Lost of Memory ( 12b of ? )

Lost of Memory copy

  • Author : @Yeondiary
  • Main Cast : Kim Myungsoo (Infinte) , Park Jiyeon (T-ara)
  • Additional Cast :      Choi Minho (Shinee)

Lee Jieun (IU)

Choi Jinri/Sulli (Fx)

Jung Soojung/Krystal (Fx)

Yang Yoseob (2pm)

Jung Eunji ( A Pink)

Park Sanghyun/Cheondung (MBLAQ)

Kim Hyun Joong

Kim Yoo Jin

 

  • Lenght :  Chapter
  • Genre : Romance, Family Story

·         Rating : 15

 

 

Annyeong….!!!

 

Akhirnya selesai juga part ini. Sesuai janji author part ini nggak lama bukan publishnya..hehehe😀

Gomawo buat apresiasinya reader yang ingin baca FF ini. Untuk ke depannya, jika memang banyak readers yang semakin aktif, author akan pertimbangkan untuk ga memprotect FF ini.

 

 

Happy Reading J

Preview Part 12a

 

“Apapun yang terjadi, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku. Karena aku takkan pernah melepaskanmu sampai kapanpun. Arasso” ucap Myungsoo meyakinkan yang tanpa disadari merupakan suatu pertanda.

 

“Tapi chagi-ah….kita tak punya banyak waktu lagi untuk menunda operasimu karena jika terlambat akan sangat berbahaya untukmu. Secepatnya kita harus pergi ke Amerika karena mereka sudah mendapatkan donor untukmu” ucap Jungsoo.

 

“L mencintai Jiyeon dan sepertinya Jiyeon juga memiliki perasaan yang sama” ucap Minho. Tentu saja Yoo Jin tak percaya begitu saja dengan apa yang ia dengar.

 

“Aku ingin yang terbaik untuk mereka chagi, keundae situasi saat ini sama sekali tak memungkinkan untuk mereka kecuali satu hal yang kemungkinan besar dapat merubah situasi tersebut” ujar Hyun Joong.

 

 

 

Part 12b

 

 

Eunji baru saja selesai makan malam ketika mendapat sebuah pesan dari seseorang yang memintanya untuk bertemu di sungai Han. Tentu saja yeoja ini tak melepaskan kesempatan ini untuk bertemu dengan orang yang ia cari akhir-akhir ini.

Begitu sampai di sungai Han, Eunji melihat sosok namja yang tengah berdiri memandang hampa ke arah sungai.

“Minho-ah” panggil Eunji berjalan menghampiri namja itu.

Namja yang merasa dirinya dipanggil itu pun segera menoleh ke sumber suara. Dan ia menyunggingkan sedikit senyum pada sahabatnya itu.

“Aku sama sekali tak menyangka kau akan mengajakku bertemu setelah tiga hari kau menghilang tanpa kabar” ujar Eunji begitu ia telah benar-benar berada disamping Minho.

Minho tertawa datar menanggapi ucapan Eunji, “Hahaha…aku tak menghilang Eunji-ah. Buktinya sekarang aku berada dihadapanmu, bukan” ujar Minho berusaha bersikap biasa.

“Lalu, kemana saja kau tiga hari ini? Apa kau tau, kami semua mencemaskanmu karena kau tak masuk sekolah dan tak memberi kabar pada kami” cerocos Eunji.

“Mianhae Eunji-ah beberapa hari ini aku bersenang-senang seorang diri karena aku sedikit merasa bosan dengan pelajaran di sekolah” ujar Minho.

“Geojitmal” sahut Eunji cepat.

“Ne?”

“Kau pikir aku tak tahu yang sebenarnya, eoh? mau sampai kapan kau akan terus bersembunyi dari kenyataan Minho-ah?”

Minho tak segera menjawab pertanyaan Eunji, ia kembali menatap kosong ke arah sungai sejenak.

“Ini sulit Eunji-ah” ucap Minho pelan namun Eunji masih dapat mendengarnya.

“Sulit untukku menerima kenyataan ini, sulit untukku merelakan orang yang kucintai bersama orang lain terlebih orang itu sahabatku sendiri” lanjut Minho.

Eunji mengambil nafas panjang sebelum ia menepuk pundak Minho layaknya seorang sahabat yang memberikan dukungan.

“Aku percaya kau bisa melakukannya Minho-ah. Diantara kita bertiga (Eunji, Myungsoo dan Minho) kaulah yang selalu optimis dalam melakukan hal apapun dibandingkan kami (Eunji dan Myungsoo). Tanpa kau, persahabatan kita takkan berjalan sejauh ini. Jadi, aku yakin dan percaya kau bisa mengambil keputusan yang terbaik” Eunji menyemangati Minho.

“Gomawo Eunji-ah karena kau masih mempercayaiku” ucap Minho yang kemudian tiba-tiba saja memeluk tubuh yeoja disampingnya itu.

“Sebentar saja….biarkan seperti ini. Sungguh aku tak sanggup jika harus menyimpan semuanya sendiri” pinta Minho sebagai seorang sahabat yang membutuhkan tempat untuk bersandar.

“Gwaenchana Minho-ah…kau tak sendiri. Aku akan selalu disampingmu dan memberikanmu kekuatan. Percayalah” ucap Eunji sambil menepuk-nepuk pelan punggung Minho.

“Gomawo…jeongmal gomawoyo…Eunji-ah”

 

 

 

Esoknya Minho pun akhirnya kembali masuk ke sekolah setelah bertemu dengan Eunji malam itu, hanya saja Myungsoo dan Jiyeon sama sekali tak memiliki kesempatan untuk menjelaskan masalah hubungan mereka. Minho selalu datang ketika bel telah berbunyi dan tak lama sonsaengnim segera masuk ke kelas, sedangkan saat istirahat namja itu langsung bergegas keluar entah ke ruang guru atau jika tidak ia menghilang entah kemana dan tahu-tahu ia kembali ke kelas bersamaan dengan sonsaengnim yang hendak mengajar. Dan ketika pulang sekolah, jangan ditanya lagi namja itu langsung menghilang begitu saja.

