INCEST – Part 8

Incest Poster

s9uhvlni

~INCEST~

Chapter | Romance | ICAQUEART Present

Previous : Teaser | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 |

“Yes, what a relief it is, that we are able to separate
At some point, both of us will walk in chaos”
– If We Were [Hwayobi]

Poster by (AFF) – Rococco:

https://i.imgur.com/UJTSvQS.png

“K-kau…” ucap Oh Hani terbata dengan mata terbelalak. “P-Park J-Jiyeon….”

“Eomma? Bagaimana bisa kau tahu nama Jiyeon?” tanya Myung Soo ikut terkejut.

“K-kau…bagaimana bisa?” Oh Hani seperti tidak mendengar pertanyaan Myung Soo. Dengan perlahan Oh Hani mengulurkan sebelah tangannya untuk menggapai wajah mulus Jiyeon. Bersamaan dengan itu, air mata Oh Hani kembali menetes. “S-sudah lama….t-tidak bertemu…”

“Aku tidak menyangka kau adalah ibu dari Kim Myung Soo,” ucap Jiyeon seraya tersenyum. “Maaf jika pertemuan pertama kita kurang mengesankan. Aku harus cepat kembali waktu itu.”

Merasa tidak mengerti arah pembicaraan Jiyeon, Myung Soo pun bertanya, “Kau sudah pernah bertemu dengan ibuku sebelumnya?”

“Ne,” jawab Jiyeon cepat. “Ibumu sepertinya memiliki hubungan pertemanan dengan ibuku.”

“Ah jinjiha?” tanya Myung Soo terlihat terkejut. “Dunia sempit sekali.”

Oh Hani masih terdiam dengan tatapan masih tertuju pada Jiyeon.

“Eomma, gwaenchana?” tanya Myung Soo merasa aneh dengan sikap ibunya kepada Jiyeon. “Jangan buat Jiyeon ketakutan karena sikapmu itu, Eomma.”

“Bicara apa kau ini?” celetuk Jiyeon seraya mencubit pelan lengan Myung Soo sementara Oh Hani berusaha menormalkan wajahnya.

“Aku hanya terlalu senang melihat kau masih disini,” ucap Oh Hani. “Di Korea.”

“Ne?” tanya Jiyeon tidak mengerti maksud ucapan Oh Hani.

“Ibumu, dia bilang kalian sekeluarga akan pergi meninggalkan Korea,” ucap Oh Hani.

“Mwo? Meninggalkan Korea?” Dahi Jiyeon berkerut bingung. “Kenapa Eomma bicara seperti itu,” lanjut Jiyeon dalam gumaman pelan.

“Waktu itu…” Oh Hani bersuara kembali. “…aku ingin bicara banyak denganmu. Tetapi sepertinya kau sibuk sekali, begitupun dengan ibumu, sampai-sampai dia tidak bisa menentukan hari yang pas untuk mempertemukanku denganmu.”

“Apa yang ingin kau bicarakan padaku, Ahjumma?” tanya Jiyeon spontan membuat kedua tangan Oh Hani menegang.

Ahjumma. Mendengar kata itu membuat hati Oh Hani spontan terasa perih dan sesak.

“Ahjumma…” desis Oh Hani pelan dengan wajah miris.

“A-apa aku salah memanggilmu?” tanya Jiyeon segera setelah melihat perubahan wajah Oh Hani.

Oh Hani dengan cepat menggeleng.

“A-aniyo…” jawab Oh Hani. “Hanya saja…dulu sewaktu kau kecil…kau pernah memanggilku dengan sebutan Eomma.”

“Benarkah?” tanya Jiyeon dengan kedua alis terangkat.

“Aku dan ibumu berteman dekat. Sewaktu ibumu melahirkanmu, aku sering mengunjungi rumah kalian untuk menjengukmu. Aku menyukaimu sejak kau masih bayi, sampai akhirnya kau berumur dua tahun. Pada saat itu kau sudah mulai bisa mengucapkan hal-hal kecil seperti Eomma…Appa… Dan kau memanggilku Eomma,” jelas Oh Hani panjang lebar. Jelas semua itu penjelasan kebohongan dari bibirnya.

