April Story [One Shoot]

april story

 

APRIL STORY

Author : choi rae byung

Cast : Kim So Eun, Kim Myungsoo

Other cast : Park Jiyeon, Goo Hye Sun, Ahreum

Genre : Romance, Friendship, Sad

Rating : PG-15

Length : One shoot

Summary : Cerita ini murni hasil pemikiran author. Jika ada kesamaan alur cerita dan setting hanya ketidaksengajaan semata. Cast dan other cast adalah bintang Korea yang membintangi fanfiction ini.

A/N : Anyeong!! 😀 aku penggila Kim So Eun eonni… di tambah lagi aku lagi cinta beud *bahasa alay -___-* sama Kim Myungsoo yang matanya itu loh… JLEB! Jadi aku mau coba ngepairingin mereka. Moga para readers suka ^^ mian kalo ada yang gak suka sama pairing ini. Fanfict ini udah lama banget pingin aku buat. Dengan alasan judulnya yang keren. Kata temen sekelasku, April Story itu judulnya romance banget. Tadinya aku udah siap dengan cerita yang lebih ngenes, tapi katanya gak cocok. Ya sudah lah… setelah nemu ide dari cerita diri sendiri, aku buatlah fanfict dengan 2 chapter ini. Semoga suka dengan cerita endingnya ^^

 

-oOo-

                “So Eun-ah… kita kan harus persentasi nanti hari senin. Besok mau kan?” tanya seorang gadis berkuncir satu pada gadis cantik yang tengah menyelesaikan catatan di papan tulis.

“Besok?” sedang seriusnya mencatat, ia justru terkejut dan menoleh pada temannya, Hye Sun yang duduk di sebelahnya.

“Ne… kalau tidak besok, kita tidak akan bisa menguasai makalahnya….”

“Eung…,” So Eun menatap kembali papan tulis yang sudah tertulis penuh tulisan dari dosen yang mengajar sebelum kelas selesai.

BRAK!

Tiba – tiba datang seorang lelaki yang menggebrak meja So Eun. Lantas membuat gadis pemilik bangku itu menatapnya terkejut. Begitu juga dengan Hye Sun yang duduk di sebelahnya. Rupanya dia Kim Myungsoo, “Kita satu kelompok bersama kan?”

“Ne. waeyo?”

“Kapan kita akan mengerjakan makalahnya?” tanyanya dengan mata yang menyipit.

“Besok. Di rumahnya ya,” Hye Sun langsung menceplos dan menunjuk gadis berambut ikal kecoklatan itu.

Yang di tunjuk pun hanya menunduk, bingung menjawab apa. Sementara Myungsoo, menatap gadis itu. “Oh, besok di rumahmu. Jam berapa?”

“So Eun-ah… mau jam berapa?” Hye Sun menyenggol lengan sahabatnya. lantas membuat So Eun menatap kedua orang itu.

“Jam berapa saja, asal jangan sore. Kalian tahu kan, kalau sore itu hujan.”

Hye Sun dan Myungsoo mengangguk – angguk layaknya mendengar music DJ. Sementara So Eun hanya bisa mengharap besok dari pagi sampai sore akan hujan.

 

-oOo-

                “Besok pagi – pagi harus bantu eomma. Pesanan besok lebih banyak dari hari ini. Arraseo?” tanya seorang ibu paruh baya yang tengah mengupas kentang.

“Ne…,” jawab So Eun sembari mengupas kentang bersama ibunya yang bekerja sebagai pengantar makanan ke sebuah kedai.

DRRTT…

Ponsel So Eun bergetar di sebelahnya. Ia menunda aktivitasnya dan melihat si penelfon. Melihat itu nomor Myungsoo, ia segera berdiri, “Eomma, aku mau terima telfon dulu.”

Segera gadis berdarah B itu keluar dari dapur, lalu menerima telfonnya.

“Yeoboseyo.”

“Besok jam 9. Kau sudah mendengarnya dari Hye Sun kan?”

So Eun terdiam, mendengar suara dari sebrang. “Jam 9? Ne… aku malah disuruh menjemputnya. Dia kan tidak tahu rumahku. Bahkan kau tidak mau janjian dengannya. Wae?”

“Daerah rumahku lebih dekat ke rumahmu, dibandingkan harus kembali ke kampus. Yaa, apa tidak apa – apa jika besok aku dan Hye Sun ke rumahmu? Eomma-mu repot tidak?”

“Eung…,” So Eun berpikir. “Aniyo… tidak repot kok.”

“Katakanlah yang jujur.”

DEG!

Jantung So Eun berdetak tak karuan, mendengar Myungsoo memintanya untuk jujur. “Memangnya aku berbohong apa?”

“Eomma-mu seorang pemasak sebuah kedai. Jika sepagi itu, kau pasti akan repot kan untuk membantu?”

“N-ne… besok pesanan sedang banyak. Jadi aku harus membantu.”

“Kenapa tidak bilang dari tadi?!” seru Myungsoo. Membuat gadis pemilik ponsel smartphone putih itu sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.

“Mianhae… aku bingung mengatakannya pada Hye Sun.”

“Biar aku saja yang bilang. Bagaimana kalau hari kamis? Jangan di rumahmu lah, di rumah Kris saja,” usul Myungsoo.

So Eun mengangguk – angguk, “Ne. baiklah. Hari kamis saja di rumah Kris.”

“Arra. Aku tutup ya.”

“Ne.” So Eun pun memutuskan sambungannya. Lantas ia tersenyum, mengetahui Myungsoo tahu maksud hatinya.

 

-oOo-

                “Mau cari kerja? Dimana?” tanya Jiyeon penasaran, pada teman yang sedang menyantap taekbokki di hadapannya.

“Mungkin di kantor. Aku ingin punya uang untuk merenovasi rumahku di Gangwon-do.” Jelas So Eun, kemudian menusuk satu batang kue beras-nya.

“Wah… aku juga mau ikut!” seru Hye Sun, yang duduk di sebelah Jiyeon.

“Memang kau mau gaji berapa?” tanya Ahreum di sebelah So Eun sembari menatapnya.

“Banyak. Harus banyak, supaya bisa menyekolahkan adikku juga.”

“Berapa banyaknya? 10 juta won? 50 juta won? 100 juta won?” tanya Jiyeon dengan nada meledek. Lantas membuat So Eun menatapnya dengan perasaan yang tertusuk pisau, “Yaa, kita masih seorang mahasiswi. Bagaimana bisa punya uang sebanyak itu kan? bagiku, 500 ribu won sudah cukup.”

