Inside of Me [Epilogue-NC]

insideofme.

-YOCHI YANG-

presents

INSIDE OF ME

Main Casts : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Yoo Seungho, Im Yoona

Other Casts : Im Jaebum ‘JB’, Park Jungsoo, Park Hyomin, Kim Jonghyun, Kim Taeyeon, Kim Soohyun, Yoo Yunsuk, Ham Eunjung, Lee Jieun, Jung Eunji 

Genre : Romance, Family, Fantasy, Little bit comedy

Rating : PG-15

Length : Chaptered

Warning : NO CHILDREN HERE!!

Seperti yang udah author umumin sebelumnya, akan ada adegan NC di epilogue part ini yang lumayan atau bahkan sangat parah😀. Jadi diharap bagi yang masih di bawah umur untuk tidak ikut membaca, karena author ga mau memberikan pengaruh negatif pada psycho kalian yang masih kecil. Tapi kalau kalian masih tetep ngotot pengen baca, author ga mau tanggung jawab kalo tiba-tiba saja nanti malam kalian ga bisa tidur dan terus-menerus mengigau memanggil-manggil nama author😀

Tapi serius lho ya, buat yang masih dibawah umur mending jangan baca, karena ini juga demi kebaikan kalian sendiri, okay? 😉

Buat yang udah cukup umur sebaiknya juga hati-hati dan jangan sampai bacanya bareng sama pacar, tapi kalo sama suami sih sah-sah aja.. kkkk😀 *plak!*

NB : Ini adalah FF NC pertama author yang author dapatkan dari berbagai sumber terpercaya (?), jadi mian kalo misalnya feelnya ga dapet atau malah dapet banget, kkkk~😀

||

“Oh My God.. What happened..??”

||

Previous story : | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9-End |

Jiyeon POV

Aku membuka kedua mataku perlahan. Kugerakkan badanku menggeliat sembari menguap lebar dan mengucek-ngucek kedua mataku yang masih lengket itu berkali-kali. Aku sedikit terkejut ketika mendapati seorang namja tengah tertidur pulas di sebelahku. Namun beberapa saat kemudian aku sadar kalau itu adalah Myungsoo. Ya, aku baru ingat kalau tadi malam aku sudah resmi menjadi istri sah Myungsoo. Masih dengan posisi berbaring, aku mengembangkan senyum. Kupandangi wajah polos Myungsoo yang masih tampak pulas itu. Tampan, sexy, dan juga lucu. Itulah yang ada di pikiranku saat ini. Namja yang biasanya cenderung berekspresi dingin itu tampak seperti seorang bayi tak berdosa saat tertidur. Sekali lagi aku tersenyum kecil. Perlahan kuelus pipi suamiku itu dengan lembut.

“Kim Myungsoo.. Akhirnya kita bisa hidup bersama.” Gumamku lirih.

Bahagia. Hanya itu yang kurasakan saat ini. Perlahan aku mendekatkan wajahku pada namja yang tertidur di sampingku itu dan kukecup pipinya dengan lembut.

“Saranghae, Myungsoo..” bisikku pelan.

Sekali lagi kupandangi wajah tampan Myungsoo. Astaga, aku benar-benar tidak merasa bosan memandanginya. Alis, bulu mata, kelopak mata, hidung, bibir, semua tak ada yang lepas dari pandanganku. Aku meneguk ludahku sendiri. Andwae, apa yang sedang kupikirkan? Ah, keunde bukankah dia sudah menjadi suamiku? Tidak salah kalau aku memikirkan sesuatu yang seperti itu. Aish! Michyeosseo.. Baiklah, sebentar saja. Aku akan menciumnya sebentar saja, sebelum dia terbangun atau aku akan merasa malu sendiri. Maka dengan perlahan dan menahan degupan keras di jantungku, aku kembali mendekatkan wajahku pada wajah Myungsoo. Dan kali ini aku mengincar bibir tipis sexynya itu. Namun belum sempat aku melaksanakan niatku, kedua kelopak mata Myungsoo tampak bergerak-gerak dan sejurus kemudian pun terbuka. Aku terkejut bukan main dan segera menjauhkan kepalaku kemudian langsung mengubah posisiku menjadi duduk membelakangi Myungsoo.

A-ah, kau sudah bangun? Aku baru saja hendak membangunkanmu..” kataku dengan sedikit gugup. Aigoo.. Apa yang baru saja kulakukan tadi? Aish! michyeosseo..

Tak segera kudengar sahutan dari Myungsoo. mungkin dia merasa heran melihat sikapku yang tampak gugup. Ck.. Merepotkan. Namun tiba-tiba saja aku merasakan pinggangku dipeluk oleh Myungsoo dari belakang. Setelah itu dibenamkannya wajahnya pada bahu kananku.

Y-yaa.. Mwohaeyo?” tanyaku sedikit canggung.

“Biarkan seperti ini. aku masih mengantuk jadi biarkan aku tidur seperti ini sebentar saja.” Sahut Myungsoo dengan manja.

“Keunde, bukankah kau harus pergi ke kantor pagi ini?”

“Anni.. Aku akan meminta cuti dului pada Abeoji. Dia pasti mengerti. Lagipula mana ada pasangan pengantin baru yang menyia-nyiakan malam pertama mereka seperti semalam? Pokoknya aku ingin menikmati malam pertama kita secepatnya. Arra?”

Wajahku memanas seketika mendengarnya. Sial. Kenapa dia membicarakan hal itu? Membuat pikiranku melayang kemana-mana saja.

Cup~

Tiba-tiba saja Myungsoo mengecup pipiku sekilas.

“Aigoo.. Wajahmu merah sekali Chagiya.. Kau benar-benar menggemaskan. Jinjja..” ucapnya, membuatku semakin salah tingkah.

“Jiyeon..” panggil Myungsoo kemudian dengan berbisik tepat di telinga kananku, membuatku sedikit merinding.

Eo-eoh?” sahutku gugup.

“Bisakah kita melakukannya sekarang?”

Ehek! Seperti disengat lebah, aku pun mendadak melepaskan pelukan Myungsoo dan seketika berdiri.

