran ombak jeju yang tenang mulai memasuki indra pendengaran Jiyeon, Myungsoo beserta Jisoo dan Jihun. yap, mereka sekarang sudah ada dipulau jeju. Jihun dan Jisoo terlihat senang –mereka berlari medekati ombak sembari berseru.

“Jihun-ah, Jisoo-ah jangan terlalu jauh!” teriak Jiyeon memperingati

Myungsoo hanya bisa tersenyum –ia kemudian mendekati Jiyeon dan merangkulnya “ini benar-benar impianku” ujar Myungsoo sembari menatap kearah Jihun dan Jisoo

Jiyeon menenggak menatap wajah Myungsoo “nado! Sudah lama sekali aku memimpikan hal ini” ujar Jiyeon sembari memasang senyum pada Myungsoo

Myungsoo menatap Jiyeon kemudian tersenyum “saranghae!” Myungsoo mencium lembut dan cukup lama kening Jiyeon “geurigo gomawoyo! Kau dan anak-anak adalah kebahagianku!” tutur Myungsoo setelah ia melepas ciumannya di kening Jiyeon. “kajja kita susul mereka” Myungsoo menggenggam tangan Jiyeon kemudian mengajaknya berlari menyusul Jihun dan Jisoo

“yedeura!!” teriak mereka berdua bersamaan

Mereka berempat kemudian bermain air bersama sembari tertawa penuh kebahagiaan. Berlari kesana kemari, saling mendorong satu sama lain, dan saling mencipratkan air. Begitu puas bermain air merekapun naik keatas pesisir laut kemudian duduk diatas pasir sembari memandang kearah lautan. Terlihat –matahari sebentar lagi akan terbenam.

“aku pergi dulu sebentar” ucap Myungsoo kemudian pergi meninggalkan keluarga kecilnya itu.

“kalian sedang apa?” tanya Jiyeon pada Jihun dan Jisoo

“kami sedang menulis” jawab Jisoo menunjuk tulisannya diatas pasir.

Jiyeon tersenyum setelah melihat tulisan itu “Eomma juga bahagia” Jiyeon memeluk kedua putrinya setelah membaca kalau tulisan yang ditulis keduanya adalah ‘kami sangat bahagia’

ya! Kalian semua.. ikuti Appa” teriak Myungsoo yang sudah kembali lagi.

Mereka semua melirik kearah Myungsoo “Appa!!” Jisoo dan Jihun berlari kearah Myungsoo kemudian memeluk tubuh sang ayah yang sudah berjongkok sembari merentangkan tangannya –menunggu pelukan kedua putrinya.

Setelah itu Myungsoo berdiri sembari menggendong kedua anak tersebut. Jiyeon menyusul sembari tersenyum “apa mereka tidak berat?” tanya Jiyeon

Myungsoo menggeleng “anni, bahkan aku masih sanggup menggendongmu dipunnggungku” Myungsoo menunjukan punggungnya

“haha.. Shireo!” tawa Jiyeon sembari mendorong punggung Myungsoo

“Kajja” ajak Myungsoo. mereka semuapun berjalan meninggalkan pantai menuju suatu tempat.

Disinilah mereka sekarang. Diatas karang besar. Angin mulai menerpa wajah mereka –membuat helaian rambut mereka terkibas oleh angin. Jiyeon menerawang jauh kelautan sembari memeluk sebuah bingkai foto –foto tersebut adalah foto Sehun. Ia kembali teringat pada saat Sehun pergi meninggalkannya –ia juga kembali teringat pada saat Ia menaburkan abu Sehun disini. Myungsoo memeluk tubuh Jiyeon erat.

“jangan menangis. Sehun pasti sudah tenang sekarang” ucap Myungsoo

Eo-eomma.. Ap-pa pas-ti ba -ha-gi-a dis-sa-na” Jihun ikut menenangkan ibunya sambil menggengam tangan Jiyeon.