“Aneh sekali,” ucap Jiyeon tiba-tiba. “Perlu kau tahu, Ahjumma. Aku bukan anak kandung ibuku.”

Mendengar ucapan Jiyeon, Oh Hani pun terbelalak di tempat.

“Mianhae, Ahjumma,” ucap Jiyeon. “Tetapi…apa kau sedang berbohong padaku?”

“U-um…” Oh Hani mendadak tergagap.

“Eomma, Jiyeon memang bukan anak kandung kedua orangtuanya,” timpal Myung Soo.

Wajah Oh Hani pun semakin pias di buat oleh kebohongannya sendiri.

Tiba-tiba Jiyeon mengambil kedua tangan Oh Hani seraya berkata, “Ahjumma, jika kau benar teman dekat ibuku, itu artinya kau tahu tentang bagaimana aku bisa hadir di tengah-tengah keluarga Park. Jujur saja, sejak aku tahu bahwa aku bukan anak kandung kedua orangtuaku, sampai saat ini aku belum berani menanyakan kepada mereka darimana mereka mengambilku.”

Tangan Oh Hani mendingin dan sedikit bergetar. Kini apa yang harus dia katakan pada Jiyeon? Apa Oh Hani harus mengatakan kebenarannya sekarang? Lalu bagaimana dengan perjanjiannya dengan Park Jin Hee dan Lee Na Ran yang dibuat belasan tahun yang lalu?

“Mianhae, Jiyeon-ah,” ucap Oh Hani akhirnya. “Aku tidak sedang membohongimu. Kau memang dilahirkan di dunia ini, walaupun bukan dari rahim ibumu yang merawatmu sampai sebesar ini. Kau diadopsi dari bayi, disaat kau masih terlihat kecil dan sangat rapuh. Aku menyukaimu karena melihatmu membuatku teringat akan Kim Myung Soo. Kalian…memiliki tanggal lahir dan tahun yang sama.”

“Jinjiha?” tanya Myung Soo dan Jiyeon nyaris bersamaan.

“Kebetulan yang menyenangkan,” ucap Oh Hani mencoba tersenyum. “Mianhae, Jiyeon-ah. Bukan aku yang seharusnya menceritakan hal ini padamu.”

“Ne, Ahjumma. Aku tahu,” ucap Jiyeon. “Yang berhak menceritakan hal ini padaku hanya ada dua, orangtua angkatku saat ini atau orangtua kandungku.”

Lagi-lagi hati Oh Hani terasa perih dan sesak saat mendengar ucapan Jiyeon.

“…tetapi aku tidak bisa menanyakan hal ini kepada mereka semua,” ucap Jiyeon. “Beruntung sekali aku bisa bertemu denganmu, Ahjumma. Dunia memang sempit. Aku bisa bertemu dengan Kim Myung Soo yang memiliki seorang ibu yang ternyata punya hubungan pertemanan dengan ibu angkatku.”

“Ne, semuanya terjadi tanpa diduga-duga,” ucap Oh Hani pelan.

**

“J-Jiyeon sedang dalam masa pelarian dari rumahnya?” tanya Oh Hani  saat dalam perjalanan pulang. Kebetulan sekali sejak Myung Soo menjadi anak buah Mr. Kang, dia mendapatkan banyak fasilitas, salah satunya mobil keluaran terbaru yang terlihat sangat mewah yang sedang dia kendarai saat ini.

“Ne,” jawab Myung Soo. “Ayah angkatnya agak sedikit gila menurutku.”

“Maksudmu?” tanya Oh Hani tidak mengerti.

“Dia mengurung Jiyeon seperti binatang,” jawab Myung Soo membuat perasaan Oh Hani campur aduk. “Maka dari itu, untuk beberapa hari ini sepertinya dia akan bersembunyi di tempat Mr. Kang.”

“Jangan, Myung Soo-ah. Jangan disana,” ucap Oh Hani cepat. “Jiyeon…ajak dia kerumah kita. Dia akan aman di…”

“Tidak bisa, Eomma,” tolak Myung Soo.

