[Oneshoot] Special Girl

Special Girl

Title        : Special Girl
Author  : lyri
Cast         : Lee Jung-hwan or Sandeul, Lee Sung-min, Lee Yong-ri
Genre     : Romance
Rating    : T
Note        : 1) Maafkan saya bila di FF ini banyak typo(s). 2) Sebenernya FF ini gak nyambung sama lagu Infinite – Special Girl, cuman judul nya aku ambil. MV nya kebayang pas lagi ngerjain FF ini, jadi aku pake judul lagu itu, intinya aku cuman minjem judul /?. FF ini terinspirasi dari kehidupan saya, mungkin oleh kalian juga yang punya adik/kaka? :D wkwk. 3) Boleh baca teaser dulu, boleh juga nggak. 4) Pastinya pernah di-post di blog pribadi.

**

“AnnyeongAppa pulang.” Kata seorang yang menyebut dirinya appa pada dua orang anaknya.

Secara otomatis dua anaknya yang sedang bertengkar itu melirik ke arah ayahnya. Setelah mereka pikir bahwa tidak ada hal yang menarik, mereka kembali berebut memindahkan channel TV.

Appa menghela nafas melihat kedua anaknya itu tidak pernah akrab. Setiap hari apsti ada saja hal yang diributkan. Mulai dari masalah kecil–bahkan sangat kecil– hingga masalah yang bisa dibilang besar.

Appa bawa sesuatu untuk kalian.” Kata Appa yang berhasil membuat dua anak itu mendekatinya.

Appa pun membuka tas nya dan mengeluarkan dua kotak kardus kecil berisi botol minuman berwarna merah muda dan putih.

Dengan segera, keduanya berebut mengambil botol berwarna pink. Pada akhirnya, kakaknya yang berhasil mendapatkannya. Adik perempuan dengan nama Yongri itu pun tidak tinggal diam, ia segera merebut kotak minum itu.

“Kalian seperti anak kecil saja. Untuk apa berebut yang berwarna merah mudah jika masih ada yang lain?” kata Appa. Sungmin dan Yongri tidak mendengarkan apa kata ayahnya, mereka terus saja bertengkar.

Dengan santai, Appa berhasil mengambil tempat minum yang diperebutkan oleh mereka. “Sungmin, kau ambil yang putih saja, ini untuk adikmu.” Kata Appa. Tentu saja Sungmin tidak terima, ia mengerucutkan bibirnya tanda kesal. Sedangkan Yongri hanya–pura-pura–diam, padahal dalam hatinya ia tertawa puas dan sangat senang.

“Lagipula, kau kemarin sudah menang memperebutkan balpoin berwarna pink, bukan?” kata appa lagi sambil memberikan tempat minum itu pada Yongri. Tanpa mendengarkan apa yang ayahnya katakan, Sungmin masuk ke dalam kamarnya sambil membanting pintu.

**

Menyebalkan. Itulah kata yang tepat bagi Sungmin untuk menggambarkan adiknya.  Ia merasa bahwa Yongiri tidak seperti adiknya, tetapi lebih mirip seperti musuh. Yongri selalu menang dan dibela, apa karena dia adalah anak paling kecil? Mungkin saja, tapi itu sama sekali tidak adil bagi Sungmin.

Sehingga pada suatu saat ia mempunyai ide yang sangat buruk. Ia memasukan pakaian dan barang-barang lain ke dalam tasnya. Setelah itu, ia pergi ke luar rumah. Tentu saja tidak ada yang tahu, tidak ada orang pada jam siang seperti ini. Hal itu memudahkan Sungmin untuk kabur dari rumahnya.

Ia pikir, jika ia melakukan ini, orang tuanya akan memarahi Yongri dan akan selalu membelanya. Ya, hal yang sangat kekanak-anakan. Padahal seharusnya Sungmin memang haru mengalah pada adiknya, apa yang susah? Walaupun sudah besar, tapi sikap kekanakan-anakannya masih ada.

Sekarang, ia tidak tahu harus kabur ke mana. Apabila pergi ke rumah neneknya, pasti ia akan dinasihati dan diperintah pulang. Akhirnya, ia memutuskan untuk beristirahat di tengah perjalannya.

Saat seseorang berjalan berlawanan arah dengannya, betapa terkejutnya Sungmin bahwa orang yang lewat itu mempunyai wajah yang hampir mirip. Tara~ ia mendapatkan ide sekarang. Sebelum si namja itu lewat, Sungmin menahannya.

