(EVERYTHING HAPPEN) UNDER THE MOON ~ PART 9

UTM 11

Author             : @bee_678

Rating             : PG-15

Length             : Chapter

Genre              : Fantasy, Romance

Cast                 : Kim Myung Soo (L), Park Jiyeon, Nam Woohyun, Kim Jaejoong,  Kris, etc.

Disclaimer       : 100% original buatan author kecuali castnya..Say No to tukang fotokopi (Plagiat!!)

Happy Reading ^^

Sudah seharian Jiyeon terlelap. Sesuai dengan efek obat yang diberikan Myungsoo, yeoja ini baru akan terbangun dari tidurnya besok malam, bersamaan dengan kepulangan Jaejoong dari perjalanan dinasnya. Selama itu, Jiyeon tertidur dengan sangat pulas. Nampak seperti tidak terdapat kecemasan di raut wajahnya.

Namun tidak sama halnya dengan malam ini. Tiba-tiba Jiyeon bergeliat di atas tempat tidurnya. Kegelisahan meliputi alam bawah sadar yeoja ini. Butiran-butiran besar keringat dingin bermunculan di keningnya, membuat beberapa helai anak rambutnya basah. Detik berikutnya Jiyeon mulai bergumam tidak jelas. Kebetulan saat itu Jieun dan yang lainnya masih berada di dalam kelas seperti biasanya.

“Jiyeon-ah….Tolong aku! Selamatkan aku, Jiyeon-ah!” teriak Ji Cheol sambil melambai-lambaikan tangannya seolah berusaha menggapai sesuatu.

“Appa..” gumam Jiyeon semakin jelas sambil terus mengerak-gerakkan kepalanya ke kanan ke kiri. Kini tidak hanya keringat yang membasahi wajahnya, Jiyeon mulai mengeluarkan air matanya.

“Tolong aku! Aku tidak tahan, Jiyeon-ah! Panaaaass!” teriak Ji Cheol sambil terus melambaikan tangannya.

“APPA!!!” seru Jiyeon sambil bangun dari tidurnya. Deru nafas yeoja ini tidak beraturan. Jantungnya berdegup jauh lebih kencang dari biasanya

Tanpa banyak berpikir lagi, Jiyeon mengibaskan selimutnya dan beranjak dari tempat tidurnya. Ia tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun. Tidak mengenakan sendalnya apalagi baju hangat. Mimpinya kali ini berbeda dari yang sebelumnya. Mimpinya kali ini terasa begitu nyata.

Jiyeon mempercepat langkahnya hingga akhirnya yeoja ini memilih untuk berlari. Ia menuruni anak tangga menuju tempat yang selalu didatanginya. Jiyeon langsung mendobrak masuk ruangan yang sudah tidak asing baginya, ruangan kepala sekolah.

Yeoja ini dibuat agak terkejut saat melihat Kris, Woohyun, Siwon, dan Boa berada di ruangan tersebut. Tidak hanya mereka berempat, seorang namja yang masih mengenakan mantel panjang hitam lengkap dengan sarung tangan kulit dengan warna yang sama, duduk di tengah-tengah mereka. Jaejoong yang seharusnya baru kembali besok malam, mempercepat kepulangannya. Hal itu justru membuat ketakutan di otak Jiyeon semakin terasa nyata.

“Jiyeon-ah, bukankah seharusnya kau masih tertidur?” tanya Siwon dengan alis berkerut.

“Appaku baik-baik saja bukan?” Jiyeon balik bertanya tanpa mempedulikan pertayaaan guru kesehatannya. Seisi ruangan terdiam. Mereka menatap mata basah Jiyeon lurus. “Di mana Appaku?” tanya Jiyeon lagi. Kali ini setengah berteriak karena merasa tidak juga mendapat jawaban.

“Jiyeon-ah….” panggil Jaejoong sambil berjalan menghampiri puteri semata wayangnya. Boa, Siwon, Woohyun, dan Kris ikut bangun dari duduknya. Di saat bersamaan Myungsoo yang baru kembali dari menara gedung sekolah, masuk ke ruang kerja Jaejoong itu. Pupilnya sempat membesar saat melihat Jiyeon berada di sana. “Ji Cheol hilang.” sambung sang kepala sekolah hati-hati.

Hati Jiyeon mencelos. Rasanya seperti umur Jiyeon berkurang 10 tahun. Ia bergerak mundur beberapa langkah karena tiba-tiba saja kakinya terasa lemas. Wajahnya pucat, tatapan gadis ini kosong, menerawang tidak jelas. Gambaran dari mimpinya kembali terlintas di benaknya. Jiyeon semakin ketakutan. Ia takut kalau apa yang muncul di mimpinya tadi adalah kenyataan. Ayahnya sekarang sedang kesakitan tak berdaya di tempat gelap yang tidak diketahui siapapun.

“Jiyeon-ah, Ji Cheol diculik.” Jaejoong memperjelas pernyataan sebelumnya. Ia menatap nanar puterinya yang mematung seperti habis tersambar petir. “Jiyeon-ah…”

“Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin Appa hilang? Bukankah kau bilang tempat itu aman? Bukankah itu ruangan rahasia yang hanya dapat dibuka olehmu? Bagaimana bisa Appa diculik? Ini tidak masuk akal.” tukas Jiyeon lirih sambil menatap Jaejoong. Terpancar kesedihan mendalam di mata cantiknya itu.

“Uee dimanterai. Ia yang membuka ruangan rahasia itu. Ia melakukan apapun yang diperintahkan padanya oleh Lord Vampir.” ujar Jaejoong.

“Mwo? Lord…..” Lutut Jiyeon benar-benar lemas kali ini. Ia hampir terjatuh. Jaejoong sudah siap menopangnya, namun gadis ini buru-buru mengibaskan tangan sang ayah dan kembali menegakkan dirinya. Jaejoong bergeming, mengubur rasa sakit baru di hatinya. “Jadi ini semua ulah Lord Vampir?” ulang Jiyeon berharap semua yang didengarnya tadi adalah kebohongan belaka. Jiyeon menatap namja pucat di hadapannya dengan pandangan yang kabur karena tertutup air mata. Jaejoong mengangguk pelan. “Tidak mungkin!” pekik Jiyeon.

“Jiyeon-ah, kami rasa kali ini Lord Vampir mendapat bantuan besar dari dalam Luna. Kalau tidak, hal ini tidak akan pernah terjadi.” tukas Siwon dari balik punggung Jaejoong.

“Mwo?” ujar Jiyeon kaget.

Gadis ini sudah kehabisan kata-kata. Ia memandang satu per satu vampir yang ada di ruangan itu. Mata Jiyeon berhenti cukup lama saat bertatapan dengan Kris. Namja itu tetap memperlihatkan ekspresi datarnya. Selanjutnya mata bulat Jiyeon bertemu dengan mata namja di hadapannya. Ia begeming sesaat sambil terus menatap kepala sekolah Luna itu. Hingga akhirnya Jiyeon melontarkan semua yang terlintas begitu saja di otaknya.

