Lost of Memory ( 20 of 20 ) ~ END

 Lost of Memory new

 

  • Author : @Yeondiary
  • Main Cast : Kim Myungsoo (Infinte) , Park Jiyeon (T-ara)
  • Additional Cast :      Choi Minho (Shinee)

Lee Jieun (IU)

Choi Jinri/Sulli (Fx)

Jung Soojung/Krystal (Fx)

Yang Yoseob (2pm)

Jung Eunji ( A Pink)

Park Sanghyun/Cheondung (MBLAQ)

Kim Hyun Joong

Kim Yoo Jin

Yura (Girls Day)

Lee Seung Gi

 

  • Lenght :  Chapter
  • Genre : Romance, Family Story

·         Rating : 15

 

 

Annyeong….!!!

 

Finally…..finally….part akhir….!!!!

Yeeeaaaayyyy….. \^_^/

Nggak tahu mau senang apa sedih setelah FF ini akhirnya mencapai akhirnya.

Bakal kangen ma MyungYeon yang ga akur tapi sebenernya saling sayang. Bakal kangen ma Minho yang sabar banget (ada ya namja yang kayak gitu…baiknya ga ketulungan). Bakal kangen ma Eunji, sahabat yang pengertian.

Ya udahlah…daripada dengerin author yang mulai ngelantur mending langsung dibaca aja deh part final Lost of Memory.

 

 

Happy reading chingu-ah….. J

 

 

           

 

Preview Part 19

 

“nan eottokhe?” ucap Jiyeon lirih. Perlahan air matanya mulai turun membasahi wajah cantiknya.

Minho menatap sedih Jiyeon. Hatinya benar-benar perih melihat yeoja yang ia cintai menangis karena dijodohkan dengannya. Sejak awal Minho memang tak berharap banyak dengan rencana pertunangan yang dirancang oleh halmeoni Jiyeon tetapi melihat bagaimana reaksi Jiyeon saat ini sungguh ia tak menyangka akan melukai hatinya separah ini.

‘Sebesar itu cintamu padanya hingga kau tak bisa melihatku, Jiyeon-ah. Meskipun sejak awal aku tahu kau takkan pernah memberikan tempat dihatimu untukku tapi melihatmu menangis karena harus bersamaku benar-benar membuatku sakit’ batin Minho.

 

 

“Minho oppa, apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Yura khawatir.

“Aku hanya memerlukan bantuannya untuk menemukan seseorang” jawab Minho.

“Nugu?”

“Seseorang yang tak hanya berharga dan berarti untukku tetapi juga untuk Myungsoo baik dimasa lalu bahkan hingga saat ini” ucap Minho dengan pandangan menerawang.

“Apa seseorang itu Jiyeon eonnie?” tanya Yura.

 

 

“Jika kau ingin bertemu dengannya maka berjanjilah untuk tak melakukan hal-hal bodoh lagi. Karena jika kau bersikeras mengakhiri hidupmu maka saat itu juga aku akan menyusulmu tak perduli ke surga atau bahkan ke neraka sekalipun. Aku takkan membiarkanmu sendiri” ucap Myungsoo.

“Wae?”

“Karena akulah alasanmu untuk melakukan hal bodoh itu”

“Apa maksudmu?”

Myungsoo mengeluarkan sebuah kalung yang berbandul ‘J’ dari saku celananya dan menggantungkannya tepat dihadapan Jiyeon.

“Ini….kalung ini….kenapa bisa ada bersamamu? Bukankah kalung ini…..” Jiyeon mengambil kalung yang ada di tangan Myungsoo. Ia teringat saat ia akan meninggalkan keluarga Kim untuk kembali kekeluarganya. Ia memberikan kalung itu pada L, oppanya.

“Ini aku, Jiyeonnie-ah….nan Kim Myungsoo, neo L-oppa” ucap Myungsoo yang menangis dihadapan Jiyeon.

Seketika Jiyeon merasa terkejut dengan pengakuan Myungsoo.

 

 

 

 

Part 20

 

 

“Maldo andwae….jangan bercanda Myungsoo-ah, ppali katakan padaku darimana kau mendapatkan kalung ini?” tanya Jiyeon tak percaya dengan pengakuan Myungsoo.

