Lost of Memory ( 16 of ? )

Lost of Memory new

 

 

  • Author : @Yeondiary
  • Main Cast : Kim Myungsoo (Infinte) , Park Jiyeon (T-ara)
  • Additional Cast :      Choi Minho (Shinee)

Lee Jieun (IU)

Choi Jinri/Sulli (Fx)

Jung Soojung/Krystal (Fx)

Yang Yoseob (2pm)

Jung Eunji ( A Pink)

Park Sanghyun/Cheondung (MBLAQ)

Kim Hyun Joong

Kim Yoo Jin

Yura (Girls Day)

Lee Seung Gi

 

  • Lenght :  Chapter
  • Genre : Romance, Family Story

·         Rating : 15

 

 

Annyeong….!!!

 

Huwaaaahhh….akhirnya sampai juga di part ini. Semakin mendekati akhirnya…

Lagi-lagi FF ini tertunda terus waktu mau nulis…apalagi gara2 scandal L, sempat ga mood juga waktu nulis. Tapi berkat MyungYeon (Myungsoo-Jiyeon) shipper yang selalu setia mendukung pasangan ini, aku juga putuskan untuk tetap bertahan. Ga perduli apapun anggapan orang, aq tetap menyukai pasangan ini di FF dan jika Tuhan mengabulkan semoga saja di dunia nyata bisa terwujud J

 

NB :     Kim Myungsoo/L young : Seo Sang Won

            343px-Seo_Sang_Won342px-Seo_Sang_Won2

            Lee Myungsoo : Kim Myungsoo

        Kim-Myung-SooL-Kim-Myungsoo-l-myungsoo-35439847-500-600

 

 

Happy Reading J

 

 

Preview Part 15

 

“Annyeong….nan Lee Myungsoo imnida. Aku mahasiswa baru disini” ucap Myungsoo memperkenalkan dirinya tanpa disuruh seraya menjulurkan tangannya tepat di depan yeoja itu.

Yeoja itu menghentikan aktivitasnya kemudian perlahan menoleh ke arah Myungsoo dengan tatapan dingin dan wajah yang datar.

 

“Yaaa bisakah kau tak mengikutiku, eoh” ucap Jiyeon kesal.

“Bukankah Prof. Han menyuruh kita untuk mengerjakan tugas kelompok” ujar Myungsoo.

“Apa harus hari ini, lagipula masih ada waktu dua minggu lagi” tanya Jiyeon.

“Lebih cepat lebih baik, bukan begitu Jiyeon-ssi” jawab Myungsoo diplomatis.

 

“Neo?! Kau disini? Kau mengikutiku?” tanya Jiyeon menyelidik pada orang yang ia tabrak barusan.

“Ne?”

“Bukankah sudah kubilang jangan mengikutiku” ujar Jiyeon kesal.

“Mwo? Omo…Jiyeon-ssi sepertinya kau salah paham. Aku sama sekali tak mengikutimu. Apa kauntak lihat pakaianku berbeda dengan tadi” sahut orang itu santai.

“Lalu kenapa kau bisa ada disini, Myungsoo-ssi?” Jiyeon seolah meminta penjelasan mengenai kehadiran namja itu.

“Apa aku tak boleh ada disini, Jiyeon-ssi? Bukankah ini tempat umum” ujar Myungsoo memberikan penyangkalan.

 

“In Guk? Seo In Guk oppa?” seru Yura yang terlihat antusias.

“Ne? Kau mengenalnya?” Myungsoo bertanya pada Yura tanpa tau jika saat ini Seung Gi tengah berharap-harap cemas.

“Tentu saja. Bagaimana bisa aku lupa pada In Guk oppa, dia kan teman sekamar oppa waktu dirawat di rumah sakit dulu. Ia yang selalu menemaniku bermain ketika oppa melakukan ke….”

“Yura-ah, cepat habiskan makananmu. Sudah malam, bukankah besok kau harus sekolah” belum sempat Yura menyelesaikan ucapannya, Seung Gi memotongnya.

 

 

Part 16

 

 

Myungsoo berdiri di balkon kamarnya sambil memandang langit malam yang sedikit bintang malam itu. Sejak pulang dari restoran, Myungsoo tak bisa menghilangkan pikirannya dari orang yang bernama In Guk tadi. Namja itu seolah-olah yakin mengenalnya dengan baik tapi kenapa dirinya sama sekali tak mengingatnya.

Namja itu mengatakan jika dia teman sekamarnya saat di rumah sakit. Tapi seingat Myungsoo, saat ia sadar dari koma, ia berada di kamar seorang diri. Dan bagaimana ia bisa mengenal namja bernama In Guk itu jika begitu ia sadar, appanya langsung membawanya ke Jepang.

Myungsoo memang tau setelah kecelakaan itu dia kehilangan ingatannya tapi jika memang kejadiannya seperti yang dikatakan namja tadi, bertemu di rumah sakit, rasanya itu tidak mungkin. Ia hanya tinggal sebentar di rumah sakit dan tak mengenal atau bertemu siapapun selain appanya dan Yura. Dan hal yang paling mengganjal di pikirannya adalah bagaimana Yura bisa mengenal namja itu jika dirinya saja sama sekali tak merasa mengenal In Guk sebelumnya.

 

 

Flashback ON

 

“In Guk? Seo In Guk oppa?” seru Yura yang terlihat antusias.

“Ne? Kau mengenalnya?” Myungsoo bertanya pada Yura tanpa tau jika saat ini Seung Gi tengah berharap-harap cemas.

“Tentu saja. Bagaimana bisa aku lupa pada In Guk oppa, dia kan teman sekamar oppa waktu dirawat di rumah sakit dulu. Ia yang selalu menemaniku bermain ketika oppa melakukan ke….”

