I Know, Love! – MyungYeon vers

I Know, Love! – MyungYeon vers

myungyeon oke oke

Dua pria tampan sudah tiba di bandara sejak beberapa menit yang lalu. Mereka adalah Park Hyo Joon dan Nam Woohyun. Hyo Joon tampak terus mengamati para penumpang yang baru keluar dari bandara, sedangkan Nam Woohyun sesekali melihat jam tangannya menanti adik dan teman mereka yang akan segera menginjakan kaki mereka di Seoul setelah menghabiskan waktu kuliah di Kanada bersama-sama. Mereka tersenyum berbinar ketika akhirnya mendapati dua orang yang ditunggu baru keluar bandara sambil membawa koper besar masing-masing.

“Kim Myung Soo!! Park Ji Yeon!! Kami disini!!” Nam Woohyun terus berteriak memanggil seorang pria tampan dan wanita cantik yang tampak baru saja menoleh ke arah mereka.

Hyo Joon dan Nam Woohyun pun menghampiri dua orang yang mereka panggil Kim Myung Soo dan Park Ji Yeon yang berjalan beriringan. Kim Myung Soo, dia memasang senyum kharismanya yang akan membuat semua wanita yang melihatnya terpana termasuk Park Ji Yeon. Kim Myung Soo dan Park Ji Yeon adalah sepasang kekasih karena sebuah keterikatan yang harus mereka setujui akibat perjodohan yang direncanakan orang tua mereka.

Hyo Joon segera memeluk Ji Yeon yang juga menyambutnya dengan gembira.

“Oppa… aku merindukanmu. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu. Oppa tahu? Myung Soo Oppa tidak pernah mengerti perasaanku. Dia selalu mengacuhkanku ketika aku menceritakan tentang kekasihku padanya. Menyebalkan sekali…” Ji Yeon mengadu seperti anak kecil pada kakaknya.

“Yak!!” Hyo Joon kaget, lalu melepaskan pelukannya.

“Park Ji Yeon!! Bagaimana bisa kau punya kekasih selain Myung Soo? hah?? Kalau Appa dan Eomma tahu, bisa-bisa mereka marah besar padamu. Dan kau sudah tahu seperti apa kemarahan Appa dan Eomma.” Kata Hyo Joon mengingatkan adiknya. Bertahun-tahun di Kanada hanya mampu merubah penampilannya menjadi semakin cantik dan dewasa. Namun, tidak dengan sikapnya yang masih kekanak-kanakan.

“Aku juga tidak menyukainya. Biarkan saja dia berkencan dengan pria mana pun sesuka hatinya.” Sela Myung Soo yang acuh.

“Tuh kan Oppa…” kata Ji Yeon, lalu beralih menatap Nam Woohyun yang sejak tadi tersenyum geli menyaksikan percakapan Ji Yeon dan Hyo Joon. “Woohyun Oppa… kau jadi saksinya. Myung Soo Oppa baru saja mengatakan kalau dia tidak menyukaiku. Bagaimana bisa aku menikah dengannya kelak. Hidupku tidak akan bahagia.” Omel Ji Yeon. “Aku lelah.. Oppa ayo pulang.. Aku sudah sangat merindukan Appa dan Eomma..” lanjutnya.

Hyo Joon pun mengambil alih mendorong koper besar Ji Yeon, lalu pamit pulang duluan pada Nam Woohyun dan Myung Soo.

“Tunggu apa lagi.. Ayo pulang. Calon isteri dan kakak iparmu sudah duluan pulang. Apa lagi yang ditunggu?” Nam Woohyun atau ia lebih senang dipanggil Woohyun menyadarkan Myung Soo yang sepertinya melamun sambil terus menatap kepergian Ji Yeon dan Hyo Joon.

“Kajja…” Myung Soo melangkah lebih dulu dan diikuti Woohyun dari belakang.

“Ku pikir bertahun-tahun hidup bersama di Kanada bisa merubah sikapmu pada Ji Yeon. Ternyata masih tetap sama.” kata Woohyun. Myung Soo yang mendengarnya lebih memilih untuk mempercepat langkahnya.

***

Ji Yeon dan Hyo Joon sudah dalam mobil untuk perjalanan pulang. Ji Yeon terus menggenggam ponselnya.

“Kau sedang menunggu seseorang menghubungimu?” tanya Hyo Joon.

“Ne. Teman Kanada ku berjanji akan mengirimku e-mail. Tapi, sejak semalam aku menunggunya.” Ji Yeon cemberut. “Tidak ada e-mail masuk ke ponselku…”

“Namja atau yeoja?” tanya Hyo Joon.

“Namja. Dia teman Myung Soo Oppa. Dia campuran Korea, China dan Kanada. Namanya Kris. Sepertinya aku menyukainya.” Jawab Ji Yeon dan dengan polosnya berkata kalau dia menyukai pria campuran Korea, China dan Kanada bernama Kris.

Hyo Joon terhenyak. “Myung Soo tidak marah padamu kalau ternyata kalian dekat?”

“Terkadang… Tapi, ia lebih sering mengacuhkanku.” Jawab Ji Yeon semakin cemberut dan sedih kalau mengingat setiap ceritanya tak pernah ditanggapi oleh Myung Soo.

“Kau harus minta ma’af padanya.” Perintah Hyo Joon.

“Aku tidak mengerti.” Jawab Ji Yeon.

“Kau bahkan tidak peduli telah melukai perasaan Myung Soo. Myung Soo mencintaimu Ji Yeon. Harus seberapa sering lagi aku bilang padamu kalau Myung Soo itu mencintaimu.” Hyo Joon tampak geram karena Ji Yeon ternyata masih kekanakan bahkan ia tidak peka pada perasaan seseorang yang selalu disampingnya.

“Dia tidak menyukaiku, Oppa!! Kau dengar sendirikan pengakuannya tadi. Dia bilang, dia tidak menyukaiku.” Sepasang mata Ji Yeon mulai berkaca-kaca. “Hidup kami tidak akan pernah bahagia kalau hanya salah satu pihak yang mencintai. Jadi, biarkan aku memilih pria lain. Setelah aku menemukannya. Aku akan lebih memilih hidup dengannya. Tidak peduli Appa dan Eomma tidak akan menyetujuinya.” Ji Yeon bersikukuh dengan egonya.

***

Myung Soo dan Woohyun mampir ke restaurant untuk makan siang sebelum pulang ke rumah. Myung Soo tampak lahap menikmati makanan yang dipesannya, membuat Woohyun tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Myung Soo terlihat sangat kelaparan.

“Omoo… makanlah pelan-pelan. Nanti tersedak.” Kata Woohyun perhatian.

“Aku sudah lama tidak menikmati makanan Korea. Ini sangat lezat. Bertahun-tahun aku merindukan masakan Korea. Akhirnya hari ini aku merasakannya.” Jawab Myung Soo tanpa berhenti melahap makanannya.

“Memangnya Ji Yeon tidak pernah memasakan makanan Korea selama di Kanada?”

“Kadang-kadang. Dia itu lebih sibuk dengan teman-teman prianya. Dia tidak peduli padaku.” Tiba-tiba kesedihan menyergap Myung Soo. Ia masih ingat betul saat tanpa sengaja ia memergoki Ji Yeon tengah berciuman dengan Kris di depan apartement mereka.

Woohyun merasa menyesal. Sepertinya ia salah melontarkan pertanyaan pada Myung Soo. Myung Soo menaruh sumpitnya di atas meja dan hanya memandang kosong ke arah sisa makanan di mangkuknya. “Dia sering bercerita tentang cinta. Bercerita tentang pria yang ia sukai, pria yang baru saja mengajaknya berkencan. Dia sama sekali tidak peduli perasaanku.” Kalau Myung Soo bukan pria, mungkin sekarang dia sudah manangis terisak-isak karena orang yang disukainya tidak pernah tahu perasaannya seperti apa selama ini padanya. “Apakah aku ini kurang baik untuknya?” tanyanya bergumam dan mengundang rasa iba Woohyun. Woohyun yang memang sahabat kecil Myung Soo. Ia tahu betul kalau Myung Soo memang sudah menyukai Ji Yeon sejak pertama kali bertemu. Ketika mereka masih kanak-kanak.