Meski begitu, Minho bersikap seperti biasa kepada Myungsoo maupun Jiyeon ketika mereka tak sengaja bertemu.

 

Flashback ON

 

In Classroom

 

“Minho-ah, neo gwaenchana?” tanya Myungsoo disela-sela jam pelajaran karena bangku mereka memang berdekatan.

“Ne gwaenchana L-ah” jawab Minho seraya tersenyum seolah tak pernah terjadi sesuatu diantara mereka.

“Lalu, kemana kau beberapa hari ini?” tanya Myungsoo lagi.

“Aku hanya ingin refreshing saja dan pergi jalan-jalan” ujar Minho.

“Jinjja?” Myungsoo seakan tak percaya dengan jawaban Minho meskipun sahabatnya ini menjawab dengan begitu meyakinkan.

“Ne”

“Apa kau tak sedang menghindariku?” selidik Myungsoo.

“Apa kau benar-benar ingin aku menghindarimu, eoh?” tanya Minho santai.

Untuk sepersekian detik Myungsoo menampakkan wajah bersalahnya pada Minho.

“Ne, tadinya memang aku berpikir untuk menghindarimu tapi ternyata aku tak bisa” jawab Minho makin membuat Myungsoo merasa bersalah tapi juga bingung.

“Wae?”

“Because we are bestfriend L-ah” Minho tersenyum pada Myungsoo.

Myungsoo bermaksud menjelaskan perihal hubungannya dengan Jiyeon pada Minho namun sonsaengnim keburu datang sehingga ia tak jadi mengatakannya.

 

 

In Library

 

“Minho oppa, kau kemana saja beberapa hari ini?” tanya Jiyeon ketika mereka bertemu di perpustakaan saat jam istirahat.

“Wae? Kau merindukanku, eoh?” Minho balik menanyai Jiyeon.

“Aku mengkhawatirkanmu, oppa” ujar Jiyeon.

Minho tersenyum lembut mendengar jawaban Jiyeon namun dalam hati ia merasa sedih mendengar yeoja ini mengatakan hal tersebut.

“Jinjja?!”

“Ne, oppa. Wae kau tak pernah menjawab telepon atau membalas pesanku, oppa?” tanya Jiyeon.

“Mianhae Jiyeon-ah, saat itu aku lupa tak membawa ponselku karena terlalu terburu-buru perginya” jawab Minho. Mendengar panggilan Minho padanya yang berbeda, Jiyeon menyadari jika Minho tampaknya telah menyadari sesuatu. Tentu saja ia merasa bersalah pada Minho namun ia tak kuasa jika harus mengatakan yang sejujurnya pada namja dihadapannya ini.

“Memangnya oppa pergi kemana?” tanya Jiyeon lagi mencoba menutupi perasaannya.

“Aku pergi jalan-jalan untuk merefreshkan pikiranku. Tampaknya menjadi siswa tahun terakhir benar-benar memeras kinerja otakku sehingga aku butuh penyegaran” jawab Minho.

“Oppa….Minho oppa…” panggil Jiyeon ragu-ragu karena ia bermaksud mengatakan perasaannya yang sebenarnya juga tentang hubungannya dengan Myungsoo.

“Ne?”

“Oppa….aku….ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu” ucap Jiyeon sedikit terbata-bata.

“Ne, katakanlah Jiyeon-ah” ucap Minho seakan menanti apa yang akan dikatakan oleh Jiyeon sambil menatap lurus ke arah mata Jiyeon dan tak lupa dengan senyum khasnya.

Ditatap seperti itu oleh Myungsoo, membuat Jiyeon sedikit gentar. Ia benar-benar gugup untuk mengatakannya. Dan tiba-tiba saja bel masuk berbunyi.

“Bel masuk sudah berbunyi. Sepertinya aku harus menunda untuk mendengar apa yang ingin kau katakan Jiyeon-ah” ucap Minho.

“Ne?” Jiyeon sedikit terkejut.

“Bukankah sekarang kau harus segera masuk ke kelas, eoh” ujar Minho mengingatkan.

“Aaa…aah…ne oppa. Annyeong” akhirnya Jiyeon menuruti ucapan Minho dan  gagal sudah ia mengatakan pada Minho.

 

Flashback OFF

 

 

 

Kondisi Taeyeon semakin memburuk, hal inilah yang membuat Jungsoo mempercepat rencananya untuk membawa kembali Jiyeon. Tentunya ia tak begitu saja akan datang ke kediaman keluarga Kim dan mengatakan bahwa Jiyeon adalah putri kandungnya. Sebelumnya ia telah menyuruh orang untuk mencari bukti-bukti bahwa Jiyeon benar anak kandungnya. Ia bahkan melakukan tes DNA secara sembunyi-sembunyi untuk memastikan hal itu. Jangan ditanya bagaimana caranya, keluarga Park memiliki sejumlah pengawal yang bisa menyamar sebagai apapun untuk menyelidiki hal yang mereka ingin tahu. Termasuk menyuruh orang untuk mengambil sampel rambut Jiyeon untuk di tes DNA.

Siang itu Jungsoo yang ditemani oleh Siwon bertemu dengan Hyun Joong di sebuah café yang tak jauh dari kantor Hyun Joong.

“Annyeong Hyun Joong-ssi, jweisonghamnida karena memintamu datang kemari” ucap Jungsoo.

“Annyeong Jungsoo-ssi, ne cheonma” sahut Hyun Joong.

“Hyun Joong-ssi, sebelumnya kuperkenalkan pria disampingku ini adalah chinguku. Choi Siwon” Jungsoo mengenalkan Siwon pada Hyun joong.

“Ne, senang bertemu denganmu Tn. Choi” sapa Hyun Joong ramah.

“Ne nado Tn. Kim” sambut Siwon. “Ini pertama kalinya kita bertemu denganmu Tn. Kim tapi aku merasa telah mengenalmu sejak lama karena putraku sering sekali menceritakan tentang keluargamu, lebih tepatnya anak-anak Anda” ucap Siwon.

“Ne?”

“Choi Minho. Dia putraku. Bukankah ia bersahabat dengan putramu Tn. Kim” ujar Siwon.