“Mungkin So Eun sedang membutuhkan banyak uang… aboji-nya sedang sakit kan,” ucap Ahreum membela.

“Orangtuamu pasti bangga punya anak sepertimu So Eun-ah…,” Hye Sun tersenyum sembari menatap So Eun dengan matanya yang bulat.

So Eun hanya bisa tersenyum miris membalas ucapan Hye Sun. lantas ia menatap Jiyeon yang berkata pedas, lebih pedas dari taekbokki yang ia makan.

 

-oOo-

                So Eun dan ketiga sahabatnya tengah berjalan di koridor setelah keluar dari kelas terakhir mereka hari ini.

“Kita sudah lama tidak makan samgyupsal sama – sama kan? ayo kita makan!!” seru Hye Sun yang begitu suka makan.

“Ye! Aku sudah lapar!” Jiyeon pun tampak sudah membayangkan samgyupsal terhidang di hadapannya.

“Ayo So Eun… kita makan samgyupsal!” Ahreum pun merangkul lengan gadis bermantel biru itu.

“Mianhae… aku tidak bisa ikut. Karena…,”

“Pasti tidak punya uang kan… ah kau selalu tidak punya uang. Kalau tidak punya, bagaimana kau bisa berangkat dan pulang dari kampus?” ceplos Jiyeon memotong ucapannya, yang lagi – lagi membuat So Eun menggeram kesal.

“Aku memang tidak punya uang Jiyeon-ah… hanya pas – pasan untuk naik bis.” Jelas So Eun akhirnya. Tapi Jiyeon tetap saja memojokkannya.

“Tapi kita kan sudah lama tidak makan samgyupsal….”

“So Eun-ah!” panggil seseorang, yang tak lain tak bukan adalah Myungsoo. Ia menghampiri keempat gadis yang tengah berjalan itu. lantas mereka menghentikan langkahnya, menanti lelaki itu datang.

“Wae?”

Myungsoo merogoh kantongnya dan memberikan selembar 1000 won pada So Eun, “Ini patungan untuk makalahnya.”

“Ne… gomawo…,” So Eun menerimanya dan langsung memasukkan dalam handle bag-nya.

“So Eun-ah… kau sudah mendapatkan uang kan? ayo kita makan samgyupsal.” Ahreum menggoyang – goyangkan lengan So Eun yang tengah menutup zipper tasnya.

“Dia itu tidak mau makan dengan kita, padahal sudah ada uang.” Cetus Jiyeon yang mata sipitnya melirik So Eun.

Myungsoo pun menatap wajah So Eun yang tampak kesulitan saat ini. Ia yang tak bisa bicara sejujurnya, justru terus dipojokkan dengan tuduhan sembarangan dari mulut Jiyeon. Lantas ia pun memarahi Jiyeon, “Yaa! Jangan dipaksa jika dia tidak mau.”

“Yaa! Kau jangan ikut campur!” seru Jiyeon.

“Ne. dia harus ikut bersama kami,” ujar Ahreum.

Tiba – tiba tangan So Eun di raih Myungsoo, membuatnya terkejut dan menatap mata lelaki di depannya, mengisyaratkan untuk diam. Lantas Myungsoo menatap ketigas gadis yang ada di dekatnya, “Aku ada urusan bisnis dengannya.”

“Mwo?” Hye Sun membulatkan matanya heran.

So Eun yang diam pun langsung ditarik Myungsoo, pergi dari hadapan ketiga orang yang membuatnya tak bisa bicara apa – apa.

 

-oOo-

                “Jadi ini gitarmu? Wah… masih bagus,” Myungsoo melihat gitar akustik itu dari depan dan belakangnya. Kemudian ia pangku dan memainkannya, mengecek nadanya. Telinganya tampak ia fokuskan ke getaran senar tersebut. “Bunyinya juga bagus.”

“Jadi bagaimana? Jadi beli tidak? 6 ribu won.” So Eun mengacungkan jempolnya pada lelaki yang tengah mencoba memainkan lagu pada gitar miliknya yang akan segera ia beli.

Myungsoo menyunggingkan senyumnya, “Tidak bisakah di turunkan? Bukankah kemarin aku sudah meminta 4 ribu won?”

“Ah… rendah sekali. Kau menawar 5 ribu won pun, aku tidak memberikannya,” cibir So Eun. Lantas ia menyandarkan punggungnya ke tepi ranjang di dalam kamarnya.

“Kemarin kita sudah sepakat….” Myungsoo menghentikan aksinya, lantas ia menyandarkan kembali gitar itu pada tembok yang ada di belakangnya.

“Bukankah sudah ku bilang tidak bisa? Harus 6 ribu won? Yaa, aku membeli itu seharga 20 ribu won. Aku sudah menjual dengan sangat murah karena sudah lama dan tidak ada sertifikatnya.”

“Katakan ini pada teman – temanmu,” ucap Myungsoo tiba – tiba.

So Eun membulatkan matanya terkejut, “Mwo? Katakan kalau gitarnya aku jual 6 ribu won? Yaa, kau kan yang mau membelinya!”

“Aniyo… tapi ucapanmu. Kalimat yang kau ucapkan padaku lebih lancar dibandingkan saat bersama sahabat – sahabatmu itu. Kenapa tidak bisa kau katakan pada mereka?”

So Eun terdiam. Ia pun mengambil orange juice-nya, lantas ia segera meminumnya hingga setengah gelas. Kemudian ia mengaduk – aduk minuman dengan sedotannya. “Karena sulit. Mereka tidak memberikanku berbicara lebih. Mereka selalu menyudutkanku. Aku tidak bisa mengatakan ‘tidak’ di setiap ucapannya.”

“Babo,” ketus Myungsoo, membuat So Eun melotot padanya. “Kenapa tidak keluarkan saja setiap kalimat yang ada dalam hatimu?”

“Karena aku tidak mau membuat masalah menjadi panjang.”

“Tapi itu membuat perasaanmu tidak lega!” seru Myungsoo gemas pada teman sekelasnya itu.