***

Ji Yeon dan Hyo Joon tampak bahagia makan malam bersama Appa dan Eomma. Ji Yeon tidak hentinya berceloteh tentang kesehariannya di Kanada, kecuali kedekatannya dengan pria-pria disana. Tae Hee, sang eomma tampak memotongkan daging sapi dan memberikannya pada Ji Yeon.

“Makan yang banyak.” Ucap Tae Hee. Ia begitu bahagia karena anggota keluarganya lengkap kini. Ada suami, putera dan puteri. Begitu pun dengan apa yang di rasakan Yoochun, sang appa.

“Yeobo.. kau mau tambah ikan bakarnya?” Tae Hee menawari suaminya yang tampak larut dengan keceriaan Ji Yeon.

“Eomma.. aku mau ikan bakarnya.” Kata Hyo Joon. Tae Hee tersenyum, mengangguk dan mengambilkan ikan bakar untuk Hyo Joon. “Gomawo Eomma..”

“Ne. Makanlah yang banyak.” Jawab Tae Hee.

“Bagaimana dengan hubunganmu dan Myung Soo?” tanya Yoochun.

Ji Yeon tersentak dan tersenyum seketika. “Kami baik-baik saja meskipun kami sering bertengkar. Tidak ada pertengkaran yang berarti. Kami baik-baik saja Appa..” jawab Ji Yeon berbohong.

***

Pagi ini Ji Yeon dengan pakaian semi formalnya sudah berdiri di depan rumah menunggu Myung Soo yang akan menjemputnya. Hari ini adalah hari pertama mereka masuk kantor sebagai presdir muda dan sekretaris di kantor keluarga Kim. Ini semua telah disepakati oleh ke dua orang tua mereka.

Tidak lama kemudian mobil Myung Soo berhenti tepat di depannya. Ji Yeon pun tanpa banyak berpikir segera naik ke dalam mobil. Ia menghela nafas ketika mendapati wajah Myung Soo yang dingin tanpa ekspresi. Tidak ada penyambutan apapun? Bahkan senyuman pun tidak ada.

“Jika seperti ini terus. Lebih baik tidak usah ada perjodohan diantara kita.” Ucap Ji Yeon.

Myung Soo mengacuhkannya dan melajukan mobilnya.

“Berhenti hanya memikirkan dirimu sendiri, Noona Park!!” kata Myung Soo dingin.

“Jadi, kau juga merasa risihkan dengan perjodohan kita? Lebih baik kita hentikan saja.” Ji Yeon terus beralasan.

“Aku tidak mau memikirkannya. Aku tidak mau membicarakannya. Kita sudah terlalu sering membahas tentang ini. Buat aku bisa bernafas bebas saat kau disampingku. Tidak bisakah kau melakukannya? Kenapa pertengkaran tanpa sebab, yang terus mengisi kebersamaan kita, hah??” Myung Soo berusaha menekan perasaannya. Ia tidak mau terbawa emosi. “Kau masih tidak tahu apa-apa tentang cinta dan komitmen.” Lanjutnya.

Ji Yeon tertunduk. Rasanya ia ingin menangis sekarang. Dia tidak mengerti apa maksud Myung Soo. Entah kenapa setiap mendengarkan kalimat yang dilontarkan Myung Soo, membuatnya sedih.

“Aku tidak mengerti. Oppa… aku hanya ingin hidup bahagia. Aku… bingung…..” tanpa disangka Ji Yeon menangis. Ji Yeon sudah sering seperti ini. Meluapkan semua emosi dan tanya lewat tangisannya. Ia bingung dengan Myung Soo. Kalau Myung Soo tidak menyukai Ji Yeon, kenapa Myung Soo selalu berada disekitar Ji Yeon? Padahal Ji Yeon membebaskan Myung Soo untuk melepaskannya dan berkencan dengan wanita idamannya. Tidak untuk tetap bertahan dengan wanita yang jelas-jelas tidak disukainya.

“Tanyakan pada dirimu sendiri. Bukankah kau itu sangat pintar bahkan kau bisa loncat kelas dan menyamaiku. Seharusnya kau tahu jawabannya.” Ucap Myung Soo membuat Ji Yeon semakin menangis terisak. “Dulu, sekarang, kau tidak tahu cinta.” Lanjutnya.

“Lalu, seperti apa cinta? Kenapa hatiku begitu sakit sekarang?” bentak Ji Yeon yang terus menangis.

***

Tampak Ji Yeon berjalan beberapa langkah di belakang Myung Soo berbaur bersama pegawai lain yang hadir di pertemuan para kepala bagian bersama presdir baru dan sekretaris baru, Kim Myung Soo dan Park Ji Yeon.

Semua pegawai terlihat menyambut baik Myung Soo dan Ji Yeon. Terutama pegawai wanita yang tampak sangat senang dengan kehadiran Myung Soo, juga pegawai pria yang juga terkesima karena pesona cantik dan anggun Ji Yeon.

“Berjalan di sampingku. Kau bukan bodyguard-ku kan?” perintah Myung Soo. Ji Yeon yang mendengarnya segera melangkah cepat dan berjalan disamping Myung Soo.

“Jangan terlalu sering membalas senyum para pria itu.” pinta Myung Soo, namun lebih terdengar seperti memerintah.

“Aku hanya membalas sapaan mereka.” elak Ji Yeon.

“Hatimu sering membodohimu. Aku tidak mau dengar kau sedang menyukai seorang pria setelah ini. Saat di Kanada, ku rasa kau sudah puas kan berkencan dengan pria-pria yang kau sukai. Jangan lakukan di Korea. Banyak orang yang mengenalmu. Jadi, jagalah sikap. Apalagi mereka tahu kalau kita akan segera menikah.” Ji Yeon terperangah setelah mendengar ucapan Myung Soo.

***

Myung Soo dan Ji Yeon sudah duduk di tempat kerja masing-masing yang memang satu ruangan. Myung Soo diam dan masih memperhatikan Ji Yeon yang sedang menegak air mineral di gelasnya, lalu menggelengkan kepalanya. ‘Ada apa dengannya?’ pikirnya.

Ji Yeon sendiri. Ia merasa aneh. Dengan perkataan Myung Soo yang melarangnya membalas senyuman setiap pegawai pria padanya. Ia kembali menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran anehnya.

Tiba-tiba Ji Yeon beranjak berdiri dan menghampiri meja kerja Myung Soo yang tidak jauh dari meja kerjanya. Myung Soo pura-pura menyalakan laptopnya.

“Oppa… memangnya kita akan segera menikah? Benarkah? Appa dan Eomma sama sekali tidak mengatakannya padaku.” Kata Ji Yeon ingin tahu. “Baiklah. Tidak usah dijawab. Nanti ku tanyakan langsung pada Eomma dan Appa.” Lanjutnya, lalu tersenyum lebar seakan mereka tidak pernah ada masalah sebelumnya. Ji Yeon memang seperti ini. Dia tidak bisa berlama-lama kesal dan marah pada Myung Soo. Sejak kanak-kanak, Myung Soo setia menemani Ji Yeon kemana pun Ji Yeon mau. “Aku akan menuruti kemauanmu. Aku tidak akan menanggapi pria-pria disekitarku, setampan apapun dia. Tapi, kalau aku sudah menemukan pria yang membuat jantungku berdebar-debar dan membuatku nyaman dengannya. Jangan halangi aku untuk lepas darimu. Kau setuju?”