“Apa kau sengaja melakukannya?” tanya Jiyeon dingin. Jaejoong terdiam. Ia sudah dapat membaca apa yang akan terjadi selanjutnya. “Kalau benar Lord Vampir mendapat bantuan orang dalam, kau bisa saja melakukannya.”

“Park Jiyeon, hentikan!” seru Myungsoo dari balik punggung Jiyeon. Namun gadis itu sama sekali tidak menggubrisnya.

“Bukankah selama ini kau iri dengan Appaku? Jadi bisa saja kau berpikir dengan menghilangkannya, kau bisa menggantikan posisinya sebagai satu-satunya ayahku….”

“Park Jiyeon, kau sudah keterlaluan! Berhentilah bicara sembarangan!” seru Myungsoo tapi tetap tidak didengar. Jaejoong sendiri tetap bergeming, membiarkan Jiyeon menyelesaikan kalimatnya meskipun itu terasa menyayat hatinya.

“Wae? Kenapa kau pergi di saat seperti ini? Kenapa kau harus menyuruh Uee-shi yang mengantikanmu? Kau tahu jelas dia tidak pernah menyukaiku! Wae?! Aku benci padamu! Aku akan mencari ayahku sendiri!” teriak Jiyeon histeris lalu berlari keluar ruang kerja itu, membiarkan Jaejoong tetap mematung dengan perasaan hancur lebur.

***

“Lepaskan tanganku, Kim Myungsoo! Aku harus mencari Appaku!” seru Jiyeon sambil berusaha menghempaskan cengkraman Myungsoo di lengannya.  Namja itu tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus yeoja yang terus meronta ini. “Lepaskan aku! Aku harus menyelamatkan Appaku!” pinta Jiyeon di tengah tangisnya yang pecah.

“TENANGLAH, PARK JIYEON!!!” bentak Myungsoo sukses membuat Jiyeon tersentak dan berhenti meronta. Untuk beberapa saat keduanya hanya saling berpandangan. “Apa kau pikir dengan begini kau bisa menemukan ayahmu? Kau tahu, yang jelas kau bisa saja kehilangan satu ayahmu! Kata-katamu sangat keterlaluan! Bagaimana mungkin kau berpikir Gyojang-nim yang melakukannya? Kau sendiri tahu dengan pasti bagaimana Gyojang-nim berusaha untuk menyelamatkan ayah angkatmu itu! Dan asal kau tahu, Gyojang-nim pergi kali ini salah satunya adalah untuk mencari ramuan langka yang dapat menyembuhkan ayahmu.” tukas Myungsoo tanpa melepaskan cengkraman tangannya dan tatapan matanya dari yeoja di depannya.

Hati Jiyeon langsung mencelos mendengarnya. Matanya melebar tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan Myungsoo. Benar kata namja itu, dirinya tahu persis bagaimana Jaejoong berusaha untuk menyembuhkan Ji Cheol. Tapi apa tadi? Jaejoong rela bepergian jauh untuk mendapatkan ramuan yang dapat mengobati Ji Cheol. Demi Tuhan, Jiyeon tidak pernah mengira hal itu. Dan sekarang, gadis ini merasa bersalah terhadap sang kepala sekolah tersebut.

“Ottoke Myungsoo-yah? Aku tidak bermaksud menyakitinya. Aku hanya takut kehilangan orang yang sudah seperti orang tua kandungku sendiri. Mimpi itu sangat mengerikan, Myungsoo-yah! Aku takut terjadi sesuatu padanya. Ottoke? Aku sangat takut.” ujar Jiyeon dang tangisannya kembali pecah.

Myungsoo menatap nanar yeoja rapuh di hadapannya. Entah mendapatkan pikiran darimana. Tapi ide itu muncul begitu saja saat melihat Jiyeon begitu sedih dan ketakutan hingga tubuhnya bergetar hebat. Namja ini menarik tangan kurus yang dari tadi sudah ada dalam cengkramannya, merengkuh Jiyeon dalam pelukannya. Membiarkan yeoja itu menangis di dadanya.

Kehangatan langsung menjalar ke tubuh ramping Jiyeon. Meskipun tidak mampu menghilangkan kecemasannya, namun setidaknya di dalam pelukan namja itu Jiyeon bisa menghilangkan rasa takutnya. Ia merasa berada di dalam perlindungan yang aman saat itu.

“Hmm..romantis! Sayangnya mungkin hal itu tidak akan bertahan lama. L, sebaiknya kau menyiapkan hatimu untuk kehilangan yeoja itu selamanya.” gumam seseorang yang tersenyum sinis melihat pemandangan manis itu.

“Kau tinggallah di kamarmu!” ujar Myungsoo saat Jiyeon sudah tidak menangis lagi.

“Shireo! Aku akan ikut mencari Appaku.” tolak Jiyeon mentah-mentah.

“Para anggota Stratiotis Selene sekarang sedang mencari Ji Cheol-shi. Kalau kau ikut, kau justru akan membuat kami susah karena kami harus mencari ayahmu sekaligus menjaga keselamatanmu.”

“Aku bisa jaga diriku sendiri!” bantah Jiyeon lagi.

“Berhentilah menjadi keras kepala! Untuk saat ini hanya kami yang bisa mencari ayahmu! Jadi sebaiknya kau menurutlah!” tukas Myungsoo lebih terdengar seperti perintah.

“Tidak! Bagaimana bisa aku berdiam diri sementara kalian mencari ayahku yang entah ada di mana dan sedang mengalami hal buruk seperti apa. Tolong ijinkan aku ikut mencarinya! Dia ayahku, Kim Myungsoo!” ujar Jiyeon bersikukuh. Myungsoo menatap dalam mata yeoja di depannya sementara otaknya berpikir. Selanjutnya pemuda ini mengangguk singkat.

“Kau boleh ikut tapi jangan pernah memisahkan dirimu dari kami!” ujar Myungsoo disusul anggukan pasti Jiyeon. “Sekarang sebaiknya kau tukar pakaiannmu. Setidaknya kenakan sepatu dan baju hangatmu.” sambung Myungsoo sambil menatap tubuh dan kaki Jiyeon bergantian. Yeoja ini melirik kakinya sendiri dan baru menyadari bahwa ia tidak memakai alas kaki. Sekali lagi Jiyeon mengagguk.

“Kau tunggu aku di sini!” pinta Jiyeon lalu berlari menaiki anak tangga menuju kamar asramanya. “Appa, tunggu aku! Aku pasti akan menemukanmu.” gumam Jiyeon saat belari di koridor sepi yang remang-remang.

Deg. Tiba-tiba dada Jiyeon seperti dihantam benda tumpul yang sangat keras. Ia memperlambat langkahnya. Tangan kanannya ia gunakan untuk menekan dadanya sendiri, berharap rasa nyeri itu menghilang. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Rasa ngilu itu semakin menjadi. Bahkan ditambah dengan kesesakan yang teramat, membuat gadis ini kesulitan untuk bernafas.