“Waeyo?” tanya Myungsoo heran.

A-ah.. geuge..”

“Shireo?”

“Ah.. Geurohke anniya.. Geu-geunyang..” Aigoo aku benar-benar tak mampu melanjutkan ucapanku. Entah kenapa aku jadi begitu mati kutu (?) di depan Myungsoo saat itu.

Aku merasakan Myungsoo yang perlahan berdiri dan mendekatiku.

“Arrasseo.. Kau pasti masih belum siap. Kau masih belum menginginkannya, geureotji?” tanyanya dengan lembut kembali memeluk pinggangku dari belakang.

“Anni.. Aku.. Aku menginginkannya.. Keunde, aku.. Aku takut..” Aish! Eottokhe?

Myungsoo tak segera menjawab melainkan membalikkan tubuhku sehingga posisi kami menjadi berhadapan. Disentuhnya kedua bahuku, sementara aku hanya bisa menunduk tanpa berani menatap Myungsoo.

“Tak ada yang perlu ditakuti. Aku akan melakukannya dengan hati-hati.”

Aku hanya diam saja mendengarnya. Jujur aku memang menginginkannya juga. Tapi jinjja, aku sangat takut dan masih belum merasa siap. Myungsoo mengangkat daguku sehingga mau tak mau kedua mataku menatapnya lurus. Sejurus kemudian ia pun mendekatkan wajahnya dan mulai mencium bibirku dengan lembut. Tak ada yang bisa kulakukan kecuali menurut dan membalas kecupan dari suamiku itu. Dalam hitungan detik kami pun saling berciuman dengan mesra. Kedua tangan Myungsoo yang semula memeluk pinggangku itu bergerak meraba-raba tubuhku hingga menuju dadaku dan sejurus kemudian pun ia mulai memegang serta meremas dua benda menonjol milikku itu dengan pelan. Aku sedikit terkejut, namun entah kenapa aku sama sekali tak menolaknya. Sentuhan dari Myungsoo benar-benar sangat lembut dan membuatku melayang. Setelah itu ciumannya beralih turun ke leherku masih dengan kedua tangannya yang bermain-main di dadaku.

Enggh.. hhhh..” aku melenguh pelan dengan memejamkan mata karena merasakan nikmat yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Astaga! Apa ini sebenarnya? Namun belum sampai setengah jalan kami bermain, tiba-tiba saja pintu kamar kami diketuk sesorang dari luar. Myungsoo pun seketika menghentikan permainannya.

“Nuguseyo?” tanyanya sedikit kesal.

“Eomma.. Kalian sudah bangun?”

Kami tersentak mendengarnya. Dengan gugup, Myungsoo pun berjalan menuju pintu kamarnya, sementara aku sudah sibuk memperbaiki pakaianku yang berantakan.

Eomma, wae geurae?” tanya Myungsoo beberapa saat setelah membuka pintu.

A-annyeonghaseyo, Eomeonim..” sapaku pula memberi hormat.

Eomeonim tersenyum.

“Apa kedatanganku mengganggu kalian?” tanyanya kemudian.

A-anniyo.. Kami berdua.. baru bangun tidur. Keunde kenapa Eomma datang kemari? Apa ada sesuatu?” tanya Myungsoo pula mencoba menyembunyikan kegugupannya.

“Eomma dan Abeoji akan ke luar kota selama beberapa hari karena urusan bisnis. Apa kalian baik-baik saja di rumah sendiri?”

Ah.. Nde, gwaenchanhayo, Eomma. Keunde, apa kalian akan pergi sepagi ini?”

“Ne.. Karena ini juga sangat mendadak. Gwaenchanha?”

Ahh.. Gwaenchanhayo, Eomma.”

“Geureom.. Baik-baiklah kalian di rumah.”

“Nde..”

Eomeonim kembali tersenyum, lalu berbalik dan beranjak pergi. Myungsoo kembali menutup pintu kamar dan kembali beralih menatapku seolah mengatakan ‘let’s continue’ padaku.

W-wae?” tanyaku pura-pura tidak mengerti. Padahal dadaku sudah berdebar-debar tidak karuan.

Myungsoo tak segera menjawab melainkan hanya menatapku saja. Namun baru saja ia hendak mendekatiku, tiba-tiba saja seseorang berseru.

“Jamkkanman!!”

Secepat kilat kami pun menoleh ke asal suara.

“JB!!!””

Grrrr.. Lagi-lagi namja itu muncul dan merusak suasana. Namja aneh itu tampak sedang duduk di atas tempat tidur kami dengan watadosnya.

“Yaa!! Tak bisakah kau masuk dengan sopan?” aku pun berteriak padanya.

“Santai.. Santai.. Aku datang bukan untuk mengajak ribut. Aku datang hanya ingin berpamitan saja pada kalian.” Kata JB tenang.

“Mworago?” tanyaku pula.

“Ne. Tugasku di sini sudah selesai karena kalian sudah berhasil menemukan kebenarannya dan kembali pada tubuh kalian masing-masing. Jadi sudah waktunya aku kembali ke duniaku.”

“Yaa.. Sebenarnya kau ini makhluk apa dan darimana asalmu?” tanya Myungsoo pula.

“Aku ini adalah arwah. Aku diutus Dewa untuk melaksanakan tugas ini agar aku bisa berreinkarnasi.”

“Yaa.. Jangan bodoh. Mana mungkin ada hal semacam itu? Lagipula mana ada arwah yang bisa menyentuh barang-barang seperti itu?”

Aish! Molla.. Molla. Terserah kalian saja mau percaya atau tidak. Kedatanganku kemari hanya untuk berpamitan. Setelah ini kalian bisa berbuat sesuka hati kalian tanpa merasa khawatir akan kuganggu. Geureom, na ganda. Annyeong!”

Belum sempat kami menjawab, JB sudah lenyap dari pandangan kami. Mwoya? Dia menghilang? Benar-benar bisa menghilang? Aigoo.. Pasti aku tengah bermimpi.

