Confusion [7]

confusion7

Author : Yochi Yang

Title : The Confusion

Main Casts : Main Casts : Myungsoo “INFINITE” and Jiyeon “T-ARA”

Other Casts : Kai “EXO”, Yoseob “BEAST”, Minhyuk ”CNBLUE”, Hoya “INFINITE”, Yesung “SUJU”, Jieun F(x), Eunji “A-PINK”, Krystal “F(x)”, Park ShinHye, Naeun “A-PINK”, Gikwang “BEAST”, etc.

Genre : Family, Romance, Friendship, Little bit comedy, Confusing (?)

Length : Chaptered

Rating : PG-15

Annyeong.. Hahaha ga nyangka bisa post tepat waktu juga. Yah, sebenernya FF ini udah jadi hari Jum’at kemaren sih, tapi author beng-beng yang demen banget sama Akang Yoseob ini sengaja men-schedule FF ini update malam ini karena perjanjiannya emang kaya gitu kan? Mian ya chingudeul, berhubung lepi, atau bahasa kerennya laptop milik si Beng (?) ini belum sembuh juga, jadi si Beng terpaksa belum bisa langsung bales komentar kalian. Ini aja si Beng update-nya juga lewat warnet, kkkk

Dan tau gak, selama si lepi keceh lagi sakit, author beng ngelanjutinnya lewat nulis di kertas loh, muahaha thanks banget dah buat adeknya Kang Maroo yang kece banget ngasih sarannya😆 Itulah kenapa si Beng bisa update tepat waktu😳

Dan ohya si Beng sangat wow sekali loh karena Kang Choco aka Chocobanana ini adalah satu-satunya reader di sini yang bener-bener amat sangat teliti. Gile aja dia bisa langsung ngrungkep (?) beberapa kalimat yang ga sesuai EYD di FF part kemaren secara singkat? Ujubuset dah tuh adeknya Kang Maroo, haha kaget banget pas dia ngritik puanjang lebar di koltar *kolomkomentar* kkk tapi suer deh si Beng seneng banget kalo ada yang perhatian gitu, jadi si Beng bisa instropeksi diri dan ada dorongan buat jadi lebih baik lagi. So, buat readers yang lain jangan sungkan juga ya kalo mau ngasih kritikan. Tenang, author beng-beng ga bakal marah kok. Yah.. Paling banter cuman ngeluarin golok gitu aja. Buat belah kelapa muda maksudnya😆

Wokee segitu aja muqaddimah-nya, sekarang mari kita kemon langsung. Semoga part ini benar-benar panjang sesuai dengan keinginan kalian. Dan juga semoga susunan kalimat di part ini udah ga terlalu melenceng lagi dari EYD🙄

Dan ohya, karena ada reader yang bingung sama bahasa Korea di sini, jadi author sengaja ngasih arti dalam tanda kurung ya, semoga kalian ga bingung -_- Dan jangan lupa kalo baca sambil pegangan tiang listrik, takutnya kalian pingsan karena bingung juga sama alurnya, kekeke😆

Happy reading ^^

NB : Buat MyungYeon shipper yang pengen baca FF MyungYeon lainnya, kalian bisa kunjungi juga wp ini ^^

Previous part : | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 |

Author’s POV

“Siapa dia?” pikir Myungsoo penasaran.

Sejurus kemudian namja itu pun melangkahkan kakinya hendak mendekati Jiyeon yang masih bersama namja yang dilihatnya. Namun tiba-tiba saja seseorang menahan lengannya sehingga membuat namja itu pun mengurungkan niatnya semula dan menoleh.

“Naeun-a?” ucapnya begitu melihat siapa yang baru saja menarik lengannya itu.

Oppa eodiga (mau kemana)?” tanya Naeun dengan nada sedikit dingin dari biasanya.

“Ah, aku—”

“Menghampiri mereka— ah anni, lebih tepatnya Jiyeon, angeurae (bukankah begitu)?”potong Naeun.

Myungsoo menarik napas mendengarnya, “Naeun-a—”

“Dwaesseo (lupakan saja).. Oppa.. Sudah kubilang, aku percaya pada Oppa. Oppa takkan mengkhianatiku, kan?”

Myungsoo tak segera menjawab. Namun sejurus kemudian ia hanya mengangguk kecil.

Naeun tersenyum melihatnya, lalu mengecup sekilas pipi namja itu.

Yaa, Naeun-a—”

“Saranghae, Oppa..” Naeun memotong ucapan Myungsoo, lalu beranjak pergi meninggalkannya.

Jiyeon yang kebetulan melihat kejadian itu hanya bisa mematung di tempatnya. Sakit. Itulah yang dirasakannya saat ini. Naeun berjalan melewatinya dengan tatapan sinis. Yeoja itu mengalihkan pandangannya pada namja yang berada di depan Jiyeon, namun namja itu seperti sengaja tidak membalikkan badannya sama sekali sehingga Naeun tak bisa melihat wajahnya secara langsung. Setelahnya, yeoja itu pun kembali berjalan meninggalkan toilet.

“Gwaenchanha (kau baik-baik saja)?” tanya Kai pula pada Jiyeon yang masih terpaku.

Jiyeon sedikit tersentak, lalu tersenyum— senyuman yang agak dipaksakan. “Ne..” sahutnya singkat.

“Kkaja (ayo).” Ajak Kai pula sambil menyentuh bahu Jiyeon dan mengajaknya berjalan pula meninggalkan toilet.

Kali ini giliran Myungsoo yang mematung di tempat. Ia merasa dalam posisi sulit saat ini. ingin sekali ia menghampiri Jiyeon dan mengambilnya dari tangan namja itu, tapi ia merasa tak berdaya jika mengingat Naeun. Akhirnya namja itu pun hanya bisa mendesah pasrah. Namun tak urung ia tetap penasaran dengan namja yang sedang bersama Jiyeon itu. Entah kenapa ia merasa aneh dengan namja tersebut.

“Apa dia haksaeng baru itu?” gumamnya penasaran.

(Buat yang bertanya-tanya kenapa Myungsoo sepertinya mengenal Kai, silahkan baca lagi ya part 2, biar kalian ga tambah bingung. Wks ketauan kan lu kaga baca part sebelumnya -_-)

“Yaah, sudah lama kita tidak ke pasar. Apa kalian tidak ingin beraksi lagi, eoh?” tanya Hoya sambil menguap lebar karena baru saja bangun dari tidur siangnya di kelas.

“Ah, benar juga. Kita sudah lama tidak merusak di sana. Semalam Jisung mengirim pesan padaku. Dia bilang dia merindukan kita.” Sambung Yoseob pula sambil memakan snack yang baru dibelinya tadi.

“Jinjja? Myungsoo-ya, bagaimana menurutmu?” Minhyuk giliran bersuara.

Myungsoo terlihat diam saja dengan pandangannya yang terarah lurus ke hamparan bukit hijau di depannya.

Ketiga namja sahabatnya itu saling berpandangan, merasa aneh dengan sikap Myungsoo akhir-akhir ini.

Yaa, gwaenchanha?” tegur Minhyuk sekali lagi.

Namun Myungsoo masih saja terdiam melamun seperti semula.

Yoseob pun mencari akal. Kedua matanya menangkap bungkus snack yang masih dipegangnya. Setelah menghabiskan isi snack tersebut, namja imut itu meniup bungkus plastik snack tersebut dan menahan ujungnya agar udaranya tidak keluar, setelah itu ia pun mendekatkan benda tersebut di sebelah telinga kiri Myungsoo, kemudian menepuk bungkus plastik yang menggembung tersebut dengan keras.

DORR!!

Sontak Myungsoo pun melompat terkejut karenanya sehingga mengundang tawa ketiga teman usilnya itu.

Aish! Michyeosseo?” bentak Myungsoo sedikit kesal.

“Hahahia.. Makanya jangan terlalu sering melamun. Nanti kau cepat tua.” Kata Yoseob asal.

Myungsoo tak menyahut melainkan kembali duduk seperti semula.

“Yaa, kau ini sebenarnya kenapa sih? Kenapa sejak tadi melamun terus? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” Minhyuk kembali bertanya.

“Eobseo (Tidak ada)..” sahut Myungsoo singkat, membuat ketiga temannya kembali saling berpandangan.

“Yaa.. Sejak kapan kau mulai merahasiakan masalah pribadimu? Bukankah kita selalu terbuka satu sama lain, eoh?” kata Yoseob sambil mendekat dan kembali membuka snack yang lain, setelah itu menyodorkannya pada Myungsoo bermaksud menawarkannya, namun secepat kilat Minhyuk mengambil alih benda tersebut.

