[FREELANCE] A Gift For Na Eun

A Gift For Na Eun Cover

Title                : A Gift For Na Eun

Author            : A

Rating             : G

Length            : Oneshot

Genre              : Family and Sad

Email              : anggiwidiyanisautami@gmail.com

Main cast’s     : Lee Donghae | Son Na Eun | Nichkhun | Jessica Jung | Tiffany Hwang

Backsong        : A Pink-It Girl | K.Will-Love is Crying | Taru-I Hope You Can | The Melody-Goodbye

Disclaimer      :

FF INI HASIL PEMIKIRAN SAYA SENDIRI 100%

Aouthor Note :

Yoboseyo! Anggi imnida. Tetapi cukup panggil A saja. Saya author freelance yang baru di sini. Saya telah mempersembahkan FF perdana untuk para readers yang berjudul ‘A Gift For Na Eun semoga para readers suka dengan FF yang saya buat untuk Anda semua. Gomapta ^^

Been in Post   : Readfanfiction.wordpress.com | Islandoffanfiction.wordpress.com

‘A Gift For Na Eun’ by StorylineA©

Disebuah rumah bergaya modern minimalis yang didominasi cat warna putih, coklat, dan hitam, dekat persimpangan jalan, rumah deretan kedua, tinggalah seorang pria tampan dan mapan dengan seorang gadis cantik yang didaulat sebagai putri semata wayangnya. Awalnya rumah yang tidak terlalu besar namun rindang itu diisi oleh tiga orang yakni sepasang suami istri dan putrinya, namun sepuluh tahun yang lalu ketika musim gugur harus pergi salah satu dari anggota keluarga kecil itu yakni istri yang tidak lain adalah ibu dari putri semata wayangnya.

Kini keluarga kecil itu hanya tersisa dua orang, kehidupan merekapun mulai berubah seiring berjalannya waktu. Keduanya tak terlihat seperti ayah dan anak melainkan lebih mirip ‘kakak dan adik’ atau ‘sepasang kekasih’. Banyak warga menghandrungi pasangan ayah dan anak ini, mungkin karena pesona Donghae atau keimutan Naeun. Yang pasti, hampir wanita single dikompleks itu menyukai Donghae tetapi sayangnya Naeun tidak menyukai satu wanitapun dari kompleks perumahannya, ia justru malah muak dengan kelakuan para wanita yang kecentilan pada ayahnya yang memang dirasa tampan itu.

Sang mentari yang berwarna orange telah terbit, menyebarkan sinar hangatnya kepenjuru dunia. Bau khas embun yang menyarang pada dedauan dan bunga-bunga taman disekeliling rumah sungguh menyengat. Kicauan burung-burung mendendangkan sebuah harmoni keindahan pagi, walau angin dingin masih terasa meniup pada kulit Naeun yang masih terbaring diranjang kamarnya yang didominasi favorite color-nya yaitu ungu.

Angin dingin meniup lirih pada kulit Naeun hingga membuat ia menarik slimut tebalnya lebih menutupi tubuhnya hingga sebatas leher. Matanya masih sangat berat untuk terbuka, karena akibat begadang dengan ayahnya bermain game. Suara deringan jam waker yang memecah keheninganpun tidak diindahkan Naeun, ia malah semakin menutupi tubuhnya menggunakan slimut tebal dan meringkuh pada kehangat yang ia dapatkan.

Beberapa menit kemudian hujanan ketukan pintu dan triakan ayahnya yang berusaha memanggilnya terdengar gaduh, terpaksa Naeun membuka kedua matannya yang masih dirasa sangat berat. Kontan pintu kamar terbuka diiringi Donghae yang menerobos masuk kamar putri kecilnya.

Happy birthday, Honey!” seru Donghae sambil membawa kue tar ukuran mini yang diatasnya ada sebuah lilin menyala.

Naeun mencoba menguatkan radar matanya agar dapat melihat dengan jelas lalu merongsok pada bantalnya kembali “Arggghhhh. Aku masih mengantuk Appa”

Donghae yang sudah mendaratkan pantatnya disamping tidur Naeun berkata “Bangunlah! Kau tidak ingin meniup lilin ke-16-mu?”

