[VIGNETTE] Shoes

myungminzy-shoes

Shoes

by asyfantastic

Choi Minho – Bae Suzy – Kim Myungsoo || Romance Friendship || Teen || Vignette

Disclaimer :
Inspired by Tulus – Sepatu

Cinta memang banyak bentuknya, mungkin tak semua bisa bersatu

-oOo-

“Choi Minho..!!”

Lagi-lagi suara itu berseru memanggilku. Suara yang selalu dan terus menerus memenuhi hari demi hariku. Suara yang selalu menggetarkan gendang telingaku setiap ia menaikkan nada bicaranya.

Aku masih tak menggubrisnya sebelum sebuah tangan menarik paksa lenganku agar mengikuti langkahnya dan duduk disebuah kursi kayu. Beberapa pasang mata kini menatapku dan gadis disampingku dengan tatapan heran. Jika sudah seperti ini, aku tak bisa apa-apa lagi, mau lari dan menghindar darinya pun sudah tak ada gunanya lagi, yang perlu kulakukan sekarang hanya duduk manis dan mendengarkan segala hal yang keluar dari bibirnya.

“Apa lagi?”

“Kim Myungsoo!”

Aku hanya bisa menghela nafas panjang setiap satu nama itu disebut. Bukan apa-apa, hanya saja setiap nama itu keluar dari mulutnya, aku tahu jika pasti ada sebuah masalah yang pasti akan ia bagi denganku.

“Myungsoo. Dia berkencan diam-diam dengan wanita lain dibelakangku..”

Tepat dengan dugaanku sebelumya, pasti akan ada masalah baru yang ku dengar, ah bukan lebih tepatnya masalah lama yang terulang kembali, lagi dan lagi. Ujung bibirnya sudah mulai turun sejak ia datang, dan wajahnya semakin murung saat dia menceritakan masalah utamanya.

Bae Suzy. Wanita yang sudah empat belas tahun ini selalu bersamaku. Sekolah dasar, sekolah menengah, perguruan tinggi, bahkan sampai tempat kursus kami selalu sama. Dimanapun keberadaanku, dirinya pun pasti ada bersamaku. Kami bagaikan sepasang sepatu, selalu bersama dan jika salah satu dari kami hilang, pasti tak akan terasa lengkap. Begitulah kata orang-orang disekitar kami.

Pertemuan pertamaku dengannya masih terekam jelas dikepalaku. Seorang gadis asing yang menangis disamping tempat sepedaku di parkir. Saat aku menanyakan siapa namanya, dia malah semakin menagis. Saat aku menanyakan dimana rumahnya dan berniat mengatarnya pulang, dia mundur menjauh dan memandangku seakan aku ini seorang penjahat yang akan menculiknya.
Cukup lama kami saling diam dalam keadaan yang cukup membingungkan. Aku hanya menatapnya tanpa tahu harus melakukan apa sedangkan dia terus saja menangis tanpa pernah memberitahu apa sebabnya.

Saat aku sudah mulai lelah diam menunggu, akhirnya aku memutuskan untuk bangkit dan membawa pergi sepedaku. Belum sempat aku melangkah, tiba-tiba saja sebuah tangan menarik pelan lenganku. Saat aku menoleh dan melihat siapa pemilik tangan itu, gadis dengan mata yang masih bengkak dan tangis yang belum sepenuhnya reda, ia tersenyum tipis.

“Tunggu..”

Itulah saat pertama aku mendengar suaranya. Aku masih diam memandangnya, menunggu kalimat selanjutnya yang akan ia ucapkan.

“Aku tersesat. Bisa kau antarkan aku pulang?”

Sejak saat itu aku mengenalnya. Sejak saat itu pula aku mengetahui jika gadis itu bernama Suzy. Tanpa aku tahu ternyata rumahnya tepat berada di samping rumahku, dan itu artinya kami bertetangga dekat. Dua hari setelah itu, ia muncul di depan kelasku sebagai murid baru. Entah takdir macam apa yang selalu membuatku terus bersamanya, sampai saat ini.