“Mengapa tidak bisa?” tanya Oh Hani tidak mengerti.

“Gaza…dia adalah anak buah ayah angkat Jiyeon,” jawab Myung Soo mulai menjelaskan. “Kita memang sudah tidak berhubungan dengannya lagi. Tetapi Gaza tahu bahwa Jiyeon sering menemuiku. Aku takut Gaza malah menemukan Jiyeon di rumah kita.”

Oh Hani terdiam beberapa saat ketika mendengar penjelasan Myung Soo.

“Gaza…anak buah Park Jin Hee?” tanya Oh Hani dengan wajah pias.

“Ne. Waeyo, Eomma?” tanya Myung Soo seraya membanting setir ke kiri.

“Aniyo,” jawab Oh Hani pelan. “Aku hanya tidak menyangka. Gaza menyiksa kita begitu banyak dan itu semua atas dasar perintah Park Jin Hee.”

Myung Soo pun mulai mengerti maksud ucapan sang ibu.

“Eomma, apa kau merasa dikhianati sebagai teman dekat?” tanya Myung Soo.

Alih-alih menjawab pertanyaan Myung Soo, Oh Hani justru menangis dalam diam.

“Eomma, kenapa malam ini kau menangis begitu banyak?” tanya Myung Soo tidak mengerti.

Oh Hani hanya menggeleng tanpa menjawab apapun.

Dan ketika mereka sudah tiba di rumah, tiba-tiba Oh Hani memeluk Myung Soo dengan sangat erat.

“Myung Soo-ah, perlu kau tahu, ada begitu banyak hal yang selama ini aku sembunyikan darimu,” ucap Oh Hani dengan bibir sedikit bergetar. “Bahkan sampai detik ini aku tidak mampu mengatakannya padamu. Walaupun aku selalu berpikir bahwa kau harus tahu tentang rahasia ini.”

“Apa rahasia itu tentang Appa?” tanya Myung Soo yang tiba-tiba saja diliputi penasaran tingkat tinggi.

Oh Hani tidak menjawab pertanyaan Myung Soo, dia justru berkata, “Kau pegang janji ibumu ini. Tepat saat hari ulang tahunmu satu bulan lagi. Pada hari itu aku berjanji akan menceritakan semuanya kepadamu.”

“Apa kau tidak bisa mengatakannya malam ini?” tanya Myung Soo enggan untuk menunda.

“Tidak malam ini, Myung Soo-ah,” ucap Oh Hani. “Aku akan mengatakannya tepat di malam hari ulang tahunmu. Dan sekarang ada baiknya kau kembali kesana.”

“Tapi, Eomma…aku sudah berjanji untuk tidur disini malam ini,” ucap Myung Soo.

“Temani Jiyeon,” ucap Oh Hani seraya memegang wajah Myung Soo dengan kedua tangannya. “Dia wanita yang baik dan cantik. Kau harus menjaganya.”

“Apa kau akan baik-baik saja jika aku…”

“Eomma akan baik-baik saja,” sela Oh Hani seraya mengecup kening Myung Soo. “Sekarang pergilah dan temani Jiyeon.”

Myung Soo pun akhirnya kembali pergi meninggalkan sang ibu yang kini hanya bisa menatap miris kepergian Myung Soo.

“Maafkan ibumu ini, Myung Soo-ah,” isak Oh Hani. “Park Jiyeon…maafkan aku.”

**

Myung Soo sengaja berhenti sebentar di depan restoran Hanguk Yori untuk membeli nasi ayam. Myung Soo berpikir Jiyeon pasti akan suka dengan makanan kesukaan ibunya ini. Dan pada saat itu, seseorang datang dan menepuk bahu Myung Soo.

“S-Suzy-ssi?” Myung Soo benar-benar terkejut melihat artis cantik ini kembali hadir di depannya.

Seperti biasa, Suzy mengenakan hoodie lengkap dengan tudungnya dan kaca mata hitam. Begitulah caranya melakukan penyamaran.

“Kenapa kau bisa ada disini?” tanya Myung Soo.

