Lost of Memory ( 15 0f ? )

Lost of Memory new

  • Author : @Yeondiary
  • Main Cast : Kim Myungsoo (Infinte) , Park Jiyeon (T-ara)
  • Additional Cast :       Choi Minho (Shinee)

Lee Jieun (IU)

Choi Jinri/Sulli (Fx)

Jung Soojung/Krystal (Fx)

Yang Yoseob (2pm)

Jung Eunji ( A Pink)

Park Sanghyun/Cheondung (MBLAQ)

Kim Hyun Joong

Kim Yoo Jin

Yura (Girls Day)

Lee Seung Gi

  • Lenght :  Chapter
  • Genre : Romance, Family Story
  • Rating : 15

 

Annyeong….!!!

Mianhae chingudeul…karena keterlambatan nih FF

Selain karena sibuk, laptopQ rusak dan parahnya laptop yang Q service malah hilang dicuri orang….sumpah sedih banget coz beberapa file Q yg berharga ada disana T_T.

Sekali lagi mianhae jeongmal mianhae….aku juga minta maaf kalau ga bisa balas satu persatu comment yang masuk tapi aku usahakan untuk balas semuanya *bow*

NB :    Kim Myungsoo/L young : Seo Sang Won

Lee Myungsoo : Kim Myungsoo

Happy Reading J

Preview Part 14

“Shireo eomma, jika maksud eomma memintaku untuk melupakan L oppa, itu tak mungkin. Aku…percaya L-oppa akan kembali” ujar Jiyeon yakin.

“Yeonnie-ah, kami juga berharap hal yang sama denganmu. Tapi ini sudah tiga tahun dan sama sekali tak ada kabar apapun mengenai keberadaan oppamu” Hyun Joong berusaha menjelaskan maksud anaenya.

“Aku…mengerti appa. Keundae biarkan aku berharap sekali ini saja demi kebahagiaanku. Setidaknya beri aku waktu untuk mengikhlaskan semuanya” ucap Jiyeon menahan air matanya agar tak keluar.

“YAAA…YOSEOBIE…PPALI MINHO DAN JIYEON SUDAH MENUNGGU KITA” terdengar suara namja yang berteriak di kejauhan memanggil namja imut itu.

“Myungsoo-ah, mian aku harus pergi” pamit Yoseob segera meninggalkan Myungsoo dan berlari menuju orang yang memanggilnya tadi.

“Yoseob…Minho? Jiyeon? Kenapa nama-nama itu seperti tak asing untukku?” gumam Myungsoo yang mengikuti arah kemana Yoseob dan chingunya pergi.

“Geojitmal….kau bohong padaku oppa. Kau bilang kau akan mencari dan menemukanku, tapi mengapa justru kau yang menghilang dariku, oppa. Wae?” ucap Jiyeon entah pada siapa. Yeoja itu benar-benar sedih dan merasa putus asa.

Setelah puas menangis, Jiyeon bermaksud kembali ke rumah, namun begitu terkejutnya dia melihat seseorang yang berdiri tepat dibelakangnya.

“NEO?!!”

 

 

Part 15

 

“Nuguya?” tanya Jiyeon saat mendapati seorang namja yang ada dihadapannya kini.

“Mian aku tak bermaksud membuatmu terkejut…aku…aku hanya kebetulan lewat dan menemukan tempat ini” ucap namja itu.

“Hooh…geurrae” ucap Jiyeon percaya begitu saja kemudian ia bermaksud melanjutkan langkahnya untuk pergi dari tempat itu.

Baru beberapa langkah setelah melewati namja itu, langkah Jiyeon terhenti saat namja itu menegurnya.

“Chogiyo” panggil namja itu.

Jiyeon menoleh pada namja itu dengan wajah datar.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya namja itu membuat kening Jiyeon sedikit berkerut.

“Wajahmu seperti tak asing untukku. Apa aku mengenalmu?” tanya namja itu lagi.

“Aku…sama sekali tak mengenalmu” jawab Jiyeon dengan wajah yang kembali datar lalu melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan namja itu.

Tanpa Jiyeon sadari namja itu terus memperhatikan Jiyeon hingga yeoja itu menghilang dari pandangannya.

“Neo nuguya?” gumam namja itu yang tak lain adalah Myungsoo.

