[FREELANCE] You Should Be Mine – Part 24 / END

fanfiction 5

Title : You Should Be Mine [Chapter 24—END]

Author: J.A.Y

Genre: Romance, school life

Main Cast:

  1. EXO-K Kai
  2. EXO-K Baekhyun
  3. Jung Ahyeon (OC)

Support Cast:

  1. EXO-M Kris
  2. Han Ji Eul
  3. EXO-K Chanyeol
  4. EXO-M Tao
  5. EXO-K Suho/Kim Joon Myeon
  6. EXO-M Chen/Kim Jong Dae

Rating: PG-16+

Length: 7,656 word

Disclaimer : FF ini milik saya! Dilarang keras mengcopy paste/plagiat FF ini. Ini FF pertama yang author buat. Jadi mungkin jika ada kekurangan tolong tinggalkan komentar agar author bisa mengkoreksi letak kesalahan nya dimana aja. FF ini juga sudah pernah diterbitkan di www.saykoreanfanfiction.wordpress.com  www.readfanfiction.wordpress.com www.kpopsotoybanget.wordpress.com  www.highschoolfanfiction.wordpress.com  dan di page Facebook https://www.facebook.com/EXOFanFiction?ref=ts&fref=ts Terimakasih~😀

Happy Reading ^^

***********

You clearly are there, you still remain there just the same
I remember the pictures that I forgot all this time, small tremblings gush out of my body
It’s a bit sad that I can’t go back to those times

How much did you change while the clock’s springs were turning
I turned the last page that is written about you
But I have no courage to read it, I will erase the sad words
Our story is not be over
Because we will meet again

 

—You Should Be Mine—

 

Bunga itu tetap berada di tempatnya. Pangkal batang hijaunya yang setengah terendam air menghambat proses pengeringan pada kelopak bunga itu, mungkin ini masih bisa bertahan beberapa hari lagi—setidaknya sampai kelopak bunga itu mulai layu. Kartu ucapan berukuran kecil juga ia gantung di salah satu bunga itu.

Untuk si pengganggu hidup Jung Ahyeon,

Sebentar lagi hari ujian mu kan? Apa kau merasa tegang? Belajarlah dengan giat. Kau harus lulus dengan nilai yang baik eoh? Tahun depan aku yang akan mengikuti ujian seperti mu. Jika kau tidak mau nilai mu tersaingi oleh ku di tahun depan, maka kau harus bisa mendapat nilai yang sempurna kali ini. Aku akan memberi mu hadiah jika kau berhasil. Fighting!

Sesekali tulisan itu yang membuatnya tersenyum. Memainkan pensil di sela jemari tangan kananya dan menyandarkan dirinya pada punggung kursi. Kepalanya sedikit ia miringkan, tangannya yang panjang mengeluarkan salah satu bunga itu dari vas nya. Salah satu kelopaknya sudah sangat layu dan warnanya sedikit gelap. Ia tidak akan membuang bunganya. Ditaruhnya kembali bunga itu kedalam, berbaur diantara bunga lainnya.

 

—You Should Be Mine—

 

“kau akan ikut? Aku sudah bilang pada Baekhyun, kau datang”

Joon Myeon memikirkannya lagi. Berlibur memang tidak ada salahnya. Justru itu adalah hal yang akan menyenangkan nanti. Ini musim semi. Siapa yang tidak mau melihat bunga-bunga yang bermekaran, langit yang cerah, bau rumput yang segar seperti di New Zealand, suara gulungan ombak yang mengalun indah, pasir pantai yang hangat, sunset dan lainya. Joon Myeon bahkan berfikir terlalu jauh untuk musim semi tahun ini.

“baiklah”

Senyum cantik itu terulas di wajahnya. Matanya berbinar dan ia memeluk laki-laki itu dari samping. Melingkarkan tangannya di pinggang besar Joon Myeon.

Namja itu tersenyum, ia juga ikut membawa tangannya merangkul gadis disebelahnya.

Dari jarak yang sedekat ini Seorin bisa mendengar detak jantung Joon Myeon yang teratur. Puncak kepalanya bersentuhan dengan dagu laki-laki itu. Ia sadar apa yang dilakukannya. Jika Joon Myeon mengira ini adalah gerakan tanpa sadar yang ia lakukan, maka laki-laki itu salah. Seorin sengaja melakukannya. Bahkan sangat lama sampai membuat dahi Joon Myeon berkerut karena Seorin tak kunjung melepas pelukannya.

“umm, jika seperti ini, kapan kau bisa menyelesaikan soal latihan mu?” ucap Joon Myeon.

Seorin menarik dirinya menjauh, “ya, setidaknya kau sudah mengisi energi ku kembali”, gadis itu tersenyum disaat Joon Myeon mengangkat kedua alisnya. Ia menaruh buku latihan itu diatas pangkuannya. Pensil yang digunakannya siap mencoret deretan angka-angka perhitungan yang akan menghasilkan sebuah jawaban pasti.

Alis Joon Myeon turun dengan sendirinya, melihat wajah serius Seorin yang lurus dengan lembaran soal. Tangannya terangkat dan mengusap puncak kepala gadis itu, turun sampai ke ujung helaian rambut Seorin.

Gadis itu menoleh dengan alis yang berkerut, “kenapa?”

“tidak papa”

Merasa tidak ada yang penting, Seorin kembali melanjutkan hitungannya yang sempat tertunda karna Joon Myeon.

Ya, Joon Myeon tersenyum—lagi, menyandarkan punggungnya pada sofa yang mereka duduki. Kapan ia bermimpi seperti ini?

Tidak. Joon Myeon tidak mau menganggap ini mimpinya yang indah. Sekedar sebagai penghias tidur malamnya dan ketika Joon Myeon bangun, ia akan tersenyum-senyum sendiri sambil mengingat mimpi itu layaknya sebuah film.

Ini nyata dan Joon Myeon sadar itu. Beberapa hari yang lalu, saat ia kembali menginjakkan kedua kakinya di Seoul, Seorin sudah tersenyum kepadanya. Ya, Seorin yang menjemputnya saat itu. Pertama kali angin kota Seoul menerpa wajahnya dan itu saat itu juga Seorin tersenyum. Sejak pertama bertemu gadis itu, Joon Myeon belum melihat senyum Seorin yang begitu tulus dan ramah kepadanya. Cantik dan Joon Myeon semakin menyukainya.

 —You Should Be Mine—

 

Baekhyun menutup beberapa bukunya diatas meja. Menyelipkannya diantara buku lainnya di dalam rak. Alat tulisnya ia masukkan kedalam kotak pensil dan memeriksa apakah sudah lengkap atau belum. Oh, Baekhyun tidak mau saat ujian itu berlangsung ia harus dilanda kepanikan karena salah satu alat tulisnya yang tertinggal.

Setelah memeriksanya, ia memasukkan kotak itu kedalam tas. Setelah merasa sudah tidak ada lagi yang harus dilakukannya, ia beranjak ke tempat tidurnya. Meraih selimut dan menutup tubuhnya sendiri. Setidaknya ia harus memiliki waktu tidur yang cukup untuk besok. Dan sebelum mata itu terpejam, tangannya meraih ponselnya diatas meja nakas. Mengetikkan sebuah pesan singkat, mengirimnya, dan menaruhnya kembali. Getaran ponselnya terdengar, tapi Baekhyun sudah terlanjur menutup matanya. Bibir tipisnya membentuk senyum. Ia akan membaca balasan pesannya keesokan pagi.

To: Ahyeon

Subject: —

Bisa kau memberikan ku semangat?

 

—You Should Be Mine—

 

Walau Ji Eul tidak tau apakah Luhan akan membalasnya atau tidak, tapi ia tetap melakukannya. Berkali-kali ia menghapus pesan itu dan menggantinya dengan kata yang baru. Mungkin ia tidak sadar, tapi sudah hampir sepuluh kali ia mengubah pesannya itu. Luhan tidak memberitahunya kapan pria itu akan melaksanakan ujiannya. Mungkin jika Luhan disini, Ji Eul sudah memberikan semangat untuk pria itu.