Myungsoo hanya menghela napas, entah karena kecewa dengan aksi perebutan Minhyuk itu, atau karena ia memang sedang memikirkan hal lain.

“Biar kutebak. Apa kau sedang memikirkan Jiyeon?”

“Ehek!”

“Mwo?”

Ucapan Hoya barusan itu serentak mengundang kesedakan (?) pada Minhyuk dan keterkejutan di wajah Yoseob.

Sementara Myungsoo hanya menatap dengan tampang bingung pada Hoya.

Sedangkan yang ditatap malah balik menatap dengan heran pula. “Wae? Apa aku salah bicara?” tanyanya.

Myungsoo masih menatap Hoya sejenak, kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke depan. “Anni.. Kau benar..” sahutnya kemudian.

“MWO?” dan lagi-lagi si duo lebay Yoseob Minhyuk kembali terkejut mendengar ucapan Myungsoo barusan sembari melotot ke arah namja tersebut.

“Apa kubilang.. Prediksiku tak pernah salah. Aku sudah lama menyadari kalau kau menyukai yeoja itu. Kau saja yang tidak pernah terbuka.” Kata Hoya lagi.

“Yaa.. Kau benar-benar menyukai tetanggaku yang cantik unyu tapi lumayan sangar itu?” ulang Yoseob masih ragu.

“Jeongmal? Ohmo.. Andeoji (mustahil)..” sambung Minhyuk pula dengan mulutnya yang penuh makanan.

“Wae? Apa kalian tidak suka? Apa diam-diam kalian juga menyukainya, eoh?” Myungsoo balik bertanya dengan nada sedikit sensi.

Geureom (tentu saja).. Aku benar-benar menyukainya.” Kata Yoseob serius yang seketika membuat Myungsoo menatapnya terkejut.

Mwo?” ucapnya.

Jinjja? Neodo (kau juga)?” sambung Minhyuk turut kaget pula.

“Eoh.. Aku menyukainya bahkan semenjak kami masih kecil. Takkan kubiarkan siapapun menyakitinya, termasuk kau, Myungsoo-ya..”

“Yaa, geuge museun suriya (apa maksudmu), eoh?” tanya Myungsoo tak mengerti. Terus terang ia  cukup terkejut dan tak menyangka kalau Yoseob pun menyukai Jiyeon.

“Myungsoo-ya, kau sudah memiliki Naeun sebagai yeojachingumu. Dan sekarang kau bilang kau menyukai Jiyeon? Apa kau ingin menjadikan Jiyeon sebagai yang kedua? Selingkuhan? Eoh? Maldo andwae (tidak mungkin).. Takkan kubiarkan itu terjadi pada orang yang kusayangi.”

Myungsoo merasa tertohok mendengarnya. “Arra (aku tahu).. Keunde (tapi), aku hanya menganggap Naeun sebagai dongsaengku (adik) saja tidak lebih—”

“Geurideo (meski begitu).. Naeun tetap menganggapmu sebagai namjachingunya. Dia mencintaimu. Kalau dia tahu kau menyukai Jiyeon, bukan tidak mungkin dia akan membenci Jiyeon atau bahkan bisa saja dia akan menyakitinya. Andwae (tak boleh).. Aku tidak mungkin merestuimu menyukai Jiyeon, kecuali kau menemukan jalan keluar yang terbaik. Maldo andwae!”

Selesai berkata seperti itu, Yoseob pun bangkit sambil merebut kembali snack miliknya yang semula dipegang Minhyuk. Setelah itu ia beranjak pergi begitu saja meninggalkan ketiga temannya. Minhyuk yang merasa belum puas dengan acara makannya itu menatap kepergian Yoseob dengan wajah tak rela. Lalu ia pun menatap sedikit canggung pada Myungsoo.

“Ah, geuge— aku akan menenangkannya sebentar, siapa tahu dia butuh masukan dariku. Geureom (kalau begitu), aku pergi dulu, eoh! Sampai bertemu besok.” ucapnya, lalu segera berlari menyusul Yoseob.

Sementara Myungsoo yang masih dengan posisi semula itu termenung. Namja itu masih merasa tertohok dengan ucapan Yoseob barusan. Sejurus kemudian Hoya menepuk bahunya.

“Kau marah padanya?” tanya Hoya pula.

“Geuge— apa kau pikir dia memang menyukai Jiyeon?” Myungsoo malah balik bertanya.

“Apa kau benar-benar menyukai Jiyeon?” dan Hoya justru kembali memberikan pertanyaan padanya.

Myungsoo mendesah sebentar, “Eoh..” sahutnya kemudian.

Hoya tersenyum kecil lalu menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.

“Geogjeongma (jangan khawatir), aku yakin kau akan segera mendapatkan jalan keluarnya.” Katanya santai.

“Lalu bagaimana dengan Yoseob?”

“Kenapa kau mengkhawatirkan namja pesek itu? Apa kau tidak kenal siapa dia? Dia tidak mungkin berkata seperti itu tanpa suatu alasan. Dia benar, kau masih memiliki Naeun sebagai yeojachingumu. Saranku lebih baik jangan berpoligami. Pilih salah satu dari mereka. Eoh?”

“Nado arra (aku juga tahu).. Hanya saja, bagaimana kalau ia benar-benar marah?”

“Maksudmu, Yoseob?”

“Eoh..”

“Aish.. Sudah kubilang dia bukanlah masalah. Yang jadi masalahnya sekarang adalah keputusanmu.”

“Anni.. Geunyang (hanya saja)—sekarang aku sedang tinggal di rumahnya. Bagaimana kalau ia tidak membiarkanku masuk ke rumah?”

“Mwo?” Hoya melongo mendengarnya.

Minhyuk sampai di tempat Yoseob dengan sedikit tersengal. Disejajarkannya kedua langkahnya dengan langkah kaki namja imut itu.

“Y-yaah.. Kenapa kau marah?” tanya Minhyuk pula.

Naega wae (kenapa aku marah)?” Yoseob balik bertanya.

“Keunde, kau seperti marah-marah tadi.”

“Mwoya? Aku belum pernah marah seumur hidupku. Kalaupun aku ingin marah, itu karena kau mencuri makananku.”

Ah.. hohoho geurigeuna (begitu)..” Minhyuk yang semula hendak merebut kembali snack di tangan Yoseob itu pun jadi mengurungkan niatnya.

“Keunde, Yoseob-a.. Apa kau benar-benar menyukai Jiyeon?” tanya namja berkacamata itu kemudian.

“Eoh.. Wae?”

“Aigoo.. Ini akan jadi masalah besar. Dua sahabat menyukai yeoja yang sama. Jangan sampai persahabatan kita rusak hanya karena seorang yeoja.”

“Yaa.. Jiyeon bukan hanya seorang yeoja. Dia itu yeoja yang istimewa bagiku. Geurigo (dan juga), kenapa tiba-tiba kau membahas soal persahabatan kita yang rusak? Apa kau pikir aku dan Myungsoo akan berkelahi memperebutkan Jiyeon?”

“Eum— bukankah di drama-drama seperti itu?”

“Aigoo, Minhyuk-a sejak kapan kau jadi lebih bodoh dariku, eoh? Aku menyukai Jiyeon bukan berarti aku mencintainya. Dia dan keluarganya sudah seperti keluargaku sendiri. tentu saja aku tidak bisa terima kalau keluargaku disakiti orang lain.”

“Ahh, jadi maksudmu kau menyukainya karena dia adalah keluargamu?”

“Bukankah aku sudah pernah mengatakannya ketika di dalam mobil waktu itu? Ohmo, apa jangan-jangan kau habis jatuh dan kepalamu terbentur? Sepertinya lukamu parah sampai-sampai jadi lemot begini.” ucap Yoseob sambil menyentuh dahi Minhyuk.

Minhyuk nyengir kesal mendengar ucapan sahabatnya itu dan menepis tangan Yoseob, “Dwaesseo.. Geunyang— aku menginginkan ini.” ucapnya kemudian disusul dengan tangannya yang merebut paksa bungkus snack dari tangan Yoseob dan serta merta membawanya lari.

Yoseob hanya terbengong-bengong melihat kelakuan namja tersebut. Tapi ia hanya diam di tempat karena sengaja menunggu reaksi Minhyuk selanjutnya. Dan benar saja, namja berkacamata itu tampak berhenti berlari lalu berbalik kembali menghadap Yoseob yang masih berdiri tak jauh darinya.

