[ONESHOT] Break a Promise

myungji-bap

Break a Promise

written by asyfantastic

Infinite’s L – T-ara’s Jiyeon || Romance Angst || Teen || Oneshot

People change and promises are broken

-oOo-

Udara hari ini terasa hangat dan menenangkan, angin yang bertiup semilir membuat nyaman setiap orang yang terkena hembusannya.

Tetapi mungkin tidak dengan dua orang yang saling membuang tatapan mata tajamnya sejak tadi. Menjadi pusat perhatian tak membuat mereka malu ataupun berkeinginan untuk pergi dan mencari tempat yang lebih sepi.

“Kita, cukup sampai disini.” Desis seorang lelaki pada gadis dihadapannya.

“Tapi-”

“Apa? Mau menyanggah dengan beribu alasanmu?”

“Tidak!” Balas wanita dihadapannya setengah berteriak, “Aku hanya tak ingin kau salah paham.”

Lelaki yang diajak bicara hanya tertawa, “Salah paham?”

“Apa yang kulihat sudah menjelaskan semuanya.”

Wanita dengan rambut panjang itu terus menggeleng meyakinkan, “Apa yang kau lihat bukanlah yang sebenarnya. Dengarkan dulu penjelasanku, Myungsoo..”

“Kau bergandengan tangan begitu mesranya dengan lelaki itu, bahkan akupun tak mengetahui siapa dirinya, dan kau mengatakan jika apa yang kulihat itu salah?”

“Dia sahabatku, Yoo Seungho. Bukankah aku sudah pernah menceritakannya padamu?” Tanya wanita pada lelaki yang dipanggilnya Myungsoo tersebut.

Myungsoo hanya menaikkan alisnya, “Dia Seungho atau Seunghee pun aku tak peduli! Dan haruskah sepasang sahabat bersikap seperti itu?”

Wanita itu terus menatap Myungsoo, “Dia sahabatku sejak kecil, kau harus mengerti itu, oppa.”

“Tidak, Jiyeon. Seharusnya kau lebih bisa menjaga perasaanku, menjaga janji kita!”

Jiyeon hanya bisa menghela nafasnya, “Sebaiknya kau pulang dan tenangkan dirimu. Kita tak bisa membicarakannya dalam situasi sekarang.”

“Untuk apa? Kita bisa membicarakannya sekarang.” Balas Myungsoo, “Oh, atau kau ingin menyusun bagaimana alasan yang baik dan bisa membuatku memaafkanmu, begitu?”

Jiyeon hanya diam, “Aku tunggu di kedai kopi biasa, pukul 7 nanti.”

“Hei! Apa maksudmu mengalihkan pembicaraan, kita selesaikan sekarang atau-”

“Aku harap kau datang nanti..” Ucap Jiyeon tersenyum dan berbalik meninggalkan Myungsoo.

-O-

Sepasang sepatu yang terlempar jauh, sebuah jaket yang berserakan di bawah nakas, juga sebuah kunci motor yang tergeletak begitu saja di samping lemari. Begitulah kira-kira keadaan kamar Myungsoo saat ini, benar-benar berantakan. Tak jauh beda dengan kamarnya, rasa dihatinya kini pun sama kacaunya.

Myungsoo hanya diam memandang langit-langit biru kamarnya setelah membanting keras tubuhnya diatas ranjang sepulangnya tadi, dengan rambut yang acak-acakan bahkan kaus kakinya pun masih terpasang rapi di telapaknya.

Apa yang baru dilihatnya tadi begitu membuat panas mata dan hatinya. Ia begitu marah, tentu saja ia marah, lelaki mana yang tak marah jika melihat wanitanya bermesraan dengan lelaki lain.

Penjelasan Jiyeon dengan segala macam alasan berusaha meyakinkan Myungsoo bahwa semuanya adalah salah paham benar-benar tak berguna. Myungsoo sudah tak mau mendengarnya lagi, ia sudah terlanjur marah dan muak dengan segalanya.

“Aaarrrrggghhh….!”

