[Oneshot] MyungYeon or MyungYeon?

jmyPark-Jiyeon-t-ara-t-shirt-008

Author : Yochi Yang

Title : MyungYeon or MyungYeon?

Main Casts : |Kim Myungsoo ‘L’ “INFINITE”| |Park Jiyeon “T-ARA”|

|Kim Doyeon|

Genre : Romance, School life, Little bit comedy

Rating : PG-15

Length : Oneshot

Aku sengaja bikin FF oneshot ini sebagai pelampiasan kekesalanku saja, jadi mian kalo ada yang kurang suka sama alur cerita ataupun sejenisnya. This is just for fun and please don’t bash*bow*

— Happy reading —

Myungsoo POV

“MyungYeon! MyungYeon! MyungYeon!

Aku bertahan mati-matian mendengar sorak sorai para yeoja yang sekelas denganku itu. Aish! benar-benar berisik! Ingin sekali aku menyumpal mulut mereka itu menggunakan kaos kaki mereka masing-masing. Tapi apa boleh buat? Aku hanya bisa menahannya setengah mati sampai-sampai sepertinya muncul sebuah kutil di kakiku. Hah!! Sampai kapan mereka akan terus menerus melakukan ini? Ini adalah hari ketiga aku mengalami hal buruk seperti ini. Hampir setiap kali aku masuk kelas aku mendengar seruan seperti ini. Grr.. Aku benar-benar sudah bosan mendengar suara mereka yang meneriakkan kata yang sama –MyungYeon–.

“Aigoo! Lihatlah, kalian berdua benar-benar couple yang sangat serasi. Aku sangat iri melihat kalian berdua.”

“Aku harap kalian berdua akan terus bersama sampai tua nanti.”

Aku hanya tersenyum kecil mendengar ocehan para yeoja itu. Sampai tua? Hahaha.. Yang benar saja. Bahkan rombongan semut saja akan menyempatkan diri untuk tertawa berjamaah mendengar ucapan itu. Sejenak kulirik yeoja yang sedari tadi bergelayut manja di lenganku sambil cengar-cengir menyebalkan itu. Yeoja itu, Kim Doyeon. Dialah yang menjadi sumber malapetaka baru bagiku. Dia yang memaksaku agar menjadi namjachingunya dan menyebarkan hubungan ‘terpaksa’ kami ini hampir ke seisi kampus. Baiklah, aku memang tidak menolak dan menuruti keinginannya itu. Tapi perlu dicatat menggunakan caps lock di sini. AKU MELAKUKANNYA KARENA TERPAKSA. Sebenarnya aku sudah memiliki seorang yeoja yang kusukai, jadi tidak mungkin aku dengan senang hati menerima cinta Doyeon yang sudah sangat terkenal hanya untuk main-main itu.

Ya, yeoja ini memang sudah sering sekali berganti-ganti namjachingu. Hampir semua teman dekatku sudah pernah menjadi korbannya. Sebenarnya aku sudah menolaknya mentah-mentah. Tapi dia mengancamku sehingga aku terpaksa harus mengikuti kemauannya. Benar sekali. Yeoja ini selain terkenal karena kebiasaan buruknya yang sering bergonta-ganti namjachingu, dia juga sangat nekat. Dia akan melakukan apapun asalkan keinginannya tercapai. Ia bahkan pernah mencoba meminum racun tikus demi keinginannya menjadi  yeojachingu Jiyong, atau kami biasa sebut dengan panggilan GD. Padahal GD saat itu sudah memiliki yeojachingu. Tapi karena usaha licik yang dilakukan Doyeon itu, mau tak mau GD pun terpaksa menuruti keinginannya itu dan berhasil menjadi namjachingu Doyeon walau hanya berlangsung selama seminggu. Dan yah, GD pun akhirnya dicampakkan begitu saja setelah ia merasa bosan. Dan kali ini, ternyata giliranku yang menjadi sasarannya. Seperti halnya GD, aku pun menjadi namjachingunya karena terpaksa. Sebenarnya aku tidak masalah, mau dia minum racun tikus kek, racun setan kek, aku benar-benar tidak peduli. Tapi kali ini dia mengancam akan membuatku dikeluarkan dari kampus kalau aku tidak menuruti kemauannya. Hahh.. Siapa yang tidak tahu kalau si Doyeon kerempeng itu adalah anak tunggal kesayangan Rektor sekaligus pemilik kampus kami, Kim Soohyun. Bukan apa-apa. Hanya saja aku sangat bersusah payah untuk bisa masuk ke universitas membanggakan ini. Aku hanya tidak mau ambil resiko kalau usahaku selama ini berakhir sia-sia. Dan akhirnya beginilah sekarang. Berita hubungan konyol ini pun menyebar dan akhirnya mulai muncul juga julukan konyol pada kami –MyungYeon–. Ck.. Sungguh, aku berharap ini akan segera berakhir.

“Chagiya.. Kau sudah makan? Ke kantin yuk! Belikan aku makanan.” Kata yeoja itu yang sejujurnya benar-benar membuatku ingin meremasnya bagai sebuah kerupuk lalu melemparkannya ke kandang ayam. Seenaknya saja dia meminta dibelikan makanan. Memangnya aku ini Baby Sitternya? Grrr.. Tapi sekali lagi, karena terpaksa, aku pun hanya bisa mengangguk.

“Kkajja!” sambutnya girang sambil kembali bergelayutan di lenganku dengan manja. Ya Tuhan. Karma macam apa yang kuterima ini? Hufh! Sabar, Myungsoo, sabar. Percayalah, semua akan indah pada waktunya.