“Apa kalung itu belum cukup bukti untuk meyakinkanmu jika aku L, Jiyeonnie? Perlukah aku mati dihadapanmu agar kau percaya? Tiga tahun yang lalu aku mengejarmu seperti orang gila. Aku takut kau akan pergi meninggalkanku dan melupakanku. Tanpa memperdulikan apapun aku berusaha menyusulmu ke bandara sampai akhirnya kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan yang membuat semuanya berubah. Tiga tahun, aku tersiksa karena melupakan semua hal yang berharga dalam hidupku, kau, appa dan eomma juga sahabat-sahabatku. Tiga tahun aku hidup sebagai orang lain yang bahkan aku tak pernah menyadarinya” ujar Myungsoo membuat Jiyeon tergugu. Air matanya jatuh perlahan dan tubuhnya seakan lemas mengetahui kenyataan tersebut. Beban yang ada di pundaknya seolah terangkat.

“Oppa….L-oppa….kau benar-benar L-oppa?” isak Jiyeon seraya menyentuh wajah Myungsoo.

“Ne…baby dino-ah” ucap Myungsoo yang juga menyentuh wajah Jiyeon, menghapus air mata yeoja itu kemudian mencium keningnya.

“Kajima…jebal kajima oppa, jangan pernah meninggalkanku lagi…nan bogoshippo, oppa” Jiyeon memeluk tubuh Myungsoo dan namja itu pun membalas pelukan tersebut.

Di tepi danau, Minho menyunggingkan senyumnya, senyuman yang penuh keikhlasan untuk melepaskan cinta pertamanya. Ia merasa tugasnya telah usai. Jiyeon sudah menemukan kebahagiaannya dan sahabatnya yang telah lama hilang juga sudah kembali.

Namun Minho tak ingin terus larut dalam kesedihan hatinya. Meskipun ini adalah akhir dari cinta pertamanya tetapi bukan berarti akhir dari segalanya. Justru sebuah akhir adalah awal untuk memulai sesuatu yang baru, menemukan cinta yang baru.

Minho perlahan menjauh meninggalkan kedua insan yang tengah melepaskan kerinduan masing-masing.

‘Cintaku tak harus memilikimu, Jiyeon-ah. Meskipun sakit melihatmu dengannya keundae melihatmu bahagia bersamanya sudah lebih dari cukup untuk mengobati luka hatiku. Kuharap kalian akan selalu bahagia selamanya dan kini saatnya aku pun harus menemukan kebahagiaanku sendiri’ ucap Minho dalam hati.

 

 

“Jiyeonnie….neo gwaenchana chagi-ah?” tanya Yoo Jin pank ketika Myungsoo membawa Jiyeon ke rumah keluarga Kim dalam keadaan basah kuyup.

“Eomma, bawalah Jiyeon ke kamar untuk mengeringkan tubuhnya. Akan kujelaskan pada kalian nanti” ucap Myungsoo pada eomma dan appanya yang terlihat membutuhkan penjelasan atas apa yang telah terjadi.

“Geurrae, kajja Jiyeonnie” Yoo Jin mengajak Jiyeon masuk ke kamarnya untuk mengeringkan tubuh putri kesayangannya itu.

“L-ah, kau juga gantilah pakaianmu dengan yang lebih kering. Kau masih ingat letak kamarmu, bukan” ucap Hyun Joong menasehati putranya.

Myungsoo mengangguk, “Ne appa”

Seperti yang disuruh oleh appanya, Myungsoo segera menuju kamarnya yang sudah tiga tahun ini ia tinggalkan.

Myungsoo begitu terkejut saat memasuki kamarnya. Pasalnya, tempat itu sama sekali tak berubah sejak tiga tahun yang lalu ia tinggalkan. Tak terasa air mata Myungsoo jatuh begitu saja tanpa diperintah.

“Eomma….appa….gomawo….” ucap Myungsoo lirih.

 

 

Beberapa menit kemudian Myungsoo yang sudah berganti pakaian berniat untuk melihat keadaan Jiyeon. Saat ia berniat untuk mengetuk pintu kamar Jiyeon tiba-tiba pintu kamar tersebut dibuka oleh Yoo Jin, eommanya.

“Kau pasti sangat mengkhawatirkannya. Masuklah L-ah, eomma rasa saat ini yang Jiyeon butuhkan adalah dirimu. Dia….selama tiga tahun ini telah mengalami hari-hari yang berat untuk bisa bertemu denganmu. Dan kau juga pasti sangat merindukannya bukan?” ucap Yoo Jin lembut pada putra tercintanya.

