Lost of Memory ( 17 of ? )

Lost of Memory new 

  • Author : @Yeondiary
  • Main Cast : Kim Myungsoo (Infinte) , Park Jiyeon (T-ara)
  • Additional Cast :      Choi Minho (Shinee)

Lee Jieun (IU)

Choi Jinri/Sulli (Fx)

Jung Soojung/Krystal (Fx)

Yang Yoseob (2pm)

Jung Eunji ( A Pink)

Park Sanghyun/Cheondung (MBLAQ)

Kim Hyun Joong

Kim Yoo Jin

Yura (Girls Day)

Lee Seung Gi

 

  • Lenght :  Chapter
  • Genre : Romance, Family Story

·         Rating : 15

 

 

Annyeong….!!!

 

Huwaaaahhh….akhirnya sampai juga di part ini. Semakin mendekati akhirnya…

Lagi-lagi FF ini tertunda terus waktu mau nulis…apalagi gara2 scandal L, sempat ga mood juga waktu nulis. Tapi berkat MyungYeon (Myungsoo-Jiyeon) shipper yang selalu setia mendukung pasangan ini, aku juga putuskan untuk tetap bertahan. Ga perduli apapun anggapan orang, aq tetap menyukai pasangan ini di FF dan jika Tuhan mengabulkan semoga saja di dunia nyata bisa terwujud J

 

NB :     Kim Myungsoo/L young : Seo Sang Won

            343px-Seo_Sang_Won

            Lee Myungsoo : Kim Myungsoo

            Kim-Myung-Soo

 

 

Happy Reading J


Preview Part 16

 

“Lee Myungsoo…memang bukan Kim Myungsoo. Dia takkan bisa menjadi L-oppa” bisik Jiyeon lirih sambil memandang foto L dan dirinya yang ia pajang di meja belajarnya. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

 

“YAA…KAU ITU BODOH ATAU APA, HAH! BAGAIMANA BISA KAU BERDIRI DITENGAH JALAN SEPERTI ITU. BISA TIDAK KAU TAK MEMBUATKU KHAWATIR PARK JIYEON!!” bentak orang yang telah menyelamatkan Jiyeon.

Jiyeon langsung membuka matanya saat seseorang berteriak padanya. Suara itu, kata-kata itu pernah ia dengar sebelumnya.

 

“Kim Jiyeon…..Park Jiyeon….apa mereka orang yang sama?” gumam Myungsoo.

“Koma? Memangnya kau sakit apa?’ lagi-lagi Minho bertanya dengan penasaran.

Jiyeon yang melihat sikap Minho yang tampak begitu penasaran menjadi sedikit aneh. Ia merasa Minho seperti mengejar sesuatu entah apa itu.

“Kecelakaan” “Leukimia” sahut Myungsoo dan Yura bersamaan.

Mendengar jawaban Myungsoo dan Yura yang begitu berbeda membuat mereka semua yang ada disana menjadi bingung.

 

 

Part 17

 

 

Jiyeon duduk di depan lukisan yang diam-diam ia buat entah sejak kapan. Sosok seorang namja yang akhir-akhir ini mengusik hari-harinya. Di atas pojok sebelah kanan lukisan itu terdapat sebuah foto namja yang ia cintai sampai detik ini, Kim Myungsoo a.k.a L.

“Lee Myungsoo…..Kim Myungsoo….mungkinkah? Apa itu benar-benar kau, L-oppa?” gumam Jiyeon seraya memandang bergantian antara lukisan dengan foto yang dihadapannya.

Jiyeon kembali teringat percakapan antara Minho dan Eunji setelah kepergian Myungsoo dan yeoja bernama Yura.

 

 

Flashback ON

 

“Eunji-ah, apa kau memiliki pikiran yang sama denganku?” tanya Minho.

“Ne Minho-ah, aku merasa ada sesuatu yang ganjil disini” jawab Eunji.

“Eunji eonnie, Minho oppa….sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Jiyeon tak mengerti.

“Jiyeon-ah, kalau aku tak salah ingat namja bernama Myungsoo tadi itu teman kuliahmu, ne?” tanya Eunji dijawab anggukan oleh Jiyeon.

“Selama kau mengenalnya, apakah ada sesuatu yang menurutmu aneh?” tanya Eunji lagi dan kali ini Jiyeon menjawabnya dengan kening berlipat.

“Maksud eonnie?” tanya Jiyeon.

“Apa kau tak merasa ia mirip seseorang?” tanya Eunji lagi.

“Nae oppa?” tebak Jiyeon yang kini mulai mengerti arah pembicaraan ini.