Dengan kesal Naeun bangkit dari baringnya dan duduk berhadapan dengan Appa yang kata teman-temannya mirip seorang actor laga yang tidak diketahui namanya. Sunggguh payah.

Tangan mungil Naeun mengusap-usap matanya seraya menguap sedangkan Donghae yang melihat putri kecilnya mengembangkan senyum manisnya.

Ketika bibir Naeun hampir siap meniup lilin tiba-tiba Donghae mencegahnya “Tunggu! Kau tidak makewish?”

Mendengar itu Naeun mengkrucutkan bibirnya dan menyipitkan kedua bola matanya pada Appa-nya yang banyak perintah. Kemudian, kedua tangannya bertauan satu sama lain dan ia letakkan didekat dagunya sambi memejamkan mata.

Beberapa detik kemudian, ia membuka mata langsung meniup lilinnya yang diikuti triakan heboh Donghae. Menggunakan jari telunjuknya Donghae mencolek krim kue yang ber-taste anggur lalu meleletkan pada hidung Naeun sontak selera jail Appa-nya ini ia balas dengan hal yang serupa hingga wajah keduanya sama-sama kotor karena krim. Tawaan renyahpun terdengar jelas pada ruangan ini.

“Yakkk, hentikan! Hahaha. Apa do’a dihari ulang tahunmu kali ini?” tanya Donghae ingin tahu.

Sembari memakan krim hasil colekannya pada jari telunjuknya Naeun menjawab “Bersama Appa selamanya.”

“Hanya itu?”

Naeun menganggukan kepalanya mantab “Ne.

“Kau tak ingin hadiah?” tanya Donghae memastikan.

Naeun menggeleng “Ani.”

Hati Donghae terharu dan bahagia saat putri satu-satunya ini berkata seperti itu, sungguh saat ini pelupuk mata Donghae ingin menitikan air mata. Namun ia berusaha menahannya dan bersigap memberikan kecupan manis sementara pada bibir Naeun, yang membuat Naeun muring-muring.

“Oh~mwo??? Apa yang Appa lakukan? Aku sudah besar” protes Naeun sembari mengelap bibirnya menggunakan slimut tebalnya.

We? Kau kan putriku. Apa masalah?” protes Donghae tak mau kalah.

“Appppppaaaaaa!!!” jerit Naeun, memecahkan gendang telinga.

Rasa penasaran pada hati Naeun sungguh tidak dapat terbendung ketika Appa-nya mengendarai mobil kejalan yang tidak semestinya dilewati. Memang jalan ini cukup familiar dibenak Naeun karena hampir satu bulan sekali atau dua kali ia dan Appa-nya melewati jalan ini. Jalan yang menuju ke pemakaman Omma.

Ketika mendapati belokan kekiri mobil Mercedes Guardian yang mereka tumpangi meleset menghentikan mobil karena telah sampai pada tujuan. Pemakaman keluarga yang dikelilingi perbukitan yang hijau nan indah, sungguh bahagia Omma Naeun dapat disemayamkan ditempat ini.

Donghae menuruni mobil yang disusul Naeun, sebelum melewati gerbang pemakaman, Donghae menggenggam tangan putrinya dengan membawa buket bunga tulip kesukaan istrinya. Naeun yang sadar akan genggaman itu langsung membalasnya erat dengan tambahan senyum manis untuk Appa-nya. Akhirnya, mereka berjalan menuju gundukan tanah yang sudah tertutup rumput manila diujung bukit sana, pasangan ayah dan anak inipun melakukan ritual salam pada mendiang istrinya dengan membungkuk 90 derajat dan mengambil sikap posisi duduk timpuh.

Donghae terpaku membisu ketika memandang makam istrinya, masih terdapat disana buket tulip bulan lalu yang sudah mongering kecoklatan, ia lalu mengganti buket itu dengan buket bunga tulip yang baru.

Ia menarik napas yang panjang “Lihatlah! Putri kita sudah berumur 16 tahun, aku berhasil merawatnya hingga ia menjadi gadis yang manis, lucu, cantik, dan baik sepertimu walau kadang ia membaut masalah” tutur Donghae ambang yang diakhiri simpul senyumnya.