Myung Soo terhenyak. Ji Yeon tidak pernah memahami perasaan Myung Soo. Itulah yang sering dipikirkan Myung Soo.

“Kau bahkan lupa siapa yang pertama kalinya membuat jantungmu berdebar-debar.” Kata Myung Soo tanpa membalas tatapan Ji Yeon yang bingung.

Flashback on

Hari ini tepat tanggal 13 Maret 2002, Myung Soo genap menginjak 10 tahun. Orang tuanya mengadakan perayaan kecil-kecilan yang hanya dihadiri keluarga dan kerabat terdekat. Myung Soo kecil begitu ekspresif, terlihat sekali ia sangat bahagia kini. Ia terus mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk mencari keberadaan seseorang.

“Kau mencari Ji Yeon?” sang Eomma, Kim Ji Won menyadari apa yang sedang dicari-cari putera bungsunya.

“Kau mencari calon adik ipar?” giliran Minsoo, adik kandung laki-lakinya yang bertanya.

Hari ini, tepat di ulang tahunnya yang ke-10. Ia mendapatkan hadiah yang membuatnya bahagia tak terkira. Ke dua orang tuanya bilang kalau mereka berencana menjodohkannya dengan puteri bungsu kerabatnya, Yoochun dan Tae Hee. Hal itu membuat Myung Soo sangat bahagia karena sejak pertemuannya pertama kali di usia 8 tahun dan Ji Yeon berusia 6 tahun, Myung Soo merasa tertarik pada Ji Yeon.

“Kau mencari Ji Yeon?” sekarang Tae Hee, eomma Ji Yeon yang bertanya.

“Ji Yeon ada di ruang musik. Tadi, dia minta izin pada Appa untuk meminjam piano kita disana.” Sang Won, sang Appa angkat suara.

Myung Soo kecil tersenyum berbinar dan segera naik ke lantai dua rumahnya untuk menyusul Ji Yeon di ruang musik keluarganya.

.

Di ruang musik Ji Yeon tampak tersenyum senang sambil menekan tuts-tuts piano saja, suaranya tidak terdengar. Ia tidak menyadari Myung Soo yang sedang memperhatikannya di ambang pintu dengan senyum merekah menghiasi wajah tampannya.

Senyum Myung Soo semakin mengembang saat mendengar suara merdu Ji Yeon cilik. Myung Soo kecil menghampiri Ji Yeon kecil perlahan-lahan hingga ia tidak sengaja menginjak bagian bawah piano dan menimbulkan suara ketika tutsnya ditekan.

Ji Yeon kecil terkejut dan menghentikan nyanyiannya, lalu berbalik. Deg!! Sepasang matanya nyaris membulat sempurna mendapati Myung Soo kecil yang sudah ada di depannya yang juga terkejut. Jantung mereka berdebar-debar, mereka berdua berdiri sangat dekat untuk pertama kalinya.

Mereka hanya saling diam sambil saling pandang merasakan detak jantung mereka masing-masing.

Tiba-tiba Myung Soo kecil terjatuh karena didorong oleh Ji Yeon kecil.

“Yak!! Kenapa malah mendorongku?” pekik Myung Soo kecil sambil mengaduh kesakitan. Bokongnya terasa sangat sakit.

“Oppa!! Kau membuat jantungku berdebar-debar tahu..” pekik Ji Yeon kecil sangat lucu.

Myung Soo kecil yang semula mengaduh kesakitan. Ia tertawa seketika mendengar pengakuan polos Ji Yeon kecil.

Flashback of

***

Ji Yeon baru saja selesai keluar dari toilet dan berjalan menuju ruangannya. Dia baru saja mengadu pada Hyo Joon tentang semua sikap Myung Soo sejak tadi pagi padanya, tapi Hyo Joon hanya menertawakannya dan menutup teleponnya dengan sepihak, membuat Ji Yeon sangat kesal. Ia terus memukuli kepalanya saking kesalnya hingga ia tidak menyadari kalau tinggal beberapa langkah lagi tiba di depan ruangannya. Di depan pintu ruangan sudah ada Myung Soo yang menunggunya. Melihat Myung Soo, membuat Ji Yeon tersenyum lebar lalu mempercepat langkahnya menghampiri Myung Soo.

“Myung Soo Oppa…” sapanya.

“Tolong ambilkan airphone di atas mejaku. Setelah itu susul aku ke kantin, ne?” perintahnya, lalu berjalan meninggalkan Ji Yeon yang cemberut.

“Oppa!! Kau bisa tunggu aku dulu mengambil airphone-mu dan kita pergi ke kantin bersama-sama.” rengek Ji Yeon, membuat Myung Soo menghentikan langkahnya sejenak tanpa berbalik.

“Belajar dewasa dan mandiri.” Sahut Myung Soo dan meneruskan jalannya lagi, membuat Ji Yeon kembali kesal. Ji Yeon pun masuk ke dalam ruangan dengan terpaksa.

“Beginikah seorang calon suami memperlakukan calon isterinya?” umpat Ji Yeon.

Tidak lama kemudian, Ji Yeon sudah keluar ruangan sambil membawa airphone milik Myung Soo. Ia melangkah cepat menyusul Myung Soo ke kantin. Namun, baru saja dia akan memasuki lift, ia melihat Myung Soo keluar dari lift yang akan dimasukinya.

“Oppa!! Aku baru mau menyusulmu. Apakah kau sudah makan siang? Oppa… kau ini mempermainkanku eoh?” pekik Ji Yeon.

“Noona Park!! Ini bukan rumah dan bukan sekolah lagi. Ini kantor!! Sampai kapan kau bersikap kekanakan seperti itu? Merengek, memekik manja, berteriak, kapan kau merubah semua sikap burukmu itu?” Myung Soo agak membentak Ji Yeon.

Ji Yeon menahan marahnya. Ia dengan kasar meraih tangan Myung Soo dan menyerahkan airphone Myung Soo dengan kasar. “Igeo.. airphone-mu.” Ketus Ji Yeon. Ji Yeon berjalan melewati Myung Soo dan berniat masuk ke dalam lift. “Baiklah. Aku tidak akan tergantung lagi padamu. Kau puas?” Ji Yeon ingin sekali menangis sekarang dan akan masuk ke dalam lift, namun… Myung Soo lebih cepat meraih pergelangan tangan Ji Yeon, membuatnya berbalik dan diciumnya Ji Yeon. Ji Yeon terkejut ketika Myung Soo semakin memperdalam ciumannya bahkan ia tidak sempat memejamkan matanya. Beberapa pegawai yang lewat tampak terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang. Presdir muda dan sekretarisnya sedang berciuman.

“Omooo…” para pegawai itu tampak melongo sambil menutup mulut mereka masing-masing.

Ji Yeon segera mendorong Myung Soo dengan sekuat tenaga, lalu lari meninggalkan Myung Soo yang hanya diam. Para pegawai itu masih berbisik-bisik membuat Myung Soo terganggu. Myung Soo berbalik dan menatap tajam para pegawainya.

“Apa yang sedang kalian lakukan? Pergi pergi!! Atau kalian mau ku pecat?” bentaknya.

“Mianhae Presdir muda Kim.” Ucap para pegawai merasa bersalah seraya berulang-ulang kali membungkukan tubuhnya ke arah Myung Soo, lalu mulai meninggalkan Myung Soo sendiri.

***

Ji Yeon menangis terisak di dalam toilet.

Myung Soo yang sudah berdiri di depan toilet perempuan. Ia bisa mendengar dengan jelas tangisan Ji Yeon.

.

.

Tidak lama kemudian, Ji Yeon pun keluar dari toilet.

“Aku minta ma’af.” Pinta Myung Soo ketika Ji Yeon akan melewatinya. Ji Yeon berhenti melangkah dan berbalik menghadap Myung Soo.