_

Jiyeon POV

Aku geram sekali melihat mereka berdua, atau lebih tepatnya pada yeoja itu. Baru tiga hari yang lalu dia mencampakkan GD, sekarang dengan watadosnya dia beralih pada Myungsoo? Kemarahanku benar-benar sudah mencapai ubun-ubun. Pasalnya, GD itu sebenarnya adalah namjachingu sahabatku, Lee Jieun. Dan Jieun terpaksa harus putus dengan GD gara-gara yeoja itu. Sebagai seorang sahabat, tentu saja aku tidak terima melihat perlakuan sewenang-wenang yeoja itu pada sahabatku. Apalagi sekarang dia malah beralih pada Myungsoo, namja yang sudah lama kusukai. Grrr.. Benar-benar sudah melampaui batas kesabaranku. Aku menarik napas kesal melihatnya yang selalu bergelayut manja di lengan Myungsoo. Andwae! Tapi kenapa Myungsoo sepertinya tidak ada beban begitu? Kenapa ia mau-mau saja berkencan dengan Doyeon? Tch.. Aku yakin pasti Doyeon sudah melakukan sesuatu yang licik sehingga Myungsoo bisa menjadi namjachingunya. Pokoknya aku tidak boleh tinggal diam. Aku sudah lama ingin membalas yeoja itu. Bukan hanya sekali dua kali saja dia menyakiti perasaan sahabat-sahabatku. Dan ini tidak bisa kubiarkan. Dia harus diberi pelajaran. Maka diam-diam aku pun membuntuti mereka ke kantin dengan membawa sebuah ‘senjata’ yang sudah kupersiapkan jauh hari sebelum aku berangkat ke kampus.

Kami telah sampai di kantin, dan seperti yang kuduga, ia menyuruh Myungsoo menyiapkan tempat duduk untuknya. Astaga, aku benar-benar merasa Myungsoo lebih mirip seperti seorang babu ketimbang seorang namjachingu. Aku menarik napas menahan emosiku melihat Myungsoo diperlakukan seperti itu.

Jamkkanman gidalyo, aku akan memesan makanan dulu.” Kudengar Myungsoo berkata padanya. Doyeon hanya mengangguk dan tersenyum semanis mungkin yang sebenarnya sama sekali tidak manis bahkan nampak seperti sebuah seringaian kuda nil. Aish! sungguh aku benar-benar sebal sekali melihatnya. Apa aku cemburu? Tentu saja! Myungsoo tampak beranjak meninggalkannya dan menghampiri Son Ahjumma pemilik kantin. Aku mengikutinya.

“Ahjumma, dua mangkok ramen juseyo.” Kata Myungsoo.

“Ahh, Myungsoo. Kudengar kau sekarang berkencan dengan anak Profesor Kim, geureotji?” tanya Ahjumma. Kulihat wajah Myungsoo mendadak lemas.

“Sudahlah, Ahjumma. Aku sedang malas membicarakannya. Tolong berikan saja pesananku.” Katanya. Mwoya? Kenapa dia? Apa sebenarnya dia juga tidak ikhlas menjadi namjachingunya? Wah, kalau begitu ini pertanda baik. Son ahjumma hanya terkekeh saja tanpa menjawab ucapan Myungsoo.

“Ahjumma, satu mangkok ramen juseyo..” akupun ikut memesan pesanan yang sama dengan Myungsoo.

Myungsoo tampak menoleh ke arahku. Entah ini hanya perasaanku saja atau bukan, yang jelas aku melihat wajahnya berubah berseri saat melihatku.

“Jiyeon, kau pesan ramen juga?” katanya.

Ahh, ne. Neodo?” tanyaku pula.

“Eoh..” sahutnya sambil tersenyum. Aigoo.. Aku sangat menyukai senyumannya. Sayang sekali dia harus menjadi namjachingu si Nenek sihir itu.

“Ah, ahjumma aku akan membantumu.” Kataku kemudian pada Son ahjumma dan langsung menghampirinya.

“Aigoo Jiyeonie, kau ini memang baik sekali. Apa kau tidak bosan terus-terusan membantuku, eoh?” kata ahjumma.

“Hoho, anniyo.. Ini hanya pekerjaan ringan. Jeogi, biar aku saja yang menyiapkan ramennya. Sekalian kubuat ramenku sendiri. Gwaenchanha?”

“Geureom.. Ambillah sesukamu. Tidak usah membayar. Anggap saja itu imbalanmu.”

“Ah, mana bisa begitu? Aku tetap harus membayar.”

Di tengah-tengah perbincanganku dan juga pekerjaanku itu, aku sempat menyadari kalau Myungsoo terus memperhatikanku. Ah, tidak mungkin. Ini pasti hanya perasaanku saja.

Jeogi.. Myungsoo, kau bisa menunggu di mejamu. Nanti biar aku saja yang mengantarkan ramennya ke sana.” Kataku, yang ternyata membuat Myungsoo tersentak dan sedikit gugup. Mwoya? Apa memang benar sejak tadi dia memperhatikanku? Kenapa ia tampak gugup begitu?

Ah, gwaenchanha. Aku akan menunggu di sini.” Katanya.

“Andwae! Kau hanya akan menggangguku saja karena kau terus memperhatikanku seperti itu.” Kataku sengaja ingin memancing Myungsoo dan membuktikan apa benar dugaanku tadi.

M-mwo? Aahh.. N-ne.. Aku akan menunggu di mejaku saja. Gomawo, Jiyeon.”

Haha benar, kan? Sepertinya tadi ia memang sedang memperhatikanku. Aigoo.. Myungsoo, kenapa kau terlihat gugup begitu? Padahal biasanya kau sangat dingin dan acuh. Aigoo.. Benar-benar berbanding terbalik.