“Mianhae eomma…karena aku telah membuat eomma dan appa bersedih. Aku bahkan membuat Jiyeon hampir kehilangan nyawanya. Mianhae jeongmal mianhae eomma” ucap Myungsoo menunduk dihadapan eommanya.

Yoo Jin menepuk pundak Myungsoo, “Tak ada yang perlu dimaafkan L-ah. Semua yang terjadi adalah takdir yang sudah digariskan sejak awal. Yang terpenting sekarang adalah kau sudah kembali bersama kami dan tak ada hal yang lebih membahagiakan daripada itu” ucap Yoo Jin tersenyum lembut.

“Gomawo eomma….saranghaeyo” Myungsoo memeluk tubuh eommanya.

“Nado saranghaeyo Myungsoo-ah” Yoo Jin menepuk punggung Myungsoo perlahan.

Tanpa ibu dan anak itu sadari, Hyun Joong melihat mereka dari jauh dan tersenyum. Kebahagiaan keluarganya yang dulu sempat hilang kini telah kembali.

 

 

Setelah Myungsoo melepaskan kerinduannya pada wanita yang telah melahirkannya ke dunia, Myungsoo segera memasuki kamar Jiyeon. Ia melihat yeoja yang ia cintai tengah tertidur. Perlahan Myungsoo mendekatinya kemudian duduk disamping ranjang Jiyeon.

Myungsoo memandangi Jiyeon cukup lama, menyadari bahwa yeoja itu terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Ia merasa yeoja yang tengah ia pandangi saat ini pastilah mengalami situasi yang begitu berat. Myungsoo mengulurkan tangannya untuk menyentuh puncak kepala Jiyeon dan membelai perlahan rambut Jiyeon.

“Mianhae Jiyeonnie…..jeongmal mianhae karena aku meninggalkanmu begitu lama. Seandainya saat itu aku lebih percaya padamu dan menunggumu kembali, kecelakaan itu tak perlu terjadi. Aku tak akan kehilangan wajahku, ingatanku dan semua yang berarti untukku” ucap Myungsoo sedih.

“Kau tahu, selama tiga tahun aku merasa asing dengan diriku sendiri. Selama tiga tahun, setiap malam aku selalu bermimpi tentang seseorang. Seseorang yang akhirnya kusadari adalah kau saat aku melihatmu hari itu di kampus. Dan sejak hari itu, kau tak pernah hilang dari pikiranku hingga akhirnya kau benar-benar masuk ke dalam hatiku. Lagi-lagi aku jatuh hati padamu tanpa tahu jika sebelum ini pun hatiku sudah menjadi milikmu” lanjut Myungsoo hingga tak terasa ia meneteskan airmatanya.

Tanpa Myungsoo tahu sebenarnya Jiyeon tak benar-benar tertidur sehingga dia mendengar dengan jelas setiap kata yang meluncur dari bibir Myungsoo dan dia pun menangis dalam diam.

‘L-oppa, mianhae….padahal kau begitu dekat denganku tetapi aku sama sekali tak pernah menyadarinya. Aku bahkan berusaha untuk menyangkalnya karena aku takut….aku takut jika aku mulai membandingkanmu dengan Lee Myungsoo dan akhirnya hatiku akan goyah padamu, oppa’ ucap Jiyeon dalam hati. Air matanya mengalir dari sela-sela matanya yang tertutup.

Myungsoo mendekatkan wajahnya dan mencium kening Jiyeon cukup lama yang menunjukkan betapa ia sangat merindukan yeoja itu dan sangat mencintainya. Tak lama Myungsoo melepaskan ciumannya dan bermaksud untuk keluar agar tak mengganggu Jiyeon yang sedang istirahat namun belum juga Myungsoo beranjak pegi, Jiyeon menyentuh lengan Myungsoo.

Seketika Myungsoo menoleh ke arah Jiyeon yang kini tengah menatapnya dengan wajah yang terlihat sembab.

“Kajima oppa….tetaplah disini…jebal” pinta Jiyeon tampak memelas.

“Geurrae…aku akan tetap disini. Istirahatlah” ucap Myungsoo akhirnya kembali ke tempatnya dan menggenggam tangan Jiyeon begitupun Jiyeon yang menggenggam erat tangan Myungsoo seolah tak ingin namja itu menghilang lagi darinya.

