I JUST WANNA GIVE YOU A CHILD [Chap.5-END]

I JUST WANNA GIVE YOU A CHILD-MYUNGZYYEON

Author: Anditia Nurul / @AnditiaNurul

Judul: I Just Wanna Give You A Child–Remake Ver. [Chap.5-END]

Rating : PG-13

Genre  : Marriage-Life, Drama, Angst, Romance

Main Characters: (Infinite) L / Myungsoo, (Miss A) Suzy & (T-Ara) Jiyeon

Additional Characters: (Actor) Kim Soohyun, (2AM) Jinwoon, (OC) Kim Hyesun & others

Length: Multichapters/ Chaptered

Disclaimer: Ini adalah sebuah cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama/tempat/tokoh/adegan dengan FF lain, hal itu tidak disengaja. Inspirated By Hello Band – 2 Cincin MV, but the plot is mine. Artist character(s) belong to God, himself/herself/themselves, his/her/their parents and his/her/their agency. OCs are mine! Versi asli dari FF ini, aku pake cast Ryeowook & OCs. Dan, untuk versi kali ini, aku membuat sedikit revisi, tapi jalan ceritanya masih sama dengan versi aslinya dengan perbaikan tata bahasa di sana-sini

Warning: FF ini sudah aku edit, tapi… mungkin masih ada typo(s) yang nyempil… ehehe. Terus, ada beberapa karakter yang OOC. Mohon maaf jika alurnya tidak jelas dan ceritanya membosankan. KLEENEX WARNING!

Previous: Prolog | 1 | 2 | 3 | 4 |

HAPPY READING \(^O^)/

@@@@@

-Jiyeon’s POV-

Suzy-ya!

Satu nama itu terlintas di pikiranku begitu aku sadar. Kejadian yang terjadi beberapa saat lalu terasa begitu cepat. Suzy tengah menyeberang jalan, namun ia tidak melihat mobil yang melaju kencang ke arahnya. Aku hendak menariknya ke posisi yang aman, tapi aku gagal. Aku ikut tersambar oleh mobil yang menabrak Suzy.

Entah bagaimana keadaan Suzy sekarang, tapi aku berharap kondisinya tidak buruk.

“Akh!” Aku meringis pelan ketika ketika tiba-tiba kurasakan sakit yang teramat sangat di perutku.

Di tengah-tengah rasa sakit yang menyerang, aku menyadari aku berada di dalam sebuah mobil. Entah aku berada di dalam mobil siapa sekarang. Aku tidak tahu. Yang aku tahu hanyalah perutku yang terasa sakit sekali. Air mataku meleleh membasahi wajahku, tidak kuat menahan rasa sakit itu.

Tuhan, aku mohon jangan sampai terjadi apa-apa pada bayi di dalam kandunganku ini.

“Pesankan aku tiket ke Macau hari ini juga. Aku dan Jiyeon akan berangkat ke Macau hari ini.”

“….”

“Ne! Sekarang! Aku dalam perjalanan ke bandara! Cepat sebelum Jiyeon sadar!”

Aku terkejut begitu mendengar suara Jinwoon. Aku yang terbaring di jok belakang berusaha untuk melihat siapa yang mengemudikan mobil. Setidaknya untuk memastikan, apakah pendengaranku salah atau benar. Dalam posisi setengah duduk—kedua sikuku kujadikan tumpuan untuk menopang badanku, aku melihat wajah si pengemudi melalui spion tengah.

“Ji-Jinwoon-ah?” gumamku terkejut saat aku melihat wajah. Omo! Jadi, aku tidak salah dengar, eoh? Jinwoon ingin membawaku ke Macau?! Sirheo!

Mendengar namanya kusebut, Jinwoon melihat ke arahku—juga melalui kaca spion tengah. “Jiyeon-ah?” gumamnya, masih menyetir mobil.

“Hhh… hentikan… hhh… hentikan mobilmu, Jinwoon-ah~” perintahku dengan nafas yang tersengal karena menahan sakit. Sedetik kemudian, kurebahkan tubuhku perlahan karena kedua sikuku sudah tidak kuat menahan posisiku yang setengah duduk.

“Tidak, Jiyeon-ah! Aku akan membawamu ke Macau hari ini juga!” Bisa kurasakan Jinwoon menaikkan kecepatan mobilnya.

Aku menggeleng. “Sirheo… hhh…, Jinwoon-ah. Aku… hhh… aku sudah… hhh… aku sudah bilang… hhh… tidak akan ikut denganmu… hhh… ke… hhh… Macau.”

Mianhae, Jiyeon-ah. Tapi, ini aku lakukan untuk kebaikanmu juga. Kau dan aku akan hidup bahagia di sana, ara!?”

Kuatur nafasku yang tersengal. Konsentrasiku terbagi antara ucapan-ucapan Jinwoon dengan rasa sakit yang semakin terasa. Keringat telah membasahi tubuh dan wajahku. Berada di dalam situasi seperti ini sungguh membuatku merasa kesulitan.

“AAAKKKH!” Aku berteriak kesakitan. Kontraksi di perutku semakin menjadi. Tangan kananku meremas sisi jok sementara tangan kiriku meremas pakaianku. Lalu perlahan, kurasakan ada cairan yang mengalir di antara kedua pahaku.

Andwae!

Andwae!

Aku tidak mau melahirkan dalam kondisi seperti ini. Aku belum siap. Aku belum siap.

“Kau kenapa, Jiyeon-ah?” tanya Jinwoon. Dari nada suaranya, aku tahu ia panik.

“Hhh… Jinwoon-ah, hhh… bawa aku ke rumah sakit… hhh… sekarang!” ucapku susah payah.

Mwoya? Andwae! Aku tidak akan melepaskanmu kali ini, Park Jiyeon!” tegasnya.

“Aku… hhh… aku mohon, Jinwoon-ah.”

Jinwoon masih bersikeras tidak ingin membawaku ke rumah sakit. “Sirheo. Kau pikir aku bodoh, eoh? Kau akan kabur begitu aku membawamu ke rumah sakit, kan!?”

Seandainya aku punya tenaga lebih, ingin rasanya aku menampar wajah Jinwoon. Bisa-bisanya ia berpikir seperti itu. “Jinwoon-ah…, hhh… aku… aku akan… akan segera melahirkan… hhh…. Cepat bawa… hhh… aku ke rumah sakit… hhh.”

