[Oneshot] Affair

affair

Author : Yochi Yang
Title : Affair
Main Casts : Park Jiyeon and Kim Myungsoo
Additional Casts : Son Naeun, Yang Yoseob and Krystal Jung
Genre : Romance
Length : Oneshoot
Rating : PG-15
.
.
Muahaha nah loh, nongol lagi kan gua? Padahal Confusion sama “L” aja masih belum kelar tapi udah sok-sokan bikin ff lagi. Tapi tenang, cuman Oneshot doang kok, jadi ga lama, kkkk ya udah happy reading yaa yeoreobeuuunn 😉 jangan lupa siapin bantal 😆
.
.

All is Jiyeon’s POV

Cinta itu memang indah. Kehadirannya sangat berarti bagi setiap orang yang merasakannya. Begitu pula denganku. Aku, Park Jiyeon, seorang yeoja yang merasakan benih-benih cinta pada seorang namja tampan bernama Kim Myungsoo, namun pada akhirnya harus mendapatkan penyakitnya juga, yaitu patah hati. Ya, aku memang sudah salah sejak awal. Aku, Park Jiyeon, rela menjadi selingkuhan dari seorang namja bernama Kim Myungsoo. Sedih memang. Tapi aku tak bisa menahan perasaanku sendiri. Awalnya aku merasa tidak bersalah karena aku tahu sebenarnya Myungsoo tidak mencintai yeojachingunya, Son Naeun. Kalau saja aku bisa memutar waktu, aku tidak mungkin terjebak dalam posisi sulit ini, menjadi seorang simpanan.

.

.

Flashback

PLUK!!

“Argh!” aku yang semula sedang berjalan bersama Krystal, sahabatku itu memegangi kepalaku. Kulihat sebuah gulungan kertas yang baru saja mengenai kepalaku itu menggelinding di dekat kakiku.

“Yaa! Park Jiyeon!” seru seseorang kemudian.

Aku pun menoleh ke asal suara dan kulihat dua orang namja yang sama-sama berseragam sekolah sepertiku sedang nongkrong di gedung lantai 2, tepatnya di gedung kelas 2. Aku tahu mereka berdua adalah Yang Yoseob dan Kim Myungsoo. Dan barusan yang memanggilku tadi itu adalah Yoseob. Aku yakin yang tadi itu juga adalah perbuatannya, karena ini bukanlah pertama kalinya aku mengalami hal seperti ini. Hampir setiap hari ia melakukan hal yang sama.

“Annyeong!” seru namja itu sekali lagi sambil melambai padaku.

Aku diam saja. Ada perasaan aneh yang membuat hatiku bergetar saat itu. Bukan karena sikap yang ditunjukkan oleh Yoseob, melainkan tatapan dari namja yang berada di sebelahnya. Kim Myungsoo. Entah kenapa aku selalu berdebar-debar setiap kali ia menatapku. Bahkan dengan jarak sejauh ini pun aku masih merasakan getaran itu.

“Gwaenchanha?” teguran Krystal akhirnya berhasil menyadarkanku.

Dengan sedikit gugup aku menjawab, “N-ne.. Kkaja.”

“Yaa, kurasa Yoseob menyukaimu.”

“Eoh..” sahutku seadanya, bukan karena memikirkan ucapan Krystal barusan, melainkan memikirkan namja itu, Kim Myungsoo. Entah bagaimana bisa aku mengidap penyakit ini. Ya, kurasa aku menyukai namja itu. Dan perasaan ini berawal ketika kami berdua sama-sama terkunci di dalam gudang sekolah dua minggu yang lalu. Saat itu kami berdua terkena hukuman membersihkan gudang karena sama-sama terlambat datang ke sekolah saaat pintu gerbang sudah ditutup. Peraturan di sekolah kami memang ketat. Jika ada siswa yang terlambat, maka sebagai hukumannya harus membersihkan ruangan yang kotor. Dan kebetulan pada hari itu kami secara tidak sengaja sama-sama terlambat hingga akhirnya harus dihukum membersihkan gudang sekolah. Ruangan tersebut lumayan luas dan sangatlah kotor sehingga memerlukan waktu yang sangat lama untuk menyulapnya menjadi bersih. Dan selama kami sedang bekerja, tak sedikitpun kami berbicara satu sama lain. Hanya sesekali saja kami bicara saat kami membutuhkan sesuatu. Aku dan Myungsoo hampir memiliki sifat yang sama, tidak suka banyak bicara. Lagipula kami tidaklah sekelas jadi kami tak begitu akrab dan hanya sekedar mengenal satu sama lain saja.

Begitulah, hampir setengah hari kami membersihkan ruangan tersebut. Kami berdua sangat kelelahan sehingga entah bagaimana ceritanya kami bisa tertidur dalam ruangan itu sampai sore. Aku panik bukan main saat menyadari kalau kami berdua terkunci dari luar. Letak gudang sekolah berada cukup jauh di belakang dan tidak mungkin ada yang bisa mendengar jika kami berteriak. Aku semakin kebingungan karena ponselku tertinggal di dalam tas milikku yang tentu saja masih berada di dalam kelas. Sementara ponsel milik Myungsoo mati karena kehabisan baterei.

Suhu malam itu benar-benar sangat dingin apalagi di tempat seperti itu. Badanku terasa kaku dan kedinginan ditambah dengan perutku yang belum terisi makanan apapun sejak tadi. Aku hanya bisa duduk meringkuk sembari memeluk kedua lututku di samping tumpukan barang-barang yang kami bereskan tadi. Sungguh aku tidak tahan dengan suasana seperti itu. Hingga sejurus kemudian aku pun merasakan sesuatu menyelimuti tubuhku yang menggigil. Aku mendongak menatap namja yang kini sudah tak mengenakan jaket seragam sekolah yang semula dikenakannya. Ia tersenyum padaku.

