[Oneshot] Feelings-Special New Year

feelings

Author : Yochi Yang

Title : Feelings

Main Casts : Myungsoo “INFINITE” and Jiyeon “T-ARA”

Other Casts : Just find them at the story

Genre : School Life, Romance, Little bit comedy

Length : Oneshot

Rating : PG-15

“Happy New Year 2014..”

Annyeooong!! Author Yochi bawa FF ringan lagi nih.. FF ini author persembahkan kepada seluruh masyarakat MyungYeon Shippers khususnya Nizzacutteez Eonni yang udah request ke author. Semoga sukaa 😀

.

.

All is Jiyeon’s POV

Aku menekuk wajahku sesampainya di kelas. Dengan kasar aku melempar tasku ke atas meja dan menghempaskan pantatku di atas kursi. Jinjjaa.. Aku benar-benar kesal sekali. Bahkan sepagi ini aku harus disambut dengan kemesraan mereka berdua, Minho dengan Suji. Apa ini karena aku menyukai Minho? Anni. Sama sekali bukan karena itu. Lalu apakah karena aku menyukai Suji? Maaf saja. Aku masih terlalu imut untuk jadi lesbian. Urgh!! Ya, aku kesal karena Suji selalu memamerkan kemesraannya dengan namjachingunya itu setiap kali di depanku. Bukan apa-apa. Hanya saja aku dan dia sudah lama bermusuhan  sejak masuk semester pertama dan selalu bersaing dalam hal apapun. Kami selalu imbang ketika bersaing. Dalam hal kecantikan, kepandaian, materi, semuanya imbang. Ya, walaupun sebenarnya aku satu atau bahkan beratus-ratus tingkat lebih baik darinya, begitu yang dikatakan Eomma dan juga sahabat-sahabatku, kkk. Tapi dari semua hal, hanya satu yang menjadi kekuranganku, yakni dalam hal percintaan. Ya, hingga saat ini aku bahkan belum pernah memiliki seorang namjachingu pun.

“Apa gunanya cantik, pandai, dan kaya. Kalau ternyata tak ada seorang namja pun yang tertarik kepadamu.”

Grrr!! Aku benar-benar emosi setiap kali kata-kata pedas dari mulut Suji itu terngiang di telingaku. Tch.. Ia saja yang tidak tahu kalau sebenarnya banyak sekali namja yang ingin dekat denganku. Hanya saja entah kenapa mereka sama sekali tidak ada keberanian untuk memulai pendekatan denganku.

“Kau itu terlalu menakutkan.” Itulah pernyataan yang sering terlontar dari mulut Myungsoo, sahabatku setiap kali aku meminta pendapatnya kenapa tak ada namja yang berani mendekatiku.

Ah matta! Kim Myungsoo. Aku hampir lupa kalau ia seorang namja, hahaha. Ya, dialah satu-satunya namja yang berani mendekatiku. Bukan karena dia menyukaiku. Sama sekali bukan. Tapi karena dia adalah sahabatku. Dan kami sudah sekitar tiga tahun bersahabat semenjak kami sama-sama masuk semester pertama dulu. Ironis bukan? Mendapatkan musuh dan sahabat di saat yang bersamaan. Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin ucapan Myungsoo ada benarnya juga. Aku memang tidak terlalu peduli dengan namja. Aku bahkan jarang tersenyum dengan mereka walaupun mereka mengajakku tersenyum. Terkesan angkuh dan sombong mungkin bagi mereka. Makanya mereka jadi enggan mengambil langkah awal mendekatiku. Hmmhh.. Malangnya nasibku.

Annyeong, nae yeoja.

Aku agak tersentak mendengar sapaan itu. Aku pun menoleh dan kudapati seorang namja yang baru saja duduk di bangkunya, tepatnya di belakangku. Kim Myungsoo. panjang umur dia. Baru saja aku membicarakannya tadi. Aku nyengir kancil mendengar ucapannya barusan. Nae yeoja?

“Yaa! Sejak kapan aku menjadi yeojamu, eoh?” sengitku.

“Wae? Tidakkah kau merasa senang? Selama ini bahkan belum pernah aku melihat atau mendengar seorang namja yang mengatakan itu padamu. Makanya aku berbaik hati mengatakannya.” Sahut Myungsoo sambil membersihkan lensa kamera DSLR miliknya yang selalu mrnggantung di lehernya itu.

Aku tak menyahut, melainkan kembali menghadap ke depan dan meletakkan kepalaku di atas meja kembali.

“Wae? Apa kau perang dengan Suji lagi?” tanya Myungsoo lagi padaku.

“Anni.. Geunyang, aku merasa kesal setiap kali dia pamer kemesraan dengan Minho padaku.” Ucapku lirih.

Tak kudengar sahutan Myungsoo, tapi aku mendengar suara deritan kursinya menandakan ia bangkit berdiri dari tempatnya. Setelah itu ia pun mendekatiku dan menarik kursi sebelahku kemudian duduk menghadapku.

JPREEETT!!

Kilatan blitz dari lensa kameranya itu mengejutkanku dan spontan membuatku mengangkat kepala.

“Yaa!! Kenapa kau memotretku?” protesku.

Myungsoo tak menjawab melainkan memperlihatkan hasil jepretannya tadi kepadaku.

“Mwoya?” tanyaku tak mengerti.

“Apa kau tidak sadar kalau wajahmu terlihat sangat jelek saat seperti itu, eoh?” katanya yang seketika membuatku tanpa sadar membuka mulutku karena tertegun. Dia benar. Rupaku jelek sekali saat aku sedang kesal begitu. Myungsoo mengambil kameranya kembali dari tanganku.

“Geuraesseo.. Jangan tunjukkan wajah seperti itu lagi, atau kau benar-benar takkan pernah mendapatkan namjachingu sama sekali.” Lanjut Myungsoo.

“Yaa!!” bentakku kesal.