Eunji mengangguk sedangkan Minho memperhatikan mimik wajah Jiyeon yang tampak tenang namun sebenarnya memendam sesuatu. Ia yakin Jiyeon menyembunyikan sesuatu.

“Aniyo….mereka orang yang berbeda eonnie. Lee Myungsoo bukan Kim Myungsoo” ujar Jiyeon sambil mengaduk-aduk es krimnya yang telah mencair.

“Kim Myungsoo? Nugu?” tanya In Guk yang memang tak tahu arah pembicaraan mereka.

“Oppa ingat dulu aku pernah menceritakan padamu mengenai nae chingu yang hilang karena kecelakaan bukan” ujar Eunji pada In Guk.

“Ne”

“Entah mengapa aku merasa jika Lee Myungsoo itu nae chingu, Kim Myungsoo” ucap Eunji.

“Mwo?” In Guk tampak terkejut mendengar ucapan Eunji.

“Aku tahu sepertinya ini tak masuk di akal. Marga mereka memang berbeda bahkan wajah mereka pun tak mirip tapi mendengar cerita oppa dan Yura, aku merasa ada sesuatu yang ganjil disini apalagi Lee Myungsoo sendiri menyangkal kalau dia mengenal oppa dan soal penyakitnya…ia bahkan tak tahu tentang penyakit leukimia itu” jelas Eunji.

“Sebenarnya bukan hanya itu” sahut Minho membuat pandangan mereka semua teralih pada namja itu.

“Lee Myungsoo memiliki kebiasaan yang sama persis dengan Kim Myungsoo” ujar Minho mau tak mau membuat Eunji dan Jiyeon terkejut.

“Apa maksudmu Minho-ah?” tanya Eunji.

“Aku melihatnya…tak hanya sekali tapi beberapa kali. Di dunia ini wajah seseorang bisa saja mirip tapi jika itu suatu kebiasaan dan tingkah laku? Mungkinkah dua orang yang berbeda bisa memiliki kebiasaan dan tingkah laku yang sama? Bahkan saudara kembar pun memiliki perbedaan kebiasaan dan tingkah laku” papar Minho mengenai pengamatannya.

Begitu mendengar pemaparan Minho, Jiyeon tertegun dan mencerna setiap kata demi kata. Tanpa sadar pikirannya tertuju pada sosok Myungsoo yang beberapa hari ini bersamanya mengerjakan tugas kuliah.

Ia teringat bagaimana ketika namja itu sedang bingung mengerjakan soal saat ada kuis dadakan. Namja itu mengerutkan sedikit keningnya dan menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tak merasa gatal. Selain itu saat ia sedang berpikir mengaransemen lagu, namja itu suka menggigiti ujung pulpennya. Sikap percaya dirinya yang berlebihan dan masih banyak lagi kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan Myungsoo kala itu terlintas di benak Jiyeon bergantian dengan kebiasaan-kebiasaan yang dulu dilakukan L.

 

Flashback OFF

 

“Wae? Semakin aku menyangkal jika itu bukan dirimu, kenyataannya aku selalu melihatmu di dirinya, oppa. Eottokhe?” gumam Jiyeon kembali menitikkan air matanya sambil memandang dua wajah yang berbeda namun sebenarnya orang yang sama.

 

 

Di tempat berbeda, Myungsoo yang tadinya bermaksud menghampiri appanya dan menanyakan sesuatu yang mengusik pikirannya mengurungkan niatnya. Ia memlih untuk mencari tahu sendiri. Diam-diam dia memasuki ruang kerja Seung Gi, appanya. Ia berusaha mencari rekapan laporan kesehatan miliknya yang ia yakin disimpan oleh Seung Gi di ruang kerjanya. Sejak awal ia sadar dari koma, sebenarnya ia merasa ada sesuatu yang aneh tapi karena ia kehilangan memorinya jadi ia tak terlalu memikirkannya lagi. Apalagi saat itu Seung Gi mengaku sebagai keluarganya bahkan mengenalkan Yura sebagai dongsaengnya dan ketika yeoja kecil itu memeluknya, ia sama sekali tak menaruh curiga sedikitpun.

Myungsoo mencari di laci-laci meja kerja Seung Gi dan akhirnya ia menemukan sebuah map yang bertuliskan ‘LEE MYUNGSOO’. Tanpa berpikir panjang lagi, Myungsoo langsung mengambil dan membawanya.

“Oppa, apa yang oppa lakukan di ruang kerja appa?” tanya Yura yang kebetulan melihat Myungsoo keluar dari ruang kerja appanya. Karena setahu Yura, appanya selalu melarang siapapun masuk ke ruang kerjanya.

“Appa hanya mencari buku, Yura-ah” bohong Myungsoo.