“YAAA!! SUDAH HABIS??” teriaknya kesal.

“Ah, jadi rumahmu di sini?”

Ne, keunde Kai.. Seharusnya kau tidak perlu mengantarku sampai ke rumah seperti ini. Lagipula bukankah aku sudah bersama Krystal?”

“Gwaenchanha.. Aku juga ingin tahu di mana tempat tinggalmu. Lagipula sepertinya kau memang butuh banyak perhatian saat ini.”

Jiyeon tertawa mendengarnya lalu mengibaskan sebelah tangannya, “Anniya.. Aku sudah mendapatkan banyak sekali perhatian dari keluarga dan sahabat-sahabatku. Keunde gomawo kau sudah memberikan perhatian juga padaku, padahal kau belum lama mengenalku.”

Kai tersenyum, “Geureom, aku pergi saja sekarang. Kulihat sepertinya Krystal sudah bosan menunggu kepergianku.” Katanya sambil melirik Krystal yang memang terlihat kurang begitu senang entah kenapa.

“Ah, geurae (baiklah).. Annyeong, Kai..” ucap Jiyeon sambil melambai pada Kai.

Kai hanya tersenyum dan membalas lambaian tangan Jiyeon sambil beranjak pergi. Jiyeon masih menatap kepergian Kai dengan senyum yang masih terhias di bibirnya.

“Yaa, aku tak suka namja itu.” Kata Krystal tiba-tiba membuat Jiyeon menatapnya heran.

“Wae?” tanyanya.

Geunyang silta (Hanya tidak suka). Dia terlihat mencurigakan.”

“Yaa, geureojima (jangan begitu). Bukankah kau sendiri yang bilang kalau dia itu suka menolong orang lain. Kenapa sekarang kau jadi menyanggah ucapanmu sendiri?”

Anni.. Geunyang— perasaanku tidak enak setiap melihat namja itu. Seperti ada aura kegelapan yang menyelimutinya.”

Jiyeon tertawa mendengarnya, lalu berjalan menuju ke dalam rumahnya, “Kkaja.. Ah, dan juga bersiaplah, kita akan membuat sesuatu. Sepertinya Yesung oppa akan datang hari ini.” katanya kemudian.

“Jinjja? Aaaa johtta, johtta..” sambut Krystal mendadak girang dan segera menyusul Jiyeon masuk ke dalam.

Myungsoo sampai di depan rumah Yoseob dengan perasaan bimbang. Namja itu bermaksud ingin masuk, namun ia masih ragu dan khawatir Yoseob takkan mengijinkannya masuk.

“Eottokhe (bagaimana ini)? kalau dia tak mengijinkanku tinggal di sini lagi, aku bisa kehilangan kesempatanku untuk mendekati Jiyeon.” gumam namja itu galau.

Namun tiba-tiba saja..

Drrt.. Drrt.. Drrt..

Ponsel milik Myungsoo bergetar. Namja itu pun mengambil ponselnya dan sedikit membelalakkan kedua matanya saat membaca isi pesan singkat di sana.

From : Yoseob

“Kau bisa memasak, kan? Tunggulah di rumah, aku akan membeli beberapa bahan makanan dulu.”

Seketika bibir namja tampan itu mengembangkan senyum lega karenanya. Bagus, ini artinya Yoseob masih memperbolehkannya tinggal di rumahnya. Tapi.. Mendadak senyum namja itu surut kembali.

“Bagaimana mungkin aku bisa memasak?” gumamnya kembali galau.

Namun sesaat kemudian ia tetap melangkahkan kakinya memasuki rumah Yoseob dengan tangannya yang sudah mulai aktif googling tentang resep masakan di ponsel miliknya.

“Kimchi, daging, salad, kecap, saos, bawang bombay, cabe merah, tahu, daun bawang—”

“Baby look at me now, now, now, oh.. Baby look at me now, now, now, oh..”

Yoseob mendecak kesal karena acara mendikte (?) bahan makanan yang hendak dibelinya itu mendadak terhenti karena panggilan masuk di ponselnya.

“Myungsoo?” gumamnya sedikit heran saat melihat ID caller di ponselnya.

“Eoh, Myungsoo-ya?” katanya pula.

“Yaa, tak bisakah kita memesan makanan cepat saji saja? Aku tak bisa memasak.” Terdengar suara Myungsoo dari seberang.

“Andwae (tidak boleh), aku sudah terlanjur membeli bahannya. Lagipula makanan cepat saji itu belum tentu terjamin kebersihannya. Lebih baik kita mengolah sendiri saja, walaupun rasanya tak sesuai harapan, paling tidak kita bisa menjamin kebersihannya.”

“Ck.. Kenapa kau memilih yang lebih susah kalau ada yang lebih mudah?”

“Jangan banyak protes, kalau kau tidak mau, lebih baik kau pulang saja ke rumahmu sendiri.”

“Aish! Arrasseo, arrasseo.. Geureom ppalli (kalau begitu cepat) pulanglah, aku tidak enak berada sendirian di rumahmu.”

Yoseob menahan tawa geli mendengar ucapan Myungsoo itu. Ia pun memutuskan panggilan Myungsoo dan kembali mengantongi ponselnya. Namja itu tersenyum, karena ia mulai menyadari sesuatu. Myungsoo terdengar ketakutan saat ia mengancam akan mengusirnya.

“Geurae, aku jadi semakin yakin, namja itu ikut tinggal di rumahku bukan karena ingin menemaniku, tapi karena Jiyeon. Fuuhh.. Paling tidak Jiyeon mendapatkan seorang pelindung satu lagi.” Pikir namja imut itu, kemudian kembali memilih bahan makanan yang hendak dibelinya. Namun tiba-tiba saja ia menabrak sebuah troli (keranjang dorong) milik seseorang yang kebetulan sedang berjalan di belakangnya. Alhasil troli tersebut pun oleng dan membuat sebagian isinya berhamburan keluar.

Ohmo.. Jeoseonghamnida (maaf-formal).. Aku tidak sengaja. Jeongmal jeoseonghamnida..” ucap Yoseob menyesal sambil membungkukkan badannya. Setelah itu ia buru-buru membantu memunguti barang-barang itu dan memasukkannya kembali ke dalam troli.

“Eoh, Y-Yoseob-ssi?”

Yoseob tertegun sejenak mendengar namanya disebut, lalu mendongak. Ia sedikit terkejut sekaligus senang karena ia mengenal yeoja yang baru saja ditabraknya itu.

“Jieun-a? Aigoo.. Kukira tadi bukan kau. Mianhae, aku tidak sengaja tadi.” ucapnya sambil kembali berdiri setelah selesai memasukkan semua barang belanjaan yeoja tersebut.

Jieun, yeoja itu hanya tersenyum dengan canggung. “Gwaenchanha.. Geuge— kau sedang belanja?” tanyanya sedikit gugup.

“Eoh.. Neodo?”

N-ne.. Keunde— untuk apa kau berbelanja? Maksudku, bukankah biasanya kau selalu makan di rumah Jiyeon?”

“Majayo (benar). Geunyang, setelah kupikir-pikir, tidak enak kalau aku terus menerus meminta makanan ke rumah Hyomin Eomma. Jadi kuputuskan akan belajar memasak sendiri saja mulai sekarang. Lagipula sekarang aku tinggal berdua dengan Myungsoo. jadi kami bisa belajar bersama.”

“Mwo? Myungsoo tinggal di rumahmu?”

“Eoh, baru semalam.”

Jieun tak menjawab. Ia mulai menebak-nebak alasan kenapa Myungsoo tinggal di rumah Yoseob. yeoja itu tersenyum geli. “Pasti karena Jiyeon,” pikirnya.

“Ah, matta! Jieun-a, aku tahu kau pandai memasak. Bagaimana kalau kau mengajariku memasak? Kau mau?”

Jieun sedikit tersentak mendengarnya. “Ah, keunde—”

“Jebal.. Aku benar-benar ingin tahu caranya memasak. Eoh?” Yoseob berkata sambil memasang wajah aegyeo-nya. Mau tak mau Jieun jadi tersenyum geli melihatnya.

“Geurae, aku akan mengajarimu, Yoseob-ssi. Tapi bukan sekarang. Hari ini aku harus bekerja di restoran—”

“Jinjja? Ah, gomawo, Jieun-a. Aku tahu kau memang yeoja yang baik. Dan satu hal lagi, jangan panggil aku seresmi itu. Aku ini temanmu, jadi panggil aku seperti biasa saja, eoh?”