“Yura-ah, cepat habiskan makananmu. Sudah malam, bukankah besok kau harus sekolah” belum sempat Yura menyelesaikan ucapannya, Seung Gi memotongnya.

 

Flashback OFF

 

 

“Sebenarnya apa yang akan dikatakan Yura?” gumam Myungsoo penasaran. “Apa ada yang disembunyikan dariku?” lanjutnya lagi.

Ia berpikir mungkin ia akan menanyakannya lain waktu pada Yura. Kemudian pikirannya beralih pada seseorang yang menyita perhatiannya beberapa hari ini.

“Park Jiyeon…Jiyeon…nugu? Aku merasa tak asing dengan nama itu. Yoseob dan Sanghyun….ada hubungan apa mereka dengan Jiyeon?” pikir Myungsoo.

 

 

Jiyeon baru saja keluar dari mobil Minho yang mengantarnya pulang. Saat Jiyeon hendak masuk ke dalam rumah, Minho menangkap pergelangan tangan Jiyeon.

“Waeyo oppa?” tanya Jiyeon.

“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan”

“Ne?”

“Ini….mengenai namja yang kau temui di restoran tadi” ujar Minho membuat kening Jiyeon berkerut.

“Maksud oppa, namja yang bernama Lee Myungsoo?” tanya Jiyeon memastikan.

“Ne…namja itu. Kau mengenalnya?”

“Aku baru bertemu dengannya pagi tadi karena kami memiliki kelas yang sama. Wae oppa?” bohong Jiyeon karena sebelumnya ia pernah bertemu dengan Myungsoo di danau.

“Aniyo…aku hanya ingin tahu saja karena dia memiliki nama yang mirip dengan seseorang”

“L-oppa?”

Minho terdiam dan tersenyum lalu mengangguk saat Jiyeon tahu apa yang ia pikirkan.

“Mereka memang memiliki nama yang sama tapi Lee Myungsoo bukan Kim Myungsoo atau L-oppa. Mereka orang yang berbeda” ujar Jiyeon yang mengatakan hal itu dengan tatapan datar.

“Geurrae, cepatlah masuk dan istirahat” suruh Minho membelai pelan rambut Jiyeon.

“Ne oppa, jaljayo”

Jiyeon pun segera masuk ke dalam rumah keluarga Kim. Ia langsung menuju kamarnya dan mengunci pintunya.

“Lee Myungsoo…memang bukan Kim Myungsoo. Dia takkan bisa menjadi L-oppa” bisik Jiyeon lirih sambil memandang foto L dan dirinya yang ia pajang di meja belajarnya. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

 

 

Flashback ON

 

“Chogiyo” panggil Myungsoo.

Jiyeon sama sekali tak menyahut ketika seseorang memanggilnya karena ia tak menyadari jika orang itu menyapanya. Meski begitu Jiyeon yang tadinya terlihat serius menulis sesuatu di bukunya berusaha menajamkan pendengarannya karena suara itu seperti tak asing baginya. Ia merasa pernah mendengar suara itu sebelumnya.

“Annyeong….nan Lee Myungsoo imnida. Aku mahasiswa baru disini” ucap Myungsoo memperkenalkan dirinya tanpa disuruh seraya menjulurkan tangannya tepat di depan yeoja itu.

Tiba-tiba saja Jiyeon menghentikan aktivitasnya begitu mendengar nama namja itu. Seketika ia menoleh ke arah Myungsoo dengan tatapan dingin dan wajah yang datar.

“Neo….kau juga mahasiswa disini? Pantas saja sepertinya aku pernah melihatmu, rupanya kau yeoja yang kulihat waktu itu” cerocos Myungsoo tanpa memperdulikan tatapan dingin Jiyeon.

“Oh ne siapa namamu?” tanya Myungsoo namun belum dijawab oleh Jiyeon seorang dosen sudah memasuki kelas.

Sebenarnya saat itu Jiyeon tak begitu fokus dengan pelajaran yang diberikan Prof. Han, bahkan ia tak sempat protes saat Prof. Han menyuruhnya satu tim dengan namja bernama Myungsoo, sama seperti nama L-oppanya.

Saat itu yang ada di pikirannya, adalah tentang namja yang duduk disampingnya. Siapa lagi jika bukan Lee Myungsoo. Ia teringat pertemuan mereka di danau yang menjadi tempat rahasianya bersama L, namja itu ada disana dan sebelum itu pertama kali ia melihat namja itu di hari ia melakukan registrasi. Entah mengapa saat ia sedang melihat-lihat sekelilingnya tanpa ia sadari pandangan matanya tertuju pada namja yang kini duduk disampingnya, seperti ada sesuatu yang menariknya untuk melihat namja itu.

 

Flashback OFF

 

 

Tiba-tiba saja ponsel Jiyeon berbunyi membuyarkan segala lamunan Jiyeon. Yeoja itu pun segera mengambil ponselnya dari dalam tasnya dan melihat ada pesan yang masuk dari nomor yang tak dikenal.

 

From : XXXXXXXXXX

Besok kutunggu di ruang musik setelah mata kuliah ketiga

 

“Aissh…dia benar-benar menyebalkan. Selalu saja seenaknya memutuskan sendiri” gerutu Jiyeon kesal seolah tahu siapa yang mengiriminya pesan singkat.

 

To : XXXXXXXXXXX

Arasso, Myungsoo-ssi!!!!

 

Tak lama Jiyeon mendapat balasan.

 

From : XXXXXXXXX

Bagaimana bisa kau tau itu aku

Apa kau sedang memikirkanku sekarang, eoh?