Kim Family’s House

Jiyeon masih belum bisa memejamkan matanya meski malam telah larut. Pikirannya melayang pada kejadian tadi sore di bukit, tepatnya saat bertemu dengan namja itu. Entah mengapa wajah namja itu seolah tak bisa hilang dari pikiran Jiyeon. Ia terus berpikir, apa ia memang pernah bertemu dengan namja itu sebelumnya, tapi di sisi lain ia memang yakin belum pernah bertemu dengan namja itu.

Ia beranjak dari sofa tempat ia merenung sedari tadi kemudian mendekati sebuah kanvas lukisan yang ia buat beberapa waktu yang lalu. Jiyeon duduk menghadap lukisan yang hampir setengah jadi itu lalu mengambil cat warnanya untuk dioleskan ke kanvas tersebut, melanjutkan lukisannya.

Dengan tatapan mata yang sayu Jiyeon menggerakkan kuasnya di atas kanvas sambil memikirkan seseorang yang kini tengah ia lukis. Siapa lagi jika bukan L, oppanya sekaligus namja yang ia cintai hingga saat ini dan sepertinya sampai kapanpun.

Ia teringat saat-saat bahagia bersama dengan oppanya. Saat mereka naik sepeda bersama menuju sekolah, saat mereka berselisih pendapat hingga bertengkar hanya karena hal yang sepele, juga saat dimana mereka bisa jadi sangat kompak memberi kejutan ulang tahun pernikahan untuk appa dan eomma mereka.

Mengingat saat-saat itu membuat Jiyeon tak pelak menitikkan air matanya. Ia sadar, ia tak pernah bisa menyerah untuk menemukan kembali oppanya.

“L-oppa, nan bogoshippoyo” gumamnya pelan sambil terus menatap lukisan setengah jadinya dimana di lukisan tersebut tampak siluet seorang namja yang memeluk tubuh seorang yeoja.

Entah mengapa tiba-tiba ia teringat kejadian saat di kampus tadi siang, dimana ia melihat seorang namja yang sepertinya juga melihat ke arahnya. Ia yakin namja yang ia lihat sama dengan namja yang ada di bukit tadi.

“It’s him? Nugu?” gumam Jiyeon.

Keesokan harinya Minho menjemput Jiyeon untuk pergi ke kampus bersama. Ia melihat wajah yeoja itu keluar dengan wajah datarnya.

“Bagaimana tidurmu semalam?” tanya Minho seolah tahu apa yang terjadi pada Jiyeon ketika yeoja itu sudah berada di dalam mobilnya.

“Cukup nyenyak” bohong Jiyeon tapi tentu saja Minho tak percaya karena melihat kantung mata Jiyeon.

“Geurrae kau yakin tak membutuhkan psikiater untuk menghilangkan insomniamu itu” ucap Minho yang tentu saja hanya sebuah candaan.

Jiyeon tak membalas ucapan Minho melainkan menatap keluar jendela dan memandang jalanan yang tengah ia lewati.

“Minho oppa….mungkinkah aku bisa menemukannya?” tanya Jiyeon dan Minho tahu arah pembicaraan ini.

“Jika kau percaya pada hatimu, mungkin saja” jawab Minho tersenyum kecil.

“Aku….hanya tak tahu harus memulai darimana” ucap Jiyeon dengan tatapan menerawang.

“Biarkan hatimu yang akan menuntunmu…kelak kau pasti bisa menemukannya” ucap Minho tulus.

“Gomawo Minho oppa”

Jiyeon terus memandang keluar melalui kaca mobil, mengamati setiap orang dan bangunan yang ia lewati hingga tanpa sengaja matanya menangkap bayangan sepasang pelajar yang berboncengan naik sepeda. Lagi-lagi ia teringat saat-saat dimana dulu Myungsoo, oppanya selalu memboncengnya pergi ke sekolah.

‘L-oppa, neo eodiga?’ tanya Jiyeon dalam hati.

“Jiyeon-ah, kau ada waktu malam ini?” tanya Minho menyadarkan lamunan Jiyeon.

“Ne…wae?” Jiyeon menatap ke arahku Minho.

“Seorang teman lama mengundang kita untuk makan malam”

“Nuguya?”

“Kau akan tahu nanti” ucap Minho membuat Jiyeon penuh tanda tanya.

“Aiiisshhh…oppa selalu saja membuatku penasaran” cibir Jiyeon yang ditanggapi senyuman manis Minho.