Sirheo, Jiyeon-ah. Sirheo!”

Aku menangis sejadinya. Tidak kuat menelan kenyataan bahwa kemungkinan besar aku akan melahirkan anakku di mobil ini karena Jinwoon bersikeras membawaku ke Macau.

“Aku… hhh… aku mohon, Jinwoon-ah~” pintaku dengan suara memelas sambil terisak. “Aku… hhh… aku mohon… antarkan aku… hhh… ke rumah sakit.”

Jinwoon tidak bersuara. Dia sepertinya tidak peduli akan keadaanku sekarang. Yang ada di pikirannya hanyalah membawaku ke Macau. Aku menelan ludah. Tidak ada cara lain. Hanya ini satu-satunya cara yang bisa aku lakukan agar Jinwoon mau membawaku ke rumah sakit.

“Hhh… baiklah… Jinwoon-ah. Baiklah… hhh. Aku… hhh… aku akan ikut denganmu… hhh… ke Macau.”

Ya, satu-satunya cara adalah dengan meyakinkan Jinwoon bahwa aku akan ikut bersamanya pergi ke Macau.

“Kau tidak sedang membohongiku, kan!?”

“Demi Tuhan, Jinwoon-ah!” ucapku. “Hhh… aku akan ikut dengamu… hhh… asalkan kau… hhh… membawaku ke… hhh… rumah sakit. Setidaknya… hhh… biarkan… hhh… aku melahirkan… hhh… bayi ini… dan… hhh… menitipkannya pada… hhh… pada… Myungsoo Oppa dan… hhh… Suzy.”

Jinwoon terdiam.

“Jinwoon-ah, jebal… hhh.”

“Tapi—”

Jebal~”

“Baiklah~”

Jinwoon akhirnya mengalah. Ia lantas memutar balik mobilnya, melajukannya lebih kencang dari sebelumnya. Dalam keadaan seperti ini, aku hanya bisa menahan rasa sakit sambil berdoa agar bayi di dalam perutku baik-baik saja.

-End Of Jiyeon’s POV-

@@@@@

-Myungsoo’s POV-

Suzy kecelakaan!

Itu yang dikatakan Soohyun saat ia menghubungiku menggunakan HP Suzy. Pria itu menyuruhku bergegas ke Seoul Hospital karena keadaan Suzy yang gawat. Seberapa gawat itu, aku tidak tahu. Yang pasti, aku berharap kalau Suzy akan baik-baik saja.

Begitu keluar dari taksi, aku berlari memasuki bangunan Seoul Hospital. Terlihat seperti orang kebingungan, aku berjalan tergesa sambil merapatkan HP-ku di telinga kiri, mencoba menghubungi Soohyun.

“Suzy berada di ruang UGD. Kau dimana, eoh!?” tanya Soohyun dengan nada tinggi.

“Aku sudah tiba di rumah sakit.”

“Cepatlah ke sini!”

Ruang UGD. Ruang UGD. Ruang UGD. Dua kata itu tersangkut di pikiranku. Membuatku semakin tergesa untuk mencari dimana letak ruangan itu. Aku berjalan menyusuri lorong demi lorong di rumah sakit, sesekali berlari.

“AAAKKHH!”

Suara teriakan seorang wanita terdengar bersamaan dengan suara roda brangkar yang beradu dengan lantai di belakangku.

“Tolong beri jalan,” ucap seorang suster padaku.

Aku berhenti sejenak, menepikan diriku untuk membiarkan pasien gawat darurat itu melintas di sebelahku.

“SAKIIITTT!!!”

Nafasku seolah berhenti untuk beberapa detik ketika kulihat wajah pasien yang berada di atas brankar, didorong dengan cepat oleh beberapa suster dan seorang pria yang tidak asing di mataku. Brankar itu berbelok ke sebelah kiri, lalu menghilang dari pandanganku.

“Ji-Jiyeon-ah?” gumamku tak percaya.

Aigoo! Apa lagi yang terjadi sekarang? Apa yang terjadi pada Jiyeon?

Aku masih terdiam di tempatku berpijak. Kudongakkan kepalaku untuk membaca tulisan yang tertera di papan petunjuk yang digantung di tengah pertigaan lorong. Di sebelah kanan adalah jalan menuju ruang UGD, sementara jalan di sebelah kiri adalah jalan menuju ruang bersalin.

Omo! Aku harus ke arah mana?

Suzy. Jiyeon. Kenapa keduanya harus gawat di saat yang bersamaan?

….

….

….

Mianhae, Suzy-ya.

Aku berbelok ke arah kiri, berjalan sekitar beberapa meter, lalu berhenti di depan sebuah pintu yang di bagian atasnya terdapat sepotong papan berwarna hitam dengan tulisan ‘Kamar Bersalin’ berwarna putih di permukaannya.

Hal pertama yang aku lihat saat masuk ke ruangan tersebut adalah sebuah pintu yang di depannya terdapat kertas putih yang ditempel. Di permukaan kertas tersebut terdapat sebaris tulisan ‘Batas Keluarga Pasien’. Terdengar suara Jiyeon yang menjerit kesakitan di dalam.

Tidak lama, kuliahkan pandanganku kepada sesosok pria yang duduk di bangku panjang. Menundukkan kepalanya, menghadap ke lantai. Sepersekian detik kemudian, pria itu menegakkan lehernya.

“JUNG JINWOON?” seruku terkejut.

Kenapa pria ini bisa berada di sini?

Dan, kenapa dia bisa bersama Jiyeon, eoh?

“Kim Myungsoo~” gumamnya saat melihatku.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku heran. Ya, tentu saja aku tahu pria ini. Belum sempat ia menjawab, aku bertanya lagi, “Kenapa kau bisa bersama Jiyeon?”

Pria itu mengalihkan pandangannya dariku sejenak, lantas kembali menatapku. “Ceritanya panjang.”

Aku mengernyitkan dahiku. “Lalu, bagaimana keadaan Jiyeon? Apa yang terjadi padanya, eoh?”

“Jiyeon,” gumam pria itu lirih, “Jiyeon harus segera melahirkan.”

MWOYA?

“Tteonajima doraseojima
Idaero bonael su eobseo
Ireon nal dugo oh oh gandago oh oh
Beoseonal su eobseo cause you are my destiny
Nal dugo doraseojima
Bitgyeogajima pihaegajima you are my destiny”

 

Aku mendengar HP-ku berdering. Seketika aku merogoh saku kemejaku, melihat tulisan yang tertera di layarnya: Nae Jagiya. Suzy! Maksudku… pasti Soohyun yang menelepon. Ah, orang ini pasti mencariku.