“Oppa” panggil Yura takut-takut.

“Ne?”

“Mianhae oppa” ucap Yura.

“Untuk?”

“Karena aku mengajak oppa bertemu dengan In Guk oppa” jawab Yura.

“Gwaenchana Yura-ah, kau tak perlu meminta maaf. Sebaiknya kau segera ke kamarmu dan bersiap untuk makan malam karena sebentar lagi appa akan datang” ujar Myungsoo seraya menepuk pelan puncak kepala Yura.

“Ne oppa”

“Ah…Yura-ah, jangan katakan pada appa jika oppa masuk ke ruang kerjanya ne” pinta Myungsoo.

“Ne oppa, aku takkan mengatakan apapun” ucap Yura sambil tersenyum sebelum akhirnya pergi ke kamarnya.

“Mianhae Yura-ah, keundae aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi disini” gumam Myungsoo pelan.

Myungsoo segera menuju kamarnya untuk mencari informasi dari sesuatu yang ia ambil tadi.

Di dalam map itu benar tersimpan rekapan laporan kesehatan atas nama Lee Myungsoo. Disitu tetulis jika Lee Myungsoo menderita penyakit leukimia sejak umur 15 tahun dan telah beberapa kali menjalani kemoterapi. Myungsoo langsung teringat kata-kata Yura waktu itu saat di restoran.

“Tentu saja. Bagaimana bisa aku lupa pada In Guk oppa, dia kan teman sekamar oppa waktu dirawat di rumah sakit dulu. Ia yang selalu menemaniku bermain ketika oppa melakukan ke….”

“Apa saat itu Yura bermaksud mengatakan tentang kemoterapi?” gumam Myungsoo berpikir.

Kemudian Myungsoo kembali memeriksa berkas-berkas tersebut dan menemukan sebuah surat keterangan dimana disitu tertulis jika Lee Myungsoo menghembuskan nafas terakhir pada saat operasi pencangkokan sumsum tulang belakang.

‘Sepertinya ada sesuatu yang salah disini. Leukimia? Kemoterapi? Dan surat keterangan ini…apa maksud semua ini? Bagaimana mungkin mereka menyatakan meninggal orang yang masih hidup? Jika memang Lee Myungsoo dinyatakan meninggal, nan nuguya?’ pikir Myungsoo dalam hati. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di otaknya.

 

Dok…dok…dokkk…

“Oppa…Myungsoo oppa” panggil Yura yang mengetuk pintu kamar Myungsoo.

“Ne Yura-ah…wae?” tanya Myungsoo dari dalam kamar.

“Kajja kita makan malam, appa sudah menunggu kita” jawab Yura.

“Geurrae….pergilah dulu, oppa akan segera kesana” ujar Myungsoo seraya merapikan berkas-berkas laporan kesehatan Lee Myungsoo.

Tak lama kemudian Myungsoo turun menuju ruang makan dimana Seung Gi dan Yura telah menunggunya untuk makan malam bersama. Myungsoo bersikap seolah-olah tak terjadi apapun di depan Seung Gi maupun Yura namun sesekali ia melirik sekilah ke arah Seung Gi, appanya.

‘Aku tak mungkin menanyakannya pada appa sekarang. Aku harus mencari bukti-bukti terlebih dulu’ pikir Myungsoo.

“Myungsoo-ah, bagaimana kuliahmu? Apa kau merasa betah disini?” tanya Seung Gi di sela-sela makan malam mereka.

“Baik appa….kurasa aku mulai betah disini. Aku seperti pulang kampung saja” jawab Myungsoo mencoba melihat reaksi appanya.

“Jeongmal? Baguslah kalau begitu” ujar Seung Gi dengan sedikit tersenyum pada Myungsoo.

“Dan kau, Yura-ah? Bagaimana sekolahmu?” tanya Seung Gi kali ini pada anak perempuannya.

“Sangat baik appa. Aku bahkan sudah memiliki banyak chingu disekolah” jawab Yura semangat.

“Appa senang kau memiliki banyak chingu, keundae jangan sampai kau lupa pada pelajaranmu karena bermain-main dengan chingumu, arra”

“Arrasso”

Myungsoo terus memperhatikan Seung Gi dalam diam dan sembunyi-sembunyi. Sekilas ia tak merasa ada keanehan sedikitpun dari sikap appanya. Seung Gi memperlakukannya sama seperti Yura tak ada yang berbeda. Bagaimana mungkin ia bisa mencurigai orang sebaik appanya tapi rasa penasaran Myungsoo jauh lebih besar daripada yang ia pikirkan.