“Myungsoo—” ucapku.

“Sebenarnya aku juga kedinginan. Tapi sepertinya kau lebih parah dariku.” katanya memotong ucapanku.

“Keunde—”

“Pakai saja. Tak perlu khawatir denganku. Lagipula tubuhku cukup kuat dengan suhu seperti ini.”

Nan gwaenchanha, ini milikmu, jadi kau yang harus menggunakannya—”

“Ternyata kau cukup cerewet, Park Jiyeon.”

Aku tertegun mendengarnya. Namja itu sekali lagi tersenyum padaku. Setelah itu ia bangkit dan berpindah ke tempat yang agak jauh dariku. Dalam diam aku menatapnya yang kini duduk sambil melipat kedua tangannya di dada. Kedua matanya terpejam. Walaupun ia terlihat baik-baik saja, tapi aku yakin dia sangat kedinginan sama sepertiku. Aku menarik napas, lalu perlahan bangkit dan mendekatinya. Namja itu membuka kedua matanya sedikit terkejut saat aku melekatkan jaket miliknya kembali ke tubuhnya.

“Kubilang aku tidak—”

“Aku tidak mau masuk penjara karena membunuh orang lain. Kau bisa mati kedinginan.” ujarku memotong ucapannya.

Myungsoo tak menjawab. Aku duduk di sebelahnya dan kembali memeluk kedua lututku. Kutolehkan kepalaku kepadanya yang ternyata masih menatapku.

“Wae?” tanyaku heran.

Anni.. Geunyang, wajahmu terlihat pucat.” Sahutnya kemudian.

Aku hanya tersenyum kecut mendengarnya. Tentu saja. Siapa yang akan terlihat baik-baik saja di saat perutnya kosong dan kedinginan seperti ini. Sejurus kemudian tiba-tiba saja Myungsoo melebarkan jaketnya lalu menyelimuti tubuh kami berdua menggunakannya. Aku terkejut sekali dibuatnya dan menatapnya heran.

“Wae?” tanyanya padaku.

“Kenapa—”

“Geogjeongma, kau tidak akan masuk penjara. Aku tidak merasa dingin kalau kita berdekatan seperti ini.” potongnya.

Aku hanya terdiam mendengarnya. Walau bagaimanapun juga, ini adalah pertama kalinya aku berada sedekat ini dengan seorang namja. Apalagi saat ia melingkarkan tangannya pada tubuhku. Bukan hanya tubuhku yang terasa hangat, namun hatiku turut merasa hangat karenanya. Tak ada yang bisa kulakukan selain diam dan merasakan kehangatan itu dengan nyaman hingga akhirnya aku pun tertidur di pelukannya.

Sampai aku membuka kedua mataku pun aku masih bisa merasakan kehangatan itu. Sungguh, walaupun tidur di tempat seperti ini aku benar-benar merasa nyaman. Aku senang ada Myungsoo bersamaku.

Good morning, Jiyeon-a..”

Aku membuka kedua mataku lebih lebar. Rupanya hari sudah pagi. Aku melihat cahaya matahari memasuki ruangan dan seketika aku tersentak.

“Myungsoo-ya! Pintunya sudah terbuka. Kkaja, kita keluar sekarang.” Kataku kemudian seraya bangkit.

Aku menggeliatkan badanku sejenak yang terasa sedikit kaku, setelah itu berjalan menuju pintu gudang.

“Myungsoo-ya, ppalli. Nanti kita bisa ter—” ucapanku terhenti karena aku tidak melihat Myungsoo di belakangku. Karena penasaran aku pun kembali masuk. Namun alangkah terkejutnya aku karena melihat tubuh Myungsoo yang ternyata sudah terkulai lemas di lantai.

Dengan cepat aku pun segera mendekatinya.

“Myungsoo-ya! Myungsoo-ya! Gwaenchanha?” kataku sambil mengguncangkan badannya berkali-kali namun kedua matanya tetap terpejam. Wajahnya tampak sangat pucat sekali. Aku benar-benar panik dibuatnya.

“Yaa! Kim Myungsoo! Ireona, jebal..”

.

.

Aku masih mendampingi Myungsoo di ruang kesehatan, menunggunya membuka kedua matanya. Dalam hati aku memaki namja itu bagaimana bisa ia sebodoh itu, merelakan dirinya sakit hanya demi aku. tiga puluh menit berlalu dan aku mulai melihat kedua kelopak matanya bergerak-gerak hingga sejurus kemudian pun terbuka. Aku tak mengatakan apapun melainkan hanya menatapnya sedikit kesal sekaligus merasa bersalah. Ia hanya tersenyum tipis padaku, lalu berusaha bangun dari ranjang.

“Paboya?” kataku kemudian dengan nada setengah membentak.

“Apa kau yang menggendongku kemari?” ia malah balik bertanya seolah tak menghiraukan rasa bersalahku.

“Kau bisa saja mati.” kataku lagi.

“Tapi nyatanya tidak, kan? Sudah kubilang aku ini kuat.”

Aku tak menjawab, melainkan menyodorkan semangkok bubur dari kantin kepadanya.

“Meoggo..” kataku.

Myungsoo tersenyum kecil lalu menerima bubur dariku.

“Bagaimana denganmu?” tanyanya kemudian.

“Aku sudah makan.” Sahutku.

Kulihat namja itu mulai memasukkan suapan bubur pertama ke dalam mulutnya dengan lahap. Tanpa sadar aku tersenyum melihatnya.

“Eoh, kau tersenyum?” tanyanya tiba-tiba membuatku sedikit kaget.

M-mwo?” tanyaku.

“Kulihat kau baru saja tersenyum tadi. Matji?”

“Geuge— memangnya kenapa kalau aku tersenyum? Apa itu terlihat aneh?” tanyaku heran.

