Loving You

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Title     : Loving You

Genre  : Romance

Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Suzy, Choi Minho

Length : Ficlet

Rating : T

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

***

aku terus saja menggosok-gosok telapak tanganku. Sial sekali, bisa-bisanya aku lupa membawa sarung tangan hari ini. Padahal, kukira hari ini cuaca tidak akan terlalu dingin. Dan ternyata? Diluar dugaanku, ternyata disini sangat dingin. Dan akus udah tidak punya waktu lagi untuk kembali ke rumah. Aku tidak boleh terlambat. Dia tidak suka kau terlambat, dan aku tidak ingin membuatnya kesal karena keleltanku.

Kuhembuskan napas panjangku melalui mulut, aku mencoba membuang rasa bosanku dengan meniup-niup udara dingin. Kemudian aku tersenyum kecil saat melihat asap putih itu lolos dari mulutku. Kekanakan? Memang, tapi ini jauh lebih baik daripada terus mengomel karena kau akan benar-benar terlambat hari ini.

Saat sedang asyik-asyiknya melamun, tiba-tiba semua orang langsung merapat ke tepi jalan. Ternyata bis-nya sudah datang. Dengan cepat, aku ikut berdiri dan merapat. Aku tidak mau ketinggalan bis, aku sudah sangat terlambat dan bisa di bayangkan, aku akan sangat sangat terlambat jika aku harus menunggu bis berikutnya datang.

Tunggu aku, aku akan kesana sekarang…

***

Dedaunan itu saling berlomba menyambut kedatanganku. Sama seperti biasanya, tahun-tahun yang kulewati di tempat ini. Hanya saja, ada perbedaan. Jika dulua ku akan sangat bahagia, kemudian berubah kesedihan, dan sekarang berubah menjadi senyum tipis yang aku sendiri tidak memiliki deskripsinya.

Aku akan selalu bahagia…itu janjiku. Hanya saja, sejauh ini aku masih belum bisa menepati janjiku itu. Mungkin bukan sekarang, tapi nanti. Entah kapan, tapi aku yakin di waktu mendatang aku pasti akan bahagia seperti tahun-tahun yang telah lama kau tinggalkan.

Disana, di bangku panjang sana aku biasa duduk. Dan kaki kurusku langsung melangkah mendekati bangku yang mulai lusuh warna cat-nya. Warna putih yang dulu selalu bersinar dimataku, sekarang kehilangan sinarnya dan berubah pucat. Sepucat hatiku 2 tahun silam.

Kuhembuskan napas panjangku. Dengan kepala mendongak, kupejamkan mataku dan menikmati angin dingin yang saling berlomba menerjangku tanpa ampun. Aku menikmatinya, sedingin apapun aku akan selalu menikmatinya. Tidak peduli dengan kekuatan fisikku yang tidak begitu bersahabat dengan angin dingin, yang pastia ku selalu menyukainya. Karena tempat ini, salah satu tempat dimana aku dapat menemukan kekuatanku ketika terjatuh. Tempat dimana kau bisa menyeka airmataku. Tempat aku merasa memiliki seseorang yang membelaku disaat dunia ini mulai menyingkirkanku.

Hidup menurutku tidak begitu adil, tapi tempat ini membuka mata hatiku untuk mengerti bahwa hidup adil bukanlah ketika aku mendapatkan semua yanga ku inginkan dan tersenyum selamanya. Tidak. Bukan itu sama sekali. Dan dnegannya, aku bisa mengakui betapa adilnya hidup ini.

“Kau datang lagi?” suara itu menyentuh gendang telingaku dengan lembut. Sangat lembut. Dan dengan mata terpejam, aku tetap mendengarkannya. Meskipun aku tahu, seandainya akumembuka mataku pastia ku sudah menangis.

Suara favoritku…

“Tentu saja, menurutmu aku tidak akan datang?” sahutku masih dengan mata terpejam. Aku tahu dia di sampingku, dengan senyum yang selalu memikat para gadis. Termasuk aku…ah, aku jadi ingat bagaimana protektifnya aku ketika laki-laki ini mengumbar senyumnya dengan mudah. Membuatku ingin menonjok wajahnya dan dengan seegois mungkin memintanya untuk hanya tersenyum padaku. Gila bukan?

“Tidak. Aku tahu kau akan selalu datang. Meskipun kau sudah tidak mengingatku lagi,”

Kali ini aku membukamataku, menoleh ke arahnya yang dengan santai menyandarkan punggungnya dan menatap dedaunan yang sedari tadi menyambutku.

“Kau terlalu percaya diri,” aku menyeringai kecil sebelum aku ikut-ikutan menikmati dedaunan yang menari-nari di udara sebelum jatuh ke atas tanah dengan suka cita.