“Omma? Bagaimana kabar Omma disana? Apa hari ini Omma merayakan ulang tahunku juga disana? Dalam mimpiku setiap malam, aku selalu melihat Omma. Begitu cantik dan mempesona. Sekarang Naeun sudah bertambah besar namun Appa masih memperlakukanku seperti anak ingusan, bisakah Omma memarahi Appa?….”

Pletak.

Satu sentilan perih pada dahi Naeun mendarat begitu cepatnya.

Aphayo” triak Naeun kesal.

Hampir duapuluh menit keduanya manghabiskan waktu di makam. Jam 8 pagipun mulai berdeting, sudah saatnya keduanya untuk pergi bekerja dan sekolah. Donghae dan Naeun meninggalkan makam itu dengan kissbye dan senyuaman.

Didalam mobil saat perjalanan mengantarkan Naeun kesekolah terciptalah suasana hening karena sama-sama berdiam tak berbicara. Sesekali Naeun melirik Appa-nya yang terfokus pada pandangan lurus kedepan menembus jalan raya. Ia paham setiap kali habis berziarah ke makam Omma pasti Appa selalu bersedih, barangkali ia mengingat masa-masa saat masih bersama Omma.

“Appa?” panggil Naeun lirih.

Sontak suara itu membuyarkan pikiran Donghae yang mengepul pada otaknya, ia melemapr senyum kecutnya pada putrinya dan melanjutkan kegiatan menyetirnya.

“Jessica ajumma cantik kan, Appa?” cletuk Naeun.

Ne” jawab Donghae tak berselera.

“Dia juga baik dan pandai”

Ne

“Bahkan perhatian pada Appa”

Ne

“Sepertinya cocok jika bersama Appa” Naeun mengeluarkan goongnya  yang kontan membuat Donghae mencuat mendengar hal itu dari mulut Naeun, karena baru kali pertama Naeun bersedia membicarakan wanita untuk Appa-nya sendiri, padahal biasanya ia paling anti melakukan hal ini.

Mwo?”

“Berkencanlah dengan wanita! Tidak mungkin kan Appa menduda seumur hidup. Aku ingin ada seseorang yang menemani Appa”

We kau berkata seperti itu? tidak biasanya” dahi Donghae mengerut seirama dengan keheranannya.

Naeun menggigit bibirnya “Aku hanya berfikir, jika aku tidak disamping Appa pasti kau akan kesepian. Seandainya jika aku meninggal dahulu”

Seketika Donghae meminggirkan mobil kepinggir jalan yang membuat Naeun bertanya kenapa berhenti. Lalu dengan wajah tidak suka Donghae menjawab jika ia tidak suka jikalau Naeun mengatakan hal yang berhubungan dengan kematian. Umurnya masih terlalu muda dan Donghae pun belum sanggup jika itu terjadi. Dengan marahnya Donghae mengatakan hal itu pada putrinya.

Naeun yang terkejut dengan kemarahan Appa-nya kontan mulai menangis sambil meminta maaf pada Donghae jika perkataannya membuat ia marah.

Siapa sih yang tega melihat anaknya menagis apa lagi karena ucapan orang tua yang kasar dan marah-marah. Sesegera mungkin Donghae menarik tubuh Naeun kedalam pelukannya, ia mendekap Naeun erat-erat dan dalam, ia pun mengecup kepala Naeun. Tanpa sadar Donghae menagis walau tangisnya tidak disadari putrinya.

.

.

.

Sesampai di depan gedung sekolahan putrinya. Donghae meminta kecupan pada Naeun yang berhasil dituruti Naeun walau dengan mengeluh terlebih dahulu.  Kecupan didahi dan kedua pipinya. Kemudian Naeun beranjak dari job dan berhambur keluar mobil, ia berhenti dekat kaca jendela sebelah tempat Donghae duduk.

“Nanti Appa jemput.” Pesan Donghae dengan memencet hidung putrinya.

Omo, ne.”

Kaca jendela mobil yang berwarna gelappun ditutup Donghae, ia meraungkan mobilnya bak macan tutul yang berlari kencang. Satu tambahan gas serasa mirip rauangan macan. Sedangkan Naeun melambaikan tangan kepada mobil dihadapannya yang berlalu meninggalkannya didepan gerbang.