I bwa! Tto! Tto!!” kata Myungsoo sambil menunjuk mukaku berkali-kali.

Aku pun kembali memasang muka datar.

“Keunde, aku benar-benar iri dengan Suji. Bagaimana dia bisa mendapatkan namjachingu setampan itu sementara aku tidak?” aku kembali mengeluh.

“Apa kau menyukai Minho?”

M-mwo? Aish! tentu saja tidak.”

“Lalu kenapa kau marah dan kesal? Mereka berkencan itu sudah menjadi urusan mereka sendiri. Untuk apa kau memikirkan urusan mereka?”

“Geurigo, aku ingin memiliki namjachingu juga. Kau tahu, aneh rasanya tidak pernah memiliki namjachingu di usiaku yang sekarang ini. Apa memang aku kurang menarik? Apa aku harus merubah penampilanku? Myungsoo, sebagai seorang yeoja apa aku kurang cantik bagimu, eoh?” aku pun mendekatkan wajahku pada Myungsoo meminta pendapatnya.

Namun Myungsoo tampak terkejut dan seketika mundur saat aku mendekatkan wajahku padanya yang secara tiba-tiba itu.

“Wae? Apa aku tidak menarik? Kenapa kau menghindar?” tanyaku sedikit kecewa.

A-anniya.. Geurohke anniya..” katanya dengan cepat.

Keunde wae?”

Myungsoo hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaanku. Aku mendesah kesal dan kembali meletakkan kepalaku seperti semula membelakanginya.

“Kau tidak perlu merubah apapun pada penampilanmu.” Kata Myungsoo beberapa saat kemudian.

Aku tak menjawab, namun aku mengharapkan Myungsoo menambahkan beberapa kalimat lagi dalam ucapannya. Seperti “Biarpun kau merasa buruk, tapi kau sebenarnya cantik.” Atau setidaknya, “Biarpun kau tidak cantik tapi kau memiliki hati yang baik seperti malaikat.”

Namun sudah beberapa saat lamanya aku menunggu, aku tak mendengar apapun lagi dari mulutnya. Karena penasaran, aku pun mengangkat kepalaku dan menoleh. Namun alangkah jengkelnya aku saat itu juga karena rupanya namja itu sudah tak ada lagi di tempatnya.

“KIM MYUNGSOOOO!! DI MANA KAUUU???” teriakku pula dengan kesal.

_

Dengan gemas aku melangkah keluar dari kelas untuk mencari namja menyebalkan itu. Aish! bisa-bisanya dia pergi begitu saja setelah mengatakan hal seirit itu. Aku mencarinya kemana-mana namun bukan dia yang kutemukan melainkan malah yeoja menyebalkan yang beberapa saat yang lalu sudah membuatku sebal tengah bergandengan mesra dengan Minho.

Ah chagiya. Kita jadi pergi melihat pesta kembang api kan malam tahun baru nanti?” katanya dengan suara yang sengaja dikeraskan agar aku bisa mendengarnya.

“Tentu saja. Kita pasti akan pergi kemanapun kau mau.” Sial. Kenapa Minho malah menanggapinya? Aish! apa dia tidak sadar kalau Suji hanya bermaksud ingin memanasiku saja?

Aaa gomawo chagiya.. Aku sudah tidak sabar menantikan malam istimewa itu..”

Grr.. Aku semakin geram saja saat melihat yeoja itu menyandarkan kepalanya di bahu Minho. Dasar tukang pamer. Tapi bukankah malam perayaan Tahun Baru masih lama? Natal saja belum. Kenapa mereka sudah membahasnya? Haha.. Kelihatan sekali kalau mereka hanya pamer. Tch.. Jinjja.. Tapi baiklah, jujur aku memang merasa panas.

Tanpa berniat ingin mendengarkan ocehan mereka lebih lanjut lagi, aku pun kembali beranjak untuk mencari Myungsoo. Aku melangkahkan kakiku mengitari seluruh area kampus hingga akhirnya aku melihat namja itu tengah asyik jeprat jepret di taman. Aku bermaksud mendekat untuk memukulnya, tapi niatku urung ketika aku sadar siapa yang menjadi object jepretannya itu. Krystal? Mwoya? Myungsoo memotret Krystal? Aku mengerutkan kening dan memicingkan kedua mataku saat aku melihatnya tersenyum-senyum ketika melihat hasil jepretannya. Dan entah kenapa aku mendadak iri melihatnya. Aish! Apa jangan-jangan dia menyukai yeoja itu?

“Yaa! Kim Myungsoo!” panggilku sambil berjalan mendekat ke arahnya.

Myungsoo tampak sedikit terkejut dan menoleh, namun setelahnya ia kembali fokus pada kamera di tangannya.

“Wae?” tanyanya datar bahkan terkesan cuek sembari kedua matanya yang masih lekat menatap kameranya.

“Yaa.. Apa kau.. Baru saja memotret Krystal?” tanyaku mencoba memastikan.

“Eoh..” sahutnya singkat. Aish! Rupanya memang benar.

“Geuge.. Apa kau.. Diam-diam menyukainya?” tanyaku lagi.

Myungsoo menghentikan gerakan tangannya sejenak lalu menatapku dengan tatapan aneh.

W-wae?” tanyaku heran.

“Apa kau cemburu?” tanyanya kemudian yang seketika membuatku terbatuk.

M-mwo? Hahaha michyeosseo? Tentu saja tidak. Aku— hanya penasaran. Itu saja.” Kataku dengan sedikit gugup—mwo? Gugup? Naega wae?

Myungsoo tersenyum kecil lalu kembali menatap kameranya.

“Kupikir kau merasa cemburu dan berpikir kalau aku selangkah lebih maju darimu sementara kau bahkan belum menemukan target.” Katanya lagi.

Mwo? Jadi maksudnya tadi ‘cemburu’ yang seperti itu? Aish! aku bahkan tadi berpikir macam-macam. Ayolah, Jiyeon. Myungsoo itu sahabatmu.