Menurutku Suzy adalah bidadari yang turun dari surga dan menjelma menjadi teman yang luar biasa. Dia baik hati dan ceria, walaupun ia cukup manja, tapi aku memakluminya karena aku tahu jika Suzy adalah anak tunggal, dan aku sudah dianggap sebagai kakak lelakinya.

Satu hal lagi tentangnya, masalah yang dimilikinya pasti tak jauh dari kata cinta. Entah sudah berapa kali ia berganti pasangan, dan sudah berapa kali ia menangis didepanku membicarakan tentang semua lelakinya. Ditinggal pergi tanpa kabar, diselingkuhi secara terang-terangan, jangankan diduakan, diempatkanpun Suzy pernah merasakannya. Mungkin segala hal tentang cinta pernah ia lalui, dan aku sebagai sahabat yang baik selalu berada dibelakangnya.

Kim Myungsoo. Lelaki yang berhasil membuat Suzy begitu tergila-gila padanya, bahkan melebihi dari pacar-pacar Suzy sebelumnya. Aku berkata seperti itu bukan hanya karena alasan masa pacaran mereka lebih lama dari yang lain.

Aku sudah pernah melihat Myungsoo berkencan dengan gadis lain dan yang pasti itu bukan Suzy. Aku tak pernah mengatakan hal itu secara langsung pada Suzy, terlalu menyakitkan untuknya. Aku hanya memancingnya untuk datang ketempat biasa Myungsoo dan gadis itu bertemu. Tepat seperti semua yang aku rencanakan, Suzy melihatnya dan sempat mengamuk didepan umum. Aku yang baru keluar dari tempat persembunyianku datang layaknya pahlawan kesiangan yang langsung menenangkannya dan membawanya pergi secepat mungkin.

“Bagaimana bisa ia melakukan hal itu padaku. Aku sudah sangat mempercayainya. Ia lelaki yang baik. Aku menyayanginya, Minho..!”

Ia menagis tersedu. Aku tak tega melihatnya, sempat aku menyesali melakukan hal itu padanya, tapi sekali lagi aku meyakinkan diriku jika itulah hal terbaik yang dapat aku lakukan untuknya. Cepat atau lambat dia juga akan mengetahuinya, bukan?

Setelah hari itu aku tak melihatnya berkeliaran disekitar kampus. Aku sudah mengiriminya pesan, mencoba menghubunginya, tapi tak pernah dibalasnya. Mencari ke kelasnya dan menanyakan pada semua temannya pun tak ada hasilnya karena tak seorangpun yang mengetahui keberadaannya.

Lima hari sudah dia tak pernah terlihat. Saat aku sedang sibuk mencari bahan untuk presentasi, aku melihat siluet dua orang yang sangat familiar dimataku. Suzy dan Myungsoo. Tunggu, mereka bergandengan tangan?

Tanpa aku sadari dua orang itu kini sudah berdiri tepat didepanku. Dengan senyum yang mengembang dari bibir keduanya, Suzy mengatakan jika ia dan Myungsoo baru saja berbaikan dan memutuskan untuk menyambung kembali hubungan mereka yang sempat putus. Suzy juga sempat meminta maaf karena tak pernah membalas pesanku, ia masih dalam masa menenangkan diri.

Sejak saat itu muncul rasa yang berbeda. Aku sama sekali tak merasa bahagia. Ini pertama kalinya aku tidak ikut senang melihatnya tersenyum. Kembalinya Myungsoo pada Suzy memberitahuku jika aku menyukai Suzy. Rasaku padanya lebih dari seorang sahabat.

Aku tahu jika ini salah. Menyukai sahabatku sendiri. Sahabat yang bahkan sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Sahabat yang sudah memiliki seseorang dihatinya. Sahabat yang sudah menjadi milik orang lain.