Bantal yang semula tersusun kini sudah tergeletak jauh dari tempatnya asalnya. Baru saja Myungsoo melemparnya dengan kesal. Dada yang turun naik juga nafas yang tak baraturan menandakan bahwa Myungsoo sedang dalam keadaan yang benar-benar marah. Tetapi untung saja Myungsoo masih bisa menahan amarahnya, jika tidak mungkin beberapa menit setelah ia datang kamarnya sudah hancur bagai diterjang badai.

Sejak tadi ia tak membuka mulutnya sama sekali, sekedar menggerutu untuk mengeluarkan amarahnya pun tidak, hanya sebuah erangan dan lemparan keras. Myungsoo sudah terlalu marah untuk berteriak dan menangis, ia juga sudah terlalu lelah untuk kembali membabi buta menghancurkan kamarnya.

Kembali membanting dirinya diatas tempat tidur dan kembali memandang langit-langit kamarnya membuat Myungsoo kembali teringat pada kenangannya bersama Jiyeon dimasa lalu. Bagaimana ia bertemu dengan Jiyeon untuk pertama kalinya, bagaimana ia menyatakan cinta pada Jiyeon, juga bagaimana cara Jiyeon tersenyum padanya, semua benar-benar manis.

“Woohyun! Bolanya..”

Dengan cekatan Myungsoo menangkap bola yang baru saja Woohyun lemparkan. Waktu pertandingan sudah hampir habis, kedudukan kedua tim masih seimbang.

Salah satu tim harus mencetak setidaknya satu gol untuk memenangkan pertandingan.

“Hmm.. mau lari kemana lagi kau?”

Lelaki dengan tubuh tinggi besar kini sudah berdirimenghalangi Myungsoo yang saat itu sedang memnawa bola.

Myungsoo mengedarkan pandangan mencari teman satu timnya, dan ya! Sungjong sudah berdiri siap di belakang lawan sambil menunjuk dirinya.

“Sungjong..!”

Seluruh tim lawan langsung berlari mengejar Sungjong, tetapi dengan cepat Sungjong kembali melempar bola pada Myungsoo yang sudah berdiri tepat di depan ring.

Dan yeah! Myungsoo berhasil memasukkan bola pada detik terakhir..

“Woah, Kim Myungsoo, kau memang penyelamat kita semua!” Ucap Sunggyu sambil berjalan menuju pinggir lapangan.

Myungsoo hanya menggelangkan kepalanya, “Tidak, jika Sungjong tak secerdik itu menipu lawan, mungkin aku juga tak akan berhasil memasukkan bolanya pada detik terakhir.”

Sungjong hanya tertawa sambil menggaruk kepalanya setelah menerima pujian dari tim juga pelatihnya.

“Ini, untukmu..” Seorang gadis tiba-tiba saja muncul dan mengulurkan tangannya memberikan sebotol air.

Myungsoo langsung memandang seseorang yang kini berada di depannya, ia hanya memperhatikan wajahnya tanpa menerima botol air yang diberikan padanya.

Dengan cepat Sunggyu langsung menyenggol lengan Myungsoo seakan memeberi tanda agar menerima botol air itu, “Ah.. em gomawo.”

“Hei Jiyeon, kau datang juga. Sebelumnya aku tak pernah melihatmu datang di setiap pertandingan kami.”

“Emm, aku datang, mungkin kalian saja yang tak-”

“Jiyeon selalu datang untuk melihat dan mendukung Myungsoo..” Sahut Jieun yang berdiri disamping Jiyeon.

Myungsoo hanya tersenyum kecil melihat Jiyeon terdiam dengan pipi yang bersemu merah. Ia lucu..

Sebelumnya ia tak mengenal Jiyeon, hanya sekedar tahu satu sama lain. Lagipula siapa yang tidak mengenal Jiyeon, sang ketua osis dengan berjuta kelebihannya. Myungsoo sama sekali tak menyangka jika ia memiliki penggemar, dan ia lebih tak menyangkan lagi jika penggemarnya adalah Jiyeon.

“Jiyeon-ah, ada sesuatu yang ingin ku katakan padaku.”

Jiyeon hanya menatap Myungsoo bingung, “Apa? Tak biasanya kau ijin saat mau mengatakan sesuatu.”