To: Luhan

Subject: —

Aku tidak tau kapan kau mengikuti ujian mu? Tapi jika kau masih disini, mungkin kau akan melaksanakannya besok haha. Kapan pun itu aku akan mendoakan mu dari sini. Dan apa kau sangat sibuk? Ahkir-ahkir ini kau tidak pernah mengangkat panggilan ku. Baekhyun sunbae mengajakku liburan bersama untuk menemani Ahyeon nanti. Ia juga mengajak Seorin dan pacar barunya itu. Kau tau? Banyak yang berubah disini. Ahh, apa aku terlalu banyak bercerita haha? Mungkin karena ini yang tidak kau ketahui disana. Tapi, bisakah kau kembali? Aku merindukan mu Luhan

Setelahnya Ji Eul langsung mengirim pesan itu sebelum ia berubah pikiran. Ia menatap layar ponselnya selama hampir sepulu menit. Tapi tidak ada respon dari Luhan. Pesannya terkirim dan Luhan mungkin sudah membacanya disana—atau juga tidak. Ia menghela nafas panjang, meletakkan kembali ponsel itu diatas meja.

Ia segera menutup mata. Tapi kedua telinganya masih berusaha menangkap suara di sekitarnya. Ya, memang tidak ada salahnya jika ia tetap menunggu ponselnya yang tiba-tiba bergetar dan ada pesan singkat didalamnya. Tapi sejauh ini tidak ada balasan dari Luhan.

 

—You Should Be Mine—

 

Haidian, China.

Ia tersenyum. Ingin sekali jemari tangan kanannya membalas pesan itu. Tapi ia fikir belum saatnya. Biar saja Luhan membiarkan gadis itu yang selalu merindukannya. Toh, setelah ini ia mempunyai rencana setelah masalah ini berahkir.

Apa yang ada dibayangannya?

Luhan sudah bisa membayangkan Ji Eul yang akan terkejut nanti. Tapi itu masih ada didalam bayangan Luhan. Masih ada beberapa yang harus diselesaikan disini. Sampai hari itu tiba, Luhan janji Ji Eul lah orang pertama yang ia temui. Memeluknya dan menyembunyikan wajahnya di lekukan leher gadis itu.

Ya, Luhan merindukannya.

Masalah surat wasiat neneknya memang tidak bisa di selesaikan begitu saja. Orang lain mungkin akan tertekan jika berada di posisinya? Luhan sudah dipersiapkan sebagai calon penerus dan ia tidak bisa menolaknya. Kelak dihari-hari selanjutnya, mungkin Luhan tidak akan mungkin memiliki waktu luang seperti sekarang. Jadi ini sebabnya neneknya bilang ia tidak akan bisa kembali ke Seoul. Ya, Luhan mengerti itu.

Ia mendekatkan ponsel ke telinganya. Mendengar nada sambung yang mulai terdengar dari orang yang dihubunginya.

“umm?” gumam orang diseberang telfon.

“Baek kau tidur?”

 “siapa ini?”

Luhan hampir tidak mendengar dengan jelas suara Baekhyun. Laki-laki bergumam sangat pelan. Oh, mungkin Luhan salah menghubungi pria itu di jam seperti ini. Baekhyun pasti sudah tertidur lelap sekarang.

“ini aku”

“ohh, maaf aku tidak melihat namamu hyung”

“tawaran mu masih berlaku?”

“ya, jadi kau mau?”

“kapan?”

“minggu ahkir bulan November”

“baiklah, aku akan kesana langsung”

“terima kasih hyung, aku fikir kau sudah melupakan kami”

“aku yang harus berterima kasih. Terima kasih Baek sudah memberitahu ku”

Tidak terdengar lagi jawaban Baekhyun. Luhan melihat layar ponselnya yang masih tersambung dengan panggilan Baekhyun. Ya, mungkin laki-laki itu tertidur. Luhan tersenyum kecil dan memutuskan panggilannya.

Ia berjalan mendekati kalender besar yang menggantung di kamarnya. Sebuah bulatan besar berwarna hitam melingkar sempurna di tanggal 30. Ia menuliskan beberapa kata di bawah tanggal dengan tulisan China nya, yang artinya—hari keberuntungan.

 

—You Should Be Mine—

 

3 minggu kemudian…

Ini adalah hari pelepasan untuk siswi kelas 3 SMA Cheungdam. Semuanya murid duduk sesuai dengan nama nya masing-masing yang tertempel di kursi lipat itu. Ada para undangan dari orang tua murid yang datang membawa buket bunga untuk anaknya, ada juga undangan dari perwakilan murid lain, dan ada beberapa murid tingkat 1 dan 2 sebagai perwakilan yang menghadiri acara tersebut. Ini acara khusus yang diadakan SMA Cheungdam yang diadakan setiap tahunnya. Setiap ada yang pergi pasti ada yang datang.

Kai berkali-kali melihat ke belakang, tepatnya di depan pintu masuk. Mulutnya menggumamkan kata-kata yang ia sendiri juga tidak mengerti. Ya, dia menunggu seseorang. Walaupun Kai juga tidak tau, apakah orang itu akan datang atau tidak?

Sejak hari itu, ia tidak pernah bertemu lagi dengan gadis itu. Dan sampai saat ini, ia juga belum bertemu dengan Ahyeon. Menghubungi gadis itu, juga tidak pernah Kai lakukan. Bahkan sampai acara ini hampir selesai, orang ia tunggu belum juga menampakan batang hidungnya.

Seseorang menepuk pundaknya dari belakang, ia menoleh kearah orang itu.

“jangan sampai tertinggal pesawat untuk besok”

“ya, aku tau. Jam 8 pagi di bandara”

“baguslah, aku hanya takut kau bangun kesiangan untuk besok”

“tidak. Lagipula ini liburan ku yang terahkir disini”

Meskipun Baekhyun tidak mengerti dengan kalimat terahkir Kai, tapi laki-laki itu tetap tersenyum, menepuk bahu Kai yang sedikit lebih tinggi darinya.

“baiklah, aku hanya mengingatkan mu”

Ada beberapa yang berubah disini. Dan entah sejak kapan mereka tidak menyadari itu. Kai yang mulai merespon Baekhyun walaupun ada sedikit perasaan—terpaksa. Tao, juga ikut bergabung bersama. Ini karena Tao ahkir-ahkir ini lebih dekat dengan Ji Eul, jika ada Ji Eul mungkin ada Ahyeon juga, dan jika ada Ahyeon secara otomatis Baekhyun. Ya, dan dari Baekhyun lah ia mengenalkan Tao ke teman-temannya. Bahkan sekarang Tao lebih mengakrabkan diri dengan Sehun dan Kris.

“Baekhyun-a, aku ingin mengenalkan mu padanya” ucap Seorin yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Baekhyun.

“dia juga datang?”

“ya, selain orang tua ku, dia juga datang”

Baekhyun mengerti. Ia mengangguk dan mengikuti tarikan Seorin ke tempat duduk para undangan. Mungkin lebih tepatnya, Seorin akan mengenalkan Baekhyun pada Joon Myeon. Hanya satu kali mereka pernah bertemu, dan itu didalam situasi yang tidak baik dan rumit.

“oppa, ini Baekhyun”

Joon Myeon sedikit membungkuk hormat begitu juga dengan Baekhyun. Saling bertukar senyum dan sapaan-sapaan ramah layaknya orang yang baru bertemu.

“senang hyung bisa ikut nanti” ucap Baekhyun.

“terima kasih karena juga mengundang ku”

Percakapan-percakapan itu di mulai ketiganya. Baekhyun, Seorin dan Joon Myeon. Baekhyun mudah mengakrabkan dirinya dengan Joon Myeon, dan itu membuat Seorin menarik nafas lega. Menariknya lagi, Kris ikut bergabung bersama mereka. Awalnya Kris hanya ingin berbicara dengan Baekhyun, tapi karena Seorin yang mengajaknya berbicara, jadilah Kris lupa akan tujuannya.

Di tempat lain Sehun dan Hyesung justru menghabiskan sisa waktu mereka di sekolah ini. Berkali-kali angin membuat rambut Hyesung sedikit berantakan dan membuat tangannya itu tidak lepas dari helaian rambutnya. Sehun yang mengajaknya ketempat ini.

Sehun mengeluarkan tangannya dari dalam saku dan berjalan kebelakang gadis itu.

“mana ikat rambut mu?”

Hyesung yang sebelumnya mengikuti pergerakan Sehun di belakangnya, ahkirnya mengeluarkan ikat rambut dari dalam saku blazernya.

“ini”

Sehun mengambil ikat rambut itu, tangannya mulai mengambil alih menyentuh rambut gadis itu. Hyesung awalnya tidak mengerti, dan sebelum ia bertanya, Sehun sudah memberikan jawabannya.