 

Jiyeon mengerutkan keningnya membaca balasan dari Myungsoo.

“Mwo? narsis sekali dia. Jinjja” gumam Jiyeon.

 

To : XXXXXXXXXXX

Andwaeeee

 

From : XXXXXXXXXX

Jeongmal????

Kau yakin tak sedang memikirkanku?

 

To : XXXXXXXXX

Sepertinya kau memiliki masalah kepercayaan diri yang tinggi, Tn. Lee

Aku tak memilliki alasan apapun untuk memikirkanmu

 

From : XXXXXXXXX

Kalau begitu aku akan membuatmu memiliki alasan untuk memikirkanku

Tunggu saja Jiyeon-ssi

 

To : XXXXXXXXX

Neo micchieosso…!!!

 

“Apa dia benar-benar sudah tidak waras. Tingkat kepercayaan dirinya benar-benar tinggi. Persis seseorang” gerutu Jiyeon namun saat mengatakan ‘persis seseorang’, Jiyeon teringat dengan L, oppanya.

“Andwaeee…dia Lee Myungsoo bukan L-oppa” lagi-lagi Jiyeon menggumam.

Tanpa Jiyeon tahu, diseberang sana Myungsoo tersenyum penuh arti melihat pesan balasan dari Jiyeon.

 

 

Seoul University

 

Seperti yang sudah Jiyeon dan Myungsoo sepakati…ah anhi…lebih tepatnya keputusan sepihak dari Myungsoo, akhirnya Jiyeon datang juga ke ruang musik. Saat Jiyeon baru saja akan masuk ke ruang musik, dia mendengar seseorang sedang memainkan gitar listrik di dalam sana. Melalui kaca yang ada di pintu masuk, Jiyeon melihat ke dalam. Dan rupanya yang memainkan gitar listrik itu tak lain adalah Myungsoo.

Cukup lama Jiyeon berdiri di depan pintu sambil memperhatikan apa yang dilakukan Myungsoo dengan gitar listriknya hingga akhirnya ia memutuskan untuk segera masuk sehingga permainan Myungsoo pun terhenti.

“Kau sudah datang rupanya” ucap Myungsoo seraya menyunggingkan senyumnya.

Jiyeon masih mempertahankan sikap dinginnya pada Myungsoo tentunya.

“Apa yang kita lakukan sekarang?” tanya Jiyeon dengan wajah datar dan tangan yang terlipat di depan dadanya.

“Kita buat liriknya, otthe?” jawab Myungsoo seraya menyunggingkan senyumnya.

“Geurrae, kita tentukan dulu temanya” ujar Jiyeon dengan nada datar tanpa berniat sedikitpun membalas senyum Myungsoo.

“Love….kurasa tema itu yang paling diminati” sahut Myungsoo.

“Love?! Sarang?”

“Ne wae?”

“Aniyo gwaenchana, keundae cinta seperti apa yang ingin kau sampaikan?” tanya Jiyeon.

“Cinta yang indah? Cinta yang sedih? Cinta yang menyakitkan? Cinta bertepuk sebelah tangan atau…cinta yang hilang? Mana yang menurutmu menarik, eoh?” tanya Myungsoo.

“Nan…..” Jiyeon tampak berpikir dan baru saja ia akan menjawab, sudah dipotong oleh Myungsoo.

“Sepertinya cinta yang hilang lebih menarik” ujar Myungsoo.

“Ne?”

“Geurrae kita putuskan itu saja” ujar Myungsoo lagi.

“Yaaa…bukankah kau bilang ini tugas kelompok, kenapa kau selalu saja memutuskan sendiri, eoh” protes Jiyeon.

“Kau terlalu banyak berpikir dan aku tak bisa menunggu untuk itu. Arasso Jiyeon-ssi”

“Arra…kalau begitu kau kerjakan saja sendiri” ujar Jiyeon kesal bermaksud untuk pergi namun pergelangan tangannya segera ditarik oleh Myungsoo hingga yeoja itu tertarik mendekat ke arah Myungsoo.

Jarak keduanya sangat dekat bahkan Jiyeon dapat merasakan hembusan nafas Myungsoo yang wajahnya berada sangat dekat dengannya. Untuk beberapa saat Myungsoo dan Jiyeon saling berpandangan satu sama lain. Saat melihat ke dalam mata Myungsoo, entah mengapa Jiyeon merasa melihat sosok L, oppanya. Jiyeon baru menyadari bahwa Myungsoo memiliki mata yang sama dengan L atau Kim Myungsoo, oppanya.

“Kajima” ucap Myungsoo yang wajahnya masih begitu dekat dengan Jiyeon.

“Wae?” tanya Jiyeon mencoba bersikap dingin seperti biasanya meskipun sebenarnya ia sedikit berdebar mengingat jarak tubuh mereka yang begitu dekat.

“Tugas kita belum selesai. Jika kau pergi, kupastikan kau akan mendapatkan panggilan dari Prof. Han besok pagi” bisik Myungsoo pelan di telinga Jiyeon. Setelah membisikkan hal itu, Myungsoo tersenyum evil dan mulai menjauhkan dirinya dari Jiyeon yang sedikit gugup namun yeoja itu berusaha untuk menguasai dirinya dan tetap terlihat tenang seolah tak terjadi apa-apa.

Dengan amat sangat terpaksa, Jiyeon memutuskan untuk tetap tinggal dan meneruskan kerja kelompok mereka. Disela-sela kegiatan mereka menulis lirik atau lebih tepatnya Jiyeon yang mengerjakannya, ada saja keributan diantara keduanya.

“Yaaa tak bisakah kau tenang sebentar, aku sedang berpikir” protes Jiyeon karena Myungsoo terus memainkan gitar listriknya dan itu membuat Jiyeon merasa terganggu.

