[Oneshot] Will you be my love?

will you

Author : Yochi Yang

Title : Will you be my love?

Main Casts : Park Jiyeon and Kim Myungsoo

Additional Casts : Ham Eunjung and Nam Woohyun

Genre : Fluff, Romance

Length : Oneshot

Rating : PG-15

 

Again, guys! This is just for our refreshing 😆

Happy reading! 😳

“Will you be my love?”

Aku tertegun mendengar pertanyaan singkat namun berarti mendalam untukku itu.

“M-mworago?” tanyaku, bukan karena aku tuli, melainkan karena terkejut dan tidak menyangka akan mendapat tembakan semacam ini dari Kim Myungsoo, sahabatku.

“Park Jiyeon, aku sedang memintamu untuk menjadi yeojachinguku, apa kau benar-benar tidak mengerti bahasa Inggris?” kata Myungsoo lagi.

PLETAK!!

Seketika tanganku pun mendarat di kepala namja yang baru saja menembakku itu.

“Apa katamu? Kau pikir aku sebodoh itu? Kalau hanya begitu saja aku juga mengerti, bodoh!” kataku gemas.

Aku melihat Myungsoo meringis kecil sambil memegangi kepalanya yang baru saja kujitak.

“Yaa! Kau ini tidak romantis sekali. Masa ditembak seorang namja reaksinya begitu?” katanya sambil sedikit memajukan mulutnya.

“Bodoh! Kau yang tidak romantis. Masa menembak seorang yeoja di tempat seperti ini? seharusnya kau membawaku ke tempat romantis, membawakanku sebuket bunga, mengajakku dinner dengan candle light dan mengiringiku sebuah musik romantis. Bukannya seperti ini. Apa ini? Menyatakan cinta di belakang toilet?”

Myungsoo tampak nyengir mendengar ucapanku barusan. Ia menggaruk pelipisnya yang kuyakini sama sekali tidak gatal.

Arra.. Keunde, yang penting kan bukan bagaimana caranya kita menyatakan cinta, tetapi seberapa tulus perasaan kita.” Katanya mencoba membela diri.

“Geurido, perasaan tulus itu akan semakin sempurna jika cara penyampaiannya juga sempurna.” Balasku.

Arra.. Keunde aku ini hanya seorang pelajar SMA yang belum memiliki apa-apa. Bagaimana bisa aku menyewa tempat mahal dan memberikan hal-hal semacam itu? Aish! Dwaesseo. Yang penting sekarang, kau mau menerima cintaku atau tidak?”

Aku semakin gemas mendengar perkataan Myungsoo yang seolah memaksa ini. Ya, memang. Aku juga memiliki perasaan padanya. Tapi aku tidak suka caranya menyampaikan cintanya padaku. Sama sekali tidak romantis. Aku ingin dia mengungkapkan perasaannya secara romantis seperti yang biasa kulihat di drama-drama yang kutonton.

“Shireo..” ucapku setelah beberapa saat lamanya aku terdiam. Dan itu membuat wajah Myungsoo seketika murung.

“Wae? Kau tidak menyukaiku?” tanyanya.

“Geunyang shireo..”

Myungsoo terdiam. Aku tahu dia pasti sakit hati dan merasa kecewa. Tapi kalau memang dia benar-benar mencintaiku, tentunya dia akan melakukan apa yang kumau. Bukankah tadi aku sudah memberikan petunjuk untuknya?

“Geurae.. Arrasseo..” ucapnya pelan, lalu perlahan berbalik dan beranjak meninggalkanku di belakang toilet sendirian.

“MWO?? KAU MENOLAKNYA??”

Aku menutup kedua telingaku saat mendengar teriakan dari mulut Eunjung, sahabatku yang lain.

“Yaa, bisakah kau memelankan suaramu?” kataku.

“Keunde, Jiyeon-a. Neo jinjja jinjja daebak! Baru kali ini aku melihat ada orang sebodoh dirimu. Kau menolak namja setampan dan sebohay Kim Myungsoo? Yaa.. Apa kau tahu kalau ditembak oleh Myungsoo adalah impian para yeoja di sekolah kita, eoh?”

Arra.. Arra.. Keunde jebal pelankan suaramu sedikit, eoh? Kalau siswi-siswi yang lain mendengarnya, aku bisa dikeroyok habis oleh mereka.”

Eunjung hanya nyengir mendengar ucapanku, “Mian.. Keunde, kenapa kau menolak namja seperfect itu, eoh? Apa kepalamu habis terbentur?” tanyanya kemudian.