“Hei kau!” kata Sungmin sambil menghalangi namja itu lewat.

“Apa kau tidak bisa lihat kalau aku berat membawa barang-barang? Awas, aku mau lewat.” Kata namja itu. Dingin sekali, sepertinya ia sedang kesal.

“Kau bosan menjadi dirimu, eoh?” tanya Sungmin sehingga membuat namja itu melihat juga ke arahnya.

“Apa mau mu?”

**

Namja yang bernama Sandeul membawa Sungmin masuk ke dalam rumahnya dengan hati-hati, jangan sampai Eomma dan Appa nya mengetahui ia membawa orang asing ke rumahnya.

Setelah mereka sampai di kamar Sandeul, mereka langsung bercerita tentang keluarganya masing-masing. Entah kenapa mereka menceritakan keluarga nya pada orang yang baru saja di kenal.

“Kau benar-benar mau? Tapi, ingat! Hati-hati pada seseorang bernama Yongri, dia sangat, err~ menyebalkan.” kata Sungmin meyakinkan Sandeul.

Ke dua namja itu merencanakan pertukaran posisi. Ini memang gila, tapi ini yang mereka mau. Sungmin sudah malas berada di rumahnya jika harus selalu bertemu dengan seorang bernama Yongri. Sedangkan Sandeul, sudah malas berada di rumah sendiri. Memang itu bukan masalah yang sangat besar, tapi masalahnya, ia tidak diperbolehkan pergi ke luar rumah apabila bukan sekolah, tugas, atau diperintah. Hal itu tentu saja membuat Sandeul jenuh berada di rumah.

“Oke, itu tidak masalah. Dan, kau harus mau jika di suruh oleh Eomma atau Appa-ku. Jangan jatuhkan image-ku.” Kata Sandeul yang menerima penawaran gila ini. Sungguh sulit dipercaya, tapi ia memang menerima tawaran Sungmin untuk bertukar posisi secara sementara.

Di akhir diskusi itu, mereka saling berjabat tangan dan menjalankan posisi barunya. Wajah mereka hampir mirip, jadi itu bukan masalah. Masalahnya, mereka harus berusaha berperah sebagai orang yang asalnya menempati posisi itu dengan tidak merusak image-nya.

Setelah selesai, Sandeul menuju rumah Sungmin. Dan, masuk menuju kamarnya. Mereka sudah saling belajar tentang keadaan rumah masing-masing, sehingga tidak terlalu bingung.

Sandeul tampak terkejut setelah membuka pintu kamar yang sementara ini akan jadi miliknya. Bagaimana tidak terkejut? Kamar ini didominasi oleh warna merah muda. Sedangkan Sandeul tidak terlalu menyukai warna ini. Apa boleh buat, ia harus terima apa adanya dan menjalankan posisi barunya.

Sudah berjam-jam ia ada di dalam rumah, memperlajari tentang rumah ini. Akhirnya, seorang yang tidak tahu apa-apa tentang pertukaran ini–Yongri–datang. Ia tampak agak aneh dengan kakaknya itu, biasanya jam seperti ini ia selalu ada di kamarnya. Ia pun menghampiri kakaknya yang sedang duduk menonton TV.

Biasanya saat Yongri berada dekat Sungmin, ia selalu diperintah membuatkan makan siang untuk mereka. Tapi, saat ini berbeda. Ia memperhatikan seorang yang ia kira sebagai Sungmin.

Layar TV tiba-tiba saja menjadi hitam. Ya, sambungannya terputus. Kabel TV dicabut oleh seorang yeoja. Tadi, Sungmin telah memperlihatkan fotonya, sehingga ia tahu kalau ia adalah Yongri.

Sandeul pov

“Kau..” kataku ketika yeoja yang ceritanya adikku mematikan TV yang sedang aku lihat. Belum selesai berbicara ia malah terawa, padahal tidak ada hal yang perlu ditertawakan. Ia sungguh tidak sopan pada oppa-nya sendiri.

“Kau mau ini? Buatkan aku makan dulu.” Kata Yongri sambil memegang TV dan kabelnya. Oke, ini salahku. Seperti yang Sungmin hyung katakan, aku harus berada di kamar pada jam ini dan aku malah asyik menonton TV.