“Jiyeon, gwaenchanha?” tegur Myungsoo padaku, membuatku tersadar karenanya.

Ahh, gwaenchanha. Keunde, apa kita tak akan bertemu dengannya lagi?” kataku.

“Molla. Semoga saja tidak. Aku sudah bosan diganggu olehnya terus.”

“Keunde.. Aku berharap masih bisa bertemu dengannya lagi.”

Myungsoo tak menjawab, melainkan memegang kedua bahuku sambil menatapku.

“Wae?” tanyaku sedikit heran.

“Yeppeuda..” katanya singkat, namun sukses membuat wajahku memanas. Aish! namja ini benar-benar pintar membuat orang lain mati kutu. Aku pun berdehem kecil mencoba mengusir kecanggunganku.

“Aku.. akan mandi dulu.” Kataku langsung bergegas beranjak masuk ke dalam kamar mandi.

Aigoo.. Apa yang baru saja terjadi tadi? Aku menyentuh dadaku. Teringat dengan kejadian sekilas tadi. Ya Tuhan. Aku baru saja dinodai oleh Myungsoo. Apa ini artinya aku sudah dikatakan tidak suci lagi? Aish! masa bodoh. Dia kan sudah menjadi suamiku.

“Chagiya.. Aku juga ingin mandi. Tak bisakah kita mandi bersama?”

Ehk! Aku tersedak mendengar suara Myungsoo itu.

Mwo? Michyeosseo?” seruku. Apa-apaan namja itu? Mandi bersama?

“Kita kan sudah menjadi suami istri. Jadi tidak ada salahnya kan kalau kita mandi bersama?” ulangnya lagi.

Aku tak berniat ingin meladeninya. Tanpa berkata apapun, aku pun segera melepas bajuku.

 

Myungsoo POV

Aigoo… Istriku ini benar-benar masih polos. Aku menarik napas panjang. Baiklah, tidak masalah. Masih ada banyak waktu untuk melakukannya. Dengan langkah gontai akupun kembali berjalan menuju tempat tidur. Dan begitulah. Kupikir seharian di rumah bersama Jiyeon hari ini akan berjalan mulus. Tapi ternyata harapanku tinggal harapan saja, karena seharian kedua teman Jiyeon alias Jieun dan Eunji itu datang dan tak memberikan kesempatan untuk kami berdua sama sekali. Dan begitu mereka berdua pulang, aku malah mendapatkan telepon dari Seungho hyung yang mengatakan kalau kami mendapatkan undangan dari klien di acara anniversary pernikahannya malam nanti. Sebenarnya aku bermaksud ingin beralasan tak bisa datang, tapi berhubung klien kami itu sangat berpengaruh dalam bisnis kami, mau tak mau aku pun harus menerimanya. Aigoo.. Sepertinya aku memang harus benar-benar bersabar. Sekali lagi, baiklah.. Tidak masalah. Masih ada banyak waktu..

Author POV

Brrrrrrrrrrr!!

Hujan malam itu turun dengan deras mengguyur permukaan kota Seoul. Bersamaan dengan itu tampak sebuah taksi yang ditumpangi oleh Myungsoo dan Jiyeon berhenti tepat di depan gerbang rumah Myungsoo. Setelah membayar ongkos taksi, keduanya pun keluar dari taksi. Ya, mereka berdua baru saja pulang dari acara klien Myungsoo dan Seungho. sebenarnya Myungsoo bisa saja memakai mobil sendiri. Tapi mobil miliknya saat ini sedang digunakan oleh Jonghyun karena mobil milik Jonghyun sedang berada di bengkel. Kini kedua pasangan pengantin baru itu tampak berlari-lari kecil menembus derasnya hujan menuju beranda rumah mereka.

“Aish! tahu hujan begini kita menginap di Lotte Hotel saja tadi.” Kata Myungsoo sedikit kesal karena hampir seluruh bajunya basah kuyub. Ia melihat ke arah istrinya.

“Gwaenchanha? Kkaja kita masuk. Jangan sampai kau sakit.” Katanya lagi.

Nan gwaenchanha. Aku suka hujan.” Kata Jiyeon sambil tersenyum riang.

“Yaa.. Suka atau tidak suka, air hujan bisa membuatmu sakit. Ppalliwa..”

“Aigoo.. Kau lama-lama menjadi cerewet, Tuan Kim.”

“Itu karena aku peduli denganmu, Nyonya Kim.”

Jiyeon tersenyum mendengarnya. Lalu ia pun mendahului Myungsoo masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar. Sementara Myungsoo yang masih tertinggal itu hanya tersenyum melihat tingkah Jiyeon.

GLEGAARR!! DHUAARR!!

“KYAAAAA!!!”

Myungsoo terkejut mendengar suara teriakan Jiyeon itu. Dengan cepat ia pun segera berlari menuju kamarnya. Tapi setibanya di kamar, ia mendapati istrinya itu baik-baik saja.

“Jiyeon! wae geurae? Gwaenchanha?” tanya Myungsoo cemas.

Ah, gwaenchanha. Aku hanya terkejut mendengar suara petir tadi, hehe mianhae..” sahut Jiyeon sambil nyengir dan menunjukkan dua jari tangannya membentuk huruf V.

Myungsoo mendecak kesal melihatnya.

“Yaa! Kenapa kau ini berlebihan sekali? Apa kau tidak tahu kalau aku mengkhawatirkanmu, eoh? Kupikir sesuatu yang buruk terjadi padamu.” Katanya.

Arra.. Mianhae..”

Myungsoo tak menjawab melainkan hanya mendesah saja. Jiyeon jadi merasa bersalah karenanya. Maka ia pun mendekati Myungsoo lalu mengecup pipinya sekilas.

“Itu hadiah karena sudah mengkhawatirkanku.” Katanya sambil mengedipkan sebelah matanya.

Myungsoo menelan ludah dibuatnya. Jiyeon tersenyum, lalu kembali berbalik.

“Aku akan mandi dulu sebentar. Tidurlah kalau kau sudah mengantuk.” Katanya sambil berjalan memasuki kamar mandi.