Jiyeon menghentikan langkahnya dan membiarkan sebelah tangannya yang bebas meraba dinding dingin di sampingnya. Jemarinya berkerut berusaha menahan rasa sakit. Ia membungkuk untuk beberapa saat hingga sebuah hantaman lain terasa mengenai tubuhnya. Jiyeon terbelalak. Wajahnya pucat, matanya melebar, tubuhnya terasa begitu berat. Yeoja itu tersungkur sambil terus memegangi dinding dan meremas bagian atas baju tidurnya sendiri.

Sesekali ia mendesah karena tidak kuat dengan rasa sakit yang menyerangnya. Jiyeon mengerjap-ngerjapkan matanya dan berusaha mengatur nafasnya. Namun semua terasa sia-sia. Rasa sakitnya tidak berkurang. Saat ini, yang ada kepalanya terasa pusing, perutnya mual, ditambah belaian angin dingin yang menusuk hingga ke tulang sum-sumnya.

Jiyeon terus mendesah tanpa bisa berteriak minta tolong. Lidahnya seperti diikat hingga sulit digerakkan. Ia menangis, berharap seseorang datang menolongnya. Tiba-tiba saja satu per satu wajah orang-orang yang dikenalnya muncul dibenaknya. Tapi tidak satupun dari mereka menolongnya. Samar-samar Jiyeon seperti melihat bayangan Jieun yang menatap lurus ke arahnya. Jiyeon berusaha untuk memanggil teman sekamarnya itu, namun suaranya tidak bisa keluar. Jiyeon putus asa saat menyadari Jieun berjalan semakin menjauh darinya. Selanjutnya bayangan wajah Woohyun dengan ekspresi serupa dengan Jieun sebelumnya, muncul. Tapi lagi-lagi kakak kelas yang selalu ada untuknya itu justru meninggalkannya. Tanpa sadar Jiyeon melambai-lambaikan sebelah tangannya, berusaha menggapai orang-orang itu. Mulutnya terbuka namun tetap tidak ada suara yang dapat keluar dari sana.

Selanjutnya giliran wajah Kris yang muncul. Vampir dingin itu menatap Jiyeon lalu menggelengkan kepalanya sambil berjalan menjauh seperti kedua rekannya yang lain. Jiyeon semakin terpuruk saat giliran wajah Myungsoo yang ia lihat. Tidak seperti yang sudah-sudah, vampir itu justru membalikkan tubuhnya memunggungi Jiyeon dan berjalan menjauh dari sana. Hingga yang terakhir, wajah tampan vampir terhebat saat ini terlintas di hadapannya. Vampir yang baru saja ia sakiti dengan kata-katanya seolah berjalan menghampirinya tanpa senyuman yang biasa diberikannya pada gadis ini. Jiyeon menatap bola mata gelap Jaejoong yang kini seakan sudah berjongkok di depannya.

“Bukankah tadi kau bilang membenciku? Kau tidak mungkin mengharapkanku untuk menolongmu kan?” tanya Jaejoong dingin. Jiyeon hanya bisa menatap Jaejoong seakan matanya bisa berbicara ‘Aku tidak bermaksud menyakitimu, tolong aku Gyojang-nim, ini sakit’. Tapi tidak ada tanda-tanda namja itu akan menolongnya. Jaejoong justu berdiri dan menatap tajam dirinya. Jiyeon mendongakkan kepalanya mengikuti gerakan ayah kandungnya itu. “Kau memang tidak seharusnya lahir, Jiyeon-ah! Ini sudah takdirmu!” sambung Jaejoong sukses membuat Jiyeon seakan kehilangan jiwanya.

Meskipun tubuh yang dilihatnya adalah kepala sekolahnya, namun suara yang keluar dari mulut namja itu, suara yang baru saja didengarnya, jelas-jelas bukan milik Jaejoong. Suara itu lebih mirip dengan suara yang selalu menghantuinya beberapa waktu lalu. Suara milik vampir mengerikan yang selalu mencoba mendapatkan nyawanya. Detik berikutnya, bayangan Jaejoong semakin pudar dari pandangannya.

Selanjutnya terdengar suara seorang yeoja yang memanggil namanya. Suara itu terdengar bergitu mengkhawatirkan dirinya. Jiyeon terkulai namun hatinya sedikit merasa lega saat mendengar suara itu. Suara khas teman sekamarnya. Ternyata Jieun masih mempedulikannya, begitu pikir Jiyeon. Sedetik kemudian semuanya terasa gelap baginya. Untuk kesekian kalinya selama ia menjadi salah satu penghuni Luna, yeoja ini pingsan.

***

Jiyeon berada di sebuah tempat yang tidak terlalu asing baginya. Ia pernah ke tempat itu sebelumnya. Tempat yang gelap dan dingin yang sekelilingnya berdiri kokoh pohon-pohon pinus yang usianya sudah tua. Sesekali ia mendengar lolongan suara srigala yang bisa membuat bulu kuduknya berdiri, memberikan sensasi kengerian yang tidak wajar. Hawa dingin yang menyelimuti hutan itu juga seperti bukan berasal dari cuaca yang memang masih bersalju. Rasa dingin sarat akan kehampaan. Suasana menyeramkan itu bertambah lengkap saat hidung Jiyeon menangkap bau amis yang sudah mulai dikenalnya. Bau darah yang sangat menusuk hidungnya.

Jiyeon berjalan seorang diri di dalam hutan yang dihuni oleh ratusan canis itu. Seakan ada sesuatu yang mendorongnya untuk terus masuk lebih dalam dan lebih dalam lagi. Jiyeon sendiri tidak menyadari ke mana kakinya melangkah. Ia hanya membiarkan dirinya dituntun sebuah suara di dalam hatinya yang menyuruhnya terus berjalan hingga tiba di sebuah tempat di dalam hutan itu, yang sama sekali tidak ditumbuhi pepohonan. Hanya ada beberapa batang pohon yang seolah ditebang tidak beraturan.

Yeoja ini melemparkan pandangannya ke sekeliling hutan. Ia tidak mampu melihat apa-apa di sana karena terlalu gelap. Jiyeon maju beberapa langkah lagi ke depan hingga merasa kakinya menginjak kubangan yang airnya sangat dingin. Detik berikutnya matanya menangkap seberkas cahaya yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri saat itu. Jiyeon memicingkan matanya, berusaha menembus kegelapan yang mendominasi tempat itu.

Mata yeoja ini semakin membesar saat mendapati seberkas cahaya lagi dari sebelah kirinya. Dan selanjutnya cahaya-cahaya lain bermunculan hingga akhirnya tempat itu menjadi remang-remang. Jiyeon mengerutkan keningnya, saat ini yang dilihatnya hanya obor-obor dan beberapa lilin besar mengelilinginya, namun ia sama sekali tidak dapat melihat wajah orang-orang yang membawa benda-benda penerang itu.

“Jieun-ah!” panggil Jiyeon. Suaranya bergetar menahan rasa dingin dan ketakutan yang mulai merasuki tubuhnya. Tidak ada suara yang membalasnya. Sekali lagi ia coba memanggil temannya yang lain, “Sulli-yah! Kalian di sana?” ujar Jiyeon ragu. Tetap tidak ada balasan. Sekujur tubuh Jiyeon mulai merinding. Ia mencoba untuk menelan air liurnya dengan susah payah sambil melemparkan pandangannya ke sekeliling hutan.