 

 

 

Di tempat lain Jungsoo baru saja mendapat kabar dari Hyun Joong jika kini putrinya berada di kediaman keluarga Kim. Jungsoo turut gembira atas kembalinya Myungsoo dan sedikit lega ketika Hyun Joong mengatakan jika Jiyeon baik-baik saja sekarang, namun satu hal yang membuatnya begitu shock tadi saat Hyun Joong mengatakan jika putrinya berniat bunuh diri.

Sebagai seorang ayah tentu Jungsoo merasa bersalah karena tak bisa melindungi dan membela putrinya dari kediktatoran mertuanya. Rupanya kecemasan Jungsoo ini dirasakan oleh Taeyeon yang melihat nampyeonnya begitu sedih.

“Yeobo, apa yang sedang kau pikirkan? Berbagilah denganku agar beban yang kau pikul tak terlalu berat” ucap Taeyeon pada Jungsoo yang terlihat sedih.

“Chagi-ah, aku benar-benar merasa telah gagal menjadi seorang nampyeon dan seorang appa. Aku tak bisa menjaga dan melindungi keluargaku sendiri” ucap Jungsoo sedih. Ia bahkan menunduk di hadapan Taeyeon.

“Yeobo-ah, angkatlah kepalamu dan tataplah aku” pinta Taeyeon seraya memegang kedua pundak Jungsoo.

Jungsoo mengangkat kepalanya dan menatap wajah Taeyeon yang tersenyum padanya.

“Wae kau mengatakan jika kau gagal menjadi seorang nampyeon dan appa, eoh?” tanya Taeyeon.

“Sejak awal aku hadir dalam kehidupanmu, aku membawa banyak masalah untukmu. Karena aku, kau harus merasakan menjadi seorang pelarian hingga harus kehilangan putri kita hingga bertahun-tahun lamanya. Aku tak mampu membelamu di hadapan eomma. Bahkan aku tak mampu membela putriku sendiri yang bahkan hampir kehilangan nyawanya karena keinginan eomma. Mianhae Taeyeon-ah jeongmal mianhaeyo” ucap Jungsoo yang saat ini seolah kehilangan kewibawaannya. Kini ia lebih terlihat seperti seorang yang rapuh.

“Oppa, kau tak perlu meminta maaf padaku. Aku yang memilih untuk bersamamu dan aku siap atas segala resiko dari pilihan yang kuambil. Bagiku kau adalah nampyeon terbaik dan seorang appa yang terhebat. Kau tak pernah menyerah untukku dan juga putri kita meskipun nae eomma seringkali menyusahkanmu tetapi kau tetap berusaha keras membuktikan pada eomma jika kau yang terbaik untuk kami, aku dan Jiyeon, putri kita” ucap Taeyeon berusaha membesarkan hati Jungsoo.

“Gomawo Taeyeon-ah” ucap Jungsoo memeluk Taeyeon.

Taeyeon tersenyum di dalam pelukan Jungsoo.

“Oppa, kurasa kita benar-benar harus bicara dengan eomma demi Jiyeon, putri kita satu-satunya” ucap Taeyeon setelah Jungsoo melepaskan pelukannya dan dijawab anggukan oleh Jungsoo.

 

 

 

Pagi itu begitu Jiyeon membuka matanya, ia merasakan sesuatu yang hangat menjalar di hatinya ketika melihat Myungsoo duduk disamping tempat tidurnya dan ia tertidur sambil terus memegang tangannya. Jiyeon mengubah posisi tubuhnya yang tadinya tidur kini ia duduk di atas ranjangnya namun dengan gerakan setenang mungkin agar tak membuat Myungsoo terbangun.

Jiyeon terus memandangi wajah Myungsoo, tak jarang ia tersenyum sendiri melihat namja itu. Sungguh tak bisa dipercaya ternyata orang yang selama ini ia cari berada sangat dekat dengannya. Orang yang selalu mengganggunya dengan segala tingkah lakunya untuk menarik perhatiannya ini tak hanya menyita pikirannya tapi juga membuatnya hampir goyah.

“Apa wajahku yang sekarang sangat tampan sampai-sampai kau tak berhenti memandangiku” ucap Myungsoo tiba-tiba mengejutkan Jiyeon, pasalnya namja itu masih menutup matanya dan dalam posisi tertidur sambil memegang tangannya.

“Kau….kau sudah bangun?!” Jiyeon langsung menarik tangannya dari Myungsoo.

Begitu Jiyeon menarik tangannya, Myungsoo membuka matanya kemudian menatap Jiyeon yang terlihat terkejut melihatnya.