“Emm.. would you be my girlfriend?”

1..2..3.. 10 detik telah berlalu dan, “Yes, I do..”

Ia merasa bagaikan lelaki yang paling bahagia di dunia. Tentu saja, lelaki mana yang tidak bahagia memiliki kekasih secantik dan sebaik Jiyeon. Semuanya bagaikan mimpi baginya ,Kim Myungsoo hanya seorang pemain basket amatiran yang berhasil memenangkan hati Park Jiyeon.

Mungkin saat ini ia akan berjalan bergandengan tangan dengan Jiyeon, yang dihiasi dengan senyum manis miliknya, jika saja Jiyeon tidak melakukan hal menyakitkan itu padanya.

Myungsoo menarik nafasnya panjang dan menhembuskannya secara perlahan. Sedikit demi sedikit memejamkan matanya, mencoba untuk sejenak melupakan apa yang menimpanya, berharap jika semuanya akan menjadi lebih baik nantinya.

-O-

Jiyeon sudah bersiap dengan penampilannya malam ini. Sebuah long-dress berwarna soft pink dan sepasang flat-shoes terlihat cukup pantas dengan rambut yang sengaja ia gerai, juga cukup sederhana untuk pertemuannya dengan Myungsoo.

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang dan dengan cepat Jiyeon mengambil tas miliknya yang berada diatas ranjang. Ia tak ingin terlambat, dalam keadaan seperti sekarang ini Jiyeon tak ingin memperburuk keadaan dengan membuat Myungsoo menunggu lama dan membuatnya semakin marah pada Jiyeon.

Sekali lagi Jiyeon menatap bayangannya lewat cermin didepannya. Matanya sudah tak terlihat begitu bengkak setelah ia kompres dengan air dingin selama satu jam penuh, ia juga memoles dengan sedikit make-up agar wajahnya tidak terlihat begitu menyedihkan.

Jika boleh jujur, keadaan Jiyeon saat ini memang benar-benar menyedihkan. Hatinya benar-benar hancur sekarang, tapi sekali lagi ia berusaha menguatkan hatinya.

Suara klakson yang berasal dari depan rumahnya sudah berbunyi memanggil, taksi yang ia pesan sudah datang menjemputnya. Jiyeon menarik nafas sebelum melangkahkan kakinya keluar.

“Ahjusshi, Mustoy cafe..”

Sang supir taksi hanya menganggukkan kepala, “Baik agashi..”

Sepanjang jalan Jiyeon hanya bisa diam, menatap pemandangan dari luar jendela. Pikirannya melayang jauh, teringat kembali pada kenangannya bersama Myungsoo. Bagaimana mereka bertemu, betapa lucunya dia saat menyatakan cinta pada Jiyeon, bagaimana cara Myungsoo tersenyum, ah.. semuanya begitu indah.

Jiyeon sama sekali tak pernah menginginkan hal ini terjadi, bertengkar dengan Myungsoo sama sekali ia tak menginginkannya. Bahkan Jiyeon lebih sering mengalah saat mereka bertengkar, ia tak ingin terlalu lama saling diam dengan Myungsoo.

Tapi untuk sekarang, tak mungkin ia mengalah, ia tak ingin hubungannya hancur begitu saja hanya karena kesalah pahaman Myungsoo. Alasan yang terlalu konyol untuk kandasnya hubungan yang telah dibagunnya lima tahun terakhir ini.

Tubuh Jiyeon tiba-tiba terdorong kedepan. Tak terasa ia sudah sampai pada tempat tujuannya. Ia telah sampai tepat di depan cafe yang ia janjikan dengan Myungsoo siang tadi.

“Agashi, kita sudah sampai.”

Jiyeon segera turun setelah membayar ongkos taksi yang ditumpanginya. Berdiri tepat di depan beranda dan memandangi pintu masuk yang berada tepat di depannya, mengingatkannya kembali dengan kenangannya bersama Myungsoo.