Tiba-tiba saja terdengar ledakan dari sisi kanannya disusul lidah-lidah api yang yang menyala-nyala. Jiyeon segera menoleh ke sumber cahaya itu. Matanya menyipit karena terlalu silau. Ia hanya bisa melihat samar-samar di balik kobaran api itu ada sebuah tiang berdiri tegak. Dan di sana ia juga melihat sesosok siluet manusia. Jiyeon mempertajam penglihatannya hingga akhirnya matanya bena-benar membulat saat menyadari siapa yang diikat di tiang kayu itu.

“APPA!!” pekik Jiyeon sambil melangkahkan kakinya mendekati kobaran api yang membentuk pagar, mengelilingi sang ayah.

“Appa!!” teriak Jiyeon sambil terbangun dari tidurnya. Seperti biasanya, mimpi buruk itu membuatnya kelelahan. Dadanya naik turun dengan cepat. Jiyeon mengusap keningnya sendiri. Ia yakin mimpinya itu lebih dari sekedar bunga tidur biasa. Jiyeon benar-benar merasakan dirinya seperti berada di dalam hutan dan menemukan sang ayah.

“Tidakah kau ingin menyelamatkan ayah angkatmu, keponakanku yang cantik?” terdengar suara berat seseorang dari balik daun telinga Jiyeon yang berhasil membuatnya tersentak. Detik berikutnya gadis ini turun dari tempat tidurnya dan berlari keluar ruang kesehatan itu tanpa sepengetahuan Jieun yang saat itu sedang berada di toilet.

Jiyeon berlari menuju gedung perlengkapan yang berada tepat di sebelah aula olahraga. Yeoja ini langsung mendorong pintunya dan menerobos masuk. Ia melemparkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencari benda yang ada di dalam pikirannya. Tidak lama kemudian matanya berhenti pada sebuah kotak kaca yang disimpan di pojok ruangan. Jiyeon mendekati kotak itu dan langsung membukanya. Tanpa banyak pertimbangan ia mengambil sebilah pedang yang biasa dipakai siswa Luna untuk berlatih anggar. Detik berikutnya gadis ini langsung beranjak keluar dan kembali berlari menuju tempat yang dilihatnya di bawah alam sadarnya, hutan pinus di belakang sekolah.

***

“Gyojang-nim!” seru Jieun yang langsung menerobos masuk kantor sang kepala sekolah. Jaejoong menatap bingung ke arah muridnya yang satu itu. “Jiyeon hilang!” tukas Jieun panik. Jaejoong yang saat itu masih merenungkan kata-kata puterinya beberapa saat lalu langsung terlonjak dari duduknya.

“Gyojang-nim!” tiba-tiba suara lain terdengar di kantor itu. Jaejoong mengalihkan perhatiannya pada namja berkaca mata yang baru saja masuk ke ruangan itu dengan tenang. “Aku melihat Jiyeon masuk ke hutan belakang sambil membawa sebilah pedang di tangannya.” sambung namja itu.

“Mwo?!” pekik Jaejoong.

“Aku sudah menyuruh beberapa anggota Stratiotis Selene mengikutinya. Firasatku mengatakan Lord Vampir juga ada di sana. Gyojang-nim, bisakah kau memberi perintah pada guru-guru lain untuk menggantikan kami menjaga Luna sementara?” tanya namja bernama Kris itu.

“Lakukan sesukamu! Dan setelah itu ikut aku ke hutan belakang!” tukas Jaejoong yang matanya sudah berubah warna menjadi hijau menyala. Secepat kilat ia melewati Jieun dan Kris, keluar dari ruangannya.

***

Jiyeon membiarkan langkah kakinya menuntun dia ke bagian hutan yang paling dalam. Bagian yang gersang yang dilihatnya di dalam mimpi. Rasanya ia sudah menghafal setiap bentukan hutan ini. Gadis ini dengan mudah menghindari ranting-ranting yang menjulur dan berlari di antara batang-batang pohon pinus yang berjajar rapi.

“Waktumu tidak banyak Jiyeon-ah! Cepatlah temui aku atau kau hanya bisa menemui bangkai ayah angkatmu itu!” suara mengerikan itu kembali terdengar di telinga Jiyeon. Gadis ini semakin panik dan mempercepat larinya. Pedangnya ia pegang kuat-kuat dengan kedua tangannya. Tanpa disadarinya ada sepasang mata bersinar yang mengawasinya dan akhirnya memilih untuk mengikuti gadis itu di antara rerumputan dan semak-semak.

Jiyeon terus berlari tanpa memperhatikan sekelilingnya. Tubuhnya sudah basah dengan keringat ditambah hujan rintik-rintik yang baru turun beberapa saat lalu. Tiba-tiba yeoja ini menghentikan langkahnya saat bau amis yang sama seperti dalam mimpinya melewati bawah hidungnya. Tubuh Jiyeon bergetar hebat dan ia berusaha menghilangkannya dengan cara memperkuat cengkraman pada pedangnya.

“Sedikit lagi, dear! Sedikit lagi kau akan bertemu dengan manusia kotor itu!” suara yang sama kembali terdengar jelas di telinganya. Kalimat itu berhasil membakar emosi di dalam diri Jiyeon. Mata gadis ini berkilat dan tanpa membuang waktu lagi, ia kembali menggerakkan kakinya, berlari hingga bisa menemukan tempat ayahnya disandera.

Jiyeon kembali menghentikan langkahnya. Kali ini dikarenakan oleh sensasi dingin yang baru saja menyiprat di kakinya yang tak beralaskan apapun. Jiyeon memandang berkeliling. Ia tahu di tempat inilah ayahnya berada. Tempat tandus tanpa pepohonan yang ia lihat di dalam mimpinya. Bedanya kali ini tempat itu tidak kering namun sudah basah diguyur hujan yang semakin lama semakin lebat.

“Keluar kau! Kembalikan Appaku!” teriak Jiyeon bersamaan dengan suara guntur yang menggelegar dan kilatan petir pada langit pekat di atasnya. Sekali lagi Jiyeon melemparkan pandangnya ke sekelliing. Kali ini ia biarkan pedang panjang di tangan kanannya menjuntai hingga ujungnya menyentuh tanah basah di bawahnya.

Tiba-tiba saja Jiyeon merasa ada sesuatu yang menabrak tubuhnya dari belakang. Secara naluriah ia langsung memutar tubuhnya namun tidak ada siapapun di sana. Jiyeon mengacungkan pedang yang dibawanya sambil berjalan mundur beberapa langkah. Tubuhnya gemetar karena rasa takut yang tidak dapat disembunyikannya.

