Branch (Chapter 1)

FF Branch

Tittle : Branch

Author : brownpills >> before: Haraya (@firdhaya)

Main Cast :

  • Suzy Miss-A
  • Minho SHINee
  • L Infinite (Kim Myungsoo)
  • Jiyeon T- Ara

Additional Cast :

  • Eunji A-Pink
  • Krystal F(x)
  • Zelo B.A.P
  • Sulli F(X)
  • etc.

Lenght :  Chaptered

Genre : Romance, Schoollife, Friendship

Rating : PG-14

A/N : Pure of my mind. Cast belongs to Allah, their agency, their family, etc. Kutipan adalah HAL PENTING dalam alur cerita. So, you must read it! Semoga kalian menikmati cerita ini :)\

ALL Point of View is Bae Suzy at this Chapter (Chapter 1)

.

.

Sedari tadi hanya degub jantungku yang dapat kurasakan. Bersinanggungan dengan ekspresi yang ku lukiskan di wajahku.

Sementara aku sibuk mengatur detak jantungku, seisi kelas mengatur posisi duduk mereka masing-masing.

Seorang wanita dibalut sepasang kemeja hitam lengkap dengan rok selututnya, berdiri di depan kelas seraya melemparkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang cukup besar ini.

“Sekarang, deretan ini yang pindah!” titahnya diikuti gerakanku yang beranjak dari kursi awalku.

Segera mungkin aku masukan tempat alat tulisku yang tadi sempat dikeluarkan. Kuselempangkan tasku dan indera penglihatanku mulai bekerja.

“Aku dimana?” pertanyaan itu muncul begitu saja.

“Belakang sendiri, Zy!” sahut temanku, Eunji.

Bodoh! Seharusnya aku tidak perlu bertanya. Karena nyatanya aku sudah tau hanya tersisa satu bangku kosong disana.

-Dimana aku mendapat bangku di antara kedua pria yang bisa dibilang cukup populer.-

Sedikit menundukan kepala, aku mendekati bangku yang terletak paling belakang. Ku kaitkan tasku dan mulai mendudukan diri. Sebelumnya aku sempat melirik pria yang berjejer di kanan dan kiriku.

Pemikiran pesimis melintas di dalam kepalaku. Kugelengkan kepalaku mencoba memfokuskan diri pada Guru Shin yang tengah berbincang bahwa dirinyalah yang diutus menjadi wali kelas 3-7 –kelasku-.

“Ssstt! Akan menjadi seru.”

Samar-samar aku menangkap satu bisikan yang membuat kepalaku tertoleh ke kanan.

Seorang pria dengan tatanan rambut hitam yang rapi sedang menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyum simpul yang cukup menarik.

Dia adalah Ketua OSIS, Kim Myungsoo. Karena itu pakaian seragamnya berbeda dengan siswa kebanyakan yang sering mengeluarkan kemeja ataupun tidak mengenakan jas sekolah.

“Kau benar,” sahut suara berat seseorang.

Kualihkan pandangannku ke sisi lain. Kini kudapati pria berkulit cokelat tengah menarik salah satu sudut bibirnya, memberikan kesan gentle dalam raut wajahnya.

Lain dengan Kim Myungsoo, pria ini hanya memakai kemeja putih dengan dasinya. Itupun sedikit berantakan. Patut dengan gaya rambutnya. Choi Minho, begitulah namanya.

Mereka saling melemparkan pandangan yang menakutkan membuat air liurku sulit untuk membasahi kerongkonganku.

Tuhan! Keluarkan aku dari tengah-tengah mereka!!!

—o0o—

Semilir udara sejuk musim gugur menerpa tubuhku yang sudah terbalut seragam sekolah. Langkah kakiku terkesan lambat layaknya siput. Tiba-tiba saja semangat belajarku memudar pergi terbawa angin.

Raut wajahku menampikan kedataran. Helaan nafasku terdengar begitu aku tiba di ambang pintu kelas.

Masing-masing dari temanku sibuk pada aktivitasnya sendiri. Dan aku bisa menebak, mereka pasti sedang mengerjakan tugas sekolah.

“Suzy, pinjam tugas fisikamu,” sambut Jiyeon datar.