 

 

In Seoul University

 

Jiyeon sesekali curi-curi pandang ke arah Myungsoo yang tengah fokus mendengarkan penjelasan dosen. Ia melihat bagaimana namja itu menggigiti ujung pulpennya ketika sedang berpikir, sama persis seperti yang dilakukan L jika sedang berpikir mengerjakan tugas sekolah bersamanya dulu.

“….Di dunia ini wajah seseorang bisa saja mirip tapi jika itu suatu kebiasaan dan tingkah laku? Mungkinkah dua orang yang berbeda bisa memiliki kebiasaan dan tingkah laku yang sama? Bahkan saudara kembar pun memiliki perbedaan kebiasaan dan tingkah laku”

Kata-kata Minho terngiang jelas di pikiran Jiyeon. Semua yang dikatakan Minho benar adanya dan selama ini Jiyeon tak pernah menyadari itu sebelumnya.

Ketika Jiyeon tengah fokus dengan pikirannya sendiri, ia tak menyadari jika kuliah sudah selesai dan sedari tadi Myungsoo memanggilnya hingga akhirnya Myungsoo menjentikkan jarinya di depan wajah Jiyeon.

“Yaaa…Park Jiyeon, ireona” panggil Myungsoo.

Seketika Jiyeon langsung menoleh ke arah Myungsoo yang wajahnya kini berada begitu dekat di depan Jiyeon.

Selama beberapa saat mereka saling berpandangan satu sama lain sampai akhirnya Myungsoo tersenyum evil padanya.

“Apa kau sudah mulai memikirkanku, eoh” ucap Myungsoo.

“Anhi” sahut Jiyeon cepat segera memalingkan mukanya dan menutupi kegugupannya karena tanpa ia sadari jantungnya berdetak sangat cepat melebihi batas normal saat berhadapan dengan Myungsoo sedekat itu.

“Jiyeon-ssi, kau ada waktu setelah ini?” tanya Myungsoo.

“Wae?” tanya Jiyeon balik sambil membereskan perlengkapan kuliahnya.

“Aku ingin kau menemaniku”

“Andwae” sahut Jiyeon cepat.

“Tapi aku tak menerima penolakan”

“Apa ini sebuah paksaan?” tanya Jiyeon.

“Terserah kau menyebutnya apa. Kajja” ujar Myungsoo langsung menarik tangan Jiyeon untuk mengikutinya tanpa mendengar protes yang dilontarkan Jiyeon.

“Yaaa….lepaskan tanganku. Apa yang kau lakukan” protes Jiyeon berusaha menarik tangannya dari genggaman Myungsoo namun rupanya namja itu terlalu kuat memegangnya dan sama sekali tak memperdulikan ucapannya malah terus menarik Jiyeon ke parkiran mobil.

Di kejauhan seseorang melihat kejadian itu lalu segera berlari mengejar mereka. Namun sayangnya ia terlambat karena Myungsoo segera menyuruh Jiyeon masuk ke dalam mobil dan membawa yeoja itu entah kemana.

Meski begitu ia tak tinggal diam. Ia segera mengambil mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana kemudian mengikuti mobil Myungsoo.

 

 

Jiyeon merasa heran ketika Myungsoo menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah sakit.

“Kau sakit?” tanya Jiyeon sedikit cemas. Entah mengapa ia memiliki perasaan seperti itu pada namja di sampingnya ini.

“Sepertinya begitu karena kau membuatku terus memikirkanmu” ujar Myungsoo tersenyum menggoda Jiyeon.

“Kalau begitu sepertinya kau salah rumah sakit. Harusnya kau pergi ke rumah sakit jiwa” sahut Jiyeon kesal. Ia menyesal mencemaskan namja itu.

Myungsoo tertawa. Ia mengambil map yang berisi berkas-berkas laporan kesehatan Lee Myungsoo yang ia letakkan di kursi belakang mobilnya.

“Kajja” ajak Myungsoo kembali menggandeng tangan Jiyeon untuk masuk ke dalam rumah sakit setelah membukakan pintu mobil untuk yeoja itu. Dari jauh, seseorang memperhatikan mereka dari balik kendali mobil.

Myungsoo dan Jiyeon masuk ke dalam rumah sakit dan mencari ruangan dokter Song, dokter yang dulu menangani Lee Myungsoo, seperti yang ia ketahui dari berkas-berkas laporan kesehatan Lee Myungsoo.

“Myungsoo-ssi, sebenarnya untuk apa kita kesini?” tanya Jiyeon tak mengerti.

“Aku hanya ingin memastikan sesuatu” jawab Myungsoo.

“Apa yang kau bawa?” tanya Jiyeon lagi melihat map yang dibawa Myungsoo.