Yosh! Allright, mission started now! Di saat aku menyiapkan ramen untuk mereka, diam-diam aku mengeluarkan senjataku dari saku celanaku yang berbentuk bubuk terbungkus plastik. Racun? Tentu saja bukan. Aku masih terlalu waras dan unyu untuk dijebloskan ke dalam penjara. Ini adalah obat untuk membuat sakit perut. Nyahahah rasakan kau Doyeon. Tapi tenang saja, ini masih belum seberapa. Kau hanya akan merasa sakit perut dan bolak balik keluar masuk toilet saja. Tidak akan sampai ke rumah sakit.

Begitu misiku selesai, dengan anggun aku mengantarkan ramen itu ke meja Myungsoo dan Doyeon. Kulihat Doyeon tampak menatapku dengan tatapan mengejek.

“Jadi kau benar-benar beralih profesi menjadi seorang pelayan, eoh?” katanya dengan nada sinis. Grr.. Dasar! Yeoja ini benar-benar ingin kusantet rupanya. Tapi aku mencoba sabar dan tetap tersenyum.

“Jangan banyak bicara dan habiskan saja ramenmu. Kalau kau terus bicara, bisa-bisa ramenmu akan penuh dengan percikan air ludahmu itu.” Kataku dengan tenang.

“Mwo?” bentak Doyeon tampak kesal sekali. Tapi sebaliknya dengan Myungsoo. Sepertinya namja itu sedang berusaha menahan tawanya. Aku jadi semakin yakin sekarang, kalau ia tidak benar-benar ikhlas berkencan dengan Doyeon. Baguslah.

A few minutes later..

Aku diam-diam kembali membuntuti Doyeon dan Myungsoo ke toilet. Dalam hati aku tertawa terbahak-bahak karena ternyata usaha ‘jahat’ ku itu berhasil. Entah sudah berapa kali Doyeon keluar masuk toilet karena obatku itu. Hahaha benar-benar puas rasanya menjadi jahat yang menjahati orang jahat lain (?). Rasakan itu, Doyeon. Itulah pembalasanku karena kau sudah menyakiti banyak perasaan teman-temanku seenak jidatmu. Tapi walau bagaimanapun juga aku sedikit menyesal dan ada sedikit rasa kasihan juga melihat Doyeon tersiksa begitu. Apalagi Myungsoo juga ikut terlibat. Dia harus mengantar bolak-balik Doyeon ke toilet dan menunggunya. Aish! Myungsoo, neo paboya, eoh? Kenapa kau menurut sekali padanya? Membuatku semakin sebal saja.

Myungsoo POV

Astaga! Apa yang sedang kulakukan saat ini? kenapa aku merasa menjadi seperti seorang pengawal sekaligus babu untuk yeoja itu? Aku mendesah napas kesal. Bisa-bisanya aku menunggui orang macam dia di toilet yeoja seperti ini. Ayolah, Budha-nim.. Berikan karma pada yeoja yang kini sedang berjuang keras di dalam toilet itu. Argh! Sial. Tapi aku heran kenapa tiba-tiba Doyeon bisa sakit perut seperti ini? apa dia salah makan? Atau ada sesuatu yang lain? Aish! sudahlah untuk apa aku susah-susah memikirkannya. Aku justru malah bersyukur karena dia sakit perut sekarang. Tapi sialnya lagi-lagi aku malah ikut terkena imbasnya.

“Chagiya.. Kau masih di luar?” kudengar suara yeoja tengil itu dari dalam.

“Eoh..” sahutku sekenanya.

“Baguslah. Jangan coba-coba meninggalkanku kalau kau tidak mau~”

Tanpa bermaksud ingin mendengarkan ocehannya itu, segera saja kupasang earphone pada kedua telingaku dan menyalakan musik keras-keras. Masa bodoh dengannya. Entah sudah berapa kali para mahasiswi yang menatapku aneh karena berdiri di depan toilet yeoja. Aku sudah tak peduli lagi. Aku hanya bisa berharap semua ini segera berakhir. Namun sejurus kemudian tiba-tiba saja aku melihat seorang yeoja sedang berdiri tak jauh dari tempatku, tepatnya di balik tembok. Itu seperti Jiyeon. Tapi apa yang dilakukannya di sana? Kenapa dia seperti sedang bersembunyi begitu? Karena penasaran, aku pun menghampiri tempatnya berada. Namun begitu sampai di sana, aku sudah tak melihat siapapun lagi. Aku mengerutkan kening heran. Apa aku tadi hanya salah lihat? Astaga Myungsoo.. Apa kau terlalu menyukai Jiyeon sampai-sampai berhalusinasi seperti ini?

Doyeon POV

Sial.. Sial.. Sial.. Bagaimana aku bisa diare seperti ini? Bukankah seharian ini aku hanya makan ramen saja? Apa mungkin makanan di kantin Son Ahjumma sudah tidak bersih lagi? Kalau benar begitu aku harus memberitahu Appa supaya segera mengusirnya dari sini. Argh! Ya Tuhan, sakit sekali perutku. Ck.. Son Ahjumma.. Orang itu benar-benar.. Oh, tapi tunggu dulu! Bukankah tadi ada yeoja itu juga di sana? Dia bahkan yang sudah mengantarkan makanan ke mejaku. Jangan-jangan dia dalang di balik semua ini. Ya, aku yakin pasti yeoja itu yang sudah membuat perutku sakit seperti ini. Park Jiyeon! kau mencari gara-gara denganku rupanya. Awas saja, aku akan segera membuat perhitungan denganmu!

Jiyeon POV

Aku berlari cepat menuju kelas kembali. Fiuuuhh.. Hampir saja ketahuan oleh Myungsoo tadi. Untung aku segera kabur. Tapi ngomong-ngomong dia melihatku tidak, ya? Mudah-mudahan saja tidak. Ah, Myungsoo.. Aku benar-benar tidak rela kau pacaran dengan yeoja plastik itu. Aku pun melangkah lemas menuju bangkuku.

