In The Book

In The Book

Author: lyri

Tittle: In the Book (Ficlet)

Cast: Lee Donghae, Kim Jihyo

Genre: Sad-romance, Friendship (maybe)

Rating: T

Note: Don’t bash me, don’t plagiat, don’t re-upload, and don’t claim as yours. Pernah di publis di blog pribadi dan sffhouse.

**

Aku dan gadis bernama Jihyo adalah sahabat. Kami sudah bersahabat sejak masih kecil. Jadi, terbayang kan seberapa lamanya kami bersahabat? Otomatis, kami juga sudah menjalani hari dan menghabiskan waktu bersama-sama.

Aku menyukai gadis itu, sahabatku Jihyo. Tapi, aku tidak berani untuk mengatakan yang sebenarnya. Aku takut. Jadi, aku rasa memendam perasaan ini lebih baik. Lagi pula, mana mungkin ia menyukaiku? Ia menganggapku sebagai ‘kakak’nya. Tidak lebih dari itu. Mungkin lebih baik seperti sekarang, aku bisa selalu ada di sampingnya walau statusku sebagai ‘sahabat’nya.

Jika ada waktu luang kami pasti menghabiskan waktu di taman yang tak jauh dari rumah kami. Dan hal yang dilakukan tidak jauh dari memainkan gitar, menyanyi, bercanda, dan berbagi cerita.

“Donghae-ya, aku pinjam buku catatan musikmu, ya! Aku ingin belajar gitar sendiri di rumah. Boleh, ya.” Kata Jihyo sambil mengeluarkan agegyo-nya. Tidak pernah ada yang bilang kalau ageyo yeoja ini buruk. Dia memang Queen of ageyo.

“Tanpa ber-aegyo seperti itupun aku akan meminjamkanmu.” Kataku sambil memberika buku itu. Ia pun terkekeh.

“Aku harap kita bisa selalu seperti ini. Jangan pernah tinggalkan aku, ya.” Kata Jihyo sambil menatapku.

“Apa yang kau katakan? Tentu saja kita akan selalu seperti ini.” Kataku. Kata-katanya itu entah kenapa membuatku khawatir. Khawatir sesuatu akan terjadi padanya atau padaku.

**

Malam ini entak kenapa aku tidak bisa menutup mataku untuk segera tidur. Aku sudah berkeliling kamar hingga empat kali tapi tetap saja tidak bisa tidur. Mungkin, ini gara-gara tadi. Tadi, sebelum tidur aku berpikir akan menyatakan perasaannya pada Jihyo, tapi di sisi lain aku tidak mau mengatakannya.

Tunggu! Sepertinya bukan itu! Buku kesayanganku. Ya, buku kesayanganku tidak ada. Aku yang tengah panik itu segera mencari buku paling berharga yang hilang itu. Aku sudah mengacak-acak lemari buku hingga tas, tapi tetap tidak ada. Ayolah, buku itu sangat berarti buku musik permberian Jihyo!

Ng~ bukankah buku itu dipinjam Jihyo? Ya, Donghae pabo! Kenapa bisa sampai lupa? Baiklah, akan ku coba tidur sekarang. Semoga besok adalah hari yang baik untuk, m~ mengutarakan perasaanku pada Jihyo. Ya, apapun jadinya sepertinya aku harus menyatakaannya, selama aku masih bisa bernafas seperti sekarang.

Selama malam, Jihyo. Tunggu aku besok.

Author POV

Malam ini dingin sekali, Jihyo segera menutup jendela kamarnya sebelum angin bertamu ke kamarnya. Ia mengambil sweater dari lemarinya lalu memakainya. sweater itu adalah pemberian Donghae, bukan pemberian pertama memang, tapi ia sangat menyukai sweater itu.

Ditemani coklat panas ia membuka lembar demi lembar buku yang ia pinjam dari Donghae tadi siang. Ia hanya membacanya sekilas saja, cuaca malam ini membuatnya malas memainkan gitar. Di akhir buku itu terdapat dua lembar kertas kosong. Dan, sebuah ide muncul pada pikiran Jihyo.

Ia membuka album foto dirinya dan Donghae. Diambilnya foto saat pertama kali mereka duduk di bangku sekolah menengah atas. Lalu, ia menempelkan dua foto di lembaran kosong itu. Dan hal yang terakhir ia menuliskan beberapa kalimat.

“Aku memang tidak pandai berkata-kata Donghae-ya, tapi aku harap kau suka ini. Saranghae.” Katanya sambil menulis lalu ia segera memeluk buku itu, seolah itu adalah terakhir kalinya ia memeluk buku itu. Ya, ‘seolah’.

Siapa sangka, ternyata Jihyo juga diam-diam menyukai Donghae. Sebagai yeoja mana mungkin ia mengutarakan perasaannya lebih dulu? Itu mungkin saja, tapi ia bukan tipe yeoja seperti itu. Berada di dekatnya saja sudah bahagia, itu yang ia pikir sehingga sampai saat ini ia merasa yeoja paling beruntung di dunia karena bisa selalu ada di dekat Donghae, walau tidak berstatus sebagai yeojachingu­ namja tampan itu.