Sekali lagi yeoja ini merasa ada sesuatu yang kembali menabrak tubuhnya dari belakang. Sesuatu yang dingin yang membelai kulitnya. Jiyeon kembali memutar tubuhnya, kali ini sambil mengibas-ngibaskan pedangnya. Dan untuk ketiga kalinya kejadian yang sama terulang lagi. Namun sekarang ditambah dengan suara kikikan yang semakin lama terdengar semakin jelas dan semakin banyak. Jiyeon benar-benar panik sekarang . Ia lagi-lagi memutar tubuhnya sementara tangannya tetap sigap mengacungkan pedang.

“YAA! Berhentilah mempermainkanku! Keluar sekarang juga dan kembalikan Appaku!” teriak Jiyeon dalam ketakutannya sambil terus melangkah mundur.

“Baiklah kalau itu maumu, keponakanku sayang!” terdengar suara serak seseorang tepat di telinga Jiyeon. Yeoja ini sontak membalikan tubuhnya lalu memekik tanpa bersuara. Secara naluriah Jiyeon cepat-cepat menjauh dari mahkluk berkerudung dihadapannya. Karena terlalu panik dan takut, yeoja ini tidak memperhatikan langkahnya sehingga ia menyandung kakinya sendiri dan terjatuh di atas kubangan air kotor yang dingin. “Oh..oh..mianhe, Jiyeon-ah! Aku tidak bermaksud mengejutkanmu!” sambung suara serak itu dan seketika itu cahaya obor-obor dan lilin-lilin besar bermunculan. Anehnya api-api itu tidak padam walaupun hujan deras mengguyurnya.

Jiyeon membisu dengan mata melebar karena masih terkejut. Tenggorokannya kering sekali hingga rasanya perih baginya sekedar untuk menelan air liurnya sendiri. Ia melemparkan pandangannya sekilas, mengitari hutan dan mendapati puluhan orang berjubah hitam yang membawa benda-benda penerang tadi mengelilinginya.

Jiyeon bergerak mundur dengan tergesa-gesa. Pandangannya kembali ia arahkan pada sosok berjubah hitam yang berdiri tegak di depannya sementara tangannya meraba-raba tanah kotor di sampingnya, berusaha menggapai pedang yang terlepas dari tangannya beberapa detik yang lalu.

Setelah merasa pedangnya sudah kembali di genggamannya, Jiyeon cepat-cepat berdiri dan mengacungkan benda tajam itu ke arah mahkluk di hadapannya.

“Di..di mana Appaku? Cepat kembalikan dia! Ka..kalau tidak..a..aku tidak akan segan-segan padamu!” seru Jiyeon terbata-bata. Seketika itu juga tawa mahkluk itu menggema di dalam hutan diikuti kikikan lain dari para pengikutnya.

Jiyeon menggerak-gerakan kepalanya sekilas, menoleh ke kanan-kirinya. Yeoja ini dapat merasakan tatapan-tatapan meremehkan dan mencibir ditujukan padanya walaupun ia sama sekali tidak dapat melihat wajah mahkluk-mahkluk tersebut. Detik berikutnya tawa itu berhenti saat mahkluk yang diduga Jiyeon adalah Lord Vampir, mengangkat sebelah tangan jubahnya.

“Kau memang pantas disebut keturunan keluarga Kim! Hanya kau yang berani menantangku langsung seperti ini! Tapi aku bukan vampir yang tidak ada kerjaan, yang mengundangmu ke sini tanpa mendapatkan apapun!” jawab vampir itu dengan suara seraknya yang mengerikan. Jiyeon bergeming. Ia mencengkram kuat-kuat pedangnya untuk mengendalikan emosi dan rasa takutnya.

“Apa maumu?” tanya Jiyeon. Terdengar jelas getaran pada suaranya. Vampir itu menyeringai, memperlihatkan taringnya yang tajam.

“Nyawamu?” jawab Lord vampir santai sukses membuat Jiyeon tersentak.

“Mw..mwo..mworagoyo?” tanya Jiyeon ketakutan disusul tawa berat vampir tersebut.

“Hahahaha..kau tidak perlu setakut itu, dear! Tenanglah, kali ini aku hanya akan meminta beberapa tetes darahmu saja.” ujar Lord Vampir.

Jiyeon kembali terdiam. Ia hanya memandang vampir kejam di hadapannya dengan tatapan yang sarat akan kengerian, geram, dan panik. Sementara itu otaknya berpikir keras tentang apa yang harus ia lakukan saat itu. Jiyeon tahu betul, jika ia memberikan darahnya, itu berarti ia telah menghidupkan kembali setan yang tak terkalahkan. Para penghuni Luna dan vampir lain diluar sana yang tidak bersalahlah yang nantinya akan menjadi korban kekejian sang Lord Vampir. Bukan hanya kaum vampir, tapi mahkluk tak berperasaan ini mungkin juga akan melukai kaum manusia yang bahkan tak mengetahui keberadaan mereka. Namun di satu sisi, Jiyeon juga dipaksa mengikuti permintaan vampir yang notabene adalah pamannya itu. Ia tidak mau Appanya yang menjadi korban dari semua ini.

“Aku tidak akan memberikan apa yang kau mau jika aku tidak melihat Appaku sekarang!” ujar Jiyeon akhirnya. Itu yang terlintas di otaknya saat ini. Memastikan ayah angkatnya itu memang ada di tempat ini.

“Cih!” gumam Lord Vampir mulai gusar lalu ia mengibaskan sebelah tangannya.

Detik berikutnya lidah-lidah api setinggi 3 kaki berkobar di sisi kanan Jiyeon. Yeoja ini langsung menoleh. Persis seperti yang ada di dalam mimpinya. Lidah api aneh yang berwarna biru kehijauan mengelilingi sebuah tumpukan batu besar yang ditengahnya ditancapkan sebatang kayu. Di sanalah Ji Cheol, ayah angkat Jiyeon itu diikat.

Mata Jiyeon membulat dan dadanya serasa mendapat pukulan keras saat melihat namja tak berdaya diikat. Ia tidak tega melihat namja paruh baya yang bahkan sudah tidak memiliki kulit selain luka bakar hitam yang disekujur tubuhnya, menderita dibalik pagar api tersebut. Secara nauriah yeoja ini berlari mendekati sang Appa. Namun tiba-tiba saja lidah api itu berubah menyerupai ular raksasa yang menghalangi dirinya untuk lebih mendekat pada sang ayah.

“Lepaskan Appaku!” teriak Jiyeon sambil memutar tubuhnya kembali menghadap Lord Vampir. Wajahnya sudah basah dengan air mata bercampur hujan.

“Bukan kau yang memerintah disini, bocah!” seru Lord Vampir geram sukses membuat Jiyeon tersentak namun ia berusaha untuk menyembunyikan hal itu.

“Kau tidak akan mendapatkan apapun dariku sebelum kau melepaskan Appaku!” ujar Jiyeon lantang sambil menatap tajam vampir yang sebentar lagi amarahnya meledak.

Lord Vampir mengeram kesal dan dengan secepat kilat ia menghampiri Jiyeon. Kini vampir kejam itu sudah berada di depan hidung Jiyeon. Tangannya yang hanya merupakan tulang-belulang kehitaman melingkar di leher jenjang Jiyeon. Ya, hanya berupa tulang kehitaman yang kurus dan dingin. Berkat serangang Jaejoong beberapa waktu lalu, tubuh Lord Vampir yang masih belum sempurna harus mengalami kemunduran lagi.