Di lain tempat, Myungsoo tengah mencari letak ruang kelas mata kuliah yang akan ia ikuti hari ini. Tanpa sengaja ia bertemu lagi dengan Yoseob yang saat itu bersama dengan chingunya.

“Myungsoo-ah” panggil Yoseob.

Myungsoo segera menghampiri namja imut itu.

“Sepertinya kau sedang kebingungan, kau mencari apa?” tanya Yoseob.

“Aku hanya tak tahu dimana letak ruang seni” jawab Myungsoo.

“Ah…ruang seni. Kau hanya perlu lurus saja lalu belok kiri” Yoseob memberitahu Myungsoo letak kelas yang dicarinya.

“Gomawo Yoseob-ah”

“Myungsoo-ah, kenalkan ini chinguku, Park Sanghyun, kau bisa memanggilnya Thunder” Yoseob memperkenalkan chingunya pada Myungsoo.

Myungsoo dan namja itu tampak bersalaman. Myungsoo ingat kemarin namja inilah yang memanggil Yoseob saat mereka pertama kali berkenalan.

“Park Sanghyun imnida”

“Lee Myungsoo imnida”

“Myungsoo?! Namamu mengingatkanku pada seseorang” ujar Sanghyun yang langsung membuat Myungsoo mengernyitkan keningnya. Pasalnya, kemarin Yoseob pun mengatakan hal yang sama. “Mungkin hanya kebetulan. Lagipula yang memiliki nama Myungsoo tak hanya satu bukan” lanjut Sanghyun.

“Ne…mungkin saja” ucap Myungsoo sambil tersenyum tapi entah kenapa senyum itu seolah-olah terlihat sangat terpaksa.

Hatinya seolah menolak jika itu suatu kebetulan. Meski mereka baru saja berkenalan tapi tak tahu mengapa Myungsoo merasa sudah sangat akrab dan familiar dengan kedua namja di depannya ini.

“Jika boleh aku tahu, Myungsoo yang kalian maksud, nugu?” Myungsoo memberanikan diri bertanya pada kedua namja itu, tak tahu mengapa ia jadi merasa penasaran.

“Dia…sahabat kami” jawab Yoseob.

“Lalu, dimana dia?” tanya Myungsoo.

“Ia menghilang tiga tahun yang lalu” jawab Sanghyun.

“Menghilang?!”

“Ne, yang kami tahu dia menjadi salah satu korban kecelakaan tapi anehnya ia tak ditemukan di lokasi kejadian” cerita Yoseob.

“Banyak yang mengatakan ia tak mungkin selamat dan bisa jadi ia telah meninggal tapi bagi kami, ia masih hidup hanya saja kami tak tahu ia ada dimana saat ini” sambung Sanghyun.

Myungsoo yang mendengar penuturan Yoseob dan juga Sanghyun merasa tersentuh. Dia memang tak mengenal siapa Myungsoo yang mereka maksud tapi sepertinya ia orang yang beruntung karena memiliki chingu yang begitu baik.

Mendadak terdengar suara ponsel berbunyi dari arah Sanghyun dan namja itu pun segera mengangkatnya.

“Yobosseyo”

“……………….”

“Kami menunggumu. Hal apa yang ingin kau bicarakan?”

“……………….”

“Kantin? Ne…kami akan kesana”

“………………”

Klik

“Minho?” tanya Yoseob begitu Sanghyun mematikan sambungan teleponnya.

“Ne, dia ingin kita menemuinya di kantin setelah dia mengantar Jiyeon” jawab Sanghyun sambil memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.

“Dia tak pernah berubah sejak dulu. Selalu saja mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri” ujar Yoseob.

“Kau benar. Sejak Myungsoo menghilang, ia bersikap seolah-olah menjadi seorang kakak bagi Jiyeon. Jelas-jelas ia mencintai Jiyeon tapi malah menyembunyikan perasaannya sendiri” sahut Sanghyun menyetujui ucapan Yoseob.

Mendengar nama Minho dan Jiyeon disebut dalam percakapan Yoseob dan Sanghyun, membuat Myungsoo kembali teringat sesuatu. Nama-nama itu benar-benar tak asing untuknya.

“Myungsoo-ah” panggil Yoseob menyadarkan lamunan Myungsoo.

“Ne?”