Dibalik meja kerjanya Donghae memutar otak kanan-kirinya untuk menjalankan proyek perusahaannya yang cukup terbilang besar dan tidak main-main. Ini adalah awal untuk kesuksesan perusahaan yang diwariskannya untuk seorang diri. Sebuah perusahaan property.

Meja kaca beningnya kini terhias oleh map-map laporan dan proposal dan beberapa lembaran-lembaran proyek yang akan segera ditangani setelah ia berhasil membaca semuanya. Bahkan pulpen dalam jemarinyapun tak ia lepaskan berjam-jam.

Sedang seriusnya membaca salah satu proposal tiba-tiba ketukan pintu terdengar dari dalam dengan sigap Donghae menyerukan jika siapapun orang yang mengetuk boleh masuk. Dari balik bilik pintu muncullah sosok wanita yang dikata Naeun cocok sebagai pendamping hidupku. Jessica. Ia berjalan mendekatiku, gayanya yang simple namun memikat dan tampak pas dibadannya sungguh cocok serta tidak berlebihan. Ia berhenti melangkah ketika sampai didepan meja kerja.

“Kudengar Naeun berulangtahun hari ini” tutur Jessica mengawali pembicraan.

Ne”

Ia mengangkat sebuah kardus kado dan menyodorkan kearah Donghae “Hadiah ini khusus untuk Naeun, berikan padanya! Aku tidak bisa memberikan langsung karena mungkin terlalu sibuk”

Tangan Donghae menerimanya dan tidak lupa mengucapkan gomapta.

Kedua sudut bibir Jessica terangkat membuat sebuah senyuman lebar yang begitu manis, dalam hati Donghae, ia sangat tersipu-sipu dengan senyumnya yang begitu indah. Tangan kanan Jessica merogoh tas tentenngnya yang berwarna hijau marun dengan motif bling-bling layaknya wanita karir dan modis. ia memilah-milah isi tasnya yang dimungkinkan  penuh dengan barang-barang hingga ia mengeluarkan sepucuk kertas beramplob dan menjulurkannya diatas permukaan meja kerja Donghae.

Sebuah kerdikan bahu milik Donghae-pun bertanya yang sudah ditangkap Jessica, ia dengan fasih dan lancer sera bahasa formal menerangkan apa isi kertas itu “Sebuah kerhomatan bagi perusahaanku jika menanamkan saham pada salah satu cabang perusahaanmu, bidang kami yang menggelut fashion dan Anda property membuat kemantaban presiden kami untuk mengundang Anda dalam acara yang tertera pada surat itu.”

Donghaepun tertegun dengan penjelasan wanita dihadapannya ini “Sungguh kau tampak lebih cocok jika saat jalan bersamaku” godanya yang membuat pipi Jessica tampak kemerahan seperti udang rebus.

“Cekkkk… ppabo. Sudahlah, aku pergi salam untuk Naeun.” Pamit Jessica seraya berpaling mempunggungi Donghae dan berhambur ke keluar pintu yang ketika itu bertubrukan dengan masuknya Nichkhun. Sedetik mereka berdua saling memberi sapa walau tampak tak formal lagi, karena memang Nichkhun-pun mengenal dekat sosok wanita yang baru keluar dari ruang kerja sahabatnya. Tanpa basa-basipun Jessica berlalu begitu saja meninggalkan Nichkhun yang mengguratkan senyum mincing yang sangat terlihat risih. Ia menuju sofa hitam pada ruang kerja sahabatnya ini dan berbaring asal pada sofa berukuran lebih panjang daripada lainnya, kepalanya ia sandarkan pada tangan sofa yang terlihat mengkerut ketika pendaratan pertama.

Donghae berdiri dan mendekati Nichkhun yang nyelonong seperti kucing kampung masuk kedalam rumah-rumah warga mencari tempat peristirahatan. Ia mengambil sofa samping rebahan tubuh Nichkhun dan mengangkat kaki kanannya menumpangi lutut kaki kirinya serta menyadarkan malas pada punggung sofa.

Keduanya sempat terdiam tak bicara. Hingga sebuah pertanyaan terlontar pada kedua bibir Donghae ketika melihat kardus kecil diatas tumpukan majalah-majalah “Apa itu?”