“Memangnya apa yang kulakukan?” tanya Myungsoo tanpa merasa bersalah sedikitpun.

“Berhenti memainkan gitar itu dan diamlah” ujar Jiyeon dengan nada sedikit kesal.

“Mwoya? Wae?” tanya Myungsoo lagi.

“Kau membuatku kehilangan konsentrasi” jawab Jiyeon.

“Omooo…apa itu artinya kau mulai memikirkanku, Jiyeon-ssi” ujar Myungsoo yang langsung mendapat tatapan tajam dari Jiyeon.

“Yaaa Myungsoo-ssi sepertinya kau menderita narsis tingkat akut, ne. Aku sama sekali tak pernah mengatakan jika aku memikirkanmu tapi suara musikmu yang mengganggu konsentrasiku” sahut Jiyeon.

“Jeongmal? Kau yakin?” goda Myungsoo.

Jiyeon menatap Myungsoo kesal, “Lakukan sesukamu” seru Jiyeon kemudian kembali berkutat dengan kertas-kertasnya.

Tak berapa lama, ponsel Jiyeon berbunyi. Jiyeon terpaksa menghentikan aktifitasnya begitupun Myungsoo.

“Yobosseyo”

“………………….”

“Ne oppa, aku sudah selesai. Aku segera kesana”

Klik

 

Setelah mematikan sambungan ponselnya, Jiyeon segera membereska barang-barangnya.

“Neo eodiga?” tanya Myungsoo.

“Pulang” jawab Jiyeon.

“Bukankah kita belum selesai?” tanya Myungsoo.

Jiyeon tersenyum sinis, “Aku sudah menyelesaikan liriknya”.

“Jinjja?!” Myungsoo tampak tak percaya.

Jiyeon menarik pergelangan tangan Myungsoo kemudian meletakkan secarik kertas ke telapak tangan namja itu.

“Aku sudah mengerjakan bagianku, sekarang kerjakan bagianmu, arra” ujar Jiyeon lalu melangkah pergi meninggalkan Myungsoo yang menatap kepergian Jiyeon.

Lama Myungsoo memandang Jiyeon yang semakin menjauh dengan diiringi senyum penuh arti. Begitu Jiyeon sudah tak terlihat, Myungsoo langsung membereskan barangnya kemudian berlari keluar ruangan.

 

 

Jiyeon sedikit tergesa menuju tempat dimana Minho sudah menunggunya. Rencananya mereka akan menjemput Appa dan Eomma Jiyeon, yang hari ini datang dari Amerika. Begitu Jiyeon melihat Minho telah menunggunya di seberang jalan, yeoja itu pun melambaikan tangannya ke arah Minho.

“Minho oppa” panggil Jiyeon.

Minho tersenyum dan membalas lambaian tangan Jiyeon yang ada diseberang. Jiyeon yang tergesa-gesa ingin menghampiri Minho, tak menyadari adanya sebuah mobil yang melintas dengan kecepatan yang cukup tinggi saat ia menyeberang. Jiyeon yang terkejut tak bisa berkutik. Ia bahkan menutp matanya.

Minho yang menyadari bahaya mendekati yeoja yang ia sayangi langsung saja berlari menuju tempat dimana Jiyeon berdiri sekarang, namun ia terlambat. Seseorang sudah lebih dulu menarik Jiyeon dan akhirnya yeoja itu terhindar dari bahaya.

Jiyeon cukup shock saat menyadari dirinya baru saja lolos dari bahaya yang mungkin saja bisa merengut nyawanya. Ia bahkan tak menyadari jika saat ini posisi tubuhnya berada dipelukan seseorang yang telah menyelamatkannya karena Jiyeon menutup matanya saat itu.

Orang tersebut melepaskan pelukannya lalu mencengkeram kedua bahu Jiyeon.

“YAA…KAU ITU BODOH ATAU APA, HAH! BAGAIMANA BISA KAU BERDIRI DITENGAH JALAN SEPERTI ITU. BISA TIDAK KAU TAK MEMBUATKU KHAWATIR PARK JIYEON!!” bentak orang yang telah menyelamatkan Jiyeon.

Jiyeon langsung membuka matanya saat seseorang berteriak padanya. Suara itu, kata-kata itu pernah ia dengar sebelumnya.

 

 

Flashback ON

 

“YAA…KAU ITU BODOH ATAU APA, HAH! BAGAIMANA BISA KAU BERDIRI DITENGAH JALAN SEPERTI ITU. BISA TIDAK KAU TAK MEMBUATKU KHAWATIR KIM JIYEON!!” bentak orang yang telah menyelamatkan Jiyeon lebih dulu. Terlihat dengan sangat jelas betapa cemas dan khawatirnya namja itu.

Biasanya jika sudah dibentak seperti itu, Jiyeon akan melawan bahakan membalas, namun kali ini yeoja itu hanya terdiam sambil memegang erat sesuatu yang hampir saja membuat nyawanya melayang.

 

Flashback OFF

 

 

Begitu Jiyeon membuka matanya, ia seolah melihat sosok L dihadapannya.

“Oppa….L-oppa…itu kau?” Jiyeon tak kuasa menahan air matanya yang tiba-tiba saja menyeruak keluar.

“Jiyeon-ssi, ini aku. Lee Myungsoo” ucap orang itu membuat bayangan L yang dilihat Jiyeon berubah. Kini yang ada dilihat oleh Jiyeon bukan lagi L melainkan Lee Myungsoo, namja yang membuatnya kesal beberapa waktu yang lalu.

“Neo…”

“Jiyeon-ah, neo gwaenchana?” tanya Minho yang baru saja hadir ditengah-tengah mereka.