Jiyeon kemudian melepas pelukan Myungsoo, lalu berjongkok dihadapan Jihun “Eomma tahu sayang.. Appamu juga pasti sangat senang, karena sekarang Jihun sudah besar dan dapat melihat”

Appa tampan” Jihun mengusap bingkai foto yang ada ditangan Jiyeon

Myungsoo ikut berjongkok kemudian memeluk Jihun, Jisoo dan Jiyeon “Appa janji akan menjadi Appa yang baik” ujarnya berjanji –dan bersamaan dengan itu matahari sudah tenggelam dibawah lautan –sehingga penerangan menjadi menggelap. Myungsoo melepaskan pelukannya “kajja.. kita kembali ke Hottel” ajak Myungsoo. Jiyeonpun mengangguk dan segera membawa kedua putrinya untuk beranjak dari karang tersebut. Myungsoo tidak langsung turun –melainkan menatap sejenak kearah laut “Sehun-ah aku berjanji akan menjagi Jiyeon dan Jihun! aku berjanji! Percayakan mereka padaku!” ucapnya mantap. “semoga kau tenang disana.” Salam perpisahan dari Myungsoo. pria itu kemudian mulai melangkah untuk menuruni tangga –menyusul Jiyeon, Jihun, dan juga Jisoo.

###

Myungsoo mendaratkan tubuhnya diatas sofa sembari menghela nafas. Jihun dan Jisoo pun berlari kearah Myungsoo dan melakukan hal yang sama.

“Myung! Bukannya kau memesan dua kamar? Kita sudah sepakat kau tidur sendiri dan aku dengan anak-anak” tanya Jiyeon heran sembari menggerutu, karena ternyata Myungsoo hanya memesan satu kamar saja.

“kau tega membiarkanku sendirian?! Sudahlah lebih baik kita berempat tidur bersama diranjang yang sama juga!” jawaban Myungsoo membuat Jiyeon kesal. Tidur bersama?! Yang benar saja

Jiyeon menghela nafas berat “Jihun dan Jisoo kalian pergi mandi cepat!” perintah Jiyeon pada kedua putrinya itu, agar mereka tak mendengar perdebatannya dengan Myungsoo. dengan langkah sedikit malas, kedua anak itupun berajak dari sofa menuju kamar mandi. Setelah memastikan kedua putrinya sudah pergi mandi, Jiyeon berjalan mendekati Myungsoo “Ya! Kalau kau tidak mau tidur sendiri, yasudah kau tidur di sofa atau dilantai saja!” maki Jiyeon kesal

“tidak bisa! Kita tidur bersama diranjang yang sama juga!”  seru Myungsoo memaksa sembari menjulurkan lidahnya kearah Jiyeon

“ya!” teriak Jiyeon kesal

“sudahlah, Jiyi sayang! Aku tidak akan macam-macam! Lagipula ada Jihun dan Jisoo yang akan menjadi penghalang kita nanti saat tidur!” Myungsoo memberi alasan “dengan artian kau dipinggir, aku dipinggir, kemudian Jihun dan Jisoo ditengah-tengah kita!”

“ck! Aku tidak yakin padamu, Tuan Kim! Kau itu kan pria yadong!

Myungsoo berdiri –ia tidak terima dengan perkataan Jiyeon “aku tidak yadong! Kalau aku yadong aku sudah memperkosamu pada saat kita hanya berdua di filla!”

ya! Jaga ucapanmu bodoh!” seru Jiyeon sembari memukul mulut Myungsoo

“ya! Sakit tahu!” teriak Myungsoo “nanti kalau bibir ini rusak, tidak akan ada yang menciummu dan juga mengatakan kata-kata manis padamu!”

“Aish… tutup mulutmu!” Jiyeon mengambil apel yang ada dimeja yang tak jauh dari jangkauannya –kemudian menyumbat mulut Myungsoo. setelah itu Jiyeon pergi meninggalkan Myungsoo, tak memperdulikan pria itu yang sudah menggerutu tak jelas karena sumbatan apelnya.