“Aaah…jadi kau appa dari Choi Minho. Tak kusangka dunia benar-benar kecil, ternyata putraku bersahabat dengan putra Anda” ujar Hyun Joong. Mereka pun tertawa namun beberapa menit kemudian suasana menjadi sedikit tegang.

“Jungsoo-ssi sebenarnya hal apa yang ingin kau bicarakan denganku sehingga kau memintaku untuk datang kemari?” tanya Hyun Joong penasaran meski begitu dalam hati ia sudah berharap-harap cemas.

“Hyun Joong-ssi sebenarnya maksudku memintamu datang kemari, karena ada beberapa hal yang ingin kupastikan dan jelaskan berkaitan dengan putrimu” Hyun Joong tak dapat memungkiri kecemasannya kini menjadi kenyataan.

“Ada apa dengan putriku Jungsoo-ssi?” tanya Hyun Joong berusaha bersikap tenang.

“Hyun Joong-ssi beberapa tahun yang lalu anaeku menitipkan seorang bayi perempuan di sebuah panti asuhan, namun sepuluh tahun yang lalu ketika kami menjemputnya disana ternyata dia telah diadopsi oleh sebuah keluarga” cerita Jungsoo.

“Lalu, apa kaitannya dengan putriku?” tanya Hyun Joong lagi

“Hyun Joong-ssi, jweisonghamnida karena aku meminta orang untuk menyelidiki keluargamu. Aku…aku hanya ingin memastikan apakah putrimu itu adalah putriku yang selama ini kucari” jawab Jungsoo.

Hyun Joong terdiam. Ekspresinya benar-benar tak dapat terbaca oleh Jungsoo maupun Siwon.

“Hyun Joong-ssi gwaenchana?” panggil Jungsoo.

“Ne? Ah…ne gwaenchana” sahut Hyun Joong. “Jungsoo-ssi apa yang membuatmu berpikir bahwa putriku adalah putrimu?” tanya Hyun Joong tetap tenang tanpa ada sedikitpun nada emosi di dalamnya.

“Biarkan aku yang menjelaskannya Hyun Joong-ssi” Siwon mengambil alih untuk menjawab pertanyaan Hyun Joong.

“Sebenarnya akulah yang telah menyelidiki tentang keluargamu. Aku menemukan fakta bahwa putrimu yang saat ini hidup denganmu bukanlah putri kandungmu. Sepuluh tahun yang lalu, kau mengadopsinya dari sebuah panti asuhan yang bernama ‘Ave Maria’, bukan. Itu adalah nama panti asuhan dimana anae Jungsoo hyung menitipkan putrinya” jelas Siwon.

“Ne, kau memang benar Siwon-ssi tapi bagaimana kau bisa yakin bahwa anak yang kuadopsi itu adalah putri Jungsoo-ssi?” tanya Hyun Joong lagi, tampaknya ia tak puas dengan jawaban Siwon.

“Jiyeon….nama putri Jungsoo hyung adalah Jiyeon. Anae Jungsoo sendiri yang memberikan nama itu. Selain itu, di panti tersebut hanya ada satu anak yang bernama Jiyeon dan anak tersebut memiliki kalung berbandul ‘J’ yang sengaja ditinggalkan oleh anae Jungsoo saat menitipkan putrinya di panti asuhan”

“Mian tapi aku tak bisa mempercayainya. Lagi pula tak ada bukti yang menguatkan dugaanmu itu Siwon-ssi” Hyun Joong berusaha menyangkalnya meskipun fakta-fakta yang ditunjukkan oleh Siwon benar adanya.

“Aku mengerti jika kau tak mempercayai kata-kataku, tapi kami sudah membuktikannya dengan tes DNA” ujar Siwon.

“Ne?”

“Kami minta maaf padamu Hyun Joong-ssi karena melakukan tes DNA tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Dan dari hasil tes DNA tersebut, 99,9% dinyatakan bahwa benar Jiyeon, putrimu adalah anak kandung Jungsoo hyung” ini merupakan pukulan telak bagi Hyun Joong.

Kenyataan bahwa Jungsoo adalah orang tua kandung Jiyeon, putri yang disayanginya itu membuat Hyun Joong tak dapat berkata apa-apa lagi. Segala kekhawatiran, ketakutannya akan kehilangan Jiyeon kini telah di depan matanya.

“Hyun Joong-ssi, aku tau ini berat untukmu menerima kenyataan yang terlalu tiba-tiba seperti ini, tapi aku mohon padamu kembalikanlah Jiyeon pada kami. Mungkin permintaanku ini terdengar egois tapi saat ini Taeyeon, anaeku, dalam kondisi kritis dan harus segera dioperasi karena penyakit yang dideritanya. Tapi, ia bersikeras tak ingin dioperasi jika belum melihat putrinya kembali. Jadi, bisakah kau menolongku” pinta Jungsoo memohon.

“Mian Jungsoo-ssi bukannya aku tak ingin menolongmu tapi keputusan ada ditangan Jiyeon. Karena bagaimanapun juga dia berhak memilih yang terbaik untuknya” ujar Hyun Joong.

“Ne, aku mengerti maksudmu Hyun Joong-ssi tapi bisakah kau membantuku mengatakannya pada Jiyeon? Waktuku tak banyak lagi Hyun Joong-ssi, Taeyeon benar-benar membutuhkan Jiyeon saat ini” Jungsoo memohon pada Hyun Joong.

“Aku mengerti. Nanti malam datanglah kerumah kami” ucap Hyun Joong akhirnya setelah memikirkan betapa daruratnya posisi Jungsoo saat ini.

 

 

 

Di tempat lain, Yoo Jin tengah berdiri di depan pintu kamar Taeyeon. Ya, wanita itu berada di tempat ini bukanlah atas keinginannya tapi karena Taeyeon mengirim orang kerumahnya untuk menjemputnya. Awalnya Yoo Jin sempat menolak tapi ketika Taeyeon meneleponnya dengan suara yang terdengar sangat lemah, membuat Yoo Jin tak tega untuk menolak permintaan wanita yang sudah ia anggap teman meskipun mereka baru sekali bertemu.