Myungsoo melepas kemeja dan t-shirtnya yang basah hingga membuat dada bidangnya itu terlihat. Pikirannya tak tenang. Berkali-kali ia melihat ke arah pintu kamar mandi dengan gelisah.

Aigoo.. Nan michyeosseo.” Gumamnya sambil meremas rambutnya sendiri.

Beberapa menit kemudian Jiyeon pun selesai mandi. Di dalam kamar mandi ia berharap semoga Myungsoo sudah tertidur, karena ia lupa tidak membawa sekalian pakaian ganti saat masuk ke dalam kamar mandi tadi. Dengan hanya mengenakan sebuah handuk yang melilit di badannya, Jiyeon membuka pintu kamar mandi pelan-pelan. Namun ia terkejut karena ternyata Myungsoo masih duduk di atas tempat tidur dan hanya bertelanjang dada.

“Kyaaa!!” teriaknya spontan sambil menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.

Myungsoo yang semula sedang asyik melamun itu sedikit terkejut dan menoleh ke arah Jiyeon.

Y-yaa.. Waeyo?” tanyanya heran dan sedikit gugup. Ia gugup karena melihat istrinya itu hanya mengenakan handuk dengan rambutnya yang basah. Tanpa sadar ia meneguk ludahnya sendiri saat melihat paha putih milik istrinya itu. Walaupun ia sudah sering melihatnya sewaktu mereka masih bertukar jiwa, namun kali ini rasanya berbeda baginya.

“Ke-kenapa kau melepas bajumu?” kata Jiyeon masih menutup wajahnya.

“Wae? Bukankah kau sudah terbiasa melihatku bertelanjang dada?” Myungsoo balik bertanya.

“Geurae.. Tapi tetap saja kali ini sudah lain lagi. Kita sudah berada di tubuh masing-masing dan aneh rasanya melihatmu bertelanjang dada seperti itu.”

Myungsoo tersenyum kecil. Lalu ia pun bangkit dan berjalan mendekati Jiyeon yang masih berdiri di depan kamar mandi itu.

Yaa.. Ppalli pakai bajumu.” Kata Jiyeon was-was.

“Shireo.. Kau sendiri bahkan hanya memakai handuk.”

A-ah.. Geu-geurae.. Aku.. aku akan segera mengambil pakaianku.”

Jiyeon membuka kedua telapak tangannya dari wajahnya lalu tanpa berani menatap Myungsoo ia melangkah bermaksud ingin mengambil pakaian di lemarinya. Namun baru selangkah ia beranjak, tiba-tiba Myungsoo menghalanginya dengan memegangi kedua bahunya.

Y-yaa.. Mwohaeyo?” tanya Jiyeon gugup bukan main. Apalagi saat ini ia hanya memakai handuk saja tanpa ada pelindung apa-apa di dalamnya. Bagaimana kalau sampai handuknya lepas? Andwae! Pasti dia akan malu sekali. Jiyeon memberanikan diri menatap Myungsoo. Ia sedikit bingung, karena tak biasanya Myungsoo bersikap seperti ini. Tatapan dari kedua mata elang milik namja itu tampak berbeda, seperti ada sesuatu yang membara di sana.

Y-yaa.. G-gwaenchanha?” tanyanya lagi masih dengan gugup.

“Jiyeon, saranghae..” ucap Myungsoo pula sambil tersenyum manis padanya.

N-nado.. M-Myung~”

“Andwae. Mulai saat ini, panggil aku Oppa.” Potong Myungsoo.

Jiyeon mengangguk kecil.

N-ne.. Opp~ mmmpth..”

Jiyeon tak dapat melanjutkan kata-katanya karena tanpa memberikan komando sebelumnya, Myungsoo sudah menyatukan bibir mereka.

Mission started! >> Awas! Dilarang keras meniru adegan berbahaya ini bagi yang belum punya suami seperti author😀

Mula-mula Myungsoo hanya mengecup bibir Jiyeon dengan lembut seperti yang biasa mereka lakukan. Tapi sejurus kemudian ia mulai memperdalam ciumannya dan melumat bibir Jiyeon sehingga yeoja itu tak berdaya lagi dan membiarkan mulutnya sedikit terbuka untuk memberikan jalan masuk pada lidah Myungsoo. Tanpa ragu lagi lidah Myungsoo pun segera menerima undangan suka rela itu. Kedua tangannya menarik tubuh Jiyeon agar lebih mendekat disusul dengan tangan kanannya yang menekan tengkuk Jiyeon agar ciuman mereka semakin dalam. Sesekali terdengar suara decapan yang timbul dari ciuman mereka itu.

“Eemmph.. Myungsoo, hentikan.. Emmpbh..”

Jiyeon tampak berusaha melepaskan rengkuhan Myungsoo tapi namja itu tak memberinya kesempatan untuk lepas. Kini ia malah merebahkan tubuh Jiyeon di atas tempat tidur dan mengunci tubuhnya sembari terus melumat bibir yeoja itu dengan penuh gairah. Jiyeon yang sudah tak berdaya itu tak bisa melakukan apa-apa selain memejamkan kedua matanya pasrah dan membalas setiap lumatan yang diberikan oleh Myungsoo. Mulut mereka sudah berpagutan cukup lama dengan kedua lidah mereka yang bermain-main di dalamnya diiringi suara lenguhan nikmat dari Jiyeon. Yeoja itu tidak menyangka ciuman yang diberikan oleh Myungsoo akan menjadi senikmat dan sepanas ini. Sehingga ia sendiri tak kuasa jika harus menolaknya. Di sela-sela ciuman panas mereka itu Myungsoo tersenyum kecil melihat Jiyeon yang sudah tampak terangsang oleh ciumannya. Dan hal ini membuatnya semakin bersemangat untuk melakukan yang lebih jauh lagi.

