{One} True Love

Joelle Park s t o r y present.

True Love
{adapted from manga ‘Heart Curtain’ by Nakajima Yuka}

cast of true love

.

.

Thanks to Hyunji by http://cafeposterart.wordpress.com for the amazing poster.

.

.

Apa kamu tahu cinta itu apa?

Terkadang aku tidak bisa membedakan antara rasa kagum dan cinta. Semuanya terlihat sama di mataku. Namun bersamamu, aku kini mengerti apa arti dari cinta yang sesungguhnya.

.

.

Intro. Prolog. One
Bertemu senior yang menyebalkan sepertimu. Apa itu pertanda sebuah kesialan?

Langit telah berubah warna menjadi jingga. Dihiasi gumpalan awan yang berkumpul menjadi satu, menghalangi sinar sang mentari yang masih senantiasa berada di tempatnya.  Angin sesekali berembus dengan perlahan menerbangkan dedaun yang gugur dan juga beberapa helai rambut panjang milik seorang gadis di bawah perlindungan sebuah pohon maple. Ia meringkuk dengan kepala tertunduk, Suzy menyembunyikan wajahnya di antara kedua kaki yang tertekuk. Suara daun yang bergesekan dengan tanah menemani kesendiriannya. Untuk yang kesekian kalinya gadis itu kembali menangis dan menyembunyikan diri di balik batang pohon. Bibirnya bergetar; nafasnya bahkan juga ikut tersengal-sengal. Sudah cukup lama Suzy terduduk di sana, sekitar tigapuluh menit yang lalu, namun sepertinya ia masih tidak berniat untuk beranjak dari tempat itu.

Dia mengusap kasar air mata yang mengalir dari pelupuk matanya sembari bergumam lirih. “Aish…Kamu bodoh sekali, Suzy. Untuk apa kamu menangisi lelaki sepertinya. Dia bahkan tidak mencintaimu.” Lalu menarik nafas panjang dan memukul pelan kepalanya.

“KAMU GADIS PALING BODOH, BAE SUZY!” Jeritnya cukup keras. Hingga suara benda –atau mungkin lebih tepatnya sesosok makhluk jatuh mengetarkan gendang telinga Suzy. Membuat gadis itu tersentak kaget dengan iris mata yang menatap ke arah sumber suara.

Aish…..Kamu berisik sekali. Tidak bisakah seseorang meninggalkan aku sendirian di dunia ini!” Seorang lelaki berseragam kini mendudukkan diri sembari mengelus kepalanya yang berbenturan dengan tanah. Wajahnya diterpa sinar senja. Membuatnya terlihat cukup bersinar –mungkin? Tapi, Suzy segera menepis segala kekagumannya tatkala melihat gaya rambut aneh milik sang pemuda. ‘Poni yang disingkirkan dengan jepit berwajah senyum? Seleranya unik sekali’ batin Suzy.

“HEI! Jangan melamun dong.”

“Iya? Ah…Maaf sudah berteriak seperti tadi. Aku pikir tidak ada orang di sini,” Ujar Suzy dengan kaku, cengiran tak berdosa pun ia paparkan guna mendapatkan maaf dari lelaki tersebut.

Cih, tidak perlu memasang senyum bodohmu itu, padahal kausedang menangis, benar, ‘kan?”

“Maaf? Siapa yang menangis?”

Lelaki itu mencibir kesal, lalu mengarahkan telunjuknya kepada Suzy. “Tentu saja kamu, memang siapa lagi.”

Sorry, tapi aku enggak nangis. Jangan sok tahu,” Elak Suzy dengan raut cemberut.

“Tidak perlu berbohong, terlihat jelas di wajahmu loh. Ada beberapa air mata yang mengering di pipi. Kamu habis ditolak seseorang, ya?”

Suzy termangu, lalu menggeleng cepat sembari melambaikan tangannya. “Aku? Aniya! Tentu saja tidak.” Kalimat yang Suzy lontarkan secara tak beraturan membuat lelaki tersebut terkekeh geli.

“Dasar kamu itu-“ Lelaki itu berniat untuk berdiri sambil mengelurkan ejekan ringan untuk Suzy, namun alam tak mengizinkannya. Karena kini, kepalanya terbentur keras dengan batang pohon yang rendah.

Aw…Sakit.”