Tok…Tok…Tok…

Yoo Jin mengetuk pintu kamar dihadapannya. Tak lama pintu itu dibukakan oleh seorang yeoja muda yang berpakaian perawat.

“Anda Ny. Kim?” tanya perawat tersebut.

“Ne”

“Masuklah Ny. Kim, Ny. Park menunggu Anda” perawat tersebut mempersilahkan Yoo Jin untuk masuk.

Betapa terkejutnya Yoo Jin ketika melihat Taeyeon tengah terbaring lemah diatas tempat tidur dengan alat-alat medis yang melekat ditubuhnya. Sungguh ia tak menyangka wanita yang beberapa hari yang lalu bertemu dengannya dalam keadaan sehat kini terbaring lemah dan tak berdaya.

“Taeyeon-ssi, apa yang terjadi denganmu?” tanya Yoo Jin sedih dan shock melihat kondisi wanita itu yang terlihat pucat.

Taeyeon tersenyum lemah, “Nan..gwaenchana…Yoo Jin-ssi”

“Bagaimana bisa kau bilang ini baik-baik saja. Kau terlihat begitu lemah, wajahmu pucat dan tubuhmu semakin kurus Taeyeon-ssi” Yoo Jin benar-benar merasa cemas sehingga tak kuasa menahan air matanya.

“Uljima Yoo Jin-ssi. Aku memanggilmu kesini bukan untuk melihatmu menangis melihat kondisiku” Taeyeon mengusap air mata yang membasahi wajah Yoo Jin. “Ada hal lain yang ingin kutanyakan padamu” lanjut Taeyeon.

Yoo Jin mengangguk dan berusaha menghentikan air matanya.

“Aku tau Taeyeon-ssi” ucap Yoo Jin.

“Ne?”

“Ini tentang Jiyeon, putriku, bukan” ucap Yoo Jin.

Taeyeon mengangguk lemah.

“Mianhae Yoo Jin-ssi, waktu itu saat kau menceritakan padaku kalau kau mengadopsi seorang anak perempuan di panti asuhan, boleh aku tahu apa nama panti asuhan itu?” tanya Taeyeon.

“Nama panti itu, Ave Maria” jawab Yoo Jin. Nafas Taeyeon seakan tercekat saat mendengarnya.

“Putri yang kau asuh itu bernama Jiyeon?” Yoo Jin mengangguk menjawab pertanyaan Taeyeon.

Taeyeon menarik nafas panjang sebelum ia menanyakan pertanyaan terakhirnya, “Apa dia memiliki kalung berbandul ‘J’?”

Lagi-lagi Yoo Jin mengangguk sambil menangis, ia tahu bahwa firasatnya selama ini benar. Taeyeon adalah eomma kandung Jiyeon dan maksud dari pertanyaan Taeyeon adalah untuk memastikan bahwa Jiyeonnya adalah putri kandungnya.

Taeyeon pun tak kuasa menahan perasaannya setelah mendengar jawaban Yoo Jin. Ia turut menitikkan air matanya. Rupanya firasatnya selama ini tak salah. Dulu saat pertama kali ia melihat Jiyeon di toilet ia sudah merasa sangat dekat dengannya. Dan saat Yoo Jin menceritakan masa lalu putrinya, Taeyeon semakin yakin kalau Jiyeon adalah putrinya. Terlebih begitu mendengar langsung dari Yoo Jin mengenai fakta-fakta tentang Jiyeon, tak ada lagi keraguan dihati Taeyeon bahwa Jiyeon, putri Kim Yoo Jin, adalah putri kandungnya.

“Yoo Jin-ssi…aku pernah menceritakan padamu tentang putriku yang selama ini ini kucari, bukan”

“Aku masih mengingatnya Taeyeon-ssi” Yoo Jin berusaha menahan air matanya agar tak keluar lagi.

“Kini aku telah menemukannya Yoo Jin-ssi. Aku menemukan putriku” ucap Taeyeon bahagia.

“Aku tahu Taeyeon-ssi. Aku tahu itu” Yoo Jin tak kuasa lagi menahan air matanya.

“Yoo Jin-ssi….”

“Aku tahu Taeyeon-ssi. Aku sudah menduganya saat pertama kali kau terkejut melihat foto itu dan setelah mendengar ceritaku. Kau menyebutnya…Jiyeonnieku…adalah putri kandungmu” ucap Yoo Jin akhirnya dengan air mata berlinang.

“Yoo Jin-ssi…mianhae..jeongmal mianhae..aku sama sekali tak bermaksud untuk….” Taeyeon berusaha menjelaskan pada Yoo Jin.

“Anhi…kau tak perlu meminta maaf padaku Taeyeon-ssi. Seharusnya aku yang harus meminta maaf padamu karena aku sempat berpikir untuk bersikap egois karena bermaksud ingin menyembunyikan kenyataan ini tapi aku tak bisa. Aku sungguh tak bisa dan tak tega menyembunyikan hal ini darimu. Bagaimanapun kau adalah orang tua kandungnya. Kau berhak tahu kebenarannya” Yoo Jin menyela kata-kata Taeyeon dan mengatakannya sambil menangis.

“Gomapta Yoo Jin-ssi” Taeyeon tak kuasa menahan harunya ketika Yoo Jin telah membuka hatinya, mengatakan yang sebenarnya pada Taeyeon.

Berat bagi Yoo Jin pada awalnya untuk melakukan hal ini tapi akhirnya ia sadar, ia tak mungkin bisa memutuskan hubungan darah. Bagaimanapun Taeyeon berhak tahu bahwa Jiyeon adalah putri kandungnya.

“Putriku sungguh beruntung mendapatkan eomma sepertimu Yoo Jin. Aku sungguh berterima kasih padamu karena telah merawat putriku dengan baik. Kau..wanita yang hebat. Gomawo “ ucap Taeyeon seraya mengelus-elus punggung tangan Yoo Jin.