Aku merasa begitu bersalah dengan semua rasa yang kumiliki. Aku merasa tak ada gunanya memilki rasa yang tak akan pernah terbalas, bahkan tersampaikanpun tidak. Rasa yang sebisa mungkin akan kusembunyikan. Aku tak ingin merusak hubungannya dengan Myungsoo. Aku tak ingin merusak hubungan persahabatanku dengannya yang sudah kubangun selama ini.

Aku tahu jika semua ini menyakitkan. Memendam rasa tanpa pernah menyampaikannya. Aku begitu merasa tersiksa dan terkekang dengan rasa yang aku miliki. Dihantui dengan begitu banyak iblis kecil yang memerintahku agar menghancurkan hubungannya dengan Myungsoo dan menjadikannya milikku. Berkali-kali aku mencoba melawan, aku tak ingin jika rasa suka ini berubah menjadi sebuah obsesi.

Membandingkan diriku dengan seorang Kim Myungsoo memang hal yang bodoh. Siapa aku? Hanya seorang mahasiswa biasa tanpa masa depan yang jelas. Sedangkan Myungsoo, dia tampan juga penuh pesona, dan jangan lupakan jika dia adalah pewaris utama perusahaan besar milik ayahnya. Tak heran jika Suzy lebih memandangnya yang jauh lebih baik dengan harta yang tak akan habis hingga tujuh turunan.

Jika Myungsoo yang sekarang adalah Myungsoo yang dulu mungkin aku tak akan sekhawatir ini akan kehilangan Suzy. Myungsoo yang kekanakan dan masih suka bermain dengan segala hal, salah satunya adalah hubungannya dengan Suzy. Tapi itu dulu, sebelum ia menyesali semua kesalahannya dan meminta kepada Suzy agar kembali padanya, memperbaiki segala hal yang pernah merusak hubungan mereka.

Melihatnya tersenyum bahagia dan bermanja dilengan Myungsoo lagi-lagi membuatku menyadari satu hal. Aku tak bisa memenangkan hatinya. Suzy sudah menjadi milik Myungsoo dan aku tak bisa berbuat apapun. Suzy dan Myungsoo sudah saling mengikat hatinya satu sama lain, dan aku, hanya orang asing yang berusaha memisahkan mereka berdua. Layaknya pasukan perang yang ingin menghancurkan benteng lawan dengan tangan kosong, sekuat apapun mencoba tak akan pernah berhasil.

Aku masih berusaha berpikir dengan akal sehatku. Aku tak bisa hidup seperti ini terus. Membuat hidup yang telah kuperjuangkan selama ini berhenti begitu saja hanya karena cinta yang tak tersampaikan. Aku berpikir sekali lagi, dan aku memutuskan untuk pergi dari kehidupannya. Pergi meninggalkan Suzy.

“Minho! Kemana saja kau selama ini? Kau menghilang begitu saja tanpa kabar. Mengangkat panggilanku atau bahkan membalas pesanku saja tidak.”

Hari ini aku memutuskan untuk menemuinya, mengatakan jika aku akan pergi dan berpindah jauh darinya.

“Aku akan pergi.”

Susah payah aku menguatkan diriku agar mampu mengucapkan kata perpisahan ini di depannya. Suzy hanya tertawa mendengarku mengatakan semua ini. Dia masih menganggapku bercanda.

“Besok adalah hari keberangkatanku.”

“Apa alasannya?”

Air matanya sudah mengambang setelah aku mempertegas ucapanku. Ia masih menahan tangisnya meminta penjelasan lebih lanjut dariku.

“Tidak-”

“Katakan padaku apa alasannya, Choi Minho! Sekian lama kau menghilang dan sekarang kau muncul dengan berita seperti ini. Kau kira ini lucu? Katakan padaku jika sekarang adalah April Mop. Katakan padaku jika kau hanya bercanda!”

Aku hanya bisa menatapnya dalam diam. Berusaha menahan tangisku yang sudah menggedor ingin keluar. Suzy memukul dada dan lenganku keras. Cairan bening yang turun dari matanya sudah mengalir sejak tadi.

