[Oneshot] Lost Inside You

poster 2

Kim Myungsoo – Park Jiyeon

.

‘….. and there will be a time when you get lost. Get lost inside those unwanted eye.’

.

.

.

.

Kim Myungsoo diam. Gadis tepat di hadapannya menatap nanar tanpa banyak ronta perlawanan. Sama sekali tidak lazim untuk dirinya yang sudah fasih memenuhi tugas. Rana nyalang tanpa gurat ketakutan, poles tenang seolah bekap benda yang merekat mulut sama sekali tak mengganggu, dan tak segumpal pun titik amarah keresahan. Sorot mata itu tidak tajam, tidak pula mengancam. Isi kepala Myungsoo bergulat menerka dalam kasat.

Penasarankah ia? Jelas. Setiap pasang mata yang ia tangkap untuk diakhiri eksistensinya atau sekedar mengasingkan mereka ke antah berantah tanpa kepastian selalu melawan keras. Sudut tajam penuh amarah bercampur ketakutan dalam imbang ketidak pastian yang ia rapal dengan lihai. Myungsoo menyukai saat-saat tersebut. Ia berkuasa atas pasang nyala kehidupan yang tergores dalam binar kecil itu.

Sesuatu yang terasa menyenangkan merogoh dalam-dalam dadanya. Ia menikmati mengambil alih kuasa ketentuan nasib –yang mungkin adalah kali terakhir- seseorang. Tak ada ruginya melakukan sesuatu yang membuncahkan rasa bahagia sekaligus hidup dengan menetapkan hal tersebut sebagai profesi.

Ujung kata menyesel di lidah atau benak tak pernah terangkai. Ia tak pernah sudi mengenali pemilik rana yang ia tangani. Tidak, barang sedikit pun. Jatuh dalam rinai emosi sang pemilik berarti menyerahkan rasa senang dengan substitusi perasaan lain. Seloroh alir emosi asing yang tidak pernah ingin ia satroni. Apalagi macam emosi yang senantiasa menariknya keras pada sudut gelap tanpa titik terang kehidupan. Ia benci kembali berada pada pojok demikian.

Lantas mengapa sorot cahaya gadis itu tak berganti sekilat pun? Gadis itu tak terkejut, tak pula memberingas kesana kemari kala ia menyerga dalam sunyi. Tak bisa disebut gadis itu dengan senang hati menurutinya, namun tak bisa pula dikata gadis itu keberatan. Titik tak menyenangkan itu berkelebat kecil hanya tak mendominasi. Rangkai-rangkai sulut adrenalin ‘boneka-boneka’ yang dulu ia mainkan tak kunjung nampak.

Myungsoo tahu, bilamana ia bermain dengan ciprat kecil rasa asing dalam dirinya, tak lama ia akan terjebak disana. Tapi sekujur bagian lain tak memberingas menolak ketika satu tangan perlahan melepas perekat yang mengunci katup bibir gadis itu dari selongsong perkataan.

“Berteriaklah, jangan menahan sulut takutmu,” Myungsoo kembali duduk rapi pada kursi kayu tua di hadapan gadis itu. Merunduk titik mata agar sejajar dengan sorot tenang di mata gadis tersebut.

Park Jiyeon –gadis yang selongsong matanya tak luntur dan jauh dari rana takut- merendahkan kepala. Helai-helai rambut cokelat mengurai menutup sisi-sisi wajah. Kedua bahu bergetar. Satu sisi bibir Myungsoo mulai tertarik membentuk celah seringai.

Namun tak terhitung detik singkat, seringai itu lenyap. Jiyeon tertawa. Bukan macam tawa dengan untai sarkasme kasat, tawa lepas seolah ada sesuatu yang membuat humornya tergugah. Apa gadis itu sebenarnya gila? Pikir Myungsoo.

“Takut?” Jiyeon menutur jeda di sela tawa, menarik maniknya pada iris Myungsoo. “Kalau kau memang ditugaskan untuk menyudahi eksistensiku, lebih baik segera kau lakukan. Nenek tua materialistik itu yang membayarmu bukan?”