“Mian kami harus pergi dulu. Lain kali kita berbincang lagi ne” ucap Yoseob yang bersiap pergi dengan Sanghyun.

“Ne gwaenchana”

Bersamaan dengan kepergian Yoseob serta Sanghyun, Myungsoo melanjutkan menuju kelasnya.

Suasana kelas yang baru saja dimasuki Myungsoo sudah mulai penuh. Hal yang wajar mengingat waktu kuliah sebentar lagi dimulai. Myungsoo mencari bangku yang masih kosong dan beruntung ada satu bangku kosong di barisan tengah, tepat disamping seorang yeoja yang tengah serius dengan bukunya.

“Untunglah belum terlambat” gumam Myungsoo pelan begitu duduk dibangkunya sambil mengamati sekelilingnya sampai akhirnya pandangannya jatuh tepat pada yeoja yang duduk disampingnya.

Yeoja itu tampak serius dengan bukunya atau lebih tepatnya menulis sesuatu entah apa itu. Wajah yeoja itu tak terlihat jelas karena tertutupi oleh rambut panjangnya. Karena merasa dirinya orang baru, Myungsoo bermaksud memperkenalkan diri pada yeoja itu.

“Chogiyo” panggil Myungsoo.

Yeoja itu tak menyahut, sepertinya ia tak menyadari jika yang disapa Myungsoo adalah dirinya.

“Annyeong….nan Lee Myungsoo imnida. Aku mahasiswa baru disini” ucap Myungsoo memperkenalkan dirinya tanpa disuruh seraya menjulurkan tangannya tepat di depan yeoja itu.

Yeoja itu menghentikan aktivitasnya kemudian perlahan menoleh ke arah Myungsoo dengan tatapan dingin dan wajah yang datar.

“Neo….kau juga mahasiswa disini? Pantas saja sepertinya aku pernah melihatmu, rupanya kau yeoja yang kulihat waktu itu” cerocos Myungsoo tanpa memperdulikan tatapan dingin yeoja itu yang tak lain adalah Jiyeon.

“Oh ne siapa namamu?” tanya Myungsoo namun belum dijawab oleh Jiyeon seorang dosen sudah memasuki kelas. Mau tak mau semua mahasiswa fokus pada dosen yang akan memberikan materi.

“Annyeong” sapa sang dosen.

“Annyeong Prof. Han” balas para mahasiswa di kelas tersebut.

“Kudengar ada mahasiswa baru di kelas ini, bisa kalian berdiri dan perkenalkan nama kalian” suruh Prof. Han.

Merasa yang dimaksudkan oleh dosen tersebut adalah dirinya, Myungsoo pun berdiri. Namun, ia cukup terkejut karena yeoja disampingnya pun ikut berdiri.

‘Jadi dia juga anak baru’ batin Myungsoo.

“Kalian berdua…siapa nama kalian?” tanya Prof. Han.

“Nan Lee Myungsoo imnida. Saya baru saja pindah dari Jepang” ujar Myungsoo memperkenalkan diri.

“Lalu kau?” tanya Prof. Han pada yeoja disamping Myungsoo.

“Nan….Park Jiyeon imnida” jawab yeoja itu singkat.

Mendengar nama yeoja itu, membuat Myungsoo tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok yang berdiri disampingnya.

“Geurrae kalian duduklah. Mari kita lanjutkan materi mata kuliah kita” ujar Prof. Han mempersilahkan Myungsoo dan Jiyeon kembali duduk.

‘Park Jiyeon…jadi itu namanya?’ tanya Myungsoo dalam hati sambil terus memandangi Jiyeon seraya menyunggingnya senyum penuh arti.

Minho, Yoseob dan Sanghyun duduk di salah satu meja kantin. Ketiganya tampak saling berbincang seru.

“Mwo? Jinjja? Kapan dia kembali?” tanya Yoseob heboh.

“Dia kembali hari ini karena itu dia memintaku untuk memberitahu kalian. Dia bilang ingin menyampaikan berita bahagia tapi tak memberitahuku apa itu” jawab Minho.

“Aisssh…dia itu sok misterius sekali” cibir Sanghyun.

Minho tertawa mendengar ucapan Sanghyun, “Malam ini dia mengundang kita di Severely cafe” ucap Minho.

“Arasso” sahut Yoseob dan Sanghyun bersamaan.