Sehun mengumpulkan rambut Hyesung yang kecoklatan di tangannya, sedikit merapikannya dan mengikatnya dengan ikat rambut Hyesung. Tangan Hyesung meraba rambutnya yang diikat oleh Sehun, sejujurnya ia tidak yakin Sehun bisa melakukannya dengan benar.

“jangan di sentuh, kau bisa membuatnya berantakan nanti” ucap Sehun.

Hyesung berbalik kearah Sehun saat pria itu selesai mengikat rambutnya, “kau bisa?”

“itu mudah untukku” ucap namja itu sambil tersenyum kecil. Ia kembali berdiri di sebelah Hyesung dan menumpukan kedua sikunya pada tembok pembatas.

“terima kasih”

Sehun terkekeh kecil, “apa besok aku harus menjemput mu?”

“tidak usah, kita bertemu di bandara bersama yang lain”

Sehun merangkul bahu gadis itu dan membawanya lebih dekat ke tubuhnya. Hyesung sedikit terkejut, tapi saat ia mengadah melihat wajah namja itu, Sehun hanya tersenyum. Ya, secara otomatis itu membuat Hyesung tersenyum.

“aku akan merindukan sekolah ini”

“aku juga”

“aku akan merindukan mu”

“aku tidak”

“apa?”, Hyesung menjauhkan dirinya dari rangkulan Sehun. Sedangkan pria itu hanya tersenyum dengan bodohnya.

“aku mendaftar di universitas yang sama dengan mu” ucap Sehun.

Awalnya Hyesung terkejut. Tapi perlahan ekspresi wajahnya itu berubah. Mungkin antara senang dan tidak percaya. Karena itu, Hyesung lupa memegang kendalinya. Ia dengan cepat memeluk Sehun dan membuat pria itu terkejut. Tidak bertahan lama, Hyesung segera melepaskan pelukannya.

Saat pelukannya mulai merenggang, Sehun dengan cepat menahan tangan Hyesung. Menempatkan pandangannya di iris hitam Hyesung dan menatapnya lekat, membuat sang pemilik mata itu tertegun. Karena pandangannya Sehun lah yang sudah menguncinya. Dengan perlahan Sehun mendekatkan dirinya.

Semakin hangat nafas Sehun yang gadis itu rasakan dipipinya. Dan, ia bahkan tidak tau sejak kapan Sehun sudah mengunci bibirnya dengan bibir mungil milik namja itu. Semuanya terjadi cepat dan membuat sesuatu yang akan meledak didalam dirinya. Detik itu juga Sehun mulai bergerak. Ini diluar pemikirannya.

Kedua lutut Hyesung mulai melemas ketika Sehun mengubah ciumannya menjadi lumatan-lumatan kecil. Sehun bahkan tidak mengerti kenapa ia bisa semahir ini, padahal ini adalah first kissnya. Yang ia ingat adalah semua petunjuk dari Kai tentang caranya berciuman. Ya, mungkin saja Sehun sudah gila. Karena rasa penasarannya, ia bertanya kepada Kai beberapa hari yang lalu, membuat Kai tertawa keras dengan pertanyaan yang diajukannya.

Ada yang salah?

Mungkin karena Kai terlalu terkejut saat itu. Ia tidak pernah membayangkan sebelumnya Sehun akan bertanya seperti itu.

Sehun menarik dirinya perlahan dan mulai membuka kedua matanya. Keduanya saling mengatur nafas dengan hati-hati. Sehun berdeham kecil sesekali mencuri pandangannya kearah Hyesung. Mungkin karena pertama kalinya, keduanya sibuk mengusir kecanggungan dengan caranya masing-masing. Tapi baik Sehun maupun Hyesung pasti tau, wajah keduanya saling memerah sekarang.

 

—You Should Be Mine—

 

Berkali-kali ia melebarkan rok dress kuning muda seatas lututnya didepan cermin. Ia juga merapikan sedikit rambutnya yang ia gelombangkan tadi sore. Setelah dirasanya tidak ada yang kurang, Ahyeon mengambil tas kecil berwarna putih dan menyampirkannya di bahu kirinya, mengambil buket bunga mawar yang ada diatas meja rias dan mencium bau harum dari bunga itu.

Apa ia terlihat seperti orang yang akan berkencan?

Tidak. Ahyeon tidak akan melakukan itu malam ini.

Ia menutup pintu kamarnya dan menuruni anak tangga, “eomma aku pergi” teriaknya.

“jangan pulang malam sayang” sahut eommanya dari dapur.

Tidak ada sahutan lagi dari Ahyeon. Entah ia dengar atau tidak, Ahyeon sudah terburu-buru menyuruh ahjussi Kim untuk mengantarnya ke suatu tempat.

Sampai ditempat tujuannya, ia keluar dari dalam mobil dan merapikan sedikit dressnya. Yang ia mau adalah ia terlihat cantik dan manis didepan namja itu. Ya, Ahyeon mungkin sudah kehilangan akal sehat nya malam ini. Berhari-hari yang lalu ia sengaja menahan dirinya untuk tidak menemui Kai lebih dulu.

Ia tau namja itu pasti sibuk. Tapi hari ini adalah hari pelepasan Kai disekolah. Ahyeon tidak bisa datang dan mengucapkan kata selamat secara langsung didepan namja itu. Ia tidak mempunyai undangan sebagai perwakilan kelas, padahal sejujurnya Ahyeon sangat ingin datang ke acara tersebut.

“omona, Ahyeon-a”, nyonya Jung sedikit terkejut melihat tamunya malam ini.

“annyeonghaseyo ahjumma” sapanya tersenyum.

“kau cantik sekali sayang”

“benarkah? aku mempersiapkan ini berjam-jam yang lalu”

“eihhh, ahjumma rasa Kai akan terkejut melihatnya” goda nyonya Jung, “masuklah, langsung saja kekamarnya”

“ne”, Ahyeon membungkuk hormat, “tidak papa?”

“ya, pergilah. Beri dia kejutan” nyonya Jung sudah mendukungnya seratus persen. Wanita paruh baya itu bahkan menuntun Ahyeon melangkahi anak tangga didepannya.

Sebelumnya ia sedikit gugup. Tapi senyum nyonya Jung yang sudah mendorongnya untuk lebih percaya diri. Ahyeon mengambil nafas dalam dan meyakinkan dirinya. Semakin dekat dengan pintu kayu kamar Kai, ia semakin mengeratkan buket bunganya.

Ketika sampai didepan pintu, ia mengetuk pelan. Sampai 3 kali tidak ada yang meresponnya, ia membuka pintu itu sedikit.

Mengintip sedikit kedalam sebelum ahkirnya dengan sempurna ia memasukkan dirinya kedalam kamar. Ia menutup pintu kamar dan mengedarkan pandangannya kesekeliling kamar. Suara percikan air terdengar dari ruangan lain dikamar itu. Ahyeon tau pria itu sedang ada didalamnya.

Baiklah, mungkin menunggu sebentar tidak ada salahnya. Pandangannya mengedar, sedikit tertarik dengan objek yang lurus dengan matanya.

“eoh?”

Ia menghampiri vas bunga yang ada di atas meja.

“jadi dia menyimpannya?”

Ia melihat-lihat bunga yang sudah hampir layu itu. Bahkan beberapa diantara bunga itu, warnanya sudah tidah semerah bunga segar. Sedikit menghitam dan kelopaknya juga sudah turun.

Kai keluar kamar mandi dengan hanya memakai celana santai selututnya—tanpa mengenakan baju atasan. Rambutnya yang basah tertutup handuk kecil dan memperlihatkan dahinya. Punggung dan dadanya masih terdapat bulir-bulir air yang perlahan turun menyusuri tubuhnya. Mungkin karena Kai tidah menghandukki tubuhnya dengan benar.

Ia masih berdiri diambang pintu melihat punggung gadis itu yang sedikit membungkuk mencium aroma bunga yang diletakkannya didalam vas.

Merasa ada yang berdiri dibelakangnya, Ahyeon kembali mengegakkan tubuhnya. Ia merasa hawa lain yang ada didalam kamar ini selain dirinya. Ahyeon berbalik kebelakang dan hampir berteriak jika ia tidak langsung menutup mata dengan buket bunganya.

Terlihat sekali jika ia sedang menahan teriakannya saat ini. Ia pun berbalik lagi, membuka mulutnya sedikit dan membuang nafasnya lewat celah bibirnya.