“Eoh, setidaknya begitu menurutku. Selama ini aku jarang melihatmu tersenyum pada orang lain. Tapi baru saja kau tersenyum tadi. Yeppeuda..”

Aku tertegun mendengarnya. Apa itu artinya selama ini dia memperhatikanku? Tapi untuk apa? Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang aneh menyelip ke dalam hatiku saat itu. Apa aku mulai sakit juga seperti dia? Kulihat namja itu kembali menyuapkan bubur ke dalam mulutnya.

“Gomawo..” ucapku kemudian.

“Mwoga? Karena aku mengatakan kalau kau cantik?” tanyanya.

“Anni.. Karena kau sudah melindungiku semalaman. Jeongmal gomawo..” ucapku setulus hatiku.

Myungsoo hanya tersenyum kecil dan mengangguk saja, setelah itu kembali memakan buburnya. Namun sebentar kemudian ia menghentikan gerakan tangannya dan menatapku.

“Apa kau sudah menemaniku di sini semenjak aku tak sadar tadi?” tanyanya.

A-ahh.. Gwaenchanha. Aku hanya merasa bertanggung jawab karena walau bagaimanapun juga akulah yang membuatmu seperti ini.” sahutku cepat.

“Anni.. Geunyang, apa aku mendengkur selama tertidur tadi?”

M-mwo?”

“Aish memalukan sekali. Jinjja..” gumamnya pelan, lalu kembali memakan buburnya.

Aku kembali tersenyum geli melihatnya.

“Tetaplah seperti itu.” Katanya lagi tiba-tiba tanpa menghentikan suapannya.

“Eoh?” tanyaku tak mengerti.

“Tersenyum seperti itu membuatmu terlihat lebih cantik.”

Aku terdiam mendengarnya. Ia melanjutkan, “Apa tersenyum memang sulit untuk kau lakukan? Wae? Apa kau trauma karena sebuah senyuman?”

“Yaa Kim Myungsoo, rupanya kau lumayan cerewet juga.” kataku sengaja mengikuti ucapannya semalam.

Myungsoo tertawa kecil mendengarnya. “Anni.. Aku hanya suka bicara dengan orang yang menurutku nyaman untuk diajak berbincang.” Katanya.

Sekali lagi aku tertegun mendengarnya. Apa maksud namja ini?

Aahh.. Mashitta.. Perutku sudah terisi sekarang, walaupun tidak terlalu kenyang.” Katanya kemudian sambil mengambil botol minuman yang sudah kusediakan sebelumnya. Kulihat namja itu meneguk hampir setengah botol minuman tersebut.

“Gomawo, sudah menjagaku selama aku tertidur.” Katanya kemudian padaku.

Aku hanya tersenyum sedikit dan mengangguk.

“Apa kita impas sekarang?” tanyanya lagi.

Ah, geuge—” sebenarnya aku ingin menanyakan banyak hal pada namja ini, mengenai kenapa dan bagaimana bisa ia mengetahui kebiasaanku selama ini. Namun niatku urung karena tiba-tiba saja seorang yeoja datang menerobos masuk ke dalam.

Chagi-ya.. Gwaenchanha? Aigoo.. Mianhae aku baru mendengar kabar kalau kau sakit. Jeongmal gwaenchanha? Manhi appa?”

Aku terkejut sekaligus heran melihatnya. Aku tahu yeoja itu, Son Naeun. Aku bukannya heran karena kedatangannya yang tiba-tiba itu, melainkan mengenai ucapannya barusan. “Chagi-ya”. Naeun memanggil Myungsoo seperti itu, apa itu artinya—

Geogjeongma. Nan gwaenchanha jigeum.” Sahut Myungsoo sambil tersenyum.

Ah johtta.. Keunde, bagaimana bisa kau sampai jatuh sakit begini? Aigoo.. Aku benar-benar khawatir padamu. Wajahmu pucat sekali, chagi-ya..”

Aku menarik napas panjang melihatnya. Entah kenapa lagi-lagi perasaan aneh yang lain menyelip ke dalam hatiku. Aku mulai yakin, mungkin aku akan benar-benar jatuh sakit juga seperti Myungsoo.

Sejak kejadian itulah aku sering mengalami perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatiku dan seperti siap meledak kapanpun. Perasaan itu semakin meluap-luap setiap kali tak sengaja aku bertemu pandang dengan namja itu. Entahlah, sepertinya aku sudah mulai menjadi gila. Sudah berkali-kali aku berusaha melenyapkan perasaan aneh itu dengan berbagai macam kesibukan di sekolah. Namun semakin aku menyibukkan diri, semakin besar perasaan itu membuncah. Dan juga, sejak saat itu pula aku melihat Myungsoo bersama Yoseob yang selalu berdiri di lantai dua setiap pagi. Yoseob yang selalu melemparku menggunakan gumpalan kertas kemudian menyapaku. Sementara ia yang hanya diam saja menatapku. Aku tidak mengerti kenapa mereka melakukan hal tidak jelas begitu.

Tapi karena hal itulah lama-lama aku mulai sadar kalau perasaan anehku itu karena aku ternyata sedang menyimpan perasaan terhadap Kim Myungsoo. Aku semakin yakin saat menyadari pikiranku yang selalu tertuju pada namja itu. Aku sempat merasa frustasi karenanya. Bagaimana mungkin aku menyukai seseorang yang sudah menjadi milik orang lain? Karena hal itulah aku mulai menjaga jarak dengan Myungsoo. setiap kali kami bertemu, sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak melakukan kontak mata dengannya, apalagi menyapanya. Aku hanya menyahut sesingkat mungkin jika ia mengajakku berbicara. Dan setiap kali Yoseob melemparku menggunakan gumpalan kertas, aku hanya diam pura-pura tak terjadi sesuatu karena aku tak ingin bertemu pandang dengannya lagi. Dan itu terjadi selama berminggu-minggu hingga akhirnya tibalah saat itu.