Tak terasa satu jam sudah Myungsoo dan Jiyeon berkutat dengan mata kuliah yang diberikan oleh Prof. Han. Bahkan di hari pertama mereka mengikuti kuliah, keduanya dijadikan satu kelompok untuk tugas membuat lirik lagu beserta aransemennya.

Myungsoo yang sejak awal memiliki ketertarikan khusus sejak pertama kali melihat Jiyeon tentu saja merasa beruntung tapi sepertinya tidak untuk Jiyeon yang terkesan bersikap acuh padanya.

Semenjak Jiyeon keluar dari ruang kelas, Myungsoo terus saja mengikuti yeoja itu. Merasa terganggu oleh sikap Myungsoo, Jiyeon menghentikan langkahnya dan menatap sebal namja itu.

“Yaaa bisakah kau tak mengikutiku, eoh” ucap Jiyeon kesal.

“Bukankah Prof. Han menyuruh kita untuk mengerjakan tugas kelompok” ujar Myungsoo.

“Apa harus hari ini, lagipula masih ada waktu dua minggu lagi” tanya Jiyeon.

“Lebih cepat lebih baik, bukan begitu Jiyeon-ssi” jawab Myungsoo diplomatis.

“Aku tak ada waktu hari ini. Kita bagi tugas saja, aku yang membuat liriknya dan kau yang mengaransemen. Dalam dua atau tiga hari akan kuserahkan liriknya padamu, otthe”

“Aku tak setuju, bukankah ini tugas kelompok kenapa kita bekerja sendiri-sendiri. Jika kau memang tak ingin bekerja sama denganku, katakan langsung pada Prof. Han” ucap Myungsoo yang kebetulan saat itu tak jauh dari tempat mereka berdiri Prof. Han berjalan ke arah mereka.

“Geurrae….keundae aku tetap tidak bisa hari ini” sahut Jiyeon cepat.

“Arra….beritahu aku nomor ponselmu, akan kuhubungi kau waktu dan tempatnya besok” Myungsoo menyodorkan ponselnya ke Jiyeon.

Dengan cepat Jiyeon mengambil ponsel Myungsoo kemudian mengetikkan beberapa digit angka nomor ponselnya.

“Aku harap setelah ini kau berhenti mengikutiku, Myungsoo-ssi” ucap Jiyeon kemudian pergi meninggalkan Myungsoo sembari mengembalikan ponsel namja itu.

“Park Jiyeon….siapa kau sebenarnya?” gumam Myungsoo yang masih terus memandangi punggung yeoja itu hingga menghilang dari pandangannya.

Night – Severely cafe

“Minho oppa, siapa yang mengundang kita kesini?” tanya Jiyeon yang malam itu menggunakan pakaian resmi, gaun warna cokelat muda dengan ikat pinggang cokelat tua.

“Kau akan tahu setelah ini. Kajja, Yoseob dan Sanghyun pasti sudah datang” jawab Minho seraya menggandeng tangan Jiyeon agar yeoja itu mengikutinya.

“Apa mereka bersama Krystal dan Jieun?” tanya Jiyeon lagi.

“Sepertinya mereka mengajaknya” jawab Minho.

Jiyeon tersenyum senang, pasalnya ia akan bertemu dengan kedua chingunya, Krystal dan Jieun meski tak lengkap tanpa kehadiran Sulli yang kini berada di Canada mengikuti orang tuanya.

Minho mengajak Jiyeon menghampiri salah satu meja  besar yang sudah dipesan khusus oleh seseorang. Benar saja disana sudah ada Sanghyun, Yoseob, Krystal dan Jieun.

“Jiyeon-ah” “Jiyeonnie” seru Krystal dan Jieun begitu melihat kehadiran Jiyeon.

Mereka berdua segera beranjak dari tempat duduk mereka kemudian berlari menuju Jiyeon. Mereka langsung memeluk Jiyeon, membuat Minho harus melepaskan genggaman tangannya ke Jiyeon.

“Nan bogoshippoyo, chingu-ah” ucap Jiyeon ditengah pelukan erat kedua chingunya.

“Nappeun yeoja, kapan kau kembali? Kenapa tak memberi kabar pada kami?” omel Krystal pura-pura marah pada Jiyeon begitu melepaskan pelukannya.

“Kami mengkhawatirkanmu Jiyeonnie. Kami senang akhirnya kau kembali” ujar Jieun yang lebih terus terang.