Aku menghela nafas, lalu berlari keluar dari ruangan tersebut. Bergegas menuju ruangan UGD, tempat Suzy berada.

“YA! KAU MAU KEMANA?”

Aku masih bisa mendengar teriakan Jinwoon saat aku keluar dari ruangan tersebut. Aku berbelok memasuki ruang tunggu pasien UGD, mendapati Soohyun berdiri sambil menyandarkan punggungnya di dinding. Tampak cemas sekali.

“Soohyun-ah, bagaimana keadaan, Suzy?” tanyaku menghampirinya.

Pria yang tubuhnya dibalut kemeja hijau yang lengannya digulung sebatas siku itu menatapku beberapa saat, sepersekian detik kemudian—

“BUKH!”

Satu pukulan keras itu nyaris membuatku terjatuh ke lantai. Beruntung, aku masih bisa menahan tubuhku.

“KAU DARI MANA SAJA, EOH!? KENAPA LAMA SEKALI?” bentaknya. Bisa kulihat kilatan emosi di kedua sorot matanya.

Aku terdiam. Aku tidak berniat membalas karena… ya, aku memang pantas mendapatkan ini. Anggap sebagai hukuman karena aku mengabaikan Suzy untuk beberapa menit.

Kutatap pria itu. Terlihat ia masih menatapku tajam sembari mengatur nafasnya yang tersengal. Tidak lama, ia berucap, “Suzy dalam keadaan kritis,” desisnya.

Mwo-mwoya?

Suzy kritis?

“Bagaimana ini bisa terjadi?” gumamku.

“Suzy ingin menyeberang jalan, tapi dia tidak melihat mobil yang melaju kencang ke arahnya. Seorang wanita hamil mencoba menyelamatkannya, tapi dia tidak berhasil,” kata Seohyun membuatku tersentak.

“Apa maksudmu?” tanyaku, menatapnya bingung.

“Begitu yang diceritakan seseorang yang melihat kejadian ditabraknya Suzy. Suzy dan seorang wanita hamil itu keluar dari Giant Café, lalu mereka pergi ke taman yang berada di dekat situ. Mungkin karena lupa sesuatu, Suzy ingin kembali ke Giant Café dan… ya, terjadilah kecelakaan itu.”

“Seorang wanita hamil? Maksudmu, Jiyeon!?” gumamku bingung.

“Mungkin.”

“Lalu, bagaimana kau bisa menemukan Suzy dan berada di sini?”

“Aku sudah berada di rumah sakit ini untuk menjenguk temanku. Saat aku mau pulang, kulihat Suzy didorong dengan brankar ambulans. Begitu kutanya seorang suster yang bersamanya di ambulans, Suzy korban kecelakaan. Karena itu aku menemaninya sampai dia masuk ke ruang UGD.”

Perlahan, aku berjalan mundur hingga tubuhku bersandar di dinding. Hari ini adalah hari terburuk dalam hidupku. Bagaimana bisa dua orang yang aku sayangi berada dalam situasi gawat seperti ini? Jiyeon akan melahirkan dan Suzy kritis.

Kurasakan kakiku melemah, tidak sanggup lagi menopang tubuhku. Aku jatuh terduduk di lantai. Kedua kejadian ini begitu membuatku terpukul. Membuatku kepalaku terasa ingin pecah.

Astaga.

“Tteonajima doraseojima
Idaero bonael su eobseo
Ireon nal dugo oh oh gandago oh oh
Beoseonal su eobseo cause you are my destiny
Nal dugo doraseojima
Bitgyeogajima pihaegajima you are my destiny”

Nada dering HP-ku menggema di dalam ruang tunggu. Terburu-buru aku merogoh saku kemejaku sekali lagi, mendapati nama Jiyeon tertera di layarnya yang menyala-nyala.

Yo-Yoboseyo?”

“Kau dimana, eoh? Jiyeon sebentar lagi melahirkan!” bentak Jinwoon. “Cepat ke sini!” desaknya, lalu memutuskan panggilan.

Aku menghela nafas sambil memejamkan mataku sejenak. Cepat aku berdiri, lalu berlari keluar dari ruang tunggu kamar UGD. Dan, sekali lagi aku mendengar kalimat ‘KAU-MAU-KEMANA?’.

Aku kembali ke ruang bersalin. Jinwoon memberiku jubah, masker dan penutup rambut. Katanya, Jiyeon akan memulai persalinan.

“AAAKKKH!” Suara erangan itu terdengar ketika aku memasuki ruang persalinan. Kulihat Jiyeon terbaring di atas tempat tidur, menjerit kesakitan. Seorang dokter dan beberapa suster tampak membantunya.

“Ayo, ibu, terus dorong,” kata dokter tersebut.

Kulangkahkan kakiku menghampiri Jiyeon.

“Hhh… oppa… hhh… apa yang… hhh… kau lakukan… hhh… di sini… hhh!?” gumam Jiyeon saat melihatku berdiri di sebelah tempat tidurnya. Nafasnya tersengal dan keringat membasahi dahinya.

“Tentu saja menemanimu,” jawabku. “Ayo, Jiyeon-ah. Kau bisa. Dorong terus bayimu~” ucapku. Jiyeon menggenggam tangan kananku, lalu mengerang sekali lagi.

“EEKKHH! EEEKHHH! HHHH~”

Sesekali Jiyeon berhenti untuk mengambil nafas, lalu mengerang lagi. Sesekali ia meremas tanganku, membuatku kesakitan.

“Hhh… ba… hhh… bagaimana… hhh… bagaimana… hhh… keadaan… hhh… Suzy?” tanya Jiyeon di sela-sela proses persalinannya. “Dia… hhh… kecelakaan… hhh. Kau… hhh… sudah… hhh… tau… khaaan…?”

Ne, aku tahu. Kau jangan memikirkan yang lain dulu, Jiyeon-ah. Yang penting sekarang adalah kau harus melahirkan bayimu.”

“Tapi… EEEEKH… hhh… tapi Suzy… EEEENGGHH… Suzy kecelakaan… EEEEEKH!”

“Suzy akan baik-baik saja. Dokter sedang menanganinya juga di rumah sakit ini,” kataku.