“huuuuu~”

Sebelumnya Kai tersenyum. Tapi senyum itu segera turun saat Ahyeon membalik tubuh kearahnya. Ya, Kai hanya tidak mau wanita itu melihat ekspresi yang berubah dari sebelumnya.

“sejak kapan?”

“li,,, lima menit yang lalu”

Dan dengan bodohnya, tanpa mengenakkan pakaian—Kai berjalan mendekat yeoja itu.

“bunga itu untukku lagi?”

“chukkae”

Tanpa membalikkan tubuhnya, Ahyeon memberikkan bunga itu kepada Kai.

“lihatlah keorangnya saat kau memberikan sesuatu untuknya”

“kau tidak berpakaian. Aku tidak mau melihatnya”

“tapi aku mengenakkan celana” ucap Kai polos.

Terdengar helaan nafas kasar dari gadis itu. Ia perlahan membalikkan tubuhnya menghadap Kai dengan ragu. Matanya masih terpejam dan ia mengulurkan tangan, memberika buket bunganya pada Kai.

“selamat untuk kelulusan mu”

Kai tersenyum kecil, berjalan menuju lemari pakaiannya tanpa mengindahkan gadis itu.

Oh, tangannya sudah hampir jatuh jika ia tidak bertahan. Ia mengulurkan tangannya berharap Kai akan mengambil bunganya. Tapi apa? Kai tidak segera mengambil bunga ditangannya.

Dahinya sudah berkerut ketika mendengar suara deritan pintu lemari yang terbuka. Ahyeon membuka matanya sedikit, tangannya ia turunkan dan membuka matanya sempurna. Eihh, jika tau Kai seperti itu untuk apa sejak tadi tangannya terus terulur seperti orang bodoh.

Dengan punggung yang terbuka, Kai mengambil pakaian didalam lemarinya. Mungkin ia tidak tau, tapi perempuan dibelakangnya sedang mengaggumi bentuk tubuhnya dari belakang. Kai memakai pakaian santainya dan menutup lemari. Pantulan gadis itu terlihat dari cermin lemarinya. Kai menoleh kebelakang dan tersenyum miring.

“kenapa? Kau takjub?”

“apa?”

Kai berjalan mendekati gadis itu masih dengan rambut basahnya. Ughh, Ahyeon bahkan hampir tidak berkedip melihatnya. Kai terlihat—tampan—jika seperti itu.

Ahyeon berdeham pelan dan membuang pandangannya kearah lain. Ia memegang tengkuknya canggung dan memberikan bungannya kepada Kai.

“ini, bunganya untuk mu”

Mungkin wajahnya mulai memerah, Ahyeon segera berjalan keluar kamar Kai sebelum laki-laki itu menyadari ada semburat merah di pipinya sekarang.

“tunggu”, Ahyeon berbalik saat Kai menahan tangannya. Melihat Kai dengan sedikit terkejut.

“a,,, apa?” ucapnya terbata. Degup jantungnya berdetak diatas normal dan atmosfir panas mulai mengelilingi tubuhnya. Ini aneh, padahal lantai kamar ini terasa dingin karena Kai selalu menurunkan suhu pendingin ruangannya.

Kai tersenyum—menggoda Ahyeon. Ia memajukkan tubuhnya dan membuat gadis itu segera mengambil jarak menjauhinya.

“keringkan rambut ku”

Ya, kalimat itu cukup membuat Ahyeon terhenyak. Kai membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah hairdryer, memberikan kepada Ahyeon dengan polosnya.

Ahyeon tidak tau sejak kapan ia menuruti perintah namja itu dengan mudahnya. Dengan lebih bodohnya lagi, ia begitu saja mengikuti tarikan tangan Kai yang membawanya duduk berhadapan dengan namja itu.

“ayo keringkan” ucap Kai.

Awalnya Ahyeon ragu. Tangannya terulur sangat tinggi mencapai puncak kepala Kai. Ya, itu wajar. Karena Kai lebih tinggi dari gadis itu.

Ahyeon fikir ini akan melelahkan untuknya jika seperti ini. Ia berdiri dan dengan cepat Kai menahan tangannya lagi. Mungkin ia fikir Ahyeon tidak mau melakukanya.

“kau tinggi. Mungkin jika aku berdiri itu lebih baik”

Kai tersenyum. Oh, ia fikir Ahyeon tidak akan melakukannya. Ia menarik gadis itu dengan cepat dan membiarkan Ahyeon duduk dipangkuannya.

Ahyeon hampir meledak saat ini. Sedangkan pria itu hanya menyeringai jahil. Dirinya begitu dekat dan ia bisa melihat wajah Kai dari sedekat ini. Dengan detak jantungnya yang masih berdegup kencang, Ahyeon mulai menyentuh rambut kecoklatan Kai dengan lembut. Surai rambut itu mulai tersemat diantara jemari tangannya. Ahyeon menyalakan mesin hairdryer nya dan mengeringkan rambut Kai dengan hati-hati. Bau shampo yang dipakai pria itu sudah menyeruak masuk ke indra pernafasannya.

Kai memeluk pinggang gadis itu dengan satu tangannya, seakan tidak ingin gadis itu berada jauh-jauh darinya. Tangannya yang satunya lagi ia gunakan untuk memainkan rambut panjang kecoklatan Ahyeon. Ini yang Kai rindukan dari dulu.

“kau cantik”

Ahyeon tetap memfokuskan tangannya yang bermain dengan helaian rambut Kai. Pipinya masih terasa panas dan semakin panas. Dia hanya tidak ingin menunjukan wajah bodohnya didepan pria itu. Oh, apa wajahnya semakin memerah sekarang?

“kau wangi baby”

Dari jarak sedekat ini, siapa yang tidak bisa mencium bau parfum yang lembut dari gadis itu. Kai tau bagaimana caranya memuji. Ia bahkan tidak merasa keberatan sama sekali dengan berat tubuh gadis itu yang bertumpu dipangkuannya.

Ahyeon hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan ini. Semakin ia berdekatan dengan Kai semakin sulit juga untuk mengendalikan dirinya. Setidaknya ia tidak mau salah tingkah di depan namja itu.

Rambut Kai hampir kering seluruhnya, tapi ia menghentikan tangan Ahyeon yang masih bermain dengan rambutnya sekarang. Kai mengambil hairdryer yang dipegang gadis itu dan menaruhnya diatas meja nakas.

Ahyeon tidak tau apa yang dilakukan Kai selanjutnya. Namja itu hanya diam dan terus tersenyum kepadanya. Gadis itu menurunkan pandangannya saat Kai mulai melingkarkan tangan di pinggangnya.

“aku akan merindukan mu nanti”

Ahyeon bisa melihat mata Ka yang berubah sendu. Senyum itu menghilang dan ekspresi wajahnya berubah menjadi ekspresi yang Ahyeon bisa tebak sebelumnya. Jika Ahyeon tidak salah liat mata Kai mulai berkaca-kaca menatapnya. Ia bisa melihat ada perasaan kacau disana.

Tapi apa yang ada dipikiran laki-laki itu?

Kai seakan menarik gadis itu kedalam dunianya. Ahyeon bisa merasakannya. Ia bahkan ikut membalas tatapan Kai yang dalam kepadanya. Laki-laki itu bahkan sudah mempersempit jaraknya. Kepalanya sedikit menengadah dan hampir menyentuh bibir gadis itu. Hampir sedikit lagi ia bisa menyentuhnya, tapi Kai menghentikannya. Ia justru hanya mengecup sekilas sudut bibir Ahyeon dan menarik wajahnya kembali.

Kai menghancurkan suasana romantis yang telah ia buat. Ia berdeham kecil dan membantu Ahyeon berdiri dari pangkuannya.

“ahhh, kau sudah makan? Bagaimana kalau kita temui eomma dan appa dibawah?”

Dengan sedikit canggung Kai keluar dari dalam kamarnya. Ya, Ahyeon melihat nya. Laki-laki itu sedang menginginkannya. Ada ekspresi kekecewaan diwajah Kai. Tapi bukan hanya Kai yang kecewa—gadis itu juga. Apa yang Kai rasakan sama dengan yang Ahyeon rasakan. Mereka sama. Sama-sama menginginkan satu sama lain. Tapi sayangnya mereka masih terjebak dengan perasaan naifnya masing-masing.

 

—You Should Be Mine—

 

Pagi yang cerah untuk memulai awal liburan mereka. Saling menunggu kedatangan yang lainnya dengan benda yang bisa membuat mereka sibuk di tempat duduk nya masing-masing.