“Malam ini Tao berhasil membuatku kesal,” jawab Suzy seraya berjalan dan memilih meja di sudut restoran. Myung Soo pun mengikutinya setelah membayar nasi ayamnya. “Di tengah-tengah kencan kita, salah satu temannya menghubunginya dan mengajaknya adu tinju. Aku pun dipaksa untuk menemaninya dan hanya duduk di bangku penonton.”

“Begitulah keadaan yang akan kau dapatkan jika kau berkencan dengan seorang petinju,” ucap Myung Soo diselingi senyum singkat.

“Apa kau juga akan memperlakukanku seperti itu jika kita menjadi sepasang kekasih?” tanya Suzy tiba-tiba, membuat wajah Myung Soo spontan memerah.

“E-entahlah,” jawab Myung Soo. “Aku tidak pernah melakukan kencan dan…”

“Jinjiha?” sela Suzy dengan wajah terkejut. “Kau tidak pernah berkencan?”

Myung Soo mengangguk malu.

“Kalau begitu maukah kau berkencan denganku besok?” Permintaan Suzy benar-benar membuat Myung Soo terbelalak.

“M-mwo?” tanya Myung Soo tergagap.

“Hanya besok,” ucap Suzy penuh harap. “Bisakah?”

“T-tetapi…”

“Sudah lama aku tidak berkunjung ke Everland,” sela Suzy menimbang-nimbang kemana hendaknya dia memutuskan untuk memilih tempat kencan bersama dengan Myung Soo.

“E-verland?” Mata Myung Soo sedikit terbelalak. “Sepertinya tempat itu terlalu ramai untukmu, untuk kita maksudnya…”

“Kita?” Kedua mata Suzy mendelik menatap Myung Soo, seakan-akan ucapan Myung Soo diartikan sebagai tanda setuju kalau petinju satu ini mau pergi berkencan dengannya. “Itu artinya….kau menerima ajakan kencanku?”

“Um….” Myung Soo mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal, unjuk dari salah tingkahnya. “Sepertinya…aku punya waktu besok. Tidak ada jadwal latihan dan…”

“Dan?” pancing Suzy seraya menatap kedua mata Myung Soo penuh arti, membuat seluruh syaraf di dalam tubuh Myung Soo mendadak bereaksi aneh.

“Dan…kau sudah menolongku waktu itu.” Akhirnya Myung Soo mampu menyelesaikan kata-katanya dengan baik tanpa harus mengucapkan kata-kata aneh yang mampu membuat wajahnya lebih merah dari sekarang. “Sekarang waktunya aku membayar pertolonganmu kepadaku.”

Antara senang dan sedih, Suzy berkata, “Aku ingin alasan kau menerima ajakan kencanku lebih dari sekadar tindak balas budi.”

Myung Soo hanya bisa tersenyum kecut menyadari bahwa kini dia benar-benar telah melontarkan ucapan yang salah. Untuk memperbaiki suasana yang mendadak canggung, Myung Soo pun berkata, “Sebenarnya….keinginan untuk berkencan dengan artis sepertimu sudah lama muncul di benakku. Walaupun awalnya kupikir hal itu terlalu mustahil terjadi pada kehidupan petinju sepertiku. Tetapi sekarang terjadi…akan terjadi, maksudku.”

Suzy hanya bisa tersenyum melihat begitu menggemaskannya Kim Myung Soo sewaktu sedang berbicara.

“Kalau begitu Everland, besok, jam sembilan malam,” ucap Suzy memberitahukan jadwal kencan mereka yang mampu membuat mata Myung Soo lagi-lagi terbelalak.

“M-mwo? Jam sembilan malam?” tanya Myung Soo memastikan kalau telinganya tidak salah dengar.

“Waeyo? Kau tidak percaya bahwa aku mampu membawamu masuk ke dalam Everland pada jam semalam itu?” tanya Suzy diselingi tawa setelah melihat wajah terkejut Myung Soo yang begitu lucu.

“Tentu saja aku tidak percaya,” jawab Myung Soo. “Tetapi untuk artis sepertimu, kurasa Everland rela membuka tempat mereka selama 24 jam nonstop.”