Deg! Jantung Jieun mendadak berdegup kencang. Ia menatap tangan Yoseob yang memegangi kedua tangannya karena ekspresi senangnya tadi. Wajahnya mendadak kembali memanas dengan sendirinya.

Ohmo, keunde Jieun-a, wajahmu memerah lagi. Apa kau benar-benar baik-baik saja?” tanya Yoseob kemudian tampak khawatir sembari tangannya yang refleks beralih menyentuh kening Jieun.

Deg! Deg! Dan jantung Jieun berdegup semakin kencang dari sebelumnya. Wajahnya semakin terasa panas. *Gua juga panas woy! :mad:*

“Aneh.. Badanmu justru terasa dingin. Jieun-a apa kau kedinginan, eoh?” Yoseob kembali bertanya tanpa menyadari sama sekali bahwa Jieun seperti itu karena dirinya.

Ah, g-gwaenchanha.. Geuge— ak-aku— pergi dulu. A-annyeong!” kata Jieun pula, lalu tanpa menunggu sahutan dari Yoseob, yeoja itu langsung bergegas mendorong troli-nya dan kabur dari hadapan Yoseob.

Sementara namja yang ditinggalkannya itu hanya menatap kepergian yeoja itu dengan tampang bingung.

“Aneh.. Sikapnya hampir sama dengan waktu di sekolah tadi.” gumamnya lirih.

Beberapa saat kemudian namja imut itu mengangkat bahu lalu kembali fokus pada bahan yang hendak dibelinya. Namun tiba-tiba saja kedua matanya menangkap seseorang yang dikenalnya baru saja keluar dari sebuah restoran yang letaknya berhadapan dengan supermarket yang ditempatinya. Namja itu melihatnya melalui kaca tembus pandang supermarket tersebut.

“Eoh, itu Shinhye Noona?” gumam Yoseob. ia melihat Shinhye baru saja naik ke dalam sebuah mobil bersama seorang namja, namun karena namja tersebut berdiri membelakanginya, Yoseob jadi tak bisa melihatnya dengan jelas.

“Nuguji (siapa dia)? Sepertinya bukan Yesung hyung. Mobilnya berbeda. Ah, sudahlah. Memangnya teman Shinhye noona hanya Yesung hyung? Yaahh.. Sampai mana aku tadi?” lanjut namja itu sembari memeriksa isi troli miliknya.

“Ta-da..” seru Jiyeon sambil menengadahkan kedua tangannya yang terdapat sebuah piring berisi pancake di atasnya.

“Yaah.. Neo jeongmal daebak, Jiyeon-a. Kau benar-benar melakukannya..” kata Krystal sembari mengacungkan dua jempol tangannya kagum melihat hasil karya Jiyeon.

“Kkkk anniya, ini hasil karya kita berdua. Sepertinya aku harus lebih banyak belajar lagi dari Jieun. Aku juga ingin menjadi yeoja yang pandai memasak.” Sahut Jiyeon.

“Nado, aku juga tidak mau diejek terus menerus oleh Shinhye eonnie karena tak bisa memasak.”

“Kkaja, kita bawa ke ruang tengah. Ah, matta, aku akan ke rumah Yoseob sebentar. Dia pasti kagum padaku dengan hasil karyaku ini, kekeke..”

“Yaa, kenapa kau perhatian sekali pada namja itu, eoh?”

“Bukankah sudah kubilang, dia itu sudah kuanggap seperti Oppaku sendiri. kkaja.”

“Shireo (tidak mau).. Aku di sini saja, siapa tahu sebentar lagi Yesung Oppa datang.”

“Ah, arrasseo.. Na ganda (aku pergi).”

Krystal hanya mengangguk dan membiarkan Jiyeon meninggalkannya. Jiyeon berjalan menuju rumah Yoseob yang hanya berjarak sekitar lima meter dari rumahnya itu. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, yeoja itu langsung masuk begitu saja ke dalam. Ia memang sudah terbiasa keluar masuk rumah Yoseob jadi tak ada perasaan canggung sama sekali padanya.

“Yoseob Oppa.. Aku membawakan sesuatu untukmu!” seru Jiyeon. Ia terkikik sendiri saat memanggil namja itu dengan panggilan Oppa.

Namun lama ia tak mendengar sahutan apapun. Akhirnya yeoja itu pun beranjak menaiki tangga rumah Yoseob untuk menuju kamarnya.

“Pasti dia sedang tidur. Aish, dasar pemalas.” gumam Jiyeon sembari kedua kakinya yang terus melangkah hingga sampai di depan kamar Yoseob—yang sebenarnya sudah ditempati Myungsoo— Namun karena yeoja itu tak tahu, ia langsung masuk begitu saja ke dalam kamar tersebut. Jiyeon mendorong pintu kamar yang semula sudah sedikit terbuka itu dan mengembalikannya seperti semula setelah ia masuk. Ia melihat seorang namja yang masih mengenakan seragam sekolah tengah tertidur dengan posisi membelakanginya. Jiyeon menggeleng-gelengkan kepala melihatnya.

“Dasar pemalas.” Gumamnya sekali lagi.

Lalu setelah meletakkan piring berisi pancake buatannya di atas meja belajar Yoseob, yeoja itu berjalan perlahan menghampiri namja yang dikiranya Yoseob itu bermaksud hendak mengagetkannya. Setelah sampai di tepi ranjang, Jiyeon pun menghitung sampai tiga kali.

Hana.. Dul.. Set..

“KEBAKARAN! KEBAKARAN!” teriak Jiyeon tepat di telinga namja tersebut. Sontak namja yang semula asyik tertidur itu seketika terbangun dan melompat dari tempat tidur.

“Mwo? Mworago? Kebakaran? Eodi (di mana)? Eodiya?” ucap namja yang kini sudah berdiri di samping tempat  tidur itu berkali-kali dengan tampang gugup.

Jiyeon mula-mula hanya melongo melihatnya, karena rupanya namja itu sama sekali bukanlah namja pesek nan imut yang dikiranya tadi. Namun sesaat kemudian kesadarannya pun kembali. Apalagi ia baru sadar kalau namja itu ternyata adalah Kim Myungsoo.

“J-Jiyeon-a?” ucap Myungsoo yang saat itu sama-sama terkejutnya ketika melihat Jiyeon.

“KYAAAA!!” teriak Jiyeon pula dengan histeris. Ia benar-benar tidak menyangka kalau namja itu benar-benar Myungsoo.

Myungsoo langsung panik dibuatnya.

“J-Jiyeon-a, tenanglah.. Jangan berteriak..” kata Myungsoo gugup.

“I-ige mwoya (apa-apaan ini)? D-di mana Yoseob?” tanya Jiyeon turut gugup pula.

“Ah geuge— Yoseob sedang—”

“Tunggu dulu! Apa jangan-jangan kau—”

“Y-yaa.. Jangan berpikiran macam-macam terhadapku.” Kata Myungsoo.

Jiyeon tak menyahut melainkan hanya berjalan mundur beberapa langkah.

Kedua mata Myungsoo langsung membelalak ketika melihat Jiyeon hendak mendekati pintu kamarnya.

“Ah, Jiyeon-a berhenti di sana!” seru Myungsoo pula sambil melangkah hendak mendekati Jiyeon.

“Hajima (jangan)!” seru Jiyeon yang berpikiran macam-macam itu dan malah semakin mundur hingga akhirnya tubuhnya pun mendorong pintu kamar.

CKLEKK!!

“ANDWAE (tidak)!!” teriak Myungsoo tiba-tiba.

Jiyeon yang tak mengerti apa-apa itu justru semakin takut. Dengan cepat ia pun berbalik dan langsung membuka pintu kamar. Akan tetapi..

“Mwoya? Kenapa pintunya tak bisa dibuka? Aish..” gumamnya panik.

Myungsoo mendesah melihatnya.

Jiyeon masih berusaha membuka pintu kamar tersebut namun tak membuahkan hasil apa-apa.

“Ige mwoya? Kenapa dengan pintunya?” gumamnya semakin panik.

“Dwaesseo.. Kau takkan bisa membuka pintu itu. Pintunya hanya bisa dibuka dari luar. itu pun juga akan memakan waktu yang lama.” Kata Myungsoo pula.

“Mwo?” seru Jiyeon terkejut. Ia pun menghentikan usahanya membuka pintu dan kembali berbalik menghadap Myungsoo.

“Yaa Kim Myungsoo, apa ini semua rencanamu?” tanya yeoja itu waspada.

“M-mwo?” Myungsoo balik bertanya dengan raut wajah bingung.