So Eun pun mengalihkan pandangannya pada jendela kamarnya yang menampakkan pemandangan pohon cherry blossom yang tengah berbunga dengan cantik. Bahkan beberapa dari ribuan kelopak bunga itu melayang akibat tertiup angin. “Aku ingin sekali merasa bebas seperti kelopak cherry blossom. Terbang kemanapun yang mereka inginkan, lalu jatuh dimanapun yang mereka inginkan. Tak ada yang melarang ataupun menuntunnya. Mereka mengikuti angin.”

Myungsoo pun ikut menatap jendela, melihat ratusan kelopak cherry blossom yang berterbangan. Kemudian ia menatap gadis di hadapannya.

 

-oOo-

                “Nanti kita sekantor bersama ya,” ucap Hye Sun pada gadis yang duduk satu bangku bersama So Eun.

“Sekantor bersama?” So Eun sedikit membulatkan matanya pada Hye Sun. Lantas ia menoleh ke jalanan yang tampak berjalan mundur seiring bis yang di tumpanginya melaju cepat. Ia bingung harus menjawab apa. Karena ia tidak akan mungkin bersama Hye Sun, ia suka dengan desain. Sementara dia, sangat membenci desain.

Bis berhenti, tiba di halte berikutnya. Kemudian naiklah beberapa orang, diantaranya adalah Myungsoo. Ia lantas duduk di bangku untuk satu orang di depan Hye Sun dan So Eun. Ia pun langsung menyapa teman sekelasnya dengan ramah, “Hei!”

Hye Sun yang melihatnya pun mencibir sengit. “Huh, kenapa harus bertemu denganmu? Harusnya aku lebih siang saja berangkatnya.”

“Kau tidak akan bertemu So Eun pastinya…,” ceplos Myungsoo. Lantas di iyakan oleh Hye Sun dalam hati. Kemudian ia menatap So Eun yang sedari tadi asik menghitung mobil yang melintas di sebelah bis yang dinaikinya. “Yaa, kau sudah bekerja kan? di kantor mana?”

“Di butik,” jawab So Eun sembari menatap Myungsoo. “Wae? Kau mau ikut?”

Myungsoo nyengir mendengar pertanyaan So Eun. Lantas, Hye Sun terkejut dengan ucapan So Eun barusan. “Mwo? Kau kerja dibutik? Aigoo… kenapa kau tidak bilang dari tadi? Aku kan tidak bisa menjahit atau mendesain.”

So Eun hanya terdiam. Ia justru menatap Myungsoo yang juga menatap dirinya.

 

-oOo-

                “Wuah… kimbab buatan So Eun memang nomor satu. Pasti bakat eomma-nya yang pintar memasak itu menurun,” ucap Hye Sun sembari menikmati potongan entah keberapa kimbab buatan sahabatnya.

“Buah memang tidak jatuh dari pohonnya.” Lanjut Ahreum.

“Resepnya apa? Bagi aku ya,” pinta Jiyeon dengan mata berbinar.

“Aku juga mau…,” tambah gadis berambut pendek tersebut.

“Arra… kalian akan aku bagi resepnya,” ucap So Eun. Lantas ia menyantap kimbabnya sendiri, sembari melihat ke sekliling kelas, mencari sosok Myungsoo. Ia pun melihat lelaki berambut tebal itu tengah berkumpul dengan kawanannya di sudut kelas. Karena kimbab yang ia bawa terlalu banyak dan masih memiliki sisa sekitar 10 potong, ia pun segera membawa tepak makannya, lalu memberikan sisa kimbab itu padanya. “Ini untukmu.”

“Untukku?” Myungsoo menatap isi tepak makan plastic berwarna putih transparant sejenak, lalu menatap si pemberi dengan menyipitkan matanya. “Huh, ada rangka apa kau memberiku kimbab?”

“Aku membuat 30 potong. Aku dan teman – temanku sudah terlalu kekenyangan. Ini untukmu. Anggap saja rasa terima kasihku karena kau selalu ada di saat aku kesulitan.”

Myungsoo lantas segera mengambil tepak makan itu dan tersenyum, “Gomawoyo… tahu saja kau kalau aku sedang lapar.”

Sementara Hye Sun yang melihat So Eun dengan Myungsoo tengah mengobrol itu pun, merasa sedikit kesal.

 

-oOo-

                Tampak kedua sahabat tengah berjalan bersama sambil bergandengan tangan di trotoar Universitas Seoul menuju halte. Tak ada percakapan di antara mereka selama 10 menit terakhir. Hingga akhirnya, seorang gadis berambut pendek hitam itu membuka percakapan mereka. “So Eun-ah… bisakah kau menjaga rahasia?”

“Tentu saja,” jawab So Eun langsung.

“Yaksok?”

“Ne…. wae?” So Eun mulai penasaran dengan ucapan Hye Sun barusan.

“Aku… aku menyukai Kim Myungsoo,” ucap Hye Sun tiba – tiba sembari menatap So Eun.

Lantas gadis di sebelahnya itu menghentikan langkahnya, lalu menatapnya heran, “Mwo? Kau menyukainya? Wae?”

“Dia tampan…,” jawab gadis bermarga Goo itu tegas. “Dia tinggi, tampan dan sempurna. Bahkan nilai IP-nya juga tinggi.”

“Tapi dia kan mengesalkan.”

“Memang… tapi aneh, aku menyukainya.”

So Eun nyengir mendengar pernyataan sahabatnya itu. “Sejak kapan kau menyukainya? Kenapa aku tidak tahu?”

“Hehehe… tidak ketahuan kan?” Hye Sun menunjuk wajahnya yang tengah berseri karena bangga perasaannya tak pernah bisa di tebak, kecuali ia mengatakan pada So Eun.

“Huh, kau kan sudah punya kekasih.” So Eun mencibir dan melanjutkan langkah kakinya.

“Tapi dia juga menyukaiku,” ceplos Hye Sun sembari mengikuti langkah So Eun.

Mendengar hal itu, lantas membuat So Eun menghentikan langkah menuju halte, kemudian menatap sahabatnya tak percaya. “Mwo?”

 

-oOo-

                Tampak seorang lelaki tengah mengecek komponen motherboard PC milik seorang gadis, teman sekelasnya di kampus. Ia begitu teliti hingga akhirnya memasang penutup CPU tersebut dengan benar. Gadis pemilik kamar, tempat mereka berada itu pun menatapnya dengan penasaran. “Eotte? Masih bagus kan?”

“Ne… masih bagus. Kalau begitu aku beli 10 ribu won ya,” ungkapnya dengan mudah di hadapan pemilik PC itu.