 

 

 

Pulang sekolah, lagi-lagi Myungsoo dan Jiyeon kehilangan kesempatan bertemu Minho karena namja itu selalu pulang lebih awal. Myungsoo dan Jiyeon hanya bisa pasrah. Kini mereka berdua berada di depan sungai Han.

“Oppa…eottokhe? Sampai saat ini aku belum mengatakannya pada Minho oppa. mianhae” sesal Jiyeon.

“Kau tak perlu minta maaf padaku Jiyeonnie. Aku mengerti posisimu saat ini sangatlah sulit. Sejujurnya aku juga tak tega menyakiti perasaan Minho, karena ia terlalu baik untuk disakiti karena keegoisan kita. Terkadang aku juga berpikir, pantaskah kita bahagia disaat banyak orang yang mungkin akan tersakiti karena cinta kita” ucap Myungsoo

“Ne oppa. aku juga berpikir seperti itu. Aku takut karena keegoisan kita nantinya akan banyak yang tersakiti. Minho oppa dan juga appa serta eomma yang mungkin akan kecewa pada kita” ucap Jiyeon setuju.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan? Kita juga tak bisa terus menerus membohongi perasaan kita, bukan. Aku bahkan tak yakin apakah aku bisa mengontrol perasaanku yang semakin tumbuh setiap harinya, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik” ujar Myungsoo tampak frustasi.

“Apa cinta kalian hanya sampai disini?” tanya seseorang tiba-tiba saja hadir diantara mereka. Siapa lagi jika bukan Eunji yang tahu tentang hubungan mereka.

“Jika kalian berpikir untuk menyerah atas cinta kalian sekarang, kurasa Minho akan segera menyesali keputusannya” lanjut Eunji.

“Ne?” Myungsoo dan Minho tak mengerti maksud ucapan Eunji.

“Minho sudah mengetahui tentang hubungan kalian dan dia….merestui kalian berdua” ujar Eunji.

“Tapi..tapi bagaimana bisa eonnie?” tanya Jiyeon tak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Mian karena aku memberitahu Minho tentang hubungan kalian. Aku tahu kalian berdua tentu tak akan sanggup mengatakannya langsung pada Minho” jelas Eunji.

“Eunji-ah benarkah yang kau katakan barusan? Apa benar Minho telah merestui kami? Tapi bukankah dia sangat mencintai Jiyeon?” tanya Myungsoo bertubi-tubi.

“Ne L-ah. Aku hanya menyampaikan apa yang harus kusampaikan lalu mengenai perasaan Minho, biar ia sendiri yang akan mengatakannya pada kalian berdua” jawab Eunji dan tiba-tiba saja dibelakang Eunji muncullah Minho yang tersenyum pada mereka.

“Minho-ah” “Minho oppa” sebut Myungsoo dan Jiyeon bersamaan begitu mereka melihat Minho.

“Annyeong L-ah, Jiyeon-ah. Kenapa kalian melihatku seperti itu, eoh? Apakah aku terlihat seperti hantu?” tanya Minho bercanda.

“Minho-ah…..aku….aku…jeongmal mianhaeyo” ucap Myungsoo seraya menundukkan kepalanya.

“Mianhae Minho oppa” Jiyeon juga ikut meminta maaf sambil menundukkan kepalanya.

Minho tersenyum memandang keduanya, “Sudahlah, kalian tak perlu minta maaf karena tak ada yang perlu dimaafkan. Angkatlah kepala kalian dan pandanglah aku. Apa aku terlihat marah, eoh” ujar Minho memamerkan senyum kharismatiknya.

Myungsoo dan Jiyeon segera mengangkat kepala mereka dan melihat bagaimana Minho tersenyum tulus pada mereka.

Perlahan Minho berjalan mendekat ke arah Jiyeon. Ia memegang pundak yeoja itu dengan kedua tangannya dan menatap yeoja itu dalam-dalam.

“Jiyeon-ah, saranghae” ucap Minho seketika membuat Jiyeon mematung. Tak hanya Jiyeon yang tampaknya terkejut dengan ucapan yang terlontar dari mulut Minho tapi Myungsoo juga tampaknya juga terkejut. Sedangkan Eunji tersenyum tipis.

“Aku sangat mencintaimu Jiyeon-ah keundae jika karena cintaku ini membuatmu tak bahagia, maka aku akan melepaskanmu, karena cintaku tak harus memilikimu” lanjut Minho membuat Jiyeon terharu pada pengorbanan Minho.

“Oppa” Jiyeon menangis memeluk Minho.

“Uljima Jiyeon-ah….aku melepaskanmu karena ingin melihatmu tersenyum bahagia dan bukannya menangis seperti ini. Jika kau terus menangis, bisa-bisa aku mencabut kata-kataku dan tak jadi melepaskanmu. Kau mau, eoh” ancam Minho yang tentunya hanya bercanda karena setelahnya Jiyeon melepaskan pelukannya dan memasang wajah pura-pura kesal.

“Oppa….mana bisa kau mencabut kata-kata yang sudah kau ucapkan” protes Jiyeon seraya memukul pelan dada Minho.

Minho tersenyum melihat Jiyeon yang perlahan kembali tertawa dan ia menghapus sisa air mata yang membasahi wajah yeoja itu.

“Aku tak ingin melihatmu bersedih apalagi menangis. Jika sampai L membuatmu menangis, kau bilang saja padaku maka aku akan merebutmu kembali darinya” ujar Minho menggoda Jiyeon yang disambut senyuman oleh Myungsoo, Jiyeon dan Eunji.

“L-ah…aku telah melepaskan Jiyeon untukmu. Buatlah ia bahagia dan selalu tersenyum tapi jika kau membuatnya menangis sekali saja, maka saat itu juga aku akan merebutnya” ucap Minho pada Myungsoo.

“Aku berjanji padamu Minho-ah. Aku tak akan membuatnya bersedih karena aku hanya akan membuatnya bahagia” janji Myungsoo pada Minho. Eunji dan Jiyeon tersenyum bahagia melihat kedua sahabat itu kembali akur seperti dulu.

“Geurrae, untuk merayakan hari yang bahagia ini bagaimana kalau kita makan es krim” usul Jiyeon.