“Oppa minta ma’af? Kenapa harus Kim Myung Soo? Kenapa harus Kim Myung Soo yang dijodohkan dengan Park Ji Yeon? Kenapa pria itu harus Kim Myung Soo? Kenapa hidupku seperti ini? Kenapa aku? Kenapa bukan orang lain? Apa bisa Oppa menjawabnya? Apa kau memahami apa yang ku katakan?” bentak Ji Yeon. Air matanya kembali menetes, membuat hati Myung Soo pedih.

Myung Soo hanya mampu menarik tubuh Ji Yeon dan memeluknya erat seraya terus minta ma’af. “Kenapa kau terus seperti ini? Aku harus melakukan apa lagi? Park Ji Yeon….” bisik Myung Soo begitu menyedihkan.

Ji Yeon merasa begitu malu. Bukan seperti ini yang ia mau.

‘Coba balut perasaanku ini dengan otak kecilmu.’ Batin Myung Soo.

Seperti ini… Ji Yeon kesal!! Ia melampiaskan semua kesalnya di pelukan Myung Soo dan menangis disana. Ia tidak suka setiap kali Myung Soo bersikap dan berucap menyebalkan padanya. Hal ini terus berulang.

“Kau.. kau harus bergantung padaku.” Bisik Myung Soo. Ji Yeon sudah menjadi bagian hidup Myung Soo. Myung Soo tidak suka ketika Ji Yeon mulai berkata seenaknya sendiri tanpa pernah mencoba memikirkan perasaannya. Itu sangat menyedihkan.

***

Myung Soo dan Ji Yeon sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Myung Soo sedang mempelajari beberapa dokumen kantor, sedangkan Ji Yeon tampak meng-copy database administrasi pegawai. Ke duanya tampak serius dengan pekerjaan masing-masing.

.

Myung Soo tersenyum simpul saat tanpa sengaja ia memandang Ji Yeon yang tengah sibuk dengan layar komputer di hadapannya.

“Kau cantik.” Gumam Myung Soo seraya memotret Ji Yeon dengan ponselnya. Ji Yeon sama sekali tidak menyadari kalau Myung Soo telah memotretnya. Myung Soo masih belum mengalihkan pandangannya dari Ji Yeon yang sama sekali tidak menyadarinya.

Myung Soo kembali mengingat kenangan-kenangannya bersama Ji Yeon selama di Kanada. Ji Yeon pergi meninggalkannya sendirian di apartement dan berkencan dengan pria lain, mencari kehangatan lain. Myung Soo melihat kebahagiaan Ji Yeon seusai berkencan dengan pria lain. Ji Yeon sama sekali tidak peduli dengan perasaan Myung Soo saat itu. Myung Soo memang mencintai Ji Yeon, namun ia tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan rasa cintanya pada Ji Yeon. Ji Yeon tidak pernah tahu kalau Myung Soo mencintainya. Myung Soo hanya mampu diam, mengacuhkan semua cerita Ji Yeon tentang pria-pria yang ia kencani.

‘Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Hatiku tidak akan pernah mengizinkanmu pergi dari sisiku.’ – Kim Myung Soo.

 “Setelah jam kantor selesai. Woohyun dan Hyo Joon mengajak kita bermain bilyar bersama. Kau harus ikut.” Kata Myung Soo dengan keras agar terdengar oleh Ji Yeon.

“Eoh?” Ji Yeon menoleh pada Myung Soo dengan tampang polosnya. “Bermain bilyar?” ulangnya.

“Iya. Kau dan aku harus datang.” Jawab Myung Soo membalas tatapan Ji Yeon.

“Aku tidak mau!! Aku masih kesal padamu. Kalau kalian mau bermain bilyar, silahkan! Tanpa aku!” kata Ji Yeon. Ia mulai bersikap seperti anak kecil lagi. Sesungguhnya sifat kekanakan ini lah yang dimiliki Ji Yeon dan dibenci Myung Soo. Myung Soo tidak suka perempuan kekanakan. Tapi, entah kenapa ia masih bertahan mencintai Ji Yeon hingga saat ini. Selama hidupnya hanya Ji Yeon yang ada di hatinya.

“Kau ini sekretarisku dan kau harus ikut kemana pun aku pergi.” Tegas Myung Soo, memaksa.

“Tapi, itu sudah di luar jam kantor. Aku bukan sekretaris….”

“Tapi kau adalah calon isteriku. Kau harus patuh pada calon suamimu ini.” sela Myung Soo, membuat Ji Yeon tersentak. Ji Yeon semakin kesal pada Myung Soo yang selalu sewenang-wenang akhir-akhir ini kepadanya.

“Aku tidak bisa bermain bilyar. Jadi, aku tetap tidak akan ikut. Aku tidak peduli denganmu.” tegas Ji Yeon yang terlihat semakin kekanak-kanakan di mata Myung Soo.

Myung Soo menghela nafas dalam dan menyahut, “Memangnya sejak kapan kau peduli padaku? Pernahkah kau peduli padaku?” suara Myung Soo sedikit meninggi. “Aku kan sudah katakan padamu kalau sekarang kau tidak boleh bersikap bebas seperti yang pernah kau lakukan di Kanada. Atau… kau mau mengecewakan orang-orang kesayanganmu?” lanjutnya menatap lurus ke arah bola mata Ji Yeon.

“Baiklah. Aku ikut, tapi tidak akan ikut bermain.” Kata Ji Yeon bersungut kesal.

Ji Yeon merasa Myung Soo semakin menyebalkan dan semakin membatasinya sejak mereka tinggal di Seoul.

***

Ji Yeon yang masih kesal. Ia diam saja disamping Myung Soo yang memperhatikan tiga laki-laki di hadapannya sedang beradu suit.

“Kita selalu kalah karena kau!! Seharusnya aku se-team dengan Donghae hyung yang lebih jago main bilyar daripada denganmu, Woohyun.” Sungut Hyo Joon melihat kekalahan Woohyun saat adu suit dengan pria dewasa yang ia panggil ‘Donghae Hyung’ untuk memulai permain bilyar.

“Hei!! Bilyar itu permainan pria sejati, tak ada trik kotor. Tidak boleh kabur dari permainan.” Kata Donghae tertawa geli melihat pertengkaran kecil antara Hyo Joon dan Woohyun.

Donghae menoleh ke belakang, sekilas ia menatap Ji Yeon yang tampak kesal tapi begitu cantik di matanya. Lalu, beralih menatap Myung Soo yang tampak asyik dengan ponselnya.

“Myung Soo-ssi, kita dapat giliran pertama bermain.” Kata Donghae pada Myung Soo dengan senyumnya. Sesekali ia memperhatikan Ji Yeon yang hanya membuang pandangannya.

“Ne. Arra. Ayoo..” Myung Soo pun memasukan ponsel ke dalam saku celananya dan bergabung dengan Donghae, Hyo Joon dan Woohyun.

Mereka berempat memulai permainan bilyar mereka, sedangkan Ji Yeon hanya diam menonton permainan bilyar mereka. Ia tidak menyadari, kalau ia mengukir senyum saat Donghae melakukan permainannya.

‘Lee Donghae.’ Ji Yeon menggumamkan nama Donghae dalam hatinya. Ia baru menyadari betapa tampannya Lee Donghae yang ia tahu salah satu aktor terkenal di Korea. Bagaimana bisa Hyo Joon dan Woohyun mengenal artis papan atas seperti Lee Donghae? Pikirnya.

***

Myung Soo dan Ji Yeon pulang bersama. Ji Yeon duduk di samping Myung Soo yang sedang mengemudikan mobilnya.