Kali ini giliran aku yang nyengir. “Anni.. Aku hanya ingin dia menyatakan perasaannya dengan cara yang romantis, dinner dengan candle light, musik romantis yang mengiringi kami di tempat yang romantis. Bukannya di belakang toilet yang bau begitu.”

Eunjung tampak menghembuskan napasnya lalu menggetok kepalaku.

Aiyaa.. Aish! kenapa kau memukulku?” protesku sambil memegangi kepalaku.

“Itu karena aku berusaha menyadarkanmu. Yaa, paboya! Cinta seseorang itu bukan diukur dari bagaimana cara dia menyampaikannya, tetapi seberapa besar ketulusan cintanya.”

“Arraseo.. Aku sudah pernah mendengar kata-kata itu.”

“Jeongmal?”

“Ne, Myungsoo mengatakannya sama persis dengan apa yang kau katakan.”

PLETAKK!!

Lagi-lagi Eunjung menggetok kepalaku untuk yang kedua kalinya.

Aish! Yaa!! Kenapa kau memukulku lagi, eoh?” seruku padanya.

“Kau ini benar-benar bodoh ya? Bagaimana bisa aku memiliki sahabat sebodoh ini? Aish! Molla, molla..”  selesai berkata demikian, Eunjung langsung beranjak dari kursi dan meninggalkanku begitu saja. Sementara aku hanya menatap kepergiannya dengan heran. Aigoo.. Pastilah kepalanya yang habis terbentur.

Seminggu berlalu semenjak kejadian ‘tembakan’ di belakang toilet waktu itu. Dan selama itu pula aku selalu mendapatkan berbagai macam ‘tembakan konyol’ dari Myungsoo. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa ia tidak mengerti sama sekali cara ‘menembak’ seorang yeoja dengan romantis. Seperti yang terjadi hari ini, sedang asyik-asyiknya aku menghafal kosakata bahasa Inggris di kelas, dia tiba-tiba muncul dari luar dan berteriak, “Park Jiyeon, will you be my love?” Tentu saja Seonsaengnim marah karena merasa kelasnya terganggu. Akibatnya kami berdua pun dihukum berdiri selama satu jam di lapangan.

Aku masih memasang wajah merengut saat masa hukuman kami berakhir. Myungsoo menghampiriku dengan tampang penuh penyesalan.

“Jiyeon-a, mianhae..” ucapnya.

“Tarawajima..” bentakku padanya yang semula berniat mengikutiku.

Myungsoo memang berhenti mengikutiku, tapi aku masih bisa mendengar ucapannya. “Sebentar lagi kelulusan tiba. Kau akan melanjutkan kemana?”

Aku berhenti melangkah dan menoleh padanya. “Apa aku harus memberitahumu?” kataku.

“Aku— mendapatkan beasiswa kuliah di Oxford.”

“Geuraesseo?”

“Geuge— kalau kau benar-benar tidak mencintaiku, aku akan berhenti mengejarmu dan akan melanjutkan studiku ke luar negeri.” katanya lagi.

Aku sedikit terkejut mendengarnya. Mwoya? Apa dia serius dengan ucapannya?

“Jiyeon-a, apa kau benar-benar tidak memiliki perasaan apapun terhadapku?”

Aku masih terdiam mendengar pertanyaannya itu. Eottokhe? apa dia benar-benar serius dengan ucapannya? Atau dia hanya mencoba mengecohku agar aku mau menerimanya? Anni.. Aku tidak boleh terkecoh begitu saja. Ini pasti hanya akal bulusnya saja.

“Geurae, pergilah. Lanjutkan studimu ke Inggris.” ucapku kemudian yang seketika membuatnya terdiam murung.

Hmm mianhae, Myungsoo-ya, aku sudah membuatmu kecewa untuk yang ke sekian kalinya.

Setelah kejadian hari itu, aku tak pernah lagi melihat ataupun mendengar Myungsoo berbuat konyol seperti yang ia lakukan sebelumnya. Terus terang aku sedikit khawatir. Apa jangan-jangan namja itu sudah menyerah? Atau mungkin dia sudah tidak mencintaiku lagi? Dan itu berlangsung hingga sebulan kemudian hingga kelulusan tiba. Aku semakin cemas karena teringat dengan ucapan Myungsoo terakhir kali waktu itu. Apa dia benar-benar akan pergi ke Oxford?

“Sudah kubilang, kau itu terlalu bodoh. Coba saja kau langsung menerimanya waktu itu. Pasti kalian sudah hidup bahagia bersama.” Ucapan Eunjung itu benar-benar semakin membuatku menyesal.