“Jangan gunakan wajah itu. Aku tahu ini pasti rencanamu. Keunde jangan pikir karena aku seorang yeoja lantas aku tak bisa berbuat kasar padamu.” Ujar Jiyeon lagi sambil memasang kuda-kudanya.

Myungsoo berusaha menahan tawa geli melihat sikap Jiyeon itu, namun ia hanya diam tak menyahut dan malah melipat kedua tangannya di dada.

“Yaa, apa kau sedang menertawakanku? Kau tak percaya padaku, eoh?” Jiyeon sedikit tersinggung juga karenanya.

“A-anniya.. Geureohke anniya (bukan begitu). Aku percaya. Aku masih belum lupa bagaimana rasanya kena tendanganmu waktu itu.”

Mau tak mau Jiyeon pun nyengir mendengarnya, tapi masih dengan posisi kuda-kudanya.

“Yaa, tak perlu seperti itu. Apa kau benar-benar berpikir kalau aku ini namja pervert, eoh?” kata Myungsoo yang lama-lama merasa tak enak juga melihat posisi Jiyeon saat itu.

Jiyeon berdehem sejenak, lalu kembali berdiri seperti biasa.

“Geurae, aku percaya kau bukan byuntae (mesum) namja. Keunde kenapa kau berada di kamar Yoseob? Di mana dia sekarang?” tanyanya kemudian.

“Aku tinggal di sini sekarang. Dan Yoseob masih belum pulang.”

“M-mworago (apa katamu)?”

“Wae?” Myungsoo malah balik bertanya.

“Y-yaa.. Apa maksudmu tinggal di sini?”

“Kau masih belum mengerti? Aku tinggal di sini, itu berarti makan, tidur, mandi, semua kulakukan di sini.”

“Andwae! Hajima! Kau tidak boleh tinggal di sini!” seru Jiyeon tiba-tiba.

“W-wae?” Myungsoo agak tersentak mendengar seruan Jiyeon tersebut.

“Geunyang— apa kau belum tahu kalau toilet di rumah ini sedang rusak?”

Arra. Geureom wae (lalu kenapa)?”

“Yaa! Bagaimana kau bisa sesantai itu? Kau tidak berpikir di mana kau akan buang air besar saat kau ingin melakukannya?”

“Geuge— Yoseob bilang aku bisa meminjam toilet di rumahmu. Dia bahkan setiap hari meminjamnya. Angeurae (benar, kan)?”

“Yaa! Michyeosseo (kau gila)?”

Sekali lagi Myungsoo sedikit tersentak mendengarnya. “Aish.. Tak bisakah kau bicara pelan saja? tak perlu berteriak begitu. Aku masih belum tuli.”

“Aish.. Andwae.. Maldo andwae..” gumam Jiyeon sambil berjalan mondar mandir di dalam kamar tersebut.

Myungsoo jadi heran melihatnya. “Yaa, museunniriya (Kenapa denganmu)?” tanyanya.

Jiyeon tak menjawab melainkan masih saja mondar-mandir di tempatnya. Myungsoo tak menyadari bahwa yeoja itu tengah sibuk berpikir bagaimana kalau sampai terjadi peperangan antara mereka bertiga —Myungsoo, Yoseob, Shinhye— saat mereka berebut hendak masuk toilet? Pasti akan menjadi sangat kacau. Belum lagi Myungsoo yang kemungkinan besar akan melihat penampilan konyolnya saat ia baru bangun tidur. “Kyaa eottokhe?” pikir Jiyeon bingung.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” lagi-lagi Myungsoo melontarkan pertanyaan pada Jiyeon.

Jiyeon menghentikan langkahnya sejenak dan menatap serius ke arah Myungsoo.

“Wae?” tanya Myungsoo dengan tampang bingungnya.

“Kau— harus segera pergi dari sini.” Sahut Jiyeon dengan nada serius.

“Mwo?”

“Myungsoo-ya, jebal kau harus pergi dari rumah ini. kau tidak boleh tinggal di sini..”

Myungsoo menggaruk belakang kepalanya sejenak, merasa aneh dan bingung dengan ucapan Jiyeon yang menyuruhnya pergi tanpa alasan yang jelas.

“Shireo (tak mau)..” sahut namja itu kemudian.

Namun tiba-tiba saja Jiyeon melangkah mendekat padanya dan menatapnya dengan tatapan serius.

Cegluk! Myungsoo mendadak menelan ludahnya sendiri saat menyadari bahwa kini wajahnya berhadapan cukup dekat, bahkan sangat dekat dengan wajah Jiyeon.

“Y-yaa— m-mwohaneun geoya (apa yang kau lakukan)?” tanyanya dengan gugup.

“Jebal.. Pergi saja dari sini, eoh?” kata Jiyeon dengan nada memohon.

“A-ah.. Keunde—” ucap Myungsoo sambil melangkah mundur karena ia mendadak merasa panas entah kenapa. Namun Jiyeon justru melangkah maju dengan kedua tangannya yang menangkup di depan dadanya.

“Kalau kau tetap di sini, aku benar-benar tidak akan bisa tenang. Jeongmal..” lanjut Jiyeon.

“J-Jiyeon-a—”

“Aku sudah cukup terganggu setiap paginya karena ulah Yoseob dan Eonnie. Aku tidak mau kau menambah kebisingan lagi. Geuraesseo (jadi).. Pergi saja, eoh?”

Dukk! Myungsoo akhirnya terpojok di dinding dan tak bisa bergerak lagi.

“Aku tahu kau namja yang baik, jadi turuti saja kata-kataku, eoh? Pergi saja dari sini..” lagi-lagi Jiyeon berkata dengan nada memohon.

Myungsoo tak menyahut lagi melainkan hanya menatap Jiyeon yang menatapnya dengan puppy eyes miliknya.

“Jeo-jeogi.. Kau— terlalu dekat..” ucap Myungsoo kemudian.

Ehk! Jiyeon tertegun sejenak mendengarnya. Dan setelahnya ia merasa jantungnya mendadak seperti berhenti berdetak. Yeoja itu baru sadar kalau posisinya saat itu benar-benar sangat dekat dengan tubuh Myungsoo. secepat kilat ia pun memundurkan wajahnya dan berbalik, namun dengan sigap Myungsoo malah menarik tangannya dan membuat keduanya saling berhadapan kembali seperti semula.

“Ohmo.. Tamatlah riwayatku sekarang.” desis Jiyeon dalam hati.

Dadanya mendadak bergemuruh saat melihat tatapan mata elang milik Myungsoo yang berada di hadapannya saat itu.

Eottokhe? eottokhe?” Jiyeon semakin cemas ketika wajah Myungsoo mulai bergerak mendekatinya. “Andwae.. Hajima.. Jangan lakukan itu, andwae!” ia terus memekik dalam hati, namun Myungsoo semakin mendekatkan wajahnya. Maka secara spontan yeoja itu pun refleks memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Myungsoo yang semula memang berniat hendak mencium yeoja itu jadi tersenyum geli melihat ekspresi Jiyeon. Ia mengurungkan niatnya dan malah meneliti setiap detail wajah cantik yeoja di hadapannya itu.

“Kotoran..” gumamnya lirih, membuat Jiyeon mau tak mau membuka kedua matanya kembali.

Mmworago?” tanyanya.

“Ada kotoran di sudut matamu.”

“MWO??” Jiyeon seketika terkejut dan langsung menjauh dari Myungsoo sembari membersihkan kedua sudut matanya.

“Aish!! memalukan!” desis Jiyeon malu bukan main. Ia memalingkan wajahnya dari Myungsoo.

Mau tak mau Myungsoo tertawa geli melihatnya, “Dwaesseo.. Kau tetap terlihat cantik.”

Ehk! Jiyeon mendadak tersedak mendengarnya. Apa Myungsoo baru saja memujinya?

“Keunde— kenapa tadi kau memejamkan kedua matamu?”

“Uhuk.. Uhuk!” kali ini Jiyeon benar-benar terbatuk saat mendengar pertanyaan Myungsoo itu. Sementara Myungsoo berusaha keras menahan tawanya melihat kegugupan Jiyeon.  sebenarnya namja itu sudah tahu alasan kenapa Jiyeon memejamkan matanya, namun ia sengaja ingin menggoda yeoja itu karena ia suka sekali melihat wajah Jiyeon yang merah merona menahan malu.

Ah, geuge— tadi aku—”

“Kau berpikir aku akan menciummu— lagi?” Myungsoo kembali bertanya dengan sengaja menekankan kata terakhirnya seolah mencoba mengingatkan Jiyeon pada insiden beberapa waktu yang lalu.