Yaa, wae geurae? Sepertinya kau lemas sekali?” tanya Jieun yang langsung duduk di sebelahku.

“Tentu saja. Apa kau tidak tahu kabar mengenai si yeoja plastik itu?” sahutku kesal.

“Ah,, maksudmu mengenai MyungYeon?”

“Aish! jangan ucapkan kata itu! Kau membuatku semakin kesal saja.”

Jieun hanya tertawa melihatku. Sial. Kenapa dia malah tertawa? Bukannya dia juga pernah disakiti oleh yeoja sontoloyo itu? Bisa-bisanya dia tertawa begitu.

“Tenang sajalah.. Don’t worry be happy. Aku jamin hubungan mereka hanya akan bertahan sebentar saja. Paling-paling seminggu juga putus.” Katanya kemudian.

Aku terdiam sejenak. Memang benar kata Jieun. Paling-paling hubungan mereka tidak akan bertahan lama. Tapi tetap saja aku tidak rela melihat mereka berdua semesra itu. Walaupun hanya seminggu, itu sudah terasa bertahun-tahun bagiku.

“YAA!! PARK JIYEON!!”

Aku tersentak mendengar teriakan cempreng itu. Aku pun menoleh ke asal suara. Tahu-tahu sudah ada yeoja kuda nil itu memasuki ruang kelasku. Tampangnya terlihat berantakan sekali. Aku sedikit geli melihatnya. Pasti dia merasa tersiksa akibat ulah jahatku tadi. Tapi ngomong-ngomong apa yang sedang dilakukannya di sini?

“Mwoya?” tanyaku acuh tanpa berdiri dari kursiku. Aku melihat Myungsoo berdiri di belakangnya dengan gelisah. Mungkin ia takut kalau Doyeon mengamuk. Aku mendesah kesal melihatnya. Anni. Bukan kesal, melainkan cemburu.

“KAU KAN YANG SUDAH MEMBUAT PERUTKU SEPERTI INI?” maki Doyeon padaku.

Haha pertanyaan macam apa itu? Aku melirik perutnya sekilas.

“Memang kenapa dengan perutmu? Membuncit? Olahraga dong biar tidak membuncit..” sahutku masih dengan sikap acuh. Masa bodoh jika aku dikeluarkan dari kampus ini. Harga diriku lebih penting dari apapun. Enak saja aku harus tunduk pada yeoja ini. Memangnya dia nenek moyangku?

“KAU… BENAR-BENAR… KEMARI KAU YEOJA BR*NGS*K!!”

Aku terkejut sekali karena tiba-tiba saja yeoja sial itu menarik rambutku dengan keras, membuatku berdiri dengan terpaksa karena tarikannya itu. Aku benar-benar marah sekali karenanya. Berani-beraninya dia menjambak rambutku tanpa mengatakan alasan yang jelas. Tapi bersamaan dengan itu Myungsoo segera memeganginya dan melepaskan tangannya dari rambutku.

“YAA!! KENAPA KAU MENJAMBAKKU, EOH?” bentakku pula sambil memegangi rambutku yang sakit akibat tarikannya itu.

“JANGAN BERPURA-PURA. AKU TAHU KAULAH YANG MEMBUATKU SAKIT PERUT. KAU KAN YANG MEMASUKKAN SESUATU KEDALAM MAKANANKU AGAR AKU SAKIT PERUT? AYO JAWAB, YEOJA SIALAN!!”

“GEURAE!! AKU MEMANG MELAKUKANNYA! AKU MELAKUKANNYA KARENA KAU MEMANG PANTAS MENDAPATKANNYA! KAU PUAS? EOH??”

“MWOYA?? NEO JINJJA!!”

Doyeon sudah maju hendak menjambakku lagi tapi pegangan Myungsoo lebih kuat sehingga ia tak bisa bergerak dan hanya menatapku dengan kesal.

“Geumanhae.. Jangan bertengkar lagi.” Kata Myungsoo padanya.

“Andwae! Aku harus membuat perhitungan dengan yeoja ini!” Doyeon tetap ngotot.

“Chagiya.. Dengarkan kata-kataku. Geumanhae.. Bukankah sekarang kau sedang sakit? Kkaja, lebih baik kita obati saja sakit perutmu itu, eoh?” kata Myungsoo lagi dengan lembut. Chagiya? Sial! Kenapa dia lembut sekali padanya. Myungsoo, apa kau tidak sadar kalau saat ini kau sudah melukai perasaanku? Sumpah hidup ingin sekali rasanya aku menendang muka jelek yeoja yang baru saja dipanggil Chagiya oleh Myungsoo itu. Tapi Jieun sudah memegang kuat-kuat lenganku sehingga aku pun hanya bisa menahan niatku itu dan menatap kesal pada mereka berdua.

Myungsoo POV

Hanya ini satu-satunya cara agar yeoja gila ini berhenti mengamuk. Aku terpaksa melakukan hal seperti ini padanya. Ya, kalau bukan karena Jiyeon, aku tidak akan sudi bersikap lembut padanya, apalagi memanggilnya dengan panggilan Chagiya. Aku hanya tidak terima Jiyeon diperlakukan kasar begitu. Biarpun mungkin caraku salah, tapi setidaknya ini yang bisa kulakukan sekarang.

Aku meliha Doyeon sedikit bisa menguasai emosinya, walaupun napasnya masih naik turun karena marah. Ia pun menatapku dengan tatapan lembut, lalu tersenyum padaku.

“Geurae.. Aku akan menuruti kata-katamu, Chagiya. Gomawo kau sudah memperhatikanku.” Ucapnya padaku.