Myungsoo melihat Minho yang tampak khawatir dengan yeoja yang ada dihadapannya ini. Perlahan Myungsoo melepaskan cengkramannya dari bahu Jiyeon.

Neo….jangan melakukan hal-hal bodoh lagi” ucap Myungsoo pada Jiyeon dengan suara yang mulaimelembut tak seperti tadi. Setelah mengatakan itu, Myungsoo langsung pergi meninggalkan Jiyeon dan Minho.

Jiyeon-ah neo gwaenchana? Apa ada yang terluka?” tanya Minho lagi.

Bukannya menjawab, Jiyeon malah kembali menitikkan air matanya. Ia tak tahu bagaimana harus menjelaskan perasaannya saat ini. Ini bukan pertama kalinya ia melihat sosok L-oppanya dalam diri seorang Lee Myungsoo, namja yang baru saja ia kenal beberapa hari yang lalu.

“Oppa…Minho oppa…eottokhe? Itu jelas bukan dia tapi kenapa seperti dia?” ucap Jiyeon ditengah isak tangisnya.

Minho yang sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud Jiyeon hanya bisa memeluk tubuh yeoja itu yang tampak bergetar.

“Uljima Jiyeon-ah….uljima….” ucap Minho lirih.

Tanpa keduanya sadari, Myungsoo melihat mereka di tempat yang tak jauh dari tempat Jiyeon dan Minho berdiri. Tak tahu mengapa namja itu merasakan sesak di dadanya saat melihat Minho memeluk Jiyeon.

Saat menyelamatkan Jiyeon dari kecelakaan tadi, sebenarnya Myungsoo mendapatkan sedikit gambaran. Dalam memorinya, ia merasa pernah mengalami kejadian serupa hanya saja gambaran itu sedikit buram. Kata-kata yang ia ucapkan tadi seolah meluncur begitu saja tanpa ia sadari.

 

 

In Shinhwa High School

 

Eunji yang sudah tiga tahun lamanya baru kembali lagi ke Korea, merindukan sekolah lamanya. Dengan ditemani In Guk, namjachingunya yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya, ia mengunjungi sekolahnya.

Sekolah itu memang tak banyak berubah sejak terakhir kali ia meninggalkan tempat yang memiliki banyak kenangan itu. Setidaknya itu yang Eunji rasakan. Seperti baru kemarin ia lulus dari sekolah yang mewarnai hari-harinya bersama dengan chingu-chingunya, Minho dan Myungsoo. Di setiap tempat yang ia lewati, ia seolah melihat potongan-potongan kejadian yang dulu pernah dialaminya. Terkadang potongan-potongan ingatan itu membuatnya tersenyum sendiri bahkan mendadak membuatnya menjadi sangat sedih.

“Chagi-ah, neo wae?” tanya In Guk yang menyadari perubahan suasana hati Eunji.

Eunji menggeleng pelan, “Aku hanya teringat berbagai hal yang pernah kualami di tempat ini, oppa” jawab Eunji seraya menyunggingkan senyumnya, tak ingin membuat In Guk khawatir.

“Kau pasti memiliki banyak kenangan indah disini” ucap In Guk.

“Tak hanya indah tapi juga yang paling menyenangkan sekaligus menyedihkan” ujar Eunji.

“Ne?” tanya In Guk tak mengerti.

Belum sempat Eunji menjawab pertanyaan namjachingunya, seseorang tepatnya seorang yeoja memanggil nama namjachingunya.

“In Guk oppa….kau In Guk oppa, bukan?” tanya seorang yeoja yang tiba-tiba menghampiri In Guk, namjachingu Eunji.

Awalnya In Guk sedikit lupa dan tak mengenali yeoja yang memakai seragam Shinhwa High School itu tapi begitu melihat nametagnya, akhirnya In Guk mengenalinya.

“Kau Yura? Lee Yura?” tanya In Guk akhirnya ingat siapa yeoja yang ada di depannya ini diikuti senyum yang terkembang dari bibir yeoja itu.

“Nugu?” tanya Eunji.

“Dia Lee Yura, dongsaeng nae chingu, Lee Myungsoo, yang kemarin kuceritakan padamu” jawab In Guk.

“Annyeong eonnie, nan Lee Yura imnida” ucap yeoja itu memperkenalkan diri.

“Ne annyeong…Eunji imnida” ucap Eunji.

“In Guk oppa, apa yang oppa lakukan disini?” tanya Yura.

“Aku menemani yeojachinguku, melihat-lihat sekolahnya dulu” jawab In Guk.

“Mwo? Jinjja? Eunji eonnie pernah bersekolah disini?” tanya Yura menatap ke arah Eunji.

Eunji tersenyum dan menjawab pertanyaan Yura dengan sebuah anggukan.

“Whoooah….kalau begitu eonnie adalah sunbaeku, eoh” ujar Yura.

“Ne” sahut Eunji.

“Oppa, apa kau sudah bertemu dengan Myungsoo oppa?” tanya Yura.

“Aku sudah bertemu dengannya Yura-ah, tapi sepertinya oppamu lupa padaku. Ah anhi, ia bahkan seperti tak mengenaliku” ucap In Guk bingung.

“Mwo? Jeongmalyo oppa?” tanya Yura terkejut.

“Ne Yura-ah. Sebenarnya apa yang terjadi dengan oppamu?” tanya In Guk.

“Molla….tiga tahun lalu sejak oppa sadar dari komanya, ia memang sedikit aneh. Appa bilang Myungsoo oppa kehilangan beberapa memorinya. Dulu bahkan ia juga tak mengingatku dan aku merasa sedikit asing dengannya. Mungkin saja itu alasan kenapa Myungsoo oppa tak mengenali oppa. Dan oppa tahu tidak, Myungsoo oppa bahkan seperti mummy saat itu karena wajahnya diperban” ujar Yura.