Dalam diam sikap tubuhnya, Myungsoo menahan lonjak lain.

Jiyeon sama sekali tidak terkejut. Tidak butuh denting panjang lengan waktu untuk membaca keadaan, ia tahu kartu mana yang akan menyerang jejaknya. Kartu lama yang tersimpan rapi menunggu untuk dipaparkan. Tapi kelakuan semacam cerita bodoh opera sabun yang berlimpah ditayangkan stasiun tv seperti ini adalah sebuah kenyataan tak menyenangkan yang tak pelak bermain dalan roda cerita miliknya.

Perputaran cerita yang drastis semenjak nyawa mendiang ibu Jiyeon berakhir. Lambat laun ia tahu, hal yang sama akan segera menyergapnya dalam diam. Ya, nenek tua itu tentu menyusun nasib tak menyenangkan untuk menyunting cerita hidup  sendiri. Oh, betapa manusia mampu lebih biadap dari pada iblis.

“Siapa namamu?” tuturan ujung bibir Myungsoo mengudara refleks tanpa melalui otak. Ya, otak yang kini tengah teralih kendali pada organ lain. Asing.

Dahi Jiyeon berkerut menampakkan ceruk, “Bodoh. Peduli apa kau dengan nama orang yang akan kau putus kehidupannya?”

Myungsoo menggeram rendah, “Jawab saja!”

Jiyeon berdecak, menggeleng tak percaya, “Tck. Park Jiyeon. Puas?”

Seloroh tatap sebal yang menajam pada manik hitam Myungsoo seperti berbinar. Jiyeon menutur dirinya siap mengakhiri hidup, tapi kedua titik itu tak berkata demikian. Bukan memohon agar binar itu tetap ada disana, tapi memaksa Myungsoo tenggelam dan tunduk untuk mengakui bahwa binar itu tak pantas menghilang.

Bila deret-deret cerita pada dongeng Putri Salju melagukan bahwa kecantikan sang Putri memikat si Pemburu yang lantas mengasihaninya sehingga ia tetap hidup dan menanti takdir mengantarkan Pangeran, maka Myungsoo adalah si Pemburu. Namun satu hal yang berbeda dari cerita pengantar bunga tidur itu, ia tidak akan melepaskan sang Putri untuk sosok konyol Pangeran yang entah benar-benar tulus pada Putri atau tidak.

“Apa yang sedang kau pertimbangkan? Bunuh aku,” alir kata itu terdengar janggal namun tetap tenang. Tanpa satu sela nada yang menguar nyali yang akan segera hilang.

Myungsoo berdiri, berderap mendekat. Mengusir jarak antara dirinya dan Jiyeon. Merunduk rendah menopang diri pada salah satu kaki yang tidak menekuk. Membalas nyalang pada rana bergeming di depan. Telinga dipenuhi suara gemuruh  dari dada. Otak yang melompong, secara harafiah berhenti bekerja. Hal lain mengokupasi seluruh tutur laku Myungsoo.

“Kau sebegitu ingin mati?” satu tangan mencengkram kerah pakaian Jiyeon, memperinci sudut wajah sementara matanya menusuk tajam.

Kepala Jiyeon bergeser menyudut pada satu sisi, “Kenapa? Kau terlanjur menyukaiku?” seloroh tanya yang tak begitu berarti menohok kebenaran yang tak terbaca pada gelagat Myungsoo.

Tolol. Banyak hal yang tidak mungkin. Menyeberangi samudera dengan berjalan diatasnya, melompat untuk sampai ke bulan, atau menyusur beluk galaksi tanpa oksigen, semua itu setara dengan pembunuh yang terusik emosi pada calon korbannya. Pembunuh tidak mengenal belas kasihan, bahkan telah lama tak ingat apa maksud kata tersebut dan sungguh tak sepantasnya merasakan emosi yang mengalir manis penuh melankolisme seperti yang tertoreh pada picisan.

Myungsoo tak percaya takdirnya bermain dalam skenario sang Pecipta. Namun kali seluk dadanya berdesir tanpa ia menginginkan bahkan walau ia menolak, ia tahu takdir mengukuhkan eksistensi untuk menerjang jauh ketidak percayaan yang ia anut.