“Ini adalah sesuatu yang ingin kupastikan. Apa kau mau ikut masuk denganku?” tawar Myungsoo.

“Apa aku boleh menolak kali ini?” tanya Jiyeon.

“Aku hanya ingin kau menemaniku ke tempat ini keundae aku takkan memaksamu jika kau tak ingin masuk ke dalam sana” ujar Myungsoo menunjuk ke ruang dokter Song.

“Geurrae, aku akan menunggu saja disini. Masuklah” ucap Jiyeon kemudian duduk di kursi yang ada di samping ruangan dokter Song.

Beberapa menit berlalu sejak Myungsoo masuk ke dalam ruangan dokter Song dan akhirnya ia keluar dengan wajah yang sulit diartikan.

“Neo gwaenchana Myungsoo-ssi?” tanya Jiyeon yang menyadari perubahan sikap Myungsoo.

“Ne” jawab Myungsoo singkat lalu berjalan melewati Jiyeon.

Jiyeon merasa ada sesuatu yang aneh dengan Myungsoo karena namja itu mendadak jadi pendiam, tak seperti biasanya. Myungsoo yang sepertinya kehilangan fokusnya berjalan tak melihat ke depan hingga ia menabrak seseorang.

“Mianhae ahjumma” ucap Myungsoo meminta maaf pada orang yang ia tabrak.

Jiyeon yang sedari tadi berjalan dibelakang Myungsoo segera menghampiri mereka.

“Eomma” Jiyeon terkejut melihat eommanya, Kim Yoo Jin.

Myungsoo menoleh ke arah Jiyeon lalu orang yang tak sengaja ia tabrak tadi.

“Neo eomma?” tanya Myungsoo ke Jiyeon.

“Eomma gwaenchana?” tanya Jiyeon ke eommanya tanpa menjawab pertanyaan Myungsoo. Sedangkan orang yang ia khawatirkan malah terus menatap ke arah Myungsoo.

“Ahjumma, sekali lagi jeongmal mianhae” ucap Myungsoo sambil membungkukkan tubuhnya.

“Gwaenchana…..neo…nuguya?” tanya Yoo Jin.

“Eomma, dia teman kuliahku. Namanya Lee Myungsoo” ucap Jiyeon menjawab pertanyaan Yoo Jin.

“Myungsoo?” tanya Yoo Jin menatap Jiyeon dengan mata berkaca-kaca.

“Ne eomma…Lee Myungsoo” ucap Jiyeon menekankan.

Yoo Jin memandang wajah Myungsoo dalam-dalam. Ia memegang wajah Myungsoo dengan kedua tangannya kemudian air mata mulai mengalir dari kedua kelopak matanya.

Myungsoo agaknya bingung dengan apa yang terjadi namun melihat ahjumma yang ditabraknya itu menangis, tak tahu mengapa hatinya juga merasa sedih.

“Eomma…apa yang eomma lakukan disini? Apa eomma sakit?” tanya Jiyeon mengalihkan perhatian Yoo Jin dari Myungsoo.

Yoo Jin melepaskan tangannya dari wajah Myungsoo kemudian menghapus air matanya.

“Eomma hanya merasa sedikit pusing akhir-akhir ini” ucap Yoo Jin menjawab pertanyaan Jiyeon.

“Lalu apa eomma sudah memeriksakan diri?” tanya Jiyeon lagi.

“Ne Jiyeonnie-ah…dokter sudah memberikan obat untuk eomma. Lalu kau, apa yang kau lakukan disini?” tanya Yoo Jin.

“Aku hanya menemaninya, eomma” jawab Jiyeon melihat ke arah Myungsoo.

Lagi-lagi Yoo Jin memandang Myungsoo dengan tatapan yang sulit diartikan dan perasaan yang bercampur aduk.

“Eomma, kajja kita pulang. Myungsoo-ssi mian aku akan pulang dengan nae eomma” ucap Jiyeon.

“Biar aku yang mengantar kalian pulang ne” pinta Myungsoo.

Jiyeon melihat pada eommanya yang kemudian mengangguk setuju.

“Geurrae” ucap Jiyeon akhirnya.

Akhirnya Myungsoo mengantarkan Jiyeon dan Yoo Jin ke kediaman keluarga Kim. Myungsoo sedikit terkejut saat tahu jika rumah mereka ternyata begitu dekat dengan rumahnya. Dan lagi rumah itu beberapa kali selalu menarik perhatiannya setiap kali ia melewatinya entah mengapa.

“Kau tinggal disini?” tanya Myungsoo.

“Ne..wae?”