Myungsoo kembali membidikkan kameranya ke arah Krystal berada. Aish! Apa sekarang dia mulai mengabaikan sahabatnya demi yeoja yang disukainya?

“Yeppeuda.” Katanya sambil tersenyum saat kembali memeriksa hasil jepretannya. Dan entah kenapa aku merasa ada sesuatu seperti api yang membakar tubuhku saat melihatnya.

“Ah, kenapa kau menemuiku? Apa ada sesuatu untukku? Eoh! Apa itu untukku? Gom—“ kata Myungsoo hendak mengambil lolipop dari saku jaketku namun secepat kilat aku menjauhkannya.

“Anni! Ini bukan untukmu.” Potongku cepat. Lalu tanpa menunggu jawaban darinya, aku segera berbalik dan beranjak pergi meninggalkannya.

Aish! kenapa aku seperti ini? Apa karena aku memang cemburu karena dia sudah mendapatkan yeoja yang disukainya sementara aku masih belum? Astaga.. Kalau sudah begini pasti aku akan sendirian karena Myungsoo sebentar lagi memiliki yeojachingu. Argh!! Menyebalkan! Aku pun meremas rambutku dengan kesal. Bahkan lebih kesal dibanding saat melihat kemesraan Suji dengan Minho.

Hari demi hari terus berjalan seperti biasa. Hanya saja hubungan antara aku dengan Myungsoo yang berubah menjadi kurang biasa. Baiklah, sebenarnya akulah yang memulai ketidak biasaan ini. Entah kenapa setiap melihat namja itu aku seperti merasa ada sesuatu yang ingin meledak dari dalam dadaku semenjak kejadian di taman waktu itu. Dan mungkin karena ia merasa sikapku padanya berubah, ia pun jadi jarang menemuiku atau bahkan hanya sekedar menghubungiku. Aigoo.. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku jadi sensitif begitu padanya. Tapi aku yakin itu semua karena sebenarnya aku tidak ingin dia memiliki yeojachingu karena aku belum memiliki namjachingu. Memang aku masih belum mendengar kabar kalau dia sudah berkencan dengan Krystal. Kendati begitu aku masih sering memergokinya tengah memotret Krystal secara diam-diam seperti yang biasa dilakukannya. Apa dia tidak berani mengungkapkan perasaannya pada Krystal dan hanya berani mengamatinya dari jauh saja? Ahh, aku tidak percaya kalau nyali Myungsoo seciut itu. Atau jangan-jangan karena dia sengaja ingin mengulur waktu dan memberiku kesempatan untuk mencari namjachingu agar level kami seimbang? Aish! Molla!

Hubungan kami menjadi sedikit renggang sejak saat itu hingga Natal pun akhirnya tiba. Tak banyak yang kulakukan saat Natal tiba. Aku hanya melakukan sesuatu yang biasanya kulakukan setiap kali Natal tiba. Kalau biasanya aku menghabiskan waktuku bersama Myungsoo, saat ini aku hanya menghabiskan waktuku bersama keluargaku saja. Mereka bahkan heran karena aku sudah jarang keluar bersama Myungsoo. dan setiap kali mereka bertanya, aku hanya menjawab kalau Myungsoo sudah punya yeojachingu dan sibuk berkencan. Haha kelihatan sekali memang kalau aku sedang ‘cemburu’.

Malam itu aku sengaja keluar sekedar ingin menenangkan pikiranku sejenak. Terus terang aku merasa kesepian tanpa adanya Myungsoo di sampingku. Dan aku mulai menyesal sudah mengabaikannya akhir-akhir ini. Hahh kenapa aku bisa menjadi sebodoh ini? Menyia-nyiakan sahabat seperti dirinya. Dengan ragu aku merogoh saku mantelku untuk mengambil ponselku. Aku mencari-cari sesuatu di sana. Nomor Myungsoo. Ya Tuhan, entah kenapa aku tiba-tiba merindukannya. Tak bisakah aku melepas rinduku walau hanya dengan mendengar suaranya saja? Hufh! Menjadi egois itu ternyata memang tidak enak. Baiklah, Myungsoo. aku berjanji tidak akan menjadi egois lagi mulai sekarang. Ya, aku akan menghubungi Myungsoo dan meminta maaf atas sikapku akhir-akhir ini padanya.

Aigoo.. Ige nuguya?”

Aku mengurungkan niatku saat mendengar suara itu. Suhu di sekitarku yang sudah terasa dingin semakin membeku saat kulihat sosok yeoja menyebalkan itu di hadapanku. Namun anehnya ia hanya seorang diri. Tak ada Minho di sampingnya.

“Wae? Apa kau sedang putus asa? Kau tidak berencana ingin bunuh diri, kan?” katanya lagi.

Aish! yeoja ini selalu saja memancing emosiku.

“Pergilah. Aku sedang malas berdebat. Ada sesuatu yang lebih penting yang harus kulakukan.” Kataku, lalu berjalan melewatinya.

“Di mana sahabat namjamu itu? Apa dia juga meninggalkanmu karena sudah merasa ilfeel denganmu, eoh?”

Aku kembali menghentikan langkahku saat mendengar ucapannya itu. Kutarik napas panjang mencoba bersabar. Setelah itu aku kembali berbalik menghadapnya.

“Aku di sini. Wae? Kau tidak bermaksud berpaling padaku karena kau putus dengan Minho, kan?”

Aku terkejut mendengarnya. Tahu-tahu seseorang muncul dan langsung merangkul pundakku. Aku menoleh padanya. Mwo? Myungsoo? Sejak kapan dia ada di sini?

“Annyeong.” katanya kemudian padaku sambil tersenyum.

Eo-eoh..” aku hanya menyahut dengan ragu sambil mengangguk karena masih tak percaya dengan penglihatanku.

Myungsoo kembali beralih pada Suji, masih dengan lengannya yang melingkar di bahuku.