“Mwo? Aku membelinya 40 ribu won. Bagaimana bisa kau menjualnya semurah itu.”

“Aigoo… ini PC keluaran tahun 2004. Bahkan harga 10 ribu won untuk sekarang, kau bisa membeli sebuah net book.”

“Tapi tidak bisa kah kau beli setengah harga belinya?” rengek So Eun memohon.

“Kau ini keras kepala sekali, seperti ahjumma pemilik toko buah di dekat rumahku. Kalau kau tidak mau aku beli dengan harga itu, lebih baik tidak jadi,” ancam Myungsoo sembari menaruh PC itu di mejanya kembali. Namun lengannya langsung di tarik So Eun dan menatapnya dengan penuh aegyo. “Aisshh… kau sedang merayuku?”

“Myungsoo-ya… Kim Myungsoo… kau tampan sekali,” rayu So Eun, berharap lelaki itu mau membeli PC dengan harga 20 ribu won.

 

-oOo-

                Myungsoo menegak orange juicenya hingga habis. Lantas ia kembali menaaruhnya di lantai. “Baiklah. Aku customer yang baik. Aku akan membeli 15 ribu dollar.”

“Myung…,”

“Tidak bisa tambah. Aku benar – benar tidak punya uang…,” papar Myungsoo.

“Huh… baiklah. Gomawoyo… kau sudah mau membeli kedua barangku,” So Eun tersenyum manis. Kemudian ia mengambil kue keringnya dan memakannya.

“Ne… kau masih punya barang apa lagi? hubungi saja aku, aku akan membelinya,” Myungsoo terkekeh. Kemudian ia melihat serpihan kue kering coklat yang tersisa di sudut bibir So Eun. Lantas ia segera menyeka dengan jempolnya. “Ada serpihan kue di sisi bibirmu.”

So Eun terdiam. Ia tampak kaget dengan perlakuan lelaki di hadapannya yang akhir – akhir ini selalu menolong di saat ia kesulitan. “Eungg… Myungsoo-ya. Aku boleh bertanya padamu tidak?”

“Wae?” Myungsoo mengunyah kue kering sajian So Eun, sembari menatap gadis berkuncir satu di depannya.

“Bagaimana jika ada seorang gadis yang menyukaimu? Padahal, gadis itu sudah memiliki kekasih.”

Myungsoo terkekeh lirih, “Mwo? Dia rakus sekali. Apa itu Hye Sun?”

“Huh?” So Eun membulatkan matanya kaget. Bagaimana bisa Myungsoo tahu itu Hye Sun? dirinya sendiri saja tidak tahu menahu jika sahabatnya itu menyukai lelaki marga Kim itu. Tapi ia berusaha untuk menolak tebakan yang sebenarnya tepat. “Bukan… mana mungkin Hye Sun.”

“Apa itu kau?” Myungsoo memicingkan matanya. Lantas So Eun menunduk takut. Tapi tiba – tiba ia mengepalkan tangannya, lantas memberi jitakan kecil tepat di ubun – ubun gadis cantik itu.

PLETAK!

“Yaa!” seru So Eun sembari menatap Myungsoo jengkel dan mengusap ubun – ubunnya yang sedikit nyeri. “Kenapa kau menjitakku?”

“Benar kan itu Hye Sun. Aku tidak yakin jika itu kau. Lagipula kau tidak punya pacar.”

So Eun memanyunkan bibirnya kesal, “Ne. aku memang tidak punya pacar.”

“Lagi pula aku sudah punya pacar kok,” ucap Myungsoo sembari menatap jendela yang masih menampakkan pohon cherry blossom yang bergoyang.

So Eun menatap wajah Myungsoo dengan diam. Ia sebenarnya merasa sedikit kecewa jika lelaki itu rupanya sudah punya kekasih. “Kekasihmu, ada dimana?”

“Di Sokcho,” jawabnya sembari menoleh pada gadis di sebelahnya. Ia pun menyunggingkan senyumnya, “Aku akan menikahinya jika kami sudah lulus kuliah dan bekerja.”

So Eun hanya bisa menyunggingkan senyumnya, berpura – pura senang dengan impiannya.

 

-oOo-

                “Diam kau! Aku membencimu!” seru Hye Sun di kelas, meramaikan kesunyian kelas karena hanya ada beberapa mahasiswa saja yang menunggu dosen datang. ia melemparkan file-nya tepat pada Myungsoo, membuat dia kesakitan karena kepalanya terkena file berisi 200 lembar kertas itu.

“Akh! Yaa! Aku kan hanya mengataimu ‘babo’! kenapa kau marah?!” seru Myungsoo yang duduk di pojok depan pintu sembari mengusap – usap kepalanya yang berdenyut.

“Aku tidak suka dikatai itu! orangtuaku saja tidak pernah mengataiku seperti itu! mereka bersikap lembut padaku!” seru Hye Sun, sembari mengambil filenya yang berada di dekat Myungsoo. Bahkan ia memelototinya, “KAU YANG BABO!”

“Yaa anak manja!!”

“Oh, memang aku anak manja. Kenapa? Lebih baik jadi anak manja daripada anak yang tidak tahu sopan santun!!”

So Eun yang menonton kedua orang itu bertengkar pun hanya bisa geleng – geleng kepala dan melanjutkan tugasnya yang belum selesai, padahal seharusnya ia kerjakan di rumah.

 

-oOo-

                “Kau bertengkar dengan Myungsoo hebat sekali. Padahal kau menyukainya kan? kenapa tidak bisa bersikap lembut padanya?” tanya So Eun penasaran yang berjalan di sebelah Hye Sun.

Hye Sun terkekeh lucu, seakan ia baru saja mengalami hal yang membuat perutnya geli. “Hahaha… aku memang menyukainya. Tapi itulah caraku menutupi rasa sukaku.”

“Eumm… apa Lee Minho tahu?”

“Aku menyukai Myungsoo?” Hye Sun menoleh, bertatapan langsung pada sahabatnya. melihat gadis yang selalu pulang satu bis dengannya mengangguk, ia pun menjawab pertanyaannya sendiri. “Tidak tahu. Dan jangan sampai dia tahu.”

“Ne… jika dia tahu, pasti dia akan mengamuk.”