“Kau jahat! Apa maksudmu melakukan semua ini padaku!”

“Aku mencintaimu.”

Pengakuan pendekku membuat tangisnya berhenti. Ia mundur dan perlahan mengangkat kepalanya menghadapku. Raut wajahnya tak bisa menyembunyikan jika ia kaget. Terhenyak dengan pengakuan bodohku. Pengakuan bodoh yang tak sanggup ku tahan lagi.

“Aku mencintaimu, Bae Suzy. Aku tahu ini salah, menyukaimu disaat kau sudah memiliki Myungsoo. Aku merusak persahabatan kita, dan aku tak ingin semua ini menjadi semakin rumit jika aku terus berada disini, terus berada disekitarmu.”

“Aku tak menjamin jika semua akan berjalan baik jika aku harus terus berlapang dada melihat semuanya dengan kedua mataku. Tidak menjamin jika suatu saat aku sudah tak berpikir dengan akal sehatku dan melakukan hal bodoh lainnya. Aku melakukan semua ini untuk mencegahnya sebelum semua benar terjadi.”

Hening. Sunyi. Tak ada suara lagi yang terdengar. Aku ataupun dia. Sama sekali tak ada pergerakan. Hanya mataku dan matanya yang terus saling memandang memberikan pengertian satu sama lain. Terlihat dari matanya jika ia masih belum bisa menerima semuanya begitu saja. Aku menghela nafas sejenak sebelum berbalik dan meninggalkannya.

“Kau jahat! Kau egois, Minho. Kau meninggalkanku begitu saja hanya karena masalah ini. Kau anggap apa persahabatan kita selama ini. Sebuah sepatu bekas yang sudah rusak dan bisa kau buang begitu saja? Kau berubah. Kau bukan Minho yang dulu lagi.”

Sebenarnya apa yang ia pikirkan? Hei! Bukankah aku sang korban yang dipaksa mengalah? Selama ini aku yang selalu tersakiti dan kini ia melimpahkan kesalahan padaku dengan tuduhan bertubi-tubi.

Hatiku sakit mendengarnya mengatakan semua itu. Ingin aku berbalik, memeluk dan meminta maaf padanya, tapi akal sehatku terus saja menyuruh kaki ini untuk melanjutkan langkahku.
Biarlah aku kini menjadi orang jahat. Bertingkah layaknya seseorang yang tak punya hati. Ini lebih baik daripada aku kembali dan membuat semuanya bertambah runyam.

Aku benar-benar pergi meninggalkannya. Mungkin inilah lembar terakhir dari empat belas tahun persahabatanku dengannya. Akhir dari persahabatan Minho dan Suzy. Aku harap masing-masing dari aku dan dia dapat membuka lembar baru yang lebih baik. Awal dari kebahagiaan Suzy bersama Myungsoo, juga awal dari kebahagiaanku.

Ternyata anggapan orang bahwa aku dan Suzy adalah sepasang sepatu itu salah, karena aku dan dia hanya dua buah sepatu yang secara kebetulan ditempatkan di tempat yang sama. Kami bukanlah sepasang, karena kami berbeda.

-END-

Note :

Iya ini aku terinspirasi dari lagunya Tulus yang sepatu, coba deh kalian dengerin lagunya semuanya enak-enak kok, easy listening..

Liriknya ituloh, dengerin dia nyanyi jadi kerasa dengerin dongeng gitu, recommended banget deh pokoknya!

Comment please yes! Sarannya juga boleh kok~

11 responses to “[VIGNETTE] Shoes

  1. Wow.. keren. Menggambarkan jalan cerita dr sudut pandang Minho..
    Minho luar biasa.. bisa berlapang dada merelakan Sooji bhagia ma Myungsoo..
    Smoga Myungsoo gk kumat lagi yah..
    Supaya pengorbanan Minho gk sia2..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s