“Tapi… hhh… dia… kecelakaan… hhh. Dia… EEEENGGHH… pasti… EEEENGGHH… kritis… hhh. Dia… hhh… EEEENGGHH… lebih… EEEENGGHH… membutuhkanmu… hhh… EEEENGGHH… sekarang.”

“Tapi, kau juga mem—”

“Hhh… EEEENGGHH… aku… hhh… EEEENGGHH… aku bisa… EEEENGGHH… sendiri,” kata Jiyeon. Keringat di dahinya semakin banyak, bahkan mengalir sampai ke lehenya. Bisa kulihat ia juga menangis.

“Tunggu… EEEENGGHH… tunggu apa… hhh… EEEENGGHH… lagi!?” ucap Jiyeon. “Temui… hhh… EEEENGGHH… Suzy!”

Aku terdiam beberapa saat, menatap wajah wanita yang tengah berjuang mengeluarkan bayi dari rahimnya. “Aku akan segera kembali, Jiyeon-ah,” ucapku, lantas berlari keluar dari ruangan menuju ruang UGD. Masih lengkap dengan jubah, masker dan juga penutup kepala.

Setibanya di ruangan UGD, aku tidak melihat Soohyun lagi. Begitu kutanyakan pada suster mengenai keadaan pasien wanita korban kecelakaan, ia bilang, pasien tersebut—Suzy—telah dipindahkan ke ruang ICU, kamar 1.

Dari ruang UGD, aku berlari ke ruang ICU—yang arahnya telah diberitahukan oleh suster. Beruntung, letak ruang ICU tidak begitu jauh dari UGD dan tentu saja tidak jauh dari ruang bersalin.

Aku tiba di depan pintu ruang ICU, kamar 1. Lekas aku membuka pintunya, lalu masuk ke dalam. Kuhampiri Suzy yang terbaring di atas tempat tidur, lengkap dengan peralatan medis yang terpasang di tubuhnya. Kondisi tubuhnya terlihat sangat lemah. Tapi, ia telah sadarkan diri.

“Kau dari mana saja, eoh!? Suzy dari tadi mencarimu!” bentak Soohyun.

Mianhae, Jagiya. Mianhae~” ucapku dengan suara gemetaran sembari menggenggam erat tangan Suzy yang terasa dingin.

Yeobo~ hhh…, Ji… hhh… Jiyeon mana hhh…? Dia… hhh… ada di sini… hhh… kan?”

Kueratkan genggaman tanganku. “Ne, Jagiya. Jiyeon di sini. Dia sedang melahirkan.”

“Hhh… melahirkhaan… hhh?”

Mwoya?” Soohyun pun ikut terkejut mendengarnya. “Jadi, barusan kau—” Ia tidak melanjutkan ucapannya. Seolah mengerti keadaan ditambah aku sedang mengenakan pakaian seperti ini—jubah, masker dan penutup kepala.

“Hhh… lalu… hhh… lalu apa… hhh… yang kau lakukan… hhh… di sini… hhh?” tanya Suzy dengan nafasnya yang tersengal. Aku sungguh takut melihat kondisinya yang seperti ini. Dia terlihat seperti—TIDAK! TIDAK! KAU TIDAK BOLEH BERPIKIRAN SEPERTI ITU, KIM MYUNGSOO!

“Menemanimu. Tentu saja aku di sini untuk menemanimu,” jawabku. Kurasakan air mata meleleh di pipi kiriku.

Wanita itu tersenyum. Tepatnya berusaha tersenyum. “Ja… hhh… jangan menangis…, eoh… hhh!? Aku… hhh… aku tidak suka… hhh… melihat kau… hhh… bersedih seperti… hhh… itu… hhh.”

Seketika aku menyeka air mataku. “Aku tidak menangis, Jagiya. Aku tidak menangis. Hanya kelilipan,” kilahku.

Untuk kedua kalinya ia tersenyum. Tahu aku sedang berbohong agar tidak membuatnya cemas. Tapi, sepersekian detik kemudian, gantian dia yang mengeluarkan air mata. “Oppa… hhh…,” panggilnya.

Ne?”

Suzy menelan liurnya susah payah. “Aku… hhh… aku minta maaf. Aku… hhh… aku minta maaf karena… hhh… telah banyak menyusahkanmu… hhh. Maaf… hhh… maaf karena… hhh… aku memaksamu… hhh… menikahi Jiyeon… hhh. Aku melakukan… hhh… aku melakukan itu… hhh… karena ingin… hhh… melihatmu… hhh… bahagia. Aku… hhh… aku ingin melihatmu… hhh… menjadi seorang… hhh… appa.”

Kuseka air mata yang membasahi wajah cantik Suzy. “Aniya. Kau tidak perlu minta maaf, Suzy-ya,” kataku.

“Hhh… aku… hhh… banyak melakukan… hhh… kesalahan… hhh. Aku… hhh… aku bukan… hhh… istri yang baik… hhh.”

Aku tidak bisa membendung air mataku. Seketika cairan itu mengalir dari kedua mataku. Kuangkat sedikit tangan kanannya yang kugenggam. Kucium punggung tangannya berkali-kali, lantas berkata, “Aniya, Suzy-ya. Kau istri yang baik. Kau melakukan tugasmu dengan sangat baik.”

Oppa…,” panggil Suzy lagi.

Ne? Ada apa, Suzy?”

“Jiyeon… hhh,” gumamnya. “Kau… hhh… kau harus pergi… hhh… melihat keadaan… hhh… Jiyeon. Dia… hhh… pasti membutuhkanmu… hhh.”

“Tapi, aku—”

“Pergi… hhh…, Oppa. Aku… hhh… akan… menunggumu… hhh~”

“Suzy-ya~”

“Jiyeon… hhh… sedang… hhh… berjuang… hhh… untuk… hhh… melahirkan anakmu… hhh, Oppa. Hhh… kau… hhh… harus menemaninya… hhh~”

Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Keadaan Suzy terlihat sangat parah. Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi… dia terlihat seperti orang yang sebentar lagi akan kembali ke sisi-Mu. Tapi, Jiyeon. Jiyeon juga sedang melahirkan. Aku tahu melahirkan itu bukan hal yang mudah. Tidak sedikit wanita yang… yang juga kembali ke sisi-Mu karena hal itu.

Ya Tuhan, aku harus bagaimana sekarang?