“Kau….sejak kapan….?” tanya Jiyeon terbata-bata.

“Sejak kau membuka mata dan terus-menerus memandangiku. Apakah wajahku yang sekarang memang lebih tampan eoh” canda Myungsoo khas Lee Myungsoo seakan tahu apa yang hendak ditanyakan Jiyeon.

“Yaaaa….oppa, kau mengerjaiku” seru Jiyeon memukul Myungsoo dengan bantal.

“Yaaa Park Jiyeon…hajima….kau mau membunuhku, eoh” ucap Myungsoo yang langsung membuat Jiyeon berhenti memukul Myungsoo dengan bantal.

Mendadak wajah Jiyeon terlihat murung dan seperti ingin menangis.

“Jiyeonnie-ah wae? Aku hanya bercanda….mana mungkin sebuah bantal bisa membunuhku….jadi jangan memasang wajah seperti itu” ucap Myungsoo berusaha membujuk Jiyeon.

“Pabo oppa….jeongmal pabboya…..kau pikir bisa membodohiku, eoh. Tentu saja aku tahu sebuah bantal tak akan bisa membunuhmu. Keundae jika kau meninggalkanku lagi, maka aku akan benar-benar membunuhmu kemudian aku juga akan membunuh diriku sendiri” ucap Jiyeon kemudian kembali memukul Myungsoo dengan bantal.

Myungsoo menangkap bantal yang dipegang oleh Jiyeon. Kemudian ia mendekatkan wajahnya pada yeoja itu.

“Sebelum kau berpikir untuk membunuhku, aku akan menjadikanmu milikku lebih dulu” ucap Myungsoo tepat di depan wajah Jiyeon kemudian…..CHU….Myungsoo mencium bibir Jiyeon, membuat yeoja itu diam tak berkutik.

 

 

Atas saran Yoo Jin dan Hyun Joong, Jiyeon dan Myungsoo kini berada di depan pintu rumah keluarga Park. Jiyeon sempat ragu untuk menekan bel pintu rumahnya sendiri. Ia takut bertemu dengan halmeoninya yang akan memaksanya untuk bertunangan dengan Minho. Namun saat ia melihat Myungsoo yang berusaha meyakinkannya akhirnya ia menekan bel itu.

Tak lama seorang pelayan membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Begitu Jiyeon dan Myungsoo masuk ke dalam rumah, ia merasa kalau rumah itu terasa sepi. Biasanya jika ada halmeoni pasti suasana rumah akan heboh karena halmeoni selalu menyuruh-nyuruh para pelayan untuk bekerja ini-itu seolah pelayan itu tak boleh berhenti sedetik pun.

“Agasshi tunggulah sebentar, Tuan dan Nyonya akan segera turun” ucap seorang pelayan.

“Ne”

Pelayan itu pun pergi meninggalkan Jiyeon dan Myungsoo.

Jiyeon terlihat tak tenang namun Myungsoo berusaha menenangkan hati yeoja yang berada disampingnya itu dengan menggenggam tangannya.

“Tenanglah…aku akan selalu bersamamu” ucap Myungsoo lirih meyakinkan Jiyeon.

Beberapa menit kemudian appa dan eomma Jiyeon pun menemui kedua insan yang tengah berharap-harap cemas tersebut.

“Eomma…appa…” panggil Jiyeon kemudian berlari menuju mereka dan memeluk mereka.

“Uri Jiyeon, neo gwaenchana?” tanya Taeyeon.

Jiyeon mengangguk.

“Jiyeon-ah, nugu?” tanya Jungsoo melihat ke arah Myungsoo.

“Oppa….dia Myungsoo, L-oppa. Wajahnya memang berbeda dengan tiga tahun yang lalu saat appa melihatnya. Kecelakaan tiga tahun yang lalu membuat L-oppa harus menjalani operasi pada wajahnya” terang Jiyeon.

Taeyeon dan Jungsoo tersenyum pada Myungsoo dan Myungsoo menunduk, memberi salam pada kedua orang tua Jiyeon.

“Eomma, appa…halmeoni…eodi?” tanya Jiyeon takut-takut.

Taeyeon tersenyum sambil membelai rambut putrinya, “Halmeonimu sepertinya ingin menenangkan dirinya dulu, pagi-pagi sekali halmeonimu kembali ke Amerika” ucap Taeyeon.

“Maksud eomma? Lalu pertunangan itu?’ tanya Jiyeon.