“Tunggu apa lagi? Cepat pergi dan katakan pada Myungsoo tentang perasaanmu padanya.”

“Keunde, Eunjung-a. Aku malu. Bagaimana mungkin aku mengungkapkan perasaanku pada seorang namja?” kataku.

“Apa kau lebih memilih melihatnya pergi meninggalkanmu daripada menanggung rasa malumu itu?”

Aku mendesah kesal. Sial. Eottokhe?

“Yaa!” tegur Eunjung menyadarkanku.

Arrasseo, arrasseo.. Aku akan mengirim pesan padanya.” Sahutku, lalu dengan sedikit bimbang aku pun mengetikkan pesan pada Myungsoo.

“Yaa, neo eodiya?”

Selang lima menit tapi aku tak juga mendapat pesan balasan darinya.

“Eottokhe? Dia tidak membalas pesanku.” kataku galau.

“Apa lagi yang kau tunggu? Telepon saja dia.”

Ck.. Aku kembali menatap ponselku dengan ragu. Haruskah aku melakukannya? Setelah berperang habis-habisan dengan keraguanku, akhirnya aku pun memberanikan diri mendial nomor Myungsoo.

“Tuut.. tuut.. tuut..”

Tak ada jawaban. Aku jadi semakin galau dibuatnya.

“Tidak diangkat. Mungkin dia sedang tidur.” Kataku mencoba ber-posthink.

“Tidak selamanya ber-posthink itu baik. Siapa tahu dia sedang dalam perjalanan menuju Oxford sekarang.”

“Yaa.. Kenapa kau menakutiku begitu?”

“Anniya.. Tak ada yang tahu kebenarannya kan? Ppali lebih baik kau datang saja ke rumahnya sekarang.”

Aku kembali tertegun. Mengirim pesan saja serumit itu, apalagi mendatangi rumahnya? Maldo andwae!

“Yaa, Park Jiyeon! tunggu apa lagi?”

Aish! yeoja ini bisanya hanya membentakku saja.

“Arrasseo, arrasseo.. Na ganda.” Kataku kemudian, setelah itu beranjak meninggalkan Eunjung yang masih berada di kamarku.

“Annyeonghaseyo, Eomeonim.. Geuge, apa Myungsoo di rumah?” tanyaku begitu Eomma Myungsoo membuka pintu rumahnya.

“Ah, Jiyeon-a. Sudah lama kau tidak kemari. Bagaimana kabarmu?”

Aish, ayolah Eomeonim, jawab saja pertanyaanku..

“Aku baik-baik saja, Eomeonim, kamsahamnida. Keunde, apakah Myungsoo ada di rumah? aku sudah menghubunginya tapi dia tidak mengangkat panggilanku.” Kataku lagi.

Geuraeyo? Geuge— Myungsoo baru saja berangkat—”

Eodi? Eodiseo?” potongku.

“Dia baru saja berangkat ke bandara—”

“MWO??” aku seperti merasa sebuah bom meledak dalam kepalaku. Andwae! Maldo andwae! Myungsoo tidak boleh pergi.

“Geureom, Eomeonim, aku pergi dulu. Kamsahamnida.” Aku membungkuk dan setelah itu dengan cepat melesat dari hadapan Eomma Myungsoo yang terus memanggil namaku. Tapi aku sudah tidak peduli. Tujuanku sekarang hanya satu, mencegah Myungsoo pergi ke Oxford.

Aku sampai di bandara dengan napas tersengal. Selain capek akibat habis berlari, aku capek karena selama di dalam taksi aku terus bercekcok ria dengan sopir taksi yang sulit sekali diajak ngebut. Aku mendesah kesal. Sudah berkali-kali aku menghubungi Myungsoo tapi ia sama sekali tidak mengangkat panggilanku. Aku yakin dia masih merasa kecewa padaku. Siapa yang tidak kecewa saat pernyataan cintanya ditolak berkali-kali oleh orang yang sama.

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru bandara, mencari sosok Myungsoo. Sesekali aku menabrak orang-orang yang berkeliaran di bandara. Aku tak peduli. Aku harus bisa menemukan Myungsoo dan mencegahnya pergi sebelum terlambat.