Sebelum meraih buku tugasku, aku meletakan tasku terlebih dahulu.

“Ini,” kataku sambil mengulurkan buku bersampulkan warna cokelat kepada Jiyeon.

Gomawo,” sahut Jiyeon memamerkan senyum manisnya.

Udara yang melalui celah jendela kelasku tak bisa menarik perhatianku. Terasa malas dan hanya menguap. Kuputuskan untuk membaca novel yang sempat kubeli kemarin.

Baru saja aku membuka halaman pertama, seorang pria muncul tepat di hadapanku. Aku baru tau bahwa ia adalah Minho ketika aku mengangkat kepalaku.

Mwoya?” tanyaku enggan.

Ia tidak menjawab pertanyaanku. Ia justru mendekatkan wajahnya padaku dan berkata, “Ajari aku soal nomor empat.”

Tepat disaat itu bel masuk sekolah menggema di seluruh ruangan, membuat teman-temanku terlonjak kaget dan segera duduk pada tempatnya.

“Suzy!”

Meski sebatas bisikan aku dapat mendengarnya. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Jiyeon melambai-lambaikan bukuku.

“Cepat lempar,” bisikku kemudian.

Untungnya gerak reflekku bisa dibilang bagus. Aku menangkap bukuku dan segera menghadap ke depan.

Seorang pria paruh baya dengan kemejanya yang rapi sudah siap berdiri di depan kelas.

“Pagi, anak-anak!”

“Pagi, shir!”

“Berhubung saya ada keperluan mendadak, kalian kerjakan saja paket halaman 140. Nanti dikumpulkan. Ketua kelas tolong jaga kelasnya,” perintah Guru Kim yang kuyakini disambut ceria oleh teman-temanku.

“Baik, shir!” sahut Myungsoo yang berada di sebelah kiriku. Ah iya, aku baru ingat selain menjadi Ketua Musical Club, Myungsoo juga diangkat menjadi Ketua Kelas.

Begitu Guru Kim angkat kaki dari ruang kelas, masing-masing dari temanku sudah membentuk kelompoknya sendiri. Untuk para gadis dipastikan menggosip. Sementara pria bermain bola, gitar, dan sebagainya. Sisanya menggodai siswi perempuan.

Dan aku… yahh disinilah aku. Duduk sendiri ditemani sebuah novel romance yang sejujurnya malas ku baca.

Alih-alih aku mendapati Minho tengah menggeledah tas milik Myungsoo.

Ya! Apa yang kau lakukan?” tanyaku entah mengapa tidak lebih dari sebuah bisikan.

“Sssstt,” bisik Minho.

Rupanya Minho menyembunyikan pulpen milik Myungsoo. Itu salah satu resiko karena tidak ada kerjaan. Sementara Myungsoo sendiri sedang bermain gitar di bangku paling belakang.

“Kau gila,” gumamku sembari memandangi Minho yang hanya nyengir kuda dan kembali duduk di tempatnya.

Namun tidak dapat ditolak bahwa hal itu sedikit membuatku ingin tertawa renyah.

Terlebih ketika Myungsoo menganduk-aduk tasnya dan mulai merasa bahwa sesuatu dari miliknya menghilang.

Ya! Kau mencuri penaku lagi!” bentak Myungsoo yang dipastikan tertuju pada Minho.

Mwoya?” sahut Minho enteng.

Acting-mu rendah. Kembalikan saja penaku, babo!”

“Hahahaha!”

-Hingga ledakan tawaku pecah, mengundang dua pasang bola mata elang pada kedua sisiku. Bisa dipastikan mereka memberikan kesan pertama bahwa aku, gadis aneh yang tiba-tiba terbahak-bahak-

Akhirnya tidak bisa dihindari tatapan tanda tanya besar yang mereka lemparkan padaku.

Aku berdehem sejenak menetralkan suasana.

“Minho, kembalikan saja,” ucapku mengalihkan padangan mereka yang membuatku risih.

Namun Minho masih memandangiku intens.

“Cepat kembalikan,” umpatku.

Padahal Myungsoo sudah mengalihkan pandangannya. Tapi Minho, pria ini benar-benar──

“Kembalikan, atau─”

“Mengapa menjadi kau yang marah?” ujar Minho.