Jiyeon tersenyum bahagia bisa bertemu lagi dengan kedua sahabat baiknya. Mereka berdua tak berubah sama sekali. Masih Krystal yang sedikit manja, kekanakan serta protective terhadap namjachingunya, Sanghyun. Dan juga Jieun yang terlihat polos dan lugu namun dewasa dalam pemikiran ternyata ia malah menjadi yeojachingu Yoseob, namja yang sedikit childish namun sangat adorable menurut Jiyeon.

“Kalian tau siapa yang mengundang kita kesini?” tanya Jiyeon pada kedua chingunya.

“Tentu saja kami tau” sahut Krystal dan Jieun bersamaan.

“Nugu?” tanya Jiyeon penasaran.

Belum sempat Krystal maupun Jieun menjawab pertanyaan Jiyeon, terdengar suara seseorang yang menyapa mereka semua.

“Annyeong chingu-ah” sapa seseorang yang sontak membuat semua menoleh padanya.

“Eonnie…” Jiyeon seolah tak percaya dengan siapa yang ia lihat sekarang.

“Long time no see Jiyeon-ah” ucap orang tersebut menyapa Jiyeon dengan senyum manis khasnya.

“Eunji eonnie…..jadi kau yang mengundang kami?” akhirnya rasa penasaran Jiyeon terjawab sudah saat Eunji mengangguk menjawab pertanyaan Jiyeon.

Eunji menyuruh keenam orang tersebut untuk duduk. Dia tak sendiri melainkan bersama seorang namja.

“Mian aku tiba-tiba meminta kalian untuk datang kemari melalui Minho. Gomawo Minho-ah” ucap Eunji membuka pembicaraan.

“Sebenarnya ada apa kau mengundang kami kesini Eunji-ah?” tanya Minho.

“Aku sengaja mengundang kalian kesini untuk mengenalkan seseorang pada kalian sekaligus membagi kebahagiaan dengan kalian” ujar Eunji.

Semua yang hadir disana tampak menunggu kabar yang akan dibawa Eunji.

“Kenalkan, namja disampingku ini Seo In Guk. Dia calon tunanganku” ujar Eunji yang dirasa cukup mengejutkan.

“Omooo…jadi kau tiba-tiba kembali dan mengundang kita semua hanya untuk mengatakan ini semua? Daebaaakkk” ujar Yoseob.

Kata-kata Yoseob ini langsung mengundang tawa Eunji yang tentu saja membuat yang lainnya merasa heran.

“Hahaha…tentu saja bukan hanya itu. Seobbie-ah kau ini tak bisa diajak bercanda sama sekali. Aku mengundang kalian kesini tentu saja karena aku merindukan kalian. Aku ingin kita bisa berkumpul lagi seperti dulu” ujar Eunji. “Tapi soal yang tadi memang benar. Dalam waktu dekat kami akan bertunangan” lanjut Eunji seraya tersenyum pada namjachingunya.

Mereka semua tertawa mendengar ucapa Eunji tak terkecuali Jiyeon. Ia memandang satu persatu semua orang yang ada disana. Meski suasana disana cukup ramai, bertemu teman-teman lama merupakan suatu kebahagiaan tapi jauh di lubuk hati Jiyeon, ia merasa ada sesuatu yang kurang, karena itu perlahan-lahan senyumnya sedikit memudar. Tak ada yang menyadari hal tersebut kecuali satu orang, Minho.

Ya, Minho tau Jiyeon pasti memikirkan tentang L. Bagaimanapun L juga adalah bagian dari mereka sebelum ia dinyatakan hilang.

“Melihat kita semua berkumpul disini, aku jadi merindukan saat-saat sekolah dulu. Rasanya ada yang kurang lengkap tanpa ada L disini” ucap Sanghyun yang langsung membuat semua membisu.

Cukup lama mereka terdiam. Masing-masing sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Mereka semua merasakan hal yang sama yaitu kehilangan teman mereka, sahabat mereka dan juga orang yang dicintai.

“Semuanya aku permisi ke toilet” ucap Jiyeon pamit. Ia merasa tak sanggup jika terus berlama-lama di situasi seperti itu.

Baru beberapa langkah Jiyeon meninggalkan meja, yeoja itu menabrak seseorang karena tak fokus sampai terdengar suara benda yang terjatuh dan pecah.