“Ah— haha.. Michyeosseo? Tentu saja tidak.. Paboya..” sahut Jiyeon dengan nada gugup bukan main. “Aish! Park Jiyeon kau bodoh! Anni, Kim Myungsoo kau yang bodoh!” lanjutnya dalam hati.

Myungsoo masih mencoba menyembunyikan kegeliannya dengan tetap memasang wajah dinginnya. Setelah itu ia pun bergerak mendekati Jiyeon kembali. Dan kali ini giliran Jiyeon yang melangkah mundur.

“Y-yaa.. M-mwohaneun geoya?” tanyanya gugup. Ia mulai was-was karena kali ini ia melihat sesuatu yang lain dari tatapan mata Myungsoo. Namja itu bergerak semakin mendekatinya.

“Y-yaa.. Kim Myungsoo.. Jangan coba-cob—”

Jiyeon tak dapat melanjutkan ucapannya karena mendadak bibir Myungsoo telah terlebih dahulu mengunci bibirnya. Tubuh Jiyeon seketika menegang. Jantungnya berpacu semakin cepat dan tak beraturan.

“Bodoh! Park Jiyeon bodoh! Cepat lawan dia! Injak kakinya! Dorong dia! Tendang dia, bodoh!” jerit Jiyeon dalam hati berusaha menyadarkan diri, namun rupanya ciuman Myungsoo betul-betul membuatnya terdiam tak berkutik. Namja itu terus mengecup dan melumat bibirnya dengan lembut, hingga tanpa bisa dihindari lagi, Jiyeon justru membalas ciuman namja itu.

“Mwoya? Jiyeon membalas ciumanku? Apa ini berarti—” batin Myungsoo sedikit terkejut, dan itu membuatnya semakin memperdalam ciumannya pada Jiyeon.

BRAKK!! Namun tiba-tiba saja pintu terbuka.

“YAA!! APA YANG KALIAN BERDUA LAKUKAN??”

Kedua manusia yang semula berciuman dengan mesra itu serempak melepaskan diri masing-masing dan menoleh. Keduanya membelalak lebar saat melihat Yoseob sudah berdiri di ambang pintu.

“Eoh! Terbuka..” ucap Jiyeon tanpa sadar, membuat Myungsoo seketika menatapnya heran.

“Yaa!! Apakah kata itu yang seharusnya kau ucapkan saat ini?” kata Yoseob lagi sama herannya dengan Myungsoo.

Jiyeon langsung tersadar. Wajahnya seketika memerah.

“KYAAA.. EOMMAAAA!!!” teriaknya kemudian  disusul dengan aksinya yang langsung berlari keluar dari kamar Yoseob.

Myungsoo mau tak mau jadi tersenyum geli melihat tingkahnya itu, namun senyumnya mendadak kandas begitu melihat tatapan tajam dari Yoseob.

“Ehem.. Wasseo (kau sudah datang)?” ucapnya basa-basi.

“Aku butuh penjelasan.” sahut Yoseob tegas.

Myungsoo hanya mendesah pelan, lalu mengangguk, “Arrasseo..” katanya.

Jiyeon’s POV

BODOH!! BODOH!! BODOH!! Hanya kata itu yang benar-benar tepat untuk menjabarkan diriku saat ini. Astaga bagaimana bisa aku mengalami hal sama untuk yang kedua kalinya dengan namja itu? Aku— aku bahkan membalasnya. Aish! Michyeosseo! Michyeosseo! Eottokhe? Kenapa aku bisa sebodoh itu? Huaaaa.. Eomma eottokhe? Nan eottokhe? Jeongmal eottokhe?? Aarrghh.. Sial. Sial. Sial!

“Yaa, Jiyeon-a. Kenapa kau menjambak rambutmu sendiri, eoh? Michyeosseo?” tegur Krystal padaku.

“Huaaaa Krystal-a.. Eottokhe? Nan eottokhe jigeum (Apa yang harus kulakukan sekarang)?” kataku sambil memeluk Krystal.

“Yaa.. Neo wae geurae (ada apa denganmu)? Kenapa tiba-tiba sikapmu seperti ini? apa yang sudah dilakukan Yoseob padamu, eoh?”

“Anni.. Bukan Yoseob, tapi— tapi Myungsoo.. Huaaa..”

“M-mwo? Myungsoo? Yaa.. Museun suriya? Aku tidak mengerti..”

“Jiyeon-a, museun niriseo (ada masalah apa)? Kenapa kau menangis?”

Aku sedikit terkejut mendengar suara itu dan melepaskan pelukanku pada Krystal. Kulihat Yesung Oppa yang bahkan tak kusadari sejak kapan kedatangannya itu menghampiriku.

“Oppa.. Wasseo?” kataku mencoba menetralkan suara dan wajahku. Walau bagaimanapun juga aku tak ingin terlihat cengeng di depan Yesung Oppa.

“Tadi kau menyebut nama Myungsoo. Apa dia melakukan sesuatu padamu?” ulang Yesung Oppa lagi.

“A-anni.. Amugeotdo anniya.. (tidak ada apa-apa)” ucapku berbohong. Ya, mustahil aku menceritakan kejadian bodoh dan memalukan itu pada Yesung Oppa.

“Ah, geurigeuna.. Sepertinya kau belum siap menceritakannya. Gwaenchanha..” kata Yesung Oppa lagi sambil mengelus rambutku.

Aku hanya tersenyum sedikit. Dari ekor mataku aku bisa melihat Krystal yang mendengus kesal.

“Dwaesseo.. Kkaja kita makan sekarang. Aku sudah lapar.” ujar Krystal kemudian sambil menarik tanganku dan mengajakku pergi ke ruang makan.

Aku mendesah dan mengikuti langkah Krystal dengan malas. Kurasa aku sudah kehilangan selera makanku hari ini.

Author’s POV

Keesokan harinya..

Jiyeon tampak berjalan dengan langkah gontai keluar dari rumahnya. Yeoja itu masih memikirkan kejadian kemarin. Bahkan sampai saat ini pun ia masih merasakan wajahnya memanas. Krystal yang sejak kemarin penasaran itu hanya menatapnya heran.

“Yaa, Jiyeon-a. Sebenarnya apa yang terjadi padamu kemarin? Kau bilang Myungsoo melakukan sesuatu padamu. Memangnya di mana kalian bertemu, eoh?” tanyanya kemudian.

Ah, geuge— dia tinggal di rumah Yoseob sekarang.” Sahut Jiyeon sedikit canggung.

“Mwo? Jeongmal? Keunde wae?”

“N-nado molla (aku juga tidak tahu)..”

Krystal mengernyitkan dahinya sejenak. Ia kembali teringat dengan ucapan Eunji kemarin yang mengatakan bahwa Myungsoo menyukai Jiyeon. yeoja itu pun mengangguk-angguk mengerti.

“Ah, arrasseo.. Sepertinya dia melakukannya karena kau.” Ujarnya kemudian.

“M-museun suriya? M-maldo andwae..” sahut Jiyeon dengan wajahnya yang merona.

Krystal tak segera menjawab, namun sejurus kemudian ia pun merangkul bahu Jiyeon. “Yaa.. gwaenchanha.. Menurutku Myungsoo namja yang cukup baik. Dia juga tampan. Tidak ada salahnya kalau kau berkencan dengannya.” Katanya pula sambil tersenyum penuh arti. “Dan biarkan Yesung Oppa bersamaku.” lanjutnya dalam hati.

“Michyeosseo? Yaa.. Apa kau lupa? Dia sudah punya yeojachingu..”

Senyum Krystal seketika hilang mendengarnya, “Benar juga. Yeoja itu..” gumamnya mendadak malas.

“Jiyeon-a! Krystal-a!

Kedua yeoja yang semula berjalan beriringan itu serempak berhenti dan menoleh. Tampak oleh mereka dua orang namja yang tak lain adalah Myungsoo dan Yoseob sedang berjalan menuju ke arah mereka.

BLUSSH!!

Wajah Jiyeon yang semula sudah panas itu menjadi semakin memanas saat melihat Myungsoo.

“Annyeong!” sapa Yoseob sambil tersenyum dan melambai pada Jiyeon dan Krystal.

Bukannya menjawab, Jiyeon justru melangkah mundur, dan tanpa disangka-sangka, yeoja itu pun langsung berbalik dan mengambil langkah seribu.