“Di mana namjachingumu? Apa kau sudah dicampakkan olehnya?” tanyanya pula pada Suji.

Suji hanya tersenyum mengejek, lalu menjawab, “Anni. Sebentar lagi dia datang. Ganda.” katanya, lalu berbalik dan pergi begitu saja meninggalkan kami.

Aku masih terpaku di tempat. Kutatap Myungsoo yang masih berdiri di sampingku.

A-ahh.. Gwaenchanha?” tanyanya kemudian sambil melepaskan lengannya dari bahuku.

Aku tak menjawab, melainkan masih saja menatapnya. Aigoo.. Ini benar-benar Kim Myungsoo, sahabat yang kurindukan.

M-mian—“

Greb!!

Tanpa ingin mendengar ucapannya lebih lanjut lagi, aku langsung  memeluk pinggang Myungsoo dengan erat. Agak memalukan mungkin. Tapi jinjja.. Aku benar-benar sangat merindukannya hingga aku merasa tidak tahan untuk tidak memeluknya. Myungsoo tak membalas pelukanku, mungkin ia terlalu terkejut karena tindakanku itu. Siapa peduli? Yang jelas aku sangat senang bisa sedekat ini lagi dengannya.

Y-yaa.. Wae geurae? Gwaenchanha?” tanyanya padaku.

Aku melepaskan pelukanku, setelah itu kupukul lengannya berkali-kali.

“Aiyaa!! Aish! Appeuda.. Yaa! Geumanhae.. Kenapa tiba-tiba kau memukulku? Seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku sudah menyelamatkanmu dari Suji.” Katanya dengan tampang kesalnya.

“Nappeuneun.. Kenapa kau tidak pernah menghubungiku? Kau tahu, aku sangat merindukanmu. Nappeun namja..” omelku padanya.

Aku pikir dia menyesal dan akan meminta maaf setelah mendengar ucapanku itu. Namun ternyata dia malah tertawa.

“Yaa!! Kenapa kau tertawa?” bentakku kesal.

Ohmo.. Mwoya? Kau merindukanku? Jinjja? Aigoo.. Aku bahkan berpikir kalau kaulah yang sudah tak mau berteman denganku lagi.” Katanya sambil tertawa.

Aku hanya mempoutkan mulutku dengan kesal tanpa menjawab.

Myungsoo menghentikan tawanya sejenak lalu berkata,

“Mian.. Aku bukannya tidak mau menghubungimu. Keunde aku takut kalau aku menghubungimu kau akan marah padaku. Bukankah kau sendiri yang mulai bersikap aneh dan mulai menghindariku?” katanya.

Aku tertegun sejenak. Benar juga katanya. Semua itu kan aku yang memulai. Hmm.. Tapi tetap saja kalau aku seperti itu pun karena dia juga. Aish! kenapa aku mulai lagi? Ingat, Jiyeon kau sudah berjanji tidak akan menjadi egois lagi!

Arrasseo.. Mian—“

Chup~

Ucapanku terhenti seketika digantikan dengan wajahku yang mendadak menjadi panas. Astaga! Myungsoo.. Apa dia baru saja mencium pipiku? Tanpa sadar aku menyentuh pipi kiriku yang terasa menghangat.

“K-kau—“

Merry Christmas, Park Jiyeon. Itu tadi hadiah dari sahabatmu yang paling tampan sedunia.” Katanya sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.

Glekk!! Aku tersedak ludah dibuatnya.

“Kkaja! Sebagai balasannya, traktir aku makan bulgogi.” Lanjutnya lagi.

Belum sempat aku menjawab, Myungsoo sudah berbalik dan beranjak mendahuluiku.

Dug! Dug! Dug! Astaga! Apa ini? Kenapa dengan jantungku? Kyaa.. Apa aku terkena serangan jantung? Ohmo.. Siapa saja tolong aku.. Aku ingin pingsan.

“Yaa!! Kim Myungsoo!! jamkkanman!!”

Aku pun berlari menyusul Myungsoo dengan perasaan aneh yang menyelimuti hatiku. Jinjja.. Aku ingin tahu apa ini.

Aku menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur dengan perasaan bahagia. Mwoya? Apa aku bahagia karena sahabatku sudah kembali? Atau aku bahagia karena hal lain? Perlahan aku kembali menyentuh pipi kiriku. Bahkan sampai saat ini aku masih bisa merasakan hangat di sana. Jantungku kembali berdebar-debar. Ya Tuhan! Aku pasti sudah gila. Kenapa aku seperti ini? Walaupun ini ciuman pertama yang kuterima dari seorang namja, tapi ini ciuman dari seorang sahabat dan tidak lebih. Aku tidak boleh berpikiran macam-macam. Tapi kenapa jantung ini ribut sekalii? Argh! Jangan-jangan aku.. Aku diam-diam menyukai Myungsoo? Aaa andwae! Maldo andwae! Myungsoo itu sahabatku, dan aku tidak mungkin menyukai sahabatku sendiri. Sekalipun aku menyukainya, itu tetap tidak mungkin, karena bahkan Myungsoo kini sudah memiliki yeoja yang disukainya. Keunde, bukankah perasaan suka itu berhak dimiliki siapapun? Tak ada yang bisa melarang ataupun memaksakan rasa suka pada seseorang. Walaupun itu kepada sahabat, apa memiliki perasaan suka itu dilarang? Huaaa aku bingung.. Jinjja.. Jinjja.. Jinjja.. Apa benar aku menyukai Myungsoo? Ya Tuhan.. Eottokhe? Tamatlah riwayatku sekarang..

Noonaa!! Ireonaaa!!

Brakk! Brakk! Brakk!

Aku membuka kedua mataku perlahan-lahan mendengarnya. Aish! Anak itu selalu saja menggangguku setiap pagi.

“Noonaa!!”