“Kado Naeun” Timpal Nichkhun parau.

“Sebuah tiket konser Justin Bieber.” Lanjutnya.

Donghae menegakkan tubuh dari sebelumnya “Hah, kau terlalu baik”

“Aku iri padamu. mendapatkan putri secantik yeppo dan aegyo Naeun. Seharusnya dulu aku menikah saja dengan Tiffany-ya agar mendapat anak seperti Naeun” terka Nichkhun masih dalam posisi berbaringnya yang wajahnya ditutupi dengan lengan tangan kanannya.

Memang bangga Donghae mendapat Naeun dalam hidupnya, seperti tunas yang tubuh kembali setelah mati. Tiffany pergi tetapi tergantikan oleh Naeun. Semua cinta dan kasihnya sama besar tidak ada perbedaan satu inci pun.

Pengakuan yang terlamabat baru saja terlontar dari Nichkhun, sungguh itu sekarang tidak mempengaruhi hati Donghae malah dianggapnya hanya guyonan saja.

Pikirannya kembali teringat akan perkataan Naeun pagi tadi yang kontan membuat Donghae memarahin putrinya hingga menangis. Ia sungguh tak habis pikir begitu pendek putrinya untuk berpikir.

Ia tertawa sengak “Kau tahu, apa yang dikatakan Naeun padaku tadi pagi?”

Sahabatnya dengan singkap duduk lebih benar dan memasang telinga untuk mendengarkan kalimat Donghae selanjutnya yang terlihat begitu serius “Mwo?

Bola mata Donghae menembus pandangan kosong “Dia bilang Jessica pantas untuk menjadi pendampingku menggantikan Tiffany, ia tak ingin melihatku kesipan saat dirinya tidak lagi bersamaku. Hah, jarang sekali gadis itu berbicara seperti itu”

“Lalu?” nada Nichkhun meminta lanjutan kalimat yang Donghae jeda.

“Aku memarahinya hingga ia menangis, jujur aku tidak suka jika ia berkata seperti itu” nada Donghae mulai menurun dan menunjukkan guratan penyesalan pada wajahnya.

“Dia juga berkata, dihari ulangtahunnya kali ini ia tidak meminta hadiah apapun dariku, ia hanya meminta untuk selalu dapat bersamaku hingga nanti. Polos sekali putriku ini, ia tak pernah menyakiti hatiku namun justru aku membuatnya menangis saat hari special-nya. Bukankah aku Appa yang ppabo?”

Ani, kau Appa yang baik untuk Naeun. Kau marah kan karena kau tak suka dengan ucapan Naeun. Pasti putrimu memahaminya, percayalah. Dan kupikir Jessica itu memang pantas untukmu, bukankah ia juga menyukaimu?”

“Entahlah.” Donghae kembali merebahkan punggungnya pada punggung sofa yang nayaman.

Jam terakhir masih berlangsung di kelas Naeun, semua siswa-siswi memperhatikan penerangan sonsengnim di depan dengan penuh pengartian mengulas bab Trigonometri yang dirasa cukup menguras pikiran para siswa tak terkecuali Naeun. Terlihat beberapa kali ia menguap karena mengantuk plus bosan dengan penerangan sonsengnim di depan yang monoton, kepalanya pun terasa berat ingin segera terjatuh ke meja namun ia menolaknya dengan tumpangan tangan dibawah dagu. Meski matanya tak dapat dibohoni kalau saat ini ia benar-benar mengantuk berat.

Tringgggg… tringggggg… tringgggg. Suara bel pulangpun berkumadang disetiap sudut sekolahan. Sontak membuat mata Naeun terbelalak, segera ia berjibaku membereskan buku-buku pelajaran dan alat tulis serta memasukannya dalam tas warna biru beraksen boneka putih dan beberapa motif kotak-kotak.

“Baiklah, kita akan melanjutkan materi ini besok. Selamat siang dan sampai jumpa!” seru sonsengnim seraya menuju meja guru dan membereskan memberapa buku miliknya.

Ne” jawab murid-murid serempak.

Naeun berhambur keluar dengan grombolan teman-temannya sembari mengeluarkan ponsel dari saku jas seragamnya. Ia berniat mengirim pesan pada Appa-nya untuk segera menjemutnya, ia mengetikan pada layar ponselnya dengan fasih.