Sudah sekitar lima menit aku berkeliling, namun aku tak juga menemukan namja itu. Aku sudah tak tahan dan terisak menangisi kebodohanku sembari terus menggumamkan nama Myungsoo. hingga sesaat kemudian aku pun melihat sesosok tubuh yang kuyakini mirip dengan Myungsoo. Aku tertegun sejenak. Apa benar dia Myungsoo? Atau ini hanya sekedar halusinasiku saja? Aish! Masa bodoh! Tanpa pikir panjang lagi aku pun segera berlari ke arah namja tersebut. Aku merasa saat itu seolah tengah diiringi oleh lagu Driving Me Crazy by Hyorin.

“Kim Myungsoo!!” teriakku memanggilnya.

Namja itu menoleh mendngar teriakanku. Rupanya dia memang benar Myungsoo, namja yang kucari selama ini. Dengan perasaan membuncah aku pun menghampiri myungsoo dan langsung menghambur ke dadanya.

“Bodoh! Kenapa kau pergi, eoh? Apa kau benar-benar ingin meninggalkanku? Apa kau sudah tidak memiliki perasaan padaku lagi? Kim Myungsoo kau benar-benar jahat padaku, hiks.. Saranghae.. Saranghae, paboya. Mianhae karena sudah mengabaikanmu selama ini.. Aku sadar, cinta seseorang itu tidak diukur dari bagaimana cara ia menyampaikannya, tetapi dari ketulusannya. Aku tidak peduli lagi dengan hal-hal romantis semacam itu. Geuraesseo, jangan pernah berpikir untuk pergi meninggalkanku. Jangan pergi ke Oxford. Tetaplah di sini bersamaku.” isakku dalam pelukannya.

Baiklah, tak ada gunanya lagi rasa malu itu. Tidak penting lagi dengan hal-hal romantis semacam itu. Aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri, aku mencintai Kim Myungsoo apa adanya.

“Eoh— siapa yang ingin pergi ke Oxford?”

Aku tertegun mendengar ucapan Myungsoo itu dan seketika suara musik yang semula mengiringiku tadi itu pun terhenti. Aku melepaskan pelukanku dan menatap Myungsoo.

M-mwoya? Kau— bukankah kau akan pergi ke Oxford?” tanyaku padanya.

Myungsoo mula-mula menatapku dengan tatapan bingung, namun tiba-tiba saja ia tertawa.

“Hahaha.. Mwoya? Apa kau mengira aku akan pergi ke Oxford?” tanyanya kemudian.

Aku tak menjawab melainkan hanya menatapnya bingung. Kenapa dengannya? Tunggu dulu! Apa jangan-jangan— dia tidak pergi ke Oxford? Aku mengalihkan pandanganku ke arah seorang namja yang berdiri tak jauh di samping Myungsoo. Aku tahu namja itu. Nam Woohyun. Aku melihat sebuah koper besar di sampingnya.

“Annyeong, Jiyeon-a.” sapa namja itu sambil tersenyum dan melambai padaku.

“M-mwoya? Ige mwoya?” tanyaku tak mengerti.

Myungsoo menghentikan tawanya sejenak lalu memegang kedua bahuku.

“Park Jiyeon, aku tidak jadi pergi ke Oxford. Aku memberikan beasiswaku pada Woohyun, karena dialah yang paling berkeinginan pergi ke Oxford. Aku di sini hanya mengantarnya saja.”

Ucapan Myungsoo itu seketika membuatku terperangah, “M-mwo? Lalu kenapa kau tidak membalas pesanku dan mengangkat panggilanku?”

“Ah, mian.. Ponselku tertinggal di kamarku jadi aku tidak tahu.”

Aku tak menjawab, karena tidak tahu harus menjawab apa di saat seperti itu.

“Keunde, ucapanmu tadi, apa itu serius? Aku tidak perlu melakukan hal-hal romantis untuk menyatakan perasaanku kan?” kata Myungsoo lagi sesaat kemudian.

Aish! Sial. Bodoh! Aku sudah termakan oleh perbuatanku sendiri. Ck.. Park Jiyeon, kenapa kau selalu saja bertindak bodoh?

Kedua tangan Myungsoo kini beralih memegang kedua tanganku.

“Jiyeon-a, will you be my love?” dan sekali lagi, aku mendengar pertanyaan yang sama untuk yang ke sekian kalinya.

Aku tak segera menjawab, meski aku tahu jawaban yang hendak kukatakan padanya.

“Yes, I am..” ucapku.

PLETAK!!

Aku terkejut sekali karena tiba-tiba saja Myungsoo menjitakku pelan.

“Yaa!! Kenapa kau memukulku, bodoh?” bentakku padanya sambil meringis memegangi kepalaku.