Pagi itu aku baru sampai di sekolah. Kali ini aku berangkat sendirian. Aku melangkah sedikit tergesa karena tak ingin mendengar suara Yoseob yang memanggilku. Entah kenapa meski itu suara Yoseob tapi aku seketika langsung membayangkan wajah Myungsoo begitu mendengarnya. Mungkin karena namja itu berada di sampingnya. Namun rupanya pagi itu aku tak mendapatkan gumpalan kertas yang biasanya mendarat di kepalaku, maupun suara teriakan Yoseob. Aku sedikit heran dan penasaran karenanya. Dengan sedikit ragu kudongakkan kepalaku ke atas. Tak ada siapapun di sana. Aku berpikir, apa mereka sudah bosan menggangguku? Tapi aku tak ingin terlalu memikirkannya dan kembali melanjutkan langkahku. Namun begitu aku hendak menaiki anak tangga untuk menuju kelasku, aku sudah melihat Myungsoo di bawah anak tangga. Seperti biasa aku langsung mengalihkan pandanganku dan terus berjalan seolah tak pernah melihatnya.

“Apa kau akan terus menghindar begitu?”

Aku tertegun sejenak mendengarnya. Namun setelahnya aku kembali berjalan.

“Park Jiyeon, apa kau mengacuhkanku?” ulangnya sekali lagi sehingga membuatku mau tak mau harus kembali berhenti dan berbalik menghadapnya.

Museun niriya? Aku sedang tergesa.” Ucapku sedikit berbohong.

Wae? Ini masih terlalu pagi. Jam masuk masih cukup lama. Kau tergesa karena apa? apa kau belum mengerjakan tugas?”

Aku tak segera menjawab. Sebisa mungkin aku menghindari tatapan mata Myungsoo.

“Tarawa..” katanya kemudian.

“Eodi?” tanyaku pula.

“Geunyang tarawa.”

“Shireo..”

“Apa aku harus menggandengmu agar kau mau mengikutiku?”

“Mwo?”

“Geureom tarawa.”

Aku tak menyahut lagi. Kulihat namja itu berjalan mendahuluiku. Aku hanya bisa mendesah dan mau tak mau mengikutinya dari belakang. Kami terus berjalan hingga sampai di belakang, tepatnya di samping tempat pembuangan sampah.

“Mwoya? Kenapa kau mengajakku kemari?” tanyaku heran.

I bwa.” Katanya sambil menunjuk ke arah tumpukan gulungan kertas yang berada di sisi tempat pembuangan sampah.

“Wae? Apa kau ingin aku membakar sampah ini?” tanyaku lagi.

“Paboya. Semua benda yang kau katakan sampah itu adalah ungkapan perasaanku selama ini.”

“Mworago?”

Myungsoo tak menjawab melainkan mengambil sebuah gulungan kertas yang bertumpuk itu.

“Yeogi. Buka dan bacalah sendiri.” Katanya sambil menyodorkan benda itu padaku.

Dengan ragu aku pun menerima dan membukanya perlahan.

Ini semakin sulit. Perasaanku semakin tak bisa terbendung lagi. Park Jiyeon, saranghae..”

Aku mendadak kaku di tempat ketika membacanya.

I-ige m-wonde?” tanyaku sedikt terbata.

“Majayo. Aku yang menulisnya. Aku mengungkapkan perasaanku setiap pagi melalui tulisan pada sebuah kertas. Aku meminta Yoseob melemparkannya padamu dari atas dan berharap kau mau membukanya. Tapi rupanya bahkan sekalipun kau tidak pernah mau membukanya. Park Jiyeon, kau kejam.”

Aku benar-benar tertegun mendengarnya, sama sekali tak percaya dan tak mengerti sepenuhnya dengan apa yang dikatakan Myungsoo barusan.

“Aku sengaja meminta pada petugas kebersihan sekolah kita agar tidak membakar kertas-kertas ini, karena aku berniat ingin memberitahukannya padamu suatu saat nanti. Yah, walaupun hanya seonggok sampah tapi di dalamnya terkandung perasaanku yang tulus.” Lanjutnya lagi.

K-keunde, Naeun—”

“Kau tidak tahu kan alasanku berpacaran dengannya?” kata Myungsoo memotong ucapanku.

M-museun suriya?”

“Kami berpacaran hanya sekedar untuk membalaskan dendam pada seseorang.”

M-mwo?”

Maja. Naeun ingin membalaskan sakit hatinya pada Taemin karena sudah mengkhianatinya dengan berkencan denganku. Ia melakukannya karena ia tahu kalau Taemin dan aku selalu bersaing dalam hal apapun. untuk itulah dia meminta bantuanku. Dia memintaku menjadi namjachingunya setidaknya sampai Taemin meminta maaf padanya dan mengakui kesalahannya.”

Aku terdiam sejenak mendengarnya. Sejujurnya aku masih ragu dengan ucapan Myungsoo itu.

“Keunde, Naeun terlihat khawatir dan perhatian sekali padamu saat kau sakit waktu itu. Aku ragu kalau dia tidak memiliki perasaan padamu.” ucapku dengan lirih. Aku takut Myungsoo menyimpulkan sesuatu di balik ucapanku barusan.

Namja itu hanya tersenyum simpul dan menjawab, “Tentu saja dia khawatir, karena aku adalah penolongnya. Kalau aku mati, bukankah misi balas dendamnya akan gagal?” ucapnya yang seketika membuatku membelalak.

Yaa.. Geureojima.” Ucapku spontan.

Myungsoo tertawa melihatku seperti itu. Aku kembali menunduk. Jangan lemah, Park Jiyeon. kau tidak boleh menunjukkan perasaanmu padanya. Namun aku tersentak karena tiba-tiba saja Myungsoo meraih kedua tanganku.

“Jiyeon-a.. Saranghae..” ucapnya kemudian.