Aku mengatupkan mulutku seraya menampilkan wajah yang terkesan polos.

“Bukankah ini milik Myungsoo.”

Aku merantuki kebodohanku. Sudah dua poin aku kehilangan kepintaranku di hadapannya.

Tanpa memedulikan responku, Minho melemparkan pena itu pada Myungsoo yang menangkapnya dengan baik.

“Kau lucu,” ungkap Minho sembari tertawa. “Benar tidak, Myungsoo?”

Dapat kudengar tawa mereka berdua pecah menggema dalam gendang telingaku yang mulai memanas. Aku memandang secara bergantian mereka berdua yang masih menertawakan hal yang menurutku tidaklah lucu.

Namun boleh kuakui, mereka memiliki senyum yang menawan. Aku mulai bisa ikut tertawa bersama mereka.

-Namun itulah tawaan pertama kami-

—o0o—

Suara bel menggema di seluruh penjuru gedung besar itu. Membuat manusia yang berada di dalamnya bersorak riuh dan segera menghambur keluar.

“Ji-ya! Ayo pulang!” ajak Eunji di ambang pintu kelas.

Sementara aku masih mengemasi barangku. Seulum senyuman terbentuk di bibir marunku seraya aku menggelengkan kepala pelan.

Wae? Kau mau menginap disini?” celetuk Jiyeon yang tiba-tiba sudah berada di belakangku.

Aniya,” sahutku diselingi cengiran.

Sejenak Jiyeon mengamatiku dengan ekspresi khasnya. Sejujurnya disaat seperti itu Jiyeon terlihat cantik. Lebih cantik lagi saat ia memamerkan senyum manisnya. Tidak heran ia populer di lingkungan sekolahku.

“Baiklah. Kalau begitu aku, Krystal, dan Eunji pulang terlebih dahulu.”

“Mm.”

“Kau jaga dirimu.”

Ne~~~”

Setelah melambaikan tangan kepada ketiga temanku yang sudah berada di luar, Aku membalikan badan. Tubuhku terlonjak kaget saat melihat keberadaan sosok lain selain diriku di dalam kelas.

“Minho,” gumamku pelan.

Ragu-ragu aku menghampiri pria yang tengah sibuk berkutat dengan lembar kertas di atas mejanya.

“Kau sedang apa?” tanyaku begitu sudah berada di dekatnya.

“Anak kecil pasti tau aku sedang apa.”

Aku mendengus pelan mendengar jawaban dari Minho. Pria ini terlihat cuek, seolah disini hanya ada dia dengan kuas dan kertas gambarnya.

“Kau masih disini?”

Pertanyaanya berhasil membuyarkan lamunanku.

“Memangnya tidak boleh,” sahutku sedikit ketus.

Sepertinya ia tidak memedulikan sahutanku yang itu. Karena perhatiannya tersimpan penuh pada kertas gambar yang sudah memiliki sebagian coretan yang tak pasti ku ketahui.

“Kau suka melukis?” tanyaku sekedar basa-basi.

“Mm.”

“Sejak kapan?”

“Kecil.”

Keheningan kembali menyelubungi kami berdua. Aku tidak mengenalnya dan dia tidak mengenalku. Kelas inilah yang mempertemukan kami.

“Eo! Salju!” seruku yang kuyakini membuatnya beralih dan menaikan alisnya.

“Lukisanmu bertema musim dingin bukan?” tanyaku mulai tertarik dan kebosananku sedikit memudar begitu mengamati lukisan buatannya.

Bahkan aku sendiri tidak sadar kini aku sudah duduk di sampingnya dan mengambil alih lukisan itu dari tangannya.

“Wah,” kagumku tak henti-hentinya menatap lukisan itu.

“Itu belum selesai.”

Aku meletakan lukisannya dan menatapnya dengan mata berbinar-binar.

“Tapi ini sangat bagus─”

“─Jalan ini tertutupi salju. Pohon tanpa daun yang digantikan oleh salju. Lalu gemerlap salju ini─”

“─Omo! Kau memusatkan seluruhnya pada salju,” ujarku panjang lebar kembali menatap karya tangan buatannya.

“Tapi ─” aku sengaja menggantungkan kalimatku.