“Aniyo. Aku hanya tak menyangka ternyata rumah kita tak cukup dekat” ucap Myungsoo.

“Gomawo Myungsoo-ssi sudah mengantarkan kami” ucap Jiyeon.

“Ne cheonma” sahut Myungsoo.

“Kau tak mengajak chingumu masuk, Jiyeonnie?” tanya Yoo Jin.

Jiyeon awalnya enggan mengajak Myungsoo masuk tapi karena permintaan eommanya, ia pun mengajak Myungsoo untuk masuk ke rumahnya.

“Mampirlah sebentar jika kau mau” ucap Jiyeon sedikit enggan.

“Jinjja? Aku boleh masuk kesana?” tanya Myungsoo dengan senyum khasnya. Namja itu sudah kembali ceria lagi.

“Ne…ppali sebelum aku berubah pikiran” ucap Jiyeon.

Myungsoo pun mengikuti langkah Jiyeon dan eommanya masuk ke dalam rumah tersebut.

Begitu memasuki rumah itu, Myungsoo merasa tak asing bahkan sangat familiar dengan seisi rumah itu. Beberapa bayangan melintas di memorinya. Myungsoo memejamkan matanya, menajamkan apa yang terlintas di memorinya. Dalam bayangan itu ia melihat sebuah keluarga yang begitu bahagia dimana disitu ada dua namja dan dua yeoja yang saling bercengkrama dan bercanda bersama.

“Myungsoo-ssi” panggil Jiyeon.

Myungsoo pun membuka kedua matanya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Jiyeon menghampiri Myungsoo yang berdiri terpaku di depan pintu masuk.

“Aku…..hanya merasa sedikit pusing saja” jawab Myungsoo berbohong.

“Kalau begitu duduklah dulu, aku akan membuatkanmu minuman” ujar Jiyeon mempersilahkan Myungsoo duduk.

Myungsoo menuruti kata-kata Jiyeon tanpa banyak protes. Namja itu duduk di salah satu kursi di ruang tamu begitu Jiyeon dan eommanya masuk ke dalam ruangan yang lain. Myungsoo mengamati setiap sudut-sudut rumah tersebut. Tak tahu mengapa ia merasa begitu merindukan tempat ini yang bahkan baru pertama kali ini ia kunjungi. Setidaknya itulah yang Myungsoo pikirkan. Sampai akhirnya kedua manik matanya menangkap sebuah foto keluarga yang terpajang di meja tak jauh dari tempat ia duduk.

Myungsoo beranjak dari duduknya lalu menghampiri foto tersebut untuk melihatnya lebih dekat. Seseorang memperhatikan apa yang dilakukan oleh Myungsoo dari balik tembok.

Dengan seksama Myungsoo memperhatikan foto itu dimana di dalamnya ada sepasang namja dan yeoja paruh baya dan sepasang namja dan yeoja yang kira-kira berusia 18 dan 17 tahun. Yeoja paruh baya itu sepertinya ahjumma yang ia tabrak tadi dan yeoja muda itu terlihat seperti Jiyeon. Kemudian ia beralih pada namja yang berdiri disamping Jiyeon. Myungsoo melihat namja itu dengan seksama lalu ia teringat akan mimpi-mimpinya saat di Jepang dulu. Ia yakin ia melihat namja itu dan Jiyeon di mimpinya.

“Apa yang kau lakukan, Myungsoo-ssi?” tanya Jiyeon yang tiba-tiba muncul mengagetkan Myungsoo. Yeoja itu membawa dua buah gelas minuman di tangannya.

Karena terkejut, Myungsoo refleks menyembunyikan foto itu dibelakang tubuhnya.

“Aniyo…aku hanya melihat-lihat saja” bohong Myungsoo kemudian kembali ke tempat duduknya.

“Jiyeon-ssi, mian sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku lupa kalau ada hal yang harus kulakukan” ucap Myungsoo

“Geurrae, sekali lagi gomawo” ucap Jiyeon kali ini ia tersenyum tulus pada Myungsoo membuat namja itu tercengang untuk beberapa saat.

“Wae kau melihatku seperti itu?” tanya Jiyeon.

“Baru kali ini aku melihatmu tersenyum. Rupanya kau jauh lebih cantik jika tersenyum seperti itu” ucap Myungsoo tersenyum jahil.

“Sudah cepatlah pergi. Bukankah kau masih memiliki urusan” ujar Jiyeon mengalihkan pembicaraan.

Myungsoo tertawa, “Geurrae…aku akan pergi keundae kau harus berjanji padaku untuk terus tersenyum seperti tadi, arra”

“Memangnya siapa kau bisa mengaturku, huh”

“Saat ini mungkin memang bukan siapa-siapa tapi suatu saat nanti aku akan menjadi seseorang yang berarti untukmu Jiyeon-ssi” ucap Myungsoo dengan penuh percaya diri lalu pergi dari rumah Jiyeon.