“Ne kurasa itu bukan ide yang buruk. Dan sepertinya aku ingin merasakan lagi es krim di kedai Boram eonnie” ujar Eunji.

“Geurrae, kajja kita kesana” ujar Minho.

Keempat remaja itu pun menikmati waktu mereka bersama, merayakan kembalinya hubungan mereka yang sempat renggang. Hingga tak terasa waktu berjalan begitu cepat, tahu-tahu hari sudah mulai gelap.

 

 

Myungsoo dan Jiyeon baru sampai di rumah saat melewati jam makan malam. Mereka berdua sudah menyiapkan hati dan telinga jika harus mendapat omelan dari eomma mereka karena mereka pulang terlambat tanpa memberi kabar.

“Annyeong” seru mereka berdua bersama-sama ketika masuk ke dalam rumah.

“Kalian berdua, kenapa baru pulang?” tanya Hyun Joong yang tengah duduk disalah satu sofa ruang tamu dan disampingnya juga ada Yoo Jin.

“Mianhae appa, tadi kami berdua main bersama Minho dan Eunji hingga lupa waktu dan lupa memberi kabar” jawab Myungsoo.

“Kali ini appa maafkan keundae lain kali jangan ulangi lagi, arra” ucap Hyun Joong tegas.

“Ne arra” sahut Myungsoo dan Jiyeon.

Saat kedua anak itu hendak masuk ke dalam menuju kamar, mereka menyadari jika appa dan eommanya tak hanya berdua melainkan ada orang lain juga disana.

“Ahjusshi” seru Myungsoo terkejut mengenali orang tersebut.

“Ahjusshi yang di kantor appa Minho, bukan?” tanya Jiyeon yang rupanya masih mengingat Jungsoo, orang yang menjadi tamu Hyun Joong.

Hyun Joong dan Yoo Jin tampak terkejut karena tak menyangka jika anak-anak mereka  pernah bertemu dengan Jungsoo sebelumnya.

“Ahjusshi, ada apa datang kemari?” tanya Jiyeon yang sama sekali tak menyadari titik balik yang akan terjadi dalam hidupnya sebentar lagi.

“Ahjusshi datang kemari karena…karena ada yang ingin dibicarakan” jawab Jungsoo.

“Pasti ahjusshi ingin membicarakan masalah pekerjaan dengan appa, ne? Kalau begitu aku masuk dulu ke dalam ne ahjusshi” pamit Jiyeon.

“Changkamman Jiyeonnie” panggil Hyun Joong pada putrinya.

Jiyeon menghentikan langkahnya, begitu pun Myungsoo

“Ada sesuatu yang ingin appa katakan padamu” ujar Hyun Joong.

“Ne? tapi bukankah appa sedang ada tamu?” tanya Jiyeon bingung.

“Justru kedatangan Tn. Park kerumah kita adalah untuk menjelaskan sesuatu padamu” ujar Hyun Joong membuat Jiyeon mengerutkan keningnya tanda ia tak mengerti.  Memangnya ada masalah apa hingga Tn. Park harus menjelaskan sesuatu padanya, ia bahkan baru seklai bertemu dengan ahjusshi itu.

“Menjelaskan apa appa?” tanya Jiyeon.

“Jiyeonnie….” Kali ini Yoo Jin yang berbicara. “Tn. Park Jungsoo ini adalah…appamu. Appa kandungmu” lanjut Yoo Jin sukses membuat Jiyeon terpaku ditempatnya berdiri.

“Apa maksud eomma mengatakan kalau Tn. Park ini adalah appa kandung Jiyeon? Lalu apa ada buktinya kalau ahjusshi ini benar-benar orang tua kandung Jiyeon?” tanya Myungsoo.

“Tn. Park memiliki bukti-bukti yang akurat yang menunjukkan bahwa Jiyeon memanglah putri kandungnya” Hyun Joong menyerahkan bukti tes DNA antara Jungsoo dengan Jiyeon pada Myungsoo.

“Geojitmal. Ini pasti bohong. Kalau benar ahjusshi Park orang tua kandung Jiyeon, kenapa ia baru datang sekarang? Kemana dia selama bertahun-tahun meninggalkan Jiyeon sendirian?” Myungsoo tampaknya menolak kenyataan ini.

“Kami tak bermaksud meninggalkannya. Sudah sejak beberapa tahun yang lalu kami terus mencarinya dan akhirnya baru sekarang kami dipertemukan dengannya” ucap Jungsoo.

“Lalu, apa yang akan ahjusshi lakukan?” tanya Myungsoo yang tampaknya memiliki firasat buruk soal ini.

“Tn. Park ingin membawa Jiyeon untuk menemui eomma kandungnya yang kini tengah dalam kondisi kritis. Dia sangat ingin bertemu dengan Jiyeon” Hyun Joong menjawab pertanyaan putranya.

“MWO?” Myungsoo tampak terkejut sedangkan Jiyeon yang terdiam sejak tadi karena masih shock dengan berita yang ia dengar, perlahan-lahan memundurkan langkahnya dan tiba-tiba ia berlari keluar rumah.

Kontan saja semua orang yang ada disana merasa panik. Dan Myungsoo orang pertama yang langsung berlari mengejar Jiyeon. Myungsoo mengikuti Jiyeon yang berjalan tak tentu arah sambil menangis. Kenyataan ini begitu tiba-tiba dan Jiyeon belum siap untuk menerimanya meskipun sudah lama dia ingin sekali bertemu dengan orang tua kandungnya tapi entah mengapa kali ini ia tak sanggup menerima hal itu.

Mengingat bagaimana ia dulu ditinggalkan di panti asuhan, membuat ia merasa seperti seorang anak yang tak diinginkan dan hal itu membuat ia terus merasa sedih setiap hari.

Jiyeon berjalan hingga ia merasa lelah. Kemudian ia duduk disalah satu bangku taman dan tatapan matanya serasa kosong, wajahnya terlihat sembab.

Myungsoo mendekati Jiyeon dan duduk disamping yeoja itu. Myungsoo membiarkan yeoja itu berkutat dengan pikirannya sejenak sampai ia yakin bahwa yeoja itu sudah merasa tenang.