Oppa… hhh… pergi… hhh… sekarang. Kau… hhh… tidak usah… cemas. Hhh… di sini… hhh… ada Soohyun… Oppa… hhh~” Aku menatap Suzy sejenak, kemudian mengangguk. Aku pun berlari keluar dari ruangannya menuju ruang bersalin.

-End Of Myungsoo’s POV-

@@@@@

Meanwhile…

-Jiyeon’s POV-

“EEENGHH!!!” Aku menjerit tertahan sambil terus mendorong bayiku keluar. Kedua tanganku meremas keras sisi tempat tidur. Peluh dan air mataku bercampur. Aku bahkan tidak bisa membedakannya lagi.

“Ayo, Nyonya. Sedikit lagi,” kata dokter.

“Hhh… hhh…  EEENGHH!!! EEENGHH!!!”

“Terus, Nyonya.”

“EEENGHH!!! Hhh… hhh… hhh… EEENGHH!!!”

Entah sudah berapa lama waktu terlewat semenjak aku memulai proses persalinan ini. Aku merasa waktu berputar begitu lambat. Sebisa mungkin aku terus mengejan dan mengejan agar bayiku cepat keluar, namun… entahlah, sepertinya doronganku tidak begitu kuat. Sejujurnya, aku belum siap untuk melahirkan.

“Ayo, Nyonya. Sedikit lagi.” Dokter mengingatkanku untuk terus mengejan.

“EEENGHH!!! Hhh… hhh… hhh… EEENGHH!!! SAKIIIIT!!!” teriakku sambil menangis. Aku memang sering mendengar cerita dari teman-teman bahwa melahirkan itu bukan hal yang mudah. Sangat sakit.

“Ayo, Nyonya.”

“EEENGHH!!! Hhh… hhh… hhh… EEENGHH!!!”

“Tarik nafas, Nyonya.” Aku menarik nafas. “Dorong.”

“EEEEENGHHH!!!”

“Ayo, Nyonya. Sedikit lagi.”

Aku merasa sudah tidak sanggup lagi. Tenagaku sudah tidak ada. Bahkan untuk menarik nafas panjang pun, aku kesusahan. Kupejamkan mataku untuk sejenak. Sungguh aku sangat kelelahan. Seperti ingin mati saja.

“Jiyeon-ah, ayo jagi, kau bisa.”

Suara Myungsoo Oppa?

Kubuka kedua mataku dan kudapati sosok Myungsoo Oppa berdiri di sebelah tempat tidur. Ia menatap kedua mataku sambil menggenggam erat tanganku. Entah sejak kapan dia berada di ruangan ini.

“Kenapa berhenti, Jiyeon-ah? Kau tidak mau bertemu dengan bayimu, eoh? Bayi kita?” tanyanya.

Aku terdiam. Mengetahui Myungsoo Oppa berada di sini seolah memberikan suntikan tenaga padaku.

“Ayo, Nyonya. Sedikit lagi bayi Anda lahir.”

Ne.”

Aku terus mengerang dan mengerang sekuat tenagaku. Myungsoo Oppa yang berada di dekatku tidak berhenti mengucapkan kata-kata untuk menyemangatiku. Ya, aku harus melahirkan bayi ini. Aku melahirkan bayiku dan Myungsoo Oppa.

Oppa… hhh,” panggilku.

Ne, Jiyeon-ah? Ada apa?”

“Hhh… kalau… hhh… EEENGHH… kalau bayi ini lahir… hhh… aku ingin… hhh… kau dan Suzy… EEENGHH… hhh… merawatnya… hhh… EEENGHH.”

“Apa maksudmu? Kau tidak mau merawat bayimu, eoh!? Kita bertiga yang akan merawat bayimu.” Suara Myungsoo Oppa terdengar heran. Mianhae Oppa, tapi aku… aku sudah berjanji pada Jinwoon. Lagipula, kau hanya menginginkan bayi ini, kan!?

“Hhh… EEENGHH… hhh… aniya, Oppa. Hhh… aku… EEENGHH… hhh… aku akan pergi… hhh… jauh… EEENGHH!!!”

“Apa yang kau katakan, Jiyeon-ah. Jangan bicara macam-macam! Aku mohon jangan bicara lagi. Kau harus konsentrasi pada persalinanmu,” katanya.

Kuhiraukan ucapannya. “Hhh… oppa… EEENGHH, hhh… maukah kau… hhh… EEENGHH… satu kali saja… hhh… EEENGHH… memanggilku… hhh… EEENGHH… dengan sebutan… EEENGHH… jagiya… EEENGHH?! Aku… hhh… ingin mendengarnya… hhh… EEENGHH… sekali saja… EEENGHH!!!”

Ne, selama aku menjadi istrinya, Myungsoo Oppa selalu memanggilku dengan namaku. Dia tidak pernah satu kalipun memanggilku dengan kata jagiya, yeobo, atau panggilan manis lainnya. Dia… dia hanya mengucapkan kata itu untuk Suzy.

“Ayo, jagiya. Kau harus kuat. Kau harus kuat demi bayimu. Bayi kita.”

“Hhh… EEENGHH… gomawo, Oppa~”

Ne, walaupun hanya satu kali seumur hidupku, aku ingin mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Myungsoo Oppa. Myungsoo Oppa yang berstatus sebagai suamiku, bukan namjachingu-ku.

“Ayo, Jagiya.”

“Sedikit lagi, Nyonya.”

Aku mengejan sekuat tenagaku. “EEEEENGHHH!!!”

“Oeee… oeee… oeeee….”

Aku mendengar suara tangisan itu.

“Kau berhasil, Jiyeon-ah. Anak kita sudah la—” Belum sempat aku mendengar ucapan Myungsoo Oppa sampai tuntas, tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

-End Of Jiyeon’s POV-

-Suzy’s POV-

“Suzy-ya, uljimayo~” ucap Soohyun Oppa yang masih berada di dalam ruanganku. Duduk di dekat tempat tidurku. Tangan kanannya menyeka air mata yang membasahi wajahku begitu Myungsoo Oppa keluar dari ruangan.

Aku menatap pria itu. “Hhh… sejak kapan… hhh… oppa… hhh di sini… hhh~?”

“Sejak kau tiba di rumah sakit ini, Suzy-ya,” katanya, lalu berhenti menyeka air mataku. “Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah merasa lebih baik, hm?”

Aku menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaannya.

“Kalau begitu, lebih baik kau tidur saja, eoh. Kau harus istirahat.”