Kini tangan kiri Myungsoo meraba-raba handuk yang masih melilit di tubuh Jiyeon itu dan melepaskannya perlahan hingga akhirnya handuk yang semula melekat di tubuh yeoja manis itu terlepas meninggalkan sebuah pemandangan yang teramat sangat indah bagi Myungsoo. namja itu kembali meneguk salivanya sendiri. Dadanya berdebar keras. Tanpa menunggu lagi kedua tangan Myungsoo pun langsung meremas dua benda menonjol dan kenyal milik istrinya tersebut penuh nafsu. Ciumannya kini beralih turun ke leher jenjang Jiyeon dan menjelajahinya menggunakan mulut dan lidahnya hingga sampai ke kedua benda kenyal tadi. Aroma wangi tubuh Jiyeon benar-benar sudah meracuni otaknya.

“Aahh.. Myungsoo..” erang Jiyeon.

Myungsoo terus melumat dan menghisap kedua nipple Jiyeon dengan lahap secara bergiliran sambil sesekali memainkannya menggunakan lidahnya. Tangan kirinya masih meremas-remasnya sementara tangan kanannya sudah turun dan meraba-raba mencari benda yang berada di antara selangkangan Jiyeon.

“Myungsoo.. Andwae.. Aahh.. Andwae..”

Terlambat. Tangan kanan Myungsoo telah menemukan benda yang semula dicarinya itu. Tanpa menunggu apa-apa lagi dengan perlahan Myungsoo pun membuka dan melebarkan kedua selangkangan Jiyeon. Ia ternganga saat melihat gundukan kecil milik istrinya itu. Begitu indah berwarna merah jambu dan juga bersih. Dadanya kembali berdebar-debar semakin cepat dan keras. Sementara Jiyeon sudah menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya karena merasa malu luar biasa. Myungsoo tersenyum melihatnya. Maka dengan perlahan tapi pasti ia pun mendekatkan wajahnya pada benda di hadapannya itu lalu mengalihkan mulut dan lidahnya untuk menyapu habis benda tersebut disusul dengan satu jari tangannya yang mulai merangsek memasuki lubang kecil di sana. Myungsoo menjilat dan memainkan klitoris milik istrinya itu berkali-kali hingga menimbulkan lenguhan panjang dari Jiyeon.

Aahh… Oohh.. Hentikaann.. Aaahh, Myungsoo… Aaahh.. Apa yang kau lakukan? Aaahh.. Eenngggh..”

__

Meanwhile..

Seungho tampak masuk ke dalam rumah Myungsoo dengan pakaian basah. Ia terpaksa harus berhenti di rumah Myungsoo –yang sekarang menjadi rumahnya juga– itu karena mobil miliknya mogok di tengah jalan dan sudah tidak memungkinkan lagi untuk pulang ke rumahnya sendiri dikarenakan hujan yang tak kunjung berhenti serta malam yang sudah larut. Ia heran karena rumah Myungsoo tampak sepi, namun semua lampu menyala. Bahkan bodyguard yang biasanya mangkal di sana sini pun kini tampak sepi.

“Apa mereka semua sedang pensiun karena Myungsoo dan Jiyeon baru saja menikah?” gumam Seungho heran. Ia pun juga tidak melihat Appanya, Kim Jonghyun maupun Kim Taeyeon, membuat namja itu terus bertanya-tanya dalam hati. Seungho melepaskan kemeja yang dipakainya dan melangkah naik menuju kamar Myungsoo. Tapi ia sedikit ragu ketika hampir sampai di depan kamar Myungsoo.

“Bagaimana kalau mereka berdua sudah tidur, atau bisa saja mereka sedang~”

Belum sampai Seungho selesai menggumamkan kalimatnya, ia sudah mendengar sesuatu yang aneh berasal dari kamar Myungsoo.

Aahh… Oohh.. Hentikaann.. Aaahh, Myungsoo… Aaahh.. Apa yang kau lakukan? Aaahh.. Eenngggh..”

Cegluk!! Spontan Seungho tersedak ludah mendengarnya. Ia tahu pasti kalau itu adalah suara Jiyeon. Dan seketika pikirannya langsung melayang kemana-mana. Ternyata benar dugaannya, mereka memang sedang melakukannya. Pantas saja rumah ini sepi. Dengan agak gugup Seungho kembali menuruni tangga dan menuju ruang tamu kembali. Namja itu bingung harus berbuat apa, tapi beberapa saat kemudian ia melihat lemari es yang berada di ruang tamu. Dengan cepat ia membuka kulkas tersebut dan meneguk habis minuman yang ada di sana. Samar-samar ia masih bisa mendengar suara erangan yang dikeluarkan oleh Jiyeon, membuat namja itu semakin tak enak hati. Masih dengan gugup ia pun berjalan menuju sofa dan bermaksud menyalakan tv.

“Ah, kalau aku menyalakan tv keras-keras, mereka akan tahu kalau ada aku di sini dan pasti itu akan menghancurkan konsentrasi mereka. Ck.. Baiklah, aku akan mendengarkan musik saja.” Gumam Seungho dan langsung mengeluarkan ponsel serta earphone dari saku celananya kemudian memasang earphone tersebut pada telinganya dan mulai memutar musik. Tapi sekeras apapun ia memutar musik, tapi tetap saja pikirannya melayang kemana-mana karena sudah terlanjur mendengar sesuatu tadi.

“Aish! Bodoh! Apa yang sedang kupikirkan?” gerutunya kesal. Ditariknya napas dalam-dalam dan sejurus kemudian ia pun memejamkan kedua matanya berusaha keras membuang pikiran-pikiran kotor yang sempat mampir di otaknya tadi.

__

“Myungsoo.. Aahh… Oohh… Aaaahhh..”

Jiyeon terus mengerang dan melenguh seiring dengan gerakan jari tangan Myungsoo yang keluar masuk ke dalam miliknya itu. Hembusan napasnya naik turun diiringi dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Myungsoo tersenyum melihat reaksi Jiyeon dan kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Jiyeon untuk melumat kembali mulut Jiyeon untuk yang ke sekian kalinya. Myungsoo terus menggerakkan dua jari tangannya keluar masuk di bawah sana. Tubuh Jiyeon menggelinjang dan kedua matanya terpejam seolah merasakan nikmat yang belum pernah dirasakan sebelumnya itu. Myungsoo tersenyum sekali lagi melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Jiyeon itu dan menghentikan kegiatannya sejenak. Ia mencabut jari tangannya yang kini telah berlumuran cairan berwarna putih bercampur merah yang berasal dari milik Jiyeon. Karena merasa kegiatan yang menurutnya nikmat itu terhenti, Jiyeon membuka kedua matanya dan menatap Myungsoo bingung.