To        : Appa

From    : Me

Date/time : 1-May-2013/02.13 am

Appa, aku sangat keuriwo padamu. cepatlah! Kutunggu, aku telah pulang sekolah ^^

Jempol Naeun menekan tombol send, pesanpun telah sukses terkirim. Naeun berjalan hingga depan gerbang untuk menunggu jemputan Donghae. Ditemani i-pod dan earphone yang terpasang pada kedua kupingnya, ia memilih songlist yang saat ini ia sukai entah dari kpop, jpop, atau barat. Semua track ada di dalam i-pod-nya. Naeun berdiri menanti Appa-nya disebarang jalan yang cukup ramai.

Sedangkan Donghae yang baru saja menerima pesan putrinya langsung mempacu mobilnya secepat kilat menuju sekolahan Naeun. Hingga mobil mercedes Guardian-nya tercekat oleh lampu merah di perempatan jalan kota yang riuh. Kenapa orang-orang sekarang memakai mobil pribadi dan tidak memanfaatkan transportasi umum? Membuat macat jalan saja.

Deretan mobil-mobil pribadi yang beraneka merek dan warna terjajar apik pada lajur jalan menuju pusat daerah Seoul. Inilah ruetnya ibukota sebuah Negara terutama Korea yang memang akhir-akhir ini menjadi tren idola baru untuk penikmat tren. Negara yang terkenal akan julukan Negri gingseng itu kini telah menjelma menjadi Negara yang diminati sebagai tempat liburan para pelancong dunia. Sebuah dobarakan keras dilakukan Korea dalam bidang hiburan yang mengantarkan Korea sebagai pusatnya Boyband dan Girlband, diantaranya yang telah menembus pasar international adalah grup Super Junior, Girl’s Generation atau SNSD, Big Bang, Wonder Girls, 2PM, dan masih banyak lagi. Sungguh kesuksesan besar untuk Korea.

Lampu pada tiang kuning itu tidak juga berubah menjadi hijau yang sudah membuat para pengemudi mobil bosan karena lama menunggu. Donghae yang memang suka music lebih memilih menikamati momen ini sembari mendengarkan lagu-lagu favorite-nya. Matanya menayapu kesegala arah termasuk pada toko-toko disebarang jalan, toko-toko itu memamerkan barang dagangannya dalam sebuah etalase. Antara lain toko gaun pengantin, toko aksesoris, toko roti dan masih banyak lagi namun yang menjadi pusat penglihatan Donghae adalah toko boneka bernama Doll’s Galery. Tiba-tiba Donghae ingin mampir ke toko itu, siapa tahu jika ia mendapatkan sesuatu untuk diberikan pada putrinya.

Tidak lama lampu merah tadipun berubah menjadi hijau, semua kedaraan melaju dengan tertib. Kemudinya ia belokkan kesisi jalan dan memakirkan tepat didepan toko boneka yang Donghae incar, ia mendorong pintu utama toko yang langsung disambut oleh pegawai toko tersebut.

“Selamat datang!”

Donghae menyimpulkan senyum kecilnya pada pegawai yang menyapanya. Iapun berkeliling ruangan yang dipenuhi rak-rak bertatakan beraneka ragam boneka. Mungkin boneka impor maupun local semua ada disini, jenisnnya pun cukup baru dan bermacam-macam. Kaki Donghae yang masih terus menyusuri lorong-lorong rak-rak boneka tak henti-hentinya ia mengagumi bermacam-macam boneka yang lucu dan manis-manis. Hingga ia berhenti pada sosok boneka bear berwarna coklat yang memakai kaos putih merah, Donghae langsung jatuh hati pada sosok boneka yang lucu itu dan meraihnya untuk lebih dalam melihat bodi boneka bear yang ia pegang.