Lagi, aku menggeleng.

“Kenapa, Suzy-ya?”

“Hhh… aku… hhh aku takut… hhh… kalau aku… hhh… tidur, aku… hhh… tidak akan… hhh… bangun lagi… hhh, Oppa.”

“Suzy-ya,” gumam Soohyun Oppa, “Kenapa kau berbicara seperti itu, eoh!?”

Aku tersenyum miris. “Mianhae… hhh, Oppa~”

“Ya! Kenapa dari tadi kau bicara aneh, eoh!? Kenapa minta maaf padaku. Kau tidak punya salah,” kata Soohyun Oppa.

Aku punya banyak kesalahan padamu, Oppa. Aku terlalu sering merepotkanmu. Bahkan sampai saat ini pun. Sampai saat aku menjadi milik orang lain, kau masih memperhatikanku. Kau masih berada di sisiku.

“Hhh… kalau begitu,” ucapku mengambil jeda sesaat, “Gomawo,” lanjutku. “Gomawo… hhh… atas perhatian… hhh… oppa selama ini… hhh.”

Soohyun Oppa tersenyum. “Ya! Aku sudah menganggap kau seperti adikku sendiri,” ucapnya sambil membelai kepalaku.

Aku membalas ucapannya dengan sebuah senyuman. Lelah untuk berkata-kata lagi. Aku hanya menatap langit-langit kamar sembari menunggu Myungsoo Oppa. Aku sudah berjanji padanya akan menunggunya. Ya, aku akan menunggunya sebelum aku pergi.

Ne, rasanya… malaikat pencabut nyawa sudah berada di sekitarku. Entah kapan tepatnya ia akan membawaku, tapi… aku harap setelah aku mengucapkan selamat kepada Myungsoo Oppa. Ya, selamat karena dia akan menjadi seorang ayah dari bayi yang dilahirkan Jiyeon. Dan juga, aku harus menepati satu lagi janjiku pada Jiyeon. Ne, aku pernah berjanji akan memberikan nama untuk bayinya, bukan?

Setidaknya, setelah aku mengucapkan selamat kepada Myungsoo Oppa dan memberikan nama untuk bayi Jiyeon, aku akan pergi dengan tenang.

“Enggh~” Aku merasakan sekujut tubuh sangat sakit. Air mataku yang sempat terhenti, kembali membasahi kedua pipiku.

Aku mohon jangan ambil aku sekarang. Aku belum menepati janjiku.

“Kau kenapa, Suzy-ya? Apa ada yang sakit?” tanya Soohyun Oppa cemas.

“Hhh… oppa, hhh… aku… hhh… sepertinya aku… hhh… harus pergi… hhh… sekarang. Hhh… tolong… hhh… katakan pada… hhh… Myungsoo Oppa… hhh… kalau… hhh… aku—”

Belum selesai aku berbicara, kulihat Myungsoo Oppa berlari menghampiriku. Sepertinya bayi Jiyeon sudah lahir.

“Hhh… bagaimana… hhh, Oppa?” tanyaku pada Myungsoo Oppa.

“Jiyeon sudah melahirkan, Suzy-ya. Bayinya perempuan,” jawab Myungsoo Oppa.

Bayi perempuan, ya?! Pasti cantik seperti Jiyeon.

“Hhh… chukaeyo, hhh… Oppa~”

Myungsoo Oppa mengangguk pelan.

“Kim Hyesun,” gumamku kemudian.

Myungsoo Oppa menatapku bingung.

“Hhh… Jiyeon pernah… hhh… memintaku… hhh… untuk memberikan… hhh… nama kepada… hhh… anaknya. Hhh… Kim… Hyesun. Hhh… perempuan… hhh… yang anggun dan… hhh… penuh kelembutan… hhh.”

“Nama yang indah,” kata Myungsoo Oppa. “Jiyeon pasti menyukainya.”

Aku tersenyum. Tepatnya berusaha tersenyum untuk terakhir kalinya. “Hhh… aku… hhh… sudah menepati… hhh… janjiku, hhh… jadi… hhh… aku… hhh… bisa pergi… hhh… sekarang.”

“Kau bicara apa, Suzy-ya? Kau mau kemana?” Myungsoo Oppa terlihat sangat panik. Begitu juga dengan Soohyun Oppa.

Aku merasa tidak kuat lagi untuk menarik nafas. Waktuku sebentar lagi akan habis. “Hhh… saranghae… hhh… oppa.”

-End Of Suzy’s POV-

-Myungsoo’s POV-

Kulihat Suzy berusaha untuk tersenyum. “Hhh… aku… hhh… sudah menepati… hhh… janjiku, hhh… jadi… hhh… aku… hhh… bisa pergi… hhh… sekarang.”

Seketika aku langsung panik. “Kau bicara apa, Suzy-ya? Kau mau kemana?” tanyaku. Perlahan-lahan air mata mulai menggenangi kedua pelupuk mataku.

Andwae! Suzy tidak boleh meninggal sekarang. Andwae!

Suzy terlihat sangat kesusahan untuk menarik nafas. Bahkan, kedua matanya sedikit demi sedikit mulai terpejam. “Hhh… saranghae… hhh… oppa.”

Usai mengucapkan satu kalimat itu, Suzy memejamkan matanya.

“Suzy-ya, bagun, Suzy!” kataku panik. Kuguncang-guncang tubuh mungil wanita itu. “Suzy, bangun! Jagiya, kau harus bangun sekarang juga.”

Tapi, tidak ada respon sedikit pun.

Soohyun yang berada di dekatku langsung menjauhkan tubuhnya dari Suzy. Duduk sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, namun aku bisa mendengar suara isak tangis darinya.

“SUZY-YA, BANGUN,SUZY! JANGAN COBA MEMPERMAINKAN AKU. YA! BAE SUZY, BANGUN!” teriakku frustasi. Air mataku tumpah saat kupeluk tubuh wanita itu. Suzy-ku sudah tidak ada. Ia sudah tidak ada.

“Suzy-ya, bagun, jagiya~”

@@@@@

Aku belum selesai menangani urusan jasad Suzy, tapi Jinwoon menghubungiku, memintaku menuju sebuah kamar rawat inap. Katanya, Jiyeon dalam keadaan gawat setelah ia pingsan usai melahirkan bayinya. Di satu sisi, aku berat meninggalkan jasad Suzy, namun… di sisi lain… Jiyeon juga membutuhkanku.