“Tentu saja pertunangan dibatalkan dan kau bisa mendapatkan kebahagiaan yang kau inginkan” ujar Taeyeon.

“Jinjja?” Jiyeon tampak belum percaya dengan yang ia dengar.

“Hanya ini yang bisa appa dan eomma lakukan untukmu. Mengabulkan permohonan ketigamu” ucap Jungsoo.

 

 

Flashback ON

 

 

 Sesaat sebelum penerbangan Jiyeon ke Amerika untuk menemani Taeyeon yang akan menjalani operasi, Jiyeon mengungkapkan permintaan ketiganya pada Jungsoo, appanya.

“Appa, bisakah aku mengatakan permintaan ketigaku sekarang?” tanya Jiyeon.

“Ne chagi, kau bisa mengatakannya sekarang apa permintaan ketigamu” ucap Jungsoo.

“Permintaan ketigaku…Biarkan aku memilih kebahagiaanku sendiri” pinta Jiyeon.

Jungsoo tersenyum dan mengangguk singkat sambil mengelus rambut putrinya. Ia tahu jika putrinya telah memiliki seseorang yang ia cintai dan ia berharap nasib putrinya tak sama dengan nasibnya. Jungsoo menyetujui permintaan Jiyeon.

“Gomawo appa” ucap Jiyeon memeluk tubuh Jungsoo.

 

 

Flashback OFF

 

“Keundae appa….eomma…sebenarnya apa yang terjadi dengan halmeoni? Jiyeon tahu halmeoni bukan orang yang mudah berubah pikiran bahkan Minho oppa yang selalu didengarkan oleh halmeoni tak mampu membujuk halmeoni” tanya Jiyeon bingung.

“Chagi-ah, di dunia ini tak ada satu pun orang tua yang tak ingin melihat anaknya bahagia. Appa dan eomma hanya melakukan apa yang sudah seharusnya kami lakukan sebagai orang tua” ucap Taeyeon membelai rambut putrinya.

 

 

Flashback ON

 

 

 Taeyeon dan Jungsoo berlutut di depan eommanya. Mereka memohon agar eommanya mau membatalkan pertunangan antara Jiyeon dan Minho.

“Apa yang kalian berdua lakukan. Cepat berdiri” perintah eomma Taeyeon.

“Eomma, jebal batalkan pertunangan itu” ucap Taeyeon tak mengindahkan perintah eommanya.

“Tak ada yang bisa mengubah keputusanku. Pertunangan akan tetap dilangsungkan” ucap eomma Taeyeon.

“Eommonim dengan segala kerendahan hati, kami memohon padamu. Demi kebahagiaan Jiyeon, jebal batalkan pertunangan antara Jiyeon dan Minho” ucap Jungsoo.

“Kau sama sekali tak memiliki hak untuk mengatakan pendapatmu disini” ujar eomma Taeyeon.

“Ne….aku tahu aku memang tak memiliki hak untuk bicara disini. Keundae, bagaimanapun Jiyeon putriku. Kami sebagai orang tua Jiyeon tak ingin melihat putri kami terus-menerus bersedih dan tertekan demi ambisi eommonim. Kami hanya ingin melihatnya bahagia dengan pilihan hidupnya sendiri” ucap Jungsoo tegas.

“Tahu apa kau tentang kebahagiaan. Dulu kau bahkan membuat putriku hidup menderita bahkan bertahun-tahun kehilangan putri kalian” ucap eomma Taeyeon

“Eomma….jebal bukalah hati eomma untuk melihat betapa kami saling mencintai dan bahagia meskipun hidup dalam kekurangan. Kami memang bersalah di masa lalu, namun bukankah appa sudah merestui cinta kami tapi mengapa eomma tak juga membuka sedikit saja hati eomma untuk memaafkan kami dan melihat cinta kami. Eomma tahu dengan jelas, jika hanya Jungsoo yang bisa membuatku bahagia. Jungsoo selalu berusaha untuk membahagiakan eomma dengan segala upayanya tetapi eomma tak pernah bisa menghargai apa yang Jungsoo lakukan untuk eomma. Kami selalu diam karena kami selalu merasa bersalah pada eomma karena kematian appa, tetapi untuk kali ini kami tak bisa tinggal diam melihat putri kami satu-satunya harus menanggung dosa dari kesalahan yang pernah kami lakukan. Jebal eomma….jangan buat Jiyeon mengalami nasib seperti kami atau bahkan lebih buruk dari apa yang pernah kami alami, eomma” ucap Taeyeon dengan berlinang air mata dan bersimpuh di kaki eommanya.