Dalam angan-angannya pasti Naeun suka jika kali ini ia membelikan boneka yang imut dan lucu ini. Baru saja satu senyuman lebar Donghae terlukis pada wajahnya seketika boneka itu terjatuh tanpa ada sesuatu penyebab yang jelas. Perasaan Donghae menjadi tidak nyaman dan beraduk-aduk, pikirannya melayang pada sosok Naeun yang saat ini sedang menunggu jemputannya. Sesegera mungkin Donghae membayar atas boneka yang ia beli tanpa membungkusnya sama sekali, dengan setengah berlari Donghae memasuki mobil yang melajukannya kecang menuju Naeun yang sudah lama menunggu. Diselimuti perasaan yang aneh tetapi dominan ketidak nyamanan Donghae melaju dengan kecepatan kencang.

Krumunan orang-orang mengelilingi korban tabrakan yang baru saja terjadi didepan gedung sekolah Shinwa. Seorang gadis murid sekolah Shinwa telah tertabrak sebuah mobil box yang melaju kencang. Kata saksi mata yang melihat kejadian itu, sang gadis sedang berdiri dipinggir jalan yang kosong tiba-tiba sebuah barang miliknya terjatuh hingga ketengah jalan, ia memungut barangnya ditengah jalan sedangkan dari arah kiri melaju mobil box berkecepatan tinggi. Banyak orang di TKP telah menriakki gadis itu namun ia tak mendengarnya sontak sebuah tabrakanpun tak terelakkan. Tubuh sang gadis terpental hingga 4 meter dari titik kejadian dan mobil box yang menrubuk mlesek hingga kedalam parit.

Tibalah Donghae disekolahan Naeun dengan segera ia turun dari mobil untuk menemui Naeun namun sebelum ia melangkah memasuki halaman sekolah ia terusik oleh keramaian dan kerumunan orang-orang yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Dari celah-celah kaki yang menyatu, Donghae melihat rok yang sama persis dengan seragam sekolah Shinwa dan sebuah tas yang cukup sekali ia kenali. Pikirannya mulai menerka-nerka siapa orang yang dikrumuni oaring-orang itu hingga ia memutuskan untuk bertanya pada seorang pria paruh baya didekat pohon “Permisi Tuan, kenapa ramai sekali? Apa ada kecelakaan?” pekik Donghae sopan sembari melihat ngeri pada mobil box yang meringsuk pada parit hingga benyok sana-sini dan mengeluarkan asap tebal.

“Ne, seorang gadis berumur 16 tahun baru saja terbarak mobil box.” Jawabnya lantang.

Donghae segera menghubungi Naeun untuk menanyakan dimana posisinya saat ini, sebuah nada sambung terdengar jelas dari sebarang telephone bersamaan dengan nada dering milik ponsel Naeun yang berbunyi dari dalam krumunan orang-orang disana.

Mendekati bunyi dering itu yang semakin terdengar jelas ketika hampir mendekati krumunan orang-orang, sebuah rasa ketakutan menyergap tiba-tiba pada relung hati Donghae. Matanya berkaca-kaca dengan langkah yang tertatih-tatih, berharap semua terkaannya salah mengenai korban kecelakaan itu. berharap jika Naeun masih berada ditempat lain dan sehat-sehat saja.

Serasa rahang Donghae mengeras tak percaya ketika sosok gadis yang tergletak lemas itu mulai terlihat. Donghae melaju lebih dalam memasuki krumunan orang-orang yang berceloteh mengenai ambulansce, kasihan, rumah sakit dan mati. Semua celotehan itu tak ditampik telinga Donghae, hingga ia melihat jelas bahwa gadis yang tertabrak itu adalah Naeun, putrinya sendiri.

Tidak kepercayaan mengrumuni hati dan pikiran Donghae, setitik air mata terjatuh lalu menderas dengan sendirinya. Tubuh Donghae ambruk seketika disamping tubuh Naeun yang  bernoda darah dimana-mana terutama kepalanya, tangisan hebat terwujud pada diri Donghae sambil memeluk tubuh Naeun yang masih terasa hangat walau matanya masih terbuka dengan kosong.

Tangan Donghae menyapu darah-darah yang keluar hebat dari kepala Naeun yang hampir teralir kemata kosong Naeun.

“Naeun! Son Na Eun! Putriku! Bangunlah!” pekik Donghae yang menghampiri nada lirih.

“Bagunlah! Jangan tinggalkan Appa. Lihatlah ini! Boneka yang Appa belikan untukmu dihari ulangtahunmu. Bangunlah, honey!” kata Donghae dalam isak tangisnya yang meluap.