“Eoh! Jiyeon-a! Eodiga? Yaa!! Jamkkanman (tunggu)!” teriak Krystal sambil turut berlari mengejar Jiyeon.

Sementara kedua namja yang ditinggalkan itu hanya terbengong-bengong melihatnya, setelah itu saling berpandangan.

“Kau harus bertanggung jawab.” ucap Yoseob pada Myungsoo dengan gemas.

“M-mwo?”

“Aish.. Kemana yeoja itu? Kenapa cepat sekali larinya? Sebenarnya ada apa dengannya?” gerutu Krystal terengah-engah.

Ya, yeoja itu terus mengejar Jiyeon hingga sampai di sekolah. Ia benar-benar tidak habis pikir kenapa Jiyeon tiba-tiba berlari secepat itu bahkan tanpa berhenti sekalipun hingga sampai di sekolah.

“Aish.. Tak kusangka aku akan melakukan lari pagi seperti ini. Aku jadi dehidrasi sekarang.” gumam Krystal lagi. Beberapa butir keringat mengalir turun dari pelipisnya.

“Eoh, Krystal-a! Wasseo?”

Krystal menoleh mendengar teguran itu dan mendapati seorang namja berkacamata berdiri di belakangnya. Krystal tak segera menjawab, bukan karena ia sengaja tak mau menjawab, melainkan kedua matanya menangkap sebuah kaleng berisi minuman soda yang berada di tangan Minhyuk, namja tersebut.

“Krystal-a, neon gwaenchanha? Kau seperti habis berlari, geutji?” tanya Minhyuk lagi.

Krystal masih belum menjawab. Kedua matanya masih terpaku pada minuman kaleng di tangan Minhyuk. Tanpa sadar ia meneguk ludahnya sendiri.

Minhyuk yang mulai menyadari arah pandangan Krystal itu jadi tersenyum geli, setelah itu namja itu pun menyodorkan minumannya pada Krystal.

“Yeogi.. Untukmu.” Katanya pula.

Krystal tertegun mendengarnya, tak menyangka akan mendapatkan tawaran sebagus itu.

“J-jinjja?” tanyanya sedikit ragu.

“Geureom.. Minumlah. Sepertinya kau butuh.”

“Ah, d-dwaesseo.. Gwaenchanha.” Kata Krystal berlagak menolak padahal sebenarnya ingin sekali ia menyambar minuman tersebut dan langsung meneguknya.

Untunglah Minhyuk bisa membaca keinginan Krystal itu. Namja itu pun segera mengambil tangan kanan Krystal lalu meletakkan minuman kalengnya di tangan yeoja tersebut.

“Ambil saja. Aku bisa beli lagi.” katanya pula.

Krystal tertegun sejenak. Entah kenapa hatinya mendadak berdesir saat tangan Minhyuk menyentuh tangannya. Ditatapnya namja berkacamata tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk.

“Go-gomawo..” ucapnya sedikit gugup.

Minhyuk hanya tersenyum dan mengangguk.

Cegluk! Krystal mendadak menelan ludahnya sendiri, “Michyeosseo.. Ige mwoya?” batinnya heran. Namun sejurus kemudian ia pun mulai meneguk minuman pemberian Minhyuk tersebut dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya.

Eunji baru saja tiba di kelasnya. Yeoja itu tersenyum riang seperti biasa saat melihat ketiga sahabatnya sudah duduk di kursi masing-masing.

“Annyeong, nae chingudeul!” sapanya riang. Namun sesaat kemudian wajahnya berubah menjadi keheranan karena melihat seperti ada keganjilan di wajah ketiga temannya itu. Ya, Jiyeon, Krystal, dan Jieun. Ketiganya sama-sama duduk melamun sambil bertopang dagu.

“Mwoya? Kenapa dengan mereka? Kenapa tatapan mereka sama-sama kosong begitu?” gumam Eunji penasaran.

Didekatinya ketiga yeoja tersebut lalu melambai-lambaikan tangannya di depan wajah ketiganya secara bergantian. Tak ada reaksi apapun. Eunji mengerutkan keningnya semakin heran.

“Apa mereka sedang dirasuki makhluk halus?” gumamnya lagi.

Lalu tanpa menunggu lebih lama lagi yeoja itu pun mengambil napas panjang, kemudian..

YAA!! KALIAN BERTIGA!!” teriaknya sekeras mungkin.

Sontak ketiga yeoja yang semula asyik melamun itu tersadar dibuatnya. Mereka sedikit terkejut saat melihat Eunji yang sudah berdiri dengan wajah tak seperti biasanya.

“Eoh, Eunji-a? Mwohaeyo?” tanya Jiyeon heran.

“Kenapa kau berteriak begitu? Apa ada sesuatu, eoh?” sambung Krystal.

“Apa Hoya membuat masalah denganmu lagi?” Jieun turut menyahut.

“Anni.. Kalian-lah yang bermasalah. Kenapa kalian bertiga berekspresi seperti itu? Apa yang sedang terjadi pada kalian, eoh?” Eunji balik bertanya .

Ah, museun suriya? Tak ada masalah apapun. Nan gwaenchanha.” kata Krystal berusaha menyanggah ucapan Eunji.

“G-geurae.. N-nado gwaenchanha..” sambung Jieun sedikit canggung.

Eunji menatap Jiyeon yang masih diam.

“W-wae? N-nado.. Nado.. Jeongmal gwaenchanha.” Sahut Jiyeon pula dengan gugup.

Eunji kembali mengerutkan keningnya melihat sikap aneh ketiga sahabatnya itu. “Mencurigakan..” gumamnya pelan.

“Ah, ak-aku— akan keluar sebentar.” Kata Jiyeon tiba-tiba, lalu tanpa menunggu sahutan dari siapapun ia langsung melesat pergi dari hadapan ketiga kawannya itu.

Jiyeon’s POV

Fiuhhh.. Akhirnya aku berhasil keluar. Kalau tidak, Eunji pasti akan menanyaiku macam-macam. Aku tahu persis bagaimana sifatnya yang selalu ingin tahu urusan orang lain itu.

Aku berjalan melewati koridor dengan gundah. Sesekali aku menyentuh bibirku sendiri. Astaga, ige mwoya? Kenapa aku masih bisa merasakannya? Aish! Paboya.. Kim Myungsoo, kenapa aku jadi terus memikirkan namja itu? Pabo! Pabo! Aku mengetuk-ngetuk kepalaku sendiri dengan kesal.

“Jiyeon-a, gwaenchanha?”

Aku tersentak mendengar teguran itu. Namun aku sedikit lega karena yang menegurku bukanlah Myungsoo seperti yang kutakutkan, melainkan Kai.

“Eoh, Kai.. Annyeong..” kataku berbasa-basi.

“Eodiga?” tanya Kai kemudian.

Ah, geunyang— ingin berjalan-jalan saja ke taman. Lagipula jam masuk masih cukup lama.”

“Eum.. Mau kutemani?”

Aku tertegun sejenak. Kai, ingin menemaniku? Terus terang aku merasa sedikit tak enak hati, apalagi melihat tatapan membunuh dari para yeoja yang saat itu melihatku bersama Kai.

“Ke-keunde—”

“Gwaenchanha.. Aku membawa banyak coklat hari ini.” potong Kai.

“M-mwo?”

Kai hanya tersenyum, lalu tiba-tiba saja ia menggandeng tanganku. “Kkaja.” Ajaknya pula.

Aku kembali tertegun. Mwoya? Ini tidak benar. Aku bisa dibunuh oleh seluruh yeoja penghuni sekolah ini. Aku berusaha melepas tangan Kai namun namja itu tak peduli dan tetap menarikku pergi. Mati kau, Park Jiyeon. Aku pun hanya mampu berjalan mengikutinya sambil menunduk tak berani menatap para yeoja yang kebetulan berpapasan dengan kami.

Author’s POV

“Jinjja? Kau melihatnya sendiri?”

“Geureom.. Mereka bahkan bergandengan tangan.”

“Mwo? Namja setampan itu menggandeng tangan Jiyeon? Maldo andwae..”

Deg! Myungsoo mendadak menghentikan langkahnya begitu telinganya menangkap obrolan beberapa yeoja barusan. “Jiyeon?” gumamnya lirih.

“Aku juga tak percaya. Tidak kusangka Jiyeon bisa sedekat itu dengan Kai.”

Deg! Myungsoo semakin tertegun saat mendengar nama itu disebut. Seketika namja itu pun berbalik dan menghadap dua orang yeoja yang mengobrol tadi.

“Jeogiyo, apa kau melihat kemana mereka pergi?” tanyanya kemudian.

