a Different Path (Ficlet)

FF a Different Path 2

Tittle : a Different Path

Nama Author : brownpills >> before: Haraya (@firdhaya)

Main Cast : Minho SHINee and Suzy Miss A

Lenght :  Ficlet

Genre : Romance, Angts

Rating: PG-14

Pernah dipubblish di blog Fan Fiction Here dengan main cast yang berbeda dan sedikit rombakan yang ada. Cerita murni dari pikiran saya dan ini karya pertama yang aku pubblish di HSF. Happy reading, guys ^_^

.

.

~oOo~

Dentuman musik keras memekak pada ruangan tertutup itu. Bohlam lampu yang menjadi pusat pencahayaan hanya memberikan keremangan dengan perpaduan warna merah dan hijau. Seluruh mahluk di dalamnya bergoyang seirama musik dj. Tidak sedikit dari mereka hanya duduk setengah sadar.

Dua botol atau tiga botol, aku menghabiskan alkohol yang sudah kupesan. Kunetralkan lidahku yang terasa asam. Dentingan kecil terpantul saat gelas kaca kuletakkan sembarangan di meja bar ini.

Semuanya memang bergerak, tapi dalam pandanganku terlihat lebih bergerak. Banyak gadis feminim yang mendekatiku, tapi mood-ku saat ini sedang tidak tertarik.

Puas melicinkan tenggorokanku, aku beranjak pergi dari diskotik itu.

Angin malam yang dingin membelai rambutku yang sudah acak-acakkan. Aku disambut oleh langit yang pelit akan bintang.

Tak ada pergerakan di jalanan itu, membuatku bebas berjalan tanpa arah kemanapun. Rasanya aku seperti melayang bahkan tidak ada yang dapat menarikku atau membebaniku.

Langkahku terhenti saat samar-samar aku menangkap sesosok gadis berdiri di hadapanku. Aku mengerjapkan mata mencoba menormalkan pandanganku.

Seorang gadis yang mengenakan dress apik dengan syal yang melingkar manis di lehernya, kini tengah menatapku.

Aku menarik sudut bibirku menyadari siapa gadis itu.

“Cih, kau lagi,” ujarku datar.

Gadis yang bernama Suzy itu memajukan langkahnya ke depan agar dirinya lebih dekat denganku. Seperti biasa, dia akan melekukkan bibir tipisnya ke bawah dengan singkat.

“Akan kuantar kau pulang.”

Segera ku tepis tangan mungil yang akan melingkar pada lenganku. Ini bukan yang pertama kalinya, aku terbiasa dengan perlakuannya yang terlalu manis dan aku terbiasa memperlakukannya dengan kasar.

Hebatnya, dia tidak keberatan dengan kelakuanku yang sedikit tak normal menurut pandangan orang lain.

Aku meneruskan langkahku yang gontai, merasakan dunia malam yang selalu menjadi pelekat jiwaku.

Sementara Suzy mengikutiku di belakang. Dia tidak berani untuk bersanding di sebelahku.

Ketukan langkah kakinya yang berbalut high heels sudah tidak terdengar lagi.

Itu berarti dia terhenti saat kami tepat berada di depan sebuah rumah yang bahkan tak sudi disebut sebagai rumah. Tembok yang dimakan lumut dan satu buah pintu reyot yang sudah menjadi santapan rayap.

Saku celana yang kurogoh sedari tadi dengan asal, tidak membuahkan hasil. Sampai akhirnya Suzy mendekati dan meneliti pot kusam yang terletak di depan rumahku.

“Kau selalu lupa jika kau meletakan kunci rumahmu di dalam pot itu,” ujarnya sembari mengacungkan sebuah benda yang dapat membuka pintu rumahku.

Kenyataan dia lebih mengetahui hal itu daripada diriku sendiri, membuatku semakin merasa dia adalah benalu dalam urat nadiku.

Langsung saja ku sambar kunci dalam genggamannya dan memasukannya ke dalam celah pintu.

“Selamat malam, Minho.”

Aku dapat mendengarnya mengucapkan selamat malam berkali-kali. Dan setelah itu, aku menutup pintu rumah tanpa melihat air muka yang terlukis dalam dirinya.

-We are not doomed in the same way-

~oOo~

Secercah cahaya menusuk kelopak mataku. Dengan kepala yang terasa penat dan tulang-tulang yang pegal aku memaksa tubuhku untuk bangun.

Aku menguap lebar. Benda yang tidak ternilai berserakan di lantai ruang ini. Dan aku tidak terlalu mementingkan hal itu.

Setelah membasuh muka dan memakai jaket yang jarang kucuci, aku membuka pintu.

Lagi-lagi senyuman renyah itu menyambutku di depan.

“Pagi, Minho,” sapa Suzy melambaikan tangannya.

Sampai kapanpun aku akan melengos tanpa berkata apapun, seakan dia adalah angin lalu. Sementara dia akan tetap menjadi ekor di belakangku.

Tidak! Dia tidak boleh masuk dalam kehidupanku.

Ku hentikan langkahku secara mendadak dan membalikan tubuhku.

Suzy sedikit mengerucutkan bibirnya meminta penjelasan.

“Berhenti menggangguku.”

“Aku… mengganggumu?” tanyanya polos.

Semakin aku melihat kepolosannya semakin aku sadari dia terlalu jauh untuk digapai.

“Kau dan aku, memiliki dunia yang berbeda.”

Kini dia tercengang mendengar penjelasanku.

“Carilah kehidupanmu sendiri,” ujarku entah mengapa terdengar sedikit memohon. “… jangan melibatkan dirimu dalam dunia suramku. Gadis baik sepertimu tidak boleh terjerat di dalam kemusrikan.”