“Oppa… kau juga mengenal baik Donghae-ssi?” tanya Ji Yeon. Sejak tadi Myung Soo menangkap Ji Yeon yang senyam-senyum sendiri tidak jelas, seperti orang kasmaran. Myung Soo tahu, Ji Yeon sepertinya sedikit menaruh perasaan pada Donghae. Sejak di tempat bilyar, ia menangkap beberapa kali Ji Yeon tersenyum ke arah Donghae.

“Wae?” tanya Myung Soo tidak suka.

“Aku tanya, apakah kau juga mengenal baik Donghae-ssi? Usianya berapa tahun? Dia tampak dewasa. Aku suka pria dewasa sepertinya.” Myung Soo mendesah pelan mendengar pertanyaan dan ungkapan perasaan Ji Yeon terhadap Donghae. Terulang lagi!! Sampai kapan akan terus berulang seperti ini? pikir Myung Soo.

Myung Soo hanya diam saja. Biarkan saja Ji Yeon terus mengoceh tentang Donghae. Dadanya begitu sesak saat mendengar Ji Yeon membicarakan pria lain padanya.

“Yak!! Kenapa diam saja? Aku bertanya padamu, Oppa.” pekik Ji Yeon.

“27 tahun. Dia terlalu tua untukmu.” Jawab Myung Soo.

“Selisih usia kami hanya 7 tahun.” kata Ji Yeon semakin melebarkan senyum tanpa peduli suasana perasaan Myung Soo sekarang.

“Menikah dengan pasangan yang jauh lebih tua akan memungkinkan menimbulkan banyak perbedaan yang memicu perceraian lebih tinggi. Jadi, jangan berkhayal terlalu tinggi.” Kata Myung Soo.

“Yak!! 7 tahun itu tidak terlalu tua. Lagipula ku rasa dia adalah pria dewasa yang berjiwa muda. Akan banyak kecocokan nantinya diantara kami.” Sungut Ji Yeon seraya mengumpat kesal yang terdengar tidak jelas di telinga Myung Soo.

“Ku mohon jangan buat masalah. Kalau kau berani jatuh cinta pada pria lain, itu akan semakin mempersulit keadaan kita.” Kata Myung Soo.

“Justru aku memberikan solusi untuk kebahagiaanku. Aku tidak mungkin menikah denganmu. Kau sama sekali tidak mencintaiku. Jadi, untuk apa aku terus mempertahankan perjodohan ini?”

“DIAM!!” bentak Myung Soo. “Jangan bicara seperti itu lagi!! Kau tidak pernah ingin tahu tentang apapun selain dirimu sendiri. Berhenti berpikiran hanya dilihat dari sudut pandangmu. Kapan kau akan mengerti perasaan orang lain. hah??” tiba-tiba braak!! Mobil Myung Soo menabrak pembatas pinggir jalan akibat ulah Myung Soo yang dengan kasar menepikan mobilnya. Hingga membuat Ji Yeon terhenyak hampir terlempar. Untung sabuk pengaman melindunginya.

“Oppa, kau sudah gila?” pekik Ji Yeon. Refleks ia melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil. Beruntung Myung Soo belum sempat mengunci pintu mobilnya hingga mudah bagi Ji Yeon turun dari mobilnya.

Myung Soo menatap marah ke arah Ji Yeon yang sudah turun dari mobilnya. Ia dengan kasar melepas sabuk pengamannya, turun dari mobil dan mencegah Ji Yeon untuk pergi meninggalkannya.

Myung Soo mendekap erat tubuh Ji Yeon dari belakang. Dikecupnya berulang-ulang kali lekuk leher jenjang milik Ji Yeon yang tengah terkejut. Myung Soo yang ia kenal sekarang berbeda dengan Myung Soo yang ia kenal selama di Kanada. Myung Soo tidak pernah melakukan tindakan semacam kontak fisik terhadapnya sebelum ini.

Ji Yeon mencoba terus memberontak. Yang ia tahu ciuman dilakukan sebagai ungkapan sayang bagi dua orang yang saling mencintai. Ia sama sekali tidak bisa memastikan perasaan Myung Soo sesungguhnya baginya. Bagi Ji Yeon, hubungannya bersama Myung Soo adalah sebuah ketidakpastian. Ji Yeon tidak suka dengan ketidakpastian. Ketidakpastian tidak akan membuatnya bahagia. Ji Yeon hanya ingin hidup bahagia bersama pasangan yang juga mencintainya dengan tulus. Ia belum yakin kalau pasangan yang ditakdirkan untuknya adalah Kim Myung Soo.

Beruntung jalanan malam ini begitu sepi. Tidak ada orang lain yang melihat Myung Soo tanpa henti mencium setiap lekuk leher jenjang Ji Yeon. Myung Soo semakin mengunci tubuh Ji Yeon di dekapannya seiring dengan ciumannya yang terus menghujani setiap lekuk leher Ji Yeon. Ciuman Myung Soo di lehernya, membuat Ji Yeon berhenti memberontak, malah membuatnya semakin dibuat melayang dan mendesah nikmat saat Myung Soo sedikit menggigit urat nadi di lehernya.

‘Kau sama sekali tidak tahu tentang cinta. Kau hanya bisa memikirkan dirimu sendiri. Terus merengek seperti anak kecil. Ini semua bukan salahmu. Aku yang salah. Aku yang belum mampu mengungkapkan isi hatiku padamu. Ku mohon berhenti mengeluh dan memintaku untuk melepaskanmu. Aku mencintaimu, Park Ji Yeon.’ – Kim Myung Soo.

~

~

~

Next??

~

~

~

Park Ji Yeon masih memakai gaun pengantin yang memperlihatkan ke dua sisi bahu dan dadanya. Potongan ball gown yang klasik dan korset yang sensual memberikan kesan anggun pada sosok Park Ji Yeon seharian ini. Ia tampak terbaring lelah di atas tempat tidur.

Myung Soo yang juga masih lengkap dengan tuxedo nya tampak menikmati dan mengagumi sosok cantik dan anggun Ji Yeon hari ini. Ia bahkan tampak tidak bergeming memandang Ji Yeon yang kini tengah memejamkan matanya. Sosok Ji Yeon membuatnya sulit untuk memandang ke lain arah.

Park Ji Yeon sudah jadi milik Kim Myung Soo. Janji suci pernikahan telah mereka ikrarkan di hadapan Tuhan, pendeta, orang tua, keluarga, jemaat gereja dan semua orang yang hadir di moment sakral mereka siang tadi.

Myung Soo tersenyum berjalan mendekat ke arah tempat tidur yang akan mereka tempati. Ia melepaskan jasnya dan melemparnya di bibir ranjang.

Ji Yeon terkejut, jantungnya berdetak lebih cepat seketika saat ia merasakan seseorang naik ke atas tempat tidur. Hingga ia merasakan sebuah lengan tengah memeluknya. Ji Yeon membuka matanya perlahan. Myung Soo sudah berbaring di sampingnya sambil menatapnya penuh cinta.

Myung Soo semakin mempersempit jaraknya pada Ji Yeon. Hingga Ji Yeon bisa merasakan hembusan nafas di sekitar lehernya. Myung Soo mulai mencium setiap lekuk leher jenjang Ji Yeon mulai dari bawah telinga hingga ke bawah dagu dengan intim, membuat Ji Yeon bergelora.

Ji Yeon pun enggan menolak. Bagaimana pun juga sekarang dirinya adalah milik Myung Soo. Myung Soo adalah suaminya sekarang. Ji Yeon tidak ingin mengecewakan orang-orang yang ia sayangi. Ji Yeon ingin menjadi isteri yang baik untuk Myung Soo. Ji Yeon mencintai Myung Soo. Sekarang ia sadar kalau mereka adalah pasangan yang saling mencintai. Hanya saja, Myung Soo tidak pernah mengatakan kalau dirinya mencintai Ji Yeon. Myung Soo mencintai Ji Yeon dengan caranya sendiri.