“Eoh, m-museun suriya?” tanya yeoja tersebut tak mengerti.

“Park Jiyeon dan namja itu. Di mana mereka sekarang?”

“Ah, sepertinya mereka sedang menuju taman.”

Myungsoo tak menyahut lagi. Tanpa menunggu apapun namja itu pun berbalik dan langsung beranjak pergi. Yoseob yang sejak tadi bersamanya itu jadi keheranan dibuatnya.

“Yaa! Eodiga?” serunya, namun Myungsoo tak peduli dan terus saja melangkah meninggalkannya.

Yoseob hanya mengangkat bahu, kemudian kembali melanjutkan perjalanannya menuju kelas.

“Maldo andwae.. Apa maksud mereka? Kai..” ulang Myungsoo berkali-kali dalam hati.

Di taman..

Jiyeon’s POV

“Yeogi..” ucap Kai sambil menyodorkan sebatang cokelat padaku.

Aku menerimanya dengan ragu, tak menyangka kalau ia benar-benar membawa cokelat.

“G-gomawo..” ucapku.

Kai hanya tersenyum, lalu turut membuka cokelat untuk dirinya sendiri.

“Kau suka coklat?” tanyaku ingin tahu.

“Geureom.. Dulu saat aku masih kecil Ibuku sering membelikan coklat untukku.” Sahut Kai, lalu menggigit coklat miliknya.

Ah, nado.. Keunde, Eomma tak pernah mengijinkanku makan coklat sewaktu aku masih kecil. Dia bilang itu akan merusak gigiku.” Ucapku pula.

Eomma-mu melakukannya juga untukmu. Tak mungkin ada orangtua yang menginginkan anaknya tumbuh tanpa gigi.”

Aku tertawa mendengar gurauan Kai itu, lalu mulai memberikan gigitan pertama pada coklat di tanganku. “Keunde— biarpun Eomma selalu melarangku, Appa sering membelikanku coklat secara diam-diam tanpa sepengetahuan Eomma. Karena Appa tahu aku sangat menyukai coklat.” Kataku kemudian.

“Ah.. Appa-mu pasti sangat menyayangimu.” Sahut Kai.

Aku tersenyum mendengarnya, “Geureom.. Bagiku, Appa adalah orang yang paling baik di dunia.” Kataku.

Kai tak segera menyahut, ia masih asyik mennggigiti coklat batang miliknya.

“Keunde— Appa sudah pergi jauh dari dunia ini..” lanjutku kemudian.

Kai menghentikan kegiatan menggigitnya sejenak, lalu menoleh padaku. “Mianhae, aku tak bermaksud membuatmu bersedih.” katanya pula.

Aku tertawa kecil mendengarnya, “Anni.. Aku tidak bersedih. Kesedihanku sudah lama menghilang. Aku justru bahagia, karena sudah memiliki Appa sepertinya.”

Kai tersenyum, “Jiyeon-a apa kau ingin mendengarkan sebuah cerita lama?” tanyanya kemudian.

“Eoh? Cerita lama? Maksudmu— dongeng?” aku balik bertanya.

“Eum.. Bisa dibilang begitu.”

“Ah, geurae.. Ceritakanlah aku akan mendengarkannya.”

Kai kembali memandang ke depan, bernapas sejenak, baru kemudian berkata, “Dahulu kala ada seorang anak lelaki bernama John. John memiliki saudara yang setahun lebih tua darinya, bernama Mike. Namun semenjak kecil, mereka berdua dipisahkan. John tinggal bersama orangtua kandungnya, sementara Mike tinggal bersama orang lain yang lebih kaya. Mike terpaksa diserahkan pada orang tersebut karena orangtua Mike dan John sangatlah miskin dan tak sanggup menghidupi mereka berdua. Itulah kenapa ia menyerahkan Mike kepada orang yang lebih kaya darinya. Orang kaya tersebut sangat baik, bahkan ia meminta orangtua Mike dan John untuk bekerja di tempatnya. Kehidupan keluarga John menjadi lebih baik sejak saat itu. Beberapa tahun kemudian John mendengar kabar bahwa Mike disekolahkan di luar negeri. Karena John sangat merindukan hyungnya, ia pun meminta pada orangtuanya agar diijinkan sekolah ke luar negeri juga. Dan sejak saat itulah John dan Mike kembali bersama, walaupun Mike sama sekali tak menyadari bahwa John sebenarnya adalah dongsaeng kandungnya. Di sana mereka bertemu dengan seorang yeoja yang cantik bernama Nancy. John dan Nancy saling jatuh cinta dan akhirnya mereka bertiga selalu bersama-sama kemanapun mereka pergi. Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat, sampai pada suatu hari John mendapatkan kabar bahwa keluarganya sedang ditimpa musibah.  Mereka mengatakan bahwa Ibu John meninggal karena sakit parah. John sangat terpukul mendengarnya. Setelah mencari tahu lebih lanjut lagi, rupanya keluarga John kembali jatuh miskin karena tempat Ayahnya bekerja sudah ditutup. Menurut keterangan orang yang dipercayainya, pabrik tempat Ayahnya tersebut tutup karena kalah bersaing dari pabrik lain. John merasa marah saat mengetahui Ibunya meninggal karena tak ada biaya untuk pengobatan di rumah sakit. Untuk itulah ia terpaksa kembali ke tempat asalnya dan meninggalkan hyung serta yeojachingu yang dicintainya. Ia bahkan memalsukan kematiannya sendiri agar mereka berdua tak curiga dan tidak memaksa untuk ikut dengannya..” Kai mengakhiri ceritanya dengan helaan napas yang panjang.

Aku tertegun mendengar cerita panjangnya itu. Entah kenapa aku seperti merasa aneh setelah mendengar cerita Kai barusan.

“Geuraesseo, apa yang terjadi dengan John setelahnya? Bagaimana hidupnya sekarang?” tanyaku ingin tahu.

Kai tersenyum sejenak sebelum kemudian menjawab pertanyaanku, “John akhirnya datang kembali— untuk membalas dendam.”

“M-mwo? Membalas dendam? Pada siapa?”

“Tentu saja pada orang yang sudah membuat keluarganya menderita.”

“Ah, geuge— sepertinya itu terlalu berlebihan. M-maksudku— kenapa John harus membalas dendam?”

Kai tak segera menjawab, ia malah menyodorkan sebatang coklat lagi padaku. “Coklatmu sudah habis. Yeogi, ambillah.” Katanya.

Aku hanya menatapnya ragu, lalu menerimanya.

“Jiyeon-a..” kata Kai kemudian.

Aku pun menatapnya kembali. “W-wae?”

“Kau tahu? Sebenarnya— selain John dan Mike, ada satu cerita lagi yang hampir mirip dengan kisah mereka. Hanya saja— mereka bukanlah namja, melainkan yeoja.”

“Eoh? M-museun suriya?”

Kai kembali tersenyum, lalu berdiri dari tempat duduknya. “Kkaja. Sebentar lagi bel tanda masuk berbunyi.”

Aku tak menyahut. Aku hanya menatap Kai yang beranjak pergi mendahuluiku itu dengan sebuah tanda tanya besar di kepalaku. Apa maksudnya tadi? Kisah yang hampir mirip dengan kisah Mike dan John? Yeoja? Mwoya? Aish.. Namja itu sangat membingungkan. Sesaat kemudian aku pun turut beranjak pula mengikutinya.

Myungsoo’s POV

Andwae.. Maldo andwae.. Namja itu— dia— benar-benar Kai? Dan dia— dia dongsaeng kandungku?

To be continued : Confusion 8

Gimana? Masih kurang panjang? Aigoo.. Semoga tidak ya.. Dan semakin membingungkan? Hoho kalo itu mah udah pasti. Sepertinya author kaga salah milih judul ya kali ini, kkkk😆

Dannn semoga part ini bisa menjawab sebagian pertanyaan yang kalian ajukan selama ini. Tapi jangan senang dulu, karena masih ada beberapa misteri lagi yang belum terpecahkan. Semakin kalian bingung, semakin botak rambut kalian *eh. kkkk

Okee, sekarang giliran kalian. Biarpun author ga bisa langsung membalas komentar kalian, tapi jangan pernah absen ngisi kolom komentar ya, karena seperti biasa akan ada PW untuk part terakhir. Jadi jangan sampai absen ya? Okay?😉

Ditunggu komentar panjangnya, dan awas kalo sampai ngerayu lagi *lirikAdria*😀

218 responses to “Confusion [7]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s