“Sudah kubilang, bukan kau yang memberi perintah di sini!” ujar Lord Vampir parau.

Tiba-tiba saja sesuatu dalam jatung Jiyeon bereaksi dan menimbulkan rasa nyeri yang teramat sangat. Jiyeon mengerang kesakitan. Matanya menyipit namun masih dapat melihat jelas bentuk wajah vampir kejam di depannya itu.

Kulitnya putih, hidungnya mancung, bibirnya pucat pasi. Sekilas namja itu mirip dengan Jaejoong. Hanya saja warna matanya yang membedakan mereka berdua. Mata Lord Vampir bercahaya putih keperakan, berbeda dengan Jaejoong yang memiliki bola mata hijau menyala. Dan satu hal lagi yang membuat kedua kakak beradik itu berbeda setidaknya untuk saat ini. Wajah Lord Vampir dipenuhi guratan-guratan kecokelatan seperti urat yang menjalar di bagian kirinya yang membuktikan vampir ini belum sempurna sepenuhnya.

***

Di lain pihak, Jaejoong, U-know, Boa dan beberapa anggota Stratiotis Selene termasuk di antaranya Myungsoo, Woohyun, Kris, Jieun, dan Sulli masih berpencar di dalam hutan pinus itu. Mereka masih belum menemukan keberadaan Jiyeon. Beberapa dari mereka ada yang berdiri di atas batang-batang pohon sambil melemparkan pandangan mereka, mencari sosok yeoja yang dicarinya.

Kau akan hancur bila berani menyentuh puteriku sedikit saja, ujar Jaejoong dalam hatinya. Matanya menyala di tengah kegelapan hutan.

“Semoga saja kalian masih sempat menemukan yeoja itu dalam kondisi hidup!” gumam seseorang sambil mengamati kesibukan vampir-vampir penghuni Luna itu dari atas pohon. Ia menyeringai culas memperlihatkan taringnya.

“Noe eodiya, Jiyeon-ah?” tukas Jieun pelan. Rasa khawatir dan bersalah terdengar jelas di nada suaranya. Myungsoo yang berdiri tidak jauh dari yeoja itu dapat mendengarnya dengan jelas. Ia menatap punggung sepupunya sekilas sebelum akhirnya ia memukul keras batang pohon pinus di sampingnya.

***

“Sudah kubilang, bukan kau yang memberi perintah di sini!” ujar Lord Vampir parau.

Jiyeon bergeming sambil menahan rasa sakit di jantungnya. Pedang di tangannya jatuh ke tanah. Yeoja ini mencengkram tangan sang Lord vampir, memaksanya melepaskan cekikan pada lehernya. Namun kekuatan Jiyeon tidak ada apa-apanya. Ditambah dengan rasa ngilu di dadanya, Jiyeon tidak berhasil menyingkirkan tangan kurus itu dari lehernya.

“Berhentilah memberontak dan beri darahmu dengan sukarela. Itu akan jauh mudah!” tukas Lord Vampir. Jiyeon melirik vampir di depannya dengan penuh amarah tanpa berniat mengabulkan permintaan mahkluk itu.

“Kau tidak akan mendapat apapun sebelum kau lepaskan Appaku!” balas Jiyeon susah payah karena nafasnya tersumbat. Lord Vampir mengeram dan dengan kasar menarik tubuh Jiyeon kepelukannya, mengapit lehernya dengan lengannya. Memutar tubuh yeoja itu hingga menghadap ke arah ayah angkatnya. “Kau lebih suka cara lain sepertinya.” bisik Lord Vampir di telinga Jiyeon.

Ia mengangkat dagu keponakannya itu dengan sebelah tangan agar dapat melihat Ji Cheol lebih jelas. Sedang tangannya yang lain menunjuk ke arah sang tawanan. Lord Vampir memutar pelan jari telunjuknya dan detik berikutnya Ji Cheol yang sebelumnya tidak bisa mengeluarkan suaranya, langsung berteriak kesakitan. Namja itu merasa sesuatu merobek kepalanya. Darah segar bercampur cairan hijau yang biasa keluar dari mata Ji Cheol, mengalir.

“APPA!” pekik Jiyeon bersatu dengan teriakan kesakitan Ji Cheol. Lord vampir tertawa puas. Begitu pula dengan para ‘Blood Vassal’ yang sedari tadi menikmati pemandangan di depannya.

“Jadi, apa keputusanmu, dear?” tanya Lord Vampir penuh kemenangan.

Jiyeon menangis sejadinya. Wajah Ji Cheol dan para penghuni Luna satu persatu muncul di benaknya. Setelah ini ia akan begitu merasa bersalah pada kaum vampir lainnya. Rasa sayangnya pada Ji Cheol mengalahkan segalanya. Yeoja ini akhirnya menutup matanya, mempersilakan Lord Vampir menancapkan gigi tanjamnya pada lehernya.

“Ini tidak perlu terjadi bila kau menuruti kata-kataku dari awal, Jiyeon-ah!” bisik Lord Vampir kemudian ia mulai membuka mulutnya dan mendekatkan taringnya ke urat nadi Jiyeon. Seluruh pengikutnya bersorak gembira sambil mengacung-acungkan obor dan lilin mereka melihat tuannya selangkah lagi akan menjadi vampir tak terkalahkan.

Di saat yang sama seekor canis yang sedari tadi mengikuti Jiyeon dan menyaksikan seluruh kejadian itu  dari balik semak-semak, melompat keluar dari persembunyiannya dan berhasil memisahkan Jiyeon dari vampir jahat itu. Lord Vampir mundur beberapa langkah karena serangan canis tersebut, sedangkan Jiyeon tersungkur ke tanah. Detik berikutnya serigala ini melolong nyaring hingga terdengar ke seluruh penjuru hutan dan sampai ke telinga Jaejoong dan pengikutnya. Secepat kilat Kepala sekolah Luna itu terbang ke sumber suara diikuti yang lainnya.

Canis itu berdiri di depan Jiyeon, berusaha melindungi yeoja yang masih terkejut dengan kedatangan sang penghuni hutan.

“Canis brengsek! Beraninya kau mencampuri urusanku!” bentak Lord Vampir.

Serigala abu itu mengerang dan siap menerjang siapapun yang mencelakai gadis dibelakangnya. Para ‘Blood Vassal’ maju beberapa langkah hendak melenyapkan canis yang telah menghambat pemulihan tuannya. Namun pergerakan mereka terhenti saat satu persatu anggota Stratiotis Selene dan beberapa staff pengajar Luna muncul dan membuat lingkaran yang mengelilingi Jiyeon.

“Jiyeon-ah, gwenchanha?” tanya Jaejoong, vampir terakhir yang tiba di tempat itu. Ia berlutut disamping Jiyeon dan menatap puterinya itu dengan penuh kecemasan. Sementara Myungsoo diam-diam ikut melirik yeoja di belakangnya itu, memastikan ia tidak terluka.