“Ne, dia kalau mengamuk kan lucu sekali,” Hye Sun tersenyum senang. Lalu ia kembali menghadap depan, melihat halte yang sudah ada di dekatnya.

Sementara So Eun, justru memikirkan soal Hye Sun. sebenarnya ia kesal dan ingin memaki Myungsoo, bahwa ia sudah punya pacar, bahkan lelaki yang ia sukai juga sudah punya kekasih dan akan segera menikah setelah lulus kuliah dan sudah bekerja. Menyuruhnya sadar dan segera melupakan Myungsoo. Namun bagaimana bisa? Ia saja tidak bisa mengatakan kejujuran. Masa, menasehati teman?

 

-oOo-

                Para mahasiswa dan mahasiswi yang telah kelelahan dengan pengajaran dosen, segera keluar setelah kelas membosankan telah selesai. Tak terkecuali Hye Sun yang sedang sibuk dengan barangnya. So Eun bersama kedua temannya sudah berada di depan kelas, menunggunya.

“Hye Sun-ah… masih lama tidak? palli… aku sudah lapar,” pinta Ahreum.

“Ne… jamkkanman,” ucap Hye Sun sembari menggendong tasnya dan berdiri dari bangku. Namun tiba – tiba tangannya di tarik Myungsoo, membuat mereka saling beradu pandang.

So Eun yang melihat mereka pun segera menarik Ahreum dan Jiyeon untuk segera meninggalkan lokasi mereka yang berada di depan pintu kelas. “Kajja, kita duluan saja ke kantin….”

“Tapi nanti Hye Sun akan marah kan,” ucap Jiyeon memberi tahu.

“Dia tidak akan marah, percaya padaku,” So Eun mencoba tersenyum walaupun perasaannya sedikit sesak.

Sementara Hye Sun dan Myungsoo yang masih berada di kelas itu pun masih saling terdiam. Hingga akhirnya sang gadis lah yang menarik tangannya dan memelototinya, “Wae?”

“Aniyo…,” Myungsoo menggaruk kepalanya yang tak gatal sembari mencari bantuan, mungkin pada mikroba yang berterbangan di kelas yang baru saja ditempati untuk belajar pemograman.

Hye Sun memperhatikan wajah Myungsoo dari dekat, “Kau gerogi. Apa kau menyukaiku?”

“Huh?” Myungsoo terkejut dengan pertanyaan Hye Sun barusan. “Aniyo!”

“Katakan saja jika kau suka. Aku… aku juga suka,” Hye Sun menatap kearah jendela yang berada di kelas 3-2-2 itu.

Myungsoo menatap gadis itu dengan seksama. Ia merasa ada yang aneh pada perasaannya. Seperti tersetrum.

“Tapi aku sudah punya kekasih. Kau juga sama kan?”

“Ya, aku sama denganmu.”

Di kantin, terlihat So Eun menyantap nasinya dengan tak bersemangat. Namun ketika Jiyeon dan Ahreum saling membuat lelucon, ia hanya ikut tersenyum. Meskipun matanya tengah memproduksi air mata yang siap untuk dikeluarkan.

 

-oOo-

                So Eun melangkah perlahan menuju rumahnya di bawah langit gelap dan sinar bulan. Sesampai di rumahnya, ia lantas memasuki kamarnya yang masih tercium aroma Myungsoo walaupun lelaki itu mengunjungi rumahnya seminggu yang lalu. Tapi entah kenapa, bayangan itu tetap ada. Dimana saat dia tersenyum, tertawa, bahkan mengusap remah kue kering di bibirnya. Kemudian mengingat dia berkata, ‘Aku akan menikahinya jika kami sudah lulus kuliah dan bekerja.’

Mata So Eun telah memburam karena air mata yang menumpuk di pelupuk matanya. Namun ia buru – buru mengusapnya, lalu tersenyum kembali. Mencoba sadar, bahwa itu semua hanyalah obsesinya.

 

-oOo-

                Bis menuju Universitas Seoul tengah melaju sejak 10 menit yang lalu. namun diantara kedua gadis yang sekelas dan duduk bersebelahan ini tak kunjung mengucapkan sepatah kalimat, hanya untuk mengupas keheningan.

“So Eun-ah….”

“Hye Sun-ah…”

Mereka lantas memanggil satu sama lain, membuat keduanya saling menatap dan terkekeh. Hingga akhirnya Hye Sun lah yang memulai. “Nampaknya aku duluan yang harus berbicara. Kau tahu? Kemarin, Myungsoo bilang dia menyukaiku. Aku juga bilang kalau aku menyukainya.”

So Eun menunduk. Meremas tangannya, mencoba agar tidak menangis. Tapi tunggu. Sejak kapan ia merasa sakit saat tahu Hye Sun menyukai Myungsoo?

“Tapi kami sama – sama sepakat tidak akan membuat masalah lebih panjang dengan kekasih kami masing – masing,” lanjut Hye Sun. Lantas, So Eun menoleh kearahnya, menunggu penjelasannya lebih lengkap. “Kami hanya menyukai sebatas teman. Sebatas hanya terpesona, bukan karena cinta.”

So Eun terdiam. Entah ia harus merasa senang atau tidak.

“Jadi kami tidak akan membahas itu lagi.” Hye Sun menyunggingkan senyumnya.

“Lalu, apa kau masih menyukainya?”

“Hm? Tentu saja masih….”

“Bagaimana dengan Myungsoo?”

Hye Sun menggeleng, “Molla.”

“Dia akan menikahi kekasihnya setelah lulus kuliah dan bekerja. Jadi ada kemungkinan dia tidak akan bisa kau dapatkan.”

“Tentu saja. aku tidak akan mendapatkan Myungsoo. Kan sudah aku bilang, kami tidak akan membahas itu, bahkan kami akan menganggap saling terpesona saja.”

So Eun bernafas lega. Rasa sesak di hatinya terangkat cukup banyak. Lantas membuatnya bisa tersenyum secara ringan padanya.

 

-oOo-

                “So Eun-ah… tugas ini susah sekali… bisakah kau membantuku?” ucap Jiyeon memohon.

So Eun gelagapan atas permohonan sahabatnya itu. “Eung….”

“Aku juga tidak tahu… buatkan aku programnya….”

So Eun membulatkan matanya kearah Ahreum. Ia pun menoleh ke kiri dan ke kanan, melihat kedua teman yang merengek padanya. Kini matanya langsung menjurus ke sebuah tas yang bertengger di atas bangku kosong. Kemana pemiliknya?