Aku meninggalkannya begitu saja dan menuju kamar merah mudaku. Baru saja aku melangkah ia sudah ada di depanku, ia menahaku agar tidak pergi kemana-mana. Ayolah, apa yang ia lakukan? Ber-aegyo di depan ku untuk minta makanan? Ingin sekali aku memperingatkan ia untuk tidak ber-aegyo untuk ku, walaupun sebenarnya untuk Sungmin hyung.

Aku menghela nafas lalu menuju dapur dan meninggalkannya sendiri. Ia tampak aneh. Mungkin, karena aku tidak melakukan perlawanan? Mungkin saja. Aku melakukan ini karena dia adalah yeoja pertama yang ber-aegyo di depanku. Hahaha, Sandeul pabo!

Lagi-lagi secara tiba-tiba ia ada di sampingku. Ia mengamati bahan-bahan yang akan aku gunakan untuk memasak. Satu persatu bahan itu ia angkat. Apa yang ia lakukan? Hei, aku tidak akan meracunimu.

“Tumben sekali kau baik, jangan-jangan kau punya permintaan padaku, eoh?” kata Yongri sambil berkacak pinggang. Aku baru tahu kalau ada sepasang kakak dan adik yang se-tidak akrab seperti ini. Sehingga pada saat kakaknya berbuat baik, adiknya menyangka hal yang tidak-tidak.

Aku tidak meladeninya lagi, aku terus saja memasak–walaupun Sungmin hyung memerintahku untuk terus meladeninya, bahkan ia bilang harus membuat Yongri menangis? Sungguh kakak yang sangat tega. Lagi-lagi ia menganggu aku yang sedang memasak. Ia mengambil alih tugasku. Jadi? Ia akan menunjukan kemampuannya dalam memasak? Baiklah, aku tidak boleh kalah.

**

Beberapa waktu yang sangat aneh telah selesai. Sekarang tinggal mencoba masakan yang di masak oleh aku dan Yongri, tanpa resep dan tanpa perkiraan. Kami berebutan memasukan bahan-bahan dan bumbu untuk memasak, sehingga semua bumbu berhasil kami masukkan.

“Rasanya aneh.” Kata Yongri saat ia mencoba rasa masakan kami. Sudah bisa ditebak, rasanya pasti tidak karuan. Entah rasa apa itu, mungkin rasa yang baru?

“Tentu saja, ini karenamu.” Kataku. Entah kenapa kata-kata itu muncul dan aku katakan. Biasanya aku tidak berbicara seperti itu, aku kan anak baik. Mungkin saja, aku sudah agak tertular Sungmin hyung.

Plak. Tebak apa yang ia lakukan? Ia melemparku dengan sayur yang ada pada makanan ini! Aku menyingkirkan sayur yang tepat berada di wajahku sementara yeoja tertawa riang. Ya, aku membalasnya dengan sayur yang lebih banyak. Dan akhirnya kami saling membuang hasil masakan itu dengan cara saling melepari makanan itu. Aku akui ini memang bukan hal yang baik.

Setelah cukup satu jam bertengkar, keadaan dapur menjadi sangat berantakan dan basah karena kami perang membawa-bawa air. Salahkan Yongri, ia menyiramku dengan air. Jadi, dengan terpaksa aku membalasnya dengan air satu gayung penuh.

Ini melelahkan, Yongri saja sudah duduk sambil bersender pada tembok. Tiba-tiba pintu terbuka. Oh tidak, aku rasa ini orang tua kami.

“M-mwo! Apa yang kalian lakukan?” kata seorang yeoja, aku yakin ini Eomma-ku. Lalu, ia memberi aku dan Yongri lap dan pel. Kurasa kami diperintah untuk membersihkan ini semua. “Eomma kunci dapur ini, jangan minta buka sebelum semua ini selesai.” Lanjutnya.

Akhirnya secara terpaksa aku dan Yongri membersihkan dapur yang cukup luas dan berantakan. Aku tahu cara agar membuat Yongri tertawa lagi, tidak cemberut seperti ini. Aku mencipratkan air padanya sambil terawa. Awalnya, ia marah-marah tapi selanjutnya kami saling bercanda dan tertawa sambil mebersihkan dapur ini.