Aku diam saja tak menghiraukan dongsaengku itu. Masa bodoh. Ini masih liburan Natal dan musim dingin jadi tak ada salahnya aku tidur sampai siang. Toh orangtuaku juga sedang tidak ada di rumah.

“Noona!! Ada Hyung!!”

Aku seketika membelalak mendengar ucapan terakhirnya itu. Aku tidak punya Oppa. Tapi aku tahu pasti siapa yang dimaksudnya itu. Pasti Myungsoo. karena biasanya memang begitu. Tak ada namja lain yang berani datang ke rumahku selain Myungsoo. dengan cepat aku menendang selimut yang semula menutupi tubuhku itu dan bergegas turun dari ranjang.

“Jibin! Suruh Hyung menunggu di depan. Jangan biarkan dia masukk!!” teriakku pada dongsaengku sambil bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

30 minutes later..

“Yaa.. Kenapa kau lama sekali? Aku hampir menjamur menunggumu sejak tadi.” Omel Myungsoo begitu aku menemuinya di depan.

“Mian.. Aku tadi kehilangan sikat gigiku..” Kataku beralasan. Padahal aku tadi berlama-lama di dalam karena sedang bingung dan sibuk berdoa agar aku tak merasa gugup saat di depan Myungsoo.

“Mwoya? Bukankah sikat gigi milik Noona ada banyak? Kenapa bisa hilang? Apa hilang semuanya?” celetuk Jibin yang seketika membuatku mendelik dan memberikan isyarat padanya agar segera masuk.

“Arrasseo..” sahut Jibin sambil berlalu masuk ke dalam rumah setelah sempat menjulurkan lidahnya padaku.

“Keunde Myungsoo.. Kenapa kau datang sepagi ini?” tanyaku pada Myungsoo mencoba bersikap sewajar mungkin. Aish! Merepotkan.

“Aku ingin kau menemaniku mencari object baru untuk jepretanku. Geurido, ini sudah bukan pagi lagi. Apa kau mengigau?” katanya.

Aku hanya nyengir mendengarnya. Kulirik kamera DSLR yang menggantung di lehernya itu. Entah kenapa setiap kali melihat benda itu aku jadi teringat pada Krystal. Dan harus kuakui aku masih merasa tak enak karenanya.

“Wae? Kenapa kau menatap kameraku seperti itu? Kau tak bermaksud ingin memilikinya, kan?” tanyanya tiba-tiba padaku.

“Mwo? A-anniya.. Aku tidak tertarik. Kkaja.” Ajakku pula sambil berdiri. Myungsoo mengikutiku.

Kami berdua berjalan beriringan menyusuri jalan. Di sepanjang jalan masih ada beberapa orang-orang dan anak kecil yang berkeliaran dengan suasana natal. Sementara Myungsoo sudah mulai menjepret sana-sini. Terus terang sebenarnya aku ingin sekali bertanya pada Myungsoo mengenai Krystal. Tapi entah kenapa aku sama sekali tak ada keberanian untuk menyinggung hal itu. Bagaimana kalau Myungsoo curiga dan berpikiran macam-macam padaku?

“Geuge.. Apa kau tidak bosan terus-terusan melakukan hobi seperti itu selama ini?” walaupun hanya basa-basi semacam itu akhirnya aku bisa juga membuka percakapan.

“Aku sedang melakukan pekerjaanku.” Sahutnya tanpa mengalihkan pandangannya kepadaku.

“Pekerjaan? Kau.. Bekerja? Keunde, sejak kapan?”

“Eoh.. Aku sudah bekerja menjadi fotografer di galeri foto Infinite semenjak kita tak pernah bertegur sapa. Walaupun masih pemula tapi mereka menyukai hasil foto karyaku. Aku sebenarnya ingin memberitahumu. Tapi kau selalu saja menghindariku setiap kali kita bertemu.”

Aku mengulum senyum mendengarnya. Rupanya aku sudah ketinggalan berita.

Chukkae.. Keunde—“ aku menggantung kalimatku sejenak. Aish! sebenarnya aku ingin bertanya apakah itu alasannya dia memotret Krystal pada waktu itu. Tapi entahlah lidahku terlalu sulit untuk digerakkan.

“Wae? Kenapa tidak dilanjutkan?” tanya Myungsoo pula.

“Geuge— Apa waktu memotret Krystal saat itu juga karena pekerjaanmu di galeri?”

Hmm baiklah, apapun jawaban Myungsoo aku harus siap menerimanya.

Myungsoo tak segera menjawab melainkan menghentikan kegiatannya sejenak dan menoleh menatapku. Sementara aku masih bersabar menunggu jawabannya.

“Anni..” sahutnya kemudian yang seketika membuatku lemas.

Setelah itu ia kembali lagi pada kegiatannya semula. Diam-diam aku menghela napas berat. Rupanya memang benar ia memotret Krystal hanya untuk kepentingan pribadinya, bukan untuk pekerjaannya. Ya Tuhan, kenapa aku mendadak merasa sakit hati?

“Ngomong-ngomong, apa kau punya rencana untuk perayaan malam tahun baru nanti?” tanyanya setelah beberapa saat kemudian.

Aku menarik napas. Sama sekali tak ada semangat untuk merayakan apapun saat hatiku seperti ini.

“Eobseo..” Sahutku.

“Wae? Kau tak ingin pergi melihat pesta kembang api di taman kota?”

“Anni..”

Aku melihat Myungsoo tersenyum simpul di balik kameranya.

“Apa.. Kau akan melihatnya?” tanyaku kemudian. Sungguh aku berharap sekali dia akan mengajakku melihat pesta kembang api bersama, seperti yang biasa kami lakukan setiap malam tahun baru. Tapi sepertinya harapanku kali ini tipis.

“Geureom.. Aku punya rencana besar.”

Aku terdiam. Aku yakin pasti ‘rencana besar’nya itu berkaitan dengan Krystal. Pasti dia hendak mengungkapkan perasaannya pada Krystal. Argh! Haruskah aku lari dan menjerit karena sakit hati? Yaa! Park Jiyeon! sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau seperti ini, huh? Dengan berat dan sedih aku kembali menghembuskan napasku.