“Wae? Kenapa berhenti?” tanyanya polos.

Sekali lagi Myungsoo tersenyum dan menatap istrinya yang kini tanpa memakai sehelai benang pun itu dengan penuh cinta. Ia memperlihatkan cairan merah yang melumuri dua jari tengah dan telunjuknya itu pada Jiyeon.

“Kau percaya kan sekarang kalau aku belum merusaknya waktu itu?” godanya, yang seketika membuat wajah Jiyeon memerah karena malu.

Myungsoo kembali mengecup bibir istrinya itu sejenak.

“Sekarang giliranmu melayaniku.” Bisiknya sambil mengerling nakal pada Jiyeon. Jiyeon tersenyum malu dan hanya mengangguk saja. Setelah itu ia pun membantu Myungsoo melepaskan celananya hingga tampaklah oleh Jiyeon tubuh atletis milik namja yang kini sudah menjadi suaminya itu. Jiyeon melihat benda milik Myungsoo masih terbungkus, tapi sepertinya ia sudah mendesak keluar dan siap untuk segera memasuki medan perang😀 *Aigoo nan michyeosseo*

“Ohmo, sepertinya ia sudah tidak sabar.” Ucap Myungsoo lagi sambil melihat ke arah juniornya membuat Jiyeon menunduk malu.

“Boleh kulepas sekarang?” goda Myungsoo kembali membuat Jiyeon semakin malu dan segera menarik selimut lalu menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala menggunakannya. Myungsoo tertawa geli melihat tingkah istrinya itu. Ia pun melepaskan pelindung terakhir yang menutupi junior miliknya itu hingga benda besar dan panjang tersebut tampak berdiri dengan gagah dan tegak di sana. Myungsoo kembali menghampiri Jiyeon dan menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh istrinya itu pelan-pelan. Jiyeon tampak berbaring dengan posisi miring dengan memejamkan kedua matanya karena malu. Ya, yeoja itu merasa malu pada suaminya itu. Walaupun ia sudah sempat melihatnya beberapa kali sewaktu jiwa mereka berdua masih tertukar, ia tetap malu untuk menatap kembali secara langsung senjata laras panjang milik suaminya itu. Apalagi Myungsoo ada di sana juga saat ini. Myungsoo membelai rambut Jiyeon dan mendekatkan mulutnya ke telinga yeoja itu.

“Kajja, sekarang giliranmu.” bisiknya.

Jiyeon mula-mula enggan, tapi lama kelamaan ia pun membuka kedua matanya perlahan dan menatap intens sepasang mata elang milik Myungsoo.

Keu-keunde, apa yang harus kulakukan?” tanyanya polos.

“Kau benar-benar tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu?”

Jiyeon tak segera menjawab melainkan hanya memiringkan kepalanya berusaha menghindari tatapan mata suaminya itu. Myungsoo tersenyum geli melihatnya. Ia pun mencium pipi Jiyeon dengan lembut.

“Aku tahu kau tidaklah sepolos itu. You know what you should do.” Bisiknya sekali lagi.

Jiyeon kembali menatap wajah suaminya yang berada di atasnya itu. Dadanya berdebar-debar.

M-Myung~ehm Oppa..” katanya kemudian.

Ne, Chagi?”

“Kenapa.. Kau.. Tampan sekali?”

Myungsoo tersenyum geli mendengarnya. Ia menyentil jidat istrinya pelan.

“Kenapa kau baru menyadarinya? Cepat lakukan, atau aku akan menyerangmu sekarang?” katanya.

“Cium aku dulu.” Pinta Jiyeon manja sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Myungsoo.

Myungsoo kembali tersenyum dan langsung mencium bibir istrinya itu dengan lembut. Namun tanpa ia sangka ternyata Jiyeon membalasnya dengan penuh nafsu. Yeoja itu melumat bibir Myungsoo, membuat namja itu sedikit kesulitan bernapas. Jiyeon terus menyerang Myungsoo dan membuat dirinya kini berada di atas tubuh suaminya itu. Ia melepaskan ciumannya sejenak.

I’ll serve you now..” bisiknya pelan.

Myungsoo tersenyum mendengarnya.

Do it..” balasnya.

Tanpa menjawab, Jiyeon pun segera turun untuk mendekati junior milik Myungsoo. Sungguh ini pertama kalinya bagi Jiyeon melakukan hal se-dare ini. Dengan sedikit ragu, ia memegang junior milik suaminya itu dan mengurutnya pelan. Ia tersenyum geli melihat Myungsoo yang memejamkan kedua matanya merasakan kenikmatan yang ditimbulkan olehnya. Jiyeon menarik napas sejenak, lalu setelah memantapkan hati dan jiwanya, ia mengulum junior milik Myungsoo itu dan mengocoknya berkali-kali.

Argh.. Chagiya.. Neo jinjja..” Myungsoo terus melenguh nikmat merasakan pelayanan dari istrinya itu. Sungguh ini pengalaman pertama yang begitu nikmat dan membahagiakan untuk mereka berdua.

__

Seungho masih memejamkan kedua matanya dengan mendengarkan musik keras-keras meskipun pikirannya masih melayang tak tentu arah. Ia benar-benar gelisah. Ia sedikit menyesal harus mampir ke rumah ini tadi. Di saat ia sedang dilanda gelisah, tiba-tiba saja ia merasa earphone yang semula dipakainya itu terlepas dari telinganya. Spontan ia pun membuka kedua matanya.

“Aaaahh!!” teriaknya tiba-tiba sambil melompat terkejut.

Rupanya di sebelahnya sudah duduk seorang yeoja cantik yang dikenalnya.