Mustoy Cafe, ya cafe yang sedang ia pandangi saat ini, tempat yang begitu bersejarah bagi hubungannya dengan Myungsoo. Tempat dimana Myungsoo menyatakan cintanya pada Jiyeon untuk pertama kali, tempat ia dan Myungsoo bertengkar untuk pertama kalinya, bahkan sampai mereka berbaikan kembali.

Sekali lagi Jiyeon menarik panjang nafasnya, mencoba menenangkan dirinya sendiri, mencoba memberi keberanian pada dirinya sendiri sebelum masuk dan menemui Myungsoo yang mungkin sudah duduk menunggunya di dalam sana.

Denting lonceng yang berbunyi karena dorongan pintu yang dibuka tidak terlalu menarik perhatian banyak orang, mereka masih terlihat asyik dengan kegiatannya masing-masing, hanya beberapa dari mereka yang menoleh sejenak ke arah Jiyeon lalu kembali dengan hal sebelumnya yang ia lakukan.

Tempat di pojok cafe dekat dengan jendela ujung, tempat favoritnya dengan Myungsoo sudah terisi oleh seseorang. Sosok dengan punggung tegap yang dibalut dengan kemeja denimnya, juga celana jeans dan sepasang sepatu yang terasa familiar di matanya. Sudah dapat ia pastikan bahwa lelaki itu adalah Kim Myungsoo, lelaki yang akan ia temui malam ini.

Jiyeon masih diam memandanginya dari tempat ia berdiri sekarang, memperhatikan punggung tegap milik Myungsoo, ya siapapun yang melihatnya pasti sudah dapat mengira seberapa tampannya Myungsoo, betapa beruntungnya ia memiliki pacar seperti Myungsoo. Tapi apa yag terjadi sekarang benar-benar bukan harapannya, ia tak ingin seperti ini, dan yang harus ia lakukan sekarang adalah menyelesaikan semuanya.

Kakinya mulai melangkah, cukup cepat menuju kearah Myungsoo yang sedari tadi sudah duduk menunggunya. Ia tahu jika Myungsoo tidak terlalu suka menunggu dan ia juga tak ingin membuat Myungsoo menunggunya lebih lama lagi.

“Hai..” Sapa Jiyeon tersenyum.

Myungsoo hanya memandang Jiyeon tanpa menjawab atau sekedar membalas senyum.

“Kau sudah menunggu lama?” Tanya Jiyeon lagi, “Maaf aku terlambat, tadi-”

“Tak perlu basa-basi lagi. Cepat katakan apa yang ingin kau katakan, waktuku tak banyak.” Potong Myungsoo dingin, “Sekarang!”

Jiyeon menghela nafasnya sejenak, “Baiklah, aku tak akan membuang banyak waktumu lagi.”

“Aku hanya ingin menyelesaikan semua ini dengan kepala dingin, kau dan aku, bukan dengan keadaan panas dan emosi seperti-”

“Tadi dan sekarang pun sama sekali tak ada bedanya, kesalahan tetaplah sebuah kesalahan, tidak bisa diputar balikkan lagi.” Potong Myungsoo lagi.

Jieon hanya diam membiarkan Myungsoo memotong ucapannya, “Baiklah aku akan melakukannya dengan cepat, aku hanya ingin mengatakan bahwa kau memang benar-benar salah paham, aku dan Seungho sama sekali tak ada hubungan apapun selain sahabat kecil.”

Myungsoo mengerlingkan bola matanya tak peduli, “Sahabat macam apa yang saling bergandengan tangan dan bermesraan, huh?”

“Seungho baru saja pulang dari Jepang dua hari yang lalu, dan kami baru bertemu setelah enam tahun tak pernah bertemu, apa aku salah jika merindukan sahabat kecilku?”

Myungsoo hanya menggelengkan kepalanya, “Sungguh alasan yang buruk untuk dikatakan sebagai alasan, benar-benar klise, kau kira aku tak mengetahui tipu dayamu? Aku bukanlah orang yang semudah itu untuk kau bodohi!”

“Tidak-”

“Apa lagi? Kau ingin melontarkan alasanmu yang lain, hah! Sudahlah tak perlu berbohong lagi, toh aku tak akan percaya dengan kata-katamu lagi, mata kepalaku sudah membuktikannya sendiri.”