Aku terkejut mendengarnya dan seketika menatapnya.“Hajima..” ucapku.

Wae? Kau tidak mencintaiku?” tanyanya.

Nan— nan—”

“Arrayo.. Aku tahu kau juga memiliki perasaan yang sama terhadapku. Itulah sebabnya kau menghindariku akhir-akhir ini karena kau berpikir aku benar-benar berkencan dengan Naeun. Matji?”

Geurigo— Kau masihlah namjachingu Naeun. Apa kau tidak berpikir bagaimana perasaannya kalau ia tahu kau menjalin hubungan dengan yeoja lain di saat kau masih berstatus sebagai namjachingunya?”

Myungsoo menghela napas panjang mendengar ucapanku itu.

Arrasseo.. Sepertinya kau benar. Geurae.. Sepertinya kita memang tidak ditakdirkan bersama. Mianhae, Jiyeon-a..” ucapnya kemudian, lalu melepas kedua tanganku.

Setelah itu kulihat ia perlahan membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya hendak meninggalkanku. Sakit. Bingung. Kedua perasaan itu terus menyerangku saat itu. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa hingga sejurus kemudian aku pun merasa tak tahan lagi.

“Myungsoo-ya!” Ya Tuhan, aku hanya berharap saat itu mengambil keputusan yang tidak salah.

Myungsoo berhenti dan kembali menatapku. “Wae?” tanyanya.

“Apa kalian benar-benar hanya berpura-pura saja?”

Myungsoo mengangguk, “Eoh..”

“Apa— apa kau— benar-benar menyukaiku?”

Myungsoo tak segera menjawab, melainkan kembali menghampiriku.

“Apa kau ingin aku mengambil semua sampah itu dan membukanya satu persatu untukmu? Mungkin sepertinya semua benda itu cukup untuk meyakinkan hatimu.” Katanya kemudian.

Aku tersenyum geli mendengarnya. “Anni, dwaesseo..” kataku. Baiklah, mungkin keputusanku saat ini tidak keliru, pikirku.

Myungsoo turut tersenyum pula, kemudian lebih mendekat lagi padaku hingga membuat degupan jantungku semakin tak beraturan.

“Jiyeon-a, apa aku— boleh memelukmu?”

Eo-eoh?” aku terkejut sekali mendengar permintaannya yang tiba-tiba itu. Aku memang sudah pernah sekali dipeluknya saat di gudang sekolah malam itu. Tapi sekarang, ia meminta memelukku sekali lagi?

Aku hanya berpikir sejenak hingga kemudian kuanggukkan kepalaku. “Eoh..”

Myungsoo tersenyum karenanya dan dengan perlahan ia pun menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Hangat. Sama seperti yang kurasakan malam itu. Kami terus berada dalam posisi seperti itu untuk beberapa saat lamanya hingga kemudian Myungsoo pun melepaskan pelukannya. Kedua matanya yang setajam elang itu menatapku dalam, hampir mampu menembus jantungku. Aku meneguk ludah karenanya. Sesaat kemudian ia mulai bergerak mendekati wajahku. Aku tertegun. Apa mungkin dia berniat ingin menciumku? Aku bahkan sama sekali tak bisa menggerakkan tubuhku saat itu. Tubuhku terlalu kaku dan jantungku terlalu ramai berdebaran melihat tatapan matanya padaku seperti itu. Namun setelahnya ia mulai sedikit memiringkan kepalanya dan semakin mendekatkannya pada wajahku hingga sedetik kemudian aku merasakan bibirnya yang hangat itu menyentuh bibirku. Seketika aku merasa tubuhku seperti terkena sengatan listrik dibuatnya. Sungguh, ini adalah pengalaman pertamaku mendapatkan ciuman dari seorang namja. Aku pun memejamkan kedua mataku untuk merasakan kecupan lembut darinya. Ia menciumku semakin dalam sehingga mau tak mau aku pun merasa tak sanggup untuk tidak membalasnya. Semua terasa sangat manis saat itu, dan aku terlambat untuk menyadari bahwa ternyata semenjak saat itulah awal penderitaanku dimulai.

Aku tahu dan percaya kalau Myungsoo dan Naeun hanya berpura-pura berpacaran. Tapi tetap saja aku tidak ingin Naeun tahu kalau aku dan Myungsoo juga sedang menjalin hubungan. Hari demi hari hubungan kami semakin baik. Bahkan aku juga sudah mulai akrab dengan Naeun. Walaupun tak jarang aku sering merasa cemburu setiap kali ia bersikap mesra pada Myungsoo. Tentu saja sebagai yeoja normal aku tetap merasa cemburu melihat namja yang kucintai bermesraan dengan yeoja lain. Tapi aku hanya memendamnya saja dalam hati. Lagipula setiap saat Myungsoo selalu meyakinkanku kalau cintanya hanya untukku. Dan aku percaya padanya.

Namun semakin hari mereka berdua semakin terlihat mesra di mataku. Entah karena aku yang terlalu cemburu berlebihan atau memang mereka yang semakin mesra, yang jelas aku merasa sangat tersakiti karenanya. Aku bahkan hampir menunjukkan kecemburuanku itu di depan mereka, tapi sebisa mungkin aku tetap menyimpannya saja dengan lapang dada. Aku memang masih sanggup untuk tidak menunjukkan kecemburuanku. Namun peristiwa saat itu benar-benar serasa menusuk jantungku. Pagi itu aku melihat Naeun dan Myungsoo berciuman. Walaupun posisi mereka membelakangiku, tapi hanya dengan melihat wajah mereka yang berdekatan dengan kedua tangan Naeun yang melingkar di leher Myungsoo itu sudah lebih dari cukup untuk meyakinkanku kalau mereka sedang berciuman. Kalau memang bukan itu, lalu apa lagi yang mereka lakukan? Ya Tuhan, aku benar-benar merasa hatiku dirajam ribuan jarum melihatnya. Sakit dan perih. Tubuhku seketika lemas karenanya. Kim Myungsoo, aku mulai sadar bahwa tidak seharusnya aku mempercayai namja itu. Aku pun seketika membalikkan badanku, tak sanggup untuk melihat adegan menyakitkan itu lebih lama lagi. Air mataku bahkan sudah tak bisa kubendung lagi. Aku melangkahkan kedua kakiku dengan gontai.