“Yoona? Kau.. Sejak kapan kau berada di sini?” tanyanya gugup.

Yoona tak segera menjawab melainkan melepaskan mantel basah yang semula melekat di badannya.

Y-yaa.. Kenapa kau ada di sini?” ulang Seungho lagi mulai tak tenang sebab melihat tubuh Yoona yang basah kuyub itu sehingga menunjukkan lekukan-lekukan tubuhnya.

“Aku baru pulang bekerja dan kehujanan di jalan. Tadi aku ingin meneleponmu memintamu untuk menjemputku, tapi ponselku mati. Jadi kuputuskan kesini saja. Ah, lalu kau sendiri? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Yoona kemudian.

“Aku.. tadi baru pulang dari acara klien bisnis kami. Di tengah jalan mobilku mogok jadi terpaksa kutinggal dan langsung pergi kemari.”

“Ahh.. Begitu. Keunde, di mana Myungsoo dan Jiyeon? sepi sekali..” tanya Yoona sambil berdiri. Tapi Seungho secepat kilat menahan tangannya.

“Kajima.” Katanya.

“Wae?” tanya Yoona heran.

“Geuge.. Pokoknya kau harus tetap di sini. Jangan kemana-mana. Arrachi?”

 Walaupun sebenarnya bingung dan heran, Yoona hanya bisa mengangguk.

“Arrasseo..” katanya kembali duduk di samping Seungho.

Seungho meneguk salivanya sendiri ketika melihat baju atas Yoona yang sedikit terbuka. Dengan gugup ia kembali memasang earphone miliknya dan memejamkan kedua matanya.

“Oppa..” panggil Yoona. Namun karena Seungho memutar musik terlalu keras, ia tak mendengar panggilan itu.

“Oppa!” ulang Yoona sekali lagi yang masih tak menghasilkan apapun.

“Aish! Kenapa dia tiba-tiba mengabaikanku begini? Tidak biasanya dia begini. Apa musik yang didengarnya itu lebih menarik daripada aku?” Gumam Yoona sedikit kesal.

Lalu dengan perlahan ia pun mendekatkan telinganya ke telinga Seungho bermaksud ingin ikut mendengarkan lagu apa yang didengar oleh namja itu. Seungho yang merasa ada hawa hangat mendekatinya itu kembali membuka mata dan menoleh. Yoona pun spontan menoleh sehingga wajah mereka kini berhadapan. Seungho terkejut bukan main ketika mendapati wajah Yoona yang sedekat itu. Dadanya berdebar-debar. Andwae.. Tidak boleh. Aku tidak boleh terpancing. Harus kuat. Harus tahan. Harus. Harus! Seungho terus berdialog dalam hati berusaha menahan hasratnya, namun ternyata ia malah semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Yoona. Hanya dalam hitungan detik saja bibirnya pun sudah menempel mulus di bibir manis Yoona. Sial. Aku kalah! Umpatnya dalam hati.

__

Myungsoo kembali berdiri dan membaringkan tubuh sintal istrinya itu lagi. Setelah itu ia kembali melebarkan kedua selangkangan istrinya itu.

“Chagiya.. Mungkin awalnya ini akan sedikit sakit. Keunde geogjeongma. Aku akan melakukannya dengan hati-hati.” Kata Myungsoo pelan.

Jiyeon hanya mengangguk kecil dengan perasaan was-was. Ia memejamkan kedua matanya ketika Myungsoo perlahan memasukkan junior besarnya ke dalam lubang kecil miliknya itu.

Aaaarrghh.. Appoo..” rintih Jiyeon sejurus kemudian begitu junior Myungsoo hendak masuk. Biarpun sedikit sulit karena milik Jiyeon masih sempit, Myungsoo bersabar memasukkannya sedikit demi sedikit.

“Aaaaaarrrghhhh.. Appoo.. Jinjja appooo.. Eommaaa… Appaaa.. Aaarrrghh! Myungsoooo!!” Jiyeon terus saja berteriak nyaring seiring dengan masuknya junior milik Myungsoo. Kedua tangannya meremas keras sprei tempat tidur bahkan tak jarang pula ia meremas rambut Myungsoo. untung saat itu hujan sedang deras, jadi suara Jiyeon masih tak terlalu terdengar sampai ke ruang tamu tempat di mana Seungho dan Yoona berada. Setelah berjuang beberapa lamanya, akhirnya Myungsoo berhasil memasukkan juniornya sepenuhnya. Dengan perlahan tapi pasti ia memaju mundurkan pinggulnya diiringi dengan lenguhan dan erangan mereka berdua.

“Aaarrghh.. Myungsoo… Oppa…”

Myungsoo mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya yang sudah penuh dengan keringat itu dan melumat bibir Jiyeon kembali sembari terus memaju mundurkan pinggulnya. Kedua tangannya kembali meremas dua benda kenyal milik Jiyeon dan memainkannya.

Aahh.. hahh..” Jiyeon terus mendesah dan melenguh tanpa henti, membuat Myungsoo semakin bergairah karenanya.

“Tidak sakit lagi, kan?” bisiknya pada Jiyeon.

Eo-eohh..” Jiyeon hanya mengangguk dengan napas tersengal-sengal. Entah sudah berapa lama mereka melakukan ritual itu, semakin lama semakin cepat, hingga sejurus kemudian terdengar lagi teriakan Jiyeon.

“Oppaa…. Ada yang mau keluaaar…”

“N-nadooo, Chagiya… Aaaaaaaaahhhh…”

Bersamaan dengan itu Jiyeon merasakan ada sesuatu yang menyembur miliknya. Setelah itu Myungsoo pun tergeletak lemas di atas tubuhnya. Namja itu tersenyum dan mengecup kening Jiyeon dengan lembut.

Saranghae, Chagiya..” katanya.

Gomawo, Oppa..” balas Jiyeon pula.

Myungsoo kembali tersenyum dan mengelus rambut istrinya penuh kasih sayang.

“Kita break dulu sebentar.” Katanya kemudian sambil berpindah dan berbaring di sebelah Jiyeon.