“Jiyeon-ah gwaenchana?” tanya Myungsoo.

Jiyeon menggeleng, “Molla oppa. Ini terlalu tiba-tiba dan aku tak siap dengan ini semua” ujar Jiyeon.

“Aku paham bagaimana perasaanmu Jiyeonnie, keundae inilah kenyataannya. Ahjusshi Park adalah appa kandungmu. Bukankah sejak dulu kau ingin bertemu dengan orang tua kandungmu, kau bahkan pernah hampir membahayakan hidupmu demi kalung pemberian orang tuamu, bukan. Jauh di dasar hatimu kau ingin bertemu dengan mereka, kan” Myungsoo mencoba menasehati Jiyeon. Meski awalnya dia tak percaya Jungsoo adalah orang tua kandung Jiyeon, tapi hasil tes DNA itu telah menunjukkan bukti yang akurat.

“Aku masih tak bisa mempercayainya oppa”

“Myungsoo menggenggam erat tangan Jiyeon, meminta yeoja itu menatapnya.

“Jiyeon-ah, aku mengerti ini pasti berat untukmu karena mereka datang secara tiba-tiba. Tapi setidaknya dengarkan dulu alasan mereka. Setelah itu barulah kau bisa mengambil keputusan” ujar Myungsoo dan akhirnya Jiyeon setuju untuk kembali ke rumah dan menemui Jungsoo.

 

 

Sesampainya di rumah, Jiyeon disambut pelukan hangat Yoo Jin dan juga senyum kelegaan di wajah Hyun Joong serta Jungsoo.

“Jiyeon-ah, kau kemana saja?” tanya Yoo Jin khawatir.

“Mianhae eomma karena membuat eomma khawatir. Aku hanya belum siap mendengar berita tadi. Aku tak menyangka akan bertemu dengan orang tua kandungku” ucap Jiyeon seraya melihat pada Jungsoo dengan tatapan tajam.

“Jiyeon-ah, aku mengerti kau pasti merasa marah pada kami karena waktu kecil kami menitipkanmu di panti asuhan. Tapi sungguh itu bukan karena kami tak menginginkanmu, kami terpaksa melakukan itu demi kebaikanmu karena waktu itu kami berada di posisi yang sulit. Tapi beberapa tahun yang lalu kami bermaksud menjemputmu di panti asuhan, tapi sayangnya kami terlambat karena kau telah diadopsi oleh keluarga lain. Bertahun-tahun kami terus mencari keberadaanmu hingga akhirnya menyebabkan kesehatan eommamu memburuk. Dan kini, dia dalam kondisi kritis. Untuk menyembukan penyakitnya, ia harus segera dioperasi. Sayangnya eommamu menolak untuk dioperasi sebelum denganmu” jelas Jungsoo.

Air mata Jiyeon mengalir tanpa bisa ditahan.

“Jiyeon-ah, aku mohon padamu kau mau kembali bersama kami. Demi eomma yang telah melahirkanmu ke dunia ini” pinta Jungsoo pada putrinya.

Jiyeon diam cukup lama dan memandang wajah Yoo Jin, Hyun Joong, Jungsoo dan tentunya Myungsoo secara bergantian sampai akhirnya sebuah keputusan terlontar dari bibirnya.

“Geurrae aku akan pergi keundae dengan tiga syarat”

“Ne?”

“Pertama, aku akan mencoba tinggal bersama kalian hanya selama seminggu, jika terbukti aku merasa tak nyaman aku akan kembali ke keluarga Kim. Kedua, jangan pernah mencoba untuk menyakiti ataupun berusaha untuk memisahkanku dari keluarga ini. Dan ketiga….” Jiyeon melihat ke arah Myungsoo.

“Untuk yang ketiga akan kukatakan jika sudah waktunya. Bagaimana?”

“Geurrae, aku akan mengabulkan semua syarat yang kau ajukan” sahut Jungsoo.

Dan setelah kesepakatan terjalin, malam itu juga Jiyeon dibawa oleh Jungsoo ke kediamannya. Tentu saja setelah berpamitan dengan Yoo Jin, Hyun Joong dan juga Myungsoo.

“Aku akan menunggumu kembali Jiyeonnie” ucap Myungsoo sebelum Jiyeon pergi.

“Ne oppa, aku pasti akan kembali” ucap Jiyeon seraya memberikan kalungnya pada Myungsoo sebagai bukti janjinya.

 

 


Sudah seminggu sejak Jiyeon memutuskan untuk mencoba tinggal bersama orang tua kandungnya, Myungsoo sulit sekali menghubungi Jiyeon. Hatinya terasa kacau dan tak bisa fokus terhadap pelajaran.

“L-ah, akhir-akhir ini kau sama sekali tak fokus dalam pelajaran. Ada apa denganmu?” tanya Thunder ketika mereka tengah beristirahat usai latihan basket.

“Ne, tak hanya dalam pelajaran saja. Kau bahkan sama sekali tak konsen saat latihan basket” sambung Yoseob.

Kedua chingunya ini memang tak tahu perihal Jiyeon yang kembali ke orang tua kandungnya. Hanya Minho dan Eunji lah yang tahu hal ini, sayangnya mereka saat ini sedang tak bersama Myungsoo karena Minho sedang ada bimbingan belajar sedangkan Eunji katanya akan mengantarkan Eommanya ke bandara.

Tiba-tiba saja Myungsoo mendapat pesan dari Eunji.

 

To: Eunji

L-ah, sepertinya aku melihat Jiyeon ada di bandara.

Apa dia akan pergi?

 

Myungsoo terkesiap begitu membaca pesan Eunji. Jantungnya berdegup tak menentu. Hatinya semakin tak karuan. Dengan cepat ia segera menelepon Jiyeon tapi yeoja itu tak mengangkat teleponnya sehingga ia pun mengirim pesan pada yeoja itu. Thunder dan Yoseob yang memperhatikan sikap Myungsoo hanya bisa mengerutkan keningnya karena mereka tak mengerti apa yang terjadi.

 

To: Nae Jiyeonnie❤

Jiyeonnie eodiga?