“Bukankah memang begitu kenyataannya? Seandainya kau tidak datangpun, hatimu selalu berlari untuk engingatku. Aku suka itu.”

Aku mencebik mendengar penuturannya. Lucu sekali, dia seolah mengatakan bahwa aku hanya terkungkung olehnya. Meskipun kenyataannya begitu, tapi aku terlalu gengsi untuk mengakui semua itu. Walaupun dia sudah tahu semuanya.

“Kau tidak bisa aku bantah,” kataku dengan kepala mulai tertunduk. Aku selalu merindukan masa-masa ini, masa-masa yang tidak akan pernah kulalui lagi nanti. Dan mungkin, di tahun berikutnya, dan waktu yang akan datang, aku bisa saja sudah benar-benar melupakannya. Ah, itu rasanya begitu buruk.

“Tapi aku tak bisa memaksamu lagi sekarang.”

Tanganku kini sudah bertautan dengan kuat. Aku benci mengerti arti kalimatnya. Dan kalaupun aku tidak tahu, aku berharap selamanya tidak akan tahu. Mengingat masalalu…ternyata begitu menyakitkan.

“Jadi, bagaimana sekarang? Kau sudah menemukannya?” dia masih mengoceh tanpa menatapku. Dan begitu juga denganku, aku menyahutnya tanpa mau menoleh kearahnya.

“Ada banyak. Tapi semuanya tidak cocok. Kau…aku membutuhkan sosok dirimu dari mereka, tapi tak satupun aku temukan.” Nada lesu itu begitu mengerikan. Begitu menunjukkan betapa aku membutuhkannya. Memuakkan.

“Kenapa harus aku?” tanyanya lagi dengan nada datar.

Aku hanya bisa menghembuskan napas beratku, “Tidak ada yang memahami diriku sepertimu Kim Myungsoo. Kau selalu mengerti meskipun menyebalkan, kau selalu mengganggu tapi kubutuhkan, kau memuakkan tapi menyenangkan, kau berisik tapi membuatku nyaman. Akus uka semua yang ada pada dirimu, tapi…sepertinya aku terlambat untuk menyadarinya.”

“Kau memang selalu terlambat,” kali ini aku sedikit menoleh ke arahnya, dan sekarang aku bisa melihat senyum tipisnya. Membuat rasa sesak itu merambat naik.

“Dalam hal apapun, kau selalu terlambat. Kuharap kau tidak melakukan itu lagi di masa depan. Kau tahu, aku bisa saja selalu memaklumimu. Tapi orang lain?”

“Justru itu…” sambungku mencoba menyangkal, “Kau terlalu tepat untukku. Tapi…dengan tega kau malah meninggalkanku,” aku tersenyum kecut sambil menghapus buliran bening yang siap meleleh dari mataku.

“Itu artinya aku belum tepat, ada oranglain yang jauh lebih tepat untukmu.”

“Menurutmu begitu?”

“Hmmm,” Myungsoo mengangguk, “Dan aku mau tahun depan kau sudah tidak kesini lagi. kalaupun kau kemari, kau harus membawa orang itu.”

Aku terkekeh pelan, “Kau tidak akan merasa kecewa?” gurauku hambar.

“Kenapa harus? Kenyataanyaitu yang aku inginkan. Itu yang selalu aku minta bukan? Tapi kau tidak juga mengabulkannya,” kali ini Myungsoo sudah menegakkan bahunya.

“Ayolah. Aku butuh waktu untuk semua ini…”

“Jika kau berdiam diri saja, meskipun wkatu berjalan hingga 10 tahun mendatang, kau tidak akan berubah Suzy,”

Aku mengangguk mengerti. Sangat terpaksa mau menerima ucapannya, meskipun otakku menolaknya mentah-mentah.

“Jadi, menurutmu sekarang bagaimana?” tanyaku lagi. mencoba meminta pendapatnya.

“Bagaimana dengannya?”

Aku mengerutkan alisku saat kalimat rancu itu meluncur dari mulut Myungsoo. Aku langsung mendongak saat melihat sepasang kaki sudah berada di hadapanku. Dan detik berikutnya, aku tersenyum hambar pada laki-laki yang kukenal setahun terakhir itu.

“Kau datang?” sambutku tak terlalu bersahabat. Aku sedang menikmati waktuku. Dan sekarang, justru laki-laki ini menjadi penggangguku.

“Kau selalu lupa waktu jika sudah berada disini. Kukira, kau akan ke pemakaman, ternyata kau malah berada disini.” Dan Minho pun duduk di sampingku, membuat Myungsoo dan aku memiliki pembatas sekarang.