“─ ada yang kurang disini.”

Meski aku tidak mengalihkan perhatianku pada sosok Minho, tapi aku yakin Minho tengah mengerutkan dahinya menunggu jawabanku.

“Tidakkah kau berniat menempatkan seorang gadis dalam lukisanmu?”

Mwo?”

Aku sendiri tidak mengerti untuk apa aku bertanya seperti itu.

“Akan lebih indah jika ada seorang gadis yang berdiri di bawah pohon ini,” usulku sembari menunjuk lukisannya.

Sebenarnya aku merantuki kelancanganku padanya saat aku sadar bahwa aku begitu dekat dengannya. Namun untunglah aku bisa menutupi kesalah tingkahanku. Lagipula untuk apa aku salah tingkah.

“Mmm…”

Gumamannya membuat kepalaku tertoleh padanya. Terlihat sepasang matanya yang menunjukan bahwa ia sedang berpikir dan aku memandangnya untuk menunggu jawaban.

“Kelak saat salju pertama turun, aku akan melukis gadis yang aku cintai.”

Degub jantungku serasa berhenti berdetak. Hanya bunyi angin yang mengisi celah di antara kami. Jawabannya memaksa otakku untuk bekerja.

Merasa puas dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan, ia menyunggingkan senyuman padaku. Senyuman pertama yang kulihat darinya dan membuat tubuhku serasa melayang di angkasa.

Aku mengedipkan mataku berkali-kali mencoba mengusir perasaan resah yang tiba-tiba menyergapiku.

“Mengapa kau tidak menggambar musim gugur saja?” tanyaku mengalihkannya agar ia tak menangkap semburat merah di pipiku.

“Musim gugur?”

“Iya! Bulan ini sedang musim gugur. Bukankah biasanya seorang pelukis itu mengambil objek yang nyata dengan kondisi di sekitarnya.”

Tak kuduga dia berani menoyor dahiku dengan jari telunjuknya, membuatku mengusap pelan dahiku.

“Lebih cantik musim dingin,” jawabnya.

Kuberanikan menyipitkan mataku untuk menatap kedua bola matanya.

“Kau menyukai musim dingin?” tanyaku kembali penuh semangat. “Aku juga! Meski terasa dingin, tapi membuat hatiku sejuk.”

Terdengar suara renyah darinya ketika ia memamerkan sederetan gignya yang tertata rapi.

“Mwoya?” tanyaku melihatnya yang tersenyum lebar.

“Kau lucu.”

Sudah dua kali kalimat itu terucap dari bibirnya. Aku menekuk bibirku dan memandangnya dengan lirikan pedas. Namun ia tak mengindahnya. Karena kini ia masih tetap tertawa sembari sesekali memegang perutnya.

—o0o—

“Baru pulang?” sambut ibuku ketika aku mengendap-endap hendak menaiki tangga rumahku.

“Tentu,” sahutku kembali meneruskan langkah.

“Suzy.”

Kira-kira lima anak tangga yang baru kunaiki, aku menghentikan langkahku.

“Kau tidak tau ini jam berapa?”

Aku tak bergeming, dan aku tak berniat membuka mulutku.

“Jam enam lewat limas belas menit malam hari,” ujarnya terkesan datar.

“Istirahatlah, besok ibu akan menjemputmu jam dua belas siang.”

Setelah itu tidak terdengar suaranya lagi. Itu berarti ia sudah tidak ada di bawahku. Sembari menghembuskan nafas aku melangkahkan kakiku.

Pintu berderik terdengar saat kubuka pintu kamarku, lalu menutupnya. Kusandarkan tubuhku pada pintu kayu itu. Semuanya terasa berat untuk dipikul. Seakan hanya aku saja yang menanggungnya disini.

Perlahan ku katupkan kedua mataku berharap jika kubuka kembali mataku aku sudah kembali disaat umurku masih empat belas tahun.

Tidak terasa hampir empat tahun aku menjalani hidup yang berantakan alurnya. Menempati rumahnya yang terasa seperti sangkar yang mengurung burungnya sendiri. Pahit manis kurasakan disini.

Kembali… aku ingin kembali pada musim dingin empat tahun yang lalu.