Aku tertegun. Mwoya? Kenapa dia bersikap seperti ini? Andwae! Jangan sampai ia jadi semakin jatuh cinta padaku. Kalau tidak, bisa-bisa aku akan sulit lepas darinya.

“Kkaja..” lanjutnya lagi sambil kembali bergelayut manja di lenganku.

Aku mengikutinya dengan ragu. Namun sebelumnya aku sempat melihat ke arah Jiyeon. Yeoja itu.. Dia terlihat begitu benci padaku. Tatapan matanya sangat berbeda dari biasanya. Jiyeon.. Kumohon jangan salah paham. Aku melakukannya karena terpaksa. Aku melakukan ini untukmu. Jebal.. Jangan salah paham padaku..

_

Sudah dua hari setelah kejadian perjambakan (?) itu berlalu, dan selama dua hari berturut-turut itu aku mulai merasakan sikap Jiyeon berubah padaku. Setiap kali kami bertemu, dia selalu membuang muka dan memasang wajah dingin padaku. Padahal biasanya ia selalu tersenyum riang setiap kali bertemu denganku. Tapi sekarang, sungguh berbanding terbalik. Aku jadi semakin resah dan tak tenang dibuatnya.

“Chagiya.. Bisakah kau membelikanku air minum? Aku haus sekali. Pasti gara-gara bertengkar dengan yeoja sial waktu itu. Aish! tak kusangka efeknya masih terasa sampai sekarang. Memang sialan dia. Aku benar-benar harus meminta Appa agar segera mengeluarkannya dari kampus.”

Aku menggeretakkan keras rahangku mendengar ucapan yeoja ini.

“Apa tak ada ancaman lain selain itu?” sahutku berusaha keras menahan rasa geramku.

“Eobseo. Karena aku yakin banyak sekali orang yang sangat ingin kuliah di tempat ini. Aku yakin yeoja itu juga seperti itu. Makanya aku akan segera meminta Appa agar mengeluarkannya dari sini, biar dia tahu rasa. Berani-beraninya dia berurusan denganku.”

Aku kembali terdiam. Ingin sekali rasanya aku menarik yeoja yang kini masih bergelayut manja di lenganku itu dan melemparnya ke laut. Tapi aku segera sadar, dia tetap hanyalah seorang yeoja yang lebih lemah dariku. Jadi tidak mungkin aku bersikap seperti itu padanya. Tapi sungguh, kata-katanya itu sangat membuatku marah bercampur kesal. Apalagi setiap kali kuingat tatapan dari Jiyeon yang seperti itu. Kutarik napasku dengan berat.

“Chagiya..” panggil Doyeon tiba-tiba sambil menghentikan langkahnya. Mau tak mau aku pun turut menghentikan langkahku.

“Wae?” tanyaku sambil menatapnya heran.

Doyeon tak segera menjawab, melainkan mendadak melingkarkan kedua tangannya ke leherku.

Y-yaa.. Neo jigeum mwohaeyo?” tanyaku was-was. Jinjja.. Apa yang hendak dilakukan yeoja ini?

Tapi rupanya Doyeon tak menyahuti ucapanku melainkan hanya menarik pelan kepalaku dan mendekatkan wajahnya padaku. Dadaku seketika berdebar-debar dengan kencang, bukan karena senang dengan perlakuannya ini, melainkan tanpa sengaja aku melihat sosok Jiyeon di belakang Doyeon. Dia tampak terperangah menatap kami berdua. Pasti dia sudah berpikiran yang tidak-tidak terhadap kami. Sejurus kemudian aku melihatnya berbalik dan beranjak pergi dengan gusar meninggalkan kami. Andwae! Ini tidak boleh. Aku harus menghentikannya. Aku kembali menatap Doyeon yang bibirnya sudah manyun hendak menyentuh bibirku sambil memejamkan kedua matanya itu. Dengan cepat aku pun mendorong kedua bahunya.

“Yaa! Mwohaeyo? Neo michyeosseo?” gertakku padanya.

“Chagiya.. Aku hanya ingin menciummu. Kenapa kau marah? Apa kau tidak suka? Apa kau lebih suka kalau aku melakukannya dengan namja lain, eoh?”

“Mwo?” aku terkejut mendengar ucapannya itu. Sial. Yeoja ini benar-benar sudah membuatku hampir meledak di tempat. Tanpa berkata apa-apa lagi aku pun segera beranjak.

“Eodiga?” kata Doyeon sambil menahan lenganku.

“Aku ada urusan sebentar. Kau pergilah dulu. Kita bertemu lagi nanti di kelas.” Kataku pula.

“Eodiga? Andwae! Kau tidak boleh pergi. Kau harus tetap bersamaku. Yaa! Chagiya! Kajima! Yaa! KIM MYUNGSOO!!”

Aku tak mempedulikan teriakannya itu melainkan terus berjalan meninggalkannya seorang diri. Tepat sekali. Aku berjalan menyusul Jiyeon ke kelasnya. Aku melihatnya sedang duduk bersama Jieun, masih dengan tampang kesalnya.

“Jiyeon..” kataku pula.

Jiyeon menoleh padaku hanya sekilas, setelah itu kembali pada pandangannya semula.

“Wae?” sahutnya singkat.

“Aku ingin bicara denganmu.” kataku.

“Tentang apa? Tentang yeojachingumu itu? Kau mau menyalahkanku karena sudah membuatnya sakit perut lalu menyuruhku meminta maaf padanya? Just dream on, karena aku takkan melakukannya sampai kapanpun.”

Aku menghela napas mendengar ucapannya. Baru kali ini dia berkata sinis padaku. Pasti dia sangat marah sekali. Maka tanpa bicara lagi aku pun menghampirinya dan meraih tangannya. Tapi dia bertahan.

Yaa! Neo mwohaeyo?” bentaknya.