“Myungsoo kehilangan memorinya dan wajahnya diperban? Wae? Bukankah oppamu terkena leukimia?” tanya In Guk penasaran sedangkan Eunji mendengarkan dengan seksama. Entah mengapa ia menjadi sedikit tertarik dengan cerita Yura.

Yura menggeleng, “Molla…appa hanya bilang itu karena operasi dan Myungsoo oppa juga mengalami alergi oleh karena itu wajah Myungsoo oppa harus diperban” jelas Yura.

“Mian Yura-ah, waktu itu aku tak sempat mengunjungi Myungsoo saat aku keluar dari rumah sakit. Kukira waktu itu dia sengaja pura-pura tak mengenaliku karena marah padaku yang tak pernah mengunjunginya di rumah sakit” ucap In Guk merasa tak enak.

“Gwaenchana oppa, lagipula begitu Myungsoo oppa sadar, appa langsung membawa kami ke Jepang. Aku saja baru pindah kesini beberapa hari yang lalu” ujar Yura.

“Bisakah kau pertemukan aku dengan oppamu, Yura-ah? Aku ingin meminta maaf padanya karena tak sempat mengunjunginya” pinta In Guk.

“Ne tentu saja oppa. Geurom aku harus pergi sekarang karena aku harus segera kembali ke kelas” pamit Yura kemudian yeoja itu pun pergi meninggalkan In Guk dan Eunji.

Sepeninggal Yura, Eunji yang diam-diam mendengarkan cerita Yura mengenai oppanya, merasa sedikit penasaran dan merasa ada yang janggal entah apa itu. Sebenarnya sejak awal ia mendengar nama Myungsoo disebut oleh In Guk saat di restoran waktu itu, Eunji langsung terpikir soal chingu terbaiknya yang hilang bagi ditelan bumi, L.

“In Guk oppa, kau bilang chingumu yang bernama Lee Myungsoo itu menderita leukimia, ne? Menurutmu apakah operasi untuk penderita leukimia bisa mempengaruhi otak seseorang sehingga kehilangan memorinya?” tanya Eunji.

“Aku juga sedikit merasa aneh disini karena yang aku tahu operasi untuk penderita leukimia adalah sumsum tulang belakang, sama sekali tak ada hubungannya dengan otak. Apalagi soal operasi yang menyebabkan alergi hingga membuat wajah Myungsoo harus diperban, menurutku itu sedikit aneh” jawab In Guk membuat Eunji berpikir tapi ia belum menyimpulkan apapun tentang itu.

 

 

Lee Family’s House

 

Myungsoo tak dapat memejamkan matanya. Ia masih teringat kejadian tadi siang dimana ia menyelamatkan Jiyeon. Ia berusaha mengingat kejadian serupa yang pernah ia alami yang tiba-tiba muncul dari dalam ingatannya.

Dalam ingatannya yang sepotong itu, Myungsoo tampak menolong seorang yeoja lalu kemudian seorang namja menghampiri mereka. Saat Myungsoo mencoba memperjelas ingatannya, wajah yeoja itu mirip sekali dengan Jiyeon dan wajah namja itu sama dengan namja yang tadi menghampirinya dengan Jiyeon.

 

“YAA…KAU ITU BODOH ATAU APA, HAH! BAGAIMANA BISA KAU BERDIRI DITENGAH JALAN SEPERTI ITU. BISA TIDAK KAU TAK MEMBUATKU KHAWATIR KIM JIYEON!!” Kata-kata itu terus terngiang ditelinga Myungsoo.

 

 “Kim Jiyeon…..Park Jiyeon….apa mereka orang yang sama?” gumam Myungsoo.

 

 

Park Family’s House

 

Minho dan Jiyeon tengah duduk di taman belakang kediaman keluarga Park setelah mereka menikmati makan malam bersama appa dan eomma Jiyeon. Keduanya tampak larut dengan pikiran masing-masing namun yang mereka pikirkan adalah hal yang sama.

Minho teringat kejadian tadi siang dimana namja itu menyelamatkan Jiyeon dari bahaya. Kejadian itu begitu mirip dengan kejadian tiga tahun yang lalu. Lagi-lagi ia terlambat menyelamatkan nyawa Jiyeon. Jika dulu ia terlambat karena L lebih dulu menarik Jiyeon, kini ia terlambat karena namja bernama Lee Myungsoo itu yang juga lebih dulu menarik Jiyeon dari bahaya.

‘Lee Myungsoo, nugu?’ pikir Minho.

Jiyeon juga teringat kejadian siang tadi. Selain itu dia juga mengingat hal-hal apa saja yang ia lewatkan dengan Myungsoo akhir-akhir ini. Mulai dari pertama kali Jiyeon melihat namja itu di kampus, di danau, di kelas, di restoran dan yang terakhir di jalanan yang hampir merenggut nyawanya.

‘Semua yang terjadi, mungkinkah hanya sebuah kebetulan? Lee Myungsoo dan Kim Myungsoo jelas dua orang yang berbeda. Nama mereka memang mirip tapi sikap mereka sungguh berbeda meski ada beberapa kesamaan diantara keduanya keundae mata itu….kata-kata itu….bagaimana bisa persis sama?’ tanya Jiyeon dalam hati.

 

 

Beberapa hari sejak hari itu, baik Myungsoo, Jiyeon maupun Minho tak ada satupun diantara ketiganya yang membahas masalah itu meski ketiganya memiliki banyak pertanyaan di benak mereka masing-masing.