Suzy pun tertawa seraya berkata, “Semua ini bukan karena statusku sebagai seorang artis. Statusku tidak memiliki arti apa-apa. Sebenarnya…ayahku menanamkan setengah sahamnya untuk pembangunan Everland.”

Kini Myung Soo yang tertawa, cukup pelan dan cukup terdengar sampai ke telinga pemilik restoran Hanguk Yori, yang baru sadar bahwa restoran kecilnya kedatangan artis terkenal seperti Suzy. Kebisingan mulai terdengar perlahan-lahan saat anak pemilik restoran Hanguk Yori ini berteriak terlampau keras saat memberitahu temannya. Restoran yang tadinya sepi mendadak ramai.

“Sepertinya aku harus pergi sekarang,” ucap Suzy setelah menolak berfoto bersama dengan salah satu pengunjung yang menghampirinya. “Kalau begitu sampai ketemu besok, Kim Myung Soo.”

Setelah kepergian Suzy, Myung Soo masih berdiri di tempatnya dengan ekspresi bingung.

“Kenapa dia tidak meladeni penggemarnya dengan baik?” gumam Myung Soo sebelum meninggakan restoran itu.

**

“Gongchul-ah.” Mr. Kang baru saja masuk ke dalam ruang tamu di dalam rumahnya yang besar bertingkat dua. “Aku akan mendaftarkan Myung Soo untuk mengikuti satu pertandingan. Pertandingan cukup besar dengan lawan yang cukup sulit dikalahkan.”

“Ne,” ucap Gongchul dengan wajah was-was. Pertandingan besar dengan lawan yang cukup sulit dikalahkan? Mampukah Kim Myung Soo melakukannya? Dia jarang sekali ikut serta dalam pertandingan besar, walaupun sudah tidak perlu diragukan lagi bahwa Myung Soo mampu menyabet kemenangan pada setiap pertandingan yang dia ikuti.

“Dan pada saat itu aku akan berusaha membuatnya kalah,” ucap Mr. Kang menambahkan, membuat syaraf tubuh Gongchul mendadak menegang. “Dengan adanya kekalahan yang dia alami, aku akan dengan mudah mengontrolnya. Dia pasti akan mengikuti semua perintah dan permintaanku.”

Gongchul masih diam di tempat duduknya dengan kepala sedikit tertunduk menatap lantai.

“Kim Myung Soo, anak yang tidak pandai berbohong,” sambung Mr. Kang seraya menyalakan cerutu besarnya. “Sama seperti almarhum ayahnya. Jang Min, karena kepolosannya…kini dia berakhir mengenaskan. Anak itu pikir aku tidak tahu tentang dirinya. Dengan kaku dia berkata bahwa dia tidak mengenal Jang Min.” Mr. Kang menghembuskan kepulan asap lewat bibir dan hidungnya. “Cepat atau lambat anak itu harus tahu seperti apa hubungan yang terjadi antara aku dengan ayahnya. Setelah itu, dengan mudah aku akan menjalankan rencana kita, Gongchul-ah.”

**

Esok malamnya, mobil Suzy tiba tepat waktu. Myung Soo baru saja kembali dari rumah Eunji setelah mengantar Jiyeon. Memang agak riskan membawa Jiyeon keluar saat waktu apapun ketika ayah angkatnya nyatanya masih memburunya lewat anak-anak buahnya yang bertubuh besar. Tetapi Jiyeon tidak bisa untuk tidak menceritakan sesuatu yang penting ini kepada sahabat satu-satunya itu. Beruntungnya Jiyeon, selain karena bersama dengan Myung Soo, situasi malam ini yang benar-benar sepi membuat Jiyeon berhasil tiba di rumah Eunji tanpa harus bertemu dengan salah satu anak buah ayahnya bahkan Gaza beserta dengan kroninya.

Malam ini Suzy tampak sangat cantik. Tao benar-benar beruntung bisa mendapatkan kekasih seperti Bae Suzy. Selain cantik, tinggi dan ramping, Suzy merupakan tipe wanita berbakat yang nyatanya sulit untuk dilupakan. Ada sesuatu di dalam dirinya yang membuat pria manapun emoh untuk berpaling darinya. Dan rasanya…Myung Soo mulai merasakan gejala-gejala itu.