“Jiyeon-a?”

Aku sedikit terkejut mendengarnya. Samar aku mendengar suara langkah kaki Myungsoo mendekatiku. Namun aku tak berniat berhenti melangkah.

“Jiyeon-a..” panggilnya sekali lagi.

Aku semakin sakit mendengarnya. Air mataku mengalir semakin deras. Tanpa menyahuti panggilannya, aku pun langsung berlari begitu saja pergi meninggalkan mereka bahkan tanpa menoleh sedikit pun. Namun tak kusangka ternyata Myungsoo mengejarku. Ia mendapatkan pergelangan tanganku dan menghentikan langkahku.

“Jiyeon-a, wae geurae?” tanyanya kepadaku, membuatku merasa muak karenanya.

“Mwora? Kau bertanya kenapa? Apa aku perlu menjelaskannya padamu, eoh?” balasku dengan butiran air mata yang terus membanjiri kedua pipiku.

“Jiyeon-a, apa kau— melihatnya?”

Aku hanya tersenyum miris mendengar pertanyaannya itu.

“Jiyeon-a, dengar. Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Kami tidak—”

Mwo? Kau ingin bilang kalau kalian tidak berciuman, begitu? Haha lucu sekali, Kim Myungsoo. Aku tahu, aku memang hanyalah selingkuhanmu. Keunde aku juga memiliki perasaan. Selama ini aku selalu menahan rasa cemburuku setiap melihat kemesraan kalian berdua. Apa kau tahu betapa kerasnya aku menahan semua itu, eoh? Kim Myungsoo aku bukanlah sebuah boneka yang bisa kau permainkan sesuka hatimu. Aku bukan sakelar yang bisa kau hidup dan matikan semaumu. Aku ini makhluk bernyawa yang juga memiliki hati dan perasaan. Aku— hiks— aku menyesal sudah mempercayaimu. Aku menyesal sudah mencintaimu— hiks..”

Aku menangis terisak di hadapan Myungsoo. Aku tidak peduli lagi dengan tanggapannya mengenai diriku saat ini. hatiku terlanjur sakit olehnya. Ternyata aku salah dalam mengambil keputusanku. Aku salah karena sudah rela menjadi selingkuhannya selama ini. ini semua salahku.

“Apa rasanya sesakit itu?” kudengar ia berkata yang justru menambah luka batinku.

“Menjadi seorang selingkuhan, apa rasanya sesakit itu?” ulangnya lagi.

Aku tak menjawab melainkan hanya terisak saja.

Mianhae—”

Geumanhae.” potongku. “Aku tak ingin mendengar apapun dari mulutmu. Nan— jal meotaesseo..”.

“Jiyeon-a—”

“Lebih baik kita akhiri saja hubungan ini.”

M-mwo?”

“Kita putus. Mulai sekarang jangan temui aku lagi. Jangan pernah memanggil namaku lagi. Aku tak ingin melihat wajahmu lagi.”

Aku membalikkan tubuhku dengan menutupi wajahku yang berlinangan air mata dan kembali berlari meninggalkan Myungsoo yang terus memanggil-manggil namaku.

Flashback off

.

.

Aku menghembuskan napas panjang untuk yang ke sekian kalinya setiap kali mengingat kejadian tiga hari yang lalu itu. Ya, baru tiga hari dan rasa sakitku benar-benar tak bisa terobati dengan mudah hanya dalam kurun waktu sesingkat itu. Aku hanya bisa melakukan apa yang kubisa. Mencoba melupakan Myungsoo dengan membuang semua hal-hal yang berkaitan dengannya. Aku bahkan harus memalingkan muka saat melihat Yoseob karena walau bagaimanapun juga melihatnya sama halnya dengan mengingatkanku pada Myungsoo. Aku selalu menghindari Myungsoo setiap kali kami tak sengaja bertemu, sama seperti yang kulakukan sebelum kami berdua menjalin hubungan. Walaupun dia selalu berusaha berbicara denganku, aku tak pernah sekalipun mendengarnya. Aku sadar mungkin aku sedikit keterlaluan padanya. Tapi hatiku terlalu sakit mengingat apa yang telah dilakukannya padaku.

Seminggu pun berlalu setelah kejadian menyakitkan itu. Dan Myungsoo tak pernah lagi mencariku atau memintaku agar mau berbicara dengannya. Terus terang ini bahkan terasa lebih menyakitkan bagiku. Kehidupanku benar-benar terasa lain dari sebelumnya. Terasa hampa dan begitu sepi. Seperti ada lubang besar dalam hatiku. Biarpun Krystal acapkali menghiburku namun tetap saja aku merasa kesepian. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa mengobati rasa sakit ini.

Seperti biasa, siang itu aku sengaja tak segera pulang karena ingin menenangkan perasaanku sejenak seorang diri. Kupasang earphone pada kedua telingaku dan kusandarkan tubuhku ke kursi. Aku memang terlihat mendengarkan lagu, tapi pikiranku tetap melayang pada sosok namja yang sudah menghancurkanku itu. Argh! Apa melupakan cinta pertama memang sesulit ini?

Aku memejamkan kedua mataku berusaha menghayati lagu yang kudengarkan hingga beberapa saat kemudian aku merasa seseorang memasuki kelasku. Kubuka kedua mataku dan terkejutlah aku begitu tahu siapa yang datang. Naeun. Dengan segera aku pun melepas earphone-ku. Kulihat yeoja itu menghampiriku dan duduk di depanku. Perasaan sakit itu mendadak muncul lagi saat kulihat dia. Tapi aku berusah bersikap sewajar mungkin padanya.