###

Jiyeon melangkah keluar dari kamar mandi  dengan piyama berwarna putihnya sembari mengeringkan rambutnya. Myungsoo yang sedari tadi menunggu kamar mandi kosong –tertegun melihat Jiyeon dengan rambut basahnya. Sementara itu Jiyeon belum sadar kalau Myungsoo sedang memperhatikannya. Jiyeon membungkukkan badannya kemudian mulai menggulung rambut basahnya dengan handuk dan pada saat ia menenggak –ia menemukan Myungsoo sudah berada tepat dihadapannya.

“aku heran, kenapa kau masih bisa menggodaku tanpa pakaian sexy” tanya Myungsoo sembari menyunggingkan senyum  setengahnya.

ya! Diam kau mesum! Sana mandi!” teriak Jiyeon kemudian mendorong Myungsoo masuk kedalam kamar mandi. Setelah mendorong Myungsoo masuk, Jiyeon kemudian menutup pintu dengan keras. “dasar pria” gerutu Jiyeon yang saat ini sedang menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi. “aishh.. dia malah tertawa” Jiyeon kembali menggerutu ketika mendengar tawa Myungsoo. “berhenti tertawa Kim Myungsoo!!” peringat Jiyeon kemudian mulai melangkahkan kakinya –menjauh dari pintu kamar mandi

Jiyeon sedang asyik berkutat didapur –membuat makan malam. Jiyeon memotong beberapa sayuran, kemudian mencincang daging. Dan terakhir memasukannya kedalam penggorengan. Lengan Jiyeon dengan terampil memasukan beberapa bumbum penyedap dan sesekali mencoba masakannya. Tiba-tiba pada saat ia mengaduk masakannya –agar lebih merata –sepasang tangan besar memeluknya dari belakang. Ia adalah Myungsoo –pria itu dengan seenaknya menempelkan kepalanya dipundak Jiyeon

ya! Kim Myungsoo! jangan mengganguku!” perintah Jiyeon sedikit kesal

“wangi masakan ternyata kalah dengan wangi tubuhmu” kata Myungsoo yang saat ini sedang mencium bau tubuh Jiyeon lewat pundaknya

ya! Lepaskan! Jangan mesum, bodoh!” Jiyeon memukul kepala Myungsoo dengan spatula yang sedang di pegangnya

“ya! Appo!” seru Myungsoo sembari dengan reflex melepas pelukannya kemudian memanyunkan bibirnya sembari mengelus kepalanya

Jiyeon tertawa geli melihat Myungsoo “aish! Siapa suruh kau menggangguku eoh?” seru Jiyeon “sekarang minggir” titah Jiyeon sedikit kasar. Myungsoopun menurut –ia memberikan gadis itu akses untuk berjalan. “sana, temani anak-anak dimeja makan. Bilang makanan sudah jadi!” lagi-lagi Jiyeon memerintah

“kalau begitu sebagai bayarannya kiss dulu” Myungsoo memonyongkan bibirnya meminta ciuman dari Jiyeon.

Jiyeon mendorong bibir Myungsoo yang berada dekat wajahnya pelan “shireo! Cepat sana pergi!” seru Jiyeon mendorong tubuh Myungsoo

shireo Kiss dulu!” seru Myungsoo menolak.

“aihh kau ini”

Chup

Jiyeonpun dengan terpaksa mengecup pipi Myungsoo. Myungsoo tersenyum sembari memegangi pipinya “ternyata ciuman dipipi lebih terasa manis haha”

“sudah sana pergi, sebelum aku menyiksamu!” seru Jiyeon mendorong Myungsoo untuk pergi. Myungsoopun akhirnya pergi meninggalkan Jiyeon. sepeninggalan Myungsoo, Jiyeon tertawa sendiri.

Myungsoo berjalan menghampiri anak-anaknya yang sedang menonton kartun adventure time. Pria itu kini mengambil alih tempat duduk di tengah-tengah kedua putrinya itu. “eomma bilang makanan sebentar lagi siap.” Ujar Myungsoo

“makan disini saja. Sedang seru!” sahut Jisoo yang masih asik menatap kearah layar tv.