Baekhyun duduk sambil berkutat dengan ponselnya, menghubungi temannya yang belum datang. Ahyeon duduk masih dengan perasaan kalut sambil memainkan ujung dress nya. Seorin dan Joon Myeon mungkin sibuk mengambil gambar bersama dengan kamera. Ji Eul seakan tenggelam dengan suasana hatinya sendiri. Kris, Sehun dan Chanyeol sibuk membicarakan rencana yang akan mereka lakukan nanti saat tiba di pulau Jeju, Hyesung sibuk dengan barang-barangnya sendiri. Tao tidak bisa ikut karena ia harus mengurus pendaftaran sebagai mahasiswa baru di salahsatu universitas di China. Tinggal menunggu satu orang lagi—yaitu Kai.

Tidak lama Baekhyun berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri seseorang yang telah lama ia tunggu.

“ahkirnya kau datang”

“belum terlambat kan?”

“belum”, Baekhyun melihat jam tangannya, “sebaiknya kita masuk sekarang”

Baekhyun memberikan kode kepada yang lain agar segera bersiap-siap. Mereka berdiri dan menyeret kopernya masing-masing. Baekhyun menghampiri Ahyeon dan membantu gadis itu yang akan menyeret kopernya mengikuti yang lain.

“ahh, aku bisa sendiri” ucap Ahyeon.

“jika butuh bantuan bilang padaku” tukas Baekhyun.

Sejauh ini Ahyeon mengerti. Ia menyeret kopernya sendiri dan menghampiri Ji Eul.

Didalam pesawat, Seorin duduk dengan Joon Myeon, Kris dengan Chanyeol, Sehun dengan Hyesung, Ji Eul dengan Ahyeon dan Kai dengan Baekhyun. Baekhyun mengawasi Kai dan Ahyeon sesekali melirik satu sama lain. Sehun sibuk mendengarkan cerita Hyesung tentang rencana masa depannya. Seorin dan Joon Myeon mungkin sudah tertidur dengan romantisnya, Seorin bersandar pada bahu Joon Myeon, dan Joon Myeon menumpukan kepalanya di atas kepala Seorin sambil berpegangan tangan. Ji Eul masih sibuk dengan memikirkan Luhan.

—You Should Be Mine—

 

Sesampainya dihotel, semua menuju kamarnya masih-masing. Ada beberapa jam lagi untuk mereka sekedar bermain-main sebelum matahari terbenam di ujung lautan. Masih dengan pasangan yang sama saat berada di pesawat, kecuali untuk pasangan Sehun Hyesung dan Joon Myeon Seorin. Mereka tidak sekamar tentunya. Seorin dengan Hyesung dan Joon Myeon dengan Sehun.

Baekhyun membuka pintu kamar dan memasukkan kopernya, menaruhnya di atas tempat tidur. Kai masuk dengan melihat dekorasi kamar yang luas itu dengan nuansa putih. Kai meninggalkan kopernya dan berjalan ke balkon kamar yang luas. Begitu namja itu membuka pintu kaca yang besar, angin musim semi langsung menyapa kulit wajahnya. Kai menumpukan siku tangannya di pagar pembatas dan melihat jauh kedepan, tepatnya ke pantai Jungmun. Ya, untungnya hotel mereka adalah yang terdekat dari pantai. Hotel ini adalah salah satu milik bibi Baekhyun.

Baekhyun menghampiri Kai dan berdiri disebelahnya. Ia menyadari perubahan hubungan buruk mereka ke yang lebih baik. Bahkan saat Baekhyun mengajak Kai sebagai teman sekamarnya, pria itu setuju.

“kau yakin akan pergi?”

Kai menoleh kearah Baekhyun dan tersenyum kecil. Matanya sedikit menyipit karena terpaan angin yang berhembus terlalu kencang.

“ya, aku bahkan sudah membawa pakaian ku semuanya”

Baekhyun mengikuti posisi Kai, sikunya juga ia tumpukan diatas pagar pembatas.

“lalu bagaimana dengan Ahyeon? Dia tau?”

Kai bukanlah pria yang mempunyai pikiran dangkal. Tentu ia juga memikirkan semua tindakannya sampai ke batas akar, memastikan bahwa tidak akan menyesal.

Dan tanpa jawaban apapun, Kai hanya menepuk pundak Baekhyun dan berlalu pergi. Baekhyun tidak tau apa maksudnya, tapi pandangannya hanya mengikuti Kai sampai namja itu menghilang dari balik pintu.

Ditempat lain, Ji Eul berjalan-jalan disekitar bibir pantai dan membiarkan rambutnya yang panjang bersapaan lembut dengan angin.

Tau apa yang dibawa gadis itu ditangannya?

Ya, novel kisah Juliet Romeo yang pernah ia ceritakan kepada Luhan. Ia sudah membaca hampir kehalaman terahkir buku itu.

Ia berjalan mendekati ombak. Ujung jari kakinya hampir menyentuh dinginnya air lautan. Sebelum ia benar-benar membuat kakinya basa, Ji Eul menghentikan langkahnya.

“aku merindukan mu Han Ji Eul”

Tangan lain memeluknya dari belakang. Ji Eul mematung saat orang itu menaruh dagunya diatas bahu kanannya. Punggungnya yang mulai hangat karena bersentuhan langsung dengan tubuh si pemeluk.

Ji Eul ingin berbalik kebelakang tapi tubuhnya ditahan oleh orang itu. Suara bisikan tadi, Ji Eul sangat mengenalnya. Pandangannya memburam dan air matanya jatuh tepat diatas tangan orang itu. Ji Eul tidak bisa menahannya lagi sebelum matanya semakin memanas.

Orang itu merasakan tangannya yang mulai basah, dia tau gadis ini pasti menangis. Ia semakin mengeratkan pelukannya kepada Ji Eul. Bahu Ji Eul juga semakin bergetar dan gadis itu menjatuhkan novelnya diatas pasir yang mungkin sudah basah karena gulungan ombak.

“aku merindukanmu” bisiknya lagi.

Luhan membalikkan tubuh Ji Eul perlahan.

Oh, Ji Eul tidak percaya ini. Wajahnya yang selalu ia rindukan ada dihadapannya. Mata itu, hidung itu, bibir itu, semuanya masih sama saat Ji Eul terahkir melihatnya. Tatapan itu yang selalu Ji Eul inginkan. Usapan ibu jari lelaki itu yang menyentuh pipinya, mencium matanya yang basah.

Luhan mencium Ji Eul yang masih diam dan yeoja itu hanya semakin menangis. Ketika Luhan mulai bergerak, Ji Eul memejamkan kedua matanya. Tangan Luhan memeluk erat dan Ji Eul membalasnya.

Ji Eul harap ini bukan ilusinya. Ciuman Luhan begitu nyata dan hangat. Sarafnya tidak bisa bekerja dengan benar ditempatnya. Ketika Luhan mulai memperdalam ciumannya, Ji Eul sadar.

Pria itu kembali sekarang.

Ia tidak bisa berfikir bagaimana Luhan bisa berada disini—didepannya. Ya, ia tau ini bukan mimpi. Ini nyata.

Luhan menyudahi aktivitasnya. Mereka saling mengambil nafas masing-masing. Pria itu tersenyum kecil dan memeluk Ji Eul erat. Tidak banyak yang ia jelaskan, tapi ia rasa Ji Eul sudah mengerti semuanya. Gadis itu menyembunyikan wajahnya di bahu Luhan, membiarkan pakaian pria itu yang mulai basah.

—You Should Be Mine—

 

Keadaan perlahan membaik, entah bagaimana jalannya.

Luhan memakan potongan semangkanya dan melambaikan tangan saat Baekhyun dan yang lainnya datang. Begitu santai, Luhan duduk dikursi dengan memakai kemeja berlengan pendek santainya berwarna putih dan celana selutut berwarna biru gelap, menusukkan garpu kecil kepotongan semangka yang sudah tersedia didepan mejanya. Percayalah semuanya sangat terkejut. Tapi tidak dengan Baekhyun, Ji Eul dan Joon Myeon.

Sehun menghampiri namja itu dan meremas bahunya sedikit kuat. Mata Sehun yang sipit membulat sempurna.

“hyung”

“kau mau?” tawar Luhan sambil memberikan potongan semangkanya.

“kau,,,?”