“Kau yang bodoh. Kalau pertanyaannya berawal dari ‘will’, maka jawabannya bukan ‘Yes, I am’, tetapi ‘Yes, I will’. Arrasseo?”

Aku nyengir mendengar ceramahnya itu. Dasar namja sok pintar.

“Arrasseo..” sahutku pula.

“Good..” pujinya sambil tersenyum dan menepuk kepalaku.

Aku hanya turut tersenyum sembari menatap Myungsoo, menunggu tindakannya selanjutnya. Tapi rupanya aku tak mendapatkan perlakuan apapun darinya.

“Mwoya? Hanya begitu saja?” tanyaku pula.

Eoh? Museun suriya?” ia malah balik bertanya dengan tampang bodohnya, membuatku merasa jengkel karenanya.

“Yaa, kita baru saja jadian. Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu padaku?” kataku.

Myungsoo menggaruk pelipisnya yang kurasa sama sekali tidak gatal. Aku semakin jengkel dibuatnya. Dengan gusar aku pun beranjak pergi meninggalkannya.

“Eoh! Jiyeon-a, eodiga?” kudengar ia memanggilku tapi aku tak peduli dan terus berjalan.

Ah, Woohyun-a, aku pergi dulu, ne. Mian tidak bisa menemanimu. Jalgayo.. Jangan lupa hubungi aku setibanya kau di sana. Eoh?”

“Arrasseo. Fighting, Myungsoo-ya!”

Aku mendengar langkah kaki Myungsoo yang mengejarku. Tapi aku sengaja tak mempedulikannya.

“Jiyeon-a, jamkkanman!” katanya sembari menarik tanganku.

“Bikyeo!” sahutku dengan ketus.

“Yaa.. Apa kau ingin aku melakukan sesuatu yang romantis? Keunde bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau tidak peduli lagi dengan hal-hal romantis semacamnya?”

Aku tertegun mendengarnya. Langkahku seketika terhenti. Benar juga. Aku bahkan baru saja mengatakan itu beberapa detik yang lalu. Aish! Park Jiyeon! Lagi dan lagi kau sudah bertindak bodoh!

Chup~

Glek! Aku tersedak ludahku sendiri saat kurasakan sesuatu yang hangat dan lembut mendadak menyentuh pipi kananku. Seketika aku menoleh dan mendapati wajah Myungsoo yang tersenyum tepat di depan wajahku.

Y-yaa.. Ap—”

Chup~

Sekali lagi aku tertegun dan kali ini bahkan tulangku terasa seakan lunglai. Myungsoo mencium bibirku. Kyaaa.. Walau hanya sekilas namun itu sudah berhasil membuat jantungku melompat-lompat dengan cepat. Aku masih membeku menatap Myungsoo.

“Apa yang itu tadi sudah bisa dibilang romantis?” katanya kemudian.

Aku tak mampu menjawab. Sungguh, aku ingin menampar pipi Eunjung saat itu juga entah kenapa. Apa aku baru saja bermimpi?

“Mwoya? Masih kurang romantis? Lalu bagaimana kalau begini?” ucap Myungsoo lagi langsung menarik tubuhku dan kembali mendaratkan ciuman di bibirku dengan lembut dan lebih lama dari sebelumnya.

Aku masih tercengang. Tak menyangka Myungsoo akan melakukan hal seperti ini padaku. Bahkan saat ia melepas ciumannya pun aku masih diam membeku. Sungguh, ini adalah pertama kalinya bagiku dan aku merasa sepertinya aku akan pingsan saat itu juga.

“Yaa, kenapa kau diam saja? Apa semua yang kulakukan tadi masih belum cukup romantis juga?”

Aku mendengar ucapan Myungsoo itu hanya seperti sebuah dengungan saja di telingaku. Ya Tuhan, apa yang terjadi padaku? Jantungku, kenapa seperti ini? Apa memang begini rasanya mendapatkan ciuman dari seseorang yang dicintai? Entahlah, aku hanya merasakan tubuhku semakin lemas, hingga beberapa sesaat kemudian aku pun tak ingat apa-apa lagi. Pingsan. Yah, sepertinya begitu.

END

Hahaha endingnya gaje ya? Apapun itu semoga kalian terhibur ya?  😆

Gomawo nde buat yang udah RCL 😳

Advertisements

130 responses to “[Oneshot] Will you be my love?

  1. ah lucu ngakak banget bacanya.jiyeon dipermaluin ama perasaannya sendiri.pokoknya suka banget ama ceritanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s