Jiyeon dan Myungsoo masih latihan seperti biasanya dan Minho juga sibuk dengan kegiatan kampusnya. Hingga waktunya presentasi tugas kelompok pun tiba, dimana Jiyeon dan Myungsoo harus menyanyikan lagu yang mereka buat.

“Kau siap?” tanya yungsoo yang dijawab anggukan oleh Jiyeon.

 

 

* Ijen sarangttawin geureon sarangeun

Katakan cinta sekarang, aku mencintaimu

 Heulleonaerin geomeun nunmul soge ssiseulgeoya

Airmata hitam yang mengalir akan dibersihkan

 Maeumi neomu jichyeoseo

Hatiku terlalu lelah

 Sumi neomu makheyoseo

Nafasku sangat sesak

 Dubeon dasi saranghaji mothae

Aku tak dapat mencintai untuk kedua kali

 

** Ijen sarangttawin geureon sarangeun

Katakan cinta sekarang, aku mencintaimu

 Heulleonaerin geomeun nunmul soge ssiseulgeoya

Airmata hitam yang mengalir akan dibersihkan

 Jamsido neoreul nan yongseohaji anhneulgeoya

Untuk sesaat aku tak bisa memaafkanmu

 Harudo useul su eobdahaedo nal ireohke

Hari inipun aku tak bisa tersenyum, aku seperti ini

 

 Ireon il saenggil jul mollaseo

Aku tak tau apa yang menyebabkan ini

 Sangsangjocha han jeokdo eobseo

Tak pernah terbayangkan

 Kkumiramyeon kkaegoman sipheo

Aku ingin ini hanya sekedar mimpi

 Jiul suneun eobneun geoni

Aku merasa tak mampu untuk menghapusnya

 

 Jogeumdo sorinaegi himdeun apheumiraseo

Sedikit sulit mengungkapkan rasa sakit ini

 Jeomjeom gipheun sangcheoga dwaesseo

Luka ini sangat dalam

 Nae mam da gudeojyeogago jjitkyeojyeogago

Seluruh hatiku keras dan tercabik

 Yeorin nae moseubeun sarajineunde

Kelembutan dariku telah menghilang

Back to *

Back to **

 Ireon il saenggil jul mollaseo

Aku tak tau apa yang menyebabkan ini

Sangsangjocha han jeokdo eobseo

Tak pernah terbayangkan

 Kkumiramyeon kkaegoman sipheo

Aku ingin ini hanya sekedar mimpi

 Dwaedollil su eobneun geoni

Aku merasa tak kan bisa kembali

 Jogeumdo neo beoriga himdeun gieogiraseo

Kau sedikit melupakan kenangan yang sulit

 Jeomjeom gipheo pheojyeoman gaseo

Sedikit demi sedikit perasaan senang ini datang

 

 Nae mam da chagaweojyeoseo

Hatiku menjadi lebih dingin

 Da buseojyeogaseo

Menghancurkan semua

 Yeorin nimoseubeul wimyeonhaneunde

Semua kelembutan yang terlihat darimu

 

 Ijen sarangttawin geureon sarangeun

Katakan cinta sekarang, aku mencintaimu

 Heulleonaerin geomeun nunmul soge ssiseulgeoya

Airmata hitam yang mengalir akan dibersihkan

 Salmi jichyeobeoryeoseo neomu sumi makyeoseo

Membuang kelelahan hidup yang sangat menyesakkan nafasku

 Cheoeumbutheo saranghaji mothae

Dari awal aku tak mengerti cinta

 Back to **

 Nunmuri naseo

Airmataku jatuh

Neomuna gimakhyeoseo

Sangat sesak

 Neoreul saranghaetdeon naega hansimhaeseo

Aku mencintaimu, aku seorang yang buruk

 Geomge beonjyeomanganeun nae nunmulmankheum neol

Kau seperti airmata hitam yang mengalir

 Yeongweonhi aphahagil gidohae

Berdoa kesakitan ini selamanya

Back to *

  Back to **

 ( Black Tears – Kan Jong wook ft Beige )

 

Usai Jiyeon dan Myungsoo menyanyikan lagu yang mereka buat, semua chingu mereka memuji lagu dan suara mereka. Prof. Han bahkan memberikan nilai plus untuk mereka. Tak ada yang tahu jika saat Jiyeon dan Myungsoo menyanyikan lagu itu, seseorang mendengarkan dari balik pintu yang sedikit terbuka. Hatinya begitu tersayat menyadari bahwa Jiyeon dan Myungsoo menyanyikan lagu itu dengan penghayatan penuh seolah mereka merasakan apa yang mereka sampaikan dalam lagu itu.

‘Bahkan disaat dia tak disampingmu pun aku takkan pernah ada dihatimu’ batin orang itu kemudian pergi.

 

 

Jiyeon mengajak Minho ke kedai es krim yang menjadi favoritnya sejak dulu untuk merayakan keberhasilannya. Kebetulan saat mereka baru sampai ternyata disana sudah ada Eunji dan In Guk.

“Eonnie…kau disini?” tanya Jiyeon terkejut, tak menyangka bertemu Eunji di tempat itu.

“Ne, es krim disini benar-benar enak. Sejak pertama kali aku kesini aku sudah menjadikan tempat ini favoritku, kau tau” ujar Eunji yang sama sekali tak menyebutkan nama L di depan Jiyeon karena sebenarnya yang pertama kali mengajak Eunji ke tempat itu adalah L.

“Kau benar Eonnie” sahut Jiyeon tersenyum senang.

Akhirnya Jiyeon dan Minho pun duduk satu meja dengan Eunji dan In Guk.

“Jam berapa kalian janji bertemu oppa?” tanya Eunji pada In Guk.