Everland benar-benar buka ketika jam sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Suasana Everland pada malam hari benar-benar menakjubkan, serasa tempat besar itu miliknya seorang.

“Kau benar-benar wanita gila yang pernah aku temui,” ucap Myung Soo saat Suzy mengajaknya untuk makan spaghetti yang khusus dibuat oleh Suzy sendiri. “Malam hari. di tengah taman bermain seluas ini. Dan kau benar-benar tidak kehabisan nafas dan tenaga setelah menaiki wahana-wahana itu.”

“Kau tahu?” tanya Suzy setelah tertawa. “Sayang sekali jika aku tidak bertindak gila seperti ini setelah ayahku mengizinkanku untuk membawa bodyguard-bodyguardnya itu untuk menyalakan mesin-mesin mainan disini.”

“Daebak,” gumam Myung Soo yang matanya tidak pernah terlepas dari wajah cantik Suzy. “Jadi…ayahmu benar-benar mempercayakan keselamatan hidupnya pada bodyguard sebanyak dan sebesar ini?”

Suzy pun tertawa mendengar ucapan Myung Soo. Tubuh bodyguard peliharaan Tuan Bae memang bertubuh besar hampir menyamai Mike Tyson.

“Ayahku sangat menyayangi hidupnya,” ucap Suzy. “Jika ada sedikit luka saja pada tubuhnya, dia yakin dia akan kehilangan kesempatan untuk melakukan banyak hal yang bisa dia lakukan di dunia ini. Dia hanya ingin benar-benar merasa aman dan nyaman seiring umurnya yang terus bertambah. Dan sayangnya ayahku tidak pernah menyadari bahwa umur tidak bisa ditentukan dari berapa banyaknya kita menyewa bodyguard bertubuh besar seperti mereka ini.”

“Aku setuju,” jawab Myung Soo sambil tersenyum.

“Ayahku merupakan tipe pekerja keras yang tidak pernah mau berhenti bekerja,” sambung Suzy dengan wajah yang perlahan berubah murung. “Bahkan seringnya dia selalu mencari-cari sesuatu yang bisa dikerjakan yang sebenarnya tidak perlu dia kerjakan. Seperti…mengatur perjodohan konyolku dengan Choi Minho.”

Spontan kedua mata Myung Soo membelalak lebar.

“C-Choi Minho?” tanya Myung Soo.

“Kau terkejut?” tanya Suzy dengan bahu merosot. “Seharusnya kau tidak perlu seterkejut itu. Kau pasti mengenal petinju satu itu. Begitu pun dengan Tao. Kekasihku yang ambisius itu tidak pernah bisa mengontrol rasa cemburunya.”

“Bukankah itu bagus?” tanya Myung Soo. “Itu artinya dia sangat mencintaimu.”

“Entahlah…” desah Suzy semakin terlihat murung. “Kadang aku merasa…apa yang dia inginkan selama ini dari hubungan kami bukan aku, tetapi kepopularitasanku. Dia selalu bilang bahwa hubungan kami berdua sampai detik ini masih menjadi suatu rahasia. Pabbo. Dia hanya pura-pura tidak tahu bahwa media mulai menyorot kami  berdua lebih sering dari biasanya.”

“Lebih sering dari biasanya?” tanya Myung Soo tidak mengerti. “Maaf….aku jarang sekali menonton tv.”

“Orang-orang tahu bahwa Tao selama ini hanya berstatus sebagai pelatih taekwondo-ku,” ucap Suzy mulai menjelaskan berita basi itu. “Orang bodoh sekali pun bisa tahu bahwa Tao-lah yang sengaja membeberkan hubungan kami. Dan kini dia bersikap seakan-akan media tidak pernah tahu tentang kami berdua.”

“Hubungan kalian berdua benar-benar aneh,” ucap Myung Soo seraya menggeleng heran.

“Sudah seminggu belakangan ini aku merasa ada yang aneh dengan hubungan kami berdua,” sambung Suzy belum selesai. “Dan beberapa kali sempat terbesit di otakku bahwa putus adalah jalan yang paling baik.”