Jungsoo mencoba menenangkan Taeyeon.

“Eommonim….pertimbangkan kembali mengenai pertunangan ini. Karena hal ini membuat Jiyeon merasa tertekan sehingga ia berniat untuk menghilangkan nyawanya sendiri” ucap Jungsoo membuat eomma Taeyeon terkejut.

“Jiyeon berusaha bunuh diri?” tanya eomma Taeyeon.

“Ne eomma….beruntung Jiyeon bisa diselamatkan tepat pada waktunya. Jika tidak, mungkin kita akan kehilangan dia untuk selamanya. Bertahun-tahun kita mencarinya, apa hanya karena rencana pertunangan ini eomma rela melihat cucu eomma satu-satunya meninggalkan kita semua?” ucap Taeyeon mencoba untuk melunakkan hati eommanya yang sekeras baja.

Eomma Taeyeon terdiam. Ia tampak terpekur mendengar kata-kata putri dan menantunya. Ia tak pernah menyangka jika Jiyeon, cucunya, akan melakukan hal senekat itu.

Setelah itu Jungsoo dan Taeyeon meninggalkan halmeoni Jiyeon yang tampaknya benar-benar memikirkan semua kata-kata anak dan menantunya tersebut. Wanita  tua yang hatinya sekeras baja itu pun perlahan luluh.

Ia hanya ingin cucunya itu bahagia tetapi cara yang ia lakukan salah sehingga hampir saja ia akan kehilangan cucunya untuk selamanya setelah bertahun-tahun baru ia temukan. Wanita itu pun menitikkan air matanya tanpa seorang pun yang tahu.

 

 

 

Flashback OFF

 

 

 

Jungsoo menghampiri Myungsoo yang tak jauh dari tempat Jiyeon dan eommanya berdiri. Ia menepuk pundak namja itu dan mengatakan sesuatu.

“Myungsoo-ssi, jagalah putriku, Jiyeon. Jangan pernah membuatnya bersedih atau bahkan menangis. Buatlah ia bahagia dan selalu tersenyum karena kami tahu hanya kau yang bisa melakukannya” ucap Jungsoo yang menyerahkan putrinya, Jiyeon, secara simbolis pada namja yang merupakan inti kebahagiaan Jiyeon.

“Ne ahjusshi, aku pasti akan menjaga putrimu dengan baik dan akan selalu membuatnya bahagia” ucap Myungsoo dengan penuh keyakinan.

Tak jauh dari tempat kedua pria itu, Jiyeon dan Teyeon tersenyum ke arah mereka. Akhirnya cinta Myungsoo dan Jiyeon mendapat restu dari kedua orang tua Jiyeon dan untuk halmeoni Jiyeon, sepertinya ia memutuskan untuk tak meneruskan pertunangan tersebut. Tentu ia tak ingin kehilangan cucu yang ia sayangi.

 

 

Myungsoo dan Jiyeon duduk di sebuah batang pohon yang menghadap danau, tempat paling bersejarah bagi mereka. Tempat yang menjadi saksi bisu cinta mereka selama ini.

“Kau sering kemari?” tanya Myungsoo.

“Sesering aku merindukanmu, oppa” jawab Jiyeon sambil tersenyum kemudian memandang jauh ke tengah danau, “Tempat ini selalu mengingatkanku tentangmu, oppa. Aku selalu percaya suatu hari nanti kau pasti akan kembali dan menemukanku di tempat ini” jawab Jiyeon.

Myungsoo berlutut di depan Jiyeon, “Di tempat ini, pertama kalinya aku mengungkapkan perasaanku padamu. Di tempat ini juga aku menemukanmu. Dan hari ini, di tempat ini, aku memintamu untuk selalu disisiku selamanya. Will You Marry Me, my baby dino-ah?” ucap Myungsoo seraya mengulurkan tangannya.

Jiyeon tersenyum. Setitik air mata keluar dari pelupuk matanya. Ia tak mampu menahan rasa harunya mendengar pertanyaan yang dilontarkan Myungsoo.

“Ne oppa” ucap Jiyeon dari bibir manisnya seraya menyambut uluran tangan Myungsoo.