“Kurasa sebentar lagi mereka datang” jawab In Guk.

“Kalian ada janji dengan orang?” tanya Minho.

“Ne…seorang teman lama” jawab In Guk.

“Kurasa kalian sudah pernah melihatnya. Bukankah Jiyeon mengenalnya” ucap Eunji.

Jiyeon yang tengah menikmati es krimnya langsung menghentikan aktifitasnya.

“Ne? Nuguya?” tanya Jiyeon tak mengerti.

Belum juga Eunji menjawab pertanyaan Jiyeon, In Guk berdiri dan memanggil nama chingunya.

“Yura-ah…Myungsoo-ah….disini” panggil In Guk.

“Myungsoo? Lee Myungsoo?” tanya Jiyeon kemudian menoleh kebelakang. Benar saja, ia melihat sosok itu berjalan menuju ke arahnya dengan seorang yeoja yang memakai seragam Shinhwa High School.

Minho juga ikut menoleh, mengikuti arah pandang Jiyeon. Lagi-lagi perasaan aneh muncul di hati Minho. Meski baru beberapa kali mereka bertemu, Minho memang belum pernah berkomunikasi secara langsung dengan Myungsoo. Hanya saja tiap kali tak sengaja melihat namja itu dari jauh, ia seperti melihat sosok sahabatnya dalam diri namja itu karena sikap dan kebiasaan L yang Minho tahu juga dilakukan oleh Myungsoo tapi Minho sama sekali tak pernah membicarakan masalah ini terhadap siapapun termasuk Jiyeon.

Myungsoo dan Yura kini sudah duduk di meja yang sama dengan Jiyeon, Minho, Eunji dan In Guk. Awalnya Myungsoo terlihat bingung mengapa Yura mengajaknya ke tempat itu dan menemui seseorang yang bernama In Guk. Namun karena rasa penasaran, Myungsoo hanya bisa mengikuti Yura. Dan sepanjang jalan menuju tempat yang kini ia singgahi, ia merasa pernah mengenal tempat itu sebelumnya.

“Annyeong Myungsoo-ah” sapa In Guk.

“Annyeong…kau In Guk? Kau yang bertemu denganku di restoran beberapa waktu lalu, bukan?” tanya Myungsoo sembari membalas sapaan In Guk.

In Guk mengangguk.

“Kau juga yang menyuruh Yura, dongsaengku, untuk membawaku ke tempat ini?” tanya Myungsoo lagi.

“Ne” jawab In Guk.

“Wae?”

“Nan mianhaeyo Myungsoo-ah” ucap In Guk.

“Mwo? Untuk apa kau meminta maaf padaku, eoh?” tanya Myungsoo tak mengerti.

“Oppa, In Guk oppa meminta maaf padamu karena tak sempat mengunjungimu di rumah sakit setelah ia keluar dari rumah sakit. In Guk oppa mengira kau marah padanya sehingga kau melupakannya” ucap Yura menjawab pertanyaan Myungsoo.

Myungsoo makin terlihat bingung dan Minho menyadari lagi kebiasaan Myungsoo yang persis sama dengan L saat sedang bingung yaitu mengerutkan sedikit keninngnya dan menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tak merasa gatal.

“Mian….keundae aku benar-benar tak bisa mengingatmu” ucap Myungsoo.

“Gwaenchana, Yura sudah menceritakannya padaku jika kau kehilangan ingatanmu karena operasi” ujar In Guk.

“Ne” ucap Myungsoo.

“Amnesia?” tanya Minho.

“Ne, sejak aku sadar dari koma, aku sama sekali tak bisa mengingat apapun bahkan namaku sendiri” jawab Myungsoo.

“Koma? Memangnya kau sakit apa?’ lagi-lagi Minho bertanya dengan penasaran.

Jiyeon yang melihat sikap Minho yang tampak begitu penasaran menjadi sedikit aneh. Ia merasa Minho seperti mengejar sesuatu entah apa itu.

“Kecelakaan” “Leukimia” sahut Myungsoo dan Yura bersamaan.

Mendengar jawaban Myungsoo dan Yura yang begitu berbeda membuat mereka semua yang ada disana menjadi bingung.

“Leukimia?” tanya Myungsoo pada dongsaengnya, Yura.

“Ne, bukankah oppa menderita penyakit yang sama dengan eomma? Itu yang kudengar dari halmeoni waktu itu saat kau dirawat di rumah sakit, oppa” jawab Yura.

“Bagaimana bisa jawaban kalian begitu berbeda?” tanya Eunji kali ini buka suara.

Myungsoo tak menjawab pertanyaan Eunji. Ia hanya terdiam, tampak seperti sedang memikirkan sesuatu. Kemudian namja itu berdiri dan meninggalkan tempat tersebut.

“OPPA….YAAA MYUNGSOO OPPA, EODIGA?” teriak Yura seraya mengejar oppanya yang pergi begitu saja.

Minho dan Eunji sama-sama terdiam. Mereka seperti sedang memikirkan sesuatu. In Guk tampak sedikit bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Sedangkan Jiyeon, yeoja itu bahkan tak mengerti apa yang terjadi sebenarnya.

 

 

TBC

 

Untuk password part selanjutnya : nama Appa kandung Jiyeon?

40 responses to “Lost of Memory ( 16 of ? )

  1. wah wah wah rumit rumit rumit.. konflik’y semakin seru n bikin greget,, semoga ajj semua’y bisa cepet kembali seperti semula,ne…

    next…

  2. aigoooo rumit eonni kekekek
    tpi seru bacanya ^_^
    semoga myungsoo oppa cpet inget jiyeon, n rubah wajahnya lagi jdi kyk dulu kekekke *ngarep* kekekeke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s