“Aku tidak merasa seperti itu,” sergahnya cepat dengan nada yang tinggi.

“Aku mencintaimu…”

Perkataan dari mulutnya yang seperti itu akan selalu membuncah kegelapan yang menghinggapiku. Namun seseorang seperti diriku tak pantas menerimanya.

“Hilangkan rasa itu,” ujarku menjadi dingin tanpa menatapnya.

Meski begitu aku dapat melihat bibirnya yang gemetar. Sedetik kemudian butiran air matanya membanjiri pipi semunya.

Andai jalan yang kutempuh tak berliku-liku, maka aku sudah menjadikanmu sebagai warna dalam hidupku. Namun kita berbeda… Sadarilah itu…

Dia menggeleng cepat sebagai tolakan atas perkataanku.

“Aku tidak akan melupakanmu,” isaknya. “Aku akan menunggumu.”

Mulutku terkunci rapat, tak bisa mengeluarkan sepatah kalimatpun. Hatiku yang terasa ngilu hanya mampu mengambil langkah untuk meninggalkannya.

-It’s the best decision for our lives

~oOo~

Entah ada angin apa yang menyerangku, karena aku malas untuk berjalan. Sehingga kini aku hanya duduk termenung di depan rumahku.

Sepertinya dia benar-benar melakukannya.

Aku memang bodoh! Aku tidak berhak merasa rindu akan senyuman yang sudah tidak kulihat selama tujuh hari terakhir ini. Sejujurnya, senyuman itu satu-satunya alternatif positif dalam hidupku.

Sesosok wanita bergaris tua menyadarkan lamunanku. Dia tersenyum pasrah padaku.

Tanpa kupersilahkan, wanita yang memakai pakaian elit dan perhiasan yang mempercantik dirinya itu, duduk di sebelahku.

“Aku… ibunya Suzy.”

Awalnya aku siap melancangkan kedinginanku, tapi mendengarnya memperkenalkan diri, membuatku mengurungkan niat itu.

“Kau yang bernama Minho bukan? Ada yang ingin kuberikan.”

Aku menatap tak yakin pada buku dan setangkai Bunga Lily yang disodorkan oleh Ibu Suzy.

“Suzy memintaku untuk menyerahkannya padamu, Minho,” ucapnya terdengar lemas.

Dengan enggan aku meraihnya. Dan ia segera menghilang dari hadapanku.

Beberapa pertanyaan menghantuiku saat ini.

Aku memutuskan untuk membuka terlebih dahulu buku yang bersampulkan bunga aster. Di sudut buku terukir nama ‘Lily Bae’.

Aku mulai membuka lembaran demi lembaran ini. Semakin mataku menghabiskannya, semakin gundah lubuk hatiku. Sampai akhirnya kututp rapat buku itu.

Jiwaku berteriak memuntahkan riak. Lelah terpenjara dan terpasung luka.  Dan meski aku tahu aku yang paling bersalah,  aku lelah dituduh dan dikutuk penyesalan.

Kupandangi setangkai Bunga Lyli yang berada di sampingku. Aku tidak berniat menyentuhnya. Memori masa lalu berkembang cepat di otakku.

Sesungguhnya, aku mengerti… aku… mengenalinya… Aku mengenalinya di masa kecilku. Waktu yang berjalan tanpa henti membuat perbedaan yang sangat jauh di antara kami. Paradigma hidup memang terkesan hina.

Saat kau hadir dalam hidupku terasa indah. Hangat bayangmu menyentuh jiwa temani sepi. Kini semua cintamu telah tiada. Meninggalkanku dalam kerenggangan. Senyuman yang selalu menjadi pembuka hariku, tidak akan bisa kulihat lagi.

Aku mendongak menatap awan yang cerah. Sepertinya lukisan alam tidak segaris dengan kondisiku saat ini.

Pandanganku mencoba menembus lapisan langit. Memejamkan mata merasakan cahaya matahari yang tak bisa pudar di siang hari.

Angin… bawalah aku pergi bersamanya…

~oOo~

Dear Minho…

Kau pernah bertanya padaku bukan? Mengapa aku menyukaimu? Itu karena kau adalah penyelamatku. Apa kau benar-benar tidak mengingatku? Mm… Bunga Lyli! Kau ingat?! Ah sudahlah!

Banyak luka di hatiku yang tak bisa di gores oleh pena. Luka yang tak sebanding dengan rasa bahagia yang kumiliki. Karena Tuhan memberiku kesempatan untuk merekam wajahmu, sebelum aku terbang tinggi nun jauh.

Minho… jika kau tak mencintaiku tak apa. Tapi ketahuilah kau satu-satunya orang yang kucintai setulus hati. Aku ucapkan terima kasih. Terima kasih karena sudah memberikan kelembutan di masa kecil.

Bae Suzy  ^_^

~~END~~

Berhubung author baru nongol di blog cetar membahana *alay* ini, boleh minta respon kalian kan, guys😉 Cukup isi kolom komentar di bawah. Thanks

10 responses to “a Different Path (Ficlet)

  1. Sesuatu trasa brharga saat tlah hilang, Suzy mnitipkan sbuah crita sndu d akhr hidupny karna sang namja yg tak prnah mnggubrisny, dan trnyata mautlah yg mampu mnyentil nurani namja tsb! Dan ia lah Minho yg kini hidup d rundung pnyesalan atas kprgian yeoja Lily yg tak trduga dan tak kan prnah kmbali k sisiny lagi!😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s