“anak-anak! Makanan siap!” seru Jiyeon dari arah meja makan yang berjarak beberapa meter dari ruang nonton tv

“makannya disini saja!” teriak Jisoo

Jiyeon menghela nafas “tidak bisa!” seru Jiyeon

“kalau begitu aku tidak mau makan!” sahut Jisoo keras kepala

“a-aku ju-ga” balas Jihun tak mau kalah

Jiyeon menghela nafas akhirnya ia terpakasa membawa makanan ke ruang nonton Tv. “Myungsoo bantu aku!” teriak Jiyeon.

Sekarang disinilah mereka. Makan malam bersama sambil menonton kartun favorite Jisoo dan Jihun. sesekali mereka tertawa karena kartun tersebut. Makananpun habis –dan bertepatan dengan itu kartun yang tadi mereka tontonpun habis.

“sekarang kalian cuci kaki dan gosok gigi setelah itu pergi tidur” perintah Jiyeon.

Jisoo dan Jihun menguap  bersamaan “ne, Eomma” sahut keduanya kemudian berjalan meninggalkan ruang nonton Tv. Jiyeon mulai membereskan bekas makan malam mereka

“biar kubantu” tawar Myungsoo.  Merekapun mencuci piring bersama. Setelah mencuci piring bersama mereka berjalan menuju kamar dan menemukan kedua putri mereka sudah terlelap. Myungsoo dan Jiyeon mendekati keduanya kemudian menaikan selimut hingga menutupi sampai kepundak Jisoo dan Jihun. “Jiyeon-ahkajja kita gosok gigi bersama!” ajak Myungsoo

mwo? shireo! Aku takut kau berbuat macam-macam. Apalagi anak-anak sedang tidur!” sahut Jiyeon sedikit berbisik

“aishh.. dari tadi kau selalu berpikir macam-macam tentang ku! Jangan-jangan kau yang ingin ku macam-macamkan eoh?” balas Myungsoo –yang langsung dibalas tatapan menjijikan dari Jiyeon “kajja!” Myungsoo menarik Jiyeon kekamar mandi. Merekapun menggosok gigi bersama sambil menghadap kearah cermin. Tiba-tiba Jiyeon tertawa membuat Myungsoo kebingungan. “wae?” tanya Myungsoo

aniyo! Kita banar-benar seperti anak kecil! Kau ingat sewaktu orang tuamu pergi keluar kota dan kau menginap dirumahku?” tanya Jiyeon. Myungsoo mengangguk “saat itu kita masih 10 tahun, dan kita gosok gigi bersama pada saat itu! Bahkan kita tidur seranjang! Hahaha”

“kau benar!”sahut Myungsoo ikut tertawa “sepertinya kejadian itu terulang lagi sekarang, hanya saja malam ini kita tidak hanya tidur berdua –tapi berempat!”

Jiyeon hanya menanggapinya dengan senyuman “aku jadi tidak sabar menunggu waktu kita untuk menjadi keluarga!”

“itu semua tidak akan lama lagi, Jiyi sayang”

Merekapun menyelesaikan acara gosok gigi bersama mereka. Kini keduanya sudah melangkah keluar kamar mandi menuju ranjang. Jiyeon tidur tepat disebelah Jisoo, sedangkan Myungsoo disebelah Jihun.

“selamat malam!” seru Myungsoo dan Jiyeon bersamaan. Myungsoopun mematikan lampu kamar mereka.

The End?

Hahhahaha gak! Jawabannya masih ada satu part lagi… maaf aku gak bisa namatin disini hehehe xD soalnya rencananya kita mau nyeritain tentang pernikahan Jiyeon-Myungsoo. bulan madunya Jiyeon-Myungsoo. belum lagi hubungan Kai-Soojung yang masih menggantung wkwk. Dan maaf karena ceritanya terlalu panjang! Belum lagi setiap partnyapun panjang hehe xD

Sampai ketemu lagi……

97 responses to “DESTINY: OUR FATE. THE END? [PART 12]

  1. Iya panjang sgt.aq bhkan dua jaman baru selesai.ahhh mnghela nafas.selesai jug akhirnya.sampai pegal tanganku,krna aq bcanya sambil tduran.al hasil tnganku jd pegal.tp g pa” demi myungyeon.tangan author pasti lbih pegal ngetik spanjang ini.next partnya ya thor?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s