“Kau pikir singa akan jatuh cinta pada makanan kecilnya huh?” Delik matanya tertarik muncul, seberkas binar yang sempat tertangkap lenyap. Ini kodrat yang ia pilih. Ia harus mengabaikan seluruh perdebatan konyol yang bergulir dalam dirinya. Myungsoo harus tetap berjalan lurus, terlalu jauh baginya untuk berbalik memutar dan menata diri pada awal baru. Tidak semudah itu.

Laras dengan lubang pada ujung tersebut menempel lembut pada sisi pelipis Jiyeon. Jemari Myungsoo bergerak perlahan, menyesapi tiap momen dimana tubuh dengan kehidupan itu akan segera kaku tanpa pergerakan hanya dalam hitungan jari.

Binar pasang mata yang menelanjangi ke dalam dirinya masih tak gentar, kilas putus asa dan pasrah yang menjadi pemandangan kesukaan Myungsoo tak kunjung terlihat.

“Bukankah selalu ada kata-kata terakhir sebelum seseorang meregang nyawa?” ucap Jiyeon. Talu jantungnya tak berpacu menjadi dua kali lipat, tetap berirama normal sekakan tak ada benda bermoncong yang mengintai sisi kepalanya.

Myungsoo menyeringai picik, “Baiklah, terserah.” Segenap isi kepala tengah berusaha kembali memegang seluruh titah.

Jiyeon tersenyum. Tak ayal menuai taut alis dan wajah tak mengerti padap paras Myungsoo.

“Ini bodoh, tapi… kurasa tak ada salahnya sebelum aku mati.”

Kedua tangan yang terikat menyatu tanpa aba-aba menarik kerah kemeja Myungsoo, bibir Jiyeon mengukir seringai kecil. Ia bisa merasakan deru napas hangat Myungsoo yang tak lama tercekat pada kulit wajahnya. Aroma Myungsoo yang menjagali penciumannya dan  dentum-dentum keras yang ia tahu bukan berasal dari rongga dadanya.

Sela tipis itu menghilang, ketika bibirnya menyapa bibir Myungsoo. Laki-laki itu tahu, yang seharusnya ia lakukan adalah mendorong jauh Jiyeon dan segera menarik pelatuk melepas peluru yang tersusun rapi pada bagian benda metal yang menunjuk pelipis Jiyeon. Tapi akalnya tak mampu menarik kendali. Ia menikmatinya.

Bibir Jiyeon yang terasa hangat dan manis pada bibirnya. Sentuhan hati-hati tangan gadis itu pada dagunya. Atau tatapan singkat ketika matanya mencari-cari titik legam Myungsoo, mencoba menerka apa yang tengah laki-laki itu pikirkan.

Ini bukan gugah perasaan birahi yang menginginkan lebih menuju nafsu kenikmatan. Ia menyukai keintiman lembut yang dengan cepat meruntuhkan rasionalitasnya. Myungsoo tahu ia harus menjalankan semua perintah pada akhirnya. Tapi kini yang ia lakukan adalah memagut bibir Jiyeon lebih dalam. Dirinya menginginkan Jiyeon, hatinya semacam diterpa angin segar. Gelanyar tak bercela yang berdesir menyenangkan.

Namun kepalanya belum menyerah untuk memaksa kembali pada jalan yang menanti dihadapannya. Kedua tangannya mendorong bahu Jiyeon, menyudahi ciuman yang menghentikan waktu disekitar. Jiyeon bersandar lurus pada dinding di balik punggungnya.

“Kau pikir aku tidak akan membunuhmu? Cukup dengan permainan bodoh ini,” nada lantang bergema pada ruangan kosong tersebut. Rana tatap Jiyeon menyalak tanpa merasa bersalah.

“Sudah kubilang kalau kau ingin membunuhku, lakukan dengan lekas. Aku tidak butuh belas kasihan,” seakan tak terjadi apa-apa beberapa saat lalu, nyalang kedua legam Jiyeon membalas tanpa gentar pada titik mata Myungsoo.