Geureojima. Geunyang tarawa..” kataku pula tetap dengan nada lembut.

Jiyeon tak menyahut lagi. Aku berharap dia mengerti dan mau mengikutiku. Aku benar-benar harus menjelaskan semua ini padanya. Entahlah, mungkin baginya ini tidak penting. Tapi bagiku dia harus tahu yang sebenarnya.

Jiyeon POV

Aku menatap heran namja yang kini memegangi lenganku itu. Sebenarnya apa yang diinginkannya? Kenapa tiba-tiba dia bersikap seperti ini? Sebenarnya aku sakit hati dan marah sekali melihatnya dengan nenek sihir itu tadi. Bisa-bisanya mereka berciuman di tempat umum seperti itu. Grrr.. Kalau saja aku bisa, ingin sekali rasanya aku menyihir keduanya menjadi tikus. Anni.. Bukan keduanya, melainkan hanya yeoja itu saja. Ya, baiklah aku percaya pasti yeoja itu yang menginginkannya. Tapi tetap saja Myungsoo tak menolaknya. Aish! Di mana-mana ternyata namja itu sama saja.

Aku kembali menatap Myungsoo. Tatapannya begitu tajam dan meyakinkan. Aku mendesah pelan. Baiklah.. Sepertinya dia memang ingin mengatakan sesuatu. Kuikuti saja kemauannya.

“Arrasseo.. Aku akan ikut denganmu.” Kataku pula.

Myungsoo sedikit menyunggingkan senyumnya, lalu menarik pelan tanganku. aku mengikutinya dengan ragu. Kulirik Jieun yang masih mengawasiku, anni.. Bahkan seisi kelas tengah mengawasi kami saat itu. Aku menatap Jieun yang kutinggalkan itu seakan meminta doa restu darinya yang dibalas olehnya dengan mengangguk kecil seolah dia bersedia mendoakanku.

Aku masih mengikuti langkah kaki Myungsoo yang kini berjalan menuju arah kelasnya sekaligus kelas Doyeon. Aku langsung mendapatkan firasat kurang enak. Jangan-jangan dia akan memaksaku agar aku meminta maaf pada yeoja itu. Dengan segera aku pun menahan tangannya dan berhenti melangkah.

“Jamkkan!” kataku, membuatnya turut menghentikan langkahnya.

“Wae?” tanyanya. Ck.. Namja ini benar-benar membuatku frustasi. Bisa-bisanya dia lebih membela kuda nil itu daripada aku. Baiklah, aku tahu aku bukan siapa-siapa untuknya. Tapi tidakkah dia tahu seperti apa yeoja yang dibelanya mati-matian itu?

Aku menarik napas panjang sebelum kemudian berkata,

“Aku tahu kau mencintai si kuda~ maksudku Doyeon, walaupun aku tidak tahu apa yang sebenarnya membuatmu menyukainya. Keunde.. Kau juga harus mengerti apa alasanku melakukan itu padanya. Kau boleh saja menilaiku sebagai orang jahat. Gwaenchanha. Aku terima itu. Keunde aku hanya tidak bisa menerima perlakuannya yang selalu sewenang-wenang pada orang lain. Aku masih bisa memberikan toleransi saat dia menyakiti Jieun karena sudah merebut GD darinya. Tapi sekarang, aku sudah tidak bisa lagi. Sudah terlalu banyak teman-temanku yang menjadi korban keegoisannya itu. Wae? Kenapa dia bisa berlaku sewenang-wenang seperti itu pada banyak orang sementara aku tidak bisa? Apa karena dia yang berkuasa di sini sebagai seorang anak Rektor sekaligus pemilik kampus? Aku bahkan hanya membuatnya sakit perut saja. Kalau aku mau, aku bisa saja meracuninya. Tapi aku masih punya hati nurani.  Aku hanya ingin memberikan pelajaran kecil saja padanya. Geuraesseo.. Kalau kau menyuruhku untuk meminta maaf padanya, maaf saja aku tidak akan sudi melakukannya.”

Aku menahan keras hatiku yang sudah terasa ditusuk-tusuk jarum saat itu. Sungguh aku ingin mengatakan saat itu kalau aku melakukannya juga demi dia, Kim Myungsoo. Aku tidak rela melihatnya bersama yeoja itu apalagi dia hanya dijadikan sebagai budak dan barang mainannya saja. Tapi entahlah, sepertinya lidahku terlalu sulit untuk mengatakannya.

Na ganda..” lanjutku lagi sambil melepaskan tanganku dari pegangannya. Namun tiba-tiba saja ia menangkap tanganku kembali.

“Geuraeyo?” tanyanya kemudian.

“Apa maksudmu?” aku balik bertanya padanya.

“Apa hanya karena itu kau melakukannya? Apa tak ada alasan lain?”

Aku tak segera menjawab. Namja itu menatapku dengan tajam. Astaga. Tatapan ini.. Sungguh, tatapannya benar-benar membuatku tak berkutik sama sekali. Bagaimana dia bisa tahu kalau bukan hanya itu alasan yang kumiliki? Apa dia bisa membaca pikiran orang lain?

“Geuge.. Aku.. N-ne.. Hanya itu alasannya.” Aish! Kenapa kau jadi gugup begini, Park Jiyeon?

“Gotjimal! Kau memiliki alasan lain tapi kau tak mau mengatakannya. Geureotji?”

Sial. Bagaimana dia bisa tahu? Mungkin sebaiknya lain kali aku harus ikut bersemedi dengannya agar aku bisa membaca pikiran orang lain juga sepertinya.

“Jiyeon.. Apa kau berpikir aku benar-benar mencintainya?” tanyanya lagi padaku, membuatku mengerutkan keningku.

“Geureom.. Kalian bahkan berciuman tadi.” kataku dengan ragu. Semoga saja dia tidak menangkap kecemburuan dari nada bicaraku barusan.