“Aku tidak apa-apa. Tapi Appa..Appa..dia….” Jiyeon tidak kuasa menyelesaikan kalimatnya. Gadis ini hanya menunjuk ke arah Ji Cheol yang diikat.

Jaejoong mengikuti arah telunjuk puterinya itu. Matanya berkilat saat melihat Ji Cheol yang sedang terluka parah diikat dengan rantai di antara pagar-pagar api. Jaejoong mengalihkan pandangannya lagi pada gadis berantakan di hadapannya sebelum beranjak dari posisinya dan berjalan menerobos kerumunan murid-muridnya agar dapat melihat sang Lord Vampir lebih jelas.

“Selamat malam, Hyung! Kalau boleh kukatakan, sejujurnya aku sangat tidak mengharapkan kedatanganmu dan para pengikutmu itu saat ini.” ujar Lord Vampir sambil sesekali menjulurkan kepalanya agar dapat melihat vampir-vampir lain di balik punggung Jaejoong.

“Pergilah dari sini sebelum kesabaranku habis!” tukas Jaejoong dingin, tanpa mempedulikan kata-kata sang adik sebelumnya. Lord Vampir tersenyum sinis mendengar ucapan namja di hadapannya.

“Hyung, kau masih saja memerintahku. Tenanglah, aku akan pergi setelah mendapatkan apa yang aku mau.” jawab Lord Vampir dan detik berikutnya terdengar suara jeritan yang berasal dari Jiyeon.

U-know, BoA, dan para anggota Stratiotis Selene langsung menoleh ke sumber suara. Jiyeon memegangi dadanya sendiri sambil menjerit kesakitan. Jieun langsung menghampiri teman sekamarnya itu dan berjongkok di hadapannya.

“Jiyeon, ah! Apa yang terjadi?” seru Jieun khawatir.

Jiyeon tidak sanggup menjawab pertanyaan itu. Ia hanya terus mengerang bahkan hingga menggeliat di atas tanah basah. Jiyeon merasa ada sesuatu yang memaksa keluar dari jantungnya sendiri dan itu sangat menyakitkan. Myungsoo menatap nanar yeoja tak berdaya di hadapannya. Tanpa sadar ia mengepalkan tangannya sendiri, meredam amarah yang sudah berada di ubun-ubun kepalanya.

“Berhenti melakukan itu pada puteriku!” bentak Jaejoong sukses mengalihkan kembali perhatian para anggota Stratiotis Selene dan kedua pengajar Luna padanya.

Tidak hanya pengikutnya, puluhan ‘Blood Vassal’ yang ada di sana sudah siap melakukan peperangan. Mereka bergerak maju, mengepung Jaejoong dan yang lainnya. Sekarang semua mata, kecuali Jieun, memandang ke arah Jaejoong yang saat itu sudah berdiri beberapa centi dari hadapan Lord Vampir. Mata hijaunya berkilat, taringnya yang tajam siap menembus kulit. Ia menatap marah pada adik kandungnya itu sementara sebelah tangannya sudah siap meremukan tulang leher sang vampir kegelapan.

Lord Vampir terdiam. Ia hanya bisa menatap Jaejoong dengan penuh kebencian tanpa berniat melawan. Dirinya tahu jelas, percuma saja melawan vampir hebat di hadapannya itu selama ia belum sempurna. Bahkan saat ini ia belum pulih sepenuhnya dari insiden beberapa waktu lalu di kampung halaman Jiyeon.

Perlahan-lahan suara jeritan Jiyeon mulai menghilang, berganti dengan deru nafas tak beraturan seakan gadis itu baru saja berlari beberapa mil.

“Seperti yang kau perintahkan, tentu saja!” ejek Lord Vampir kemudian tanpa mengubah tatapan kebenciannya dari sang kakak.

“Sekarang, pergi dari sini!” tukas Jaejoong dan sengaja memberikan penekanan di setiap kata-katanya. Lord Vampir terdiam sesaat. Terlihat jelas dari raut wajahnya, rasa dongkol dan emosi yang tertahankan.

“Kau tahu, Hyung, ini hanya tentang masalah waktu! Cepat atau lambat aku akan kembali. Dan bila saat itu datang, aku yang akan memerintahmu!” bisik Lord Vampir di telinga Jaejoong dan detik berikutnya vampir kejam itu menghilang dari tempatnya berdiri sebelum Jaejoong sempat membalas ancamannya.

Satu per satu anggota ‘Blood Vassal’ pun mengikuti jejak tuannya, meninggalkan arena tersebut. Mereka menghilang di tengah kegelapan malam sambil dengan sengaja memperdengarkan erangan kemarahan mereka. Kesempatan Tuan mereka untuk menjadi penguasa dunia dengan cepat, pupus sudah karena gangguan seekor canis dan kedatangan pasukan kecil yang berasal dari sekolah vampir ternama, LUNA.

Jaejoong berjalan menghampiri puterinya yang sedang dibantu Jieun untuk berdiri. Sementara yang lain tetap pada posisinya, menunggu para pengikut Lord Vampir benar-benar pergi dari tempat itu. Kepala sekolah Luna itu sempat berhenti sejenak di samping canis yang telah memberitahukan lokasi tersebut pada mereka dengan lolongannya.

“Gomapda, uri Canis! Aku berhutang padamu!” ujar Jaejoong sambil mengelus sekilas kepala serigala itu. Sang Canis membungkuk seakan memberi hormat. Jaejoong tersenyum simpul sebelum melanjutkan langkahnya mendekati Jiyeon.

“Kau benar-benar tidak apa-apa?” tanya Jaejoong menyakinkan. Jiyeon menatap ayah kandungnya itu sendu kemudian menggeleng pelan.

Tanpa bermaksud menyakiti hati Jaejoong, yeoja ini langsung memutar tubuhnya dan berjalan hendak menghampiri Ji Cheol. Jaejoong bergeming sambil menatap nanar punggung puteri semata wayangnya yang perlahan-lahan menjauh darinya. Namja ini menunduk. Meskipun sakit, namun baginya ini tidak seberapa. Jaejoong sudah merasa lega dengan mengetahui tidak ada luka pada Jiyeon.

Tiba-tiba sesuatu mengusik perhatian kepala sekolah ini. Ia mendongakkan kepalanya dan mengarahkan pandangannya pada Jiyeon. Selanjutnya matanya membulat saat menyadari ada sesuatu yang terbang di atas kepala puterinya itu.

“Jiyeon-ah, awas!” teriak Jaejoong sukses membuat Jiyeon terkejut dan menolehkan kepalanya pada bayangan hitam di atasnya.

Bayangan itu berputar sekali di atas kepala Jiyeon sebelum akhirnya terbang ke arah Ji Cheol. Detik berikutnya bayangan hitam itu sudah berada di samping tubuh lemah Ji Cheol. Bayangan hitam yang ternyata adalah salah satu vampir rendah, pengikut Lord Vampir itu menyeringai sambil menatap Jiyeon.