“Percaya diri sekali kau, Myungsoo-ssi” gumam Jiyeon lirih.

 

 

Minho melihat salinan laporan kesehatan Lee Myungsoo di mejanya. Ia mendapatkan laporan itu berkat bantuan appanya, Choi Siwon, yang memiliki koneksi dengan pihak rumah sakit yang tadi siang didatangi oleh Myungsoo dan Jiyeon.

Dia cukup terkejut melihat hasil laporan itu yang menguatkan dugaannya selama ini mengenai Lee Myungsoo.

“Lee Myungsoo dinyatakan meninggal dalam operasi. Lalu siapa Lee Myungsoo yang sekarang? Jika benar dia Kim Myungsoo, apa yang sebenarnya terjadi dengannya?” gumam Minho.

Minho mengambil ponselnya lalu mengetikkan sesuatu dan mengirimkannya ke seseorang yang ia rasa dapat membantunya.

 

 

Myungsoo baru saja datang ketika melihat Yura membuka-buka sebuah buku di ruang tamu.

“Oppa baru pulang?” tanya Yura.

“Kau sedang membaca apa?” tanya Myungsoo tanpa menjawab pertanyaan Yura.

“Ah…ini buku kelulusan Shinhwa High School tiga tahun yang lalu. Yeojachingu In Guk oppa memintaku untuk meminjamkannya dari perpustakaan sekolah” jawab Yura.

“Kau tahu oppa, ternyata namja yang bersama Eunji eonnie dan In Guk oppa waktu itu juga merupakan lulusan Shinhwa High School. Namanya Choi Minho. Ternyata dari dulu ia sangat tampan, sayangnya dia sudah memiliki yeojachingu apalagi yeojachingunya sangat cantik” lanjut Yura.

Myungsoo mengernyitkan keningnya. Yeojachingu Minho? Apa yang dimaksud Yura itu Jiyeon?

“Sebenarnya ada satu lagi namja tampan oppa, sayangnya namja itu meninggal. Dan namanya sama seperti oppa keundae ia bermarga Kim” ujar Yura membuat Myungsoo terkejut.

“Yura-ah, bolehkah oppa meminjamnya” pinta Myungsoo.

“Ne” Yura menyerahkan buku itu ke tangan Myungsoo.

Setelah mendapatkan buku itu, Myungsoo membawanya ke kamar. Ia melihat-lihat buku itu. Benar saja, ia melihat foto Minho dan juga Eunji yang dikatakan Yura sebagai yeojachingu In Guk. Ia juga melihat foto Sanghyun dan Yoseob disana.

“Jadi mereka satu sekolah. Pantas saja mereka ada disana juga waktu itu” gumam Myungsoo teringat waktu di restoran saat pertama kali bertemu In Guk.

Lalu pada halaman terakhir ia melihat foto seorang namja yang dibawahnya tertulis ‘In Memoriam’ dan nama namja itu ‘Kim Myungsoo’.

“Namja ini….bukankah dia….” Myungsoo segera mengeluarkan foto yang ia ambil dari rumah Jiyeon.

Ia membandingkan foto namja yang ada disamping Jiyeon dengan foto yang ada di album kelulusan tersebut.

“Jadi…dia Kim Myungsoo?” gumam Myungsoo tak percaya.

Myungsoo teringat percakapannya dengan Yoseob dan Sanghyun beberapa waktu yang lalu.

 

“Myungsoo?! Namamu mengingatkanku pada seseorang” ujar Sanghyun yang langsung membuat Myungsoo mengernyitkan keningnya. Pasalnya, kemarin Yoseob pun mengatakan hal yang sama. “Mungkin hanya kebetulan. Lagipula yang memiliki nama Myungsoo tak hanya satu bukan” lanjut Sanghyun.

“Ne…mungkin saja” ucap Myungsoo sambil tersenyum tapi entah kenapa senyum itu seolah-olah terlihat sangat terpaksa.

Hatinya seolah menolak jika itu suatu kebetulan. Meski mereka baru saja berkenalan tapi tak tahu mengapa Myungsoo merasa sudah sangat akrab dan familiar dengan kedua namja di depannya ini.

“Jika boleh aku tahu, Myungsoo yang kalian maksud, nugu?” Myungsoo memberanikan diri bertanya pada kedua namja itu, tak tahu mengapa ia jadi merasa penasaran.

“Dia…sahabat kami” jawab Yoseob.