Maya. Apa yang baru saja menyergapi dirinya adalah perasaan maya tanpa kejelasan. Perasaan asing bukan pertanda baik. Karena keasingan itu tanpa diketahui dapat menyergap pertahanan dan balik membunuhnya. Myungsoo tahu, ia harus tetap kembali pada keharusan yang tertera. Tidak seharusnya ia bermain manis dengan mangsa yang harus segera ia lenyapkan.

Myungsoo menekan laras senjata semakin dalam pada sisi kepala Jiyeon. Jari telunjuk bersiap untuk bergerak kapan saja melepas timah panas. Mengakhiri riwayat kehidupan gadis tersebut.

Tidak seharusnya ia bermain. Jiyeon bukan mainan, hanya seonggok tubuh yang akan segera tak berdaya dan terlupakan riwatnya dengan lekas setelah sisa-sisa kehidupan menguar tanpa jejak. Myungsoo bergeming, menunggu seluruh otak kembali pada rasionalitas normal. Bukan terdominasi oleh perasaan yang merayu dalam kasat.

Jerat-jerat yang membuai dalam diam dan berusaha menyudahi semua rasionalitas yang Myungsoo junjung.

Semakin lama binar dari titik hitam Jiyeon goyah, bulir setitik cairan tumpah dari pelupuk pada sudut mata.

“Selamat tinggal, kalau begitu…” namun nada pelan itu tak bergetar, rangkai rekah senyum sederhana membuat satu dua kali ketahanan lain yang tengah dalam proses kembali terhenti.

Sudah cukup waktu bermain. Semua harus segera tuntas. Tidak sepantasnya ia menyerah pada seluk bergelanyar dalam dadanya.

“Selamat tinggal…” Keputusan harus ditarik. Ia mungkin akan menyesal. Tapi Myungsoo tahu semua hanya tentang permainan waktu.

.

.

.

.

Matahari mulai menyerang terik dari balik tirai putih yang mencegat hambur sinar itu masuk menyergap sosok diatas tempat tidur yang masih bergelung. Menolak mengakhiri bunga tidur yang memikat. Oh betapa manis polah permainan yang berputar dalam angan tidur tersebut. Alur napas tenang yang membuat kedua punggungnya turun naik dengan teratur.

“Kau pikir kau putri tidur?” Laki-laki yang beberapa saat lalu bergelut dengan canngkir dan cairan berbau pekat yang menggugah sesapan berdiri diambang pintu, tahu dengan sedikit panggilan pelan sosok di atas tempat tidur tersebut akan segera tersadar dari buai alam bawah sadar.

Sosok itu mengerang pelan. Semacam jengkel karena potongan indah yang bermain apik dalam alam lain lantas berakhir karena dipaksa terbangun akan suara laki-laki yang kini berjalan dan duduk di pinggir tempat tidur. Menatap lamat-lamat sosok itu.

“Kau mengganggu,” gerutu sosok itu, kedua kelopak mata belum mencelang terbuka. Ia masih menikmati sekon yang bergulir tidak berarti kala itu.

Laki-laki tersebut menopang dagu dengan salah satu tangan, sedang tangan lain bermain lembut pada untai-untai rambut yang menghalangi wajah sosok yang berbalut selimut, menutupi tubuh yang tidak berbalut apapun.

“Memangnya kau berniat tidur sepanjang hari? Ini sudah lewat waktu makan siang nona. Tidak kasihan dengan perutmu?” Jemari Myungsoo mengelus halus sisi wajah sosok itu dengan hati-hati. Mata sosok itu mengerjap terbuka, menangkap sosok Myungsoo yang menatapnya dengan untai bibir yang merekah.

“Apa? Kalau aku tidak bangun kau akan menghabisiku?” tuturnya menggurau.

Kini kata-kata itu terdengar hanya sebatas canda tanpa maksud. Myungsoo tertawa, lantas mendekat diri mengecup singkat bibir mungil sosok yang mendekap erat pada kain tebal polos.