“Bangunlah jangan tinggalkan Appa!!!” triak Donghae tak kuasa ketika melihat kedua mata Naeun yang terpejam dan tangannya yang tergletak ke aspal menjatuhkan sebuah pulpen. Donghae semakin memeluk erat mayat putrinya yang telah kehilangan kehidupannya.

“Bangunlah! Bangunlah! Sayang bangunlah! Jangan tinggalkan Appa. Tuhan jangan ambil putriku, kembalikan Naeun padaku!!!” triak Donghae sekali lagi. Yang diakhiri kecupan dan ciuman.

Dan ambulansce tiba.

.

.

.

.

Angin bertiup kencang, udara menjadi dingin bahkan langit hitam pekat mulai mengguyurkan jutaan air hujan yang berbau kabun. Sebuah kesedihan dan luka mendalam tampak pada mimic wajah Donghae yang terlihat lemas seperti tidak ada nyawa. Ia berjalan menuju kamar Naeun dengan gontai sembari masih menitikan air mata kesedihan.

Tangannya yang bergetar menekan knop pintu dan membuka pintu, baru satu langkah memasuki kamar Naeun bau wangi parfum khas putrinya semerbak kesegala arah. Ranjang ungu yang masih hangat dan tertahta kerutan atau lipatan-lipatan pada permukaan bantal atau separi milik Naeun. Segelas air putih yang tinggal berisikan seperempat meninggalkan tilas bibir pada ujung gelas. Bau Naeun masih begitu jelas terasa pada hidung Donghae. Ia memandang seluruh sudut kamar Neeun dengan tetesan air mata. Sebuah penyesalanpun tak teralakan pada hati Donghae.

Ia merebahkan tubuhnya pada ranjang Naeun yang hangat dan memeluk boneka bear yang kemarin baru ia beli untuk putri tercintanya sebagai hadiah ulangtahun ke 16 tahun. Namun tidak sangka pembicaraan Naeun mengenai kematian pada pagi itu akan menjadi kenyataan begitu cepatnya bahkan disaat ia berulangtahun.

“Saengil chukahamnida untuk Naeun dan yeobo. Aku bahagia karena kalian telah bersatu kembali.” tutur Donghae sembari memandang boneka bear dipelukannya.

Seakan langitpun tahu betapa kesedihan Donghae kehilangan Naeun, hujanpun mengantar tidur panjang Naeun dan Omma-nya. Sungguh mereka berdua akan selalu menanti Donghae kembali pada pelukannya, mereka akan setia menunggu Donghae. Untuk selamanya hingga hidup pada keabdian.

‘Kemarilah Naeun sayang!’ Tiffany mengulurkan tangannya pada putrinya.

‘Omma?’ kata Naeun bahagia.

‘Ne, ini Omma kemarilah sayang!’

‘Tetapi Appa?’timpal Naeun sembari membalikan pandangan kebelakang dan kembali memandang Omma-nya.

‘Appa akan baik-baik saja, bukan kan ia namja yang kuat?’ tutur Tiffany meyakinkan putri kecilnya.

‘Tetapi aku sayang Appa’ balas Naeun setenga hati.

‘Naeun pikir Omma juka tak menyayangi Appa? Omma malah sangat mencintai Appa.’

‘Lalu kenapa kita harus meninggalkan Appa sendiri?’

‘Ini takdir Tuhan, sayang. Peganglah tangan Omma, mulai saat ini kau akan bersama Omma. Kita akan menunggu Appa bersama-sama disini’

Naeun mengangguk dan mengikuti perintah Tiffany, mereka berjalan bersama menuju cahaya putih dan berangsur-angsur menghilang dengan sendirinya.

‘Appa, mianata… Appa gomapta… Appa sarangata… dan Appa jangan seulpho. Berjanjilah Appa akan hidup lebih baik? Aku akan selalu pogosippo pada Appa’

‘Sarangata Appa’

“Sekali lagi!”

‘Sarangata’

 

The End

Bagaimana? Mian, jika banyak typo bertebaran dimana-mana dan alur yang terlalu cepat. Jangan lupa comment (saran, kritik, pujian, hinaan, juga boleh heheh J)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s