Sebenarnya, Yongri bukan orang yang sangat menyebalkan seperti yang Sungmin hyung katakan. Hanya saja, ia butuh perhatian dari kakaknya sendiri. Jika, Sungmin hyung  menuruti apa kemauannya, aku yakin mereka tidak akan bertengakar terus.

Eomma yang sebenarnya tidak tega mengunci pintu itu pada akhirnya membuka pintu. Saat ia masuk, dapur sudah terlihat cuku bersih. Dan, dua orang tertidur di lantai. Eomma tersenyum melihat kami. Tentu saja, mungkin ia pikir Sungmin dan Yongri sudah cukup akrab.

Akhirnya eomma membangunkan kamu. Tapi, hanya aku yang berhasil dibangunkan. Sedangkan Yongri, ia masih tertidur. Bagaimana tidak capek, baru saja datang sekolah ia berperang dengan. Karena eomma tidak mampu menggendong Yongri, mau tidak mau aku harus menggendongnya sampai ke kamar.

Aku menggendongnya hingga sampai pada kamarnya dan menyelimutinya. Aigo, kau benar-benar cantik saat tidur seperti ini. Tunggu, jangan bilang kalau aku menyukai adik palsu ku ini? Hei, seorang kakak tidak boleh menyukai adiknya! Hm, lagi pula aku kakak pura-puranya, kan? Jadi, tentu saja aku boleh menyukainya.

Aku sempat aneh pada Sungmin hyung yang tidak menyukai adiknya ini. Padahal ia begitu baik, menarik, dan cantik. Ayolah, bukankah sekarang kau kakaknya? Kau tidak boleh menyukainya, Sandeul.

**

Hari ini, rumah cukup ramai. AppaEomma, dan Yongri ada di rumah, karena hari libur nasional. Sehingga, makan siang kali ini Eomma yang membuatnya. Pastinya rasanya akan lebih baik dari masakan yang kemarin aku buat.

“Yongri, Sungmin, Eomma hanya buat satu porsi Kimchi dan satu porsi Dak Kang Jung, karena persedian sudah habis.” Kata Eomma sambil menyimpan dua porsi makanan berbeda itu di depan kami.

Kami saling melirik lalu sama-sama memegang mangkuk berisikan Kimchi. Ya! Jangan sampai ia merebut kimchi milikku! Aku menarik kimchi ku dan dia juga melakukan hal yang sama. Akhirnya, kami saling berebut kimchi itu. Eomma hanya bisa menggelengkan kepalanya dan meninggalkan kami.

“Ini punyaku!” katanya.

“Ini punyaku!”

Dan pada akhirnya, tidak ada menang. Kimchi itu jatuh ke lantai, sehingga membuat aku dan Yongri dimarahi lagi oleh eomma.

Bel berbunyi. Daripada aku harus membersihkan bekas kimchi itu, lebih baik aku membukakan pintu untuk tamu. Tamu itu adalah seorang pelajar, dari seragamnya mungkin ia satu sekolahan dengan Yongri.

Hyung, aku boleh bertemu Yongri, kan? Satu kali ini saja. Tolong, jangan larang aku terus.” Kata namja berseragam itu. Sekarang adalah hari libur nasional, tapi entah kenapa namja ini memakai baju seragam.

Seperti yang Sungmin hyung bilang, aku tidak boleh membiarkan satu orang namja pun bertemu dengan Yongri. Ia melarang adiknya untuk berpacaran, hal itu sudah pasti disetujui oleh orang tuanya. Dan, sepertinya namja ini adalah yang selalu diceritakan Sungmin hyung padaku. Lagipula, aku juga tidak mau kalau dia bertemu dengan Yongri.

“Tidak ada.” Kataku. Tapi, ia terus meminta. Dengan terpaksa aku menutup pintu secara paksa, ya, seperti yang dikatakan Sungmin hyung. Semuanya seperti yang dikatakan Sungmin hyung, karena aku sedang memainkan perannya.

**

Saat aku sedang asyik memainkan gitar sambil bernyanyi, tiba-tiba seperti ada seseorang yang membuka pintu kamarku.

“Sungmin.” Panggil seseorang yang berdiri di dekat pintu. Aku pun melihat ke arah yang memanggilku itu, dia Yongri. “Suara mu bagus juga, ya.” Katanya lagi. Lalu, ia masuk ke kamar dan duduk di sampingku. Aku hanya tersenyum saja.