Dia menghela napas panjang.

“Geurae.. Dia memang ingin menciumku tadi. Tapi aku menolaknya. Dan juga jangan bodoh. Aku berkencan dengannya bukan karena aku menyukainya apalagi mencintainya. Aku berpacaran dengannya karena terpaksa.”

M-mwo?”

“Geuraesseo.. Jangan pernah berpikir lagi kalau aku mencintai Kim Doyeon. Arrachi?”

Aku tak menjawab, hampir tak percaya dengan yang kudengar. Ternyata dugaanku benar kalau Myungsoo sebenarnya berpacaran dengan yeoja itu karena terpaksa. Aku lega sekali mendengarnya. Tapi kenapa dia memberitahukan ini semua padaku?

“Karena sebenarnya sudah ada yeoja lain yang telah mencuri hatiku..” lanjut Myungsoo, yang lagi-lagi membuatku terperangah kaget.

M-mwo?” kataku cemas. Yeoja lain? Myungsoo menyukai yeoja lain? Siapa? Siapa yeoja yang disukainya itu? Ck.. Baiklah, aku lega dia tidak mencintai Doyeon. Tapi dia malah mencintai yeoja lain. Yaa!! Ayolah! Bukankah itu sama saja? Aish! kenapa aku jadi sebal sendiri?

“Wae? Kau tidak ingin tahu siapa yeoja itu?” tanyanya lagi.

“Geuge..”

“Aku akan memberitahumu siapa yeoja itu. Kkaja.”

Belum sempat aku menyahut, Myungsoo sudah kembali menarik tanganku mengajakku berjalan menuju kelasnya. Mwoya? Apa yang dipikirkan namja ini? kenapa dia begitu mati-matian ingin mengenalkanku pada yeoja yang disukainya? Andwae! Aku harus secepatnya kabur kalau tidak ingin malu di hadapannya karena sudah mengeluarkan air mata patah hatiku. Namun sial, pegangannya pada pergelangan tanganku itu terlalu kuat. Akhirnya aku pun hanya bisa pasrah saja mengikutinya dengan lesu.

Author POV

“Chagiya, darimana sa~ YAA!! APA YANG KAU LAKUKAN PADA NAMJACHINGUKU, YEOJA SIAL?”

Jiyeon hanya mendengus malas mendengar makian dari Doyeon itu. Dia sama sekali tak ada nafsu lagi untuk meladeni segala ocehannya. Lagipula sudah jelas kalau Myungsoo tidak menyukainya. Dia justru merasa cemas karena omongan Myungsoo tadi. Yeoja yang disukainya? Siapa sebenarnya dia?

“KAU.. LEPASKAN TANGANMU DARI NAMJACHINGUKU! RIGHT NOW!”

Lagi-lagi Jiyeon hanya meladeninya dengan dengusan malas. Karena kesal sudah diabaikan, Doyeon pun melangkah dengan kasar, hendak menjambak Jiyeon lagi. Namun dengan cepat Myungsoo segera menarik Jiyeon ke belakang tubuhnya, membuat Jiyeon maupun Doyeon terpaku karenanya.

“Chagiya.. K-kenapa kau melindunginya, eoh?” tanya Doyeon heran.

“Geumanhae, Doyeon. Hentikan semua kesewenang-wenanganmu ini.” kata Myungsoo tenang.

Y-yaa! Neo wae geurae, Chagiya?” kata Doyeon hendak memegang tangan Myungsoo akan tetapi namja itu segera menjauhkan tangannya.

“Aku ingin kau menghentikan semua ini. Aku bukan sebuah boneka yang bisa kau permainkan sesuka hatimu. Aku sudah tidak sanggup menghadapimu lagi. Lebih baik kita sudahi saja hubungan kita. Aku tak mau menunggu lebih lama lagi.”

“Yaa! Kim Myungsoo, kau berani memutuskan hubungan kita?” kata Doyeon merasa tersinggung.

“Geurae.. Sekalian aku ingin memperkenalkan padamu siapa yeoja yang sebenarnya kucintai.”

Doyeon merasa was-was. Dengan spontan ia menatap geram ke arah Jiyeon yang tangannya kini sudah digenggam erat oleh Myungsoo. sementara Jiyeon yang masih bingung itu hanya bisa terpaku tanpa bisa berbuat apa-apa.

“Jangan bilang kalau yeoja yang kau maksud itu adalah yeoja lampir di belakangmu itu.” Kata Doyeon geram.

“Mworago?” gertak Jiyeon sebal karena disebut yeoja lampir oleh kuda nil itu.

“Majayo.. Yeoja itu memang Jiyeon.” potong Myungsoo, yang seketika membuat sepasang mata Jiyeon maupun Doyeon membulat lebar.

M-mwo?” kata Jiyeon tak percaya.

Doyeon tertawa sinis mendengarnya.

“Yaa, kau pikir aku percaya begitu saja, eoh? Aku tahu kau hanya menggertakku saja agar aku mau memutuskanmu. Geureotji? Lagipula apa bagusnya yeoja ini? tampang juga pas-pasan.” kata Doyeon sambil tersenyum remeh.

Jiyeon semakin geram mendengarnya. Kuda nil ini benar-benar..

“Apa kau ingin bukti? Geurae.. Aku akan membuktikannya padamu sekarang juga.” Kata Myungsoo kemudian.

Setelah itu ia pun berbalik dan menghadap pada Jiyeon. Ia tersenyum manis pada Jiyeon, membuat yeoja itu menjadi salah tingkah karenanya.

“Kau sudah tahu kan siapa yeoja yang kusukai?” tanya Myungsoo pula dengan pelan.

A-ah.. Geuge..”