“Kenapa kau tidak melakukannya?” tanya Myung Soo tiba-tiba, yang langsung ditambahkan, “Maaf…bukan maksudku untuk memprovokatori hubungan kalian berdua. Jika aku jadi kau, dan aku tahu seperti apa keadaan dan niat kekasihku yang nyatanya tidak baik…aku akan langsung mengakhiri hubungan dengan cara apapun.”

“Bicaramu benar-benar menggambarkan bahwa kau benar-benar membenci kekasihku itu,” ucap Suzy diselingi tawa renyahnya.

“Aniyo…” tawa Myung Soo seraya mengibaskan tangannya. “Perkara kami berdua tidak akan pernah menemui titik terang. Selain dia yang selalu memicu kemarahanku lebih dulu, dari awal pertemuan kami, aku memang sudah merasa bahwa Tao bukan sahabat apalagi partner tinju yang cocok denganku. Dia terlalu ambisius dan aku terlalu mudah menerima keadaan, entah keadaan baik atau buruk yang selalu menimpaku. Kita berbeda, sangat berbeda. Dan perbedaan itu, Tao anggap sebagai hal paling buruk yang seharusnya tidak pernah dimiliki petinju manapun. Khususnya aku. Aku memang petinju paling buruk yang mudah menerima keadaan.”

“Aniyo,” ucap Suzy membantah argumen Myung Soo tentang dirinya sendiri. “Kau petinju paling menawan yang pernah aku temui.”

Myung Soo hanya bisa menundukkan sedikit wajahnya, hanya untuk sekedar menutupi rona merah yang terlalu mudah muncul pada kedua pipinya. Dan tiba-tiba saja Suzy mendekatkan bibirnya ke arah bibir Myung Soo, membuat petinju satu ini otomatis terkejut dan refleks memundurkan wajahnya.

“M-maaf…” ucap Myung Soo menyadari sikap tidak sopannya. “Aku hanya terlalu terkejut.”

“Gwaenchana,” ucap Suzy seraya menarik wajahnya kembali.

Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Sudah saatnya Myung Soo kembali sebelum menjemput Jiyeon kembali dari rumah Eunji.

**

Gaza baru saja masuk ke halaman rumah Jin Hee saat pria kaya itu keluar dari pintu rumahnya.

“Aku punya berita buruk untukmu,” ucap Gaza seraya menaikkan sebelah kakinya, bertopang pada kaki sebelahnya. Hembusan asap rokok pun mengepul keluar dari bibirnya yang ditutupi kumis. “Anak buahku baru saja mengambil job tambahan sebagai bodyguard dari Tuan Bae, pengusaha kaya sekaligus ayah dari artis cantik, Bae Suzy. Dan kau tahu? Artis itu sedang melakukan kencan diam-diam dengan anak Oh Hani.”

“Lalu apa berita buruk yang kau maksud? Aku tidak perduli dengan bocah ingusan itu,” ucap Jin Hee terdengar tidak perduli.

“Dengarkan aku dulu, Jin Hee-ah,” pinta Gaza. “Anak buahku yang terlihat agak idiot tetapi pintar itu, dia mengikuti arah kemana Suzy mengantar anak Oh Hani. Dan kau tahu dimana Kim Myung Soo diturunkan?”

Gaza terdiam sebentar, membuat Jin Hee terlihat menunggu.

“Ke markas Kang Han Bok.” Kata-kata terakhir yang meluncur mulus dari bibir Gaza berhasil membuat Jin Hee terkejut.

“Mwo?” Nada suaranya terdengar lebih tinggi dari sebelumnya. “Kim Myung Soo dengan Mr. Kang?”

Tangan Jin Hee mengepal kuat dan sedikit bergetar sementara Gaza terlihat puas. Dia selalu merasa puas sesudahnya memberitakan sesuatu yang mampu membuat emosi Jin Hee naik dengan cepat.

“Bagaimana bisa?” geram Jin Hee.

“Rasanya Mr. Kang baru saja merekrut Kim Myung Soo sebagai anak didiknya yang baru,” jawab Gaza setelah menghisap kuat rokoknya.