“Naeun-a? Museun niriseo?” tanyaku.

Gwaenchanha?” ia balik bertanya padaku, membuatku sedikit heran karenanya.

Eoh, geureom. Waeyo?” tanyaku pula.

Geurae? Keunde aku melihat sepertinya Myungsoo tidak tampak baik-baik saja.”

Aku tak menyahut. Dalam hati aku kembali memikirkan namja itu. Apa benar dia tidak baik-baik saja? Aku menunduk, mencoba mendengarkan suara hatiku saat ini. Tapi aku lebih merasa heran dengan sikap Naeun yang tiba-tiba saja membicarakan soal Myungsoo.

“Seharusnya kau memberitahuku sejak awal.” Ucap Naeun lagi, membuatku mengangkat kepalaku dan menatap yeoja tersebut dengan sedikit terkejut.

“Apa kau—” tidak. Naeun tidak mungkin tahu mengenai hubunganku dengan Myungsoo selama ini.

Arra.. Aku tahu kau menjalin hubungan dengan Myungsoo selama ini. waktu itu, saat kau berlari sambil menangis, aku mengikuti kalian berdua. Aku— mendengar pembicaraan kalian.”

“Naeun-a—”

“Kenapa kau tidak memberitahukan saja hal itu padaku sejak awal? Kalau aku tahu, aku pasti akan menjaga jarak dengannya. Kau sudah tahu kan kalau hubunganku dengan Myungsoo hanya pura-pura?”

Aku tak menjawab. Kutundukkan lagi kepalaku. Dalam hati aku sedikit meragukan ucapan Naeun, mengingat kejadian yang kulihat terakhir kali.

“Waktu itu— kami tidak berciuman.” Lanjut Naeun kemudian, membuatku kembali mengangkat wajahku.

M-mwo?” tanyaku.

“Yang kau lihat waktu itu, itu tidak benar. Memang, kami terlihat sedang berciuman. Tapi sebenarnya aku hanya melingkarkan kedua tanganku ke lehernya dan bersikap seolah kami sedang berciuman. Aku melakukannya karena saat itu Taemin sedang mengawasi kami berdua. Aku tidak menyangka kalau rupanya kau juga melihatnya. Mianhae..”

Aku tertegun mendengar penjelasan dari mulut Naeun itu. Tubuhku mendadak lemas seketika. Jadi rupanya begitu kenyataan yang sebenarnya. Mereka tidak benar-benar berciuman melainkan hanya sengaja ingin membuat Taemin cemburu. Dalam hati aku hanya bisa memaki kebodohanku. Aku terlalu terbawa emosi oleh perasaan cemburuku yang berlebihan. Aku bahkan sudah membentak Myungsoo seperti itu. Myungsoo.. Aku mendadak merindukan sosok namja itu di sampingku.

Mian, aku baru menjelaskannya sekarang. Kupikir aku tidak berhak ikut campur masalah kalian berdua. Tapi aku jadi semakin merasa bersalah saat melihat kalian berdua akhir-akhir ini. kalian terlihat kacau, terutama Myungsoo. ia menjadi lebih pendiam dari sebelumnya. Mianhae, Jiyeon-a..” ucap Naeun lagi.

Anni.. Naeun-a, ini bukan kesalahanmu. Nan jal meottaesseo. Na ttaemune. Mianhae, Naeun-a..” ucapku dengan penuh penyesalan.

Naeun tersenyum padaku lalu menggenggam kedua tanganku dengan erat.

“Temuilah Myungsoo, katakan apa yang ingin kau katakan padanya.” Ujarnya.

Aku hanya menggeleng pelan, “Terlambat, Naeun-a. Sepertinya dia sudah menyerah padaku. Ia sudah tak mau bicara denganku lagi. Aku pantas mendapatkannya.”

“Kau akan tahu hasilnya kalau kau mencobanya lebih dulu.” Kata Naeun lagi. Aku menatapnya dengan perasaan bersalah.

Mianhae, aku sudah menempatkanmu dalam kesulitan. Jeongmal mianhae..” ucapku sekali lagi.

Geogjeongma. Kalau maksudmu itu mengenai hubungan kami, kau tak perlu memikirkan hal itu lagi. Aku sudah berakhir dengan Myungsoo. Misi balas dendamku sudah selesai.”

Aku tertegun mendengarnya. “M-mwo?”

“Taemin sudah meminta maaf padaku dan mengakui semua kesalahannya yang terdahulu. Jadi tak ada lagi alasan untukku tetap bersama Myungsoo. lagipula, aku tidak mencintainya. Dia adalah sahabat terbaik untukku.”

Aku terdiam mendengarnya. Jujur aku merasa senang karenanya, tapi aku masih belum yakin mengenai tindakan apa yang harus kulakukan setelah ini.

.

.

Aku menarik napas sepenuh dadaku. Ya, sudah kuputuskan akan kutemui Myungsoo pagi ini. aku sengaja datang ke sekolah lebih awal dari biasanya karena ingin menemui Myungsoo secepat mungkin. Sudah sekitar sepuluh menit aku berdiri menunggunya di bawah anak tangga, namun Myungsoo masih belum terlihat. Aku tak berputus asa. Mungkin saja aku yang datang terlalu pagi sehingga semua terasa begitu lama.