Luhan berdiri dengan senyum lebarnya, “aku disini. Senang bisa bertemu kalian semua”

Mungkin masih terlihat sedikit aneh, tapi Baekhyun tidak mau suasana aneh ini merusak acara yang dibuatnya—pesta barbaque dipantai.

“ahhh, perut ku lapar. Bagaimana jika mulai memanggang dagingnya sekarang” ucapnya seraya menghampiri Luhan dan Sehun.

Ya, mereka mengerti. Ini bukanlah waktunya untuk terhanyut dalam suasana yang mengharukan.

Beruntungnya pelayan hotel sudah menyelesaikan pekerjaannya yang diperintahkan oleh Baekhyun. Ada pemanggang daging, beberapa meja dan kursi, gelas-gelas cantik, dan sebotol anggur yang sudah tertata rapi di tepi pantai.

Beberapa diantaranya ada yang membalik daging diatas panggangan, mengisi gelas dengan anggur, mengatur pisau dan garpu, dan memotong sayuran.

Percayalah malam ini benar-benar malam yang indah. Angin malam dengan sejuknya berhembus menyapa setiap kulit yang masih bernafas, suara gulungan ombak, dan bulan yang bersinar dengan indahnya diatas lautan.

 

—You Should Be Mine—

 

Baekhyun berdiri diteras balkon kamarnya dan menikmati hari yang cerah. Jam tangannya menunjukkan pukul 2 siang. Beruntungnya matahari tidak bersinar terlalu terik disini. Ia menghela nafas panjang. Tidakkah sekarang waktunya?

Ia kembali kedalam dan mencari ponselnya. Setelah menemukannya, Baekhyun mengetikkan pesan singkat dan mengirimnya.

To: Ahyeon

Subject:—

Jam 5 sore aku menunggumu dipantai.

Ditempat lain,,,

Entah apa yang dilakukan pria itu, ia tiduran ditengah pantai dengan kacamata hitamnya. Menjadikan telapak tangannya sebagai bantalan kepalanya, sekaligus melindungi kotornya pasir dari rambutnya. Mungkin orang berfikir ia sedang menghitamkan warna kulitnya, tapi tidak. Mereka salah. Ia hanya ingin menikmati hari terahkirnya disini. Bersama teman-temannya, sahabatnya, teman baru, dan Ahyeon.

Kai bangun mendudukan dirinya begitu bayangan gadis itu terlintas dibenaknya. Ia melepas kacamata hitamnya dan tersenyum getir. Oh, gadis itu belum ia beritahu sama sekali. Kai akan berangkat ke Amerika besok pagi. Jika ada yang bertanya kenapa, mungkin Kai akan menjawab—hanya untuk meneruskan sekolahnya disana.

Memberitahu Ahyeon sama halnya memberikan berita yang tidak penting untuk gadis itu. Apa Ahyeon akan menangis? Mungkin tidak. Itu yang ada dipikiran Kai. Dan mungkin jika Kai kembali, gadis itu mungkin sudah menikah dengan pria lain dan menurunkan marga suaminya kepada anaknya nanti.

Siapa yang tau?

Kai memang tidak bisa membatalkan perjodohannya, tapi Ahyeon bisa. Membiarkan masalah perjodohannya terbengkalai begitu saja bukanlah hal yang tidak mungkin.

Kai berdiri dan membersihkan baju dan celanannya yang tertempel pasir. Ia menyimpan kacamata hitamnya didalam saku dan mulai berjalan-jalan mengelilingi pantai.

—You Should Be Mine—

 

Ahyeon baru membaca pesan Baekhyun sekitar pukul 4 sore. Gadis itu merenung menatap langit kamarnya. Ia hanya sendiri disini. Ji Eul pergi bersama Luhan untuk melihat-lihat. Ia terduduk dan merapikan sedikit rambutnya dengan sisir yang ada dimeja rias. Membuka pintu kamar dan berjalan keluar.

Mungkin jika ia tetap berada didalam kamar, itu akan membuatnya ketiduran dan melupakan pertemuannya dengan Baekhyun. Ya, ia akan berjalan-jalan juga seperti cara orang disini menikmati liburannya.

Ahyeon melepas flat shoes nya dan membawanya dengan tangan kirinya. Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman saat merasakan hangatnya pasir pantai. Oh, lebik baik begini daripada ia harus tetap memakai alas kakinya. Angin yang berhembus menyapa lembut setiap helaian rambut kecoklatannya. Beruntungnya sekarang pantai sedang sepi.

Ada jejak kakinya yang membentuk cekungan kecil dipasir setiap ia berjalan. Sebenarnya jika seperti ini akan lebih baik jika tidak berjalan seorang diri. Matahari sudah tidak lagi berada diposisinya saat ia pertama kali datang kepantai ini—sedikit lebih rendah hampir menyentuh garis laut.

Sudah berapa lama ia berjalan?

Seharusnya Baekhyun sudah datang sekarang.

Dahinya mengernyit saat melihat Kai yang berada tidak jauh didepannya. Ia tersenyum dan laki-laki itu membalas dengan senyuman kecil. Sampai ahkirnya Ahyeon menghampiri pria itu dan menyapanya ramah.

“kau juga disini?”

“ya, aku hanya berjalan-jalan tadi. Kau juga?”

“ya, tadinya” jawab Ahyeon, “aku sedang menunggu Baekhyun oppa”

Seharusnya Ahyeon melihatnya. Raut wajah Kai mulai berubah ketika ia mengucapkan nama pria itu.

Kai tersenyum palsu, “aku akan menemanimu sampai ia datang”

“ohh benarkah?”

“ya, bagaimana jika kita duduk?”

Ahyeon melihat kepasir yang sepertinya tidak terlalu buruk jika ia duduk diatasnya.

Kai duduk lebih dulu dan diikuti Ahyeon. Mereka sama-sama meluruskan kaki mereka kedepan. Memandang matahari yang cahayanya sudah menyentuh garis laut. Ada pantulan yang bersinar diatas air laut yang biru itu. Sangat indah.

“kalian baik-baik saja” ucap Kai.

“siapa?”

“kau dan Baekhyun”

“kami baik”

Ahyeon diam setelahnya. Sedikit ada perasaan aneh yang menyelimuti hatinya. Ia menoleh sekilas mamandang Kai sebelum ahkirnya mengalihkan lagi pandangannya kearah lautan.

Matahari mulai terbenam, menimbulkan warna orang terang yang menyelimuti awan. Bayangan keduanya mulai muncul di belakang mereka.

“kau mencintainya?” tanya Kai lagi.

Ahyeon menoleh saat Kai memperlihatkan tatapan itu lagi kepada gadis itu. Sendu dan mungkin ada perasaan lain didalamnya. Oh, ini sudah kesekian kalinya Ahyeon melihat tatapan Kai yang begitu kacau.

Kai merasa orang yang bodoh bertanya pertanyaan itu kepada Ahyeon. Baekhyun bilang kalau hubungan mereka kembali saat berada dirumah sakit. Tentu saja gadis itu akan menjawab iya.

“boleh aku bertanya lagi?” tanya Kai.

Ahyeon masih memperhatikan Kai dengan kedua matanya.

“apa yang kau rasakan jika berada didekat ku?”

Kai menggenggam tangan Ahyeon lembut. Bayangan tubuh mereka semakin tinggi disaat matahari mulai terbenam semakin dalam. Seakan laut yang menelan benda bercahaya itu.

Hampir saja Ahyeon lupa bagaimana caranya berkedip. Matanya terasa begitu perih dan hampir berair. Ia terhenyak dan kehilangan kata-katanya. Lidahnya begitu kelu untuk di gerakkan dan Kai masih menunggu jawabannya.

‘aku menyukai mu’ batin gadis itu.

Sangat mudah untuknya mengucapkan didalam hati. Tapi saat ia akan mengatakannya, Ahyeon merasa layakanya orang bisu.

“bicaralah Ahyeon. Jangan membuat perasaan ku seperti ini”, Kai menatapnya semakin dalam.

Dan entah apa yang membuatnya seperti ini. Matanya memanas dan airmata itu mulai keluar dari matanya.  Ahyeon tampak seperti orang bodoh yang menangis tanpa sebab. Ia merutuki dirinya sendiri. Kai seakan menariknya kedalam perasaannya yang dalam.

Kai menyeka air matanya seperti biasa. Penuh kelembutan dan berperasaan.

“bisa kau tetap menahan ku disini?” ucap Kai.