PRRAAAANNGGG

Tak ayal suara tersebut mengundang perhatian banyak pengunjung tak terkecuali Eunji dan yang lainnya. Mereka melihat Jiyeon menunduk meminta maaf pada seseorang.

“Mianhae jeongmal mianhae” ucap Jiyeon penuh penyesalan.

“Gwaenchana. Kau tak apa-apa Jiyeon-ssi?”

Beruntung orang tersebut tak marah pada Jiyeon tapi anehnya orang tersebut bisa tahu nama Jiyeon. Begitu Jiyeon mendongak melihat siapa orang yang ia tabrak tadi, ia sangat terkejut.

“Neo?! Kau disini? Kau mengikutiku?” tanya Jiyeon menyelidik pada orang yang ia tabrak barusan.

“Ne?”

“Bukankah sudah kubilang jangan mengikutiku” ujar Jiyeon kesal.

“Mwo? Omo…Jiyeon-ssi sepertinya kau salah paham. Aku sama sekali tak mengikutimu. Apa kauntak lihat pakaianku berbeda dengan tadi” sahut orang itu santai.

“Lalu kenapa kau bisa ada disini, Myungsoo-ssi?” Jiyeon seolah meminta penjelasan mengenai kehadiran namja itu.

“Apa aku tak boleh ada disini, Jiyeon-ssi? Bukankah ini tempat umum” ujar Myungsoo memberikan penyangkalan.

“Myungsoo? Kau Lee Myungsoo?” tiba-tiba terdengar suara namja yang menghampiri mereka.

“Ne? Nuguya?” tanya Myungsoo merasa tak kenal dengan namja itu.

“Ini aku, In Guk. Kau lupa padaku? Bukankah dulu kita pernah satu kamar saat kau dirawat dulu. Kau ingat?” namja yang ternyata namjachingu Eunji itu mencoba mengingatkan.

Myungsoo memandangi dengan seksama namja di depannya lalu menggeleng pelan.

“Mian…aku sama sekali tak ingat” ucap Myungsoo.

“Kau benar-benar tak mengingatku?” tanya In Guk lagi dan Myungsoo tetap menggeleng.

“Kurasa aku harus segera pergi. Annyeong” pamit Myungsoo pada Jiyeon dan juga In Guk kemudian menghampiri appa dan dongsaengnya yang duduk tak jauh dari sana.

In Guk juga kembali ke tempatnya begitu pun Jiyeon yang sepertinya kehilangan mood untuk ke toilet. Sesampainya di tempat duduk, keduanya langsung diinterogasi.

“Kau mengenal namja tadi?” tanya Minho pada Jiyeon.

“In Guk oppa, kau mengenalnya?” tanya Eunji pada namjachingunya.

“Belum sempat mereka menjawab, Yoseob langsung menyahut.

“Bukankah yang tadi itu Myungsoo” sahut Yoseob.

“Ne…kebetulan sekali bertemu dia disini” sahut Sanghyun menimpali.

“Myungsoo? Namja itu?” tanya Minho meyakinkan pendengarannya.

“Ne, yang kutahu namanya Lee Myungsoo. Aku bertemu dengannya sekitar tiga tahun yang lalu di rumah sakit saat aku mengalami patah tulang kaki, kebetulan kami berada di satu ruangan yang sama” ujar In Guk menjelaskan bagaimana ia bisa mengenal Myungsoo membuat semua menoleh padanya.

“Kukira ia tak bisa diselamatkan lagi karena kudengar dokter sudah menyerah pada penyakitnya tapi tak kusangka ternyata ia masih hidup sampai detik ini. Tapi anehnya dia sama sekali tak mengenaliku padahal dulu kami begitu akrab” lanjut In Guk.

“Memangnya dia sakit apa, oppa?” tanya Eunji.

“Waktu itu yang kudengar dari uisa, ia menderita leukimia stadium akhir” jawab In Guk.

“Jeongmal? Apakah itu suatu keajaiban Myungsoo bisa hidup dan sembuh dari penyakit berbahaya tersebut?” Yoseob dengan wajah takjub.

“Mungkin saja begitu karena terakhir kali aku melihatnya, dia dibawa ke ruang gawat darurat karena kondisinya sedang kritis” sahut In Guk.

“Lalu kau, Jiyeon-ah. Darimana kau mengenalnya?” tanya Krystal dengan tatapan curiga.