“Oh iya, maafkan aku ya, karena selama ini aku tidak menyebutmu dengan sebutan oppa, hehe.” Katanya sambil tertawa dan memelukku? Aigo, apa yang ia lakukan? Tunggu, ia bukan memeluk mu Sandeul, tapi memeluk kakanya Sungmin.

“Tentu saja. Bagaimana kalau kita berjalan-jalan?” tanyaku. Beberapa hari lagi kami akan berpisah, aku akan kembali ke kehidupan awalku. Jadi, selagi ada waktu aku tidak boleh menyia-nyiakannya.

Beberapa menit kemudian, kami sudah ada di taman Seoul. Oke, aku akan menghabiskan waktu di sini.

Oppa, aku ingin ice cream itu! Kau harus membelikanku!” katanya lebih tepatnya memaksaku.

“Aku akan membelikanmu jika kau berada di sana lebih dulu dari aku.” Ya, sepertinya tantangan yang bagus. Aku kan cukup jago berlari. Tapi, sepertinya aku salah, ia cerdas, bahkan cerdas sekali. Saat aku bicara tadi, ia langsung berlari menuju penjual ice cream bahkan telah memesannya.

Seperti yang ku katakan aku benar-benar menghabiskan waktu hari ini.

**

Author POV

Esok hari adalah waktu di mana Sandeul dan Sungmin harus kembali ke tempat asal. Mau tidak mau Sandeul harus kembali pada kehidupannya yang dulu. Entah karena apa, Sungmin mengundang Sandeul dan Yongri bertemu dengannya.

Saat pertama mereka bertiga sudah berkumpul, pastinya Yongri kaget melihat kakaknya ada dua, mereka kembar! Akhirnya Sungmin menceritakan semua, dan ini memang tujuan Sungmin.

Yongri yang merasa telah mengerjai oppa palsu itupun tentu saja langsung malu. Bukan itu saja, ia pernah memeluknya, bukan?

“Ah~ kau benar-benar gila, Sungmin. Dan, ng~ maaf ya kalau aku jahil padamu, Sandeul.” Kata Yongri diakhir penjelasan mereka berdua. Tentu saja ia merasa bersalah, karena ia bukan mengerjai kakaknya, tapi orang yang mirip dengan kakaknya. Tapi Sungmin, sepertinya ia puas sekarang. Dari awal menceritakan hingga sekarang ia terus tertawa.

Sandeul hanya tersenyum saja menjawab pertanyaan dari Yongri, seolah berkata ‘iya, aku memafkanmu’. Akhirnya, Sungmin memutuskan untuk pergi membeli minum dahulu sehingga kini hanya ada Yongri dan Sandeul.

“Ng~ Yongri.” Panggil Sandeul di tengah keheingan itu. Sejak dulu ia jadi Sungmin, ia tak pernah sekaku ini berada dekat dengan Yongri. Yongri pun menghadap ke arah Sandeul. “Aku boleh bilang kalau~” kata Sandeul ragu-ragu.

“Apa? Katakan saja.” Kata Yongri sambil terus memperhatikan Sandeul yang tadi memutuskan perkataannya.

Ani, aku menyukai. Kau mau jadi yeoja-ku, kan?” kata Sandeul. Ya! Sandeul menyatakan perasaannya. Ia sungguh berani, bukan? Walau mengenal Yongri saat menjadi Sungmin dan baru berkenalan secara asli sekarang, ia sudah menyatakan perasaannya.

Yongri tampak berpikir. Tunggu, orangtuanya bilang ia tidak boleh berpacaran dulu? Tapi, sepertinya Yongri akan memikirkan hal ini baik-baik jika ia memang menyukai Sadeul.

“Mm~ Jika kau bukan kakakku, aku mau jadi yeoja-mu.” Kata Yongri sehingga membuat Sandeul puas dengan jawaban itu.

Ternyata, Sandeul sudah bicara pada Sungmin kalau ia menyukai Yongri. Dan, pada akhirnya ia memperbolehkan Yongri berpcaran dengan Sandeul saat itu. Dan, Sungmin juga yang merencanakan ini semua.

END

Hei, hei, hei. Aku tau ini agak buruk dan alurnya kecepetan-_-v maafkan aku kalau FF ini lagi-lagi gaje dan aneh mirip yang buat /loh? Engga deng :p But, thank you ^^

2 responses to “[Oneshoot] Special Girl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s