—o0o—

Ya! Dimana pensilku!” bentakku sembari beranjak berdiri dengan kasar.

“Mungkin terjatuh,” jawab Krystal dengan mulut yang penuh dengan cemilan.

“Cari saja nanti juga ketemu,” ujar Eunji yang duduk di hadapan Krystal.

Aku mendecakan lidah. Segera kuambil langkah untuk mengitari ruang kelasku. Ataupun aku berjongkok untuk mengeceknya.

Emosiku mulai memuncak. Tidak ada hasil apapun yang kutemukan. Kemudian firasatku kini tertuju pada pria yang duduk di sebelahku.

Ya, kau tau dimana pensilku?”

Dia menggeleng pelan. Namun kemampuan actingnya yang buruk tidak bisa menipu gadis pintar sepertiku.

“Cepat berikan saja. Aku butuh pensilku untuk mengerjakan soal matematika.”

“Kerjakan dulu milikku.”

Mwo?

“Kau gadis pintar bukan? Kerjakan tugas matematikaku,” ujarnya manja sembari menyodorkan buku miliknya.

Aku tersenyum kecut melihat responnya, “Bilang saja kau bodoh dalam bidang studi matematika.”

Mwo?” kini giliran ia yang terlihat tidak terima.

“40, 50, 55. Tidak adakah nilai lebih dari itu?” tantangku. Sepertinya keadaan mulai berbalik.

Ya! Kau mengajakku bertengkar.”

Aniy,” aku bahkan tidak sedikitpun takut darinya. “Aku hanya ingin kau disiplin dalam mengerjakan tugasmu sendiri Choi Minho.”

Mungkin ia kini ingin segera melayangkan pukulannya atau apa aku tidak tau, yang penting hal itu dapat menyiksaku. Tapi nyatanya kini ia menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan.

Mwmwoya?” tanyaku terdengar ragu.

Air liurku bahkan sulit untuk kutelan. Pancaran mata itu membekukanku di tempat. Menghipnotisku dari segala hal yang ada.

Memang akhir-akhir ini ia sering melemparkan pandangan seperti itu padaku. Namun setelah itu aku pasti akan membuang muka. Jika sekarang aku membuang muka, harga diriku akan disimpan dimana. Rasa gengsiku terlalu besar untuk melakukannya.

Ya! Chingudeul! Minho naksir Suzy!”

“Ciieee,,”

“MinZy! Wkwkwk.”

-Serbuan mulut yang selalu berhasil menumbuhkan semburat merah di pipiku-

Kutundukan kepalaku ketika semua temanku menyadari tingkah laku Minho padaku.

Aniya! Aniya!” sanggahku berusaha menyembunyikan warna pipiku yang merona. Sementara Minho sendiri hanya terdiam di tempat, mungkin ia menyesali perbuatannya.

Ini bukan yang pertama kalinya atau yang kedua kalinya. Seluruh temanku termasuk Krystal dan Eunji bersorak riuh begitu mereka mendapati aku dan Minho dengan jarak yang dekat.

“Suzy! Wajahmu terlihat merah!” seru Kai, salah satu siswa yang masuk dalam kategori jail di kelasku.

“Hahaha! Kau terlihat seperti ikan yang dijemur!” celetuk Chanyeol disambut sorak riuh yang makin menggema.

Aku merantuki diriku sendiri. Tidak mungkin bagiku untuk mengalahkan serbuan mulut yang mereka lemparkan padaku.

“Sulli-ah!

Semua temanku reflek berhenti bersorak ramai ketika Minho menyerukan nama itu.

Aku sendiri mengangkat kepalaku. Kini kudapati sesosok gadis dengan rambut hitamnya yang tergerai tengah digenggam lengannya oleh Minho.

“Sulli-ah, kemarilah,” ajak Minho pada gadis yang bernama Sulli itu.

“Aku ingin mengenalkannya padamu.”

Aku mengerutkan dahi. Sementara hatiku mulai tidak tenang.

“Sulli, ini Bae Suzy, temanku yang pintar,” ujar Minho lalu beralih padaku, “Dan Suzy,”

“Ini Choi Sulli── kekasihku.”

To be continued~~~~~

31 responses to “Branch (Chapter 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s