“Kau baik-baik saja? Apa itu berdarah?” Tanya Suzy khawatir.

“Tidak. Hanya kaget saja. Eh, tunggu sebentar. DI MANA TAS DAN KAMERAKU?!” Lelaki itu berteriak histeris, seakan ada bencana alam dahsyat di sana. Maniknya melihat sekeliling. Suzy pun turut membantu, hingga bola matanya menangkap benda-yang-dicari berada pada dahan besar pohon.

“Lihat ke atas! Kautaruh di sana.” Tutur Suzy dengan tangan yang menunjuk ke benda carian lelaki tersebut. Merasa senang, lelaki itu segera memanjat dan meraih tasnya. Lalu, melompat cepat ke bawah dan tersenyum pada Suzy.

“Terima kasih. Aku harus pergi sekarang, sampai jumpa lagi, Nona Lembek.” Seiring kepergian lelaki itu –yang kini tengah berlari menuju luar sekolah–angin berembus kasar.  Kembali menerbangkan surai kecokelatan milik Suzy. Gadis itu menatap polos pada halaman luas yang kosong di sana. Bahunya terangkat, lalu ia pun mengambil tasnya, namun ia terdiam saat menemukan pernik berwarna kuning tergeletak tepat di samping tas Suzy.

“Ini punya laki-laki tadi, ya? Imut juga,” Gumam Suzy lirih, tangannya ia gunakan untuk memutar jepit tersebut, lalu menggenggamnya erat. “Tapi dia orang aneh. Hah…Aku tidak boleh terlalu memikirkannya,” Lanjut Suzy sembari melangkah pergi; meninggalkan sekolah.

.

.

Suzy termenung di bangkunya. Dengan bertompang dagu, ia memperhatikan penjelasan dari gurunya secara tak fokus. Benaknya masih terawang-awang pertemuannya bersama lelaki-aneh-itu seminggu yang lalu. Ia menghembuskan nafas kasar, bertepatan dengan suara deringan bel tanda istirahat.

Suzy menguap besar, tangannya ia rentangkan tinggi-tinggi. Ia juga mengusap matanya yang berair. Hingga seseorang menginterupsi kegiatannya.

“Suzie, ayo ke kantin. Aku lapar,” Gadis berambut sebahu, dengan wajah dibuat sok-imut merengek kekanakan pada Suzy. Bibirnya dia majukan sembari membuat mata puppy.

“Minah-ya, tak usah sok cute begitu. Aku juga beniat membeli jus alpukat kok.”

“Kupikir kamu lagi bad mood. Habis kamu kelihatan lesu sih, seperti ini,” Ujar Minah sembari menirukan raut wajah murung milik Suzy. Membuat gadis yang-merasa-terejek itu meraup muka temannya dengan gemas.

“Jangan mengikuti ekspresi wajahku, please. Ayo kita segera ke kantin, nanti kalau kelamaan bisa ngantri panjang.”

.

.

Seperti yang gadis itu duga, kantin telah dipenuhi para penghuni sekolah hingga membuat antrian panjang bak kereta api. Minah sedang mencari tempat duduk untuk mereka, sementara Suzy lebih memilih untuk berdiri di antara barisan orang.

Saat mencapai gilirannya, ia pun memesan beberapa makanan untuk dirinya maupun Minah. Setelah bibi kantin mencatat pesanan tersebut, Suzy segera membayar dan meninggalkan antrian; berniat untuk menyusul Minah di meja. Namun ia berhenti bergerak tatkala pandangannya berserobok dengan manik hitam milik Jongin.

Awalnya, Suzy berencana untuk pura-pura tak melihat dan pergi begitu saja, tetapi semua pemikirannya harus ia urung karena lelaki itu terlebih dahulu memanggil namanya, dengan ramah seperti biasa.

“Suzie, apa kabar?”

Annyeong Jongin Oppa. Aku baik-baik saja,” Jawab Suzy mencoba acuh, kendati begitu dadanya berdebar cepat dan terasa hangat. Sudah berapa lama ia tak mendengar suara itu? Suzy amat merindukannya.

“Senang mendengarnya. Akhir-akhir ini kita jarang bermain bersama, ya?”

Suzy hanya menyengir kecil dan kini matanya menemukan sosok gadis berwajah polos dengan gaya rambut kepang dua tengah tersenyum ke arahnya.