“Saranghae, Park Jiyeon. Dan aku juga tahu kalau sebenarnya kau juga mencintaiku. Geureotji?” tanya Myungsoo lagi.

Jiyeon tak segera menjawab. Sumpah demi apa dia benar-benar tak tahu harus menjawab bagaimana. Namun entah kenapa kepalanya itu sejurus kemudian justru terangguk ke bawah menjawab pertanyaan Myungsoo itu. Myungsoo tersenyum lega sekaligus senang melihatnya. Dengan perlahan tapi pasti ia pun mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada Jiyeon. Sedetik kemudian bibirnya pun sudah menempel manis di bibir Jiyeon, membuat Jiyeon maupun seisi kelas terkejut akibat tindakannya itu. Namun Myungsoo bukannya berhenti melainkan malah melumat bibir Jiyeon dengan lembut, membuat seisi kelas menjadi semakin gaduh dan ramai karenanya.

“KYAAAAA!! HENTIKAAAANNN!!” Doyeon segera menarik paksa tubuh Myungsoo agar menjauh dari Jiyeon, membuat ciuman mereka terlepas karenanya.

“Wae? Bukankah kau menginginkan bukti? Aku sudah membuktikannya padamu. Sekarang kau tak bisa melakukan apa-apa lagi. Kita sudah putus.” Kata Myungsoo kemudian.

Doyeon menggigit kedua bibirnya dengan kesal. Baru kali ini ia merasa dipermalukan seperti ini oleh seorang namja. Ia benar-benar marah sekali.

“Kau.. Aku akan meminta Appa agar mengeluarkanmu dari kampus! Kalian berdua!” serunya kesal.

Myungsoo tak segera menjawab. Ia sudah menduga pasti itu ancaman yang akan kembali keluar dari mulut Doyeon.

“LAKUKAN SAJA!”

Myungsoo yang semula hendak menjawab ucapan Doyeon itu mengurungkan niatnya dan menoleh ke asal suara barusan. Tahu-tahu sudah ada GD, Yesung, Yoseob, Nichkhun, Minho, Gikwang, Woohyun, Dujun, Ilhoon, Sungjong, dan beberapa namja ternama lain yang notabenenya adalah bekas korban kekejaman (?) Doyeon berkumpul di sana. * kkkk~para cast RLS nongol lagi :D*

“Kalian..” Doyeon speechless dibuatnya.

“Kalau kau memang ingin meminta Appamu mengeluarkan mereka berdua, lakukan saja. Karena kami pun dengan senang hati akan ikut keluar juga dari sini. Apa kau pikir kami senang satu kampus denganmu, eoh?”

M-mwo?”

“Kau tahu sendiri kan sebagian besar mahasiswa di sini sudah menjadi korbanmu. Apa kau mau kampus milik Appamu ini sepi karena tak ada mahasiswa yang menghuni, eoh?”

Grrrr… Doyeon hanya mampu menggeretakkan rahangnya keras dan mengepalkan kedua tangannya dengan geram tanpa bisa mengatakan apapun.

“Bertobatlah, Doyeon. Kalau kau mengubah sikapmu, kami tidak akan membencimu lagi. Berhentilah bersikap sesuka hatimu. Berhentilah membuat kesal orang lain. Apa kau tidak sadar kalau perbuatanmu itu sudah merugikan banyak orang? Geunyang geumanhae..”

Lagi-lagi Doyeon hanya diam saja tanpa ada niat untuk membalas setiap perkataan yang dilontarkan oleh mantan-mantan korbannya itu. Namun sejurus kemudian ia pun menghentakkan kakinya kesal, lalu beranjak pergi begitu saja meninggalkan kelas. Sepeninggal Doyeon, Myungsoo kembali mendekati Jiyeon, lalu menggenggam erat tangannya. Setelah itu ia menatap ke arah teman-temannya yang saat ini berkumpul di kelasnya.

“Mulai sekarang, aku sudah resmi menjadi namjachingu Jiyeon, dan begitupun sebaliknya. Dia sudah menjadi yeojachinguku. Jadi berhentilah kalian mengelu-elukan ataupun membahas tentang hubunganku dengan Doyeon lagi.” Kata Myungsoo pula.

Terdengar bisik-bisik dari seisi kelas.

“Hidup MyungYeon!”

Jiyeon dan Myungsoo terkejut mendengarnya. Jieun?

“Yaa! Mworago?” bentak Jiyeon kesal.

“Wae? Itu julukan kalian. MyungYeon. Myungsoo dan Jiyeon. Apa kalian tidak suka?”

Jiyeon menatap Myungsoo, meminta pendapatnya. Myungsoo hanya tersenyum dan mengangguk.

“Geurae. Aku setuju dengan julukan itu. MyungYeon. Sepertinya bukan ide yang buruk.” Ucap Jiyeon pula.

MyungYeon jjang! MyungYeon jjang!”

Sorak sorai pun kembali terdengar. Sementara Jiyeon dan Myungsoo yang dielu-elukan hanya menggaruk-garuk kepala saja dengan salah tingkah. Ya, setidaknya mereka lega karena sudah bersatu. Dan mereka bersama-sama mendoakan agar Doyeon segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar. MyungYeon. Bukan berarti Myungsoo dan Doyeon, melainkan Myungsoo dan Jiyeon, dan selamanya akan seperti itu..

END

Keep smiling and supporting MyungYeon 😀 😉

————————————————————————

Salam beng-beng ._.V

Advertisements

139 responses to “[Oneshot] MyungYeon or MyungYeon?

  1. wah… Nggak nyangka ternyata ini karya Eonni, bagus aku suka. huh, rasain tuh sih Doyeon. MyungYeon emang lebih pantas buat singkatan Myungsoo Jiyeon bukan Doyeon… Haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s