“Kau tampak sangat cantik hari ini.” bisik Myung Soo seraya menjilat dan menggigit telinga Ji Yeon secara bergantian, membuat Ji Yeon ber-ereksi lebih cepat.

Myung Soo perlahan naik ke atas tubuh Ji Yeon tanpa menindih tubuh Ji Yeon yang ada di bawahnya. Mereka saling bertatapan dan memejamkan mata mereka perlahan saat mulai berciuman mesra. Lengan Ji Yeon telah mengalung sempurna di leher Myung Soo. Jari-jemari lentik Ji Yeon menyisir dan meremas dengan pelan rambut Myung Soo, membiarkan bibir mereka terus berbalas ciuman mesra dan semakin dalam.

.

.

Tautan bibir mereka terlepas dengan rasa enggan. Mereka kembali saling menatap dengan deru nafas mereka yang saling beradu. Jantung mereka semakin berdebar tak terkendali. Namun, mereka begitu nyaman dan menikmatinya.

Ji Yeon kembali memejamkan matanya ketika Myung Soo kembali mendekat dan kembali membuka matanya saat merasakan hanya hidung Myung Soo yang menyentuh area hidungnya. Myung Soo mencium hidung Ji Yeon sesaat.

Myung Soo tersenyum memandang betapa cantiknya wajah Ji Yeon dalam jarak sedekat ini.

Deru nafas mereka terus beradu.

“Aku memintamu untuk tidak pernah beranjak dari sisiku. Hatiku akan kacau tanpamu.” Kata Myung Soo seraya memberikan sedikit pijatan oleh ibu jari dan telunjuknya di hidup Ji Yeon, membuat Ji Yeon tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia dan nyamannya. Ji Yeon tersenyum begitu manis pada Myung Soo yang juga tengah tersenyum padanya.

Dengan tatapan lembut dan tenangnya, Myung Soo menyentuh perlahan area mata Ji Yeon dengan ujung jarinya, membuat Ji Yeon semakin terjerat dengan suasana romantis yang diciptakan Myung Soo.

Myung Soo membelai rambut Ji Yeon dengan lembut tanpa melepaskan kontak mata mereka.

“Aku tidak kuat menahannya lagi. Aku menginginkanmu, KimJi Yeon.” kata Myung Soo dan kembali mendaratkan ciumannya di bibir Ji Yeon yang menerimanya dengan senang hati. Mata mereka kembali menutup perlahan. Ji Yeon membiarkan Myung Soo yang menciumnya dengan agresif, membuat adrenalin semakin terpacu.

“Oppa….” Ji Yeon mendesah saat Myung Soo mengakhiri ciumannya dengan enggan. Masih dengan tatapan tenang dan lembutnya, Myung Soo memandang Ji Yeon. “Aku milikmu. Lakukan apapun yang kau mau Oppa inginkan padaku. Aku..” Ji Yeon mengigit bibir bawahnya, pipinya merona karena malu. “Aku juga menginginkanmu.” Katanya, membuat Myung Soo tersenyum lebih lebar.

Myung Soo pun mulai membuka resleting gaun pengantin Ji Yeon, lalu melucutinya hingga menampilkan tubuh seksi Ji Yeon hanya mengenakan bra berwarna merah dan celana dalam putih berenda. Mata Myung Soo nyaris membulat melihat penampilan Ji Yeon sekarang. Myung Soo semakin menginginkan Ji Yeon. Myung Soo bangkit dan melucuti pakaiannya sendiri hingga meninggalkan tubuhnya hanya mengenakan celana dalam hitam. Ia segera menaiki tubuh Ji Yeon. Ia kembali menciumi Ji Yeon semakin intim, nyaris seluruh tubuh Ji Yeon ia jelajahi, membuat Ji Yeon tidak bisa menyembunyikan desahannya. Ia melepaskan sisa pakaian yang melekat ditubuhnya dan Ji Yeon hingga menampilkan tubuh Ji Yeon dalam keadaan ‘naked’.

Tubuh ‘naked’ Myung Soo sudah berjongkok di atas tubuh yang terbaring ‘naked’ dan menumpukan berat badannya di ke dua kakinya.

“Arrgh!!” Ji Yeon memekik kesakitan saat Myung Soo akhirnya melakukannya saat dirinya sendang memberikan sentuhan lewat bibir dan deru nafasnya dari leher menuju dada Ji Yeon. Ji Yeon meneteskan air matanya. Ji Yeon merasakan amat sakit di awal Myung Soo melakukannya, Myung Soo mengalihkan rasa sakit yang dirasakan Ji Yeon dengan mencium bibir Ji Yeon dengan lembut dan agresif dengan tangannya yang terus meremas buah dada Ji Yeon secara bergantian. Myung Soo membiarkan jari-jemari Ji Yeon menyisir dan terus meremas rambutnya untuk melampiaskan rasa sakit dan nikmatnya.

Ji Yeon menggerakan pinggulnya mengikuti tempo irama yang dimainkan Myung Soo. Ji Yeon semakin mendesah nikmat merasakan Mr. Happy Myung Soo yang masih beraksi di dalam Miss. V nya dengan sepasang telapak tangannya yang beredar meraba area perut dan dada Myung Soo.

Myung Soo tersenyum mendengar Ji Yeon terus mendesah seksi seiring dengan permainan cinta mereka yang semakin nikmat. Ke duanya tampak menikmati moment bercinta mereka. Ini adalah pertama kalinya bagi mereka.

 ***

Myung Soo terbangun lebih dulu ketika sinar matahari mulai menyelipat lewat celah-celah jendela kamar. Ia tersenyum mengingat apa yang telah ia lakukan semalam dengan wanita yang kini sudah menjadi isterinya. Ji Yeon tampak masih tertidur lelah di pelukannya. Myung Soo semakin erat memeluk tubuh polos Ji Yeon di bawah selimut merah yang menyelimuti tubuh polos mereka.

Hingga ponsel Ji Yeon berdering. Myung Soo segera meraihnya dan menjawab panggilan masuk dari ‘Lee Donghae’.

“Untuk apa pagi-pagi sudah menghubungi isteriku?” umpatnya.

“Yeoboseyeo.” Myung Soo mengangkat telepon dari Donghae.

“Ahh…” terdengar desahan kecewa Donghae. Donghae kecewa karena yang mengangkat teleponnya itu Myung Soo, bukan Ji Yeon sesuai dengan apa yang ia harapkan. “Myung Soo. Selamat atas pernikahanmu dan Ji Yeon. Aku.. turut berbahagia.” Donghae tersenyum pahit tanpa diketahui Myung Soo. Myung Soo tersenyum miring. Myung Soo tahu kalau Donghae diam-diam menyukai Ji Yeon. Sejak awal pertemuan mereka saat bermain bilyar bersama Hyo Joon dan Woohyun.

“Terima kasih Hyung..” sahut Myung Soo.

“Mianhae. Kemarin aku masih harus menyelesaikan syutting ku. Jadi, aku tidak bisa hadir di hari pernikahan kalian.” Kata Donghae. Bukan itu alasan sebenarnya ketidakhadiran Donghae di acara pernikahan Myung Soo dan Ji Yeon. Donghae masih belum menerima kalau wanita yang dia sukai akan menikah dengan pria lain.

“Gwaenchana. Terima kasih atas ucapan selamat darimu, hyung. Ji Yeon masih tidur. Nanti ku sampaikan setelah dia bangun.” Donghae semakin tersenyum pahit. Dadanya begitu sesak. Ia tidak mungkin berusaha untuk mendapatkan Ji Yeon. Ji Yeon sudah menjadi milik Myung Soo sekarang.

“Arraseo. Semoga kalian terus bahagia. Aku tutup teleponnya sekarang, ne? Aku harus segera berangkat ke lokasi syutting. Manager sudah menungguku. Annyeong.”