“Jadi kamu yang namanya Suzy? Manis sekali. Perkenalkan aku Choi Jinri, teman satu kelas Jongin. Aku sering mendengar cerita tentangmu dari Jongin. Katanya kamu sudah seperti adik baginya.” Gadis bernama Jinri itu berucap panjang lebar, sedangkan Suzy cuma melihat dengan iris mata yang mulai berair. Entah mengapa dia langsung menebak jika gadis tersebut ialah kekasih Jongin dan pada saat yang bersamaan hati Suzy terasa sakit. Dia ingin menangis, tetapi Suzy menahannya. Dia hanya tak ingin terus-terusan merasa sedih.

“Salam kenal juga, Jinri Eonni. Itu, sepertinya aku harus segera pergi. Temanku sudah menunggu lama. Kalau begitu, sampai jumpa lagi.” Suzy membungkuk singkat, lalu segera beranjak dari tempat itu. Meninggalkan Jinri yang tersenyum cerah sembari melambaikan tangan dan Jongin dengan tatapan sendu mengarah pada sosok Suzy.

.

.

Sepuluh menit berikutnya, lonceng tanda pelajaran akan berbunyi. Suzy dan Minah memutuskan untuk pergi dari kantin dan segera kembali ke kelas. Namun, Minah merasa bahwa sahabatnya itu terlihat sedih sejak Suzy menghampirinya di meja. Penasaran, Minah pun menatap wajah Suzy secara intens dan meraup pipi Suzy.

“Ada apa denganmu? Dari tadi cemberut melulu. Bad mood, ya? Kamu bisa curhat sama aku kalau punya masalah.”

“Aku tidak apa-apa kok. Perasaanmu saja, mungkin.”

“Bohong. Kelihatan jelas di mukamu, pabo,” Ujar Minah gemas sembari mencubit pipi Suzy kuat-kuat. Membuat gadis itu mengaduh kesakitan dan menepis kasar tangan Minah.

“Sakit!”

“Kalau emang tidak kena apa-apa. Tersenyum dong!” Minah berkacak pinggang dan memasang tampang kesal. Lalu kembali mengomel, “Aku benci saat kamu terlihat murung seperti tadi. Mirip mayat hidup, tahu enggak.”

“Terserah, aku malas menanggapi cicitanmu,” Ejek Suzy dengan lidah yang terjulur meledek. Membuat Minah semakin sebal, namun tiba-tiba gadis itu menjentikkan jarinya dan tersenyum lebar.

Ah….Laki-laki tadi itu siapa? Tampan sekali.”

“Yang mana sih?”

“Laki-laki yang tadi jalan sama Jinri Eonni itu loh.” Suzy membeku. Minah seakan tengah membuka kembali luka yang dipendamnya sedari tadi. Pertemuannya dengan Jongin dan Jinri sudah cukup menyayat hati. Suzy bahkan rasanya ingin segera menangis dan melampiaskan segala penderitaannya di dalam rangkulan hangat Minah.

Namun, air mata itu gagal jatuh kala iris hitam Suzy menjumpai sosok lelaki tinggi tengah memotret di taman belakang. Suzy kenal betul dengan lelaki tersebut, meski ia belum mengetahui namanya. Suzy terus menilik lelaki itu, mengikuti segala gerak-geriknya yang seperti anak anjing. Dan, Suzy begitu terkejut saat melihat tas milik lelaki itu masih tersampir di bahu. ‘Jadi dari pagi dia membolos?’ Batin Suzy penuh sangsi.

“Hei Bae Suzy! Ayo, bentar lagi masuk.” Suara khas Minah menusuk saraf pendengaran Suzy. Membuat gadis itu tersadar dan mengerjap pelan. Tangannya merogoh salah satu saku kemeja, lalu menggenggam jepit rambut milik lelaki-tanpa-nama itu dengan lugu.

“Kamu duluan saja. Aku ada urusan sebentar. Sampai jumpa di kelas,” Pamit Suzy sebelum sosoknya berlari menjauh dan menghampiri lelaki di seberang sana.

“Jangan lama-lama! Setelah ini pelajarannya Guru Kim loh!” Teriak Minah yang kemudian ikut melangkah pergi; menuju ke kelasnya.

.

.