Jiyeon menarik selimut dan segera menutupi tubuhnya yang tanpa sehelai benang itu, namun sejurus kemudian ia tertegun.

“Apa maksud ucapanmu tadi, Oppa? Break?” tanyanya bingung.

“Aku menginginkan ronde kedua.”

“MWO??”

__

Nine months later..

“Pasti namja. Ne, aku yakin namja.”

“Anni.. Pasti yeoja. Kau pasti yang salah.”

“Tidak mungkin! Biasanya anak pertama itu selalu namja. Karena saat mereka melakukan ‘itu’ prosesnya lama. Begitulah yang kudengar dari orang-orang yang sudah menikah.”

“Jinjja? Mana ada hal yang seperti itu?”

“Ah, Myungsoo.. Ngomong-ngomong, saat kau melakukan itu di malam pertama kalian, apakah prosesnya lama?”

Wajah Myungsoo yang sedari tadi sudah panas karena mendengarkan obrolan konyol dari Jieun dan Eunji itu menjadi semakin merah padam saat mendengar pertanyaan itu. Sementara kedua orangtua Myungsoo dan Jiyeon hanya menggeleng-geleng saja melihatnya.

“Yaa.. Tak bisakah kalian diam?” tegur Seungho pula pada mereka berdua.

“Wae? Kami kan penasaran. Dan kau juga Seungho, apa kau tidak ingin segera memiliki bayi seperti Myungsoo?” kata Eunji.

“Majayo.. Ppalli menikahlah dengan Yoona. Bukankah kalian sudah bertunangan bulan lalu?” kata Jieun menambahan.

“Geumanhae, atau aku akan mempelester mulut kalian itu.”

“Tch.. Ahjussi ini semakin lama semakin galak.” kata Jieun pelan.

“Mworago?”

Yaa.. Yaa.. Berhentilah bertengkar. Seharusnya kalian mendoakan keselamatan Jiyeon dan calon bayinya. Bukannya malah bertengkar.” Yoona pun melerai.

Ck.. Arrasseo..” sahut Eunji pula.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi dari ruang bersalin.

“Kyaaaa!! Sudah lahir..” Jieun dan Eunji pun berpelukan.

Sementara Myungsoo sudah berdiri mengharap-harap cemas menanti keluarnya dokter yang menangani persalinan Jiyeon.

Sejurus kemudian pintu ruang bersalin pun terbuka dan muncul dokter dari dalam.

“Dokter, bagaimana? Istri dan bayi kami baik-baik saja, kan?” tanya Myungsoo pula.

“Selamat, istri anda melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dan istri anda pun selamat.”

Myungsoo tersenyum lega sekali mendengarnya.

“Kyaaa!! Benar dugaaanku! Bayinya namja. Itu berarti kalian……”

Belum sempat Eunji melanjutkan ucapannya, Jieun sudah membungkam mulutnya. Setelah itu mereka pun masuk ke ruang bersalin.

Myungsoo mendekati Jiyeon yang masih terbaring lemah di atas ranjang. Dengan segera ia mengecup puncak kepala istrinya itu dengan penuh kasih.

“Gwaenchanha?” tanyanya lembut.

“Ne.. Bayi kita..” kata Jiyeon.

“Bayi kalian seorang namja. Aigoo.. Dia tampan sekali.. Jinjja..” kata Hyomin yang sudah menggendong bayi Myungsoo dan Jiyeon itu.

“Eomma.. Aku ingin melihat bayiku, juseyo..” pinta Jiyeon.

Perlahan ia menegakkan dirinya dan menyandarkan punggungnya dibantu oleh Myungsoo. Secara pelan-pelan pula ia menerima bayi dari tangan Hyomin dan menggendongnya.

“Oppa.. Ini bayi kita..” ucapnya menitikkan air mata bahagianya.

Ne, Chagiya. Bayi kita..” balas Myungsoo pula sambil mengelus rambut Jiyeon.

Keduanya pun kembali menatap bayi mereka yang sangat lucu dan menggemaskan itu.

Keunde, Oppa.. Kenapa aku merasa bayi kita ini sepertinya tidak begitu asing?” tanya Jiyeon kemudian.

“Geureom.. Bayi kalian sangat mirip dengan Appanya.” kata Taeyeon.

“Anniyo.. Maksudku bukan itu…” Jiyeon tak melanjutkan ucapannya karena mendadak ada sesuatu yang tiba-tiba saja terngiang di kepalanya, yaitu kata ‘reinkarnasi’. Solma! Dengan cepat Jiyeon pun menatap Myungsoo yang sepertinya juga memiliki pikiran yang sama dengannya.

“JB????”

END

Haha aigoo suer terkewer-kewer author gemeter plus deug-deugan buanget pas bikin epilogue part ini. Tapi aneh ya, padahal belum pernah ngerasain tapi udah kayak macam profesional aja, wkwkw ketauan banget kalo doyan baca ff yadong😀 Tapi ya udah lah, gantian kan kemaren pas bulan Ramadhan udah bikin yang alim-alim tuh di Ramadhan Love Story , jadi ga masalah kan kalo sekarang gantian yang yadongan banyak, kkkkk plak!!

Nah, berhubung ff ini udah selese, author ucapin terimakasih banyak ya buat yang udah setia mengikuti ff ini dari awal sampai akhir. Terimakasih buat semua dukungan yang kalian kasih selama ini. Author bakal balik buat ngelanjutin The Black Gate yang baru prolog kemarin. Semoga kalian masih betah membaca FF buatan author Yochi ne ^_^

Kamsahamnida, annyeong!😀

——————————————–

Salam beng-beng ._.V

 

210 responses to “Inside of Me [Epilogue-NC]

  1. hahahah…sumpah ngakak liat seungho,,ck kasian skl nasibmu oppa…. jinjha michyeseo…. jd JB reinkarnasi jd by.a myungji..hehehe…fighting ne thor…ahhh akhir.a selesai jg….okay, its time to sleep.heheh…skl lg thanks thornim,,, ff.a bnr2 seru. skl lg fighting ne ☺☺☺

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s