Kai mempersempit jaraknya dengan gadis itu. Ia sudah pernah bilang tentang ini, ia tidak tau sampai kapan bisa menahannya. Kai terlalu kacau dengan perasaannya sendiri. Saat siluet mereka mulai terbentuk Kai menciumnya. Ia mencium tepat dibibir gadis itu. Merasakan ada rasa lain di ciumannya.

Tangan Ahyeon merambat naik dan memegang bahu namja itu. Ia bergerak lebih dulu sebelum pria itu yang melakukannya. Lumatan-lumatan kecil yang diciptakannya semakin memebuat Kai tidak bisa mengendalikan perasaannya. Kai terkejut karena ini pertama kali Ahyeon yang memulainya.

Ini yang ketiga kalinya mereka lakukan. Dua sebelumnya adalah sebuah ciuman yang memaksa dan hanya berpihak disatu sisi. Kai mulai membalas meluapkan perasaan nya disana. Perasaan kacau, khawatir, sedih semua ia salurkan lewat ciuman itu.

Ini kedua kalinya Ahyeon merasakannya. Terahkir kali saat didalam kelas usang saat itu. Bukan membicarakan masalah ciumannya, tapi bagaimana cara Kai mengisi perasaannya kedalam ciuman ini. Emosi yang begitu kental ia rasakan.

Mungkin Ahyeon benar-benar gila. Ia meremas pakaian yang dikenakan namja itu menahan tengkuknya lembut. Ada rasa sakit yang ia rasakan. Sebuah lubang hitam yang Kai ciptakan dihatinya. Perasaan yang membuatnya semakin tidak bisa jauh dari Kai.

Ahyeon butuh namja itu agar tetap disisinya.

Di tempatnya ia berdiri layaknya patung pajangan. Hatinya seperti terpukul berkali-kali dengan sesuatu yang tajam. Sakit. Sangat sakit. Matanya seakan buta dan tidak bisa melihat apa yang ia lihat. Telinganya seakan tuli dan tidak bisa mendengar suara disekitarnya. Seluruh saraf perasanya seakan mati dan tidak bisa merasakan apapun apa yang ia sentuh.

Baekhyun merasakannya ini untuk kedua kalinya. Matanya sudah terasa panas dan hampir mengeluarkan air mata melihat mereka. Ya, ia tau ini yang akan ia rasakan.

Gadis itu benar-benar menyukai Kai.

I lost her who I loved much

Only my heart burning sobs

That people who I belived so much was gone

I didn’t know before

One’s whispering sound

Possibility find me it isn’t she

Waiting mind is futile

 

—You Should Be Mine—

 

Pagi yang cerah untuk beberapa orang tapi tidak untuk gadis itu. Ahyeon diam ditempat duduk nya dan tidak bernafsu sama sekali manatap makanannya. Hampir semalaman ia tidak tidur dan membuat kepalanya sakit dipagi harinya. Sadar atau tidak, Baekhyun sudah memperhatikannya dari tadi. Baekhyun tau, jadi ia hanya tersenyum kecut melihatnya.

“eoh semua sudah disini?”, suara Chanyeol menggema di ambang pintu. Laki-laki berjalan ketempat duduk nya, “seperti ada yang kurang?” lanjut Chanyeol.

“Baek, Kai belum bangun?” tanya Chanyeol.

Semua melihat Baekhyun bersamaan termasuk Ahyeon. Sedangkan Baekhyun dengan santai tetap memotong dagingnya.

“dia sudah bangun. Dia bilang tidak bisa sarapan bersama kita”

“kenapa?” tanya Seorin.

Baekhyun menghentikan aktivitas memotongnya. Ada helaan nafas kecil disana, “ia pergi ke Amerika pagi ini”

Ahyeon memandang Baekhyun tidak percaya, “apa?”

“dia mengambil penerbangan pagi ini” lanjut Baekhyun.

Mata Ahyeon mulai berkaca-kaca. Kai pergi tanpa memberitahunya. Namja itu bahkan tidak pernah bercerita sama sekali tentang kepergiannya ke Amerika.

“kau tidak bilang pada kami?” ucap Kris.

“dia yang meminta. Saat sudah sampai di Amerika, dia baru akan menelfon kalian satu per satu” ucap Baekhyun.

Ahyeon menjatuhkan garpu makannya diatas piring, suara dentingan kecil membuat semua menoleh pada Ahyeon.

“Ahyeon-a?” panggil Seorin khawatir. Ia tidak tau kenapa Ahyeon tiba-tiba mengeluarkan air matanya.

“kapan dia pergi?” tanya Ahyeon kearah Baekhyun.

Baekhyun menoleh memandang Ahyeon, “sepuluh menit yang lalu”

Baekhyun tau perasaan gadis itu. Tapi apa gunannya tetap mempertahankan perasaannya sekarang. Menjadi egois bukan jalan terbaik yang akan diambil pria itu. Baekhyun memegang kedua bahu Ahyeon, meski ia juga merasakan hatinya yang sakit, tapi ia akan lebih sakit lagi jika membiarkan Ahyeon yang merasakannya juga. Baekhyun berdiri dan akan menarik tangan Ahyeon pergi.

“a,,,apa?”

“kau tidak mau mengejarnya? Dia pasti sedang menunggu mu disana. Biar aku yang mengantar mu”

Alis Ahyeon bertautan begitu juga dengan Kris dan yang lainnya. Terutama Seorin dan Joon Myeon. Mereka pasangan yang tidak tau apa-apa tentang ini. Hyesung sudah mengetahuinya dari Sehun saat acara perpisahan sekolah waktu itu. Sedangkan Luhan sudah mengetahuinya dari Ji Eul saat kemarin siang.

Sehun berdiri dan membuat semua mengadahkan kepalanya menatap Sehun.

“aku ikut”

Chanyeol yang disebelah Sehun berdiri dan menenangkan pria itu.

“biar Baekhyun dan Ahyeon yang kesana”, Chanyeol mengalihkan pandangannya kepada Baekhyun agar segera mengantar Ahyeon kesana, “kenapa masih disitu? Pesawatnya akan terbang sebentar lagi”

Tidak ada waktu lagi untuk Baekhyun. Ia menarik tangan Ahyeon keluar dari ruangan itu.

“ada apa sebenarnya?” tanya Seorin.

“Kai dan Ahyeon sudah dijodohkan sejak lama” jelas Kris.

“apa? Kenapa aku tidak tau?”

“Kai tidak memberitahu mu?”

“aku hanya tau ia dijodohkan. Tapi jika gadisnya adalah Ahyeon, aku tidak tau”

“kita tunggu saja mereka disini. Aku yakin Ahyeon bisa membawa Kai kembali kesini dan membatalkan kepergiannya” ucap Chanyeol menengahi.

—You Should Be Mine—

 

Begitu mobil Baekhyun berhenti didepan bandara, Ahyeon segera melepas sabuk pengamannya dan segera keluar. Tapi sebelum gadis itu benar-benar keluar, Baekhyun menahan tangannya dan membuat Ahyeon berbalik menatapanya.

“jangan melepasnya jika kau menaruh perasaan terhadapnya”, Baekhyun melepas tangan gadis itu dan memberikan senyum terbaiknya, “aku akan parkirkan mobil ini dulu. Kau pergilah lebih dulu”

Apa itu artinya?

Ahyeon merasa menjadi gadis yang jahat didepan Baekhyun. Tidak bermaksud untuk Ahyeon menyakiti hati namja itu dengan cara seperti ini. Ini karena kebodohannya yang terlalu lambat menyadari perasaannya. Jika saja Ahyeon bisa menyadari ini dari awal, ia akan menjawab pertanyaan Baekhyun waktu itu.

Ahyeon memeluk Baekhyun dengan erat, “terima kasih oppa”.

Baekhyun tadinya ingin membalas pelukan Ahyeon. Tapi ia urungkan niatnya dan melepas pelukan gadis itu.

“kau akan menyesal jika terus disini. Pergilah” ucapnya.

Ahyeon tersenyum lalu berlari masuk kedalam bandara.

Baekhyun menatap punggung Ahyeon yang semakin menjauh dengan nanar. Kalimat yang diucapkannya tadi bukan hanya untuk Ahyeon, tapi juga untuk dirinya.

Mungkin Baekhyun akan merelakan gadis itu pergi tapi tidak dengan perasaannya. Meskipun Ahyeon menaruh hatinya pada orang lain—yaitu Kai, Baekhyun tetap tidak akan mengubah perasaannya sedikit pun terhadap gadis itu.