Hari lain yang bergulir menyenangkan. Kala dulu ia pikir semua hanya akan menjadi cerita pahit karena keputusan yang ditentang rasionalitsnya, kini Myungsoo menikmati segala yang berputar setelah semua pertengkaran dan hari dimana ia masih berusaha menjaga ketentuan pilihannya.

Kedua titik dengan binar menyenangkan itu menatapnya lembut, meluruhkan keping-keping tebal yang terus ia jaga. Mata yang merubah segala prioritas yang dahulu selalu ia agungkan. Kedua pantul yang menghangatkan dirinya. Mengembalikan kemanusian yang tenggelam hilang beberapa lama.

“Nona Jiyeon, apa aku harus memaksamu keluar dari selimut ini?” rana jahil itu menggoda, membuat kedua pipi Jiyeon merona. Myungsoo tau ia sama sekali tak mengenakan apapun.

“Ugh, baiklah. Cerewet,” Jiyeon meregangkan tubuhnya. Mau tak mau menyerah.

Myungsoo terkekeh. “Cepat, sebelum makananmu dingin.”

Jiyeon mengangguk mengerti, balas tersenyum simpul. Myungsoo mendekat, merasakan lagi bibir mungil yang selalu terasa manis tersebut sebelum lalu beranjak.

Jiyeon duduk menatap hingga punggung Myungsoo menghilang dari balik pintu yang menutup pelan. Rekah sudut bibir belum beranjak. Buncah-buncah menyenangkan mengalir nyaman dalam dirinya. Ia menyukai segalanya. Tidak menyangka perputar lain hadir dan merunut rangkaian yang berbeda, rangkaian indah yang hadir dalam seseorang dengan rekam jejak tak berperi kemanusian.

Permainan takdir memang terasa mencekam dan pahit. Tapi pada satu waktu hadiah menyenangkan tanpa terduga muncul. Meskipun pada jalan yang tidak menyenangkan dan rintai penolakan.

Mereka bertolak belakang. Tanpa ada satu persamaan berarti. Namun jika takdir menitikan keputusannya, maka segela ketidak selarasan itu lambat laun melebur pelan.

Cukup. Tidak perlu perputaran lain. Menghabiskan semua sisa waktu yang berserakan dengan Myungsoo adalah lebih dari cukup.

_FIN_

Myungyeon is hereee. Yeaah setelah sekian juta tahun cuti dari hsf akhirnya dapet juga sedikit inspirasi. maap yaaa, maklum namanya juga lagi nyari tempat kuliah, jadi sibuuuk. tapi alhamdulillah sekarang sudah bebas dan tinggal menikmati liburan😄 hihi gimana kalian kalian yang bernasib sama apa sudah mendapat kabar baik? semoga usaha kalian mendapat hasil yang sepadan ya, AMIN. Oh yeah untuk project GZY aku udah bikin chapter selanjutnya, tapi karena sementara ada perubahan aku masih belum ngelanjutin yaaa. MAAAAAFF banget. semoga liburan ini bisa rampung yaaa.

Btw ini ada satu side story yang nanti bakal aku post minggu depan dan akan di protect. jadi kalo kalian mau baca wajib komen di ff ini, follow akun @slee612 trus mention id komen kalian disini. nanti kalo udah aku publish ffnya bakal aku dm hint password untuk side story ff ini. Oke?

Makasih yang udah mampir😀 maaf kalo kurang berkenan dan banyak typo yaaa. Mohon komen dan saran kalian.

Sincerely

_Li_

74 responses to “[Oneshot] Lost Inside You

  1. ehm jd semalem waktu mau nembak jiyi itu , gg jadi kan malah jdi nya ngelakuin itu , ciiee jiyi bisa aja nieh ngegoda.a , kkkkkkk
    bagus seh ff nya aq berasa baca novel gtu , tapi ya menurut aq kl dipost disini gg semua ngerti bahasa.a agak terlalu berat , mungkin next ff bsa agak di perbaiki seh bahasa.a , yg di mengerti tp enak dibaca jga😀
    aduh maaf loh uda lancang coment gni , kayak yg bsa bikin aja , hehe ^^v
    keep writing🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s