Ah, geurigeuna.. Geureom, semoga berhasil. Fighting!” ucapku sambil mengepalkan tanganku padanya dengan berpura-pura tersenyum riang.

Myungsoo hanya tertawa kecil melihatku tanpa menjawab apa-apa. Hmm.. Sepertinya aku akan menangis panjang saat malam tahun baru nanti.

Dec 31st 2013 night..

“Noonaa! Kau yakin tidak ikut melihat pesta kembang api?”

Aku tak menjawab pertanyaan Jibin itu melainkan menutup kedua telingaku menggunakan bantal milikku.

“Jiyeon.. Kau yakin akan tinggal di rumah? kami akan pergi menemani Jibin.” Kali ini kudengar Eomma yang bersuara dari luar pintu kamarku.

Nde, Eomma. Aku sedang tidak enak badan.” Sahutku sekenanya.

“Geureom. Beristirahatlah. Besok pagi kau harus ke dokter.”

“Eoh..”

Sejurus kemudian aku medengar suara langkah kaki Eomma menjauh dari kamarku. Kutarik napas dalam-dalam. Benar kan prediksiku? Aku pasti akan menangis sepanjang malam ini. Apalagi membayangkan Myungsoo yang menyatakan perasaannya pada Krystal di tengah-tengah pesta kembang api. Aarrgghh.. Michyeosseo! Michyeosseo! Aku menendang-nendang selimutku dengan kesal. Aku hampir saja benar-benar akan mengeluarkan air mataku kalau saja ponsel milikku tidak bergetar. Dengan malas kusambar benda kotak itu dan melihat siapa yang mengirim pesan. Aku sedikit terkejut saat melihatnya. Myungsoo? Dengan menahan napas aku membuka pesan darinya.

          “Kau di rumah?”

Aku menarik napas panjang saat membacanya. Dengan sedikit malas kuketik balasan untuknya.

          “Ne. Aku sedang tidak enak badan.”

Beberapa saat kemudian aku menerima balasan darinya lagi.

          “Jinjja? Ah, kalau begitu sepertinya aku harus kembali pulang. Sampai nanti.”

Aku mengerutkan keningku. Mwoya? Apa maksudnya? Kembali pulang? Tiba-tiba aku tersentak. Jangan-jangan— Dengan cepat aku pun bangkit dan segera turun dari ranjang. Setelah menyambar mantel milikku, aku berlari ke bawah dan membuka pintu depan. Aku menuju halaman rumah dengan setengah berlari. Kubuka pagar rumahku dan kulihat sekelilingku. Namun aku tak melihat ada Myungsoo di luar sana.

“Kau terlihat sangat sehat untuk ukuran orang sakit.”

Aku terkejut mendengar ucapan itu dan dengan cepat menoleh. Tahu-tahu di belakangku sudah ada sosok namja yang sudah membuatku kacau akhir-akhir ini.

“K-kau.. Bagaimana kau bisa masuk? Apa kau memanjat pagar rumah?” tanyaku keheranan.

“Aku sudah di sini sejak tadi. Orangtuamu yang membuka pintu pagar untukku.” Sahutnya datar.

Ah.. Geurigeuna..” sahutku. Entah kenapa tapi aku merasa perasaanku mendadak bercampur aduk hingga bahkan aku sendiri pun tak tahu pasti apa itu.

“Kkaja!” katanya tiba-tiba.

“Eodi?”

“Tentu saja melihat pesta kembang api. Shireo?”

Ah, geuge—“

“Wae?”

“Keunde bukankah kau—“ Aish! Eottokhe? Apa aku harus mengatakan soal ‘rencana besar’nya itu?

“—tentang ‘rencana besar’mu itu. Bukankah kau akan melakukannya malam ini?” baiklah, aku sudah sampai sejauh ini. Toh hasil akhirnya akan sama saja.

“Aahh.. Ne. Aku akan melakukannya nanti.” Sahut Myungsoo sambil tersenyum penuh arti.

Argh! Sial sekali kau Park Jiyeon.

“Kkaja! Nanti kita terlambat. Di taman kota sudah penuh sesak oleh orang-orang.” Katanya lagi.

“Keunde.. Pakaianku—“

“Dwaesseo. Takkan ada yang memperhatikannya. Kkaja.”

Tak ada yang bisa kulakukan kecuali menurut saja. Tamatlah kau Park Jiyeon. sebentar lagi kau akan terlihat mengenaskan di depan mata Kim Myungsoo.

“Kenapa kita di sini? Apa kita tidak ikut kesana?” tanyaku heran karena Myungsoo lebih memilih tempat yang sedikit lebih lengang dan jauh dari kerumunan orang-orang.

“Aku tidak suka berdesakan. Lagipula kembang apinya juga pasti bisa terlihat dari sini. Selain itu kita juga masih bisa menikmati semua pertunjukkan dari sini.” Kata Myungsoo.

Aku tak menyahut. Aku yakin saat ini ia tengah menunggu Krystal.

“Apa.. Kau sedang menunggu seseorang?” tanyaku pula dengan was-was.

Geurae.. Keunde eottokhe arra?” ia balik bertanya padaku.

Aku hanya tersenyum kecut. Tentu saja aku tahu, bodoh. Bukankah kau bilang kau akan melaksanakan ‘rencana besar’mu itu? Lalu kenapa juga ia harus mengajakku? Apa aku akan dijadikan sebagai saksi hidup atas pernyataan perasaannya pada Krystal? Aish! Maldo andwae! Apa dia ingin melihat aku menangis kejer (?) di depannya? Aku terus mencari cara agar aku bisa lepas darinya, namun aku mendadak tertarik pada sesuatu yang terlihat di balik mantelnya.

“Kau membawa sesuatu?” tanyaku penasaran.

Ahh, ne..”sahutnya pendek.