Secara naluriah yeoja ini berlari hendak mendekati sang Appa, namun pergerakannya terhalang oleh dua namja yang kini sudah berdiri di hadapannya dengan posisi siap bertarung. Keduanya memperlihatkan kuku panjangnya yang tajam. Sebelah tangan Woohyun bahkan sudah mengeluarkan bola api yang siap dilemparkan ke arah musuh. Sementara tangan kiri Myungsoo mencengram sebuah belati yang mampu meleburkan siapapun yang tersayat olehnya.

“Apa yang mau kau lakukan pada Appaku?” seru Jiyeon khawatir. Para anggota Stratiotis Selene yang lain memperhatikan Jiyeon dengan ekor mata mereka namun pikirannya tetap terfokus pada para ‘Blood Vassal’ yang hendak menyerang mereka.

“Karena tuanku tidak berhasil mendapatkan darahmu, berarti manusia kotor ini juga sudah tidak berarti lagi!” ujar vampir berbadan bungkuk dengan suara paraunya yang menyerupai nenek sihir.

“Tolong jangan lukai Appaku!” pinta Jiyeon sambil berusaha melewati Woohyun dan Myungsoo untuk mendekat ke tempat Ji Cheol diikat.

“Kubunuh kau bila berani menyentuhnya!” ancam Woohyun dibalas kikikan meremehkan dari sang vampir tua.

“Ini pasti akan menyenangkan hati tuanku! Ucapkan selamat tinggal pada mahkluk fana ini, gadis bodoh!” ujar vampir tua itu kemudian ia merobek perut Ji Cheol dari belakang, menembus kayu yang dipakai untuk menahan tubuh ayah angkat Jiyeon ini.

“ANDWAE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Jiyeon. Si vampir tua terkekeh puas dan menghilang begitu saja sebelum belati Myungsoo menghancurkan tubuhnya.

Dengan segera Jaejoong mengibaskan sebelah tangannya dan membuat lidah api biru kehijauan yang memagari Ji Cheol itu padam sehingga Jiyeon dapat menghampiri Appannya itu. Sedangkan Woohyun yang sedari tadi mengikuti adik kelasnya itu langsung memutuskan rantai bermantera yang mengikat tubuh Ji Cheol dengan sekali gerakan tangannya.

Jiyeon memeluk tubuh Ji Cheol dan membiarkan namja itu bersandar penuh padanya. Jiyeon berlutut agar Appanya dapat berbaring.  Jaejoong berdiri mematung beberapa meter di belakangnya. Sementara BoA, U-know, dan para anggota Stratiotis Selene memandang prihatin Jiyeon dan Ji Cheol, tepat di belakang sang Gyojang-nim.

Jiyeon menangis sambil sesekali memanggil Appanya. Gadis itu juga mengguncang pelan tubuh Ji Cheol yang perlahan-lahan kembali seperti semula. Luka bakar hitam yang menutupi tubuhnya menghilang sedikit demi sedikit hingga akhirnya wajah lembut Ji Cheol bisa terlihat lagi.

“Appa, ppali irona! Jangan tinggalkan aku!” ujar Jiyeon sambil menangis. Namun Ji Cheol sudah tidak bisa membalasnya. “Appa, aku bilang bangun! Kau tidak bisa meninggalkanku begitu saja!” tambah Jiyeon histeris.

Woohyun yang tidak tahan melihat kondisi Jiyeon, maju menghampirinya. Vampir tampan ini merangkul tubuh adik kelasnya itu, berusaha menenangkannya. Myungsoo yang juga berada tidak jauh dari mereka, menatap punggung Jiyeon yang bergetar. Ada keinginan dalam dirinya untuk melakukan apa yang Woohyun lakukan saat ini. Namun hal itu mustahil baginya, apalagi ada banyak pasang mata yang memperhatikan mereka.

Cukup lama Jiyeon menangisi mayat Ji Cheol dipelukannya hingga tiba-tiba yeoja ini meletakkan tubuh ayah angkatnya itu ke atas tanah. Ia menghapus air matanya dengan kasar lalu menyingkirkan lengan Woohyun dari bahunya. Namja ini menatap Jiyeon bingung begitu pula dengan Myungsoo. Vampir tersebut mengerutkan keningnya, melihat samar perubahan raut wajah Jiyeon.

Jiyeon bangkit berdiri kemudian memutar tubuhnya menghadap Jaejoong dan yang lainnya. Pancaran kesedihan di matanya beberapa detik yang lalu sudah hilang. Kini semua orang yang ada di tempat itu bisa merasakan gelora amarah di kedua bola mata hitam yeoja itu.

“Aku akan menghidupkan jiwa vampirku.” tukas Jiyeon dingin sukses membuat semua yang ada di sana terkejut.

***

Beberapa jam sejak kejadian di hutan tadi, di sebuah rumah tua yang terletak di ujung gang gelap yang sepi di pinggiran Kota Seoul, sekitar 20 anggota ‘Blood Vassal’ sedang berkumpul untuk memohon ampun pada seseorang vampir muda yang dikenal sebagai tangan kanan Lord Vampir.

“Tuan, maafkan aku! Aku mohon! Jangan bunuh aku!” kata seorang vampir tua sambil berlutut. Ia memelas, meminta pengampunan atas apa yang baru saja dilakukannya. Namun vampir yang berdiri di hadapannya tidak tergerak sedikitpun. Ia menatap jijik vampir tua tersebut. Detik berikutnya, tanpa mengeluarkan suara ia mencekik leher vampir tua itu dan menghancurkannya hingga menjadi butiran pasir kecokelatan yang mengeluarkan asap.

“Vampir rendah tak berguna! Karena ketololanmu itu, kau telah membangunkan sesuatu yang seharusnya tertidur selamanya!” ujarnya geram sambil menepuk kedua tangannya, membersihkan pasir yang menempel di sana. “Sekarang apa yang akan kau lakukan, Lord Vampir?” gumannya sambil berlalu meninggalkan rumah tua nan usang yang menjadi tempat tinggal para ‘Blood Vassal’ tingkat rendah.

Setelah vampir misterius melewati pintu keluar, ia mengibaskan tangannya dan seketika itu juga rumah tua tersebut hangus terbakar.

“Inilah hukuman yang pantas untuk vampir tak berotak seperti mereka! Merepotkanku saja!” ujar vampir ini sambil terus berjalan tanpa sekalipun menolehkan kepalanya ke belakang.

To Be Continued…

 

NB: Huahahaahahahahahah..gaya beud aku post secepat ini..hahahhaah..silakan dikomentari ya kawan2..yang part sebelum ini menyepi komennya..(gara-gara aku juga seh yang kelamaan) hahahah..oleh deeehh..jangan lupa yang belum pernah, ayo dikunjungi WP aku..teruuuuuuuuuss ada permintaan tambahan neeehh..ayo kita kenalaaan @bee_678 😀

Advertisements

139 responses to “(EVERYTHING HAPPEN) UNDER THE MOON ~ PART 9

  1. Udah tahun 2017 tapi part 10 belum ada. Sedih karna ff ini terlantar. Author nim ayo dong terusin ff nya banyak yg kangen dan nungguin ff ini hiks hiks. Please ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s