Ahyeon berhenti sebentar saat menyadari pandangannya yang mulai buram. Ia menunduk dan mengambil nafas sebentar. Matanya mengitari kesekitarnya mencari Kai. Dahinya dipenuhi peluh keringat, bibirnya yang sedikit memucat, dan dadanya yang naik turun berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia mengabaikan kepalanya yang mulai pusing lagi dan kembali berlari.

Ahyeon sedikit memaksakan senyumnya saat melihat Kai yang baru bangun dari duduk nya. Pria itu mulai mengambil langkah seraya menyeret koper hitamnya.

Baru ia akan mengambil langkah ketiga, Kai berbalik saat sebuah tangan yang dingin dan basah menahan pergelangannya. Dahinya mengernyit melihat Ahyeon yang sedang mengatur nafas—menatapnya dengan mata yang basah.

“kau mau pergi?”

Kai melepas tangan Ahyeon dan mengusap pipi gadis itu seperti dipantai kemarin sore. Saat tangan Kai tertarik lagi menjauhi wajahnya, Ahyeon segera menahan tangan itu.

“jangan pergi”

Hanya dua kata yang berhasil membuat Kai mematung ditempat. Ia mengalihkan pandangannya kepada Baekhyun yang sudah berdiri jauh dibelakangnya. Entah apa maksud nya, Baekhyun mengangguk dan tersenyum kearahnya.

Kai mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan membaca pesan didalamnya,

From: Baekhyun hyung

Subject:—

Aku berbohong saat dirumah sakit. Kami tidak ada hubungan apa-apa lagi sekarang. Maaf kekeke~. Dia menyukai mu Kai. Ku harap kau bisa menjaganya untukku. Jika kau membuat perasaannya sakit, aku yang akan menjadi orang pertama yang akan memukul wajah mu.

“oppa?”

Suara Ahyeon menyadarkan Kai. Namja itu membalas senyuman Baekhyun sambil memeluk Ahyeon. Memeluknya sangat erat dan tidak akan membiarkan gadis itu pergi.

Ahyeon membalas pelukan Kai dan menyembunyikan wajahnya di bahu Kai yang menutupi setengah wajahnya.

“aku menyukai mu” ucapnya pelan.

Kai bukanlah orang yang mengalami gangguan pendengaran. Ia masih sangat jelas mendengar ucapan gadis itu. Kai melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi gadis itu dengan tangannya.

“Aku tidak ingin kau jauh dari ku. Jangan mengacuhkan ku lagi seperti saat itu. Aku ingin kau yang selalu memelukku saat aku sedang kacau. Aku ingin kau selalu menjahili ku setiap saat. Aku—“

Kai mengunci bibir gadis itu dengan bibirnya. Kali ini ia bergerak lebih dulu. Ia tidak ingin gadis itu yang memulainya seperti saat dipantai. Kai menciptakan pergerakan yang begitu lembut dan menghanyutkan. Tidak peduli ia sekarang berada dimana, bagaimana pandangan oleh orang-orang yang melintas, Kai tidak peduli itu semua. Apa sekarang Kai bisa mengakui kalau Ahyeon hanya miliknya?

Ya, sepertinya pria itu beloh berpikiran seperti itu.

Ahyeon tersenyum disela-selanya. Gadis itu menarik kepalanya dan tertawa kecil saat melihat ekspresi kecewa dari Kai. Saat Kai akan menciumnya lagi, Ahyeon segera menahan tangannya didada pria itu.

“orang-orang melihat kita”

Kai menjauhkan dirinya walaupun ia sangat ingin melanjutkannya lagi.

“baiklah, kita akan melanjutkannya nanti” ucapnya sambil memberikan seringaian khas miliknya, “ahh, apa kau menagis untuk ku?” lanjutnya lagi.

Ahyeon menatap tajam Kai yang sedang tersenyum jahil.

“ya,  mataku bengkak seperti ini karena kau. Kau harus tanggung jawab” ucap gadis itu sambil mengkerucutkan bibirnya kecil.

Kai mengecup kedua mata gadis itu dan tersenyum lembut.

“apa masih sakit?”

Ahyeon menggeleng pelan sambil tersenyum malu-malu. Pipinya mulai memanas dan membuat gadis itu mengalihkan pandangannya kearah lain.

“aigoo, kalian sangat serasi sekali. Apa kalian sengaja membuatku cemburu eoh?”

Kai dan Ahyeon menoleh kearah sumber suara yang ternyata adalah Baekhyun. Namja itu terlihat tersenyum lebar dan menghampiri mereka berdua.

“oppa?”

Ahyeon menatap Baekhyun dengan ekspresi lain. Oh, Baekhyun tau itu. Ia sangat mengenal gadis itu. Namja itu memberikan senyumannya, pertanda jika ia baik-baik saja sekarang.

Baekhyun beralih menatap Kai dengan alis yang terangkat, “Kai, kau tidak jadi pergi?”

“aku tidak bisa pergi jika Ahyeon yang menahan ku disini” ucap Kai seadanya.

Pipi Ahyeon kembali bersemu merah dan Kai hanya tertawa kecil melihatnya.

“baiklah. Bagaimana kalau kita kembali kehotel dan melanjutkan liburan kita” ucap Baekhyun. Baekhyun merangkul dua orang itu dan mengajaknya berjalan bersama.

 

—You Should Be Mine—

 

Semua kembali normal. Baekhyun, Ahyeon dan Kai sudah kembali kehotel. Ya, walaupun Kai harus menerima pukulan kecil dibahunya dari Kris karena tidak memberitahu tentang kepergiannya.

Luhan mengambil bola voli yang terlempar oleh Kris di tepi ombak. Ia lalu melempar bola yang basah itu kearah Kris dengan keras. Tapi Kris tidak menangkapnya dan membiarkan bola itu jatuh diatas pasir.

“aku lelah selalu mengambilnya. Kau memukulnya terlalu keras” ucap Luhan.

Kris terkekeh kecil dan mengambil bola itu diatas pasir, “baiklah, aku akan memukulnya dengan pelan”

Setelah itu mereka kembali bermain. Ya, sejak jam tujuh pagi mereka sudah bermain voli pantai di sana. Semuanya ikut bermain. Terkadang ketika Kris yang memukul bola terlalu keras membuat lemparan bola itu justru mengarah kearah ombak. Dan Luhan yang harus mengambilnya.

Ini bahkan jauh lebih baik.

Semuanya berjalan pada jalannya masing-masing.

Liburan ini mengubah semuanya.

Pertemanan kedua lelaki itu—Baekhyun dan Kai berjalan seperti dulu. Luhan sibuk membujuk Ji Eul untuk melanjutkan sekolahnya di China. Seorin dan Joon Myeon saling mempersiapkan diri tentang rencana masa depan mereka. Sehun dan Hyesung semakin terbuka dan menghilangkan sifat pemalu mereka. Dan Kai,,,

Kai sesekali harus mendapat lirikan tajam dari Ahyeon karena namja itu yang sesekali bersiul ketika memandang gadis-gadis berbikini disini. Kai hanya terkekeh pelan sambil menunjukan senyum bodohnya kearah Ahyeon. Kris berkenalan dengan model majalah seksi dari Paris yang sedang berlibur disini. Dan terahkir Chanyeol, namja itu tidak berminat sama sekali mencari gadis disini. Ia hanya menikmati liburan tahun ini apa adanya. Chanyeol bukanlah pria yang berselera dengan tipe gadis Asia. Ia lebih menyukai gadis-gadis yang berdarah barat, misalnya seperti di London. Itulah alasannya ia ingin berkuliah disana.

 

END

16 responses to “[FREELANCE] You Should Be Mine – Part 24 / END

  1. Wahh benar benar benar kerenn seruuu daebak ffmu thor, suka bgt^^
    Yg aku ambil dri cerita ini adalah dengan lu deket terus dan jdi ngerasa nyaman bahkan dengan org yg gk lu suka, lama” tanpa sadar lu bakal suka sma dia kya ahyeon sma kai, perjuangan mereka bertiga baekhyun ahyeon kai bnr” luar biasa dehh, mereka yg egois bisa menyelesaikan semua permasalahan itu dengan kedewasaannya dan saling terbuka, keren dehh thor suka bgt.. thx yaa ffnya udh buat aku jdi gk bosen^^ makin sukses buat author, fighting yaa jgn berhenti buat karya kususnya mungkin dengan ff” baru^^ jempol buat author J.A.Y:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s