 

 

EPILOG

 

 

Seorang yeoja cantik dengan gaun pengantin yang indah tengah berjalan diatas red carpet  dengan seorang pria paruh baya yang menggandeng tangannya menuju altar dimana namja yang ia cintai tengah menunggunya. Begitu ia sampai di depan altar, pria paruh baya itu menyerahkan tangan putrinya pada namja yang ia percayai untuk menjaga putri yang ia sayangi.

Yeoja yang memakai kalung berbandul ‘J’ itu tersenyum pada namja yang ada disampingnya begitu pun namja itu.

Di belakang mereka, begitu banyak orang yang turut merasakan kebahagiaan pasangan yang akan mengucapkan janji suci.

“Dihadapan Tuhan dan semua orang yang hadir disini, bersediakah kalian mengucapkan janji setia kalian?” tanya pendeta yang ada dihadapan pasangan tersebut.

“Ne” jawab pasangan tersebut.

“Kim Myungsoo, bersediakah kau menerima Park Jiyeon sebagai anaemu? Mencintai dan menyayanginya? Selalu bersama baik dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, hingga akhir usia nanti?” tanya pendeta (ini adegan dan pertanyaannya author ngarang sendiri…jadi mian kalo ada yang ngga sesuai *bow*)

“Aku bersedia” ucap Myungsoo mantap.

Setelah itu pendeta pun menanyakan pertanyaan yang sama pada Jiyeon, si pengantin wanita. Dan tentu saja Jiyeon mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan Myungsoo. Dan akhirnya Park Jiyeon kini telah resmi menjadi Kim Jiyeon.

Begitu acara sakral itu selesai, pasangan yang sedang berbahagia ini langsung diserbu oleh sahabat-sahabat mereka.

“Jiyeonnie….chukkae….” ucap Jieun yang disampingnya berdiri Yoseob.

“Chukkae uri Jiyeon” ucap Krystal yang segera memeluk si pengantin wanita dan disampingnya ada Sanghyun.

“Chukkae Jiyeon-ah, L-ah” ucap Eunji yang tentu saja bersama dengan In Guk.

“Chukkae nae chingu-ah” ucap Minho dan disampingnya berdiri seorang yeoja yang tersenyum manis pada pasangan MyungYeon.

“Myungsoo oppa, Jiyeon eonnie….chukkae” ucap yeoja itu yang tak lain adalah Yura.

“Jeongmal gomawo chingu-ah” ucap Myungsoo dan Jiyeon pada sahabat-sahabat mereka.

Tak jauh dari tempat mereka berdiri, kedua orang tua Myungsoo dan Jiyeon, Hyun Joong-Yoo, Jungsoo-Taeyeon, turut bahagia melihat kebahagiaan anak-anak mereka.

 

‘Kebahagiaan ini seperti mimpi. Dan kuharap mimpi indah ini takkan pernah berakhir sampai disini. Saranghae oppa….nan neomu joahae’ ucap Jiyeon dalam hati ditengah canda tawanya bersama orang-orang yang ia cintai dan sayangi.

‘Kebahagiaan ini akan terus berlanjut. Sampai kapanpun aku takkan melepaskanmu dari sisiku. Sekalipun aku harus kehilangan ingatanku lagi pada akhirnya kau lah tempatku kembali, Jiyeonnie. Saranghae…nan neomu joahae baby dino-ah’ ucap Myungsoo dalam hati.

 

 

 

-END-

 

 

Dan…..akhirnya FF ini End juga setelah sekian lama….. T_T

Gomawo buat readers yang selalu setia menantikan FF ini dan yang udah baca dari awal hingga akhir…..

Mian kalo masih terdapat banyak typo dalam penulisan dan jika pada akhirnya FF ini masih terdapat banyak kekurangan.

Saran dan Kritik dari Readers sangat berharga buat author, karena itu adalah semangat bagi author untuk terus berkarya….GOMAWO READERS *bow*

 

See you again in next FF ^_^

30 responses to “Lost of Memory ( 20 of 20 ) ~ END

  1. yuuhuuuuu happy ending.. akhir’y setelah sekian lama waktu yg myungyeon tempuh dengan susah payah dan membuahkan hasil yg membahagiakan.. mereka berdua akhir’y bisa bersatu dan hidup bahagia.. minho juga udh menemukan pengganti jiyeon, yaitu yuraa.. moga ajj mereka berdua bisa cepet nyusul myungyeon…

    gonawo authornim udh izinin aku ngubek” ff lost of memory.. jeongmal gomawoyo.. ff author daebakk abiizzzz… ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s