“Temui, istrimu. Biar aku yang membantumu mengurus jasad Suzy,” kata Soohyun usai aku menjawab panggilan dari Jinwoon.

Aku mengangguk.

Masih dalam keadaan sedih setelah ditinggal Suzy, aku pun berlari menuju ruangan yang telah disebutkan Jinwoon. Beberapa orang memperhatikanku ketika aku melintas di dekat mereka. Entahlah. Mungkin ini pertama kalinya mereka melihat seorang pria menangis.

Tidak lama kemudian, aku berbelok ke sebuah lorong. Mendapati Jinwoon berada di depan sebuah kamar, berjalan mondar-mandir. Menyadari kedatanganku, pria itu berhenti dengan kegiatannya.

“Kau darimana saja, eoh!? Jiyeon sedang gawat!”

Mianhae, Suzy membutuhkanku tadi, jadi—”

“BUKH!” Pria itu memukulku. Hari ini, sudah dua kali aku dipukul.

“Kau tahu? Keadaan Jiyeon sangat gawat, tapi kau malah meninggalkannya. Waktu ia melahirkan tadi pun, kau sempat meninggalkannya. Kau ini suaminya atau bukan? Dasar tidak berguna!” bentak Jinwoon.

“Aku suaminya. Aku suami Park Jiyeon, ara!? Aku tahu aku bukan suami yang baik untuknya. Aku tahu itu! Jangan berpikir bahwa kau pernah berhasil merebut Jiyeon dariku, lantas kau merasa kau lebih baik dariku, eoh!? Kau sama buruknya denganku!” Aku balas membentaknya, terbawa emosi.

Jinwoon diam.

“Aku tidak tahu apa tujuanmu mendekati Jiyeon. Tapi, untuk kali ini, aku tidak akan membiarkanmu merebut Jiyeon dariku, arasseo!?” geramku.

“Tolong jangan membuat keributan di sini!” tegur seorang suster yang entah kapan berdiri di dekat kami. Aku dan Jinwoon terdiam. Beberapa detik kemudian, suster pun berkata, “Tuan Kim, tolong segera masuk.”

Aku pun menuruti perkataan suster, mengikutinya masuk ke dalam kamar tempat Jiyeon berada. Di dalam kamar, kudapati seorang dokter tengah melakukan tindakan yang tidak aku mengerti.

“Jiyeon-ah? Jiyeon-ah, apa yang terjadi?” tanyaku panik.

Jiyeon terlihat sangat aneh. Seluruh tubuhnya terlihat kaku. Entah apa yang terjadi padanya. Namun di saat yang bersamaan, rahangnya terbuka dan tertutup dengan keras. Kelopak matanya juga seperti itu.

“Apa yang terjadi pada, Jiyeon, Euisa sonsaengim?”

“Nyonya Park mengalami eklampsia.”

Eklampsia?

Apa itu?

Aku hendak menanyakan hal tersebut kepada dokter, namun tiba-tiba… Jiyeon terpaku. Dia tidak bergerak. Nafasnya bahkan berhenti.

Euisa, apa yang terjadi? Kenapa nafas Jiyeon berhenti?” tanyaku panik. Dokter tidak menjawab pertanyaanku, ia pun terlihat sama paniknya, namun berusaha untuk tenang. Jiyeon terlihat seperti orang meninggal.

“HHHHH~” Jiyeon kembali membuatku terkejut. Ia lantas menarik nafas panjang secara mendadak. Tidak lama kemudian, Jiyeon terlihat kejang-kejang.

Euisa, tolong selamatkan istri saya, dokter,” pintaku panik. Air mata sudah membasahi wajah sejak tadi. Ya Tuhan, tolong jangan ambil Jiyeon.

Kejang-kejang Jiyeon akhirnya berhenti.

Euisa, sekarang apa yang terjadi pada Jiyeon?” tanyaku pada dokter saat kulihat Jiyeon kembali tidak bergerak.

Dokter menatapku dengan tatapan menyesal. “Maafkan saya, Tuan Kim. Saya sudah melakukan yang terbaik. Nyonya Park… sudah meninggal.”

Seperti ada sesuatu yang menghantam dadaku saat kalimat itu terdengar. Nafasku tersengal. Andwae! Andwae! Ini tidak boleh terjadi.

“Jiyeon-ah, kau hanya pingsan, kan!?” Aku mengguncang-guncang pelan tubuh Jiyeon. Persis dengan hal yang aku lakukan kepada Suzy beberapa saat lalu. “Ya! Park Jiyeon, jangan main-main. Kenapa kau diam, eoh? Kau tidak mau merawat bayimu, eoh?” tanyaku terisak.

Tapi, Jiyeon pun tak meresponku.

Dia… benar-benar sudah meninggal.

Perlahan, aku berjalan mundur hingga menabrak dinding yang ada di belakangku. Kedua kakiku terasa lemas. Tidak sanggup lagi menopang tubuhku, akhirnya aku terduduk di lantai. Aku menangis sejadinya.

“AARRRGHH!”

@@@@@

5 Years Later

Aku sedang bersiap-siap ke suatu tempat dengan seseorang yang paling penting dalam hidupku saat ini. Berdiri di depan cermin, memastikan penampilanku sudah rapi. Dan ya, semuanya terlihat bagus.

Appa, ppalli!” Suara teriakan seorang anak kecil di depan pintu kamar membuatku beranjak dari depan cermin. Melangkah menuju pintu, membukakan pintu untuk gadis kecil berusia 5 tahun itu.

“CKLEK!”

“Waaa… anak appa cantik sekali~” pujiku sembari berjongkok untuk menyejajarkan tinggi kami. Gadis kecil yang tubuh mungilnya dibalut pakaian baby-doll bermotif bunga-bunga kecil berwarna merah muda. Rambutnya yang hitam kecoklatan di kuncir 2, masing-masing di sisi kiri dan kanan kepalanya.

Ne, dialah Kim Hyesun.

“Maaf membuatmu menunggu, Princess~” kataku.

“Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang!”

Ne.”

Semenjak Suzy dan Jiyeon meninggal 5 tahun lalu, aku hanya tinggal dengan Hyesun. Beruntung ada Bibi Seo. Bibi yang tinggal di rumah orang tuaku—sekaligus bibi yang merawatku waktu aku kecil dulu. Setiap pagi hingga aku pulang dari kantor, Bibi Seo yang menemani Hyesun di rumah.