“Tetapi untuk apa dia melakukan hal itu?” tanya Jin Hee belum habis rasa marahnya. “Dia berpihak padaku. Aku tahu dan sangat yakin Kang Han Bok berpihak padaku. Aku sudah membayarnya mahal untuk menghabisi Jang Min!”

“Turunkan sedikit emosimu,” ucap Gaza. “Aku punya satu rencana yang kupikir akan sedikit berguna untuk membongkar tujuan apa yang sedang Kang Han Bok rencanakan sehingga bisa-bisanya dia merekrut Myung Soo untuk menjadi bagian dari tim-nya.”

“Aku benar-benar ingin menghajar Han Bok jika selama ini dia berusaha mengkhianatiku,” ucap Jin Hee yang tiba-tiba kehilangan rasa hormat pada Mr. Kang.

“Seperti biasa, beri aku sedikit waktu,” ucap Gaza. “Dan aku akan melakukan pekerjaan ini dengan sangat baik untukmu.”

“Lakukan secepatnya,” ucap Jin Hee seraya menghembuskan nafas kemarahannya. “Kim Jang Min dan keluarganya. Rasanya aku harus benar-benar menghabisi mereka semua.”

**

Beberapa jam sebelumnya, saat dimana Suzy mengantarkan Myung Soo kembali ke gedung Mr. Kang.

“Gumawo, Kim Myung Soo,” ucap Suzy yang sengaja turun dari dalam mobilnya hanya untuk mengucapkan terima kasih kepada Myung Soo yang sudah mau menemaninya semalaman ini. “Aku benar-benar merasakan kehangatan dan kenyamanan selama berkencan denganmu malam ini. Kau berbicara begitu banyak, tidak seperti biasanya. Dan aku…aku juga sudah berbicara terlalu banyak tentang diriku, tentang hubunganku dengan Tao bahkan tentang ayahku.”

“Aku juga merasa beruntung bisa berkencan denganmu…” ucap Myung Soo. “….ini pertama kalinya aku datang ke tempat bermain sebesar itu.”

Suzy pun tersenyum, tak lama sebelum akhirnya mengecup pipi Myung Soo. Suasana mendadak menjadi canggung.

“Ini pertama kalinya aku mengecup pipi pria asing yang dalam semalam mampu membuatku tersenyum begitu banyak,” ucap Suzy seraya menatap dalam kedua mata Myung Soo.

Myung Soo masih terdiam di tempatnya dan kini sedang sibuk mengontrol perasaannya yang sedang bercampur aduk setelah menerima kecupan pertama dari seorang artis terkenal seperti Bae Suzy.

Suasana semakin menjadi canggung.

Dan tepat saat malam mulai menjadi lebih gelap karena mendung yang mendadak datang bersamaan dengan rintik hujan, Suzy sekali lagi memajukan bibirnya, mencoba merasakan seberapa hangat bibir milik petinju satu ini. Kali ini Myung Soo tidak bergerak mundur sampai akhirnya Suzy berhasil mendaratkan bibirnya di bibir Myung Soo. Satu detik…..dua detik…tiga detik…Myung Soo mulai membalas kecupan hangat si artis satu ini. Tidak ada yang tahu, bahkan kedua manusia yang sedang asik berbagi ciuman ini bahwa ada orang yang sedang memperhatikan mereka berdua, anak buah Gaza dan Park Jiyeon.

To Be Continue

68 responses to “INCEST – Part 8

  1. Iiih aku jadi makin penasaran deh gongchul ini ceritanya dia berkhianat ke keluarga jangmin? Tapi kenapa? Dan apa yg direncanain sama mr.kang dang gongchul buat myungsoo?
    Terus kenapa pula jinhee waktu itu nyuruh mr.kang buat ngebunuh jangmin? Ada dendam apa? Aaaaaaa seriusan ini makin bikin oe penasaraaaaannnn
    Ah kesel nih sama scene tbc itu😒

  2. yak bae suzy berani bgt dia cium bibir myung,myung ngebalas lagi.bahkan jiyeon belom pernah cium bibir myung.
    andwe jiyeon juga melihat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s