“So Eun-ah… ajari aku ya,” Hye Sun tiba – tiba berjongkok di depannya sembari memberikan puppy eyes pada sahabat yang memang pintar dengan bahasa pemograman.

So Eun lantas menghembuskan nafas lemahnya. “A-aku…,”

“Jangan mau mengerjakan tugas milik orang lain,” kini Myungsoo yang tiba – tiba datang dari luar kelas. Lantas ketiga gadis yang sedang merayu So Eun pun menatapnya garang. “Kalian sudah semester 5. Harus belajar sendiri. Bagaimana bisa, selalu mengandalkan So Eun?”

“Heh, kau juga selalu nyontek dan minta dikerjakan Kris, kan?” ceplos Hye Sun.

Myungsoo mencibir pada gadis berambut pendek itu. lantas ia menatap So Eun yang memang sedari tadi menatapnya. “Katakan pada mereka kau tidak mau mengerjakannya.”

“So Eun-ah… kau mau kan mengerjakan punya kami?” desak Jiyeon, lebih menyudutkan So Eun.

Gadis cantik itu lantas mendesah berat. Bagaimana bisa ia menolak mereka, yang sebelumnya selalu ia turuti.

“Katakan yang sejujurnya!” seru Myungsoo tiba – tiba.

Gadis bermarga Kim itu hampir saja menangis. Ia tidak bisa mengatakannya.

“Yaa! Dia tidak mau. Lihatlah! Jika dia mau pasti dia akan tersenyum dan bilang, ‘tentu saja’. kalian harus mengerti!” seru Myungsoo sembari menunjuk gadis yang sedari tadi duduknya gelisah.

“A-aku mau!” seru So Eun tiba – tiba. Ia pun melotot pada Myungsoo yang terkejut dengan seruannya. Ia tidak mau terus – terusan di paksa Myungsoo. Memang ia membutuhkannya, tapi ia tidak mau jika harus dipaksa. Ia memang benci pemaksaan. Tapi ia tidak bisa menghindarinya. Setiap hari bertemu dengan pemaksaan. Dari teman – teman, lalu Myungsoo sekarang ikut – ikutan memaksanya. Memaksa untuk melupakan, serta menyukainya lagi dengan mendadak. “Aku bilang aku mau! Jangan sok tahu!”

“Yeay!! So Eun-ah…, kau memang sahabat yang paling baik,” Ahreum yang duduk di sebelah kiri So Eun pun langsung merangkulnya.

“Kalian ini sangat bodoh!” seru Myungsoo kesal. Ia pun memandang Ahreum, Hye Sun dan Jiyeon bergantian, yang rupanya menatapnya aneh. “Seharusnya kalian belajar sendiri. Jangan mengandalkan orang lain. Apa kalian tidak tahu siapa So Eun? Bagaimana keadaannya? Dan bagaimana ia harus selalu melembur karena mengerjakan tugas program? Kalian sahabatnya, lebih dekat daripada aku. Bagaimana bisa kalian tidak tahu itu semua?”

Lantas ketiga gadis itu menatap So Eun penuh pertanyaan. Tapi gadis yang di tatap itu justru berdiri dan segera menarik tangan Myungsoo, keluar kelas. Sesampai di teras lantai 4, ia melepaskan tangannya dan menatap lelaki itu tajam. “Apa maksudmu mengatakan itu pada mereka? Jangan sok tahu!”

“Aku tidak sok tahu! Itu kenyataannya!” seru Myungsoo, membuat gadis yang rambutnya terkibas akibat angin musim semi itu menatapnya heran. “Sampai kapan, kau akan selalu diam? Sampai kapan juga, kau akan menjadi budak mereka? So Eun-ah… aku kasihan padamu.”

“Aku tidak pantas di kasihani. Aku hanya tidak ingin memperpanjang masalah, makanya aku tidak bersikap jujur pada mereka,” tegas So Eun. Ia pun berbalik hendak kembali ke kelasnya. Tapi Myungsoo kembali menarik tangannya, hingga ia kembali menghadap pada lelaki tampan itu.

Myungsoo memegang baju So Eun dan memandang wajahnya dengan lamat. “Aku akan pergi. Tidak ada lagi yang bisa membelamu lagi. Jadi, aku mohon jangan terus seperti ini.”

“Pergi?” mata So Eun membulat kaget.

Myungsoo mengangguk. “Aku akan pindah kuliah. Hari – hari terakhir aku di sini, aku mohon rubahlah sikapmu. Jangan takut. Aku selalu di belakangmu, memperhatikanmu, dan akan datang jika kau memang tersudut.”

So Eun memutar pandangannya. Entah kenapa rasa dadanya sesak. Ia tidak apa jika selamanya cinta padanya bertepuk sebelah tangan. Tapi bagaimana jika Myungsoo sudah pergi?

 

-oOo-

                So Eun berjalan gontai menuju kelasnya. Ia masih kepikiran soal perkataan Myungsoo kemarin. Entah sudah berapa kali ia menghembuskan nafas beratnya. Hingga ia tak menyadari bahwa ia sudah sampai di depan kelas 3-5-2.

Setelah menarik nafas dalam – dalam hingga memenuhi rongga paru – parunya, ia melangkahkan kaki ke dalam kelas dengan senyum mengembang, lalu melemparnya pada teman – teman di kelasnya. Ia mencoba ceria. Apalagi melihat Myungsoo di sudut kelas tengah memperhatikan dan tersenyum. “Anyeonghaseyo…!”

“Ceria sekali kau hari ini?” sindir Jiyeon. “Nampaknya kau baru saja dapat lotre.”

“Hahaha… anya… aku baru saja dapat uang tambahan dari eomma,” jawab So Eun sembari duduk di bangku kosong bersebelahan dengan Jiyeon.

“Oh ya, bagaimana dengan programnya?” tanya Areum tiba – tiba.

So Eun tersenyum sembari menatap Areum, Jiyeon dan Hye Sun yang ada di sekitarnya. “Aku belum mengerjakannya.”

“MWO?!” sontak ketiga temannya itu terkejut.

“Ba-bagaimana bisa kau belum mengerjakannya?” Hye Sun mulai emosi dengan kening yang bekerut.

“Aku tidak mau mengerjakan milik kalian.” Jelas So Eun santai.