 

Lama tak ada balasan dari Jiyeon, Myungsoo kembali mengirim pesan karena Jiyeon tak juga mengangkat teleponnya.

 

To: Nae Jiyeonnie❤

Jiyeonnie, sebenarnya kau ada dimana?

 

 

Tak berapa lama akhirnya Jiyeon membalas pesan Myungsoo yang mana isinya mengejutkan untuk Myungsoo.

 

From: Nae Jiyeonnie❤

Aku berada di Incheon Airport oppa

 

 

“MWO?” seru Myungsoo yang tentu saja membuat Thunder dan Yoseob terkejut dan semakin bingung.

 

 

To: Nae Jiyeonnie❤

MWO???

Untuk apa kau disana?

Apa kau akan pergi?

 

 

From: Jiyeonnie❤

Aku akan ke Amerika, oppa.

Menemani Taeyeon eomma melakukan pengobatan disana.

Aku sudah memberitahu Yoo Jin eomma dan Hyun Joong appa.

 

 

To: Jiyeonnie❤

Neo michiosseo?

Wae kau tak pernah mengatakannya padaku?

Kau akan pergi meninggalkanku.

Bukankah kita berjanji untuk selalu bersama?

 

 

From : Nae Jiyeonnie❤

Mianhae oppa, aku tak mengatakan padamu mengenai kepergianku,

Karena aku takut, jika aku mengatakan hal ini padamu, maka hatiku akan goyah

Sedangkan saat ini Taeyeon eomma sangat membutuhkanku untuk berada disisinya.

Jebal mianhaeyo oppa karena mengambil keputusan ini tanpa memberitahumu

Aku mengerti jika kau kecewa tapi percayalah aku pasti akan kembali.

Jadi, tunggulah aku ne oppa

Saranghae❤

 

 

Myungsoo yang begitu selesai membaca pesan dari Jiyeon, segera meminjam motor Thunder untuk menyusul Jiyeon ke bandara.

 “Aku tak akan membiarkanmu pergi Jiyeonnie. Tunggu aku” gumam Myungsoo yang melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.

 

 

Di tempat lain, Jiyeon tengah bimbang menunggu pesawat yang akan segera membawanya bersama appa dan eommanya menuju Amerika. Keluarga Park tentunya tak akan menaiki pesawat umum melainkan pesawat pribadinya dikarenakan kondisi Taeyeon yang tak memungkinkan untuk naik pesawat umum karena terlalu beresiko. Dan di pesawat pribadi itu nantinya telah tersedia segala perlengkapan medis, perawat serta dokter yang diperlukan oleh Taeyeon.

Jiyeon memainkan jari-jarinya tanda ia galau memikirkan sesuatu.

“Jiyeon-ah…kajja kita harus segera masuk ke dalam pesawat” Jungsoo menyadarkan Jiyeon dari lamunannya.

“Ne…appa” sahut Jiyeon menyebut Jungsoo dengan sebutan appa kemudian mengikuti langkah pria itu untuk masuk ke dalam pesawat.

‘Mianhae L-oppa, jeongmal mianhae. Aku harap kau mengerti dengan keputusan yang aku ambil. Ak pasti akan kembali untukmu oppa. Jebal tunggulah aku’ ucap Jiyeon dalam hati.

Dan beberapa menit selanjutnya pesawat perlahan-lahan mulai meninggalkan landasan, meninggalkan tempat kelahirannya dan tentunya orang-orang terkasihnya. Dan tepat saat pesawat Jiyeon lepas landas, motor yang dikendarai Myungsoo menabrak sebuah truk besar dan tubuh Myungsoo terlempar beberapa meter jauhnya dari tempat kejadian. Setengah wajahnya hancur dan hampir tak bisa dikenali karena tertutup oleh darah. Ia sempat sadar dan mencoba memanggil nama Jiyeon sebelum akhirnya tak sadarkan diri. Ditangannya tergenggam kalung berbandul ‘J’ yang diberikan Jiyeon untuknya ketika Jiyeon memutuskan mencoba tinggal bersama orang tua kandungnya.

 

 

Esoknya sekolah dihebohkan dengan berita kecelakaan yang dialami Myungsoo. Tapi, bukan berita kecelakaan itu yang membuat heboh melainkan jasad Myungsoo yang tak ditemukan di lokasi kejadian membuat banyak spekulasi jika mungkin Myungsoo sudah meninggal. Saat kecelakaan terjadi, kondisi jalan memang sedikit sepi dan polisi serta ambulans baru datang beberapa saat setelahnya. Dan anehnya, polisi tak menemukan pengendara sepeda motor yang tertabrak itu yang tak lain adalah Myungsoo. Mereka hanya menemukan ceceran darah yang cukup banyak di tempat kejadian tanpa tahu dimana jasad si korban.

“MWO?!!! MALDO ANDWAEEE…L TAK MUNGKIN MENGHILANG?!!!” teriak Eunji ketika pertama kali ia membaca pengumuman yang tertempel di madding sekolah.

Minho dan Eunji tentu tak mempercayai jika Myungsoo, sahabat mereka menghilang begitu saja apalagi meninggal. Mereka percaya Myungsoo masih hidup.

 

 

TBC

 

 

Huwaaa…akhirnya selesai juga part ini. Gimana chingu komentarnya???

Konflik baru muncul lagi….bisakah Myungyeon bersatu?

Dan bagaimana takdir akan mempertemukan mereka kembali?

Ditunggu kelanjutannya ne…gomawo J

44 responses to “Lost of Memory ( 12b of ? )

  1. ANDWAE hiks hiks hiks,, myungsoo oppa ga boleh meninggal,, ga boleh,, gmna nnti nasib jiyeon eoniie,,, huaa hiks hiks
    lanjut baca nee

  2. jiyeon jgn lama2 perginya.
    myung hilang kmna? myungyeon baru aja bersatu tpi udah terpisah lg.:'(😦

  3. ahh myungsoo ma jiyeon tragis bgt , myungsoo knapa harus ketabrak thor? hehe
    kasian , trus ngilang jg
    next yaa ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s