“Bukan begitu, kau harus mende-”

“Katakan saja jika kau sudah bosan berhubungan denganku, karena aku terlalu mengekangmu, aku yang tak pernah peduli padamu, aku yang lebih mementingkan hal lain dibandingkan dirimu, aku yang egois, katakan saja jika kau bosan dan ingin putus dariku! Katakan!”

Nafas Myungsoo menderu cepat dan wajahnyapun sudah mulai memerah, sedangkan Jiyeon hanya diam memperhatikan lelaki di depannya sambil menahan bulir air mata yang mulai menerobos keluar.

“Bilang saja jika aku ini egois, aku ini kekanakan, aku-”

“Kau mengaku?” Tanya Jiyeon singkat membuat Myungsoo menghentikan ucapannya, “Kau mengaku dengan segala sikap dan sifatmu selama ini?”

“Huh! Aku kira kau tak akan pernah menyadarinya sampai suatu hal terjadi padamu dan menyadari semuanya. Kau memang terlalu egois untuk menyadari bahwa kau adalah si pemilik segala sifat buruk yang baru saja kau sebutkan.”

Jiyeon menarik sedikit ujung bibirnya keatas, “Egois, kekanakan, pengekang, itulah kau Kim Myungsoo. Aku tak pernah menyangka jika saat ini adalah hal yang membuatmu menyadari segalanya.”

“Haahh..” Jiyeon menghela nafasnya pelan, “ Kau harus menyadari satu hal Myungsoo, jika setiap orang pasti memiliki kesalahannya masing-masing, aku begitu juga dengan kau. Bukankah terlalu lancang jika kau menyalahkanku begitu sadis disaat kau sendiri memiliki kesalahan yang tak jauh berbeda? Apa kau tak malu?”

Myungsoo hanya bisa diam tanpa menjawab, dahinya sedikit berkerut mendengar ucapan yang dikatakan Jiyeon.

“Mungkin aku memang bodoh saat itu, dengan mudahnya aku memaafkanmu disaat kau dengan jelasnya menduakanku dengan Naeun, kedua mataku melihatnya saat kau mengecup bibir gadis itu, bahkan aku yang berada di posisi menjadi pacarmu belum pernah mendapatkan itu.”

Jiyeon tertawa pendek sambil menggelengkan kepalanya, “Dan bahkan saat kau tahu jika aku melihatnya, kau sama sekali tak terlihat panik. Hanya mengucapkan kata maaf dan memelukku, seakan kau sudah mengetahui jika aku akan semudah itu memaafkanmu, oh aku merasa sangat bodoh..”

“Mungkin aku bukanlah wanita yang baik untukmu, walalupun aku sudah mencoba untuk melakukan yang terbaik untukmu, juga untuk hubungan yang telah kita jalin.” Jiyeon hanya tersenyum tipis, “Maaf atas segala kesalahan yang telah kulakukan padamu.”

“Mulai sekarang aku akan berjalan menjauh darimu. Aku akan membiarkanmu hidup pada jalan yang telah kau pilih, tanpa aku yang mungkin hanya akan mengganggu segalanya.” Lanjut Jiyeon lagi.

“Selamat tinggal..”

Jiyeon sudah bangkit dari tempatnya, kakinya sudah membawanya menjauh dari hadapan Myungsoo yang masih duduk diam terpaku. Ia tak sanggup membalas apapun ucapan yang telah Jiyeon katakan, bahkan mendengarnya saja sudah membuatnya seakan bisu.

Matanya beralih mengikuti tubuh Jiyeon yang sudah berada jauh di belakangnya. Punggung kecil yang perlahan meninggalkannya, tubuh yang tak akan pernah kembali lagi padanya. Saat ini ia baru menyadari bahwa ia menyayanginya dan tak menginginkan dia pergi.

Jika kau memang tercipta untukku, jika kita ditakdirkan untuk bersama selamanya, aku yakin kita akan bertemu kembali di waktu yang lebih baik. Percayalah, aku mencintaimu..

-END-

Note :

Comment please yes! Sarannya juga boleh kok~

87 responses to “[ONESHOT] Break a Promise

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s