Myungsoo yang hendak bangun dari bangkunya karena melihat Jiyeon mulai berdiri dan melotot pada So Eun di depannya pun, ia urungkan. Begitu melihat gadis berambut ikal panjang itu hanya tersenyum menanggapinya.

“Bagaimana bisa kau tidak mengerjakannya? Seharusnya bilang dari kemarin supaya aku tidak mengharapkannya!”

“Bilang pun percuma. Kau tetap akan merengek, memintaku mengerjakannya. Salahmu sendiri. Kenapa tidak belajar? Semua orang dibekali otak dan pikiran. Tergantung dari masing – masing orang yang mengendalikannya. Lalu, bagaimana denganmu? Apakah kau mengendalikannya dengan baik?”

Ketiga gadis yang baru saja mendengar ocehan panjang dari So Eun pun hanya bisa menganga tak percaya. Sementara Myungsoo yang melihat dari jauh pun tersenyum bangga.

 

-oOo-

                “Kapan kau akan pergi?” tanya So Eun tiba – tiba setelah Myungsoo duduk di bangku kosong yang ada di sebelahnya.

Myungsoo menoleh, begitu juga dengan So Eun, hingga keduanya saling bertatapan.

“Kau akan pergi kemana?”

“Aku akan pergi jika waktunya sudah tepat. Aku akan pergi ke Jepang.”

So Eun menunduk. Ia tidak tahu harus berbicara apa lagi. bahkan dosen yang sedang mati – matian menerangkan di depan kelas berharap para mahasiswanya mengertipun, tak di dengarkannya. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah pertanyaan untuk lelaki berambut hitam di sebelahnya. “Oh ya, bagaimana dengan kekasihmu?”

“Oh dia. Kami sepakat tidak akan bersama lagi. Rupanya, dia tidak tahan hubungan jarak jauh.”

DEG!

So Eun yang mendengar itu pun langsung menoleh, menatap wajah Myungsoo dari samping. Ia tak tahu apakah harus senang atau sedih. Dia punya dua sisi di hatinya. Senang karena Myungsoo putus dari kekasihnya. Sedih karena Myungsoo akan pergi, meskipun lelaki itu sudah menyendiri.

 

-oOo-

                Tampak keempat teman satu kelas sejak semester pertama itu tengah bercakap – cakap di kantin sembari menikmati minuman atau makanan kecil yang terhidang di meja. Tapi So Eun sama sekali tidak bicara, karena perasaannya yang bermasalah.

“So Eun-ah… kau kenapa? Bicaralah jika ada masalah,” ucap Hye Sun sembari menyenggol lengan So Eun.

Gadis yang tadi di senggol pun tersenyum, kemudian menatap Hye Sun. “Aku tak apa….”

“Ayolah… mana mungkin tak apa,” sangkal Jiyeon.

“Emm…,” So Eun menatap temannya satu persatu. “Bagaimana, jika kalian menyukai lelaki yang baru saja putus dari kekasihnya? Di tambah lagi, dia akan segera pergi ke tempat yang jauh?”

“Menyatakan cinta padanya,” jawab Ahreum cepat.

“Benar. Katakan kalau kau menyukainya. Bahkan, kau mau menunggunya,” jawab Hye Sun setelah berpikir.

“Tidak usah di tunggu dan tidak usah menyatakan cinta. Toh, itu menurutkan derajat para gadis. Lagi pula, lelaki itu banyak,” kini Jiyeon menjawab sesuai dengan kepribadiannya.

Mendengar ketiga pendapat temannya, tentu membuat So Eun kebingungan. Tapi kebingungan itu di jawab dengan hadirnya seorang Myungsoo –lelaki yang tadi ia bicarakan- tengah duduk di meja yang ada di depan meja yang ia duduki. Lelaki itu pun mengembangkan senyumnya.

“Hei, aku punya kenalan,” ceplos Ahreum tiba – tiba, membuat So Eun menatapnya. “Dia tampan, dan pintar. Kau suka dengan tipe seperti itu kan?”

“Yaa! Kenapa tidak mengenalkannya padaku?” Jiyeon menunjuk dirinya.

Ahreum mencibir, “Bukankah kau sudah punya pacar?”

“Aku harus punya cadangan. Jika pacarku itu pergi, aku bisa dengan mudah move on.”

“Aigoo… kau ini, dasar playgirl. Biarkan So Eun yang di perkenalkan. Bukankah dia sudah jomblo selama 2 tahun?” Hye Sun menunjuk So Eun dengan seenaknya.

Jiyeon justru tertawa mengejek gadis cantik di hadapannya, “Hahaha… lagian dia saja yang tidak laku.”

Kedua gadis yang mendengarnya itu terkejut. Namun So Eun tidak. ia bersikap tenang, dengan menatap Myungsoo yang juga sedang menatapnya. Lelaki itu mengangguk pelan, membuat ia langsung mengalihkan pandangannya pada Jiyeon yang mulutnya seperti cabai terpedas di dunia. “Oh ya, aku memang tidak laku. Bukankah lebih baik seperti itu daripada di anggap murahan?”

Tawa Jiyeon terhenti. Giliran So Eun yang tersenyum, berhasil membuat gadis itu tak bisa berkutik.

“Sudah berapa kali kau ciuman? Apa kau sudah pernah melakukan sex dengan pacarmu? Apa dia memakai kondom? Oh ya, apa kau pernah mengugurkan bayimu? Oh ya ampun… bagaimana rasanya sex? Aku tidak pernah merasakannya. Berciuman saja, hanya satu kali dengan mantan yang menyakitiku.”

“YAA!!” bentak Jiyeon kesal. Wajahnya memerah karena ia merasa di olok – olok. “Jaga mulutmu Kim So Eun!”

“Kau yang pertama kali harus menjaga mulutmu. Kau tahu? Sudah berapa orang yang kau sakiti dengan bibirmu? Sudah berapa orang yang merasa kesal dan sangat ingin mencekikmu? Lebih baik rubah sikapmu, sebelum kau di hina lebih parah dari kau menghina orang itu.” tegas So Eun berani.

Ahreum dan Hye Sun hanya mencoba meresapi rasa minuman dan makanan yang mereka pesan. Mencoba menyumpal kuping mereka, hingga tak mendengar ocehan dari So Eun dan Jiyeon. Mereka yang bertengkar terlihat seperti perang dunia ke 3 datang.