Hmph~

Rasanya cukup berat menjadi orang tua tunggal. Tapi, aku berusaha untuk menikmatinya. Bukankah karena ini semua yang aku alami 5 tahun lalu itu terjadi. Suzy yang memintaku menikahi Jiyeon karena ia ingin aku memiliki seorang anak. Dan ya, itu terwujud sekarang.

Aku memiliki Kim Hyesun.

Appa~” panggil Hyesun saat kami berdua telah duduk di dalam mobil. Aku yang mengemudi, sementara Hyesun duduk di sebelahku.

Ne, Hyesun-ah?”

“Kenapa aku punya 2 eomma, Appa? Teman-temanku hanya punya 1.”

Ne, aku mengatakan pada Hyesun kalau ia memiliki dua orang eomma. Jiyeon Eomma dan Suzy Eomma. Tentu saja aku memberitahu bahwa Jiyeon Eomma adalah ibu kandungnya. Dan Suzy…, dia adalah eomma yang membuat Hyesun menjadi anakku. Ya, kalau Suzy tidak menyuruhku menikahi Jiyeon, Hyesun tidak akan menjadi anakku, bukan?

“Memangnya kenapa kalau Hyesun punya 2 eomma? Bukankah itu bagus?” Aku bertanya balik.

“Mmm… ne,” jawab Hyesun. “Aku senang punya 2 eomma walaupun… mereka sudah tidak ada.”

Ada rasa sedih tersendiri setiap kali menyadari bahwa… Hyesun terpaksa harus tumbuh tanpa kasih sayang seorang eomma. Terkadang aku berpikir untuk menikah lagi. Tapi—Ah! Entahlah! Aku bingung.

“Sudah sampai~” kata Hyesun ketika kami tiba di tempat tujuan. Aku keluar terlebih dahulu dari mobil, lantas membukakan pintu untuk little princess-ku. Hati-hati gadis kecil itu keluar dari mobil. Sebelum menutup pintu, kuambil 2 buket bunga berbeda jenis yang aku letakkan di jok belakang.

Kkaja, Hyesun-ah,” ajakku.

Beberapa saat kemudian, aku dan Hyesun telah tiba di depan tempat Jiyeon dan Suzy beristirahat untuk selamanya. Ne, makam mereka berdua. Aku sengaja membuat makam mereka bersebelahan. Bukankah di dunia nyata, mereka berdua sangat dekat. Bahkan rela berbagi suami. Suatu hal yang wanita mana pun tidak akan melakukannya. Meski itu untuk sahabat mereka sendiri.

Aku merasa beruntung memiliki istri-istri seperti mereka. Walaupun aku tidak tahu, apakah mereka merasa beruntung memiliki suami sepertiku. Suami yang mungkin tidak pernah bersikap adil kepada mereka.

Ya, tanpa perlu kau katakan, aku merasa diriku adalah suami yang buruk.

Eomma~ bagaimana kabar, Eomma? Eomma baik-baik saja di atas, kan? Minggu depan Hyesun akan belajar di taman kanak-kanak, Eomma~” Suara Hyesun membuyarkan lamunanku. Kudapati yeoja itu berdiri di depan makam Jiyeon, meletakkan sebuket bunga anggrek putih—bunga kesukaan Jiyeon—di atas makam.

Aku memperhatikan Hyesun yang masih asik berbicara di depan makam Jiyeon. Ya, memang dia selalu seperti itu setiap kali kami ke sini. Tidak lama kemudian, ia pun berpindah ke makam di sebelah kiri makam Jiyeon. Ne, makam Suzy.

“Suzy Eomma, apa kabar? Aku datang lagi menemui eomma. Tapi, kali ini aku membawa bunga mawar putih. Kata appa, Suzy Eomma menyukai mawar putih, benar, kan?”

Dan lagi, Hyesun asik berbicara di depan makam Suzy.

Ah, aku lupa mengatakan satu hal. Entah ini hanya penglihatanku saja atau memang benar, tapi… wajah Hyesun adalah perpaduan wajah Suzy dan Jiyeon. Mata dan hidungnya persis dengan mata dan hidung Jiyeon, sedangkan bibirnya seperti bibir Suzy. Sehingga, setiap kali aku melihat Hyesun, seolah aku melihat Suzy dan Jiyeon.

Menghabiskan waktu sekitar 15 menit mengunjungi makam Jiyeon dan Suzy, aku pun mengajak Hyesun untuk meninggalkan tempat ini. Mengajaknya ke tempat bermain atau… kemana pun yang ia suka. Aku hanya ingin membuatnya bahagia. Setidaknya, dengan begitu aku tidak akan membuat Suzy dan Jiyeon kecewa padaku.

Terima kasih sudah memberikan Hyesun padaku.

Aku akan menjaga dan merawatnya sebaik mungkin.

Aku berjanji.

-THE END \^O^/-

Anditia Nurul ©2013

Do not claim this as yours

Do not re-post / re-blog without permission

Also published on RFF

A/N: Fiuuuuuh~ #lap keringat. Setelah penantian sekian minggu, akhirnya ending dari FF ini ter-post juga. Sooo, how’s the ending?

Buat yang dari chapter prolog bertanya ending FF ini Myungzy atau Myungyeon, udah tahu kan jawabannya? Hehehe.

Well, berhubung ini adalah ending-nya, author mau pidato(?). Gomawo untuk kalian yang sudah mengikuti FF ini dari awal sampai ending. Gomawo atas komen + like + sarannya. Pokoknya gomawo atas respon positif kalian terhadap FF ini. Sekalian, author mau minta maaf atas segala macam bentuk kekurangan di FF ini. *bow*

Oke deh, segini aja cuap-cuapnya.

Semoga kalian suka ending-nya. Berharap ini bisa masuk list FF ternyesek yang kalian baca (atau bisa jadi ini FF yang paling nyesek yang pernah kalian baca). Hehehe. #dilemparintisubekas

YANG DAPAT PASSWORD, JANGAN LUPA KOMENNYA, YA~

Sampai jumpa di FF-ku yang selanjutnya.

Sun sayang untuk bias Anda.

Bye~

182 responses to “I JUST WANNA GIVE YOU A CHILD [Chap.5-END]

  1. Aku nangis bacanya hiks
    kenapa gak si jiyeon aja sih yg mati suzy nya mah gak usah.
    Kenapa gak biarin myungzy hidup bersama lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s