Uhm…Permisi.” Suzy menyapa terlalu lirih, membuat suaranya tak terdengar oleh lelaki yang kini sedang terduduk pada salah satu dahan pohon besar. Suzy berdeham keras, lalu kembali berujar dan suaranya ia kencangkan hingga sosok itu pun melihat ke bawah dengan memasang ekspresi bingung.

“Ya? Ah! Kau gadis yang kemarin menangis, ‘kan? Ada perlu apa, Nona Lembek?”

Suzy merengut kesal. Sudah banyak umpatan yang akan keluar dari mulutnya, namun Suzy tetap diam dan mengulurkan tangannya. Memperlihatan jepit berwarna kuning yang digenggamnya.

“Itu miliku? Ah, aku pasti menjatuhkannya. Terima kasih, Nona Lembek, tenyata kaubaik juga kekeke.”

Cih, berhenti memanggilku begitu. Dan, apa kausedang membolos? Mungkin menikmati hobi tak ada salahnya, tetapi pendidikan tetap harus dinomor satukan,” Nasihat Suzy dengan nada datar, namun tersirat kepedulian di dalamnya. Lelaki itu tersenyum sekilas dan sekonyong-konyong menarik tubuh Suzy, membawanya ikut terduduk di atas dahan kokoh.

“Bae Suzy. Perkenalkan aku Kim Myungsoo, siswa kelas 2-3, salam kenal ya,” Myungsoo menunjukkan deret giginya lebar-lebar. Sementara Suzy hanya menatapnya penuh kekesalan dan bingung.

“Turunkan aku, pabo! Aku harus ke kelas secepatnya. Dan, dari mana kautahu namaku?”

“Jangan mempermasalahkan hal-hal kecil, Nona Lembek. Lagi pula, tak ada salahnya membolos satu kali, benar, ‘kan? Kauharus tahu kalau di sini pemandangan langitnya indah sekali. Sinar mentari menembus dedaunan rimbun dan menerpa wajahmu, bukankah itu menenangkan?”

Suzy termangu, secara magis kepalanya terdongak dengan sendirinya. Seakan seluruh kerja otot di tubuhnya telah teralihkan pada sosok bernama Myungsoo itu. “Kalau kauitu siswa tingkat dua, berarti kamu kakak kelasku?”

“Begitulah hehehe. Aku terlihat lebih muda dari umur yang sebenarnya, ya?” Myungsoo berkata dengan narsisnya, membuat Suzy merasa geli.

“Tidak. Tapi, tingkahmu mirip bocah sekolah dasar,” Jawab Suzy sarkastik, sedangkan Myungsoo hanya meringis. Dan siang itu, mereka habiskan untuk saling mengenal satu sama lain.

.

.

Suzy melangkah penuh beban sepanjang koridor sekolah. kedua tungkai panjang itu berayun, membawa Suzy ke sebuah ruangan milik seorang guru.

“Kalau lelaki itu tidak mengajakku membolos, tak akan seperti ini jadinya! Ah, aku harus mulai menjaga jarak dari senior menyebalkan itu,” Gumam Suzy tidak jelas, hingga tubuhnya sampai di depan pintu berwarna cokelat tua. Tangan kanan Suzy terkepal, lantas mengetuk pintu, timbulkan bunyi tok tok. Selama beberapa saat, Suzy tak kunjung mendengar suara ‘silakan masuk’ dari dalam sana, hingga akhirnya gadis itu memutuskan untuk masuk begitu saja.

Suzy menggigit bibir bawahnya, takut jika guru yang sering dipanggil dengan nama Lucifer itu akan membentak akibat kelancangannya. Namun, Suzy segera terbenggong tatkala menangkap sosok lelaki tinggi tengah dimarahi habis-habis oleh Guru Kim.

“Astaga! Kenapa harus bertemu dengannya lagi,” Lirih Suzy sembari menggelengkan kepalanya. Dan, Suzy mulai merasa bahwa ia tak pernah bisa untuk menghindar dari lelaki hiperaktif tersebut.

.

.

|| PART ONE – END ||

A/N : Finally, seri pertama selesai juga. Di sini sosok Myungsoo sudah mulai aku keluarkan. Untuk cast Chanyeol dan Krystal memang belum aku tulis /sengaja/ dan Woobin itu adalah Guru Kim. Semoga part ini tidak mengecewakan. So, mind to review? –Joelle Park.

23 responses to “{One} True Love

  1. Pingback: {Three} True Love | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s