Aku terus menunggu dengan penuh kegelisahan yang menyelimuti hatiku, hingga kemudian akhirnya aku melihat sosok namja yang kunantikan itu muncul, namja yang selalu kurindukan selama ini. Seperti dugaanku, Myungsoo nampak sedikit terkejut saat melihatku dan menghentikan langkahnya sejenak. Kami berdua saling bertatapan sesaat, seolah ingin melepaskan semua kerinduan yang menyiksa kami selama ini. aku bahkan tak bisa menggerakkan lidahku untuk mengatakan sesuatu yang sudah kupersiapkan sebelumnya. Aku hanya mampu berdiri menatapnya yang balas menatapku tanpa sepatah pun ucapan yang keluar dari mulut kami. Namun sesaat kemudian ia kembali melangkah dan berjalan menaiki tangga melewatiku. Aku sedikit terkejut melihatnya. Tak kusangka ia akan mengacuhkanku begitu. Ia pasti merasa kecewa terhadapku.

“Myungsoo-ya..” walaupun dengan bersusah payah, akhirnya aku mampu juga mengeluarkan suaraku.

Kulihat ia berhenti melangkah, namun masih dengan posisi membelakangiku.

Aku menarik napas sepenuh dadaku, mencoba menghirup udara sebanyak mungkin agar aku tak kehabisan napas saat mengatakan ini semua padanya.

Mianhae..”

Dan ternyata hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutku.

Kulihat Myungsoo tak bergeming dan masih saja berdiri membelakangiku. Aku menunduk karenanya.

“Aku tahu, kau pasti merasa kecewa padaku. Aku— aku sudah tahu kebenarannya. Ini semua salahku. Aku— aku terlalu cepat mengambil kesimpulan dan hanya memikirkan perasaanku sendiri. Aku menyesal.. Ini semua salahku. Mianhae, Myungsoo-ya. Jeongmal mianhaeyo..”

Air mataku kembali menitik. Entah kenapa aku jadi sering mudah mengeluarkan air mata akhir-akhir ini. Dan aku benci karenanya.

Arrasseo.. Gwaenchanha. Nado mianhae, Jiyeon-a..”

Aku mendongak mendengar ucapan Myungsoo itu. Tapi aku sedikit kecewa karena ia tak juga membalikkan badannya untuk menghadapku. Ia hanya berkata dengan memunggungiku. Aku merasa sedih karenanya. Apa sebegitu kecewanya ia terhadapku? Aku semakin pilu ketika kulihat ia kembali beranjak dan melanjutkan langkahnya pergi meninggalkanku. Aku kembali menunduk. Sedih. Sakit. Kecewa. Semuanya bercampur menjadi satu. Aku bahkan berharap kami bisa bersama kembali. Tapi ternyata sepertinya harapan itu terlalu tinggi untukku. Myungsoo sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi terhadapku. Kuusap air mataku pelan dengan kedua punggung tanganku, lalu berjalan keluar menuju halaman sekolah. Walaupun aku merasa sangat sakit, aku berusaha sekeras mungkin untuk menerima kenyataan ini. Yah, setidaknya Myungsoo sudah memaafkanku, walaupun mungkin belum sepenuhnya. Aku akan menganggap ini sebagai hukuman sekaligus pelajaran berharga untukku.

Aku berjalan sambil mengeringkan air mataku menggunakan saputangan milikku. Mungkin saat ini aku terlihat begitu menyedihkan di mata orang lain. Tapi aku tak peduli. Aku ingin menjadikan kenanganku bersama Myungsoo sebagai kenangan paling indah dalam hidupku, walau mungkin tak bisa kuulangi lagi. Kutarik napas sepenuh dadaku dan kupasang earphone di kedua telingaku mencoba untuk menenangkan diri. Namun tiba-tiba saja..

PLUK!!

Argh!” aku spontan memegangi kepalaku yang ternyata baru saja terkena lemparan sesuatu. Aku tertegun sejenak saat kulihat sebuah gulungan kertas menggelinding di dekat kakiku. Ini— bukankah ini— Dengan cepat aku pun mendongak ke atas, tepatnya ke lantai dua. Aku terkejut bukan main saat kulihat Myungsoo berada di sana seorang diri. Apa mungkin tadi dia yang melemparkan kertas ini padaku? Kulihat ia menunjuk-nunjuk ke arah gulungan kertas di kakiku itu memberikan isyarat agar aku membukanya. Dengan sedikit ragu sekaligus penasaran aku pun memungut kertas tersebut dan membukanya. Seketika dadaku berdebar keras begitu kubaca tulisan sngkat di dalamnya.

“Ingin makan bubur bersama?”

Hanya sesingkat itu, namun sudah lebih dari cukup memberikan jawaban untukku, sekaligus membuang semua rasa tak enak yang sebelumnya kurasakan. Aku kembali mendongak ke atas. Kulihat Myungsoo tersenyum manis padaku lalu membentuk lambang love menggunakan kedua tangannya di atas kepalanya. Aku tertawa melihatnya.

Kkaja..” ia memberi isyarat padaku agar segera menemuinya.

Aku mengangguk dengan cepat, lalu dengan cepat pula aku berlari kembali masuk untuk menemuinya di atas. Kim Myungsoo.. Rupanya kau masih sama seperti dulu. Aku bahagia sekali karenanya. Rupanya Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku padanya. Myungsoo, aku janji, mulai saat ini aku akan selalu berpikir lebih panjang lagi sebelum menyimpulkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya.

END

Nah, gimana nih? Suka ga? Jangan jadi silent reader dong.. Ayo ayo keluarkan pendapatmu tentang apa yang baru saja kamu baca. Tenang, ga bakal aku apa-apain kok biarpun kalian mengkritik. Geureom, tinggalin jejak yaa 😉

Advertisements

138 responses to “[Oneshot] Affair

  1. Alur ceritanya kecepetan.
    Bahhahaahha disini gak diceritain gmn kenangan myungsoo sama jiyeonnya bahhahaa.
    Jadi nyeseknya kurang dapet heeheheghege.
    But ttp enak kok alurnya.
    😄

  2. sempet sebel juga waktu tau jiyeon eonni mau aja dijdiin selingkuhn. tpi ternyta gag seperti yg diduga. keren. author jjang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s