“Sampai kapan kau akan terus begini, kukira Jong in takkan suka.” Minho berkomentar dengan hati-hati, ia sudah terlalu banyak tahu tentangku. Dan yang menyebalkan, semua orang dnegan sukarela memberitahunya. Membuatku terlihat begitu payah.

Aku tersenyum kecut, “Dia tidak pernah tidak suka dengan yang aku lakukan. Dia tahu aku butuh waktu,” benar, kan? Myungsoo tidak pernah bilang kalau dia tidak suka.

Minho mengangguk kecil, “Jika oranglain yang mendengarnya, mereka pasti akan menyarankanmu untuk pergi ke psikiater.”

Aku mengedikkan bahuku acuh, “Kau juga oranglain, tapi kau tidak pernah melakukannya, kan?”

Minho tertawa kecil, “Ayolah. Kau masih menganggapku oranglain?”

“Kau bukan keluargaku, aku juga tidak pernah berkata aku setuju jadi temanmu, “ aku menoleh ke arahnya, “Jadi kau adalah oranglain bukan?” sambungku lagi.

Minho mengangguks ambil tersenyum kecil, tidak memandnagku.

“Bagaimanapun kau harus tetap melangkah maju. Kau tidak bisa selamanya seperti ini,”

“Kau ingin bilang kau mau menggantikannya?”

Minho mengangkat bahunya dan menoleh ke arahku, “Jika kau mau. Kalau tidak juga tidak apa-apa, aku sudah senang dengan hubungan kita sekarang.”

Kemudian Minhopun berdiri, kemudian ia mengulurkan tangannya, “Ajak aku ke makam Myungsoo, aku ingin berkenalan dengannya dan meminta izin darinya.”

Aku tertawa neremehkan, “Kau jauh lebih berlebihan daripada aku.” Belanya. Kemudian ia menarik tangannya dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya.

“Atau kau ingin kita menghabiskan waktu disini? Aku akan kembali membawa beberapa cemilan, aku lapar.”

“Tidak, kita pergi saja.” Aku menoleh ke arah samping, melihat Myungsoo yang kini masih tersenyum tanpa melihat ke arahku. Aku benci senyumnya.

“Jadi…”

“Kau pergi duluan saja, nanti aku menyusul.”

Minho mengangguk pasrah, ia tahu ia tidak akan menang untuk memaksaku. Aku terlalu keras kepala jika sudah berkaitan dengan Myungsoo. Lalu, iapun melangkahkan kakinya menjauh dari tempat ini. Entah kemana, tapi aku yakin dia akan menungguku dan akan mendatangiku lagi jika dalam 15 menit aku masih disini.

“Berbahagialah…”

Mataku memanas saat Myungsoo mengatakannya, “Aku setuju dengan ucapannya barusan. Dia begitu terlihat keren. Kau suka laki-laki seperti itu, kan?”

“Bagaimana aku bisa melupakanmu? Aku mencintaimu…hanya itu. Dan sekarang, aku hanya bisa mencintaimu seperti ini. Aku salah, maafkan aku. Dulu, aku tidak pernah mencoba untuk lebih menghargai keberadaanmu, aku…”

“Kalau begitu mulailah dengannya. Jangan sampai kau menyesal untuk yang kedua kali jika laki-laki itu mulai menyerah. Mana ada pria yang mau bertahan demi gadis aneh sepertimu,”

“Yak!” aku mendelik sebal ke arahnya yang malah terkekeh mendengar teriakanku.

“Jika kau memang mencintaiku, usahakan kau tidak terlambat lagi.”

Aku  mengangguk mengerti.

“Hey! Kau masih disana!” tegur Minho dari jarak beberapa meter, ia melambai kearahku dengan muka masamnya.

Aku mengangguk dan segera bangun, “Myungsoo-ya,” panggilku tanpa menoleh ke arahnya.

“Hmmm?”

“Aku…tetap mencintaimu.”

Kemudian akupun melangkahkan kakiku pergi dari tempat itu. Tempat bisu yang menyimpan swmua kenanganku. Kenangan yang sama sekali tidak akan pernah menjadi sebuah kenyataan lagi, kenangan yang kurindukan tapi takkan bisa mengobati rinduku. Disana…aku akan selalu mengingat bagaimana aku melewati banyak watu berhargaku…yang selama ini nyaris tak pernah kuhargai.

***

Myungsoo tersenyum tipis memandangi gadisnya yang mulai menjauh pergi, ia tetap duduk di sana sampai ia tak lagi melihat siluet tubuh gadis itu. Ia yakin, mulais aat ini gadis itu tidak akan pernah datang kemari lagi dengan kondisihati yang keruh sperti saat ini.

“Caramu mencintaiku adalah, dengan mencintai pria lain Suzy -ya~”

***

=Fin=

07/02/14

04:13PM

16 responses to “Loving You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s