“Ne. Annyeong..” Klik! Sambungan telepon pun terputus.

‘Ji Yeon milikku. Aku tidak akan membiarkan pria lain merebut Ji Yeon dariku.’ Batin Myung Soo.

Donghae terduduk lemas di dalam mobilnya. Eunhyuk, managernya yang sedang menyetir mobil disampingnya tidak heran melihat Donghae yang seperti itu. Donghae selalu menceritakan apapun pada Eunhyuk termasuk wanita yang diam-diam mencuri hatinya.

Donghae masih memegang ponselnya dan memandang file-file foto Ji Yeon yang sempat ia abadikan. Lalu, dia menghapus semua file foto Ji Yeon di dalam memory ponselnya. Ia hendak menekan nomor 2, panggilan cepat ke nomor ponsel Ji Yeon. Ia mau mendengar suara Ji Yeon. tapi, ia kembali mengurungkan keinginannya itu. Ia tidak ingin kembali kecewa dan menahan sesak di dada karena suara Myung Soo yang menyambut telepon darinya, bukan suara Ji Yeon yang ia harapkan.

“Setiap usahaku untuk mendapatkan hati Ji Yeon selama ini selalu gagal.” Gumamnya.

Flashback on

Di dalam mobil. Donghae ditemani Eunhyuk sedang mengamati para pejalan kaki di sekitar club di lokasi mereka sekarang.

“Mereka sudah tahu wajah Ji Yeon seperti apa?” tanya Eunhyuk pada Donghae. Malam ini Donghae meminta Ji Yeon untuk menemuinya di club, dia merencanakan sesuatu untuk mendapatkan simpati Ji Yeon. Dia tidak peduli kalau Ji Yeon itu terikat dengan Myung Soo. Baginya, selama Myung Soo belum menikahi Ji Yeon, Ji Yeon belum menjadi hak siapapun. Donghae masih berkesempatan untuk mendapatkan Ji Yeon.

“Sudah. Aku sudah memberikan foto Ji Yeon pada mereka. Kita tunggu saja. Sebentar lagi Ji Yeon akan tiba.” jawab Donghae terus memperhatikan posisi orang-orang suruhannya di depan club.

Eunhyuk tertawa. “Donghae, kau sungguh-sunggu menyukai Park Ji Yeon?”

“Kenapa kau tertawa?” tanya Donghae sebal.

Ji Yeon sedang berada di dalam toilet club. Sudah satu jam ia berada di dalam club menunggu Donghae. Tapi, Donghae tidak datang juga. Ia pun menghubungi Myung Soo.

“Oppa… Kau masih dimana? Cepat datang… Aku takut disini sendirian. Donghae-ssi, belum datang juga sampai sekarang. Oppa datanglah.. cepat..” Ji Yeon terus merengek seperti anak kecil lewat teleponnya.

“Sebentar lagi aku sampai. Kau tunggu di depan club.” Sahut Myung Soo.

“Baiklah.”

Klik! Ji Yeon menutup teleponnya.

Ji Yeon pun keluar dari toilet dan keluar dari club. Beruntung tidak ada orang yang berani mengganggunya.

.

“Nah itu dia!!” Donghae tampak melebarkan bola matanya ketika akhirnya mendapati Ji Yeon yang berdiri di depan club. Dia sepertinya mau pulang karena Donghae tidak muncul juga, pikir Donghae. “Itu dia.”

Donghae dan Eunhyuk terus mengamati Ji Yeon dari dalam mobil hingga seorang pria menghampiri Ji Yeon. Pria itu adalah suruhan Donghae.

“Noona, kenapa kau pulang lebih awal? Ini masih jam 9 malam.” Kata pria yang mendekati Ji Yeon.

“Apa maksudmu, hah?” Ji Yeon memberanikan diri untuk membentak pria asing di hadapannya itu.

“Kenapa Noona tidak memesan satu tempat sebelum kau pergi. Noona, kau tahu? Ada seorang pria yang mengiginkanmu.” Kata pria itu sambil menarik tangan Ji Yeon, namun segera ditepis. Tapi, pria itu terus menarik tangan Ji Yeon.

“Pesan apa? Kau ini gila yaa?” bentak Ji Yeon dan menepis tangan pria itu lebih keras.

“Noona.. Bagaimana denganku? Aku juga menyukaimu.” Kata pria itu. Ji Yeon semakin takut dan waspada karena pria itu masih mencoba menarik tangan Ji Yeon. Ji Yeon memohon Myung Soo segera datang dalam hatinya. Ia ketakutan sekarang.

“yak!! Lepaskan tanganku!!” pekik Ji Yeon.

“Ayoo.. Noona ikut denganku..” pria itu terus mencoba menarik Ji Yeon agar mengikutinya. Namun, Ji Yeon terus meronta.

“Yak!! Lepaskan aku!!” bentak Ji Yeon.

“Anniya Noona. Ayo kita bermain dan bersenang-senang.” Kata pria itu yang mulai berusaha menyeret Ji Yeon untuk mengikutinya.

“Aku tidak mau!!” pekik Ji Yeon.

“Kyuhyun!!” hingga seseorang memanggil nama pria yang sedang menyeret Ji Yeon. “Cho Kyuhyun!!”

Pria itu menoleh ke belakang dan dalam kesempatan itu Ji Yeon gunakan untuk menggigit tangan Kyuhyun yang memegang tangannya.

“Aww!!” Kyuhyun mengaduh kesakitan karena tangannya yang digigit Ji Yeon cukup keras. Ji Yeon panik, ia menoleh ke segala arah hingga akhirnya ia menemukan Myung Soo yang sedang menghampirinya dari belakang. “Noona, kau mau kemana?” Kyuhyun berusaha menarik tangan Ji Yeon, namun ditepis dengan kasar. Ji Yeon segera melayangkan tendangannya di tulang Kyuhyun, lalu berlari menghampiri Myung Soo yang juga terlihat cemas.

Ji Yeon menghempaskan tubuhnya ke pelukan Myung Soo. Ia menangis seperti anak kecil di pelukan Myung Soo. Myung Soo mengusap-usap punggung Ji Yeon dengan sayang untuk menenangkan Ji Yeon.

“Oppa, aku takut.” Kata Ji Yeon disela-sela tangisnya.

“Kau tidak apa-apa? Mianhae Oppa sedikit terlambat.” Kata Myung Soo yang merasa bersalah. Kalau Myung Soo datang lebih cepat, Ji Yeon tidak akan diganggu oleh siapapun. Kyuhyun menghampiri Myung Soo dan Ji Yeon, mengacuhkan teman wanita yang memanggil namanya dan sudah berlalu masuk ke dalam club.

“Siapa kau?” tanya Kyuhyun.

Myung Soo melepaskan pelukannya terhadap Ji Yeon.

“Siapa kau? Kau berani mengancam calon isteriku eoh?” Myung Soo meraih kerah Kyuhyun dengan penuh amarah.

“Pada akhirnya memang harus terjadi seperti ini.” Kyuhyun juga meraih kerah Myung Soo dengan tatapan evilnya. “Kau tahu sesuatu sebelum melibatkan dirimu sendiri?” Kyuhyun mencengkeram kerah kemeja Myung Soo.

“Myung Soo Oppa kemarilah. Tidak usah meladeninya.” Teriak Ji Yeon yang masih menangis dengan rasa khawatir menggelayuti perasaannya kini.

Kyuhyun pun tersenyum miring dan melepaskan cengkeramannya pada kerah kemeja Myung Soo, begitu pun dengan Myung Soo. Ia pun berlari meninggalkan Myung Soo dan Ji Yeon masuk ke dalam club. Ia gagal membantu Donghae untuk menjadikannya sesosok pahlawan di mata Park Ji Yeon.