“Baiklah. Aku memang salah. Maafkan aku.” Jiyeon segera menegak air putih satu botol penuh.

So Eun tersenyum, “Gomawo, kau sudah mau minta maaf.”

Ahreum dan Hye Sun masih saja diam. Kemudian So Eun mencoba untuk tersenyum dan berterima kasih pada Myungsoo. Namun ketika ia melihat kearah tempat dia duduk sebelumnya, rupanya sosok lelaki itu sudah tidak ada.

DRRTTT~

Ponselnya dari celananya pun bergetar. Lantas ia langsung mengeluarkannya dan melihat pesan siapa yang masuk. Begitu membuka pesannya, matanya membulat kaget melihat siapa yang mengirimkan pesan untuknya.

 

From : Myungsoo

Aku pergi. Sampai jumpa.

 

Tanpa berpamitan pada teman – temannya, So Eun langsung pergi dari meja dan keluar dari kantin. Ia tak menghiraukan sahabat – sahabatnya berteriak memanggil namanya. Ia masih sibuk mencari sosok Myungsoo yang menghilang tiba – tiba.

“Myungsoo-ya… eoddiga? Kau jangan meninggalkan aku seperti ini…,” ucapnya lirih sembari berjalan mencari sosok Myungsoo. Lantas matanya semakin lama semakin buram karena terlapisi oleh cairan bening yang siap turun di pipinya. “Myungsoo-ya….”

Karena tak kunjung menemukannya, ia segera mengetikkan sebuah pesan pada Myungsoo. Tak terasa, air matanya pun mengalir dengan begitu lancarnya.

 

To : Myungsoo

Gomawo, sudah merubah sikapku menjadi lebih berani. Mianhae, karena aku tidak bisa membalas jasamu sebelum kau pergi. Kau jahat! Kau meninggalkanku secara tiba – tiba. Ada yang ingin ku katakan padamu. Jika kau sudah selesai dengan urusanmu di Jepang, datanglah ke café tempat kau duduk tadi di musim semi tahun ke-2. Aku akan menunggumu, untuk membalas jasamu.

 

So Eun menekan tombol ‘send’ di aplikasi pesannya. Lantas, ia tersenyum sembari mengadahkan wajahnya ke langit biru yang tampak indah dengan hujan kelopak bunga cherry blossom. ‘suatu saat, aku pasti bisa bertemu denganmu lagi.’

 

-oOo-

2 tahun kemudian….

Tampak seorang gadis yang baru saja lulus beberapa hari yang lalu sebagai sarjana, tengah berjalan menuju salah satu bangku di sudut café yang tidak pernah berubah lokasinya –di depan kampus.

Ia duduk di sana, sembari menatap orang yang lalu lalang di jalan melalui jendela café yang besar di dekatnya. Ia tersenyum, mengingat bagaimana masa – masanya saat menjadi mahasiswi. “Ini sudah 2 tahun kan? harusnya dia sudah selesai kuliah di Jepang. Apakah dia lupa dengan permintaanku?”

“Kurasa gadis itu yang tidak sadar.”

Mendengar suara yang tak asing di telinganya, sontak membuat So Eun terkejut.

“Padahal aku sudah menunggu selama 2 jam.”

Senyum So Eun mengembang, padahal ia tidak yakin bahwa lelaki yang berbicara di belakangnya itu Myungsoo. Ia langsung menolehkan kepalanya ke belakang. Bertepatan dengan lelaki itu yang juga menatapnya. Keduanya pun saling tersenyum satu sama lain.

 

-oOo-

                Dua teman yang sudah lama tak bertemu tengah berjalan bersebelahan sembari menikmati es krim di tangan mereka. Menikmati pemandangan cherry blossom di sekitar jalan setapak yang tampak banyak pasangan kekasih yang melewatinya.

“Hemm… sudah lama sekali aku tidak menghirup udara musim semi di Seoul,” ucap Myungsoo sembari mengelilingkan pandangannya ke sekitar.

“Apa kau merindukan kota ini?”

Myungsoo menoleh pada teman perempuan di sebelahnya sembari tersenyum. Lantas mereka saling menghentikan langkah dan berdiri berhadapan. “Aku merindukan kota ini berkat kau.”

Mata So Eun membulat karena terkejut. Bahkan ia yakin bahwa wajahnya sudah bersemu sekarang.

“Sengaja aku datang, karena ingin meminta janjimu,” ucapnya sembari mengulurkan tangannya dengan posisi telapak tangan keatas, seperti meminta sesuatu pada So Eun. “Mana, katanya kau akan membalas jasaku.”

So Eun tersenyum. Ia lantas menempelkan es krim di bibir Myungsoo, sementara ia menempelkan bibirnya di sisi es krim yang lain. Mereka saling menutup mata, merasakan dingin nan lembut dari es krim yang menempel di bibir masing – masing. Tapi tak berapa lama, Myungsoo menarik es krim dari tangannya. Lantas lelaki itu pun mencium bibirnya yang terlapis es krim strawberry. Membuat ciuman mereka terasa manis seperti es krim.

‘Apa balasan jasaku adalah ciuman ini?’ tanya Myungsoo dalam hati, sembari meresapi ciuman yang mungkin bukan pertama kalinya dengan seorang gadis. Tapi ini pertama kalinya dengan So Eun, teman kuliahnya dulu.

‘Aniya. Kau yang menciumku duluan. Aku hanya membalas jasamu dengan mencintaimu,’ jawab So Eun sembari menikmati bibir bawah Myungsoo yang tipis.

‘Benarkah? Kalau begitu, aku akan menjaga pembalasan jasaku dengan baik.’

‘Jadi kau mencintaiku?’ So Eun terkejut, lantas ia melepaskan ciuman mereka dengan menarik kepalanya ke belakang.

Kedua mata mereka terbuka bersamaan. Myungsoo tersenyum, menatap So Eun yang nampak seperti melihat hantu tampan di depannya. “Ne. saranghaeyo.”

Bibir So Eun melengkung bak bulan sabit di malam hari. Lantas ia pun melanjutkan ciumannya. Ia berjinjit, lalu mengecup bibir tipis Myungsoo yang tak pernah membosankan. Sampai – sampai mereka tak menyadari, bahwa es krim mereka sudah hampir habis karena meleleh akibat matahari musim semi yang memakannya.

 

-oOo-

END

 

Advertisements

39 responses to “April Story [One Shoot]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s