“Mwonde?”

“Apa kau ingin tahu?”

“Eoh..”

Myungsoo pun mengeluarkan sesuatu dari balik mantelnya yang ternyata itu adalah sebuah amplop cokelat.

“Lihatlah sendiri.” Katanya sambil menyerahkan amplop itu kepadaku.

Dengan ragu sekaligus penasaran aku pun menerimanya dan mulai membuka amplop tersebut. Namun seketika jantungku seperti berhenti berdetak saat itu juga. Rupanya amplop itu berisi foto-foto hasil cetakan bergambar Krystal yang diambilnya selama ini.

Eotte? Yeppeuji?” tanyanya.

Sakit. Itulah yang kurasakan saat itu. Bahkan jika saat itu ada seekor kalajengking yang menyengatku pun aku jamin aku takkan bisa merasakannya.

“Eoh..” Aku hanya mengangguk saja dengan setengah hati.

“Tentu saja. Semua orang mengakui kalau hasil jepretanku itu nomor satu.” Katanya lagi.

Aku tak menjawab. Dengan menyedihkannya aku memasukkan kembali foto-foto Krystal ke dalam amplop. Aku yakin semua foto ini akan diberikannya pada Krytal sebagai tanda cintanya pada yeoja itu.

“Jeogi.. Myungsoo.. Sepertinya aku benar-benar tidak enak badan. Aku.. Aku harus pulang.” Kataku sambil menyerahkan amplopnya kembali.

“Wae? Kau tidak terlihat sakit. Tunggulah sebentar lagi. Menara bel Bosingak sebentar lagi dibunyikan dan pesta kembang api akan segera dimulai. Apa kau akan melewatkannya begitu saja?”

Aku terdiam. Sebenarnya aku ingin sekali melihat itu semua. Tapi mana mungkin dengan keadaan hatiku yang mengenaskan seperti ini?

“Myungsoo!”

Aku menoleh mendengar suara itu. Tampak olehku seorang namja yang kukenal tengah berjalan mendekat. Kang Minhyuk.

“Eoh, Minhyuk. Wasseo?” sambut Myungsoo pula.

Eoh.. Eotte? Apa kau membawanya?” tanya Minhyuk pula.

“Geureom. Kau pasti akan terkejut saat melihat hasilnya.”

“Jeongmal? Yaa.. Aku tahu kau memang bisa diandalkan.”

Myungsoo hanya tertawa kecil lalu menyerahkan amplop cokelat berisi foto-foto Krystal tadi pada Minhyuk. Aku tertegun heran melihatnya. Mwoya? Kenapa Myungsoo memberikannya pada Minhyuk?

“Eoh! Jiyeon, kalian datang bersama?” kata Minhyuk kemudian padaku.

“Eoh..” hanya itu yang bisa kukatakan.

“Wah.. Sepertinya akan menarik. Yeogi. Untukmu. Gomawo.. Geurido, fighting, ne?” kata Minhyuk lagi pada Myungsoo sambil menyerahkan sejumlah uang pada namja itu. setelah itu ia pun beranjak pergi setelah melambaikan tangannya padaku.

“Mwoya? Kenapa.. kau menyerahkannya pada Minhyuk? Dan juga uang itu—“

“Wae? Kau pikir aku hanya bekerja di galeri saja? Aku juga menerima job dari orang-orang yang membutuhkan keterampilanku.”

Aku masih tertegun, masih belum sepenuhnya mengerti.

“Minhyuk sudah lama menyukai Krystal. Jadi dia memintaku untuk memotretnya secara diam-diam dan menggunakan semua foto itu untuk menyatakan perasaannya pada Krystal.” Myungsoo menjelaskan lebih lanjut padaku.

Aku semakin tertegun mendengarnya. Jadi.. Selama ini dia memotret Krystal bukan karena ia menyukai yeoja itu, melainkan karena Minhyuk yang memintanya. Dan seseorang yang ditunggunya itu adalah Minhyuk? Astaga.. Kenapa aku bodoh sekali?

“Keunde, Jiyeon. Ada sesuatu yang membuatku penasaran.” Kata Myungsoo setelah beberapa saat kemudian.

“Eoh?” tanyaku.

“Waktu itu, kenapa tiba-tiba sikapmu berubah? Kenapa tiba-tiba kau menghindariku?”

Eoh.. Geuge—“ mustahil. Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, bukan? Kalau aku seperti itu karena aku cemburu?

“Seingatku, sikapmu mulai berubah semenjak kau melihatku sedang memotret Krystal. Matji?”

Tamat kau Jiyeon. sekarang apa yang mau kau katakan?

“Apa.. Karena kau cemburu?”

Ehek!! Aku makin tertohok menerima serangan dari Myungsoo itu. Paboya.. Eottokhe? aku menunduk dalam-dalam tak berani menatap Myungsoo sedikitpun. Dari ekor mataku aku melihat namja itu memasukkan tangannya ke dalam mantel miliknya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.

“Yeogi..” katanya sambil menyerahkan sesuatu yang ternyata adalah sebuah amplop cokelat sama seperti yang kulihat sebelumnya tadi.

“Ige.. Mwonde?” tanyaku pula.

“Jangan terkejut. Sebagai seorang sahabat, aku ingin memberitahumu siapa yeoja yang selama ini sudah mencuri hatiku.”

Aku tertegun. Mwo? Yeoja yang sudah mencuri hatinya, ada dalam amplop ini? entah kenapa aku merasa jantungku berdebar-debar. Apa mungkin itu.. Argh! Maldo andwae! Aku tidak boleh berprasangka dulu sebelum membuktikannya. Dengan ragu aku menerima amplop tersebut dan membukanya penuh hati-hati. Begitu aku tahu apa isinya, seketika napasku terhenti sejenak. Jantungku pun rasanya seperti sudah tak berdetak lagi. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat foto seorang yeoja yang sangat kukenal ada di sana. Itu.. Aku..