**

Hari ini mereka akan bertemu kembali. Tapi, bukan di taman yang kemarin. Donghae bilang malam kemarin kalau ia akan mengajaknya pergi ke tempat yang berbeda. Ia mengajaknya ke toko buku.

Cuaca hari ini tidak seperti malam, sepertinya cuaca mendukung Donghae. Ya, semoga hari ini bisa jadi hari paling bahagia yang dialami Donghae. Setelah selesai bersiap-siap ia segera pergi menuju toko itu dan membelikan bunga kesukaan Jihyo.

**

           Satu jam bukanlah waktu yang singkat. Sudah satu jam Jihyo belum juga datang. Donghae menelponnya tapi, tidak ada yang mengangkatnya.Hingga telepon ke enam kalinya, barulah ada yang mengangkatnya. Donghae menghela napas.

“Jihyo-ya, kau masih di mana?” tanya Donghae yang tidak tahu apa-apa.

“Hiks~ Donghae-ya, Ji.. Jihyo sudah tidak ada. Ia kecelakaan tadi pagi.” Suara itu bukan suara Jihyo, melainkan suara eomma-nya.

Tanpa sadar, Donghae menjatuhkan handphone-nya. Butiran air mata keluar dengan deras dari mata Donghae. Dengan segera ia menuju rumah Jihyo, memastikan kalau ini hanya candaan Jihyo! Ia, kan? Ini hanya CANDAAN SAJA?

Banyak mobil yang berbaris di depan rumah Jihyo, banyak orang juga datang di sana. Ini semua nyata. Apa yang dialami Donghae ini nyata. Jihyo sudah tidak ada, ia kecelakaan tadi pagi.

Ia segera menghampiri Jihyo dan keluarga. Jihyo sudah tidak ada. Itu benar, ia sudah tertidur dan tidak bernapas lagi. Air mata Donghae semakin tidak terkendali. Ia terus menangis sambil menatapnya.

“Jihyo-ya, kau bilang aku tidak boleh meninggalkanmu. Tapi, kenapa kau meninggalkanku?” sia-sia, Dongahe berbicara pada Jihyo yang sudah tidak sadar. Ia berbicara sambil terus menangis, ia belum bisa menerima semua ini. INI NYATA.

“Donghae-ya. Ini buku milikmu, kan? Aku temukan di kamarnya.” Kata eomma Jihyo sambilmencoba untuk terus tersenyum walau rasanya sangat bera harus ditinggal Jihyo.

Buku itu, buku musi itu. Tepat di halaman kosong, ia melihat apa yang telah dilakukan Jihyo dengan buku kesayangannya itu. Menyimpan dua foto mereka dan sebuah kalimat.

Donghae-ya, pertama aku minta maaf karena sembarangan menghiasi buku ini, kekeke.

Mm, kita kan sudah lama bersama, apa kau punya.. m, apa ya? Punya sedikit rasa padaku? Kau tau, aku menyukaimu. Tapi, sepertinya kau tidak lebih menganggapku sebagai adik cantikmu, hehe.

Lembaran ini mewakili perasaanku, kau tahu? Aku wanita, aku tidak ebrani kalau aku harus mengutarakan perasaan ini duluan. Tapi, entah kenapa malam ini aku ingin sekali menulis seperti ini. Aku tahu aku gila.

Aku memang tidak pandai berkata-kata Donghae-ya, tapi aku harap kau suka ini. Saranghae. Aku harap, ketika kau membaca ini, aku masih ada disampingmu.

With love, Queen of Aegyo Kim Jihyo ^^

Surat itu.. surat itu berisi tentang pernyataan cinta dari Jihyo? Ya, benar. Dan surat itu berhasil membuat Donghae tidak dapat menahan kesedihan yang amat mendalam dan penyesalan yang ia alami.

Apa yang ia lakukan? Harusnya ia mengutarakan cintanya sejak dulu, dan apa yang terjadi sekarang? Kita memang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.

Nado saranghae Jihyo-ya. Maafkan aku.” Kata Donghae sambil menangis menyesali semua perbuatan dan tidak tahan atas kepergian Jihyo. Ia terus memeluk buku itu, sama seperti malam saat Jihyo memeluk buku itu.

END

Hey, bagaimana menurutmu? Ini sad gagal, kan? Semoga tidak tapi mungkin memang -,.- Mohon maklum juga, ini FF sad pertama. Awalnya gak suka FF yang sad. Tapi sekarang~ ya gitu deh wkwk. Ohya ini ficlet kelebihan 57 kata, apa masih bisa di sebuat ficlet? Masih kali ya-_- Thanks undah baca😉

4 responses to “In The Book

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s