Donghae yang tadinya hendak turun dari mobil untuk menolong Ji Yeon. Ia tersenyum pahit dan menelan rasa kecewa. Myung Soo datang lebih dulu untuk menolong Ji Yeon. Rasa marah timbul dalam hatinya. Ia sudah mempersiapkan ini semua, namun harus gagal karena kedatangan Myung Soo yang tidak pernah disangka olehnya. Rencananya menjadi pahlawan dan mendapatkan simpati dari Ji Yeon gagal sudah. Harapannya pupus.

Flashback of.

Donghae menghela nafas, berharap rasa sukanya pada Ji Yeon akan memudar seiring dengan helaan nafasnya.

***

Seharian ini Myung Soo dan Ji Yeon tampak menghabiskan waktu bersama. Seperti sekarang Myung Soo sedang meraih tangan Ji Yeon seiring dengan musik romantis yang menggema di kamar mereka. Myung Soo mengajari Ji Yeon berdansa, membiarkan Ji Yeon berputar dan tidak dibiarkan terjatuh.

Myung Soo tertawa karena beberapa kali Ji Yeon hampir terjatuh, membuat Ji Yeon cemberut.

“Sekarang injakan masing-masing sebelah kakimu di kakiku. Biar aku yang memegang kendali.” Kata Myung Soo. Ji Yeon pun mengikuti perintah Myung Soo. Ia meletakan masing-masing kakinya di atas kaki Myung Soo dengan sepasang lengan mereka saling melingkar di pinggang masing-masing. Tubuh mereka merapat tanpa jarak. Myung Soo terus menggerakan kakinya ke kanan dan ke kiri mengikuti musik romantis hingga ke duanya sama-sama terbaring di atas tempat tidur saat musik berakhir beralih menjadi sunyi.

Myung Soo menarik tubuh Ji Yeon ke dalam dekapan pelukannya yang erat. Ji Yeon tersenyum dan menyandarkan kepalanya di dada Myung Soo. Mereka tampak bahagia.

Myung Soo bersyukur karena akhirnya dia tahu kalau selama ini Ji Yeon mencintainya. Walaupun entahlah… Ia belum bisa memastikan kalau Ji Yeon sungguh-sungguh mencintainya.

Flashback on

Malam hari. Myung Soo berdiri diam bergeming di bawah guyuran hujan lebat di depan kantornya. Ia melihat Donghae dan Ji Yeon berciuman. Namun, terlihat jelas kalau Ji Yeon menolak ciuman Donghae. Ji Yeon terus meronta meminta dilepaskan. Namun, gagal karena Donghae kembali mendaratkan ciuman sepihaknya terhadap Ji Yeon.

‘PLAK!!’ Ji Yeon menampar pipi Donghae amat keras setelah ia berhasil mendorong tubuh Donghae darinya. Myung Soo masih tak berkutik di posisinya.

Ji Yeon melayangkan telunjuknya tepat mengarah ke wajah Donghae.

“Lee Donghae… Kau tahu? Aku yang keberatan menghabiskan waktuku bersamamu. Mianhae, ku pikir selama ini aku hanya menyukaimu, bukan mencintaimu. Aku mencintai Myung Soo Oppa.” kata Ji Yeon dengan keras hingga Myung Soo masih mendengarnya.

Ji Yeon berbalik, ia terkejut ketika mendapati Myung Soo yang juga sama-sama dalam guyuran hujan lebat. Myung Soo hanya diam dan menonton dengan apa yang dilakukan Donghae pada Ji Yeon. Ji Yeon kecewa dan marah. Ia berlari menghampiri Myung Soo dan menampar pipi Myung Soo lebih keras. Ji Yeon menangis.

“Kenapa diam saja? Oppa!! Kenapa diam saja seperti itu?” bentak Ji Yeon emosi.

Ji Yeon hendak kembali berbalik, namun Myung Soo menarik tangan Ji Yeon dan memeluknya sangat erat. Ji Yeon meronta. Ia sudah kedinginan. Pakaiannya basah kuyup. Ia ingin segera pulang dan menghangatkan tubuhnya. Namun, ia tidak memungkiri kalau pelukan Myung Soo cukup menghangatkan tubuhnya.

Donghae menatap Myung Soo yang memeluk Ji Yeon hanya tersenyum pahit. Ia berbalik, meninggalkan Myung Soo dan Ji Yeon yang tengah berpelukan. Ji Yeon tidak meronta lagi.

Pelukan Myung Soo membuat Ji Yeon merasa semakin lebih baik dan nyaman.

“Oppa… Aku mencintaimu. Hanya Kim Myung Soo yang aku cintai.” ungkap Ji Yeon dalam pelukan Myung Soo.

Myung Soo sedikit merenggangkan pelukannya. Ji Yeon sedikit menjinjitkan jari-jemari kakinya dan mencium Myung Soo dengan agresif. Mereka tidak peduli kalau hujan terus mengguyur tubuh mereka, bukankan semakin memberi kesan romantis? Ji Yeon terus mencium bibir Myung Soo yang kini sudah beralih mencium setiap lekuk leher Myung Soo, naik ke telinga Myung Soo, lalu kembali mencium bibir Myung Soo, membuat Myung Soo dan Ji Yeon semakin bergairah. Myung Soo tidak bisa menahan untuk tidak membalas ciuman Ji Yeon. Mereka terus berciuman meluapkan gairah mereka dan sebagai ungkapan pasangan yang saling mencintai.

Flashback of.

“Oppa.. Kau mencintaiku?” tanya Ji Yeon pada Myung Soo yang sedang mendekapnya. “Setelah pertengkaran kita seusai dari tempat bilyar. Kau memelukku dan menyentuhku. Aku merasa detak jantungku tidak biasa. Sangat berbeda ketika pria lain menyentuhku. Oppa.. saat itu aku sudah menyadari kalau aku memang mencintaimu dan meyakinkan diriku sendiri kalau kau juga merasakan perasaan yang sama denganku. Oppa..”

“Sssttt..” Myung Soo meletakan jari telunjuknya di bibir Ji Yeon. “Berhenti bicara. Selama ini untuk apa aku setia disisimu? Untuk apa aku mempertahankan perjodohan kita? Aku hanya ingin kau menyadari setiap perhatian dan kebaikan yang ku berikan padamu. Itu karena aku mencintaimu. Aku tidak suka saat kau dengan mudahnya merengek untuk mengakhiri perjodohan kita. Itu membuatku sedih. Ayo jalani apapun bersama-sama.” kata Myung Soo menatap Ji Yeon dengan tenang dan lembut.

Ji Yeon tersenyum dan menganggukan kepalanya. Ia bernafas lega. Tidak ada yang perlu dicemaskannya lagi. Ia semakin yakin kalau kebahagiaannya adalah Myung Soo.

The end

Advertisements

44 responses to “I Know, Love! – MyungYeon vers

  1. huft… lega 🙂 akhirnya myungyeon bisa bersatu dg saling tau klo mreka saling mencintai 😀
    sempet kesel jg ma sikap kekanakan jiyi,,, tp myung nya jg yg gx mau/bisa nunjukin klo dia itu cinta ma jiyi..
    suka ma ff nya 🙂

  2. SUKA BANGET!!! Mereka itu lucu yang satu mau diperhatiin, yang satu mau dingertiin tapi mereka tetep kekeh sama pendirian mereka masing-masing ya beginilah hahha
    Aku suka sikap Jiyeon yang kekanakan dan aku juga gemes sama Myung yang gag mau ngomong secara langsung sama Jiyeon kalo dia itu udah cinta sama Jiyeon dari dulu! Gemes banget aku sama Myung! sama Jiyeon juga dink XD
    Akhirnya mereka bisa bersatu dan Jiyeon mengalah lebih dulu pula kkk YEAY HAPPY ENDING!!! (~^.^)~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s