I-ige—“

“Geurae.. Yeoja itulah yang sudah mencuri hatiku. Kau, Park Jiyeon..”

Ya Tuhan. Apa aku sedang bermimpi? Apa ini artinya Myungsoo menyukaiku? Sumpah demi apa hatiku senang bukan main karenanya. Aku melihat semua foto-foto diriku yang ternyata selama ini diambilnya tanpa sepengetahuanku. Aku tersenyum-senyum sendiri melihat semua ekspresi aneh yang kutunjukkan dalam foto itu. Bahkan saat aku sedang bertengkar dengan Suji pun diambilnya juga. Jinjja.. Jadi ini ‘rencana besar’ yang dimaksud Myungsoo?

Di saat aku masih asyik cengar-cengir tidak jelas, tiba-tiba saja Myungsoo mengambil kedua tanganku, sehingga membuatku mau tak mau harus duduk berhadapan dengannya. Ia menatapku lekat, dan ini sama sekali tak pernah dilakukannya padaku sebelumnya. Ia menatapku penuh arti dan terpancar ketulusan dari kedua sorot matanya yang amat kukagumi.

“Mianhae, karena sudah merusak persahabatan kita.” Katanya kemudian.

Aku tak menjawab, karena memang tidak tahu harus menjawab apa. Apa aku harus marah dan memukulnya karena ia sudah merusak persahabatan kami berdua? Atau aku justru senang karena ternyata perasaanku terbalaskan? Mwo? Tunggu dulu! Apa maksudku aku memang menyukai Myungsoo? Yah, sepertinya memang begitu.

Aku masih sibuk dan bingung memikirkan sesuatu untuk dikatakan, hingga sejurus kemudian tiba-tiba saja Myungsoo mencondongkan wajahnya padaku dan mencium bibirku dengan pelan. Aku terkejut sekali dengan perlakuannya. Walaupun hanya sebentar, namun sudah berhasil membuat separuh nyawaku melayang. Myungsoo tersenyum padaku.

“Itu tadi bukan dari seorang sahabat kepada sahabatnya, melainkan dari seorang namja kepada seorang yeoja. Saranghae, Park Jiyeon.” ucapnya kemudian.

Aku melongo. Ya Tuhan, dadaku berdebar semakin kencang. Myungsoo menyatakan cinta padaku!

N-nado saranghae, Kim Myungsoo..” sahutku pula dengan sedikit gugup.

Sekali lagi Myungsoo tersenyum. Bersamaan dengan itu terdengar bunyi bel dari menara Bosingak dibunyikan, menandakan bahwa tahun ini benar-benar telah berakhir. Setelah itu pesta kembang api pun dimulai. Aku bermaksud hendak melihatnya, namun tiba-tiba saja Myungsoo menarikku dan kembali menempelkan bibirnya pada bibirku untuk yang kedua kalinya. Mula-mula aku terkejut, namun pada akhirnya aku mulai menikmatinya. Myungsoo melumat dan menghisap bibirku sambil sesekali memainkan lidahnya kedalam mulutku. Tak ada yang bisa kulakukan selain membalasnya. Jinjja.. Aku merasa ada ribuan sengatan listrik yang menyerang tubuhku saat itu juga. Ini benar-benar pengalaman pertama yang indah untukku. Kami berdua berciuman diiringi dengan suara ratusan kembang api raksasa yang meluncur ke atas langit sekaligus suara gemuruh sorak sorai warga kota Seoul. Setelah merasa cukup puas —meski sebenarnya belum, kkkk— kami pun melepaskan ciuman kami dan beralih menatap kembang api yang tampak berkilauan di atas langit.

Whoaa.. Yeppeuda..” seruku kagum sambil bertepuk tangan.

Myungsoo tak mau ketinggalan. Ia pun segera mengabadikan moment besar itu menggunakan DSLR miliknya. Aku menatapnya seolah memprotes, “Kenapa kau tidak memotret yang barusan tadi?”

Myungsoo menghentikan kegiatannya sejenak dan menatapku.

Ah, kkaja. Kita ambil foto bersama.” Ajaknya kemudian.

Joha-joha.” Sambutku antusias.

Kami berdua pun segera ambil posisi dengan kembang api sebagai latar belakangnya.

Hana.. Dul.. Set..”

JPREETT!!!

Lensa kamera milik Myungsoo pun membidik ke arah kami berdua dengan poseku yang tersenyum riang sambil menunjukkan dua jari tanganku yang membentuk huruf V, dan Myungsoo yang tanpa memberi aba-aba mencium pipi kananku. Sungguh, ini adalah moment perayaan tahun baru paling indah di sepanjang hidupku. Happy New Year.. ^^

END

Kepanjangan ya? Atau malah alurnya kecepeten? kkkkk apapun itu semoga ff ini tetap bisa menghibur kalian 😉

Btw ada yang ga ngerayain malam tahun baru juga ga kayak author? Kkkk salam beng-beng berasa pity aja deh kalo gitu. Kalo author mah kaga terlalu mikir. Malah pas ff ini dipost author lagi tahlilan di rumah tetangga kkkk 😀

Ya sudahlah, selamat berkomentar dan selamat tahun baru semua.. Untuk siders, hmm ente juga deh.. 🙂

Gomapta dan nantikan kelanjutan Confusion part 2 di akhir pekan nanti (Insya Allah) 😀

Annyeong ^^

Advertisements

128 responses to “[Oneshot] Feelings-Special New Year

  1. Ahh… keren… so sweet… pas awalan udah ngira kalau myung ada perasaan ke jiyeon dan ternyata bener… bener-bener pasangan yang serasi… myungyeon jjang!!!

  2. waaa myungsoo keren banget! sweet banget!!! mau dong ditembak dengan cara myung itu =)) wkwkwk
    suzy kok menyebalkan ya-___- hadooohh

    keren thor keren!!! ini pas kok ga kepanjangan eheheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s