“Lalu, dimana dia?” tanya Myungsoo.

“Ia menghilang tiga tahun yang lalu” jawab Sanghyun.

“Menghilang?!”

“Ne, yang kami tahu dia menjadi salah satu korban kecelakaan tapi anehnya ia tak ditemukan di lokasi kejadian” cerita Yoseob.

“Banyak yang mengatakan ia tak mungkin selamat dan bisa jadi ia telah meninggal tapi bagi kami, ia masih hidup hanya saja kami tak tahu ia ada dimana saat ini” sambung Sanghyun.

 

“Kim Myungsoo…..” gumam Myungsoo.

 

“YAA…KAU ITU BODOH ATAU APA, HAH! BAGAIMANA BISA KAU BERDIRI DITENGAH JALAN SEPERTI ITU. BISA TIDAK KAU TAK MEMBUATKU KHAWATIR KIM JIYEON!!”

 

Kata-kata itu lagi-lagi terngiang di benak Myungsoo.

“Kim Myungsoo….Kim Jiyeon….” Myungsoo menatap foto ditangannya.

“Kim Jiyeon…dan…Park Jiyeon….orang yang sama?!”

Lalu tiba-tiba mata Myungsoo membulat saat melihat sesuatu yang melingkar di leher Jiyeon. Benda itu memang kecil dan hampir tak terlihat jika tak diperhatikan secara seksama tapi Myungsoo yakin benda itu tak asing baginya.

Ia segera mencari di lacinya, sebuah kalung berbandul ‘J’ yang ia selalu ia genggam saat ia sadar dari koma. Ia membandingkan kalung tersebut dengan kalung yang melingkar di leher Jiyeon.

“Maldo andwae…..Bagaimana ini bisa terjadi?” gumam Myungsoo mulai merasakan sakit yang begitu hebat dikepalanya. Ia juga teringat percakapannya dengan dokter Song siang tadi.

 

 

Flashback ON

 

“Myungsoo? Kau Lee Myungsoo? Aku benar-benar tak percaya kau masih hidup?” tanya dokter Song begitu terkejut saat pertama kali melihatnya.

“Anda dokter Song?” tanya Myunngsoo.

“Ne”

“Saya datang karena ingin memastikan sesuatu” ujar Myungsoo menunjukkan berkas-berkas laporan kesehatannya.

Dokter Song melihat berkas-berkas tersebut kemudian mengangguk.

“Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya dokter Song.

“Disitu tertulis jika aku menderita leukimia sejak umur 15 tahun dan meninggal di usia 17 tahun. Bisakah Anda jelaskan apa yang terjadi saat itu? Mian karena aku sama sekali tak bisa mengingat apapun” ujar Myungsoo.

“Memang benar kau menderita leukimia sejak umur 15 tahun. Suatu keajaiban kau dapat bertahan selama dua tahun dengan terus menjalani kemoterapi. Namun tiga tahun lalu saat kau menjalani operasi pencangkokan sumsum tulang belakang kondisimu terus menurun dan kau dinyatakan meninggal dalam operasi itu. Karena itu melihatmu berdiri disini dalam keadaan sehat sungguh membuatku terkejut” ujar dokter Song.

“Apa anda yakin?” tanya Myungsoo.

“Tentu saja karena akulah yang mengoperasimu saat itu. Apa ini keajaiban Tuhan?!” Myungsoo tertegun mendengar ucapan dokter Song.

 

Flashback OFF

 

 

“Aaaarrrgghhh” rintih Myungsoo merasakan sakit yanng teramat di kepalanya.

Satu persatu kilasan memori Myungsoo mulai muncul ke permukaan. Ia bahkan ingat dengan jelas saat kecelakaan yang menimpa dirinya tiga tahun yang lalu.

Begitu rasa sakit di kepalanya mulai berkurang, Myungsoo menatap sedih foto keluarga Kim.

“Aku….bukan Lee Myungsoo” gumamnya.

 

 

TBC

 

Untuk part selanjutnya maybe ga aku protect….ntar baru part akhir aku protect lagi.

Mian kalo part ini mengecewakan *bow*

19 responses to “Lost of Memory ( 17 of ? )

  1. yyeeeeeeee bntar lg myungsoo oppa bakalan inget lagi sma mmasa lalu’y dan bisa ngumpul lg sma jiyeon, keluarga dan teman”y,,, aminn aminn…

    next ^^

  2. wah myungsoo udah mulai ingat , yeah mantep dah .
    jiyeon akhirnya penantiannya gk sia2 , next lg thor

  3. kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    myung oppa udh inget….
    sekarang tinggal gmn biar bisa sma” jiyeon n chingu”nya yg lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s