“Aku baru masuk ke Universitas Seoul pagi ini. Siapa sangka aku satu kelas dengannya dan menjadi satu kelompok untuk tugas musik” jawab Jiyeon jujur.

“Lalu, kenapa kau tadi sepertinya kesal dengannya?’ kali ini Jieun yang bertanya.

“Karena dia terus mengikutiku di kampus tadi siang….”

“Dan kau berpikir dia mengikutimu sampai kesini” tebak Krystal tepat sasaran membuat Jiyeon sedikit merasa malu karena telah berpikir yang bukan-bukan.

“A-aniyo” elak Jiyeon menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah.

Minho yang memperhatikan ekspresi Jiyeon, entah mengapa timbul perasaan aneh yang tak bisa ia jabarkan.

Di meja yang tak jauh dari Jiyeon dan yang lainnya, Myungsoo duduk bersama appa dan dongsaengnya, Yura. Tatapan mata Myungsoo tak bisa lepas dari sosok Jiyeon yang tengah tertawa bersama chingu-chingunya termasuk namja yang mengaku mengenalnya tadi. Ia juga melihat Yoseob dan Sanghyun juga ada disana.

Melihat keakraban mereka semua membuat Myungsoo merasakan kerinduan yang teramat sangat. Di Jepang, ia memang memiliki banyak teman tapi tak ada yang benar-benar ia anggap sebagai sahabatnya namun saat melihat Jiyeon dan yang lainnya, perasaan Myungsoo merasakan sebuah kehangatan yang tak bisa ia jelaskan.

“Oppa, kau lihat apa?” tanya Yura yang menyadari oppanya tak fokus pada makanannya.

Myungsoo menggeleng dan tersenyum sekilas.

Yura yang tak percaya begitu saja dengan alasan oppanya, mengikuti arah pandang oppanya itu. Yeoja itu melihat sekumpulan namja dan yeoja tampak berbincang seru sambil tertawa.

“Oppa mengenal mereka? Apa mereka teman oppa?” tanya Yura lagi.

“Ne? Anhi…oppa hanya mengenal sebagian saja tadi di kampus” jawab Myungsoo pura-pura melanjutkan makannya.

“Kau tak ingin menghampiri mereka?” kali ini Seung Gi yang menanyai Myungsoo.

“Anhi” jawab Myungsoo singkat.

“Appa…apa kau kenal seseorang yang bernama In Guk?” tanya Myungsoo.

Seung Gi yang tadinya menikmati makan malamnya tiba-tiba menghentikan aktivitasnya. Ia tampak sedikit terkejut tapi kemudian ia berusaha menguasai sikapnya agar Myungsoo terutama Yura agar tak curiga.

“In Guk? Molla, appa tak begitu ingat” jawab Seung Gi.

“In Guk? Seo In Guk oppa?” seru Yura yang terlihat antusias.

“Ne? Kau mengenalnya?” Myungsoo bertanya pada Yura tanpa tau jika saat ini Seung Gi tengah berharap-harap cemas.

“Tentu saja. Bagaimana bisa aku lupa pada In Guk oppa, dia kan teman sekamar oppa waktu dirawat di rumah sakit dulu. Ia yang selalu menemaniku bermain ketika oppa melakukan ke….”

“Yura-ah, cepat habiskan makananmu. Sudah malam, bukankah besok kau harus sekolah” belum sempat Yura menyelesaikan ucapannya, Seung Gi memotongnya.

Yura pada dasarnya anak yang penurut sehingga ia mematuhi perkataan appanya tanpa melanjutkan ceritanya lagi. Sedangkan Myungsoo yang memang merasa penasaran tentu saja tak puas dengan cerita Yura yang terputus begitu saja. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya oleh appanya tapi ia tak tahu apa itu.

TBC

Password untuk part selanjutnya : Nama sahabat Jiyeon yang ke Canada ?

42 responses to “Lost of Memory ( 15 0f ? )

  1. thor bikin myung cepet inget lagi donk,, dan cepet jga bikin jiyeon sadar klo myungsoo udh ada d dekat’y skrg,,,

    lanjut baca dllu nee ^^

  2. aigooo gemes deh bacanya eonni kekeke
    myungsoo wajahnya brubah andwaeee….
    >.<
    aigooo eonni critnya daebak lanjut baca dulu ne eonni kekekeke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s